Termenung sendirian sambil menatap gugusan bintang berkilauan jauh di atas sana. Pada teras halaman belakang rumah bergaya tradisional terlihat Shun hanya duduk bersila sambil memandang langit dalam kesendirian, jelas sekali menampakkan bahwa sosok bermanik obsidian itu tengah memikirkan sesuatu.

Ia mengalihkan pandangan pada telapak tangan kanan yang beberapa saat lalu menggenggam jemari gadis cantik beriris fusia nan lembut. Sedari kecil hal yang selalu menjadi prioritas adalah bermain basket, hingga seolah menjadi sesuatu yang wajar bila ia tak mengerti tentang suatu desiran aneh dalam dirinya.

Sungguh elusif dirasa, perasaannya kini tercampur aduk hanya karena sosok perempuan yang belum genap dua minggu dekat dengannya. Ah! Memikirkan hal tersebut membuat jantung dan otaknya bekerja tak normal.

"Sedang memikirkan gadis berambut merah muda itu?"

Guk!

Suara perempuan disusul satu gonggongan seekor anjing begitu saja masuk ke dalam pendengaran Shun. Ia segera menoleh pada sumber suara.

"Nee-san? Taro?" Shun langsung bangkit dari sandarannya menuju seorang perempuan bersetelan formal layaknya pegawai kantoran berserta seekor anjing ras shiba inu.

"Bagaimana harimu di rumah sakit selama seminggu?" Shun berjongkok tepat di depan anjing berwarna cokelat tersebut, kemudian mengusap gemas kepala anjing ras shiba inu itu.

Sedangkan sosok perempuan berambut hitam merasa terabaikan. Apakah anjing keluarga mereka lebih penting dari kabarnya? Sebagai kakak jelas perempuan bernama lengkap Izuki Aya merasa kesal.

"Bagaimana kabar gadis itu? Namanya Momoi Satsuki, bukan?" Aya langsung bertanya usai memastikan bahwa Shun memilih untuk tak membahas perempuan yang mengacaukan pikirannya.

"Kau pasti tahu itu semua dari Bibi Misako?" Shun langsung bertanya. Tentu laki-laki itu memiliki otak yang cerdas, sudah pasti sang bibi penjual makanan di kampusnya yang juga tetangga mereka memberitahu kakaknya saat tak sengaja bertemu.

"Aku senang, adikku yang tampan sudah semakin dewasa, kukira ia hanya akan jatuh cinta pada basket." Aya mengusap kepala Shun dengan gemas, membuat pemuda itu risi, "Hari Senin kau bertanding di final, bukan? Nee-san akan datang dengan pakaian yang fine." Aya melanjutkan kata-katanya, disertai candaan kata yang sering Shun lakukan, perempuan berambut hitam panjang itu kemudian meninggalkan sang adik bersama anjing peliharaan keluarga.

Shun masih terdiam bersama Taro, ingatannya sempat berputar menuju tahun-tahun lalu di mana Satsuki tampak gemas pada Nigou, anjing milik Tetsuya yang menjadi maskot Seirin kala itu.

Ia menggelengkan kepalanya. Sungguh ia merasa kesal dengan dirinya sendiri, lantaran segala hal tentang Satsuki selalu membuat pikirannya bercabang di saat ia diharuskan fokus untuk final tiga hari lagi. Ia tak ingin memungkiri dirinya menyukai gadis itu, tetapi kenapa sulit sekali untuk bersikap biasa?

Sepertinya Shun benar-benar jatuh hati pada gadis itu. Tentu sangat sulit untuk berlaku biasa di antara perasaannya yang terus memaksa.

.

.

Strange

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki

Story: Baka DimDim

Penulis tidak meraup keuntungan apapun dalam fanfiksi ini, kecuali pengalaman menulis.

Informasi yang tertera dalam cerita bukan 100% valid

Kesalahan penulisan berupa: typo(s) dan EBI yang belum sempurna bukan disengaja.

Cerita fiktif ini bertujuan sebagai hiburan, apabila ada kesamaan kejadian, tempat, dan alur bukanlah kesengajaan.

Don't like? Don't read!

.

.

23 April 2017

Langit bersemburat oranye tampak indah tuk dipandang, transisi siang dan malam terlihat menawan seperti biasa. Burung-burung pun beterbangan menuju sarang.

Pada taman, terlihat anak-anak kecil tengah bermain gembira. Senyum berserta tawa kian mencerminkan bahagia memeluk diri mereka.

Tak jauh di sana, terlihat sosok laki-laki berambut hitam duduk di bangku taman seraya menggenggam tali kekang anjing berwarna cokelat di dekat kakinya. Cukup lelah rasanya mengajak anjing yang sangat aktif seperti Taro untuk berjalan-jalan di minggu sore ini.

Sulit sekali untuk fokus pada satu hal. Shun sempat bersyukur permainannya saat latihan hari Sabtu kemarin sudah mulai membaik, tetapi apa yang ia pikirkan selalu bercabang.

Tentang latihan pada Sabtu kemarin sejujurnya ia merasakan kehilangan yang cukup besar. Tidak hadirnya manajer berambut merah muda membuat Shun khawatir dan suasana latihan terasa samgat berbeda.

Shun beranjak dari duduknya. Berdiam hanya akan memperbanyak cabang pada pikirannya.

"Ayo, Taro."

Guk!

Anjing berwarna cokelat itu merespons sang majikan, kemudian berlari pelan disusul Shun yang memegang tali kekangnya.

.

Seorang gadis berambut merah jambu tampak melambaikan tangan pada temannya. Senyuman tampak menghias paras ayu tersebut, meski pertanyaan masih menghantui pikirannya.

"Jangan menghindar lagi, Satsuki-chan!" Di seberang jalan tampak sosok perempuan berambut cokelat berujar serta melambaikan tangan.

"Terima kasih, Misaki-chan!" Ujar gadis itu masih dengan lambaian tangannya.

Selepas hal tersebut senyum manisnya terurai. Ia berbalik, kemudian melangkah menuju rumahnya, "Aku jatuh cinta ya?" ia bermonolog seiring langkahnya terus membawa ia pada rumahnya.

"Shun." Kedua pipinya langsung memerah saat ia melafalkan nama laki-laki yang menjadi topik perbincangan dirinya dan Misaki tanpa honorifik 'Senpai'.

Beberapa saat lalu ia mendapatkan ceramah bertema romantika dari Misaki. Satsuki pada awalnya tak tahu-menahu tentang maksud perempuan berhelaian cokelat sebahu yang mendadak mengajaknya jalan-jalan hari ini. Namun hal tersebut justru membuat pikiran Satsuki tak mampu untuk memroses sesuatu yang asing itu. Mana mungkin ia jatuh cinta pada dua lelaki? Pertanyaan aneh itu justru membuatnya tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, bila tentang cinta bagaimana kini dengan Kuroko Tetsuya?

