Hai hai lagi readerss...

Curcol dikit, chapter ini dibuat pas habis selesai nulis Chapter sebelumnya. Jadi, waktu author publish yang ketiga, author tuh lagi menyelesaikan chapter selanjutnya.

Ahh.. bener-bener ga enak ngecewain orang. So.. author akan selalu berusaha memberi yang terbaik kepada para readers.. ;;) #ciaelah

Review maupun flame akan terus author jadikan patokan untuk ke depannya.

Wish me luck, guys..

Okay, Check it out..

.

.

Chapter 4 : It's Much Better

Genre: Romance & Hurt/Comfort

Pairing: NaruHina #everlastinglove

Warning: OOC, MissTypo, AU, et cetera..

.

.

Langkahnya tergopoh-gopoh karena kehabisan tenaga. Ia mengusap pelipisnya yang dibanjiri oleh peluh dan segera menghampiri seorang gadis yang tengah menunggunya. Ia menyerahkan sebungkus makanan di tangannya dengan penuh perasaan.

"Kentang goreng, tidak apa-apa kan?" ia meluruskan punggungnya dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal, ".. soalnya tadi .. hufth- semua counter penuh dengan antrean. Dan.. hanya counter.. French Fries yang agak sepi... Tapi.. kau masih mau makan kan, Hinata.. chan?"

Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan ikut mengatur detakan jantungnya. Ia menyentuh bungkusan itu dengan hati-hati dengan kepala tertunduk.

"Kau marah ya, hime?"

Hinata menggeleng cepat, "ah.. t-tidak kok. A-aku tidak m-marah sama sekali, U-Uzumaki-san", masih tetap dengan kepala yang tertunduk.

"Ah, Naruto juga tidak apa-apa. Kita kan sudah saling mengenal"

Gadis itu tertegun dan semburat merah di kulit pipi mulusnya sudah tak dapat ditahan lagi. Ia tersenyum.. sangat manis dan indah. Ia menggenggam kentang gorengnya erat. Kini pikirannya hanya tertuju kepada seorang pemuda di hadapannya. Mereka saling kalut dalam perasaan mereka. Keheningan menyelimuti atmosfir di antara mereka, yang segera berakhir dengan teriakan maut tak berperasaan.

"UZUMAKI NARUTO!"

.

.

. . . .

.

.

Ketika mendengar seseorang baru saja meneriaki namanya, ia tidak sempat berpikir dan segera menjatuhkan tubunya hingga hampir menyentuh tanah. Tangannya menahan bumi dan kakinya mengayunkan tubuhnya ke atas dan ke bawah. "58.. 59.. 60.. 61.."

"Hey, bodoh! Siapa yang menyuruhmu melakukan push-up, huh?"

"M-maafkan aku, Anko-sensei!" si bodoh itu segera berlari terbirit-birit menuju lapangan dan berlari melingkarinya.

"DASAR TIDAK TAHU DIRI!"

"Maaf, sensei! Tadi aku ada urusan sebentar.." teriaknya samar-samar dari kejauhan, sambil terus mengitari tempat itu.

"Teruslah berlari sampai 50 kali!"

Naruto menghentikan langkah kakinya. Ia memasang muka kaget, kecewa, dan bersedih.

"Kenapa kau berhenti? Mau aku tambahkan?"

Anko melangkah maju mendekati lapangan oval seluas 70x80 meter itu guna mengawasi peserta didiknya lebih cekatan. Dia takut di-kibuli lagi.

Ia berlari lagi. Kali ini semakin cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Hinata yang memperhatikannya dari jauh. Dengan perasaan malu ia tersenyum salah tingkah. Sedangkan gadis itu hanya tertawa geli. Ia tersenyum bahagia. Bukan, bukan bahagia karena Naruto dihukum. Tetapi bahagia mengingat pembicaraan singkatnya barusan.

"Hukuman lagi, huh?"

Gadis itu menoleh ke arah dimana suara itu menggema.

"Itukah pangeran-mu? Cih! Sungguh menyedihkan.."

Mata lavendernya kini tengah memandang sinis kepada seorang pemuda jangkung yang sedang pura-pura memandangi Naruto yang berlari mengelilingi lapangan.

"A-apa maksudmu? Kau.. kau tidak berhak mencampuri urusanku, Uchiha-san!" Hinata menjawab tegas untuk membela haknya. Ia sangat menolak kehadiran Sasuke yang tanpa diundang dan seakan-akan menghantui kehidupannya.

