Yes, Cyaaz balik dg chapter baru! Mumpung mood lg bagus (setelah ngancurin mood org dg fic satunya) dan jg lg senggang, Cyaaz up aja stok yg ada.

Hehe.

Selamat menikmati...

Disclaimer: GS/D bukan milik Cyaaz

Takara Mono

Chapter 04

Athrun, Rusty dan Miguel terpaksa menghentikan langkah mereka menuju hutan Onogoro dan berlindung di bawah naungan gua di sisi tebing batu. Entah bagaimana tiba-tiba hujan mengguyur bumi dengan derasnya, disertai dengan gemuruh petir dan angin yang cukup kencang. Tidak disangka, perkataan Machio terbukti benar. Tanpa adanya pertanda, hujan turun tak lama setelah Athrun dan yang lainnya menyebrangi sungai.

"Langitnya masih gelap tertutup awan hitam," Miguel mengamati hamparan awan mendung dari mulut gua. "Sepertinya hujannya akan bertahan lama."

Athrun dan Rusty berdiri tidak jauh di belakang Miguel, menghela nafas berat setelah mendengar perkataan pemuda berambut pirang itu. Sesaat kemudian Rusty menatap sang pangeran, pemuda berambut navy blue itu terlihat sangat gelisah. Sudah lebih dari tiga jam sejak mereka bertiga berteduh, mereka sudah sangat terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan. Jika terus seperti ini….

"Ayo kita terobos hujan ini." Akhirnya Athrun mengambil keputusan. "Kita harus sampai di perbatasan hutan Onogoro hari ini juga."

Rusty dan Miguel mengangguk, menaati perintah sang pangeran. Mereka mulai bersiap, mengemas barang dan mengenakan mantel untuk melindungi diri dari tetesan air hujan yang dingin. Athrun tersenyum tipis seraya mengamati mantel yang hendak ia kenakan. Mereka sangat beruntung karena Sahib telah memberi mantel berbahan khusus untuk dikenakan pada saat seperti ini.

Tak lama kemudian Athrun dan yang lain kembali memulai perjalanan mereka. Selangkah demi selangkah mereka lalui dengan hembusan angin dan air hujan menerpa sekujur tubuh. Jalanan menjadi sangat licin dan berbahaya, membuat mereka tak lagi mampu bergerak cepat. Perjalanan menuju hutan Onogoro terasa dua kali lebih berat dibanding sebelumnya, namun hal tersebut takkan menggoyahkan tekad Athrun dan rekan-rekannya.

Dan setelah perjalanan yang sangat panjang, Athrun menemukan sebuah pondok yang menjadi tempat pemberhentian mereka selanjutnya. Azrael menjelaskan bahwa terdapat sebuah pos penjagaan di perbatasan huyan Onogoro, di sana mereka akan bertemu dengan orang-orang yang bertugas menjaga sekaligus mengawasi keadaan sekitar. Orang-orang itu juga yang menjadi korban penyerangan oleh Akatsuki. Karena itu Azrael menyarankan untuk singgah dan menemui orang-orang itu sebelum masuk ke hutan.

"Permisi!" Athrun mengetuk pintu pondok di tengah hujan. "Aku dan rekan-rekanku datang dari Junius Seven untuk membantu kalian!"

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pria muncul. "Oh, kalian sudah datang rupanya." Ia membukakan pintu lebar-lebar dan mempersilakan Athrun untul masuk.

Athrun dan yang lain masuk ke dalam pondok dan mengambil tempat duduk, hanya ada ruangan kosong dengan sedikit perabot di dalamnya. Ada tiga orang pria yang tinggal di sini dengan seadanya, mereka tidur hanya dengan beralaskan matras di lantai. Athrun menyadari beberapa hal seperti ketiga pria itu masih terbilang muda dan masing-masing dari mereka terluka di tempat yang berbeda. Salah seorang diantaranya mengalami patah tulang di kaki, yang lain tersayat dan memar-memar.

"Dia menyerang kami habis-habisan!" salah seorang dari mereka menceritakan apa yang menimpanya di dalam hutan. "Melempari kami dengan panah dan tombak!"

