Yosh! Untung tidak telat publish. Hari ini tanggal 2 Maret kan? Ehem, pertama-tama kuucapkan:
Selamat Ultah, yayangku! #dilempar sandal.
Eh, maksudku, Happy Birthday, Sanji-kun!
I wish Odacchi give you more luck and best scene again.
And, he also give you your beloved Nami-swan at the end of series #plak.
Nah, fic kali ini adalah kado ultah dariku^^. Author give special thanks to Yudha Dwigibran for the story plot and Asus87 for the special gifts idea, and also little thanks to another kaskuser friends who gave me some suggestions. Hehehehe, ketahuan deh Eleamaya ga sendirian garap fic ini. Okay, now enjoy!
Title #4: Big Surprise
Words: 2272
Genre: Friendship
2nd Chara: None, all SH Crews
Summary: Sanji kecewa dan sedih sepanjang hari. Hah? Lho, kenapa? Ternyata ia tak tahu bahwa teman-temannya menyiapkan kejutan spesial untuknya.
Pagi, itu Sanji berseri-seri di dapurnya. Bukan hanya hari itu saja sebenarnya, tapi setiap ia memasak ia pasti akan bergembira. Bisa dibilang, waktunya untuk bersantai dan bersenang-senang dengan kru lainnya di luar dapur memang tergolong yang paling sedikit karena kesibukannya itu. Bayangkan saja, tiga kali sehari ia harus memasak, belum lagi membereskan semua peralatan masaknya dan mencuci piring selesai waktu santap. Dan memang sih waktu sisanya pun lebih banyak tercurah untuk dua bidadarinya. Tapi, hal yang paling membahagiakan dirinya adalah saat ia bisa menyajikan makanan bagi mereka, menjaga badan mereka tetap fit, dan melihat keceriaan mereka. Dan tentu saja ia tak butuh kata terima kasih, itu sudah jadi tugasnya sebagai koki. Tugas berat memang, tapi siapa lagi yang bisa melakukannya? Setidaknya, hal itu sudah bisa menunjukkan bahwa keberadaannya begitu berarti di kapal ini meski tanpa kata-kata. Itu semua sudah cukup.
Tapi, hari itu terjadi malapetaka terburuk bagi dirinya...
"Sanji-kun, hari ini masakanmu tidak enak," kata Nami meletakkan sendoknya.
Rasanya bagai disambar petir di siang bolong lalu terhempas ke dasar laut. Nami-san? Nami-san tercintanya bicara seperti itu?
"Maaf, Cook-san. Tapi kata Nami benar," sambung Robin.
Dasar laut masih kurang dalam, rasanya bagai terjerembab di dasar neraka. Robin-chan? Malaikat keduanya yang selalu tulus mengucapkan terima kasih itu sampai bisa bilang begitu?
"Huh, memangnya masakannya pernah enak?" tukas Zoro kasar.
Kalau yang satu ini sih sepertinya memang hobi membuatnya kesal. Tapi Sanji tahu Zoro tidak pernah menghina masakannya.
"Memakan ini membuatku ingat dulu nenekku pernah memasak daging sapi keliru daging tikus yang baru saja dibunuh rame-rame oleh penduduk desa karena menghabiskan lumbung padi lalu nenekku membumbuinya dengan garam dan minyak wijen keliru bubuk kopi dan minyak gosok."
Yang satu ini memang terkenal kebohongannya. Tapi sekali lagi Sanji tahu Usopp tak pernah berbohong soal rasa masakannya sampai dibuat-buat seperti itu.
"Aku tak sedang memakan obat kan? Pahit sekali."
Sang dokter kecilnya bahkan menyamakan rasa obat dengan rasa masakannya yang bahkan tak pahit sama sekali.
"Yo, Cook-bro. Masakanmu tidak SUPEEEERRR~"
Oke, kata super sekarang itu bisa digunakan untuk menjelaskan puncak ketidaenakan masakannya. Tidak enak beda dengan super tidak enak kan?
"Aku tidak bisa merasakan apa-apa. Yohohoho, aku memang tidak mempunyai lidah. Skull joke!"
Tutup mulutmu, Brook. Ini sama sekali tidak lucu!
Sanji mencoba tenang dan bersabar. Hal ini bukan pertama kalinya ia alami. Saat masih di Baratie dulu, Zeff bahkan berungkali mengucapkannya dengan lebih kasar. Sanji yakin teman-temannya tengah bercanda. Bahkan dulu pun Zeff sebenarnya tengah berbohong demi kebaikan dirinya, ia akhirnya mengerti alasannya kemudian.