Intuisi wanita? Itu adalah motonya, tetapi mengapa ia tak mampu menerjemahkan hal yang sekarang ia rasa dengan intuisinya?

Ia berjalan pelan masih dengan pikiran yang terus bersarang. Gadis berkaus merah muda terbalut sweater merah dan celana jeans biru selutut itu mendapat pandangan dari beberapa pasang mata lelaki yang tak sengaja berpapasan dengannya. Tak ada lelaki normal yang tidak ingin menyia-nyiakan beberapa detik berharga untuk tidak memandang gadis itu.

Sepuluh menit berjalan ia sampai pada sungai yang harus ia seberangi bila ingin cepat sampai rumah. Namun langkahnya terhenti saat sosok laki-laki berkaus putih berpadu celana training panjang hitam beraksen putih tengah duduk di rerumputan menghadap sungai.

Satsuki jelas mengenal pemuda tersebut. Bagaimana tidak? Ialah yang membuat pikiran gadis manis itu kacau. Tak jauh di sana tampak juga seekor anjing tengah berlari kesan kemari. Ingin ia berlari ke sana untuk mendekati anjing yang menggemaskan itu, tetapi debar jantung yang tiba-tiba meningkat membuat ia enggan melakukannya.

Iris fusianya hanya memandang dari kejauhan. Bibir tipis itu membentuk kurva indah kala melihat pemuda di sana bangkit dari posisinya kemudian bermain kejar-kejaran dengan anjing ras asli Jepang tersebut.

Satsuki tak tahu ini dimulai sejak kapan, mengapa hal yang berkaitan dengan pemuda itu sanggup memaksa atensinya untuk terjerat? Sontak itu bukan hal yang pragmatis untuk dijabarkan.

Langkah Satsuki kembali bergerak mendekat, kemudian berhenti saat berada di jembatan, kedua lengan gadis itu saling bertumpuk menjadi sandaran tubuhnya. Sepasang mata indah itu laksana cermin yang merefleksikan pemuda tersebut bersama si peliharaan yang tengah bermain kejar-kejaran.

"Shun!" Dari kejauhan dapat Satsuki lihat seorang perempuan berambut hitam panjang memanggil dan berlari ke arah pemuda yang menjadi atensinya. Dalam balutan kaus abu-abu berlengan pendek, perempuan itu kian mendekat dan memeluk Shun dengan mesra.

Hal tersebut sontak membuat sesak dada Satsuki saat ini, jantungnya semakin cepat berpompa, dan penglihatan gadis berambut sewarna musim semi itu memburam. Ia menangis dengan perasaan yang tak mengenakan.

"Hiks! ... hiks!"

Tak kuasa berada di sana lebih lama, Satsuki segera berlari secepat mungkin, isaknya terdengar seiring derai air mata kian merembah lebih deras. Ia cengeng, tentu gadis itu tahu mengetahuinya. Sungguh perasaan Satsuki sangat tidak mengenakkan dan ingin sekali ia berteriak sekeras mungkin demi menuntaskan hasratnya untuk menangis.

Beberapa menit ia berlari tanpa henti, ia telah berada beberapa meter dari rumahnya, sama sekali dirinya tak menghiraukan pandangan orang-orang yang sempat melihatnya. Satsuki segera masuk ke dalam rumah lalu secepat mungkin ia menuju kamarnya.

"Aaaarrrgghhh!" Jerit Satsuki dengan wajah dibenamkan pada bantal. Ini kali pertama ia merasa kacau yang teramat sangat, semua semakin jelas ia rasa. Tak perlu waktu lama dirinya menyadari perasaan yang mengganggu ini sejak diberi beberapa untaian kalimat tentang hal elusif yang disebut cinta.

Rasa cemburu inilah yang menjadi jawaban atas segala semua kekacauan dalam benaknya.

"Satsuki?" Terdengar suara lembut seorang wanita masuk ke dalam pendengaran gadis berambut merah muda itu. Ia segera menghapus air matanya dengan bantal, kemudian berbalik menghadap sang ibu.

"Kenapa menangis?"

Satsuki hanya menggeleng dengan matanya yang sembab. Ia tak ingin berbohong pada ibunya, namun gadis cantik itu belum pernah sedikit pun bercerita pada sang ibu tentang seorang lelaki, pengecualian soal Daiki, lantaran pemuda itu telah ia kenal sejak, kecil dan kini tengah menggapai cita-cita di Amerika.

Wanita berparas mirip dengan Satsuki di sana memberikan senyum penuh kelembutan. Tentu saja sang ibu selalu memperhatikan putri satu-satunya.

"Hidungmu semakin panjang loh. Siapa laki-laki beruntung yang berhasil membuat Putri Ibu resah?" Ujar wanita itu sambil mencubit pelan hidung putrinya.

Satsuki jelas terkejut. Mengapa ibunya tahu tentang hal ini? Pertanyaan itu hinggap dalam kepalanya. Ia tak pernah bercerita tentang lelaki mana pun pada keluarganya, kecuali tentang kebodohan sang sahabat, Aomine Daiki.

"Ke-kenapa Ibu tahu?"

"Hanya kau dan Ayahmu yang ibu perhatikan, sudah pasti itu bukan hal sulit. Jadi, mau bercerita pada ibu?"

Satsuki mengangguk kecil diiringi semburat merah jambu di kedua pipinya. Sedikitnya Satsuki gugup untuk bercerita, namun ia perlahan semua perasaannya ia curahkan pada sang ibu.

Sang ibu jelas merasa senang mengetahui putrinya bisa terbuka untuk hal sensitif ini, di balik rasa senang itu pula terdapat emosi tersendiri perihal waktu bahwa sekarang putrinya sudah semakin dewasa.

Satsuki merasa pikirannya lebih cerah kala ia bercerita pada sang ibu. Ia menceritakan semua yang ia tahu tentang Shun; laki-laki yang ia kenal sejak empat tahun lalu, mengajak ia bergabung klub basket secara mendadak, senyum hangat nan lembut yang diberikan Shun padanya, selalu menemaninya saat di jam makan siang, memberikan kenyamanan saat pulang, dan memberinya rasa aman ketika ia diganggu oleh beberapa lelaki nakal dua hari lalu.

Binar iris fusia tersebut kian menegaskan betapa Satsuki menyukai semua tentang Shun. Sang ibu pun tak ayal merasa penasaran dengan pemuda bernama Izuki Shun. Namun apa yang gadis itu lihat sore tadi di tepi sungai membuatnya kembali merasa sesak dan kembali murung.

"Kau sudah bertanya langsung tentang gadis itu?"