Athrun mendengarkan sembari duduk bersama yang lain. "Dan binatang-binatang itu!" Seorang pria berambut merah dengan perban di kakinya ikut bicara. "Mereka menggigit dan menyerang dengan membabi-buta!"

"….." Athrun mengerutkan dahinya, mengumpulkan segala informasi yang mampu ia dapatkan.

"Terakhir kali dia muncul di sekitar sini." Pria lain dengan luka paling ringan menunjukkan peta hutan dan meletakkan jari telunjuknya di bagian selatan hutan Onogoro pada peta tersebut. "Dia muncul ketika kami hendak bermalam."

Sekali lagi, Athrun mendiskusikan segalanya bersama dengan Rusty dan Miguel. Berbagai persiapan kembali dilakukan, menyesuaikan dengan kondisi dan medan berat yang akan mereka lalui. Athrun lalu memutuskan untuk bermalam di pondok, melihat cuaca yang masih belum membaik. Selain itu mereka juga perlu beristirahat dan memulihkan tenaga sebelum masuk ke dalam alam rimba.

- Takara Mono -

"Benar-benar di luar perkiraanku," Miguel mengamati keadaan di sekelilingnya. "Hutan ini jauh lebih menyulitkan dari yang dikatakan orang."

Ini adalah hari ke empat Athrun dan yang lainnya berada dalam naungan hutan Onogoro. Mereka langsung menuju lokasi di mana Akatsuki terakhir kali muncul dan menyerang tiga orang penduduk Artemis. Athrun sudah sampai di tempat ini sejak kemarin sore dan menyisir daerah di sekitarnya, namun tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan sang roh penjaga hutan.

"Berhati-hatilah, Miguel." Rusty menatap rekan berambut pirangnya yang sedang berusaha mencari makanaan di atas pohon. "Bisa saja ada ular berbisa menggigitmu saat kau sibuk menggerutu!"

"Setidaknya aku berusaha mencari sesuatu untuk kita makan!" Dengan cekatan Miguel turun dari pohon besar yang baru ia panjat, membawa beberapa tangkai buah kemerahan di tangannya. "Daripada kau yang hanya bisa berkomentar "

Rusty menyeringai. "Hey, aku sedang mengawasimu, memastikan kau tidak diserang Akatsuki dari pelakang."

Miguel melempari rekannya dengan buah yang ada di tangannya. "Omong kosong."

Tentu Rusty dengan mudah menangkap buah berbentuk bukat seukuran kepalan tangan dari Miguel, ia pun tertawa dan mulai memakan buah beraroma manis tersebut. "Apa lagi yang harus kita lakukan? Menunggu hingga Akatsuki datang pada kita? Atau kita bisa memancingnya dengan membuat kegaduhan dan…"

"Jangan lakukan itu!" Athrun muncul dari balik punggung Miguel dengan tatapan tajam. "Jangan merusak ketentraman di hutan ini hanya untuk kepentingan kita sendiri."

Rusty mengedikkan bahu. "Lalu? Kita harus bagaimana?"

"Kita tidak mungkin hanya berdiam dan benar-benar menunggunya di sini, kita tidak tahu kapan dia akan muncul." Sahut Miguel.

Athrun menyangga dagunya. "Kurasa kita harus berpencar untuk mencarinya." Spontan Miguel dan Rusty menatap sang pangeran dengan mata membulat. "Memang berbahaya, tapi kurasa akan jauh lebih cepat jika kita mencarinya dengan berpencar."

"Aku tidak keberatan, aku juga tidak ingin terlalu lama berada di dalam hutan yang aneh ini." Rusty berdiri dan mendekat pada rekan-rekannya.

"Baiklah, aku setuju." Miguel akhirnya sepakat. "Tapi bagaimana jika-."

"Ambil ini." Athrun membuka telapak tangan dan memberi masing-masing dari mereka sebuah benda berbentuk oval seukuran kelereng berwarna biru. "Saat kalian membutuhkan bantuan, lemparkan benda ini ke udara. Benda ini akan meletup dan mengeluarkan cahaya biru yang cukup mencolok. Dengan begitu yang lain akan segera mengetahuinya dan menuju ke tempat kalian melemparnya."

