Title : Our Love Story
Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Genre : Fantasy, School-Life, Romance, Hurt
Pairing : G27 (Main Pairing), 8059, U02, D18, CA, B26, XS
Warning : Sho-ai, Yaoi, OOC, OC (HDW Tsuna; disini Yoshi), AU, Typo(s)!
Note : Memiliki tema yang sama dengan fic Falling Down © Kinana (dari fandom Bleach)
Pada awalnya memang memiliki kesamaan dengan fic tersebut, namun tentu saja jalan ceritanya berbeda… hanya awalnya saja yang sama…
.
.
.
-Ruang Tahanan Sawada Yoshimune. Uknown time-
"Hmm, perasaanku saja atau aku memang diawasi?" gumam Yoshi sambil menganalisa ruangannya dari tempat duduknya.
.
Tak ada yang aneh…
.
Cupid berambut coklat itu mengangkat bahu. 'Mungkin hanya perasaanku…' batinnya.
"Ah! Gawat! Aku lupa menulis lanjutan kisah cintanya!" seru pemuda itu. Pemuda beriris orange cemerlang itu kembali menarikan bulu angsa putih yang berfungsi sebagai penanya, membiarkan tinta emas mengotori lembar ketiga kisah cinta kedua insan manusia itu…
.
.
.
~Lembar 3~
[ An Extraordinary Moment ]
.
.
.
-Lantai 1, Kelas 1-2. 02.16 p.m-
"Haaahhh, syukurlah tesnya sudah selesai…" Tsuna meletakkan wajahnya dimejanya, berusaha melupakan tes dadakan fisika yang baru saja berakhir.
"Juudaime, Anda baik-baik saja? Saya akan mengantar Anda ke ruang kesehatan!" kata Gokudera sedikit khawatir.
"Te- tenang saja, Gokudera-kun… aku tak apa-apa kok…" jawab Tsuna, berusaha menenangkan pemuda bersurai perak itu.
"Jangan memaksakan diri, Juudaime… ingat, Anda adalah pengganti Primo di masa depan!" kata Gokudera. Tsuna bersumpah dia bisa melihat api kecil dimata pemuda berambut silver itu. Tsuna hanya tertawa sebagai jawaban, pemuda itu kembali meletakkan wajahnya di meja. Dengar-dengar, pelajaran berikutnya kosong, jadi bisa dibilang dia aman sekarang.
'Primo, ya?' batin pemuda bersurai coklat itu.
Deg!
'A- apan sih?! Kenapa aku malah teringat orang itu?' Tsuna menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayang-bayang pemuda yang lebih tua darinya itu. Sayangnya, bayang-bayang itu malah semakin melekat pada pikirannya. Ia masih bisa mengingat rambut blonde-nya, iris orange cemerlangnya yang tajam, debar jantungnya yang tak harmonis, dan—
'Oh, sudahlah!' batin pemuda beriris caramel itu sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak mau mengingatnya lagi! Sudah cukup! Mengingatnya bisa membuat wajahnya memanas, jantungnya berdetak liar seakan ingin keluar, dan—
—Tuh kan, jadi teringat lagi…
"Anda benar tidak apa-apa, Juudaime?" tanya Gokudera sambil menatap pemuda bersurai coklat itu khawatir. Pasalnya, Juudaime yang dikenalnya tak pernah seperti ini.
"I- iee… aku tidak apa-apa, Gokudera-kun… pokoknya, apapun yang kulakukan, jangan pedulikan aku…" jawab Tsuna sedikit panik. Ia lupa berada di kelas dan malah melakukan hal yang aneh karena mengingat you-know-what. Meskipun, kurang yakin, pemuda beriris emerald itu kembali membalikkan badannya dan mulai menulis sesuatu dibuku tulisnya. Tsuna menghela napas lega. Ia kembali menidurkan kepalanya dimeja.
'Kenapa aku terus mengingat Primo, ya?' batinnya sambil menutup iris caramel-nya.
Sementara itu, Gokudera kembali menoleh kebelakang, menatap pemuda berambut anti gravitasi yang tidak lain adalah Tsuna sedikit cemas. Ia kembali mengalihkan pandangannya kearah buku tulisnya, kembali menarikan pensilnya dibukunya.