Lalu, Sanji pun memandang ke arah Luffy. Oke, ia tak tahu entah apa yang teman-temannya rencanakan tapi ia sangat tahu bahwa kaptennya yang rakus itu adalah manusia paling jujur yang pernah ia kenal. Pasti hal itu akan membongkar semua dan ia akan minta penjelasan soal ini. Bukankah ia pernah memasak bahan makanan yang nyaris basi untuknya saja, Luffy tetap bilang enak? Lagipula. Sanji hapal tampangnya saat berbohong: Mata melirik ke samping kiri, keringat bercucuran, dan suara siulan sumbang. Ia belum memeriksa mimik muka Luffy tapi lihat saja, bahkan Sanji sudah bisa melihat betapa tubuh Luffy gemetar.
BRAKK!
Tapi bukan bunyi kursi suara jatuh yang Sanji inginkan.
Luffy memang berdiri dengan gemetar tapi bukan dengan ciri-ciri yang dikenal Sanji. Kali ini mukanya menunduk pucat. "Nggak enak..."
Apa? Sepertinya telinga sialannya sedang tidak mau berteman.
"Nggak enak! Seperti ini nggak enak!" Sekali lagi Luffy mengulangi ucapannya, kali ini dengan teriak sambil mengepalkan kedua tangan ke atas. Lalu ia berlari menghambur keluar dapur seperti tengah kebelet buang air.
Keseimbangan kaki Sanji goyah.
Apa yang salah pada dirinya? Pada masakannya? Pada kebanggaannya sebagai koki selama bertahun-tahun? Setiap makanan sebelum disajikan sudah dicicipi. Ia tak mungkin membuat kecerobohan tidak profesional saat memasak sampai semua teman-temannya bisa berkata seperti itu. Sanji bisa melihat semua memang menghabiskan makanannya, sepertinya tahu bahwa ia benci yang namanya menyia-nyiakan makanan. Tapi raut wajah mereka seolah menyiratkan keterpaksaan bahwa tidak seharusnya makanan yang tidak enak itu bisa mereka habiskan.
"Maaf, teman-teman," ujar Sanji dengan sedikit gemetar. "Nanti siang, aku jamin pasti..."
"Tidak usah, Sanji-kun. Tidak usah ada santap siang. Nanti kami makan siang di pulau saja. Dua jam lagi kuperkirakan sampai," potong Nami. "Dan kau tak perlu berbelanja untuk kali ini. Kurasa persediaan makanannya masih sangat cukup untuk seminggu lagi dan aku tidak bisa mengeluarkan uang lagi karena sudah menggantinya dengan makan siang di pulau nanti."
Lalu semuanya pun mengikuti Luffy keluar satu persatu, meninggalkan Sanji terduduk lesu sendirian.
"NGGAK ENAAAKKKKK~" teriak Luffy masih di luar. "AKU NGGAK BISA..."
Dengan cepat Nami membekap mulut Luffy lalu menyeretnya ke ruang santai yang ada akuariumnya. Semua juga pergi ke sana.
"Kamu bisa diam nggak sih? Nanti semua terbongkar tahu!" seru Nami menarik pipi Luffy hingga melar.
"Tapi Nami, aku nggak bisa berbohong," protes Luffy. "Berbohong itu tidak enak tahu? Berbohong itu membuatku lemah lesu dan tidak bergairah. Kau tidak lihat aku dari tadi pucat? Kau juga sih menyuruhku berbohong pakai mengancam. Aku ketakutan tahu! Ugh, padahal masakan Sanji lezat sekali..."
Nami sweatdrop. Berarti kalimat Luffy yang berkata "tidak enak" itu memang jujur ya? Dalam lain konteks maksudnya.
"Syukurlah," sambung Usopp. "Sejujurnya aku sangat cemas tadi dengan Luffy. Ternyata aktingnya paling bagus. Siapa dulu dong yang mengajari."
Yang lain menanggapinya dengan sweatdrop mengingat ucapan Usopp di ruang makan tadi justru malah kebohongan yang paling kelihatan.
"Tapi, apa tidak apa-apa, Nami?" sambung Robin. "Aku sedikit tidak enak menyaksikan wajah Cook-san tadi."
"Heh, dia kan wanita iblis," tukas Zoro sinis. "Jahat sekali idenya memaksa kita semua begini."
