Iamjustlol proudly present
"You? Again?"
Rated: T to M
Disclaimer: the story and the plot was mine, casts belongs to their entertainment and parents
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Lu Han
Oh Sehun
WARNING! YAOI AKA BOYS LOVE AKA BL AKA SHOUNEN-AI! DON'T LIKE DON'T READ. DON'T BASH THE STORY, THE CAST, OR ME. LAST, MIND TO REVIEW?
Happy readinggg~~~
.
.
.
"B-Baek? Luhannie?" Sehun juga sedikit kalap melihat Baekhyun dan Luhan. Ia bisa-bisa dituding sengaja mempertemukan Chanyeol dengan Baekhyun oleh sepupunya.
"Se-Sehunnie?!" Luhan malah sedikit menjerit.
Chanyeol tidak menghiraukan Luhan dan Sehun. Matanya menatap kertas yang tadi akan dicium Baekhyun. Ia membaca ada huruf 'Yeol' di kertas itu.
"Baek-" Chanyeol memanggil.
"Hyung," potong Sehun. "Kita pulang ke hotel sekarang."
.
.
.
Mereka berempat berjalan menuju hotel yang sebenarnya tidak jauh dari tempat mereka tadi. Sehun dan Luhan tampak seperti pasangan pada umunya, tertawa, bercanda, dan kadang cemberut ketika dijahili. Lain dengan Baekhyun dan Chanyeol. Suasana di sekitar Baekhyun dan Chanyeol makin lama makin muram. Kejadian tadi membuat mereka makin aneh.
Luhan menghela napasnya dan menyadari bahwa adiknya dan sepupunya tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di lantai tempat kamar mereka berada.
"Baekhyun hyung Chanyeol hyung. Kita sudah sampai," kata Sehun.
Keduanya mendongakkan kepala mereka dan terlihat sedikit panik, menyadari bahwa mereka akan satu kamar.
"A-aku bisa tidur dengan Baek-hmph," ucapan Luhan terpotong karena jari telunjuk Sehun yang ia letakkan di bibir Luhan. "Ah tidak jadi. Aku ingin menghabiskan malamku dengan kekasihku. Sampai besok!" Luhan dan Sehun berbalik, menuju kamar mereka.
Hening. Makin menyiksa diri Baekhyun karena ia menyalahkan dirinya sendiri karena memiliki perasaan konyol itu. Airmatanya mulai menetes. Dengan cepat ia usap dengan punggung tangannya.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya lagi sebelum berbicara. "C-Chanyeol kita harus masuk ke kamar juga," ajak Baekhyun.
Chanyeol yang biasanya periang hanya mengangguk pelan.
Baekhyun mengambil kartu hotel di sakunya dan menempelkannya sesaat di handle pintu lalu membuka dan menyalakan lampu lalu memasuki kamarnya, baru diikuti Chanyeol.
"B-Baek kau mandi saja duluan. Aku saja yang menyiapkan makanan untuk kita," ucap Chanyeol ragu saat melihat Baekhyun mengeluarkan makanan yang ia dan Sehun beli tadi.
Baekhyun mengerutkan keningnya, heran. Tidak biasanya Chanyeol seperti ini. Sebegitu besarkah pengaruh perasaannya pada sifat Chanyeol? "O-oke, baiklah," jawab Baekhyun akhirnya, mengambil baju di kopernya dan berlari ke kamar mandi, tidak ingin sama sekali bertatapan dengan Chanyeol.
Saat Baekhyun menutup pintu kamar mandi, Chanyeol menghela napasnya lega. 'Kontrol dirimu, Park' ucapnya dalam hati.
'Astaga, hilangkan detak jantungmu yang berlebihan, Byun' Baekhyun juga mengucap pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Sehunnie, apakah kau yakin adikku dan sepupumu baik-baik saja?" tanya Luhan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, sambil berjalan kearah Sehun yang duduk di pinggir tempat tidur.
Sehun yang tadi sedang memainkan smartphone-nya pun meletakkan smartphone-nya di meja dekat tempat tidur. "Hm, aku yakin. Chanyeol dan Baekhyun hyung sudah dewasa, mereka bisa mengurus urusan mereka sendiri," jawabnya sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya pelan, menyuruh Luhan duduk di sebelahnya.
Luhan duduk di sebelah Sehun sambil tetap mengusap-usap rambutnya. Baru sedetik ia duduk, lengan Sehun sudah melingkari pinggangnya.
"Se-Sehun, aku baru saja mandi..." kata Luhan sambil mencoba melepaskan lengan Sehun di pinggangnya.
Sehun malah menaruh hidungnya di pipi Luhan dan menghembuskan napasnya sesaat disitu. "Lalu kenapa, Luhannie ge? Ada masalah?"