Hari ini Juudaime terlihat aneh. Sepertinya ia sakit, tapi ia bilang tak apa-apa. Sepertinya, Juudaime mulai seperti itu setelah bertemu Primo. Apa mungkin, bertemu Primo membuatnya syok? Atau jangan-jangan Juudaime juga merasakan aura Primo sebagai Ketua OSIS? Sepertinya Juudaime tidak yakin dengan kemampuannya dalam menyaingi Primo… aku harus menyemangati Juudaime dan menyadarkannya bahwa ia pantas menjadi Ketua OSIS suatu saat nanti! Itulah tugasku sebagai Tangan Kanan Juudaime!
.
Well, sepertinya Gokudera salah fokus, ya…
.
.
-Lantai 3, Ruang OSIS. 02.26 p.m-
Diam-diam, G kembali melirik kearah Giotto. Entah sudah keberapa kalinya ia memergoki sang Ketua OSIS tengah tersenyum sambil mengerjakan paperwork-nya. G bersumpah itu adalah pemandangan ter-horror yang pernah dilihatnya. Laki-laki bersurai merah itu hapal mati kebiasaan teman masa kecilnya itu ketika sedang mengerjakan tugasnya.
Menghela napas itu nyaris bisa 30 detik sekali, mengeluh itu setelah mengerjakan 10-30 paperwork, berisik itu bisa dibilang nggak bisa dan tidak akan pernah absen. Intinya, kegiatan sang Ketua OSIS sekarang –tersenyum sambil mengerjakan paperwork– bisa dibilang salah satu hal yang tidak mungkin dan bisa saja dimasukkan kedalam rekor dunia sebagai salah satu keajaiban.
"Ada apa, G?" tanya Giotto sambil menatap wakilnya itu bingung.
.
Oh, shit. Dia ketahuan.
.
"Ah, tidak… tumben saja paperwork-mu sudah nyaris habis…" kata G sambil mengalihkan pandangannya kearah buku yang sedang dipegangnya.
"Hahaha, aku hanya sedang ingin mengerjakan benda ini saja… lagipula, aku harus cepat kalau ingin pulang bersamaan dengan murid lain, kan?" tanya si pemuda blonde itu sambil tersenyum.
G bersumpah tadi ia nyaris terkena serangan jantung mendadak mendengar jawaban Giotto. Aneh, biasanya pemuda beriris orange ini akan langsung mengeluh mengetahui jam pulang akan segera tiba –dikarenakan sang Ketua OSIS pasti belum selesai mengerjakan paperwork-nya dan terpaksa mendekam di Ruang OSIS bersama wakilnya, tentu saja–. Sekarang, G tidak ragu-ragu lagi. Ia yakin demi sepuluh batang rokok, Giotto tadi tak sengaja terbentur sesuatu saat menghadap Reborn-sensei, lalu hasilnya adalah seperti ini. Atau, saat berjalan di lorong sekolah, tiba-tiba sang Ketua OSIS kemasukan hantu tukang senyum atau hantu gila kerja, dan sebagainya –dengar-dengar lorong Namimori High School sedikit angker–.
Sang Ketua OSIS kembali mengerjakan paperwork-nya, kali ini bahkan lebih cepat dari yang tadi. Sang Wakil Ketua OSIS kembali merasa kalau yang dilihatnya adalah ilusi tingkat dewa. Alih-alih membaca bukunya, laki-laki beriris merah itu kembali menerka-nerka, setan apa yang memasuki tubuh teman masa kecilnya ini.
Giotto kembali membaca paperwork-nya. Ya, ia benar-benar mengerjakan tugasnya, namun, asal kalian tahu, pikirannya melayang dan bukan sedang memikirnya pekerjaannya itu. Tidak, ia tidak sedang memikirkan cara melarikan diri dari wakilnya ini lagi.
'Sawada Tsunayoshi, eh?' batinnya lagi. Laki-laki blonde itu kembali tersenyum.
.
'Entah kenapa, aku tidak bisa berhenti memikirkan anak itu…' batinnya.
.
.
—Ckckck, cinta pandangan pertama itu bisa dimana saja, ya?
.
.