Rusty dan Miguel mengangguk, lalu menyimpan benda pemberian Athrun dalam saku mereka. "Setelah tiga hari, kita bertemu lagi di tempat ini." Athrun melanjutkan. "Gunakan peta dan kompas kalian untuk kembali ke sini." Kini ia membuka peta hutan dengan kedua tangannya. "Rusty, pergilah ke arah timur, dan kau ke barat." Rusty dan Miguel mengangguk untuk menjawab perintah sang pangeran. "Aku akan menyisir daerah utara dan sekitarnya."

Ketiganya sepakat, lalu mulai melangkah menuju jalan masing-masing. Athrun mengemasi barang-barangnya, meletakkan peta dan kompasnya dalam satu tempat yang mudah terjangkau. Kemudian ia mengenakan mantel pemberian Sahib, berjaga jikalau cuaca buruk datang tanpa diduga. Ia terus menyusuri hutan dengan langkah yang tegap, mengamati keadaan di sekeliling dengan kedua matanya yang tajam. Sesekali ia berpapasan dengan beragam hewan liar, tak jarang mengharuskannya untuk membela diri.

- Takara Mono -

Di hari ke dua, Athrun masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan sang roh hutan. Ia hanya menemukan jenis binatang dan tumbuhan yang semakin beragam. Pemuda berambut navy blue ini bermalam dengan dedaunan pohon sebagai atap dan rumput hijau sebagai alas untuk tidur. Tentu ia tak dapat sepenuhnya mengistirahatkan diri, sesekali penghuni hutan datang mengganggu ketenangannya.

Hutan Onogoro terasa sangat berbeda dari hutan lain yang pernah dijelajahi Athrun, begitu mistis dan penuh penuh teka-teki. Beragam jenis binatang dan tumbuhan hidup saling berdampingan, meski tidak seharusnya mereka berhabitat di hutan hujan seperti ini. Entah harus bagaimana Athrun menggambarkan keseluruhan dari hutan Onogoro, yang dapat ia katakan dengan yakin adalah… Hutan Onogoro dipenuhi dengan keajaiban.

Siang ini ia kembali melangkah menyusuri hutan dengan langkah tegap. Mantel pemberian Sahib dan barang lain ia junjung di pundaknya. Hari ini begitu cerah dengan semilir angin hangat mrnyrttainya, nyanyian burung dan serangga menggaung di sepanjang jalan. Suasana hutan yang tentram dan damai seperti ini membuat Athrun hampir melupakan tujuannya datang ke Onogoro.

Krek!

Sang pangeran mendengar sesuatu, instingnya tiba-tiba memberikan peringatan tanda bahaya. Benar saja, sebuah anak panah melesat tepat ke arahnya dari belakang. Beruntung Athrun menghindar tepat pada waktunya hingga ia haanya tergores di bahu. Ia pun segera bersembunyi di balik sebuah dahan pohon besar, tangan kanan menyentuh luka gores pada sisi kiri tubuhnya. Sesat kemudian ia mulai mengedarkan pandangan untuk menyisir keadaan di sekitarnya, mencari tahu di mana keberadaan orang yang memanahnya.

Grrr!

Athrun tersentak dan berbalik, seekor anjing besar datang menyergapnya. "Woof!" Athrun berupaya menghindar namun anjing berbulu hitam itu berhasil menangkapnya. Dengan susah payah Athrun berupaya melepaskan kaki kanannya dari rahang anjing itu.

Grrr!

Athrun menghantam kepala si anjing dengan kepalan tangannya, berhasil membebaskan diri dengan melepas sepatu boot yang ia kenakan. Ia berlari menyusuri hutan, menghindari kejaran anjing yang nampak belum menyerah. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk memanjat sebuah pohon besar, dengan lincah ia berhasil mencapai dahan yang cukup tinggi hingga si anjing tak mampu mengejar.

"Woof! Woof!" Anjing itu menggonggonginya dari bawah pohon. "Woof!"

"….." Athrun mengusap luka di kakinya, beruntung sepatu yang tadi ia kenakan cukup tebal hingga luka gigitan di kakinya tidak terlalu dalam. Pemuda itu hendak memberikan pertolongan pertama pada lukanya ketika tiba-tiba sebuah anak panah kembali melesat ke arahnya.

