Balasan Review:
No-VIZ HB: Alhamdullilah kalo gitu. Keep Reading ya Dear. Minta saran juga kalo-kalo ada yg harus Resca perbaiki/banyakRes; Akari Kareina: Midorima said 'silahkan nodayo' wkwkwk iya Tet-chan dijaga kok Akashi janji katanya; Ikizakura: Saya juga turut bersuka cita yang menyentuh Cuya memang harus dibantai oleh Akachi-kun khuhuhu *senyum iblis*; Adelia Santi: Bukan bikin Haizaki melayang, dia mukul Haizaki pake pasak besi berkekuatan cinta pada Cuya(?) sampai Haizaki oleng nabrak property di dalam ruang klub voli del :3. Iyanih banyak Typo daku. Semoga yang ini engga ada typo.; Shouraichi Rein: aw makasiih. Iyanih typonya numpuk. Maafin daku ya. Semoga di chapter ini ga ada typonya.; : Akashi said 'rahasia khukhukhu. Makanya keep reading ya'.; Siucchi; Iyanih, supaya ga ooc Midorinnya pfft/ampuniakumzmidorin.; Bona Nano: Doujin yang mana? Aaa Resca pen baca jugaa. Rahasia selanjutnya akan terbuka seiring chapter berjalan. Keep reading Bona-san.; Love Akashi-kun: Aaa itu typo. Maksudnya symbol warna mata Akashi itu loh. Hehehe. Udah Resca perbaikin kok. Maaf ya. Semoga di chapter ini ga ada typo lagi. Keep reading :3 ;Red Panda: Iya seiring cerita berjalan diungkapkan. Saran diterima. Ini banyak moment Akakuronya. Semoga suka :3 ; Akashi Lina: Keep reading yaa. Minta tolong kasih saran atau kritik kalo Resca ada kesalahan :3 ; Gia: GIAAA. Tengkiss mb. Seperti biasa ripiu Gia yang terpanjang. Sudah daku perbaikin semua. Insha Alloh ini ga ada typo lagi. Tapi mohon tetep diamati lagi ya giaaa. Lapyu ; .9: Hihihi gapapa kok. Makasih yaa. Keep reading yaa.
.
.
Here we go...
.
.
Fandom : Kuroko No Basuke
Pairing : Akakuro
Genre : Drama, Family,Romance, Angst
Rating : T (Semi M)
A.N : AU, BoyxBoy, little OOC(maybe)
.
Disclaimer
Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki, but the story is mine.
.
Natsu Ni Hanashi O Nisshoku
(Hajimete no Ai)
Segala rahasia dibalik sosk serupa cahaya matahari. Kuroko ingin menyibak bayangan bulan yang menutupinya.
A Tale of Eclipse In The Summer
.
.
.
Chapter 4
Back to Kyoto
Sudah satu minggu sejak insiden penganiayaan yang dilakukan Haizaki Shougo. Kuroko Tetsuya benar-benar tidak pernah melihat sosok pemuda itu disekolah setelah Kise mengatakan Haizaki keluar dari klub. Sepertinya pindah sekolah. Kuroko tidak mau memikirkannya. Lagipula lebam-lebam di tubuh dan pipinya sudah hampir sembuh. Sudah ada yang menguning dibeberapa bagian. Sudah ada yang hilang malah. Ia tidak perlu repot-repot menutupi lukanya dengan perban seperti hari-hari awal setelah insiden. Penindasan yang ia terima tidak pernah terjadi lagi setelah banyak perempuan yang melihat seberapa parah luka Kuroko dan konsekuensi yang diterima Haizaki. Tentu saja tidak ada yang mau bertanggung jawab. Mereka hanya lebih terkendali sekarang. Meski kebanyakan masih menyimpan dendam kepada Kuroko karena mendengar penyelamat Kuroko waktu itu adalah Akashi. Tapi tetap saja. Kuroko tidak puas dengan semua yang ia ketahui tentang Akashi. Ia juga tidak paham dengan debaran yang ia rasa tiap berdekatan dengan pemuda sagitarius itu.
Ucapan Kise tempo hari dipikirkan Kuroko sampai terbawa mimpi. "Kuroko-cchi suka sama Akashi-cchi kan?"
Benarkah?
Hanya karena aku ingin tau lebih banyak tentang Akashi-kun, apa itu berarti aku juga menyukainya?
Mengabaikan pertanyaan yang ia sendiri tak tau jawabannya, Kuroko memilih mengalihkan pandangan ke sosok pemuda merah di tempat duduk. Kegiatan sensei menjelaskan di papan tulis diacuhkan, orbs baby blue lebih tertarik dengan kegiatan menulis pemuda yang diketahuinya bernama Akashi Seijuurou. Objek yang sama sekali tidak dapat ia hindari karena keinginannya sendiri.
"Aku tidak pernah menyangka kalau perempuan-perempuan itu bisa berbuat senekat ini. Tapi anggap saja ini bagian dari maksudku menjauhimu. Tetsuya, kita memang harusnya tidak berteman."
Kata-kata Akashi sewaktu mengantarnya di kereta. Midorima membisu dibelakangnya. Kuroko mendadak lupa cara berbicara.
Akashi ingin membuat jarak lagi.
Memangnya separah apa diri Akashi sampai-sampai ingin menutup diri seperti ini? Kuroko gagal paham sekaligus tidak rela. Sialnya kereta waktu itu sudah sampai, dan ia dipaksa Akashi untuk masuk kedalam sebelum keretanya berjalan. Dan yang lebih parah, Kuroko masih lupa cara berbicara.
Sejak itu Akashi mulai mengacuhkannya kembali. Tidak mengindahkan sapaan, mengabaikan keberadaan, memperlakukan Kuroko seakan mereka tidak kenal sama sekali.
"Kuroko-kun?"
Menoleh, Kuroko mendapati teman sekelasnya tengah menunjuk ke jendela dimana seseorang sedang berdiri melambaikan tangan padanya.
Siapa orang itu?
Kuroko tidak kenal.
"Apa yang dimaksudkan orang yang disana itu… aku?"