-Pusat Pemerintahan Cupid. Ruang Pimpinan Cupid Kesembilan. 02.31 p.m-
"'Ikatan tak terpisahkan'?" ulang Gamma bingung. Aria menggangguk tegas.
"Ikatan macam apa itu? Rasanya, cupid seperti kita—"
"—Dengarkan aku dulu, Gamma…" potong Aria tegas. Gamma mengunci bibirnya.
"Kau tahu kan," wanita bergelar pemimpin cupid kesembilan itu memulai. "Ketika seorang cupid menyatukan dua manusia, ia adalah cupid pemersatu kedua manusia itu… saat itu terjadi, ada sebuah benang yang mengikat cupid tersebut dengan kedua manusia yang telah disatukannya…" jelas wanita bersurai hitam itu.
"Benang apa itu?" tanya Gamma lagi.
"Benang itu adalah tanda terikatnya sebuah ikatan tak terlihat diantara cupid pemersatu dan kedua manusia itu. Dengan terjalinnya ikatan itu, maka hanya sang cupid pemersatu lah yang bisa menyatukan kedua manusia itu dan menulis kisah cinta mereka…" jawab Aria panjang lebar.
Deg
"Ja- jadi, yang bisa menyatukan kedua manusia itu hanya Sawada Yoshimune?" tanya Gamma mengoreksi.
"Benar…" jawab Aria tegas.
"Apa tak ada cara memutus ikatan tak terlihat itu?" tanya pria berambut krem itu lagi.
Aria membalikkan badannya dan kembali menatap langit. "Sebenarnya ada…" jawabnya lambat.
"Kalau begitu, kita bisa langsung—"
"—Kita tak bisa memutus ikatan itu!" potong Aria tegas. Gamma terkesiap. Wanita bergelar Pemimpin Cupid Kesembilan itu berbalik 45 derajat dan menatap anak buahnya dari sudut matanya tajam. Pria berambut krem itu mengerutkan dahinya.
"Kita tidak bisa memutus ikatan itu, Gamma…" ulang Aria lebih tenang dari yang sebelumnya. "Lebih tepatnya kita tidak boleh memutus ikatan mereka…" ralat wanita yang juga dikenal sebagai Bos Arcobaleno itu.
"Kenapa? Apa Bos lupa dia adalah cupid yang mengkhianati Aprodhite (Dewi Cinta, diambil dari mitologi Yunani)? Atau, apa mungkin dia mengancammu? Atau—"
"—Gamma, sekalipun ia telah mengkhianati cinta, bukan berarti Sawada Yoshimune dibebaskan dari tugasnya…" potong Aria sambil kembali –entah sudah keberapa kalinya– menghela napas.
"Jadi, dia tetap menjalankan tugasnya sebagai cupid? Dia tetap diharuskan menyatukan dua manusia?" tanya Gamma sedikit tak terima. Hei, kita membicarakan seorang pengkhianat yang secara terang-terangan mendeklarasikan ia tak percaya cinta, bung.
"Tentu saja," jawab Aria tanpa beban. "Apalagi, setiap cupid harus dan hanya boleh menyatukan satu pasang manusia yang ada didunia ini…" lanjut wanita itu tenang.
"Tapi, apa Bos yakin? Dia pengkhianat! Bagaimana jika kisah cintanya tak berjalan sesuai dengan penentuan tadir yang ada?" tanya Gamma lagi.
Aria tersenyum tenang. Astaga, apa yang dipikirkan pemimpin cupid ini memang tak bisa ditebak dengan mudah. "Kau tahu, Gamma?" wanita itu kembali berbalik dan menatap birunya langit. "Meskipun tak sesuai ketentuannya atau terjadi perubahan didalamnya—" wanita itu mengambil napas sebentar.
"—Takdir itu mempunyai caranya sendiri dalam melukis setiap hidup manusia yang ada, termasuk kisah cintanya…" lanjut wanita itu bijak sekaligus misterius. Gamma menghela napasnya. Oke, dia menyerah sekarang. Untuk mendapat jawaban yang diinginkan dan benar-benar jelas dari wanita dihadapannya ini memang hal yang sulit, bahkan sebenarnya bisa dikategorikan tidak mungkin.
.
.
.