"Kukira kau yang paling senang mengerjai Sanji-kun, Zoro?" tanya Nami.
"Aku lebih suka membuatnya marah, malu, atau mengaku kalah di hadapanku bukan melihatnya seperti itu," lanjut Zoro.
"Cook-bro itu paling sensitif dan melankolis di antara kita. Bagaimana kalau dia nanti bunuh diri, Nami-sis?" sambung Franky.
"APAAAA! BUNUH DIRI?" terdengar suara kehebohan dari Chopper. "UWAA UWAA, aku harusnya tidak ikut-ikutan tadi. Maafkan aku, Sanji!"
Brook malah memainkan lagu bernada kematian dengan biolanya untuk mengiringi kepanikan Chopper sebelum akhirnya berhenti akibat dipukul Nami karena sangat tidak lucu.
"Tenang. Sanji-kun tidak akan sebodoh itu meski kutebak hari ini ia bakalan mengurung diri seharian sesuai rencanaku. Nah, itulah kesempatan kita untuk menyiapkan kejutan!" Nami lalu melanjutkan berbicara. "Sejujurnya aku sempat cemas ideku ini akan berhasil atau tidak mengingat Sanji-kun itu cerdas dan tidak mudah dibohongi oleh musuh yang paling licik sekalipun. Tapi, pokoknya aku ingin benar-benar bisa memberikan kejutan yang paling spesial untuknya dan aku tidak ingin ada kegagalan dari kalian semua. Yaaah, walau harus pakai cara kejam sih."
"Lalu, apa yang nanti harus kita lakukan sepanjang siang?" tanya Usopp.
"Tentu saja kita ke kota untuk membelikannya hadiah. Terserah kalian apa yang menurut kalian paling pantas untuknya. Aku akan meminjamkan uang pada kalian."
"Apa? Pinjam?" protes Zoro.
"Lah? Kalau aku berikan cuma-cuma berarti sama saja dong semua kadonya itu dariku," lanjut Nami. "Jangan lupa kembalikan dengan bunganya ya? Biar aku tetap untung, hihihi."
Semua pun menggerutu tak punya pilihan, kecuali Robin yang selalu memasang senyumnya tentu saja. Dan siang itu setelah mereka berlabuh, sesuai perkataan Nami, semua pun bergerak.
Mari kita tengok Sanji.
Sanji memang terpuruk sepanjang siang. Banyak hal yang memenuhi pikirannya hari itu. Ia tidak menghitung jam sudah berapa lama ia menghabiskan waktu tanpa berbuat apa-apa selain hanya duduk membelakangi pintu agar tak ada yang masuk dan menenggelamkan diri dalam kepulan asap rokoknya, khasnya kalau memang sedang murung dan ingin sendiri. Tapi, tak lama kemudian ia berdiri.
Bodoh, apa yang kulakukan? Kalau aku hanya berdiam terus justru tak akan memperbaiki diri kan?
Sanji mencoba mengambil hikmah positif yang bisa didapat dan sudah ia renungkan masak-masak tadi. Mungkin bukan rasanya yang sama sekali tak enak, mungkin hanya terjadi penurunan kualitas dan citarasa saja, pikirnya. Selama ini, ia terlena rekan-rekannya itu selalu memuji masakannya, tidak ada yang bersikap kritis seperti Zeff dalam menilai masakannya. Dan tentu saja hal itu bisa menyebabkan kemunduran tanpa ia sadari.
Makan malam nanti aku akan menebusnya! Aku akan menyambut mereka dengan masakan terlezat yang belum pernah mereka cicipi sebelumnya.
Begitulah, semangatnya telah kembali.
Dan, akhirnya malam pun tiba.
Sanji menghela napas, mahakaryanya yang kedua telah selesai dibuat. Namun, mendadak ia ragu kembali. Bagaimana mengundang yang lain untuk masuk? Bagaimana bila mereka menolaknya kembali? Bagaimana bila mereka bilang tidak enak lagi? Semakin dipikirkan rasanya seperti kembali ke keadaan saat ia terpuruk tadi.
Pikiran dan ketenangannya terpecah saat mendengarkan derap kaki yang menaiki Sunny-Go. Mereka sudah pulang, batin Sanji. Mengengelilingi pulau pasti lelah, seharusnya mereka sudah lapar. Dan kau tak boleh membiarkan perut mereka kosong dan menyia-nyiakan makanan yang barusan kau buat, Sanji; katanya menyemangati diri sendiri. Sanji lalu meraih kenop pintu.