Dibalas anggukan. "Dia memintaku untuk menyerahkan ini kepada Kuroko-kun."
Kuroko menerima surat yang terlipat rapi untuknya. Sedikit teringat dengan surat kecil di loker yang pernah ia temukan. Agak trauma kalau-kalau yang diterima adalah surat penindasan lagi. Orbs baby blue mengalihkan pandangan ke jendela geser lagi. Pemuda bermata silver masih disana. Mengode Kuroko agar membaca suratnya.
Kuroko mengerjap sebelum membuka lipatan surat.
Halo, Kuroko Tetsuya.
Aku bukan tipe orang yang senang melakukan hal semacam ini sebenarnya. Tapi jika kutaruh suratnya di loker, kurasa kau tidak akan membacanya. Firasatku saja sih.
Jadi langsung saja. Aku ingin berteman denganmu. Kenalkan namaku Mayuzumi Chihiro, kelas 2-1. Aku sering melihatmu di klub lukis. Dan kurasa kau tidak mengenalku karena aku berasal dari klub sastra.
Ada ingin mengobrol denganmu. Jika kau mau, kumohon temui aku setelah pulang sekolah. Aku akan menunggu di dekat tangga lantai satu.
Mayuzumi Chihiro.
Apa ini motif penindasan lainnya? Jujur saja, Kuroko tidak bisa berpikir positif mengenai hal-hal baru yang ia temui mulai sekarang. Terlebih karena Akashi sudah tidak ingin terlibat dengannya lagi. Bukannya Kuroko ingin dilindungi. Hanya saja jika Akashi memang berniat memutuskan hubungan pertemanan, kenapa ia masih harus menanggung penindasan lain yang beratas namakan Akashi?
Pemuda abu-abu menghilang dari jendela, mungkin sudah pergi ke kelasnya. Kuroko menimbang-nimbang apa perlu menemui orang itu atau tidak.
Menunggunya di tangga sewaktu pulang sekolah? Mustahil Mayuzumi bisa melakukan penindasan secara terang-terangan.
"Ano… kau kenal siapa dia tadi?"
Bisikan pelan kepada teman disebelahnya, Kuroko khawatir kalau-kalau sensei tiba-tiba menyadari ia ngobrol sewaktu pelajaran.
"Kenal. Mayuzumi-kun seniorku semasa smp. Orangnya tenang, ramah, baik pokoknya. Tapi sedikit misterius karena ia selalu sendirian."
Sifat hampir sama dengan Akashi, bedanya Akashi punya Midorima. Mayuzumi tidak.
"Oke. Terimakasih."-kurasa tidak apa-apa menemuinya sepulang sekolah nanti.
.
.
.
Di dekat tangga kelas satu, seperti janjinya Mayuzumi berdiri menyandari dinding disana. Menunggu pemuda biru cerah keluar dari kelasnya. Padahal Kuroko sendiri tengah mengamati dari lantai dua. Mengawasi kalau-kalau Mayuzumi melakukan hal yang mencurigakan. Tapi sedari tadi pemuda abu-abu itu hanya mematung disana, tak berniat meninggalkan tempat itu.
"Kuroko-cchi sedang apa?"
Tepukan dibahu. Kuroko terkesiap dan spontan berbalik dari posisinya. Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou, dan… Akashi Seijuurou tengah berdiri dihadapannya.
Akashi menghindari kontak mata. Kuroko menunduk sedih.
"Oi Tetsu, kenapa kau jadi kelihatan murung begitu? Ada yang mengganggumu lagi?"
Mungkin ya, mungkin tidak.
Kuroko sendiri tidak yakin apa ia akan diganggu lagi atau tidak. Dan tentu saja ia tidak akan mengatakan apa yang ia rasakan sekarang.
"Tidak." Jawab Kuroko akhirnya.
"Kurochin yakin?"
Kepala biru mengangguk.
"Maaf, tapi kumohon jangan terlalu khawatir seperti itu. Aku bisa menjaga diriku kok."
"Kuroko?"
Semua kepala menoleh tak terkecuali Kuroko. Di tangga, Mayuzumi tengah berdiri dengan wajah datar. "Kukira kau sudah pulang. Aku mau mengecek ke kelasmu barusan."
Semua remaja disana membisu. Menunggu Kuroko berbicara, penasaran dengan pemuda ganteng yang tiba-tiba muncul seolah mereka saling kenal. Akashi menatap tajam kepada Mayuzumi. Tentu saja waspada kalau orang ini berbahaya. Tapi menunjukan wajah kepada Akashi sebelum melakukan sesuatu kepada mangsanya, itu sama seperti cari mati.
"Maaf membuatmu menunggu, Mayuzumi-kun." Lima pasang mata terlihat tak puas. "Semuanya aku permisi dulu."
Dan Kuroko pergi meninggalkan mereka. Berjalan menuruni tangga melewati Mayuzumi. Mayuzumi siap-siap membuntuti. Kepalanya menoleh kebelakang sebelum melangkah.
"Aku tidak bermaksud buruk kepada Kuroko. Jadi berhentilah mencurigaiku."
Remaja warna-warni sependapat kalau Mayuzumi tidak berbahaya. Wajah orang itu memang tidak menunjukkan niat jahat. Tapi Akashi justru memandangi kepergian mereka dengan tatapan sulit diartikan. Midorima mengawasi.
"Jadi, ada perlu apa Mayuzumi-san."
Kuroko sengaja memilih ruang loker sebagai tempat mereka berbicara. Memang disana sedikit ramai. Meski yakin Mayuzumi bukan orang berbahaya, tapi ia masih trauma dengan ruang tertutup jika bersama orang baru dikenal. Mayuzumi tidak tidak terlihat keberatan.
Wajah sama-sama sedatar triplek, satu tinggi satu pendek. Satu cerah satu tanpa warna. Sama-sama tidak terlihat, secara harfiah.
"Sudah kubilangkankan. Mau berteman denganmu. Dan mengajakmu pulang bareng."
Tidak dijawab. Sumpah, Mayuzumi bahkan tidak tersenyum padanya. Apanya yang mau berteman.