-Namimori High School. Lantai 1, Kelas 1-2. 02.55. p.m-
.
TENG! TENG! TENG! TENG!
.
Tsuna terbangun dari tidur kilatnya. Dibukanya iris caramel-nya dan melihat sekeliling. Teman-teman sekelasnya sedang memasukkan buku-buku mereka, bahkan ada beberapa yang sudah berdiri sambil menyampirkan tas mereka. Tsuna menguap sebentar. Perlahan, pemuda bersurai coklat itu mengemasi barang-barangnya kedalam tas. Ia tidak menyangka telah tertidur saat pelajaran kosong hingga jam pulang sekolah.
"Juudaime, Anda sudah selesai? Mau mengerjakan tugas kimia bersamaku?" tanya Gokudera yang entah sejak kapan berdiri disamping meja pemuda beriris caramel itu.
"Eh? Ah, boleh ju—"
"—Disini kau rupanya, Dame-Tsuna!" kata sebuah suara dari pintu kelas. Bulu kuduk Tsuna berdiri tiba-tiba. Pasalnya, ia hapal mati dengan suara ini. Siapa lagi yang punya suara setegas itu dan memanggilnya Dame-Tsuna dengan santainya kalau bukan…
Perlahan, pemuda berambut anti gravitasi itu mengalihkan pandangannya dari Gokudera dan melihat sosok yang sangat dikenalnya di pintu kelas. Seorang pria berjas hitam lengkap dengan topi fedora hitam yang tak pernah absen dari kepalanya.
Sebuah helaan napas keluar dari si pemuda sebentar. "Reborn ojii-san…" si pemuda menggumam kecil. Si pria –yang tidak lain adalah Reborn– itu mendengus mendengarnya.
"Belum mau pulang? Tumben sekali…" sindir Reborn sambil berjalan mendekati meja keponakannya. Murid lain yang berada di kelas itu kini sudah menyingkir, takut dengan Reborn yang sudah terkenal kesadisannya –dan mereka juga takut terkena peluru maut sang guru–, kecuali Gokudera –tentu saja– dan Yamamoto –anehnya, dia cari mati? –.
"Ada apa, ojii-san—"
—Dor!
"Aku tak setua itu sampai kau memanggilku 'paman', Dame-Tsuna!" kata Reborn tajam. Moncong pistolnya yang berwarna hijau masih mengeluarkan asap tipis hasil menembakkan sebuah peluru. Beruntung, peluru itu hanya mengenai tembok disebelah kanan Tsuna.
"Hi- Hiee! Tapi, kau kan memang paman—"
—DOR!
"Sekalipun aku pamanmu, aku menolak dipanggil 'paman' dilingkungan sekolah…" kata sang paman tegas.
"HI- HIEE! Ta- tapi, Yuni boleh memanggilmu—"
—DORR!
"Yuni itu pengecualian!" kata Reborn dengan sebuah perempatan dikepalanya.
"HIEE! Gomennasai! Jangan tembak lagi, Reborn!" Tsuna melindungi wajahnya dengan tasnya.
"Heh, reaksimu tak berubah, Dame-Tsuna…" komentar pria berjas hitam itu.
"Re- Reborn-sensei! Jangan menembaki Juudaime seperti itu, itu berbahaya!" kata Gokudera sedikit panik.
"Jangan membelanya, Gokudera! Ini urusanku dengan Dame-Tsuna ini! Kalau kau menganggu, akan kubuat kau mengitari kota Namimori sambil kayang!" ancam Reborn dengan aura dark. Gokudera menelan ludah, mana sanggup ia mengitari kota Namimori sambil kayang?
"Hahaha, maa, maa… Reborn-sensei, Tsuna, Gokudera, kalian sedang main game tembak-tembakan dan kayang mengitari Namimori, ya?" tanya Yamamoto tanpa dosa. Astaga, meskipun tampan dan jenius dalam baseball, tak kusangka kau, Yamamoto Takeshi, masih menganggap semua hal adalah game?
Sebuah dengusan keluar dari pria bertopi fedora itu. "Bisa dibilang begitu, Yamamoto…" kata pria itu. Hell, itu 100% kebohongan!