Luhan masih mencoba melepaskan lengan Sehun. "Kau... bau Sehunnie," bisiknya.
Tawa Sehun pecah. Sehun tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. "Arraseo, aku akan mandi dulu." Sehun melepaskan lengannya, berdiri, dan mencium hidung Luhan sebelum berjalan ke kamar mandi.
Detak jantung Luhan tidak beraturan, ia sampai harus memegangi letak jantungnya beberapa saat barulah jantungnya kembali normal. Luhan beranjak dari duduknya dan mengambil smartphone milik Sehun yang pemiliknya tinggalkan. Luhan membalik flip case yang terpasang dan meng-enter password yang ia hapal. '1604' tanggal anniversary mereka.
Setelah terbuka, Luhan langsung mengecek SMS, call log, akun twitter Sehun, dan terakhir, history browser-nya. Ada satu nama yang mengganjal pikirannya, baru saja ia akan berteriak memanggil kekasihnya yang masih di kamar mandi saat ada lengan yang memeluk pinggangnya. Lagi, dan lagi.
"Apa yang kau lihat, Luhannie ge? Tidak baik mengecek smartphone orang sembarangan," bisik Sehun.
Bau sampo dan sabun yang Sehun gunakan menyeruak kuat, membuat satu simfoni yang menenangkan. Dan tanpa harus berbalik, Luhan sudah mengetahui bahwa Sehun tidak memakai baju apapun selain handuk kecil yang melingkari pinggangnya sampai lutut.
"Siapa Huang Zitao?" tanya Luhan langsung.
Sehun tersenyum. "Kau cemburu, ge?" Bibirnya mengecup pipi Luhan yang memerah. "Dia temanku, tidak usah cemburu."
Luhan mengangguk-angguk. "Tapi, kenapa kau menonton video porno?"
Sehun menahan tawanya. "Kau tidak bisa selalu memuaskanku, bukan? Jadi aku menonton video-video itu untuk memulihkan hasratku tanpa harus menunggumu. Dan baru saja tadi aku menonton yang bdsm. Andaikan saja aku bisa mempraktekkannya sekarang. Oh, apakah aku lupa memberitahu bahwa kamar ini kedap suara?"
"Dasar mesum!" Luhan mengangkat kaki kanannya dan menendang Sehun. Yang ternyata mengenai kesejatian Sehun.
Tendangan Luhan bukan main-main. Ia menggunakan seluruh tenaganya. "Akh!" desis Sehun lalu duduk di tempat tidur, berusaha meredakan rasa sakitnya.
Luhan yang merasa ia menendang sesuatu yang lembek pun membalik badannya, melihat Sehun yang sedang meringis sambil melindungi kesejatiannya dengan kedua tangannya. "Astaga! Maafkan aku, Sehunnie. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk..."
"Tak apa," jawab Sehun cepat, masih meringis. Luhan adalah seorang pemain bola, wajar-wajar saja jika tendangannya sangat kuat.
Luhan menggigit bibir bawahnya, bingung. Sehun mungkin tidak marah sekarang (karena sebenarnya Sehun tidak pernah marah pada Luhan). Tapi sakitnya pasti luar biasa. "Sehunnie..." cicit Luhan.
Sehun hanya mendongak pelan, tidak menjawabnya secara lisan.
Dengan tiba-tiba, Luhan mendekatkan wajah keduanya dan mencium bibir Sehun dengan lembut. Awalnya. Lama kelamaan Luhan makin agresif. Meremas-remas rambut Sehun atau bahu Sehun yang tak tertutupi apapun. Luhan menjauhkan wajahnya. "Aku benar-benar minta maaf.."
Sehun tersenyum. Dan menyeringai. Luhan memang polos namun agresif saat ia mabuk, dan tadi Luhan tidak mabuk. Berarti ada sesuatu yang berbeda dengan Luhan, dan Sehun ingin memanfaatkan hal itu.
"Sehunnie mau Luhannie ge peluk Sehunnie~" rengek Sehun seperti anak balita.
Luhan mendecak pelan lalu memeluk Sehun. "Sudah."
Sehun dengan cepat membalik tubuhnya dan Luhan, sehingga sekarang Luhan ditindih Sehun dengan kedua tangannya yang ditahan tangan Sehun dan kedua kakinya yang dihimpit kaki Sehun. Mata Luhan membesar. "Se-Sehunnie..."
Sehun hanya membungkam Luhan dengan ciuman yang sangat-sangat panas, gigi, lidah, dan saliva saling beradu. Tapi, meskipun Luhan lebih tua, tetap saja Sehun yang memenangkan pertandingan ini.
"A-ahhhh... Oh Sehun ahhhh~" desah Luhan saat tangan Sehun sudah kesana kemari, memanjakan titik sensitifnya.
Yah, bercinta di Paris tidak buruk, bukan?