"Kau turun di stasiun Nakamachi kan? Kita searah. Aku sering melihatmu di kereta."
"Oh." pengagum rahasia.
Hening sesaat. Mayuzumi masih menunggu jawaban Kuroko. Tapi pemilik orbs baby blue malah terpaku menatap rombongan pelangi yang menuruni tangga.
Merah delima bertemu biru langit.
Akashi-kun.
Kuroko spontan menunduk.
Apa dia masih peduli padaku?
"Hai lagi Kuroko-cchi, kami duluan ya."
"Kami pergi, Tetsu."
"Daah, Kurochin."
Pemuda merah yang berada di barisan terbelakang rombongan, melewatinya tanpa mengucapkan apa-apa.
Menatapku saja tidak.
Kuroko tersenyum getir, masih menunduk. Kata-kata Kise terngiang kembali ditelinga. Diperlakukan spesial oleh Akashi? Faktanya dia hanya ingin dilupakan. Berkali-kali ingin dilupakan oleh pemuda merah itu. Akashi tidak peduli padaku, Kise-kun. Kau sudah keliru.
"Kuroko? Kau kenapa?"
Sreet. Tangan ditarik mendadak, tubuh kecil limbung. Hampir jatuh kebelakang. Meringis, Kuroko mendongakkan kepala mencari tau siapa yang memperlakukannya sekasar ini.
Orbs scarlet menatapnya sedingin es. Tak memberi kesempatan Kuroko berbicara dengan menarik tangannya menjauh darisana. Panggilan Mayuzumi dan teman-teman pelangi diabaikan, tatapan kaget seisi sekolah tak di anggap. Akashi menyeret Kuroko tanpa peduli apa-apa. Tanpa peduli panggilan remaja biru yang mengeluh minta dilepaskan.
"A-Akashi-kun tunggu sebentar! Akashi-kun!"
Di depan gerbang sekolah, genggaman dipergelangan tangan dilepas. Akashi menoleh datar pada Kuroko. Menghujami bola biru cerah dengan tatapan sulit diprediksi.
"Kukira dia mengganggumu." Ucapnya datar. Kuroko membisu. Akashi membuang pandangan kearah lain. "Atau yang menggangu itu aku?"
Kuroko benar-benar tidak paham.
"Kalau ternyata aku yang mengganggu, lebih baik aku pergi saja." langkah kaki dibawa menjauh sepihak, Akashi berjalan meninggalkannya. Tangan Kuroko terkulai di sisi tubuh.
Apa-apaan sih? Kau bilang ingin melupakanku, kau bilang kita tak seharusnya jadi teman. Tapi kenapa kau terus-terusan datang menolongku? Menyeretku semaumu dan meninggalkanku seenaknya disini.
Pemilik helaian rambut merah tidak menoleh sama sekali. Tidak meskipun Kuroko sudah hampir berteriak memanggil namanya. Remaja biru langit memacu langkah tak mau kalah. Berusaha meraih tangan di dalam saku celana milik Akashi.
Grep!
Dua tubuh mendadak kaku. Kepala Kuroko tersandar menunduk di punggung Akashi. Dua tangannya menggengam tangan Akashi. Bukan cengkraman kuat seperti yang dilakukan Akashi padanya. Hanya pegangan penuh perasaan yang dapat dilepas paksa kapan saja.
"Tetsuya?"
Tidak ada yang berusaha menoleh maupun melepaskan.
"Kau tidak mengganggu." Suara Kuroko bergetar. "Tidak pernah menganggu."
Kurko berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Akashi memiliki alasan. Akashi tidak bertingkah semaunya. Meskipun ia berusaha melupakan Kuroko, tak peduli seberapa seringnya itu, yang terpenting adalah Akashi selalu kembali. Selalu untuk menolongnya.
Di Kyoto tahun lalu, di gudang, di ruang klub voli. Akashi selalu saja datang menyelamatkannya. Bahkan disaat mereka belum saling mengenal dan mengumbar jarak. Semua kebaikan yang dilakukannya, Kuroko yakin itu bukanlah suatu kebohongan.
"Begitu ya." Jawaban semu. Tangan Akashi bergerak melepas genggaman Kuroko. Berbalik menggandengnya lembut. "kalau begitu, ayo kita pulang."
"Ya"
Selanjutnya angin musim semi terasa lebih sejuk dari biasanya. Setidaknya dari sudut pandang Kuroko. Ia hanya perlu bersabar dan membiarkan Akashi membuka jati dirinya pelan-pelan. Yang ia sadari sedari tadi hanya satu. Suara detak jantungnya yang berisik. Seakan siap melompat keluar dari dada, sebagai buah dari apa yang dilakukannya barusan.
Akashi kembali mengantarnya ke stasiun.
"Akashi-kun. Boleh aku tanya sesuatu?"
Remaja merah tertegun sesaat. Mengalami Deja vu singkat mendengar pertanyaan Kuroko. Rambut biru diacak gemas. Sudah lama Kuroko tidak bertanya seperti ini padanya. Atau lebih tepatnya, sudah lama mereka tidak mengobrol begini.
"Boleh. Tapi setelah ini kau harus masuk kereta dan pulang kerumah."
Kuroko mengangguk setuju meski berat hati harus berpisah lagi.
"Kenapa kau memilih untuk pura-pura tidak mengenalku dan berusaha menjauh dariku?"
Orbs merah delima terlihat kaget mendengar pertanyaan Kuroko. Meski tau cepat atau lambat ia akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Tapi ia tidak menyangka Kuroko akan menanyakannya secepat ini.
"Karena aku bukan orang baik, Tetsuya."
"Apa karena sisi lain yang kau sembunyikan?"
"Aku tidak menyembunyikan yang itu. Dia akan muncul sesuka hatinya. Jika emosiku meledak."
"Lalu, apa aku masih belum boleh tau alasannya?"
"Kau tidak perlu tau." Tatapan berubah dingin. Kuroko paham ia harus berhenti bertanya. Percakapan diakhiri dengan kontak mata singkat. "Keretamu datang."
