Warning!
Hunhan Fanfiction. Sehun & Luhan as main cast.
Yaoi. BL.
DLDR.
Happy reading~~
REVENGE
.
Sehun meletakkan dua piring spagetti yang telah diberi bubuk keju sebagai pelangkap terakhir di atas meja, bersama dengan alat makan dan dua gelas berisi jus jeruk di sana. Sehun berjalan meninggalkan ruang makan untuk memanggil Hanni. Dilihatnya Hanni sedang bermain-main bersama anak anjingnya yang berbulu putih. Sehun tersenyum karena mereka benar-benar terlihat menggemaskan.
"Namanya Vivi." Suara Sehun sedikit mengejutkan Luhan. Luhan mendongak ketika Sehun berjalan ke arahnya. Sehun lalu duduk di lantai dan ikut mengelus bulu anjing kesayangannya itu.
"Vivi. Lucu sekali." Luhan tersenyum, "Sudah lama kau memeliharanya?"
"Uhm.. Sudah dua tahun. Lebih tepatnya ketika kakakku meninggal dunia." kata Sehun, wajahnya tiba-tiba berubah sendu.
"Maaf," Luhan terkejut. "Aku tidak bermaksud-"
"Tidak apa," Sehun tersenyum, "Vivi sudah seperti keluarga bagiku. Dia yang selalu menemaniku ketika aku berada di masa-masa sulit. Terutama ketika aku baru kehilangan kakakku."
"Kalau boleh kutahu, kakakmu- kenapa dia meninggal?" tanya Luhan.
Sehun terdiam sejenak, kedua matanya menerawang, "Kecelakaan. Itu terjadi ketika dia mau menghadiri pentas seni di sekolahku, dimana aku tampil sebagai penari di acara itu." Sehun tersenyum miris, "Sayangnya, ia sama sekali tidak sempat melihatku menari."
Luhan menangkap nada kesedihan di kalimat itu, membuatnya ikut merasa sedih karenanya. "Kau tahu, Sehun, kakakmu pasti bangga memiliki adik sepertimu. Kau orang yang baik, pintar, dan disukai banyak orang."
"Kuharap juga begitu." Sehun tersenyum, "Ayo kita makan dulu, nanti makanannya dingin."
Luhan mengangguk lalu mengikuti Sehun ke ruang makan. Mereka duduk berhadapan sambil memakan makanan yang tersaji di atas meja.
"Maaf. Aku hanya bisa membuat ini. Kuharap kau menyukainya." kata Sehun.
"Gumawo." Luhan mulai mengaduk spagetti dan memakannya pakai garpu. Rasa gurih dan lezat melumer di dalam mulutnya. "Enak."
"Benarkah?" Sehun ikut memakan spagetti miliknya. "Ya. Tidak terlalu buruk. Syukurlah."
Luhan tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari piring di depannya, lalu memakan suapan kedua. Sehun tersenyum, tangannya terangkat membersihkan sisa saus yang tersisa di sudut bibir Luhan, membuat Luhan terkesiap, dan menatapnya terkejut.
"Maaf," Sehun segera menjauhkan tangannya, "A-aku refleks melakukannya. Maaf."
Luhan menggeleng cepat, "Tidak apa-apa." lalu menunduk lagi, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah entah karena apa.
"Coba ceritakan tentangmu, Hanni." Kata Sehun memecah kecanggungan.
"Aku?"
"Hmm," Sehun mengangguk, "Aku ingin tahu."
Luhan terdiam sejenak, "Aku berasal dari China."
"China?"
Luhan mengangguk, "Aku anak tunggal. Ibuku orang China, dia meninggal ketika aku berumur lima tahun. Kemudian aku ikut ayahku ke Korea. Kami berdua tinggal menumpang di rumah tempat ayahku bekerja sebagai supir pribadi. Sampai ayahku meninggal ketika aku berumur sepuluh tahun karena penyakit jantung."
Sehun termenung mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Hanni telah kehilangan kedua orang tuanya di usia semuda itu.
"Tapi aku bersyukur masih diterima keluarga yang menampungku sekarang. Mereka orang yang sangat baik." Luhan tiba-tiba terdiam, lalu beranjak dari duduknya. "Aku harus pulang sekarang, mereka pasti mencariku."
Sehun terkejut melihat Luhan yang begitu terburu-buru. "Biar kuantar."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Luhan tersenyum, "Terima kasih untuk semuanya." ujarnya lalu beranjak pergi sebelum Sehun sempat mengucapkan apapun.