"Ta-tapi ... tapi perempuan itu langsung memeluk Shun-senpai ketika bertemu." Satsuki berujar sedikit terputus, sungguh ia merasa sangat manja dengan ibunya saat ini.

"Kau terlalu banyak berpikir ini dan itu, gunakan hatimu jangan logikamu. Terlalu sering bergaul dengan lelaki membuat cara berpikirmu seperti mereka." Ujar sang ibu seraya kedua jemarinya mencubit gemas pipi Satsuki kiri dan kanan, "Segera mandi, lalu bantu ibu memasak makan malam." Pungkasnya kemudian beranjak.

Senyuman Satsuki kembali merekah dengan manisnya. Betapa ia bersyukur memiliki sosok ibu sempurna.

"Ibu, malam ini biar aku yang memasak." Satsuki berucap seraya beranjak dari ranjangnya.

"Ibu tak ingin rumah ini meledak. Hihihi." Jawab sang ibu diakhiri dengan tawanya.

Satsuki mengembungkan sebelah pipinya. Ia sadar ia tidak bisa memasak, tetapi ia masih memiliki waktu untuk belajar.

"Segera mandi."

"Uhm!"

Usai bercerita, Satsuki merasa nyaman dengan perasaan resah yang berkurang dalam hati. Namun ia tahu perasaannya bisa kembali kacau bilamana bertemu dengan Shun.

.

Strange

24 April 2017

Di dalam bus suasana cukup ramai dengan obrolan para punggawa klub basket Todai. Tiap jajaran kursi terisi oleh dua orang.

Pada kursi nomor dua dari belakang tampak dua orang perempuan dengan pakaian serupa. Salah satu perempuan berambut merah muda, terlihat raut wajah cantiknya menampilkan mimik tanpa beban, sangat berbeda dengan kemarin.

"Jadi, kau sudah mengerti perasaanmu?" Sosok perempuan yang memperhatikan raut wajah gadis tersebut segera bertanya. Jujur saja ia merasa senang bila temannya telah berhasil mengendalikan perasaannya.

"Aku hanya mengikuti kata hatiku." Jawab ia, kemudian magentanya menoleh ke arah pemuda yang duduk dua bangku di depan bersama sosok lelaki pirang.

Laki-laki bermanik kelam di sana tampak tenang seperti biasa. Seorang berkapabilitas tinggi untuk mengomando alur permainan.

"Fokus, Shun."

"Ya, aku tahu." Shun langsung berujar cepat. Ia agaknya sedikit kesal. Apakah raut wajahnya tampak menampilkan beban?

Sangat Shun mengerti dirinya tak boleh hilang konsentrasi. Ini adalah final, bertemu dengan kawan lama sebagai lawan. Tentu perasan dan pikiran akan tercampur aduk, kenangan lama akan kembali terlintas dalam kepala.

.

Lima belas menit telah berlalu, kini bus telah sampai pada halte Tokyo Metropolitan Gymnasium. Pintu segera terbuka, kemudian kumpulan laki-laki berjaket putih segera beranjak keluar.

Mereka tampak tenang ketika berjalan masuk menuju gimnasium. Pada barisan paling belakang tampak dua orang perempuan beriringan. Banyak pasang mata melihat mereka dengan kagum, dan tak sedikit juga manik kumpulan lelaki yang melihat dua perempuan tersebut terpaku beberapa saat pada kedua sosok manajer cantik klub basket.

.

Suasana ruang ganti sangat tenang. Mereka tampak serius mengulang penjelasan strategi yang akan digunakan. Sebagian besar lawan mereka hari ini sama-sama mengetahui kelemahan dan kehebatan individu dari lini ke lini.

"Pada pertandingan ini kalian semua sudah mengetahui dan pernah saling melawan saat masih berada di jenjang Senior High." Nijimura Shuzo, kapten sekaligus pelatih tampak menuliskan ulang strategi pada papan tulis, "Izuki, kau sudah tahu jelas bagaimana Shoichi Imayoshi bermain. Momoi, sebelum bertanding, ulas kembali pada Izuki semua tentang Imayoshi." lanjut Nijimura menegaskan.

Seketika rasa tenang Satsuki sebelumnya memudar, terganti sudah dengan perasaan mendebarkan. Ia tidak merutuki perintah Nijimura, tetapi ia bersyukur, namun tetap saja rasanya gugup, meski ia telah mencoba untuk tenang.

"Miyaji, kau jaga pergerakan kakakmu. Higuichi, kau akan menghadapi shooting guard yang setara dengan raja tanpa mahkota, jangan lengah." Sosok laki-laki tinggi berambut hitam menatap Yuya dan sang shooting guard secara bergantian, "Kobori, jangan biarkan lawan memegang bola hingga di bawah ring kita." pungkas Nijimura seraya menatap pemuda yang lebih tinggi darinya.

"Kalian tetap bersiap, pemain akan selalu berotasi demi stamina terus terjaga." Nijimura menatap semua jejeran pemain cadangan, tentu hal itu sangat di perlukan. Kehadiran pemain cadangan turut berperan besar demi tim untuk menggapai kemenangan.

"Berkumpul!"

Semuanya mengerti apa yang dimaksud oleh kapten mereka. Seluruh anggota membentuk lingkaran dengan tangan terulur pada satu pusat.

"UTOKTYO!"

"WILL BE THE WINNER!"

Semua orang meneriakkan semangat mereka. Kemudian berjalan menuju lapangan, namun dua orang tampak berjalan beriringan di belakang. Mereka adalah Satsuki dan Shun, keduanya memang memiliki sesuatu untuk dibahas, tentang Shoichi Imayoshi demi kemenangan.

"Jadi, menurutmu aku yang sekarang bisa menanganinya?" Shun berucap lebih dahulu setelah beberapa detik mereka berjalan tanpa percakapan. Keduanya memang diselimuti rasa canggung, tetapi sebisa mungkin harus menghilangkan rasa itu agar tak menjadi beban pikiran dalam pertandingan penting ini.

"Senpai sudah pernah melawannya dua kali, meski secara individu hanya kalian saling mengunci pergerakan, namun kali ini akan berbeda. Senpai sudah berkembang pesat dari kali terakhir kita bertemu sebagai lawan, Imayoshi-senpai sudah pasti juga telah berkembang," Satsuki menjelaskan, namun sayang sekali ia tidak bisa memberikan informasi pasti. Sudah dua tahun ia tak melihat permainan Shoichi Imayoshi, mantan kapten Too Gakuen dua tahun lalu, "yang pasti selalu awasi dia ketika sudah mendekati akhir kuarter" pungkas Satsuki.

"Begitu ya. Terima kasih." Shun berujar seraya tersenyum hangat seperti biasanya. Melihat senyum itu Satsuki langsung tersadar satu hal. Shun selalu bersikap biasa, meski gadis berambut merah jambur di sana bertingkah aneh.