Kali ini Athrun berhasil menghindar sepenuhnya, menggantungkan diri pada dahan pohon dengan posisi kepala di bawah. Saat itulah ia menemukan orang yang menyerangnya, ia mengenakan topeng dan tudung penutup wajah persis seperti yang digambarkan Azrael dan para pemuda di pos penjagaan.

Akatsuki? Athrun segera berbalik dan menyerang dengan melempar sebilah pisau kecil miliknya.

Akatsuki berhasil menghindar, lalu melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk kembali menyembunyikan dirinya. Tentu Athrun berupaya mengejar, namun langkahnya sedikit tersendat karena ia tidak terbiasa bergerak lincah di atas pepohonan. Keduanya saling mengejar hingga Akatsuki melompat ke atas tebing di pinggir sungai.

Athrun belum menyerah, ia pun nekad melompat dan mengejar hinnga ke atas tebing. Dengan susah payah akhirnya ia mampu menggapai sang roh hutan bertopeng itu dan pertarungan di antara mereka tak terelakkan. Athrun menghunus pedangnya, menyerang dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Di sisi lain Akatsuki menggunakan sebuah tombak dan melancarkan serangan yang lebih intens.

Roaaaar!

Athrun sudah cukup kuwalahan menghadapi Akatsuki yang tangguh, tiba-tiba muncul seekor beruang besar menghampiri mereka. Ya, tentu beruang itu tidak berpihak pada sang pangeran. Dengan rahang dan cakar yang kuat, beruang berbulu kecoklatan itu berusaha memojokkan Athrun.

Akatsuki, bagaimana bisa dia membuat semua binatang ini membantunya? Athrun bertanya dalam hati, selagi ia sibuk menghindar dari serangan beruang ganas di hadapannya.

Roaaar!

Pertarungan masih berlanjut, beruang besar itu berupaya menerkamnya. Athrun segera melompat untuk menghindar, namun rupanya Akatsuki sudah bersiap di balik punggung si beruang. Tanpa ragu ia mengarahkan ujung tombaknya pada sang pangeran, untungnya lagi-lagi pemuda berambut navy blue itu berhasil lolos. Ia berpijak pada sebuah batu besar dan kembali melom[at hingga tubuhnya terhempas ke arah berlawanan. Ia sempat terguling dan bahkan menjatuhkan barang bawaan sebelum mendapatkan keseimbangan tubuhnya kembali.

Gawat! Athrun berupaya menggapai salah satu tas miliknya yang menggelinding, namun terlambat. Barang-barangnya terhempas hingga jatuh dan hanyut dalam aliran sungai yang deras.

Roaaar!

Bahaya belum terlewat, Athrun masih harus menghadapi musuh-musuhnya sendirian. Ia hendak menghindar dari beruang besar yang saat ini berlari menghampirinya, namun saat itu perhatiannya teralihkan oleh yang lain. Seekor anak beruang muncul dari balik semak di dekat Athrun, dengan polos melangkah menghampiri sang pangeran.

Athrun berdecih. Bukannya menyelamatkan dirinya sendiri, ia justru menyergap si anak beruang dan mendekapnya erat. Tindakan tersebut membuatnya tak sempat menghindar tepat waktu, beruang besar datang menyergap dan membuat ia terhempas hingga ke tepian tebing. Untung saja Athrun mampu menggapai seutas akar pohon yang menjulur di dekatnya, membuat dirinya menggantung dengan si beruang kecil.

Nafas Athrun memburu, dilihatnya sekilas aliran sungai di bawah kakinya. Sebelum ia kehilangan keseimbangan, Athrun segera mengangkat si beruang kecil dan membantunya hingga berada di tempat yang aman. Sementara itu ia sendiri masih bergelantungan, berupaya untuk memanjat tebing yang licin dengan bergantung pada akar pohon yang ia genggam erat.

Kreeek!

Athrun tersentak dan wajahnya mendadak pucat. Nampaknya akar yang menjadi tumpuannya tak mampu bertahan lebih lama. Seketika itu juga Athrun bergegas untuk mencapai puncak tebing, namun sayang ia terlambat. Akar pohon yang ia genggam terputus, sang pangeran pun kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. Di saat yang genting seperti ini, tanpa diduga sang pangeran justru ditolong oleh musuh yang sejak tadi berupaya menyerangnya.