Tapi bukan Kuroko namanya kalau tidak keras kepala. Masa bodo dengan pintu kereta yang sudah membuka. Memuntahkan penumpang dari stasius sebelum-sebelumnya.
"Kau tidak pulang?"
"... aku akan berjalan-jalan sebentar lagi. Midorima selalu membuatku pusing dengan acara interogasinya dirumah." Tengkuk diusap, pandangan dibuang ke arah lain. Kuroko tau ada yang sedang Akashi tutupi. "Naiklah Tetsuya."
"Boleh aku ikut?"
"Tidak boleh."
Tubuh Kuroko di dorong paksa ke dalam kereta. Tepat sebelum pintu menggeser tertutup. Tentu saja Kuroko tidak terima. Entah apa yang digumamkannya di dalam sana. Wajahnya tidak mau jauh-jauh dari kaca kereta. Akashi melambaikan tangan, agak geli dengan tingkah bocah biru langit yang selalu penasaran padanya.
Kereta berlalu. Akashi mulai bertaruh pada dirinya.
Aku tidak mengerti mengapa sulit sekali menebar jarak padamu. Tak peduli seberbahaya ini keadaanmu jika aku lepas tangan. Seburuk ini dampak kehadiranku dihidupmu. Kau tetap berusaha menolak tawaranku untuk menegak penawar.
Lupakan aku Tetsuya. Itu penawarmu. Aku adalah racun hidupmu. Nasibmu hanya akan bertambah sial jika kau dekat-dekat denganku.
"K-Kyoto? Kau yakin nak? Kau masih memakai seragam."
"Ya, aku butuh karcisnya."
"Baiklah kalau begitu.
Jika kali ini kau bisa menyusulku. Jika kau bisa mengetahui keberadaanku dan memilih untuk menemuiku, Tetsuya.
Aku akan berhenti. Aku akan berhenti berusaha melupakanmu.
Psssh...
Pintu geser kereta tertutup.
"Kereta tujuan Kyoto akan segera berangkat. Kita menempuh empat jam perjalanan dan melewati –"
Pengeras suara berbicara sendiri, Akashi tak mau peduli. Ia memilih duduk tenang, menyandarkan kepala di jendela kereta. Menunggu waktu menaklukan jarak. Dua orbs dilema dipejamkan. Memilih mendengarkan fikirannya beradu sendiri. Tau pertaruhan konyol dihatinya barusan sulit untuk ditaklukan.
.
.
.
Cuaca memang tak seterik musim panas. Tapi Akashi tau betul merupakan kekeliruan kalau ia mendatangi kota kelahirannya tanpa bekal jaket atau baju ganti. Uangnya memang cukup untuk beli benda-benda primer semacam itu. Tapi niat kesini bukannya untuk liburan. Akashi mendikte diri sendiri. Tubuh miliknya dibawa berjalan menuju hamparan pasir berujung laut.
Pantai dimana ia pertama kali bertemu Kuroko.
Pantai dimana alter egonya muncul pertama kali.
Pantai dimana kejadian naas itu merubah segalanya.
Mendadak hilang keseimbangan, Akashi jatuh terduduk dibibir pantai dekat air. Memandangi langit sore yang masih berwarna biru cerah. Awan berarak menuju kebarat, matahari tak lagi di atas kepala.
Suasana pantai luar biasa sepi. Tidak ada satu manusiapun disana karena memang ini bukan hari libur. Terlebih hari sudah semakin gelap. Mana ada pengunjung yang mau menghabiskan waktu di pantai dan berakhir dengan terkena flu gara-gara berenang sampai malam.
Deburan ombak di batu karang bunyinya semerdu lagu nina bobo. Akashi memeluk lutut erat. Meringkuk dalam kesendirian. Otaknya merilex secara sepihak. Terbuai belaian angin dan kicauan burung sore.
"Seijuurou-kun. Kemari."
Kepala merah terangkat shock. Matanya membelalak menatap laut. Ketakutan dan kemarahan kasat mata terpancar dari orbs delima miliknya.
Tak berwujud, tapi suara itu meneror tanpa henti. Setiap kali ia gelisah seperti ini. Akashi disiksa dengan suara tanpa wujud yang terus-terusan memanggilnya. Suara siapa?
"Akashi-kun."
Hening...
Akashi masih sama terkejutnya. Ingin menyumpah dalam hati karena hari ini ia berkali-kali hampir dibuat jantungan. Tapi suara tadi bunyinya setenang suara ombak dari kejauhan. Mengalun menyapa pendengaran tanpa membuat efek samping seperti lagu nina bobo.
"Akashi-kun."
Dan yang tertpenting, suara itu bukan ilusi. Akashi menolehkan kepala.
"Tetsuya?" –Bagaimana kau tau aku ada disini? Bagaimana kau bisa menemukanku?
Kuroko Tetsuya. Berdiri masih dengan seragam dan tas sekolah. Wajah putihnya berkeringat, bahu kecil naik turun mengatur nafas. Tapi pancaran matanya terlihat puas karena menemukan apa yang ia cari di kota yang menjadi saksi pertemuan pertama mereka.
Kau menang Tetsuya.
Kau memenangkan taruhan yang bahkan tidak kuberi tahukan padamu.
"Untuk apa kau kesini?" Akashi kembali menatap laut. Hati kecilnya masih tidak mau menerima kekalahan atas taruhan yang ia buat sendiri.
Tapi sayangnya Kuroko memiliki alasan sendiri. " aku khawatir padamu. Kau jauh-jauh datang kemari tanpa membawa bekal apapun." Alasan paling masuk akal, meski Kuroko tau ia tak kalah ceroboh karena sama-sama tak membawa bekal.
"Aku hanya ingin jalan-jalan."
"Tidak ada jalan-jalan dadakan ke Kyoto sehabis pulang sekolah, Akashi-kun."
"Berhentilah mengkhawatirkanku."
"..."
"Jika kau terus mengejarku, itu benar-benar sangat menggangguku, Tetsuya."