Ya, Shun selalu bersikap biasa pada perempuan di sebelahnya, namun bohonglah ia bila laki-laki berparas kalem tersebut tak merasakan desiran asing manakala bersama Satsuki.

Beberapa detik berjalan di lorong, hiruk-pikuk teriakan penyemangat mewarnai pendengaran begitu tim tersebut terlihat, tribune sudah tampak telah terisi penuh oleh penonton beranimo tinggi. Di lapangan tampak pemandu sorak dari kedua tim saling memamerkan kepiawaian bergantian.

Dari bangku pemain Todai tampak seluruhnya telah bersiap untuk pemanasan, begitu pun tim lawan. Dua sosok laki-laki berkacamata tampak datang menghampiri Satsuki dan Shun.

"Lama tak bertemu." Hyuga Junpei, sosok laki-laki mantan partner Shun menyapa lebih dahulu bersama Shoichi Imayoshi di sebelahnya. Senyum licik selalu setia di wajah mantan kapten klub basket Too Gakuen itu.

"Kali ini kita berada di lapangan sebagai lawan, Junpei." Shun berujar dan menatap kedua lelaki di sana bergantian. Tak ada rasa canggung sedikit pun dalam tiap kalimat yang dituturkan, ini seperti reuni bagi mereka.

"Momoi, aku sempat terkejut melihatmu berada di bangku pemain Todai pekan lalu." Imayoshi bercengkerama dengan juniornya. Satsuki menanggapinya seperti biasa, Imayoshi adalah orang yang ia hormati kala menjadi manajer klub basket Too Gakuen.

.

Dari satu sudut tribune terlihat sosok bertubuh tinggi bersama beberapa kawannya memandang Shun dan Junpei berbincang di pinggir lapangan.

Kiyoshi Teppei, Shinji Koganei, Rinnosuke Mitobe, Satoshi Tsuchida, dan Furihata Koki memandang kedua matan rekan tim mereka dengan senyuman bangga. Namun rasanya ini kurang lengkap bila untuk melakukan reuni, lantaran masih ada banyak anggota yang tidak bisa hadir untuk melihat pertandingan ini.

Dulu mereka semua saling membahu, berbagi semangat, canda tawa, bahkan berbagi tangisan menyakitkan serta bahagia. Semua momen itu sangat berharga, mereka bagaikan keluarga.

"Furihata-kun, lihatlah kedua Senpaimu yang akan bertanding serius untuk saling mengalahkan." Kiyoshi berujar pada juniornya seraya telapak tangan besarnya menepuk bersahabat kepala kapten Seirin usai pensiunnya angkatan Kiyohi Teppei.

"Mereka akan bersenang-senang." Koganei berujar tiba-tiba saat pemanasan tengah dilakukan kedua tim.

"Shun membawa alur permainan Seirin pada Todai, dan Junpei menularkan semangat Seirin pada rekan-rekan barunya." Kiyoshi menatap lapangan, ia sulit mendeskripsikan hal yang lebih dari sangat bangga pada kedua mantan rekannya.

Pertandingan akan segera dimuai, kedua tim telah kembali pada bangku tim masing-masing usai pemanasan. Pertandingan hebat akan tersaji beberapa saat lagi, dan itulah alasan dari sekian banyak penonton di sana.

"TOHOKU!"

"FIGHT!"

Teriakan dari para pemain Tohoku menggema disusul dengan tepuk tangan dari penonton.

"UTOKYO!"

"WILL BE THE WINNER!"

Dari kumpulan pemain Todai tak kalah semangat dari sang lawan, tepuk tangan pun tak kalah keras didapatkan dari para penonton.

"Semangat, Shun!"

Satsuki mendengar teriakan itu segera menoleh ke arah tribune, sosok gadis berambut hitam panjang jelas tertangkap iris fusianya. Di sana perempuan yang memeluk Shun kemarin sore. Pikirnya kemudian.

Manajer klub basket Todai seketika merasa kesal, sungguh tak menyenangkan saat melihat sosok Shun melambaikan tangan pada perempuan itu. Cemburu jelas Satsuki rasakan saat ini. Dan itu sangat mengganggu pikirannya.

Ia menggeleng cepat, kesampingkan perasaannya, pertandingan ini lebih penting dari perasaannya, gadis berambut musim semi tersebut menguatkan diri.

.

Kedua pemain telah berada pada posisi masing-masing untuk segera melakukan tip-off. "Putih, Hitam, siap?" Terlihat sosok wasit memandang kedua orang yang akan saling berebut bola di udara, Koji Kobori dan Tsutomu Iwamura memberikan anggukan.

Wasit langsung melemparkan bola tinggi tepat di antara Kobori dan Tsutomu. Kedua lelaki-berpostur tinggi besar itu langsung melompat tinggi menggapai bola.

Plak!

.

Scene beralih pada pintu menuju tribune, di sana terlihat sosok perempuan berambut cokelat pendek baru saja tiba.

"Junpei, Shun." Sebulir air mata begitu saja merembah pada wajah cantik gadis itu, dirinya masih belum menyangka bahwa dua tahun sudah kelulusannya dari Seirin. Kenangan ketika pembentukan klub basket terlintas dalam pikirannya, hingga tiap detik kebersamaan sebagai tim basket seolah ingin sekali ia ulang bahkan hingga yang terpahit sekali pun, hal terindah dalam tiga tahun hidupnya sejak menjadi pelatih untuk pertama kali.

Dalam balutan jaket sport dan celana training ia berjalan menuju satu kursi kosong di dekat Teppei, dan teman-teman satu sekolahnya dahulu. Para laki-laki di sana tampak tersenyum melihat kehadiran Riko Aida.

.

Kembali pada lapangan, tampak Shun mendribel bola dengan lamban. Ia tak ingin memerikan tempo cepat di awal kuarter pertama ini. Belum saatnya pengurasan stamina dilakukan. Di hadapannya sosok Imayoshi telah menunggu. Semua pemain telah melakukan tugas mereka masing-masing, menjaga pemain sesuai strategi.

Karakter Imayoshi dan Shun memang sedikit mirip saat pertandingan, saling memberikan alur baik bagi tim, dan memberikan dukungan saat detik-detik krusial.

Sosok point guard tim Todai melakukan crossover untuk melewati Imayoshi yang tak kan membiarkan bola tersebut memasuki ring timnya. Tak mendapatkan celah membuat Shun terpaksa bergerak sedikit ke belakang, kemudian iris tajamnya melihat sosok Yuya baru saja melepaskan diri dari sang kakak. Bola berkecepatan tinggi mengarah pada sosok pirang itu yang langsung melakukan lay up dengan bebas lantaran Tsutomu mendapatkan screen dari Kobori.

Blesh!