"Hm.. sekarang kau berani ya? Menurutmu kau akan ditolong oleh pria bodoh itu lagi, menyingkirkanku, dan kemudian kalian hidup bahagia selamanya, begitu? Tidurlah, dan buatlah mimpi indahmu sendiri. Karena aku sedang mewujudkan mimpi indahku", pemuda itu mencekam kedua tangan Hinata dengan kuat dan menyeretnya, ".. ikut aku!"

"Tunggu, aku tidak mau.. lepaskan aku!"

"Hmm.. kau mulai memberontak, huh? Ikuti aku!" Sasuke memperkuat cengkraman tangannya dan menariknya lebih kencang. Gadis itu semakin memberontak dan meronta. Hal itu sontak mengalihkan pandangan Naruto. Ia berhenti berlari dan menatap tajam ke arah tempatnya tadi bersama Hinata yang telah direbut oleh teman penghianatnya.

Pemuda itu berlari sekencang-kencangnya ke arah fokus matanya, "HEY!"

Anko begitu terkejut ketika tiba-tiba menyadari seseorang yang hilang dari pandangannya. Kali ini ia benar-benar geram dan mengumpat berkali-kali mengikuti suara amarah hatinya.

"UZUMAKI NARUTO! AKU BENAR-BENAR LELAH! AYO BERHENTI DAN KEMBALI KE SINI!"

"G-gomen, Anko-sensei", ia menghentikan langkahnya sejenak, "setelah ini aku akan berlari 100 kali. Aku punya sesuatu yang harus segera diselesaikan"

Kali ini wanita itu menyerah. Ia mengangkat kedua tangannya pasrah. Namun tiba-tiba penglihatannya diganggu dengan sebuah peristiwa tarik-menarik yang berada di dekat celah gerbang keluar lapangan.

...

"Hei! Hentikan gerakanmu, Sasuke! Jangan sentuh Hinata!"

"Apa urusanmu, huh?"

"Apa-apaan kau ini? Apa kau kehilangan kejantananmu, sampai bertengkar dengan wanita seperti ini, huh?"

"Aku tidak peduli denganmu, cih!" Sasuke sama sekali tidak melepaskan genggamannya pada gadis itu. Ia malah semakin menariknya ke arah yang diinginkannya. Ia membuat Naruto benar-benar marah dan jengkel. Karena kehabisan kata-kata, pemuda berkulit tan itu pun mulai bertindak. Dia menarik tubuh mungil Hinata dan memeluknya.

"Tentu saja, ini urusanku!" perbuatan bodohnya itu sukses membuat gadis yang tengah dalam dirinya itu merona hebat. Terlalu hebat. Dan beruntung orang penengah itu datang tepat waktu. Anko melerai mereka dengan bijaksana.

"Apa-apaan ini? Sudah, hentikan!"

"Cih!" Sasuke sama sekali tidak menghiraukan atau mengindahkannya. Ia melesat sejauh mungkin dari tempat itu.

"Hey! Uchiha Sasuke! Hah.. terserahlah", wanita itu sempat memanggilnya. Namun ia tidak lagi mempedulikan kepergian anak itu. Hal itu memang sudah biasa. Sasuke memang Sasuke. Dia kini hanya kembali fokus kepada.. Naruto dan Hinata.

"Naruto, lepaskan gadis itu!"

"Eh- umm.. maaf sensei", dekapan itu lenyap,".. a-aku bisa jelaskan semuanya"

"Hmmh.. selesaikan hukumanmu! Aku mempercayakannya kepadamu. Ku tunggu kau sepulang sekolah"

"Hai'k sensei", Naruto membungkukkan badannya. Dan kemudian Anko pergi meninggalkannya. Meninggalkan mereka berdua.

"H-Hinata?"

Gadis itu tertunduk malu dan tengah memainkan jari-jemarinya. Ia memejamkan mata untuk membantu meredakan getaran-getaran hebat di tubuhnya. Darahnya berdesir cepat, napasnya tidak teratur, dan wajahnya sangat merah. Ia masih dapat merasakan semuanya. Kehangatannya, detak jantungnya, dan bau tubuhnya. Semua beradu di benaknya.

"H-Hinata?"

Matahari siang itu bersinar sangat terik. Hal itu membuat kepala Hinata terasa pening. Matanya berkunang-kunang. Tubuhnya lemas. Ia pun rebah setengah sadar.. di tangan pangerannya.

"H-Hinata-chan?! Kau kenapa? A-aku antar ke UKS ya?"

"T-tidak usah N-Naruto-kuunnhh.."

"Eh? Em.. umm.. maafkan aku, Hime. T-tapi ini sudah saatnya masuk kelas. Apa mau ku antar ke kelas saja?"