Tanpa berkata apapun, Akatsuki menarik dan membantu Athrun hingga pemuda itu sampai ke tempat yang aman. Sejujurnya ia masih terheran, apa yang baru saja terjadi padanya? Bukankah Akatsuki adalah musuhnya? Bukankah mereka seharusnya saling menyerang satu sama lain? Lalu kenapa dia…?

"Kau menolongnya?" Pemikiran panjang Athrun terhenti ketika ia mendengar suara dari sang roh hutan.

Saat ini ia masih duduk dengan nafas dan debar jantung yang saling memburu. Saat ia menoleh, didapatinya sang roh hutan berdiri tidak jauh dengan induk dan anak beruang berada di sampingnya.

"Kenapa kau menolongnya?" Akatsuki bertanya, mengarahkan kepala pada si beruang kecil.

"Kenapa?" Athrun balik bertanya, ia membenahi posisi duduknya menjadi lebih tegap. "Memangnya apa salah beruang itu hingga dia harus terlibat dalam masalah ini?" Tak ada respon dari sang roh hutan. "Aku memang datang untuk mencarimu, tapi aku tidak ingin melibatkan mereka dalam pertarungan kita."

"…." Sesaat kemudian Athrun melihat Akatsuki menarik tombaknya dan menempatkannya di punggung. Hal itu membuat Athrun kembali terheran.

"Ada apa? Kau tidak ingin menyerangku lagi?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut sang pangeran.

"Kuhormati keberanianmu yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk menolong anak ini." Akatsuki terlihat benar-benar tidak ingin melanjutkan pertarungan mereka. Ia mengemas seluruh senjata yang ia bawa dan duduk untuk mensejajarkan diri dengan sang pangeran. "Kau datang mencariku untuk membalaskan dendam teman-temanmu?" Athrun nampak bingung dan tidak merespon. "Kau… Kau berasal dari Artemis bukan?"

"Huh?" Spontan Athrun teringat bahwa sebelumnya ia membawa mantel berlambang Artemis, namun kini telah hanyut terbawa arus sungai. Ia pun menggeleng. "Aku datang karena kepala desa Artemis meminta bantuan. Mereka mengeluhkan tentang penyerangan yang kau lakukan pada warga yang sedang mencari tanaman obat di hutan."

"…." Athrun tak mampu membaca ekspresi dan mimik wajah Akatsuki yang mengenakan topeng. "Jadi itu yang mereka katakan padamu?"

Athrun tersentak mendengar kalimat barusan, apa yang ingin dikatakan oleh Akatsuki? Sesaat kemudian Athrun melihat Akatsuki bangkit dan berdiri tegap, ia bersiul kencang seolah sedang memberi sinyal pada seseorang yang jauh entah di mana. Setelah beberapa menit barulah seekor anjing yang tadi sempat membantunya datang dan menghampiri sang roh hutan. Akatsuki lalu beralih pada Athrun setelah sempat berinteraksi dengan anjing peliharaanya.

Sang roh hutan melangkah hingga berada selangkah di hadapan Athrun. "Kau masih bisa berjalan?" Ia bertanya sembari menunduk menatap sang pangeran. "Ikutlah denganku jika kau ingin tahu yang sebenarnya."

Entah mengapa Athrun tak merasakan sedikitpun keraguan dalam hatinya. Ia mengangguk dan dengan sukarela mengikuti langkah sang roh hutan.

- To Be Continued -

Alyazala: Thanks review-nya. sabar ya... Nanti jg ketemu klau udah waktunya. Hahaha.

Amirae: Inget dong, Amirae-san jg slh satu author pemberi inspirasi buat Cyaaz yg masih newbie (waktu itu). Dan sm sperti Amirae-san, Cyaaz jg sk ilang dr ffn, tp ttp aja balik lagi dan lagi. Hahaha. Ya, TM ini kn emang masih bbrp chapter, wajar msih bnyk misteri. Lambat laun smua akan terkuak... Tetaplah setia pd Fandom ini!!! Hehe.

Oke, sampai ketemu lg...

Mohon dukungan dan Review-nya.

Thanks.