Sehun terdiam memandang pintu yang telah tertutup. Suasana kembali hening hingga ia merasakan Vivi berputar-putar di sekitar kakinya, Sehun pun berjongkok dan mengangkat tubuh anjing itu.
Sehun tersenyum melihat Vivi, "Kau juga menyukainya? Hmm? Kurasa kita mempunyai selera yang sama."
"Besok, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya." Sehun memeluk Vivi dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya. "Aku benar-benar ingin menjadikannya milikku..."
...
...
...
"Luhan."
Luhan terpaku mendengar suara Yeri ketika ia memasuki rumah yang telah gelap dengan mengandap-endap. Ia menoleh ke asal suara dan melihat Yeri turun dari tangga dengan pakaian tidurnya. Yeri menghampiri Luhan yang berdiri di dekat pintu.
"Kau baru pulang?" tanyanya.
"Hmm.." Luhan mengangguk, "Nona belum tidur?"
"Aku menunggumu, tahu. Kau dari mana? Aku tidak melihatmu di kampus." tanya Yeri sambil menyalakan lampu. Ketika ruangan itu terang, barulah ia melihat bekas luka di wajah Luhan. "Astaga, Luhan. Ada apa dengan wajahmu? Kenapa bisa seperti ini?" Yeri tiba-tiba panik melihatnya.
Luhan terpaku, "Aku tidak apa-apa, nona."
"Apanya yang tidak apa-apa? Jelas-jelas wajahmu terluka. Siapa yang melakukan ini? Apa Sehun? Sehun yang melakukan ini padamu?"
Luhan menggeleng cepat mendengarnya, "Bukan, bukan Sehun. Sehun orang yang baik, nona."
Yeri mengernyit, "Orang yang baik? Apa kau sedang bercanda, Luhan?"
Luhan menatap Yeri serius, "Aku tidak bercanda, nona. Sehun memang orang yang baik."
Yeri tertawa sarkatis, "Baik?! Kau lupa apa yang dia sudah lakukan padaku?!"
"Dia melakukannya untuk sebuah alasan. Dia hanya ingin Anda berhenti menyukainya dan melupakannya."
Yeri tertawa sinis mendengarnya, "Apa yang sudah dia lakukan padamu, Luhan? Kenapa kau membelanya?"
"Aku tidak-"
"Ya! Kau membelanya!" Yeri bersungut, "Kau membela orang yang baru kau kenal beberapa hari dibandingkan orang yang sudah mengenalmu bertahun-tahun."
"Nona..."
"Apa?! Apa sekarang kau ingin membatalkan semuanya?! Kau ingin menghancurkan rencana yang sudah kupersiapkan dengan matang?!"
Luhan menunduk, memang benar bahwa ia ingin membatalkan semuanya. Ia ingin menghentikannya. Tapi ia pun tahu ini sudah terlambat. Ia tidak bisa mundur lagi.
Sementara Yeri menghela nafas, ia merasa sudah berlebihan. Tetapi ia juga tidak mau rencananya gagal. Untuk itu, ia melangkahkan kakinya mendekati Luhan, menggenggam kedua tangan pemuda itu sehingga wajah Luhan terangkat menatapnya.
Yeri menatapnya dalam, "Kumohon jangan kecewakan aku, Luhan. Lakukan seperti yang telah kita rencanakan. Hmm?" pintanya lembut.
Luhan terdiam, namun ia mengangguk sesaat kemudian, membuat Yeri tersenyum dengan kedua mata berbinar-binar.
...
...
...
Pagi, hari Sabtu. Fakultas Seni sedang mengadakan pertunjukan bulanan di lapangan terbuka. Pertunjukan ini digunakan para mahasiswa untuk menunjukkan bakatnya. Tidak hanya mahasiswa seni, tetapi mahasiswa dari jurusan lain pun diperbolehkan ikut serta. Sehun dan Jongin ikut serta mengambil bagian.
Luhan masih menyamar sebagai Hanni, merasa begitu gugup ketika ia mempersiapkan diri di belakang panggung. Kyungsoo menghampirinya dengan senyuman, "Jangan gugup, Hanni. Walaupun ini menjadi penampilan perdanamu, aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik."
"Terima kasih," Luhan tersenyum. Tak lama kemudian, nama Hanni dipanggil, sehingga ia segera menanjak menuju panggung. Luhan berdiri di tengah dengan gugup, ada begitu banyak penonton yang saat ini sedang menatap ke arahnya, membuatnya tiba-tiba terserang keringat dingin.