"J-jangan, t-tidak usah..", gadis itu membenarkan posisinya. Ia berusaha bangkit dan berdiri, walaupun masih terasa pusing, ".. m-maaf merepotkan. A-aku bisa kembali s-sendiri. J-jangan khawatirkan aku.. U-Uzumaki.."

"Naruto saja.."

Hinata tersenyum. Ia memandang pemuda itu sejenak. Kemudian membalikkan tubuhnya perlahan, ".. Konichiwa, Naruto-kun!"

"Selamat siang! Aku mencintaimu, Hi- eh?!"

Pemuda itu bergegas membalikkan tubuhnya dan kembali berlari ke tengah lapangan sambil menjambaki rambut pirangnya. Ia mengutuki dirinya sendiri. Sedangkan Hinata.. dia mempercepat langkah kakinya dan berusaha meyakinkan dirinya kalau dia tidak mendengar apapun.

Beberapa jam berlalu, dan Naruto belum berpijak dari tempatnya. Padahal bel sekolah sudah berbunyi lagi untuk kesekian kalinya. Para siswa berhamburan keluar gedung, sedangkan anak itu masih terus mengejar angannya, mengelilingi lapangan 100 kali.

Tiba-tiba suara tepuk tangan bergemuruh muncul dari balik tembok-tembok yang mengelilingi tempat itu. Suara itu semakin terdengar dan terus merajalela.

"Ayo, teruslah berlari Uzumaki Naruto! Wuuhhuuuu..." dengan tubuh langsingnya Rock Lee melakukan standing applause di pinggir lapangan sambil terus menyoraki nama itu.

"Dan bisa kita lihat, peserta badung dari Konoha telah melewati 87 lap. Kini tinggal 13 lap lagi menuju garis finish.." ejek Kiba sambil meniru gaya protokol kejuaraan marathon.

Naruto tetap berlari tanpa menghiraukan sisi kanannya yang dipenuhi orang-orang yang menghinanya habis-habisan. Ia masih tetap bersikeras dalam usahanya menyelesaikan hukuman.

"..90.. sepuluh kali lagi! Ayo cepat, bodoh! Kami ingin cepat pulang!"

"Pulang saja sana! Aku bisa pulang sendiri.."

"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Kiba dengan suara yang begitu lantang hingga menggema ke ujung lapangan. Naruto memang mendengarnya. Tetapi ia tidak menggubris pertanyaan sahabatnya.

"Ahh, marah ya? Hahah.." Shikamaru menertawakannya. Dan orang yang ditertawakannya membuang muka.

"Oke, kalau itu maumu, dobe. Kami akan pulang tanpamu. Semoga kau beruntung ya.."

Ia masih tetap berlari dan stay cool. Dia mengangkat kepalanya dan tidak melirik ke arah samping sama sekali. Hal itu membuat teman-temannya yakin kalau si dobe ini sedang ngambek dan ingin ditinggalkan sendiri. Ketika mereka benar-benar berjalan menjauhinya, tiba-tiba saja dia berteriak, "Hey, tunggu! Aku tidak sungguh-sungguh!"

Namun nasib sudah kepalang sial. Tidak ada yang mendengarkan hirauannya. Ia berteriak kian kencang hingga ia kehabisan tenaga. Ia hendak mengejar, hingga seorang wanita yang tak asing lagi datang menjemputnya, "Bagaimana, Uzumaki Naruto? Sudah berapa keliling?"

"A-Anko-sensei? A-aku sudah.. hufth- berkeliling se.. banyak 92 kah..lihh" ujarnya setengah merintih karena lelah dan tubuhnya yang dipenuhi keringat.

"Hmm.. sudahlah. Aku sama sekali tidak bertujuan untuk menyiksamu. Aku menghukummu agar kau dapat belajar mengambil hikmah di balik kesalahanmu. Kami sangat mengharapkan perubahan darimu, Naruto", jelasnya panjang lebar, berharap pemuda itu bisa mengerti posisinya.

"Arigatou-gozaimashu, sensei", ia menghentikan langkahnya dan berjalan membungkuk menuju tempat Anko berdiri, ".. santai sajalah, sensei! Aku sama sekali bukan orang yang pendendam. Hehehe.."

"Terima kasih. Sekarang kau mengerti kan, kenapa aku menghukummu?" Naruto mengangguk, ".. sekarang ambillah barang-barangmu dan pulanglah!"

"Hai'k sensei", ia segera meninggalkan wanita itu dan kembali berlari menuju gedung sekolah yang sudah tidak berpenghuni sama sekali,

. . . .