"1...2..."
Tepat saat Sanji membuka pintu dapur, dari atas turun jatuh kertas-kertas pesta yang menghujani kepalanya dengan diikuti sebuah alunan biola Brook disertai sorakan.
"SELAMAT ULANG TAHUN!"
"Eh?"
Sanji menatap teman-temannya tidak percaya. Aku ulang tahun? Astaga, benarkah hari ini tanggal 2 Maret?
"Hei, Hei, Sanji!" teriak Luffy. "Ayo, gembira! Kita pesta malam ini."
Sanji masih terpaku membatu sementara otaknya berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Kalau ini benar, batinnya. Maka... maka... berarti yang tadi pagi...
"Oh shit shit shit..." Kalimat yang dikeluarkan dari mulut dan nada bicaranya tidak sinkron. Umpatan itu masih terus terdengar tapi bibirnya membentuk tawa, kedua pipinya memerah, dan tangisannya nyaris meledak. "Kalian semua memang teman-teman sialan!"
"Ehem," potong Nami tidak begitu senang mendengar kalimat kasar Sanji meski ia yakin itu lebih ditujukan untuk para kru cowok. "Itu ideku, Sanji-kun. Kau tidak marah kan?"
"Oh, tentu tidak, Nami-swaaaaaaaan. Mana mungkin aku marah padamuuuuuu." Sikap Sanji langsung berubah 180 derajat. Ia memandang Nami dengan mata berbentuk hati dan berputar mendekat. "Yang bisa membuat ide brilian ini memang otak cerdas Nami-san ku."
Nami tersenyum geli, ia tidak sweatdrop melihat tingkah Sanji kali ini. Lalu ia mengeluarkan sekotak hadiah yang sudah dibungkus dari belakang punggungnya. "Kado untukmu, Sanji-kun. Bukalah," katanya menyodorkan.
Sanji menerimanya dan membukanya. Ia melihat sepotong kemeja berwarna biru. Tidak sama dengan warna biru kemejanya yang lain. Yang ini lebih tua dan gelap. Sanji merasa pernah melihat warnanya, rasanya mirip dengan kemeja lengan pendek milik Nami. Lalu ia juga melihat seutas dasi berwarna oranye.
"Kau belum punya yang warna itu kan, Sanji-kun?" katanya mengedipkan mata dengan senyuman centil.
Kecentilan Nami membuat mata Sanji terbakar. Bagaimana tidak? Nami hapal warna-warna dasi dan kemejanya! Dan perpaduan biru-oranye itu cocok sekali kalau dikenakan. Kalau tadi pagi rasanya terhempas ke dasar neraka, kali ini bagaikan terbang ke langit ketujuh. Jantungnya serasa melompat keluar dari dadanya bersamaan dengan ia ingin melompat memeluk Nami.
"Cook-san," panggil Robin lembut langsung mengalihkan perhatian Sanji dari Nami seketika itu juga. Ia juga menyodorkan kadonya.
Sanji lalu membukanya dan menemukan sepasang sepatu hitam.
"Itu bagian dari senjatamu, bukan?" lanjut Robin. "Semoga ukurannya pas."
"Awwww, terima kasih Robin-chan... Pas kok..," katanya dengan nada seperti anak kecil yang dikasih mainan oleh ibunya.
Usopp pun maju. "Hei, sobat. Kali ini dariku sang master kreatif."
"Ahahahaha...," ucap Sanji senang melihat serangkaian aksesoris baju seperti sabuk dan untaian rantai celana. Sanji tahu Usopp suka dengan hal-hal trendi termasuk fashion meski cara berpakaiannya tidak terlalu menunjukkan hal itu, mungkin hanya beda selera saja.
"Yo, Cook-bro!" seru Franky. "Kalau yang ini handmade lho. Dijamin SUPPPPERRRRR~"
"Wow!" seru Sanji melihat pemantik dengan desain futuristik berwarna biru metalik. Saat ia buka tutupnya, api langsung tersulut. Pemantik yang sangat mudah digunakan.
Brook menghentikan biolanya, tanda kali ini gilirannya menyodorkan hadiah. "Dari sesama gentleman," ujarnya.
Dan Sanji melihat satu set jas hitam dengan celana panjangnya. "Bagus, Brook!"
"Sanji," panggil Chopper. "Aku tak tahu harus membeli apa. Karena kamu koki, jadi aku memberimu ini," katanya menyodorkan panci.