"Re- Reborn, sebenarnya mau apa kau kemari?" tanya Tsuna to the point. Berlama-lama dengan pamannya yang satu ini bisa membuatnya kena kesialan yang lebih dari satu!
"Ah, itu," Reborn teringat tujuan asalnya. "Ada Fon di ruanganku, temani dia! Aku ada urusan sebentar…" lanjut pria berjas hitam itu.
"Eh? Fon-san? Pacar pama—"
—GREP!
"Kau cari mati ya, Dame-Tsuna?" tanya Reborn penuh penekanan dengan aura dark disekujur tubuhnya. Pria itu secara sigap membekap mulut ember si keponakan, sehingga pemuda bersurai coklat itu tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Re- Reborn-sensei! Juudaime bisa mati kehabisan napas!" kata Gokudera panik. Sang guru pun melepas bekapannya dari pemuda beriris caramel itu, meskipun disertai dengan dengusan kesal sebelumnya. Tsuna langsung mengambil udara segar sebanyak mungkin, bekapan pamannya ini benar-benar diluar kekuatan manusia biasa. Oh, tentu saja Sawada Tsunayoshi, pamanmu ini adalah cupid yang mengatur ulang ingatanmu. Dan sayangnya Tsuna tak bisa mendengar spoiler takdir barusan. Hell, jika takdir bisa bicara dengan manusia, tak ada cerita menarik untuk ditempuh.
"Aku hanya disuruh menemani Fon-san sampai paman selesai dengan urusan paman, kan?" tanya Tsuna setelah selesai mengambil napas. Reborn mengangguk tegas.
"Jangan bicara yang aneh-aneh dengannya!" kata pria bertopi fedora itu sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar kelas 1-2. Tsuna menghela napas lega begitu bayangan pamannya menghilang, pemuda itu kemudian mengalihkan pandangannya kearah Gokudera dan Yamamoto.
"Err… maaf, sepertinya aku tak bisa pulang bersama kalian…" kata Tsuna sedikit menyesal. Gokudera menggeleng kuat-kuat.
"Tak apa, Juudaime… saya pergi dulu…" kata Gokudera sambil menundukkan kepalanya dan berjalan keluar kelas.
"Sampai jumpa, Tsuna! Gokudera, ayo pulang bareng!" ajak Yamamoto sambil menyusul pemuda bersurai perak itu.
"Pulang saja sendiri, yakyuu-baka!" jawab Gokudera sewot. Tsuna hanya tertawa garing menatap kepergian kedua temannya itu. Kemudian, pemuda itu menyampirkan tasnya dan berjalan pelan menuju ruangan Reborn yang berada di Ruang Guru.
.
.
-Namimori High School. Lantai 3, Ruang OSIS. 02.55 p.m-
.
TENG! TENG! TENG! TENG!
.
Giotto meletakkan paperwork terakhirnya. Helaan napas panjang sekaligus lega keluar dari laki-laki blonde itu. Laki-laki itu langsung menyambar tasnya cepat.
"Pekerjaanku sudah selesai! Aku duluan ya, G!" kata Giotto sambil melambaikan tangannya kearah teman masa kecilnya itu dan keluar Ruang OSIS dengan wajah secerah lampu neon. G menatap paperwork yang telah diselesaikan Ketua OSIS dengan mulut sedikit terbuka. Dia berani sumpah –lagi, mengingat tadi ia sudah berkali-kali bersumpah melihat fenomena yang dilakukan teman masa kecilnya itu– ia melihat pekerjaan temannya itu sudah selesai. Tentu saja G, tadi ia sudah bilang padamu, kan?
"Ini hanya fatamorgana, kan?" gumam laki-laki bersurai merah itu. Tiga detik kemudian, sang Wakil Ketua OSIS ditemukan tergeletak tidak elit dilantai Ruang OSIS.
"Permisi, Giotto-dono, G-dono, apa kalian— G-dono! Apa yang terjadi?! Kenapa Anda bisa tidur disini?!" Asari yang baru masuk langsung panik sendiri melihat teman masa kecil Giotto tengah pingsan dengan tidak elitnya.
.
.
—Sudah dibilang, kan?
.
.