"Hmm.. pasti Neji nii-san sedang.." timbul semburat tipis yang mengapit sebuah rangkaian senyuman indah di wajahnya. Pikirannya membayangkan betapa bahagianya kakak laki-lakinya saat ini. Merangkai hari indah bersama kekasih yang paling dicintainya. Hinata rela berbohong agar dapat membiarkan keduanya bersama. Ia ingat bahwa tadi dia bilang ada kerja kelompok. Oh, Tuhan! Besok hari Jumat! Gadis itu mengira sepertinya kakaknya sudah tahu kalau ia bersilat-lidah. Tapi, siapa yang mau menyia-nyiakan kesempatan? Selagi bisa berduaan, kenapa tidak? Ah, dasar.

Sebenarnya terkadang Hinata merasa cemburu melihat kemesraan sahabatnya dengan 'pria'-nya. Bercanda bersama, berjalan di taman sore hari, menonton film berdua, dan menyaksikan kembang api di tahun baru... berdua! Kapan aku bisa bersama.. dia menggelengkan kepalanya. Dia ingin melenyapkan piikiran itu. Mana mungkin? Otou-san tidak menyetujuiku sama sekali.. huh. Dan belum tentu dia menyukaiku.. mm.. apa dia benar.. cinta.. tidak!

Dia berjalan sangat perlahan. Kakinya menelusuri koridor yang panjang, gelap, dan sepi. Apa yang dilakukannya selama ini, sampai sekolah tidak berpenghuni?

Ckiit.. ckiit.. ckit

"Apa itu?" mata Lavendernya terbelalak seketika mendengar suara decitan antara sepatu dengan lantai marmer sekolahnya. Ia berjalan semakin cepat. Ia melihat ke belakang, kanan, kiri, dan.. bruk!

Tulang hidungnya menghantam sesuatu. Dia baru saja menabrak sebuah pintu kelas. Hinata benar-benar tidak memperhatikan arah depan sama sekali. Bola matanya asyik berkeliling. Mungkin karena terlalu panik.

Ckiit.. ckiit..

Hinata mendengarnya lagi. Suara decitan yang membuatnya tertabrak pintu itu kembali muncul, dan kali ini terdengar lebih jelas. Ia pun tahu kalau sumber suaranya berasal dari balik pintu itu.

Dia menyentuh gagang besi itu perlahan, berniat untuk membukanya karena penasaran. Ia mendorong dengan hati-hati... BRUK!

Ini ketiga kalinya ia mengalami tabrakan. Namun sekarang bukan tubuhnya, atau hidungnya yang terasa sakit. Tetapi.. jantungnya.

"H-Hinata-chan? Kau sedang apa?"

Ini juga ketiga kalinya ia bertemu dengan.. "N-Naruto-kunn?"

Apa ini takdir? Oh, tentu bukan bodoh!

"..."

"A-a-aku sedang.. anu.. emm.. ketiduran—eh.. anu.."

"Hmm.. kenapa gelagapan? Tidak bilang juga tidak apa-apa" pemuda itu mengakhiri kalimatnya dengan senyum cengiran khas-nya. Hal itu yang selama ini menggelitik hati Hinata.

Gadis itu hanya tertunduk. Antara malu dan salah tingkah.

"Hmm.. kau sendirian, Hinata-chan? Di mana Neji?"

"Ah, Ne-Neji nii-san sedang ada tugas. J-jadinya aku p-pulang sendiri.."

"HAH? Bagaimana sih dia itu? Menelantarkan adiknya gara-gara tugas. Sepenting apa sih tugas itu?"

Hinata tersenyum, ".. eh, m-mungkin mengenai skripsi-nya. M-memang N-Naruto-kun k-kenapa be-belum.. p-pulang?" tanyanya hati-hati.

"Ohh.. aku habis mengambil tasku yang tertinggal gara-gara dihukum di lapangan tadi sampai jam segini.. oh iya, kita pulang bersama saja.."

"JANGAN!" tiba-iba gadis itu mengangkat dan menggoyangkan kedua tangannya. Hal itu membuat Naruto bingung. Hinata tertunduk dan memejakan matanya.. ".. gomenasai, N-Naruto-kun.."

"M-memangnya kenapa, Hinata-chan?"

"Eh, s-soalnya aku sudah p-pesan taksi. Kan t-tidak mungkin dibatalkan. Hinata bodoh!"

"Umm.. taksi ya? Ya sudahlah.. hati-hati ya!"

"I-iya.. Itekimashu, Naru~"

"Tapi kalau berjalan bersama sampai di depan gerbang, tidak ada salahnya kan? Hehe.. Apa mungkin taksinya menjemput di lantai tiga?"