"Hanni, fighting!" Luhan mencari asal suara itu dan menemukan Sehun yang sedang tersenyum dengan kedua kepalan tangan terangkat di udara, menyemangatinya. Hal itu cukup membuatnya mengumpulkan segenap keberanian lalu mendekatkan mic ke bibirnya. Ia pun mulai bernyanyi, melantunkan syair sebuah lagu dengan lembut.
You ask me how my day was as if it is same everyday.
I say that I'm okay but you really don't know how I feel.
Do you think I will be okay without you?
Will you be okay without me?
It is really hard to live in this world without you.
That is why I blame myself for still breathing.
What should I do?
Even now, I live these painful days because of what you said.
Tell me if this is a bad thing to do.
Do you live every single day painfully like me?
You and me.
Are we too late? Do not we have a chance?
I still think about you and you might know this.
Is it finally this? Are we going to end up like this?
Is it okay with you?
I don't think I can do it.
The love that I found by meeting you,
I won't find it anywhere else even if I die.
Luhan mengakhiri nyanyiannya dengan tetes air mata yang jatuh tanpa ia sadari. Ia menghapusnya cepat ketika riuh tepukan tangan menyambutnya. Luhan tersenyum dan membungkuk setelah mengucapkan terima kasih. Ia pun berjalan menuruni panggung dan disambut Kyungsoo dengan senyuman.
Setelah beristirahat, Kyungsoo mengajak Luhan ke tempat penonton. Kyungsoo terlebih dahulu berdiri di barisan ketiga dari depan dan menarik Luhan agar berdiri di sampingnya.
"Sebentar lagi," kata Kyungsoo ambigu, membuat Luhan menoleh menatapnya. "Apa?" tanya Luhan.
"Ssst... Itu mereka!" Kyungsoo berseru senang sambil menunjuk ke arah panggung. Luhan ikut melihat ke arah panggung dan menemukan Sehun dan Jongin di sana.
Dentuman musik upbeat pun terdengar, Sehun dan Jongin mulai menari mengikuti irama. Suara riuh penonton membahana, memuji betapa luwesnya gerakan mereka. Luhan tidak menampik bahwa mereka memang terlihat mengagumkan.
"Kau tahu, Hanni, aku sudah sering mengajak Sehun untuk menari di atas panggung ini , tapi dia selalu menolak." Kyungsoo tersenyum, "Tapi hari ini dia melakukannya dengan senang hati. Dia bilang karena dia ingin menunjukkan tariannya pada seseorang." Kyungsoo menoleh menatapnya, "Dia ingin menunjukkannya padamu, Hanni."
Luhan terdiam. Ia menunduk tanpa menyadari musik telah berhenti dan seseorang melangkah mendekat menuju ke arahnya. Penonton menyebar memberi jalan, dan ketika sebuah buket bunga mawar merah tertangkap oleh pandangannya, Luhan mendongak dan menemukan seorang pemuda tersenyum di hadapannya.
"Sehun..."
Sehun menatap Luhan dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir tipisnya. Ia berucap,
"Aku tidak mahir menyusun kata-kata romantis, seperti yang dilakukan lelaki lain. Tapi aku tahu perasaanku. Aku menyukaimu, Hanni. Aku menyukaimu sejak kita pertama bertemu dan aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Aku tahu kau adalah orang yang tepat, yang kucari selama ini. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?"
Luhan merasakan lidahnya kelu untuk mengatakan sepatah kata. Kedua matanya bergerak gelisah dan tanpa sengaja melihat sosok sang majikan dari kejauhan yang sedang menatapnya. Luhan menelan ludah gugup kemudian kembali menatap Sehun dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Tangannya terangkat mengambil bunga dari tangan Sehun. Sehun beserta Jongin dan Kyungsoo tersenyum melihatnya sebelum bunga itu dibuang ke tanah, membuat mereka terkejut seketika.
Luhan menginjak bunga itu hingga hancur, lalu menatap Sehun yang terpaku di tempatnya.
"Kau sama sekali tidak pantas menyukaiku." Suara Luhan bergetar hebat, "Kau bukan tipe-ku, dan sampai kapanpun..., aku tidak akan pernah menyukaimu."
Luhan merasakan hatinya berdenyut menyakitkan ketika ia mengatakannya. Seseorang tiba-tiba muncul dan menarik Luhan menjauhi tempat itu. Meninggalkan Sehun yang masih terpaku dengan wajah menunduk menatap bunga yang telah hancur.
...
...
...
TBC
Keep review guys, thank you :)