-Lorong Namimori High School (Bagian Giotto)-
Giotto tengah tersenyum sendiri, sedikit senang karena hari ini ia bisa menyelesaikan seluruh papaerwork-nya untuk pertama kalinya. Ia kembali berpikir, apa takdir akan memberikannya kejutan lain hari ini?
.
-Lorong Namimori High School (Bagian Tsuna)-
Tsuna menghela napas, entah kenapa banyak kejadian aneh hari ini. Ia sedikit berpikir, apa mungkin takdir akan memberinya kejutan lain di hari ini?
.
.
—Dan jawaban kalian benar, wahai calon pasangan kekasih!
.
.
Tepat saat Giotto menginjak lantai satu, ia bertemu lagi dengan pemuda berambut coklat dan beriris caramel agak besar yang sangat dikenalnya. Tsuna sendiri terkesiap melihat sosok Giotto yang tiba-tiba menginjakkan kaki tepat tiga langkah didepannya. Kedua murid Namimori High School itu terdiam, tenggorokan mereka serasa kering dan pita suara mereka tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Dada mereka bergejolak dan sebuah rasa hangat menjalar masuk, mengisi setiap rongga yang ada.
.
.
—Sudah dibilang, takdir itu memiliki cara tersendiri, wahai manusia…
.
.
.
-TBC-
.
.
Bacotan Author: Hola, hola~! Ohayou, konnichiwa, konbanwa, wahai readers sekalian~! Kembali lagi dengan saya, Author ter-sableng se-FFN, Profe Fest! Gomen kalau chapter ini kelamaan, desu! Sebagai tanda maaf, chapter ini saya ketik lebih panjang~! Dan maaf juga kalau dari chapter-chapter sebelumnya kebanyakan typo! /kubur diri/ [Readers: Fic lu belum selesai, sablenggg!] Oiya! /bangkit dari kubur/ #hajared. Oiya, maaf kalau telat nih, tapi saya mau ngucapin MAKASIH BANYAK BUAT YANG UDAH FAV.,FOLLOW, PLUS REVIEW FIC –sableng– INI! POKOKNYA, AKU PADAMU DEH~! [Readers: NAJIS DEH, THOR! AMIT-AMIT! /kabur/] HEH! Enak aja kabur! Review dulu, dong~! /kedip-kedip/ [Readers: /muntah darah/] Saya minta review lagi dari readers sekalian, ya~! Sesingkat/sepedas/semenusuk apapun itu, saya akan sangat berterima kasih, ne~! Tidak ada yang sempurna dan tak ada seorang yang pun yang bisa menjadi sempurna, tapi semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik~! [Perhatian! Ini nyolong di blog sebelah!] Baiklah, sampai jumpa di chapter berikutnya~! /menghilang ala Daemon/
FranKeceh: Halo, makasih udah review~! Btw, mau plot bareng lagi di RP? Ntar gue on di Tsuna deh~ /apa. Masa sih fic gue keren? Nggak usah berlebihan, ah… .w. /nak. Oiya, rikuesan lu masih dalam tahap pengerjaan, sabar dulu ya… /digiles. Oh ya, review lagi, ya~!
Eiffel Caramel: Haii, Jess! /peluk balik/ /digampar. Masalah typo itu, itu bukan typo tapi sengaja. Itu untuk penegasan tentang pengulangan, udah dijelasin di twitter, kan? Wakakak, maaf deh, nih, dia muncul nggak di-bully lagi, kan? /nak. Yang buat Birthday Fic buat Bel udah ya, yang Ai no Unmei. Btw, review ini juga, ya~!
Wookie: Yoo~! Makasih udah review lagi~! ^^ Makasih juga pujiannya… *bow* Yang penjelasan mengenai kenapa 'buku cinta' itu nggak langsung diambil Aria udah sedikit dijelasin disini, ya~! (meskipun nggak semua sih… *gaploked*). Oiya, mengenai Yoshi jadi pengkhianat cinta itu bakal ada Chapter yang ngejelasin kok alias flashback-nya, ditunggu saja, ya~! ^^ Tanyain aja yang mau kamu tanyain, asal nggak sampai memasuki spoiler pasti saya jelaskan, kok~! ^^ Ini udah update, minta review-nya lagi, ya~! ^^
.
.
~Review please~
.
.