"Eh, hihi.. Naruto-kun bisa saja", gadis itu tertawa sejenak. Hanya sejenak. Entah mengapa, tiba-tiba ketakutan muncul dalam benaknya.

Kemudian mereka berjalan perlahan menyusuri koridor. Perlahan tapi pasti, mereka akhirnya mencapai lantai dasar dan meninggalkan gedung sekolah. Ternyata di bawah masih ada beberapa siswa dan petugas kebersihan. Namun tak satu pun yang mereka kenal baik.

".. hmm.. apa kau menyukai mutiara, Hinata-chan?"

"Eh? M-mutiara? M-menurutku semua orang menyukainya. Memangnya Naruto-kun tidak suka?"

"Siapa bilang? Aku sangat menyukainya. Amat-teramat-sangat menyukainya. Apalagi, mutiara yang ada di matamu, Hinata-chan", ia tersenyum lebar dan puas.

"Ah.. Naruto-kun!" erangnya sambil tertawa. Betapa manis raut wajah yang ditunjukkannya. Membuat Naruto hampir mati berdiri dibuatnya.

"Tuhan itu baik ya, menciptakan makhluk seindah dirimu untuk aku cinta.. em.. " oops! Ia salah bicara, ".. untuk.. dunia yang sejelek ini. Heheee..." cengirnya salah tingkah.

Hinata tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

'Oh, Tuhan! Apa benar dia manusia?' ucap Naruto dalam hati.

"Emm.. N-Naruto-kun. Gomen, aku p-pulang dulu ya", pemuda itu tersentak ketika mengetahui ia telah mencapai gerbang sekolah. *) CLICK!

"Eh—oh iya, sampai lupa! Hati-hati ya, Hinata-chan! Kalau ada apa-apa di jalan beritahu aku ya! Pulanglah ke rumah! Jangan ke mana-mana lagi!"

"Ah, arigatou-gozaimashu N-Naruto-kun.. Itekimashu—sekhawatir itukah kau padaku, Naruto-kun? Kau, juga hati-hati ya.."

Naruto tersenyum dan berbalik menuju taman parkir.

...

Sesampainya di sana, ia merogoh saku celananya dan mencoba mencari sesuatu. sesuatu yang dari tadi bergetar di kakinya. Setelah itu ia mendapatkan telepon genggamnya dan menekan tombol hijau di keypad-nya.

"Ada apa?"

"Hey, dobe! Aku dan yang lainnya sedang ada di rumah Kiba. Kau mau datang tidak?"

"Hah? Di mana?"

"RUMAH KIBAAAAA! Tut.. tut.. tut..."

"HALO? SHIKA? HALO? Arghh! Dasar pelit pulsa!" dia memasukkan benda itu kembali dan menaiki sepeda motornya.

. . . .

"TADAIMAA..."

"Jam berapa sekarang, Hinata?"

Suara itu, menghantam telinga Hinata yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah.

"T-tou-san?"

"Apa kau bosan tinggal di rumahmu? Pergi ke mana kau tadi?"

Tenggorokannya terasa tercekik. Ia hampir tak bisa berkata-kata lagi. Dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk disampaikan. Sebenarnya ia tidak mau mendustai ayahnya. Tetapi dia juga tidak mungkin melaporkan Neji yang meninggalkannya. Itu terlalu sadis. Ia tidak mungkin menghancurkan kebersamaan Tenten dan..

"Neji. Ya, mana dia? Mana kakakmu itu? Kenapa dia tidak pulang bersamamu, huh?"

"Eh—a-anu, N-Neji nii-san sedang.. umm.. me..nger..jakan tugas skripsinya!" sahutnya dengan tempo lebih cepat di bagian akhir. Hinata sangat takut. Ia sudah terlanjur berbohong. Pelipisnya dialiri setetes peluh.

Hiashi memperhatikannya dengan seksama. Pandangan matanya kian tajam,"kuharap kau berkata jujur".

"Sumimasen, otou-sama!"

Ia menunduk. Kakinya melangkah perlahan menuju rangkaian anak tangga. Satu persatu ia lewati hingga akhirnya mencapai puncak lantai.

Dengan langkah lesu gadis itu membuka pintu kamar gaharunya dan melempar tas selempang hitamnya. Hinata bingung dengan perasaanya. Haruskah ia takut? Kecewa? Atau.. bahagia?

. . . .

"Hei, malam ini kita mau jalan kemana?"

"Apa? Malam ini? Kita? Hei bakka, sekarang kan hari Jumat!" Shikamaru berhenti meneguk minuman sodanya ketika mendengar ucapan Naruto barusan.