"Aku... mengganggu Akashi-kun?" diucapkan serupa bisikan. Kuroko lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Ya." Orbs azure membelalak. "Pulanglah, Tetsuya. Aku ingin sendirian."
"..."
"Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku. Masa kau tidak paham."
Diusapkan dengan berat hati. Kuroko mengangguk paham. "Aku mengerti."
Badan mungil remaja biru berbalik lesu. Siap meninggalkan orang yang begitu ia rindukan sejak beberapa tahun lalu. Tapi Akashi menolehkan kepala, terlihat tak percaya Kuroko menuruti ucapannya sebegitu mudahnya.
Tidak...
"Akashi-kun?" tangan miliknya ditahan. Ditarik lembut sampai menyentuh kulit pipi Akashi. Kuroko tertegun sekaligus merona. Menatap nanar kepada pemuda merah yang berbalik menahannya pergi. "Kenapa?"-sebenarnya apa maumu?
"Jangan pergi."
Ucapannya kadang berlawanan makna. Tapi hati kecil milik Akashi Seijuurou hanya menyuarakan satu hal yang sudah lama ia sembunyikan. Ia butuh seseorang. Seseorang yang selalu ada untuknya. Melindungi perasaannya yang tak kalah rapuh dari cangkang telur.
Akashi Seijuurou yang selama ini selalu menyangkal pernyataan bahwa ia sebuah anugerah, menganggap dirinya sebagai penjahat meski dirinya baik hati. Selama ini ia sudah kehilangan arah. Salah memakai cara memandang dunia.
Didalam genggaman tangan yang lebih besar darinya, Kuroko bisa merasakan bagaimana kulit pale milik pemuda itu gemetaran memegangnya. Kuroko tersenyum penuh arti. Mengalungkan sebelah lengannya untuk memeluk Akashi dari belakang. Kepala biru menempel di belakang tengkuk Akashi.
Serapuh inikah dirimu yang sebenarnya? Jika saja aku tau apa yang sedang kau sembunyikan sampai membuatmu seperti ini...
Tidak. Aku tidak akan pernah memaksamu lagi, Akashi-kun.
Aku tidak akan bertanya lagi.
Aku hanya ingin melindungimu. Berada di dekatmu. Itu saja sudah cukup.
.
.
.
"Aku lupa kalau kau punya rumah di Kyoto."
Kuroko menatap semangkuk sup tofu yang disajikan Akashi. Baunya lumayan enak dan tampilannya cukup menggoda. Asap mengepul di atas mangkuk pertanda sup masih panas. Akashi hanya tertawa kecil. Menyerahkan garpu dan sendok ke tangan pemuda biru. Kemudian duduk di kursi seberang Kuroko.
"Kau ceroboh, langsung kesini menyusulku tanpa membawa uang. Kalau kau tidak menemukanku tadi, coba pikirkan cara kau pulang bagaimana."
Satu suapan. Kuroko takjub dengan cita rasa yang dikatakan lumayan enak untuk ukuran laki-laki.
"Aku tinggal menemukan orang yang mau membantuku seperti dua tahun yang lalu." Jawab Kuroko enteng. Akashi memutar bola mata."Ngomong-ngomong, aku tidak tau kalau Akashi-kun bisa memasak. Rasa sup ini lumayan enak."
"Kau pikir bagaimana cara aku bertahan hidup selama tinggal dirumah ini kalau memasak saja aku tidak bisa. Memangnya Tetsuya tidak bisa memasak?"
"Bisa. Makanan rebus adalah keahlianku."
"Kau bisa memasak shabu-shabu?"
"Makanan rebus yang bisa kumasak hanya telur dan mie instan, Akashi-kun."
"... kalau begitu jangan menyebut dirimu ahli makanan rebus dong."
"Eh? Maaf deh."
Suapan terakhir. Kuroko mengambil mangkuk kosong miliknya dan Akashi, menyisihkannya ke dapur dan menyucinya sampai bersih.
Remaja kecil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Menyadari bahwa ia belum pernah memasuki area ini selain kamar mandi di kamar pribadi Akashi. Kuroko tersenyum kecil. Menyadari kecerobohannya yang mengklaim diri sendiri sudah kenal baik dengan Akashi Seijuurou. Padahal, melihat seisi rumah Akashi saja ia belum semuanya.
.
Pukul tiga malam. Kuroko terbangun dari tidurnya. Memencet tombol lampu meja agar ruangan kamar yang gelap gulita berubah terang. Kamar yang dulu ditinggalinya selama dua malam. Kuroko masih belum terbiasa dengan derit ranjang yang terlalu lembut dibelakang punggungnya. Pemuda itu beranjak dari tempat tidur. Melangkahkan kaki ke ruang tamu. Maksud hati mau mencari udara segar diluar. Tapi niatnya terhenti saat melihat sosok pemuda merah duduk bersila di sofa depan tivi. Akashi Seijuurou. Kuroko rasanya pernah berada di situasi ini. Dimana dirinya ragu-ragu untuk menginterupsi kegiatan Akashi diruangan yang sama. Bedanya Midorima tidak berada di Kyoto sekarang. Jadi mungkin tidak apa-apa.
"Akashi-kun?"
Bahu terkesiap. Akashi menoleh untuk melihat remaja biru dibelakangnya.
"Tetsuya, kau tidak tidur?"-rambutmu berantakan. Perhatian Akashi teralihkan oleh rambut baby blue yang tak tertata rapi. Tersenyum kecil melihat wajah mengantuk Kuroko Tetsuya.
"Aku terbangun." Orbs azure melirik lembaran ditangan. Sebuah kertas foto yang robek di kedua sisi atasnya. Kuroko ingat pernah menemukan benda itu dibawah bantal Akashi. "Boleh kutanyakan itu apa?"
Akashi mengangkat foto ditangannya. "Ini?" Kuroko mengangguk, mendekati sofa dan duduk perlahan di samping Akashi. "Bukan apa-apa kok. Aku hanya ingin mengingat masa laluku saja."
"Bayi itu... Akashi-kun?"