.
.
.
Rasanya Baekhyun ingin mencekik dan membunuh keheningan yang datang tanpa diundang. Setelah ia dan Chanyeol mandi, makan, dan sekarang bersiap untuk tidur tidak ada yang mengeluarkan satu katapun. Beberapa kali mulut mereka terbuka, namun tidak ada satu katapun yang keluar dari salah satu mulut itu.
Baekhyun sedang menggosok giginya dan Chanyeol, yang dari tadi sudah menggosok giginya menarik selimut sampai lehernya lalu mencoba tidur. Mencoba, bukan tidur. Tak lama kemudian, Baekhyun naik ke atas tempat tidur mereka, double bed, menyelimuti dirinya, dan sama seperti Chanyeol. Mencoba untuk tidur tapi tidak tertidur. Mereka bahkan tidak saling berhadapan, punggung merekalah yang berhadapan.
Chanyeol menghela napasnya kesal. "Byun Baekhyun."
Baekhyun diam saja, tidak mau menoleh.
"Kau sudah tidur?" Chanyeol bertanya sambil membalik posisinya, hingga ia sekarang telentang.
"Be-belum," jawab Baekhyun ragu.
Chanyeol membalik tubuhnya, sehingga dadanya terpisah hanya sekitar 5 cm dari punggung mungil Baekhyun. "Kita harus berbicara. Dan waktu itu sekarang," kata Chanyeol dengan nada yang santai-santai saja.
Pipi Baekhyun memerah saat merasa dada Chanyeol dekat dengan punggungnya. "A-aku... Maksudku tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Baekhyun gugup.
Chanyeol melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Baekhyun dan menarik dirinya mendekati Baekhyun sehingga punggung Baekhyun dan dadanya sekarang benar-benar menempel. "Kau suka padaku, kan?"
"Tidak, Park. Jangan suka menuduh." Baekhyun berusaha mengontrol kegugupannya saat dada Chanyeol menempel di punggungnya.
"Pembohong," bisik Chanyeol tepat di telinga kiri Baekhyun. "Kalau kau tidak suka padaku, tidak mungkin jantungmu berdetak seperti ini."
Baekhyun menahan tangisannya. Tidak ada jawaban selain 'ya aku memang menyukaimu. Mencintaimu malah' dan ia takut Chanyeol akan mengatainya hal-hal seperti 'dasar gay'.
"A-" Baekhyun baru mengeluarkan satu huruf.
"Balik badanmu, tatap mataku jika kau berbicara denganku Byun."
Baekhyun menghela napasnya dan memutar tubuhnya perlahan. Namun pilihannya buruk. Baru saja ia memutar tubuh dan wajahnya, bibir Chanyeol bersentuhan dengan bibirnya. Tentu saja, hal ini mengundang darahnya berdesir ke pipinya. "P-Park..."
Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun dengan tangannya yang berada di punggung Baekhyun dan mencium bibir Baekhyun dengan lembut, menyesap bibir Baekhyun pelan. Sangat pelan. Hingga Baekhyun berpikir Chanyeol telah kerasukan Joonmyeon yang memang orangnya sangat lembut di segala hal.
Baekhyun dan Chanyeol sama-sama menutup mata mereka. Menikmati ciuman yang tidak melibatkan lidah, saliva, atau apapun. Hanya dua bibir yang saling mengecup.
Chanyeol melepaskan ciuman itu, Baekhyun terengah-engah. "Aku mencintaimu, Byun," bisik Chanyeol sambil memeluk Baekhyun.
Mata Baekhyun melebar, ia terkesiap. "C-Chan.. Aku juga mencintaimu, P-Park," jawabnya pelan.
Chanyeol tersenyum dan makin merapatkan dirinya dengan Baekhyun, yang juga tanpa sengaja kejantanannya dan Baekhyun bersentuhan, sampai Baekhyun harus menggigit bibirnya, agar suara aneh bernamakan desahan itu tak keluar. "Park Chan-mph."
Mulut Baekhyun lagi-lagi dibungkan. Namun, bukan ciuman yang kasar atau paksaan. Lembut. Lagi-lagi.
Chanyeol memutar tubuhnya sehingga ia dalam posisi menindih Baekhyun. "Baekki Sayang, aku akan melakukannya lembut kali ini, bagaimana?" tanya Chanyeol dengan suara menggoda.
Baekhyun ingin sekali menggelengkan kepalanya. Tapi ia tidak bisa.
Bahagialah sebentar, kalian berempat. Bencana belum mulai.
TBC
Hua._. Ini nc-nya mau begimana nih._. Harusnya di chap ini ada nc HunHan tapi berhubung author lagi sibuk gajadi ditulis hehe._.
Yang udah review selama ini makasssiiihhh banget. Aku cinta kalian!
Love,
Me