"Ya, lalu kenapa?"

"Hari Jumat dan Sabtu adalah saat yang tepat bagi para remaja untuk.. ya kau tahu, berurusan dengan cinta!" jelas Sai sambil tersenyum dan menyipitkan kedua matanya.

"Ya, wajar saja dia bertanya. Dia kan tidak pernah punya pacar.." Kiba tertawa, diikuti oleh yang lainnya.

"Hey, kau jangan tertawakan aku, Kiba! Memangnya.. kau punya pacar? Huh!"

Ia tertegun. "E-enak saja! Aku.. punya pacar kok!"

"Hah, mana buktinya? Kau saja tidak pernah cerita.."

"Memangnya harus? Untuk apa aku menceritakannya padamu?"

Empat orang lainnya memperhatikan pemuda bertato merah itu dan memikirkan sesuatu, Chouji mulai mengangkat suara beratnya, "hmm.. tapi, memangnya kapan kau pacaran, Kiba?"

"Umm.. b-baru-baru ini sih.. emm.. kenapa kalian melihatku seperti itu?"

Sai mengernyitkan dahinya.

"Yah, sebenarnya aku juga baru tahu kalau kau sudah punya pacar. Siapa namanya?"

"Ah, apa pedulimu? Sudahlah, tidak penting mengurusiku", pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Tidak peduli apa lagi perkataan yang akan ia dengar. Naruto memandangnya penuh tanya.

"Dasar aneh!" ketus Shikamaru.

"Hey, lihat! Film 'Frightening New Year' sudah ada di bioskop! Lihat iklannya!" tiba-tiba keheningan terpecah dengan gelegar teriakan histeris Chouji. Teriakan itu memang terdengar tidak penting. Tapi teriakan itu menyelamatkan mereka dari jerit rasa penasaran.

"Wah, kalau begitu ayo ke bioskop bersama setelah ini!" ajak pemuda berkulit tan itu dengan kegirangan. Ia tidak ingat sama sekali dengan pembicaraan barusan.

"Kau itu bodoh apa tuli, sih?"

"Bodoh dan tuli.."

"Huu.. lagipula siapa yang mengajak kalian? Aku akan mengajak Chouji, Lee dan.." ia memandang Sai penuh harap agar ia bisa ikut ke group lajang itu. Tetapi pemuda berkulit pucat itu malah tersenyum salah tingkah.

"A-aku.. maaf Naruto. Aku juga sepertinya tidak bisa"

"Huh.. pasti gara-gara Ino lagi.."

"Eh?"

"Ya sudah, kita bertiga saja!"

"Em.. Naruto? Aku.. ada janji dengan ayahku. Aku mau membantunya memasak", Chouji angkat bicara setelah mengingat janjinya membantu usaha restoran keluarganya.

"Ya sudahlah, kau dan Lee saja yang pergi. Jangan lupa bergandengan tangan kalau mau menyebrang.." Kiba kembali menghina sahabatnya.

"Hah! Diam kau, Kiba!"

BUAHAHAHAHAHA!

Hah..

. . . .

Dingin dan mencekam. Hembusan angin barat seakan menusuk tulang dan mempercepat desiran darah. Menelan isi hati yang kian tak menentu. Rembulan seakan tak datang, atau mungkin ia sedang bersembunyi?

Wajahnya sendu. Pandangannya sama sekali tak berganti. Memperhatikan latar biru berbintik putih kecil yang berantakan, seperti perasaannya. Sesekali ia menghela napasnya, dan seringkali bergumam mengingat secercah senyuman yang baru-baru ini menghangatkan harinya.

Rambutnya terurai lembut, melayang-layang di bawah langit. Gaun piyama putih berendanya seakan hendak membawanya terbang meninggalkan balkon marmer itu. Mungkin sebentar lagi peri-peri kecil akan segera menghampirinya, mengajaknya terbang ke khayangan untuk bersiap menyinari bumi yang kesepian tanpa cahaya. Namun gadis itu hanya manusia biasa.

"Psst.."

Hinata terkejut. Sesuatu telah membuyarkan lamunannya. Telinganya menangkap suara yang terdengar kilat dan membuat sengatan listrik di bagian saraf-sarafnya.

"Psst.."

Bulu kuduknya berdiri. Ia memeluk tubuhnya dan berusaha mencari-cari.. apapun.

"Psst.."

Kali ini kakinya melangkah perlahan ke belakang. Matanya membulat dan seakan menginterogasi rumahnya. Semak, pohon, taman, lampu, pagar..