Dua mata yang sama, warna rambut yang sama. Mustahil kalau itu bukan Akashi. Tapi ada sesuatu yang hilang pada Akashi yang sekarang. Cahaya kebahagiaan, kepolosannya bayi mungil itu seakan digantikan dengan dua bola mata merah yang hampa, tatapan kosong tanpa tujuan.
"Aku... tidak bisa mengingat wajah orang tuaku." Sorot mata kesedihan tidak terlihat. Kuroko tidak mengerti dengan suasana hati Akashi yang sekarang. "Kupikir itu bukan masalah."
"..."
"Aku hanya penasaran saja. Kira-kira apa yang kulakukan waktu itu sampai tawaku selebar ini ya?"
Tidak dapat mengatakan apa-apa. Kuroko hanya bisa mendengar Akashi yang mengoceh sendirian.
"Apa yang kulakukan semasa aku kecil?"
"Aku tidak tau. Tapi kalau Akashi-kun tertawa lebar seperti itu, artinya Akashi-kun sedang bahagia."
Hening sesaat. Foto diletakkan di atas meja.
"Tetsuya. Mengapa kau melakukannya sampai sejauh ini? Kau harusnya sadar, kalau berdekatan denganku hanya akan membuatmu terkena sial." Katanya tiba-tiba, penuh emosional.
"Kau tidak pernah menyebabkan kesialan untukku, Akashi-kun."-sebaliknya, kau membuatku merasakan sensasi baru yang menyenangkan di dadaku tiap kita berdekatan. Kuroko tersenyum kecil.
"Tapi kenapa?"
Kenapa? Kuroko bertanya dengan dirinya sendiri. Merasakan detak jantung, rasa berdesir yang mengalir di pembuluh darahnya. Semu hangat di kedua pipinya. Dan yang paling penting adalah keinginannya untuk selalu berdekatan dengan orang di depannya ini.
"Aku menyayangi Akashi-kun."
Ya, Aku menyayanginya. Aku mau melindunginya. Aku telah melihat sisi lainnya yang begitu lemah saat ini. Aku ingin membawanya ke dalam dekapanku. Mendengar semua yang ingin ia keluhkan. Seburuk apapun masa lalunya, seburuk apapun rahasia yang ada di dalam dirinya. Aku bersumpah untuk tidak meninggalkannya.
Akashi tertegun. Mencerna kata-kata Kuroko dalam pikiran.
"Tetsuya kau-"
"Aku tidak akan pernah mempermasalahkan masa lalumu maupun sisi lain yang kau miliki. Aku menyayangimu. Itu yang perlu kau ketahui, Akashi-kun. Jadi jangan pernah mengatakan kalau kau orang yang buruk lagi. Karena manusia tak ada yang benar-benar sempurna."
Dua bola mata saling menatap intens. Kuroko menguatkan diri menatap kedua orbs delima milik Akashi Seijuurou. Menikmati suara alunan detak jantungnya sendiri. Yang entah mengapa rasanya semakin cepat. Kemudian ia bisa melihat wajah Akashi berubah perlahan. Menjadi sedikit merona. Pemuda merah itu mendenguskan senyuman. Menggerakkan tangan ke pipi merah milik Kuroko Tetsuya, mengusapnya perlahan.
"Ya aku tau."
"Akashi-kun tau?"
Dibalas anggukan. "Apa Tetsuya mau pacaran denganku?"
Mata biru langit membulat tak percaya. Kuroko tersenyum penuh arti. "Aku mau."
"..."
Hening sesaat. Kuroko tidak mengerti mengapa Akashi mendadak diam. Pipi pemuda merah itu masih merona walaupun samar-samar. Usapan di pipi berhenti perlahan.
"Ada apa?"
"Tetsuya, aku mau menciummu. Tutup matamu."
"B-baiklah."
"Kau kenapa Tetsuya?"
"Akashi-kun tiba-tiba berkata seperti itu. Aku jadi gugup."
Perlahan menutup mata, Kuroko jadi merasa gugup luar biasa. Tanpa sadar ia menutup mata terlalu rapat. Namun tak ada sentuhan apapun dibibirnya. Bingung, remaja biru membuka kembali matanya. Mendapati Akashi yang sedang menutup setengah wajahnya.
"Gara-gara melihat wajahmu aku jadi ikut gugup,tau."
Dahi disentil. Kurok meringis. Kemudian mereka tertawa bersama-sama. Kuroko tidak kecewa. Ciuman mereka bukannya dibatalkan. Akashi mengambil remote lampu di dekat remote tv. Menekan tombol off, menyebabkan seisi ruang tamu gelap gulita.
Kuroko sempat terkesiap. Namun segera mengerti saat sentuhan daging tanpa tulang mendarat perlahan di dahinya. Turun ke hidungnya, dan berakhir di bibir. Bukan ciuman yang panjang pada awalnya. Akashi mengakhiri dengan jeda yang lumayan panjang. Dimana tubuh Kuroko ditarik mendekat. Tangan kecil spontan meraih leher Akashi. Bibir mereka kembali menyatu. Ciuman yang panjang penuh gairah. Kuroko tidak bisa mendengar suara lain selain suara detak jantung dan nafas mereka yang bersahutan.
Pada akhirnya, sekeras apapun usahamu untuk menjauhiku. Dirimu tetap jatuh ke pelukanku. Kita sama-sama lemah. Sama gundahnya jika tidak berdekatan satu sama lain. Apapun yang akan terjadi setelah ini. Aku akan selalu bersamamu, Akashi-kun.
.
.
.
Ponsel merah bergetar di atas meja. Akashi mengamatinya malas. Sementara Kuroko melihatnya dengan wajah pucat.
"Akashi-kun, kenapa kau matikan ponselmu?"
"Kalau kuhidupkan yang ada Shintarou mengamuk menyuruhku pulang."
Akashi melirik layar ponsel yang masih belum berhenti menampilkan kotak masuk baru. Angka sudah mencapai yang ke 78. Dan semuanya Akashi yakin berasal dari Midorima Shintarou. Ingat sesuatu, Akashi cepat-cepat menolehkan kepalanya ke Kuroko yang sedang meminum teh nya.