Poin pertama didapatkan Todai. Tim berkostum putih itu segera berbalik menyusun pertahanan. Tohoku langsung membangun penyerangan dikomandoi Imayoshi. Seluruh pemain Todai segera me-marking para punggawa tim lawan.

Semua pemain tim asal Sendai bergerak secara acak. Hal tersebut sontak merepotkan para pemain Todai. Imayoshi bersiap melakukan tembakan tiga angka dari posisinya berada dua langkah dari garis three point, Shun melihat hal tersebut telah terlambat untuk mengatisipasi.

Blesh!

Tembakan itu langsung membalik kedudukan di kuarter pertama ini. 2 : 3 untuk keunggulan Tohoku atas Todai.

Dari bangku pemain Todai, terlihat Satsuki terkejut, mantan kapten Too Gakuen itu telah berubah karakter bermainnya yang dahulu selalu mengawali kuarter dengan alur sedang kini memulai dengan alur cepat, taktik yang biasanya perlahan mampu menundukkan lawan masih belum ditampilkan.

Perang poin dideklarasikan oleh Tohoku pada kuarter pertama ini. Kedua tim pun segera berlomba untuk menambah angka sebanyak mungkin di awal pertandingan ini.

.

"Mereka langsung menguras stamina di awal kuarter pertama?" Sosok laki-laki pirang pucat tampak berdiri di dekat pintu tribune, alur permainan kedua tim terasa sama namun perbedaan personalitas dari punggawa membuat pergerakan bola dan taktik tempo cepat ini berbeda.

Dari tribune Kosuke Wakamatsu menonton pertandingan seorang diri. Dalam penglihatannya, permainan kedua tim sudah mencapai puncak, meski ini masih berada di dalam kuarter pertama.

Di lapangan, Junpei mendapatkan bola, berhadapan dengan seseorang yang menjadi salah satu punggawa Strky untuk melawan Jabberwock tentu membuatnya tak bisa bernapas lega ketika bermain. Ia mendribel cepat menuju sisi kanan luar garis three point, namun Higuichi masih saja mampu mengimbanginya.

Junpei bersiap melakukan tembakan ketika Higuichi berada dua langkah di depannya, namun laki-laki berambut cokelat itu segera menutup jalur tembakan dengan menjulangkan lengannya tinggi ke atas. Shooting guard berkacamata itu bergerak mundur dua langkah lalu melakukan tembakan tiga angka.

Blesh!

Skor bertambah untuk Tohoku atas Todai dengan angka 23 : 25 di kuarter pertama ini. Pada papan poin terlihat waktu menyisakan 17 detik di kuarter ini.

Serangan dari Todai dibangun kembali, Shun langsung melakukan drive cepat menuju jantung pertahanan lawan. Berhadapan satu lawan satu dengan Imayoshi, entah ini duel ke berapa, ia sama sekali tak mengingatnya. Laki-laki bermanik tajam itu melakukan gerakan-gerakan rumit untuk melewati kapten dari klub basket Tohoku.

Shun sudah terlalu lama menguasai bola, tak ada celah sedikit pun untuk melewati Imayoshi, namun sebuah pergerakan dari Higuichi berhasil menjadi atensinya walau hanya sekilas. Ia mengoper bola ke arah sang shooting guard. Higuichi melakukan quick release, meski Junpei langsung berusaha untuk menghalaunya, tetapi bola lebih cepat dari jangkauan lengan kokoh mantan kapten Seirin itu.

Blesh!

Teeet!

Tembakan tersebut berhasil membalik kedudukan di akhir kuarter pertama ini. Skor 26 : 25 menghiasi papan skor. Para pemain langsung beranjak menuju bangku masing-masing untuk mengisi stamina.

"Hyuga, seperti perkiraanmu. Ini akan sangat sulit untuk menghancurkan fondasi alur permainan mereka." Imayoshi berujar seraya sebelah tangannya mengusap sisi wajah dengan handuk.

"Shun memiliki mental yang sangat kuat, bermain sejak usia sembilan sudah menempanya menjadi pemain yang mampu menaklukkan, atau menghadapi monster di lapangan." Junpei menjawabnya dengan serius, sepasang mata yang bersembunyi di balik kacamata memerhatikan mantan rekannya yang telah berkembang pesat.

.

Dari bangku pemain Todai Nijimura berpikir tentang bermacam strategi yang akan digunakan pada kuarter kedua nanti. Ia menoleh ke arah Yuya, strategi pemuda itu menjadi point guard perlu dicoba, meski lawannya adalah laki-laki jenius dengan segudang rencana.

Lain hal dengan Nijimura, mantan rekan Imayoshi terlihat resah dengan perasaannya. Ia memberikan handuk pada Shun, namun pikirannya seolah tak berada di sana, "Terima kasih." sosok pemuda bermimik kalem itu berujar, namun terabaikan. Ia mengarahkan telapak tangannya menangkap pergelangan tangan Satsuki, "Ada apa?" kemudian bertanya demikian.

Genggaman tangan Shun seolah mengeluarkan sengatan listrik hingga perempuan cantik berkostum Todai tanpa nomor punggung itu tersentak, kemudian degup jantungnya meningkat, "Ti-tidak apa." ia menjawab dengan terbata-bata lalu menarik tangannya yang ditangkap point guard kebanggaan Todai tersebut, sungguh dirinya masih memikirkan siapa perempuan berambut hitam yang memanggil Shun, dan pertandingan ini. Fokus pikiran bercabang sungguh tidak mengenakkan.

Aksi menarik tangan itu sempat mengusik pikiran Shun, namun segera ia abaikan. Dirinya tak ingin fokusnya terpecah, memikirkan kemenangan tim bukanlah opsi melainkan keharusan.

Teeet!

Bel dimulainya kuarter kedua telah berbunyi, Shun memandang Satsuki sejenak, lalu mengarahkan telapak tangannya pada puncak kepala sewarna gulali tersebut dengan pelan, "Semangati kami." ia berujar disertai senyum hangatnya, kemudian beranjak memasuki lapangan, menyisakan Satsuki yang terdiam dan senyuman-senyuman aneh dari teman-temannya yang melihat aksi Shun.

Pertandingan dimulai dari Tohoku yang kalah saat perebutan bola tip-off. Tsutomu mengoper bola pada Imayoshi, dalam kepalanya beberapa strategi telah ia siapkan. Untuk kali ini fokus akan berada pada power forwardnya. Namun sekali lagi ia berpikir tentang kehebatan pemain terbaik di tingkat Junior High beberapa tahun lalu, Nijimura Shuzo. Laki-laki berpostur tinggi tegap itu belum menunjukkan seluruh kemampuannya. Tak perlu banyak berpikir, percaya pada rekan satu tim adalah kewajibannya sebagai kapten.