Sanji menatap sahabat kecilnya yang polos itu. Ia sudah berterima kasih dengan hadiahnya yang sederhana itu. "Ini teflon langka yang sudah lama kuinginkan kok," hiburnya. "Kau hebat bisa menemukannya, Chopper."
Chopper pun menari-menari. "Biar kau memujiku begitu, aku tak akan senang!"
Tinggal dua orang lagi.
"Oi, oi Zoro!" seru Luffy menabok punggung Zoro. "Keluarkan hadiahmu!"
Zoro menelan ludah. Baginya, susah rasanya mengucapkan selamat ulang tahun atau menyodorkan kado pada rival abadinya itu di tengah-tengah semuanya. Tapi ia tetap menyiapkannya sih: Dua bilah pisau dapur. "Sudah kupastikan kualitas besi dan ketajamannya. Jangan sampai terpotong sebelum aku yang memotongmu." Nadanya tetap saja ketus seolah mengajak perang.
"Wah, kau ternyata peduli padaku juga, Marimo-kun," sahut Sanji.
"Siapa yang peduli?" Kali ini nadanya terdengar tsundere. Sanji senang bisa menggodanya.
"Shishishishi... Yang terakhir dariku," kata Luffy gembira. "Ah, sebentar."
Luffy berbalik dan berlari ke ruangan akuarium. Sementara yang lain hanya bisa menatapnya sweatdrop sudah tahu apa kadonya. Sanji bisa membaca ekspresi mereka, bahwa sepertinya Luffy memang tak bisa lepas dari kebodohan bahkan untuk urusan ini. Benar saja, yang Luffy bawa adalah ikan segar raksasa.
"Yosh, hadiah ini harus segera dimasak!" teriaknya riang.
Sanji sweatdrop setengah mati dengan kelakuan kaptennya. Hahaha, hadiah ini sebenarnya untuk siapa sih?
"Aku tak bisa berbohong, Sanji. Masakanmu itu yang paling enak sedunia," lanjut Luffy. "Makanya, ini daging spesial untuk kau racik dengan tangan hebatmu. Tanpamu, aku pasti kelaparan. Ah, bukan aku saja, semuanya pasti tak akan bisa bertarung dan memiliki energi kalau bukan karena makananmu, jadi ini wujud terima kasih kami. Kami tahu kau yang paling bekerja keras di kapal ini. Maaf untuk yang tadi pagi, itu gara-gara Nami mengancamku..."
BLETAK!
"Gyaaa, sakit!"
"Bisa nggak sih mulutmu nggak ember?"
"Kan kau sudah bilang pada Sanji kalau ini idemu?" Luffy membela diri.
"Ya tapi kan..." Nami tak melanjutkan perkataannya. Intinya, sebagai cewek, ia ingin tetap jaim meskipun kegalakannya sebenarnya sudah bukan rahasia lagi.
Terjadi sweatdrop berjamaah lagi. Sudah bagus dan sangat jarang bisa mendengarkan kapten Topi Jerami itu bicara cukup bijak eh suasana itu malah dirusak oleh kebodohannya lagi yang berakibat kemarahan Nami.
Tapi Sanji tak sweatdrop, ia juga tak tertawa, ia menangis. Kalimat-kalimat Luffy yang terucap awal tadi sudah terlanjur merasuk ke dalam hatinya. "A-Akulah yang harusnya berterima kasih, teman-teman," kata Sanji dengan nada tersengguk-sengguk. "Aku bukan apa-apa kalau tidak ada kalian."
Semua menatap Sanji dengan pandangan sayang dan tersenyum. Kecuali Franky sih, karena ia langsung menangis tersedu-sedu.
"Kebetulan," lanjut Sanji memecah keharuan. Nadanya sudah ceria kembali. "Aku sudah menyiapkan makanan di dalam. Kalian seharian di pulau tadi pasti belum makan siang kan? Ayo, segera dimakan sebelum dingin."
"Eh iya, kita kan mau pesta?" sahut Luffy tersadar dan bersemangat. "Ayo pesta! PESTAAAAAAAA! Sanji, daging ini juga dimasak! Porsinya pasti kurang! Aku sangat lapaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrr!"
"Beres, Kapten!"
Hari ini bukan hari malapetaka rupanya tapi kegembiraan tak terkira yang pernah terjadi sepanjang hidupnya.
END
Mind to Review?