"Tetsuya, kau sudah menghubungi orang tuamu atau belum?"
"Sudah."
"Kau bilang apa?"
"Menginap dirumah Akashi-kun di Kyoto."
"Astaga."
"Ada apa Akashi-kun?"
"Akashi Seijuurou!"
Belum sempat Akashi menjawab pertanyaan Kuroko, suara familiar dari arah pintu memaksa dua pemuda berbeda warna menolehkan kepala kaget. Pemuda hijau dengan jaket kulit coklat tebal dan ransel panda tersampir di bahu. Midorima Shintarou.
"Ah, Shintarou rupanya."
"Mi-Midorima-kun."
"Reaksimu itu terlalu biasa Akashi, Kuroko! Dan kau bocah nakal, kenapa kau tidak menjawab pesan ku hah?!"
"Pulsaku habis"
"Bohong nodayo! Nomormu tidak aktif! Kau sengaja mematikan ponsel kan?!"
Tas panda diletakkan di sofa kosong. Midorima menghempaskan tubuhnya disana.
"Yasudah aku minta maaf."
Jawaban singkat nan kalem. Tapi mampu membuat Midorima bungkam seketika. Pemuda hijau itu menghela nafas. Kemudian melirik Kuroko yang masih mematung kaku di atas sofa. Kontras dengan pemuda merah yang menyandarkan kepala rilex di bahu remaja kecil itu.
"Apa sesuatu telah terjadi?"
Kulit pale mendadak merona. Kuroko teringat kejadian kemarin sore sampai tadi malam. Ia tak dapat menjawab. Atau lebih tepatnya tak yakin harus menjelaskan dari mana. Akhirnya Kuroko hanya menundukkan kepala gelisah.
"Kami pacaran. Mau bulan madu disini." Jawab Akashi cuek. Midorima menganga lebar. Kuroko makin malu.
"Bulan madu apanya?! Itu tidak benar, Midorima-kun."
Dibalas kekehan ringan oleh Akashi. Midorima mengurut dada. "Kukira kalian telah melakukan sesuatu yang ekstrim."
"Tidak kok."
"Kami tidak akan memberitahumu meskipun jika kami telah melakukannya."
"Aku juga tidak mau tau, Bakashi!"
"Dasar Tsundere."
Berdecak, Midorima menaikkan gagang kacamatanya lebih ke atas. "Daripada itu, kalian berdua harusnya pulang ke Tokyo. Bagaimana mungkin kalian meninggalkan sekolah seenaknya. Dan kau Akashi, kau harus minta maaf kepada Yona karena telah pergi tanpa kabar."
"Yona?" Kuroko mengulangi.
"Ibu Midorima."
"Oh."
"Tiket kereta sudah kubeli untuk kita bertiga. Aku mau kita pulang sekarang."
"Midorima-kun, kau baru sampai."
"Aku kesini untuk menjemput kalian berdua, Kuroko."
"Ya,ya. Baiklah kalau begitu. Tetsuya, siap-siap. Aku mau ambil tas dulu."
Perjalanan empat jam di dalam kereta bukannya tidak melelahkan. Kuroko bersyukur mereka mendapatkan kursi dimana Kuroko bisa menyandarkan kepala ke tiang pegangang Kereta. Remaja biru tertidur tanpa sadar. Mengacuhkan pemandangan di luar jendela yang biasa menarik perhatian. Tidak menyadari kalau dirinya dijadikan tontonan menarik oleh remaja disebelahnya, Akashi Seijuurou. Midorima duduk disisi lain Akashi. Ikut mengamati pergerakan bocah biru yang perlahan kepalanya dipindahkan ke bahu Akashi.
"Apa yang terjadi?" Tanya Midorima. Akashi menoleh.
"Aku hanya ingin mengunjungi rumah. Lalu dia mengikutiku." Jawab Akashi jujur.
"Maksudmu, bocah cebol ini membuntutimu ke Kyoto?"
"Begitulah."
"Ck, dia memang keras kepala."
Dibalas anggukan, Akashi tersenyum ringan. Jarang terjadi. Midorima tertegun. "Benar. Karena itu kupikir aku tidak akan berusaha menjauh lagi."
Orbs merah beralih ke sosok remaja yang masih tertidur di bahu. Akashi Menata helaian poni biru langit yang menutup wajah Kuroko.
"Kau yakin, Akashi?"
"Ya."
"Baiklah kalau begitu. Terserah kau saja."
.
.
.
Kepala Kuroko mendadak pusing. Kemarin-kemarin dirinya tidak pernah dijadikan pusat perhatian sebegini parahnya. Kemarin, apapun yang ia lakukan rasanya tidak pernah menarik perhatian. Meski ia sedang terpeleset di lorong sekalipun, tidak ada yang pernah menyadarinya. Tapi sekarang seakan-akan semuanya berubah 180 derajat. Ia dipandangi, dibicarakan, diawasi. Dari awal masuk gerbang sekolah sampai ke kelas. Bahkan Kise CS berkumpul dikelasnya, siap menjadikan Kuroko bahan interogasi. Dan penyebab semua ini adalah...
"Apa? Kalian pacaran-ssu?! Pacaran?!"
"Hn."
"Kenapa tidak ada yang bilang-ssu! Kenapa-ssu!"
"Aku barusan mengatakannya sendiri kan, Ryouta?"
"Eh iyaya. Hehehe"
Kuroko menghela nafas. Tempat duduknya yang cuma muat untuk satu orang, dijejal Akashi dengan bangku lain agar remaja merah itu bisa duduk disebelahnya. Dan tangan yang sedang melingkari bahunya inilah yang sejak tadi membuat seisi sekolah menjadi fokus padanya.
Komentar mereka macam-macam. Ada yang kaget. Ada yang takjub-para fujoshi-. Ada yang marah-marah tidak terima. Akashi masa bodo. Midorima tetap berjalan dibelakang mereka. Tak mengindahkan teguran Akashi untuk meninggalkan ia dan Kuroko sendirian.