UGH!

"Shhh..." sebuah telapak tangan kanan membekap mulut gadis itu. Ia terkejut setengah mati dengan sosok yang dilihatnya. Namun ia sama sekali tak berteriak. Hinata mengangguk menuruti perintahnya.

"Aku mohon jangan laporkan pada ayahmu, Hinata", pinta pemuda yang berdiri tepat di depan jendela kamar geser yang berukuran sangat besar dan tingginya mencapai lebih dari dua meter.

"Umph.. I-iya. Ta-tapi kenapa Naruto-kun bisa ada di sini?"

"Memanjat.."

"Eh—? B-bagaimana bisa? L-lagipula r-rumah Naruto-kun kan, ja-jauh", ia gelagapan. Dia bingung mau berkata apa lagi. Perasaannya bercampur aduk antara terkejut, takut dan senang.

"Hehe.. aku baru pulang dari rumah Kiba. Aku tidak sengaja lewat sini.." pemuda itu mengangkat kecil bahunya dan menjulur sempit lidahnya, "..lalu waktu aku melihat ke arah sini, aku melihat sesuatu yang bercahaya. Kukira tadinya bidadari jatuh dari surga".

Hinata berusaha sebisa mungkin menyembunyikan semburat merah yang luar biasa merayapi pipinya. Walau sebenarnya ia sedang berteriak kegirangan dalam hatinya. Tubuhnya terasa ringan dan hampir terangkat ke atas, seolah ia memiliki sepasang sayap besar berbulu putih.

Naruto tertegun. Ia memperhatikan gadis itu dalam diamnya.

"Ngh.. N-Naruto-kunh?"

Suara itu terlalu lembut dan sama sekali tak mengganggu pikiran pemuda itu. Kedua matanya menangkap tatapan sayu milik gadis Hyuuga yang telah lama tinggal dalam dirinya. Ia seakan tak ingin melepasnya. Aura keindahan Hinata terlalu memikat hatinya. Andai ia bisa menghentikan waktu...

Tok.. tok.. tok..

"Eh—?"

"Sumimasen, nee-san! Kata tou-san sudah saatnya makan malam. Kau tidak turun, nee-san?"

Suara Hanabi.

Salah satu klan Namikaze itu pun akhirnya sadar dari lamunannya. Dan di hadapannya kini adalah seorang gadis linglung yang sedang kebingungan mencari sesuatu.

"Aih, N-Naruto-kun, b-bagaimana ini?!" teriaknya setengah berbisik.

"Nee-san?!" anak di balik pintu itu merasa tak sabaran dan akhirnya membuka benda berbahan kayu yang tadi diketuknya.

"Nee-san?"

"Ah, i-iya?" Hanabi menemukan kakak perempuannya sedang duduk di pinggir tempat tidur dan mengaduk isi tasnya. Rupanya seorang yang lain telah berhasil bersembunyi dari panggilan maut.

"Nee-san tidak turun? Tou-san sudah menunggumu di bawah. Dan sepertinya setelah ini ada yang mau dibicarakan soal.. umm.. soal Neji-niisan", pada akhir nada bicara, gadis kecil itu sempat menggigit bibir bawahnya.

"Ah, b-baiklah Hanabi-chan. Aku akan segera turun sebentar lagi"

"Baiklah, nee-san. Aku pergi dulu", ucapnya sambil menutup kembali pintu yang dibukanya. Tepat setelah kamarnya kembali terasa aman, Hinata mengambil ancang-ancang untuk bangkit dan menemui seseorang di bawah tempat tidurnya.

"N-Naruto-kun, a-aku ke bawah dulu ya! N-nanti aku bawakan makanan", ia tersenyum dan segera menemui pintu keluar. Gadis itu mengunci kamarnya dan melenggang pergi menuju ruang makan, membiarkan orang asing di dalam rumahnya.

Naruto POV

Hah? Neji? Ada apa dengan dia? Sepertinya selama aku hidup, seorang Neji Hyuuga tidak pernah melakukan sesuatu yang salah. Dia kan perfeksionis, seperti pamannya. Hihi..

Ah, tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah, aku terjebak dalam kebodohan dan kecerobohanku sendiri. Berada dalam kamar seorang wanita yang tidak memiliki hubungan khusus denganku, dan sebentar lagi ayahnya akan datang dan memenggal kepalaku.

Menyedihkan. Bagaimana bisa aku melewati pagar rumah pencakar langit milik keluarga Hyuuga, masuk diam-diam tanpa ketahuan penjaga, dan berani memanjat dinding rumah Hinata? Mungkin benar kata teman-temanku. Aku sudah benar-benar gila.