"Okamura!" pemuda yang sering memamerkan seringai licik itu mempercayakan bola pada sang power forward. Di hadapan Kenichi Okamura telah berdiri sosok Nijimura yang bersiap untuk menghalau figur dengan tubuh besar dan tinggi dua meter lebih tersebut.

Okamura langsung memunggungi Nijimura, benturan keras terjadi antar kedua power forward tersebut. Saling adu kekuatan dengan postur mereka yang cukup jelas terlihat perbedaannya. Pemain berkulit tan tersebut berputar dengan cepat berhasil melewati Nijimura. Namun yang dilewati adalah pemain terkuat adalah pemain terkuat tingkat Junior High beberapa tahun lalu segera memosisikan dirinya menghalau pergerakan lawan.

Okamura melompat tinggi untuk melakukan dunk, Nijimura tak kan membiarkan hal tersebut terjadi, ia juga melompat untuk menghentikan laki-laki berotot besar tersebut.

Brak!

Nijimura tak berhasil menghentikan Okamura. Kedudukan kembali dipimpin Tohoku, tim berkostum hitam itu segera berbalik untuk merangkai pertahanan sekuat mungkin.

"Kuat sekali." Nijimura baru kali ini merasakan sensasi menegangkan seperti tadi, semangatnya tiba-tiba terpacu. Ia segera bangkit dan tersenyum pada sosok yang berhasil mengalahkannya dalam duel.

"Kapten?" Yuya sedikit khawatir dengan kondisi Nijimura yang baru saja dikalahkan.

"Tidak apa. Kita balas mereka!" Nijimura memungut bola, kemudian mengoperkannya pada Shun. Pertandingan pun kembali dilanjutkan. Ini adalah final, mereka harus berusaha lebih, lebih, dan lebih keras lagi.

.

Dari bangku cadangan terlihat Satsuki terus menerus memandang Shun yang saat ini mengusai bola, pemuda itu kini tersenyum, mungkin lantaran begitu menikmati pertandingan sengit ini. Pemilik manik magenta tersebut ikut tersenyum memandangnya, meski jujur saja perasaannya masih tidak mengenakkan ketika perempuan di tribune sana terus menerus Shun dan meneriakkan nama pemuda tersebut.

Tim Todai kembali memainkan tempo cepat demi membalikkan keadaan. Yuya menjadi kunci permainan, ia terus menerus menjadi sorotan lantaran aksinya berhasil melepaskan diri dari penjagaan sang kakak yang menjadi lawan.

Hingga pada penghujung kuarter kedua kedudukan masih belum berhasil dibalikkan oleh tim asal Tokyo tersebut. Skor saat ini 57 : 59, terpaut dua angka, namun sangat sulit bahkan untuk mencuri poin dari Tohoku.

Pada kuarter ketiga Todai bermain lebih agresif, rotasi pemain pun turut andil demi menjaga stamina tim. Peran sentral Nijimura dan Higuichi sangat besar pada perang poin ini, namun Okamura dan Junpei tak kan membiarkan kedua pemain senior Todai tersebut dengan leluasa menambah angka.

Pada deretan tribune, animo penonton masih sangat besar. Banyak sekali wajah-wajah yang tak asing bagi para punggawa yang tengah bermain. Terlihat dua orang dari anggota Kiseki no Sedai menonton pertandingan dari tribune teratas.

Sosok laki-laki berpostur tinggi dengan rambut ungu panjang memandang jalannya pertandingan dengan fokus. Murasakibara Atsuchi, sesekali kritik ia lontarkan entah untuk siapa. Di sebelah Murasakibara terlihat Midorima terduduk dengan tenang seiring manik di balik kacamata berbingkai hitam turut fokus menonton pertandingan dari Miyaji bersaudara yang merupakan seniornya kala masih bermain untuk Shutoku.

Midorima Shintarou dan Murasakibara Atsuchi sama-sama belum bisa menebak siapa pemenang pada pertandingan ini, pasalnya kedua tim saling membalas angka. Hingga pada akhir dari kuarter ketiga skor berhasil disamakan, angka 89 : 89 menghiasi papan skor.

.

Di bangku pemain Todai hanya terlihat mereka terduduk sembari mengatur napas dan memulihkan stamina. Sungguh pertandingan ini berat sekali untuk dimenangkan. Dari kumpulan mahasiswa Tokyo University itu tampak jelas dua orang perempuan tengah sibuk untuk menyediakan handuk dan minuman isotonik yang menjadi sponsor turnamen ini.

"Kau begitu kerepotan ya?" Shun berujar pada Satsuki yang baru saja memberikannya sebotol minuman dan selembar handuk.

Satsuki menggelengkan kepalanya dan memberikan seulas senyum penyemangat untuk wakil kapten, "Tetap semangat, Shun-senpai." pungkas Satsuki.

Diberi semangat seolah mendapatkan stamina tambahan, hal itu dirasa oleh Shun. Ia mengangguk pasti dengan senyuman hangatnya yang biasa.

"Lupakan kalau pertandingan ini adalah final. Kita harus terus bersemangat, perkuat pertahanan dan penyerangan sekaligus." Nijimura berkata seiring membangkitkan diri dari duduknya, semua rekannya berdiri untuk memulai kembali pertandingan.

Teeet!

Bel dimulainya kuarter ke empat telah berbunyi, pemain kedua tim kembali memasuki lapangan. Sepuluh menit terakhir ini adalah penentu siapa yang akan mengangkat trofi kemenangan.

Bola dimulai dari Universitas Tokyo. Sang point guard baru saja menerima operan dari Kobori. Ia harus fokus membangun penyerangan, kondisi fisik semua orang memiliki batas, sudah pasti tubuh mereka sudah kelelahan meski stamina mungkin masih ada.

Shun bermain dengan tempo lambat, memberikan alur cepat pada kuarter keempat sama saja menguras sisa staminanya berserta semua rekan satu timnya. Sepasang obsidiannya membelalak ketika di depannya bukan sosok Imayoshi yang menjaga, melainkan Junpei berada di sana membentangkan kedua lengannya, "Majulah, Shun!" laki-laki yang pernah menanggung beban bersamanya memberikan tatapan penuh keyakinan bahwa ia bisa menghentikan alur permainan pemuda berparas kalem tersebut.

"Tidak ada celah!" Shun terus mendribel bolanya ke kiri dan kanan, namun masih tak menemukan celah sedikit pun untuk melewati mantan rekannya, selama itu pula ia juga mengamati pergerakan rekannya, namun mereka masih belum bisa terlepas dari jerat kawalan tim lawan.

Hingga waktu 24 detik hampir habis, Shun tak mendapatkan celah untuk melewati penjaga serta mengumpankan bola. Tidak ada pilihan. Shun langsung melakukan fade away dari luar garis tiga angka.

Whuss!