Dan sekarang, mereka jadi bahan interogasi Kise dan kawan-kawan. Tidak semua sih. Murasakibara tetap acuh dan memilih menghabiskan waktunya untuk makan snack. Sedangkan Aomine cuma menyimak. Meski kadang mengganggu Kise yang sedang asik menjadi wartawan dadakan. Entah itu dengan cara mengatainya bodoh, menertawakannya kalau sedang kena sembur Akashi, atau memainkan rambut si pirang penuh kasih sayang kalau ia bosan.
"Kalau begitu selamat ya Akashi-cchi, Kuroko-cchi. Tebakanku ternyata benar, Kuroko-cchi suka Akashi-cchi. Hehehe-aduh Aomine-cchi jari kelingkingku jangan digigit." Benarkan, diganggu. Kise menarik jari kelingkingnya yang berdejut gara-gara digigiti Aomine. Mengomel saat mendapati kulit putihnya berubah kemerahan.
"Baunya seperti yakiniku, Kise."
"Kau sedang laparkan-ssu? Bilang saja!"
"Kau tau saja. Kalau begitu antarkan aku ke kantin."
"Tidak mau-ssu. Aku masih ingin tanya-tanya dengan Kuroko-cchi dan Akashi-cchi."
"Kau tega melihatku kelaparan?"
Si pirang mendadank bungkam. Seisi kelas memandang gerah kepada pasangan Aomine dan Kise yang dicurigai memiliki hubungan khusus. Mereka makin hari makin terlihat dekat. Tapi Kise terlihat lebih menutupi ketimbang Aomine. Pemilik orbs madu mengalihkan pandangannya ke Kuroko dan Akashi lagi, mengatup dua telapak tangannya di depan wajah.
"Akashi-cchi dan Kuroko-cchi maafkan aku sudah menganggu kalian. Tapi kalian jangan kemana-mana ya. Aku akan kembali setelah memberi makan Aomine-cchi dikantin."
"Kami tidak pernah kemana-mana, Kise-kun." Kuroko membalas dengan senyuman. Sementara Akashi hanya memutar bola mata bosan.
"Dah Tetsu, Akashi."
"Dah Aomine-kun."
"Hn."
"Kalau begitu aku juga permisi, selamat ya Kurochin, Akachin." Murasakibara meletakkan dua bungkus stick rasa sapi panggang di atas meja Kuroko. "Itu hadiah dariku untuk hari jadi kalian."
"Terimakasih Murasakibara-kun."
"Sama-sama, jaa."
Remaja tinggi besar berjalan mengikuti Kise dan Aomine. Midorima memilih mendudukan diri di kursi depan miliknya. Tinggal Kuroko dan Akashi. Tapi tetap saja dua pemuda bergender sama itu jadi pusat perhatian. Dari seisi kelas sampai jendela kelas penuh semua karena banyak siswa-siswi yang ingin melihat. Bahkan ada senior yang rela turun dari lantai tiga hanya untuk menonton mereka. Akashi acuh saja, malah bertingkah sok manja dengan merebahkan kepala di bahu Kuroko , lalu menutup matanya pura-pura tidur.
"Akashi-kun, kita jadi pusat perhatian." Kuroko diam mematung. Tak berani bergerak sedikitpun. Menjadi target tatapan intimidasi para fans Akashi risihnya tidak main-main.
"Santai saja. Kalau ada yang menyentuhmu, akan langsung ku hajar."
"Kalau itu perempuan?"
"Tetap kuhajar."
Pipi Kuroko memerah, sebagian dari penonton dikelas memekik. "Tidak boleh. Kau hanya boleh menegur mereka. Perempuan tidak boleh dipukul."
Kepala merah diangkat. Akashi mendudukan dirinya secara normal, kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Mau kemana?"
"Ke kursiku. Tetsuya sepertinya sangat risih dipandangi mereka."
"B-bukan begitu. Akashi-kun, kau marah ya?"
Sudut bibir terangkat. Akashi mendengus geli, merasa puas karena berhasil menjahili pemuda mungil yang sudah berstatus menjadi kekasihnya. Rambut biru Kuroko jadi sasaran, diacak sampai berantakan. Kemudian pipinya dicubit.
"Mana bisa aku marah padamu."
Tertegun, Kuroko membalas senyuman Akashi. Bersyukur pemuda itu mengerti maksud hatinya. "Terimakasih."
Dibalas anggukan. Akashi duduk ditempat duduk asalnya. Dengan cepat dikelilingi para fans dan disuguhi pertanyaan beragam. Kuroko hanya menghela nafas. Ini Konsekuensi pacaran dengan orang populer.
Iris azure memandangi gelagat Akashi dari kejauhan.
Bagaimana cari pemuda itu memperlakukan orang-orang disekitarnya, bagaimana cara ia menjawab tiap pertanyaan yang diberikan. Akashi menjawab semuanya dengan tenang, kalem, nafasnya beraturan. Tidak segugup Kuroko sekarang.
Hebat. Akashi-kun terlihat seperti seorang pangeran.
Tertawa kecil, Kuroko yakin tak ada yang mendengarnya sekarang. Tapi Akashi malah menolehkan kepala padanya. Mengedipkan sebelah mata dan memamerkan senyuman khas malaikat miliknya. Meskipun sempat kaget, Kuroko tetap membalas senyuman Akashi.
Ya. Dia memang menawan. Mungkin semenawan malaikat. Semua orang mengetahuinya, mengakuinya. Tak ada yang menampik pesona luarmu, Akashi-kun.
Tapi diantara sekian banyak orang yang mengaguminya, dia hanya menunjukkan sisi lemahnya padaku. Hanya padaku. Bukan kalian.
Karena dia milikku.
Milikku.
TBC
Selamat malam! Selamat merayakan hari Kemerdakaan Negara kita, minna.
Malam ini Resca pen ngasih chapter full of Akakuro moments. Semoga Akakuro shippers dan pembaca yang lain suka.
Terimakasih buat yang sudah mengikuti ff Resca dari Innocent Cinderella sampai Natsu Ni Hanashi O Nisshoku. Keep reading ya guys.
Jangan lupa ripiu. See you next chapter.
YunaResca.