Sosok Hyuga Junpei tahu jelas bahwa tembakan tiga angka Shun tidak begitu baik, sehingga ketika ia tidak mampu memblokir tembakan tersebut, ia sedikit merasa tenang dengan hal tersebut.

Blesh!

Tanpa diduga oleh Junpei, ternyata Shun berhasil menambahkan angka dari tembakan tersebut.

"Bukan hanya dirimu yang terus berkembang." Shun berujar seiring senyumannya persahabatannya terukir pada wajah tampannya.

"Kalau begitu bersiaplah." Balas Junpei ketika mantan rekannya di Seirin berbalik untuk membangun pertahanan.

Di bangku pemain Todai semua pemain berserta manajer bersorak atas tembakan tiga angka Shun yang berhasil membalikkan kedudukan. Satsuki tersenyum senang, entah mengapa ini semua mengingatkannya ketika masih berperan sebagai manajer di Too Gakuen dulu. Namun jelas ada sesuatu yang membedakannya, ialah sosok Shun yang selalu hangat. Jujur saja, Satsuki dahulu mengira Shun memiliki sifat yang dingin lantaran kala memandang orang lain pemuda itu selalu menampilkan mimik tenang.

Dengan kedua pipi bersemu merah Satsuki menggelengkan kepalanya, membuat rambut merah jambu panjangnya bergerak liar. Ia harus fokus pada pertandingan ini, tidak boleh pikirannya teralihkan.

Pertandingan terus berlangsung, kedua tim memainkan tempo lambat, sangat berhati-hati dalam penyerangan. Tembakan tiga angka dari Hyuga Junpei sulit sekali dibendung oleh Higuichi yang bertugas menjaganya, tetapi bukan berarti ia sudah menyerah, tembakan tiga angka yang Higuichi lakukan juga sangat berbahaya dan sulit untuk dipatahkan.

Duel antara Okamura melawan Nijimura juga beberapa kali terjadi, gebrakan kedua pemain itu pada ring terus membisingkan teriakan dan tepuk tangan para penonton. Pertarungan antara Miyaji bersaudara juga mewarnai jalannya permainan.

Kini tampak Yuya mendribel bola dengan kecepatan tinggi usai menerima operan dari Shun. Ia segera melompat saat merasa jaraknya dengan ring sudah tepat untuk melakukan lay up.

Plak!

Sang kakak sama sekali tak membiarkan timnya semakin tertinggal. Kiyoshi Miyaji masih menunjukkan permainan terbaiknya untuk menghadapi sang adik, "Cih!" Yuya berdecap kesal. Kakaknya masih berada dalam performa terbaiknya.

"Selanjutnya Nii-chan tak kan bisa menghentikanku!" Yuya berujar lalu segera kembali berlari membantu pertahanan.

Skor saat ini adalah 94 : 92 untuk keunggulan Todai di setengah kuarter keempat. Sungguh pertandingan yang sengit mereka tampilkan, serangan dan pertahanan apik ditunjukkan kedua tim. Mereka bermain layaknya pemain profesional, tenang, menunggu timing yang tepat, dan memberikan gebrakan yang akurat.

Tohoku kali ini memberikan tekanan yang luar biasa, melalui Tsutomu mereka berhasil membawa bola masuk ke dalam area free throw, Shun mendapat screen dari Kiyoshi Miyaji saat berusaha menghentikan Imayoshi yang berlari melewatinya.

Senyuman licik Imayoshi masih setia menghiasi wajahnya, dengan postur tingginya ia melompat tinggi, di sebelahnya sudah berada Shun yang baru saja melepaskan diri dari screen yang dilakukan Kiyoshi, ia berusaha memblokir dunk yang akan Imayoshi lakukan.

Brak!

Shun terjatuh ketika tak mampu memblokir dunk yang dilakukan Imayoshi. Kapten tim Strky kala itu memang luar biasa kehebatannya. Sosok tersebut lebih baik darinya di beberapa aspek. Shun sangat sadar itu, bagaimana ia bisa menghadapinya kemudian kala staminanya sudah terkuras?

"Semangat, Shun-senpai!" Teriakan itu terdengar dari bangku pemain Todai, gadis cantik berbalutan jersey Universitas Tokyo tersebut memberikannya semangat.

Shun memandang gadis tersebut dalam diam, entah mengapa pikiran pesimis tadi bisa hadir dalam benaknya. Ia segera bangkit dari terjatuhnya, kemudian melambaikan tangan ke arah Satsuki serta memberikannya senyuman.

Plak!

"Hentikan background merah jambu itu! Cepat gantikan posisiku!" Yuya berujar usai menjitak kepala sahabatnya yang entah mengapa bisa-bisanya Shun melambaikan tangan usai dikalahkan saat duel di udara, pikir Yuya sedikit kesal.

Laki-laki bermanik tajam itu mengusap kepalanya dengan raut wajah kesal ia berikan pada Yuya, kemudian segera bertukar posisi dengan sang small forward rekan timnya.

Penyerangan kembali di bangun tim asal Tokyo tersebut, melalui Yuya yang kini berperan sebagai point guard sangat membingungkan Tohoku, lantaran ini adalah pertama kali menghadapi Todai dengan sosok Yuya sebagai point guard.

"Aku lebih cepat darimu, Nii-chan!" Yuya berujar seraya melakukan drive cepat melewati sang kakak, Kiyoshi Miyaji sama sekali tak menyangka akan dilewati sang adik dengan begitu mudah, ia berbalik untuk mengejar sosok yang berparas mirip dengannya.

Di depan Yuya sudah terlihat Tsutomu berusaha untuk tidak membiarkan sosok pirang tersebut lebih dekat dengan ring. Yuya melakukan crossover ke kananda, ia menjauhkan dirinya dari ring lalu melemparkan bola dengan kecepatan tinggi ke arah ring.

Shun sudah mengerti itu, ia beradu kecepatan dengan Imayoshi, kemudian melompat untuk menggapai bola, ia melompat diikuti Imayoshi.

Brak!

Shun berhasil mendapatkan bola lebih dulu dan menggebrak ring Tohoku dengan keras menyelesaikan alley oop tersebut.

Universitas Tokyo kembali memimpin dengan skor tipis 96 : 94 atas Tohoku.

Kedua tim masih belum mengalah, mereka kembali menyajikan permainan hebatnya. Di sisa waktu kuarter keempat ini sungguh para pemain mengerahkan semua tenaga mereka hingga tetes terakhir dari sisa peluh yang sudah membasahi tubuh.

Sebagian pengamat basket di sana masih belum mengetahui siapa pemenang pada pertandingan ini, namun mereka sudah mempunyai dugaan; bila Todai berhasil menambah angka maka mereka sudah berhasil menyentuh trofi kemenangan, dan bila Tohoku berhasil menambah angka maka pemenangnya masih belum bisa diketahui akhirnya.

Tak sampai 24 detik waktu tersisa, serangan Tohoku akan menjadi penentu pertandingan ini, tiga angka akan membawa mereka pada kemenangan, dan dua angka akan memaksa stamina mereka benar-benar terkuras habis di pertambahan waktu.

Imayoshi mendribel bola dengan lambat ketika berada tepat di depan Shun, ia tahu jelas bahwa pemuda bermimik tenang itu adalah pemain yang mampu disamai dengan pemain profesional, asal bergerak mampu membuat bola yang ia kuasai tercuri.

Dari balik kacamata itu sepasang manik hitam Imayoshi mengamati pergerakan rekannya, namun semuanya berada dalam pengawasan penuh dari lawan. Tak ada sela sama sekali untuk mengumpankan bola, sementara waktu terus berjalan menyisakan waktu 4 detik. Tak ada pilihan lain, kecuali ia sendiri yang menembakkan bola.

Imayoshi melakukan crossover untuk membuka celah menembaknya, Shun dengan tanggap mengerti maksud dari hal tersebut. Ia mengikuti setiap langkah lawannya. Imayoshi berancang untuk menembak, namun sepasang mata tajam Shun sudah membaca pergerakan tersebut. Ia segera melompat ketika Imayoshi melompat.

Plak!

Teeet!

Tamparan keras pada bola tersebut menandai kemenangan untuk Todai.

Poft! ... Poft! ... Poft! ...

Kertas warna-warni dari konveti beterbangan bersamaan dengan ratusan balon-balon berjatuhan dari atap lapangan. Juara pada turnamen ini telah ditentukan. Universitas Tokyo berhasil menjuarai pertandingan.

"YAAAAA!"

"YAAAAA!"

Teriakan dari semua anggota klub basket Todai menggema berbarengan dengan teriakan kemenangan dari penonton. Mereka semua yang berada di bangku pemain segera berlari menghampiri rekan-rekan mereka di lapangan.

Satsuki jelas terlihat berderai air mata juga berlari, langkah cepat gadis itu tertuju pada Shun. Ia tak tahu mengapa, dadanya terasa sangat sesak lantaran terlalu bahagia untuk kemenangan timnya. Ini semua begitu elusif baginya yang belum genap satu bulan bergabung dengan klub basket sebagai manajer.

Bruk!

Shun terduduk ketika Satsuki langsung melompat dan melingkarkan kedua lengannya pada leher pemuda bermanik kelam tersebut. Pelukan ini membuat dirinya aneh, seolah memulihkan staminanya yang sudah terkuras habis.

"Hei. Badanku bau keringat, Satsuki." Shun jelas merasa malu dengan dirinya dipeluk di depan umum seperti ini. Namun bohonglah dirinya bila ia bilang ia tidak merasa nyaman dengan rengkuhan erat dari sosok perempuan cantik yang diam-diam ia sukai.

"Kita menang! Kita menang! Kita menang!" Satsuki berteriak terbenam dada bidang sang wakil kapten, Shun pun membalas pelukan itu, harum aroma tubuh Satsuki semakin memicu debar jantungnya untuk semakin menggila.

Satsuki tersadar dengan apa yang ia lakukan segera melepaskan pelukan tersebut, namun lingkaran kedua lengan Shun menghambatnya untuk melepaskan diri.

"Sampai kapan kalian bermesraan?" Yuya membuka suara menginterupsi Shun dan Satsuki yang sontak saling melepaskan dan segera berdiri dengan mimik malu mereka masing-masing, namun Yuya tak acuh dengan itu, "ayo beri mereka salam, kita akan bertemu mereka di musim dingin." lanjut Yuya lalu berjalan menuju para pemain Tohoku.

Semua pemain Todai tampak bersuka cita, seusainya mereka saling bersalaman dengan pemain Tohoku sebagai tanda sportivitas. Shun bersalaman dengan Junpei, "Kita bertemu lagi di musim dingin." Junpei memberikan anggukan pasti. Jujur saja, kalah itu tidak menyenangkan.

.

Kini pemberian trofi untuk posisi pertama dan kedua tengah berlangsung, kedua tim tampak berbaris berbanjar menghadap podium. Mereka tampak mengenakan medali kemenangan.

Nijimura berjalan menuju podium dengan tenang, ia bersalaman dengan penanggung jawab dari turnamen ini, kemudian menerima trofi besar dari pria bersetelan jas hitam tersebut.

"YAAAA!" Nijimura meneriakkan suaranya, disambut dengan tepuk tangan keras dari seluruh orang di dalam stadion.

Selepas pemberian trofi mereka tampak berfoto bersama, awak media pun tak luput untuk mengambil gambar pemenang turnamen ini. Shun tampak berdiri bersebelahan dengan Yuya dan seorang penggemar dadakan yang datang ke lapangan untuk berfoto.

Melihat hal tersebut, Satsuki hanya terkikik kecil melihat Yuya tampak protes dengan Shun yang memaksa penggemar dadakan itu berfoto bersama sahabat pirangnya.

"Shun!" Perempuan cantik dalam balutan dress one piece biru tersebut berlari menuju point guard andalan Todai. Satsuki ingat jelas bahwa perempuan tersebut yang ia lihat kemarin dan berteriak menyemangati Shun di detik-detik sebelum tip-off dimulai.

Bruk!

Shun terjatuh dengan tubuh gadis berambut hitam itu memeluknya erat, semua ingatan tentang kemarin sore hingga kembali dalam benak perempuan beriris magenta tersebut. Satsuki merasa benda tumpul menghantam dadanya, hingga membuatnya sesak.

Satsuki tak ingin berlama menyaksikan itu, ia berlari menuju ruang ganti yang sebelumnya mereka gunakan untuk mengulas strategi. Berada di sini lebih lama dan menyaksikan Shun berpelukan dengan perempuan berambut hitam panjang tersebut hanya akan menyakitinya.

Satsuki sangat yakin bahwa ia jatuh cinta pada sosok berparas tenang tersebut, wajar saja ia merasa cemburu bila melihat kedekatan Shun bersama perempuan lain, terlebih mereka berpelukan, hal tersebut seolah mencubit hati Satsuki dengan sangat keras dan terasa menyakitkan.

.

.

TBC

.

.

Posisi Higuichi itu masih misteri, jadi Dimdim buat aja sesuai keinginan selagi tidak ada larangan~

Terima kasih sudah yang mem-fav dan mem-fol cerita ini, dan tentu terima kasih untuk yang membaca dan memberi review~

Ah! Tidak lupa terima kasih juga untuk yang menominasikan cerita ini ke dalam salah satu kategori IFA, walau Dimdim pesimis, tapi ada rasa senang tersendiri.

Sampai bertemu di cahpater terakhir.