Untung saja Hinata itu baik, dan tidak tega melihat diriku ditebas habis oleh ayahnya. Jadi, mungkin selama aku tidak macam-macam aku akan selamat dari kejaran babi hutan galak itu.

Aku pun segera keluar dari kolong tempat tidur yang sebenarnya terlihat lebih indah daripada kamarku sendiri. Mataku mulai berkeliling. Kamarnya sangat luas, bersih, rapi, dan wangi. Aromanya khas bunga Lavender, seperti aroma parfum yang selalu hinggap di tubuhnya setiap hari. Dindingnya berwarna violet. Gadis ini memang sangat menggemari warna lukisan bunga Sakura, pemandangan pedesaan, foto keluarga, dan keadaan kamar yang tenang sangat mendukung siapapun untuk terlelap.

Aku pergi menuju meja kecil yang berada tepat di sebelah meja riasnya. Astaga! Kaum wanita terlalu memusingkan.

Di atasnya terdapat beberapa bingkai foto yang memasang wajahnya, atau adiknya, atau keluarganya. Ah, membosankan. Akhirnya aku mencoba membuka laci mejanya dengan perlahan dan sangat hati-hati. Aku menemukan sebuah album foto. Aku pun segera mengambil dan membukanya.

Yah, seperti biasa. Hanya foto keluarga besarnya. Aku melihat sosok wajah ibunya. Dia cantik seperti Hinata. Namun sayang, dia meninggal. Aku tidak tahu kenapa.

Ah, bosan. Aku kembali memasukkan buku tebal itu dan mencoba mencari sesuatu yang lain pada laci yang selanjutnya. Dan aku menemukan album foto lain.

Aku membuka di halaman pertama album itu. Dan aku melihat sekumpulan anak-anak kecil tertawa riang, kecuali Hinata. Ia terlihat ketakutan dalam gambar itu. Ketika semua anak bersama, ia hanya diam di sudut fokus kamera. Aneh.

Lembar kedua, eh? Ada aku! Oh, aku hampir lupa kalau aku satu sekolah dengannya saat taman kanak-kanak. Dalam gambar itu aku sedang berlari bersama teman 5 sekawanku, yah tapi selain Sai Taro. Aku baru mengenalnya saat setahun yang lalu. Dan lagi-lagi dalam gambar itu Hinata sedang bermain ayunan... sendirian.

Aku membolak-balik lembaran itu. Terkadang aku tersenyum karena foto-foto itu mengingatkan masa kecilku. Album itu sekaligus memberi tahu bahwa aku sudah lama bersama-sama dengan Hinata. Tapi aku baru menyadari keberadaannya saat jenjang menengah atas. Dan entah ada angin apa, ada beberapa hal misterius yang membuatku jatuh cinta kepadanya.

Hah— aku meletakkan album itu kembali ke tempatnya. Kini tinggal satu laci yang belum kubuka. Berhubung aku ini penasaran dan masa bodoh dengan apapun— kecuali Hinata— aku kembali membukanya dan menemukan sesuatu yang lain. Tidak jauh dari benda yang sebelumnya, aku menemukan buku lagi.

Aku hampir ingin menutup laci itu kembali. Namun bentuknya yang tidak asing membuat pandanganku tertarik kepada buku itu. Diary..

Kondisinya menunjukkan kalau buku itu sudah lama disimpan. Ukurannya sedang, dan dapat dipakai sebagai buku gambar atau buku coretan.

Tapi aku sadar buku itu milik siapa. Aku membukanya dan terlihat sebuah gambar gadis kecil sendirian. Aku membalik lembaran itu, dan aku membaca tulisan dalam lembaran itu. Sepuluh tahun yang lalu..

Okaa-san dimana? Aku sendiri. Tou-san galak.

Kalimatnya singkat. Namun artinya jelas kalau anak ini sedang mencari ibunya yang sudah lama meninggalkannya. Kasihan pacarku—eh?

Uzumaki Naruto.. dia memberikan apelnya dan mengajakku naik seluncuran.

Hah? Bahkan aku tidak ingat kejadian itu. Sudah lama sekali.

Dia baik sekali.

Aku melompati beberapa halaman. Aku tidak mungkin menyelesaikannya dalam keadaan terburu-buru seperti ini. Jari telunjukku berhenti memutar lembaran pada bagian ia mengucapkan selamat tinggal pada diary-nya. Hey, dia mengucapkan selamat tinggal padaku. Dan aku baru ingat kalau waktu itu dia pindah entah kemana, dan akhirnya kembali ke tempat ini lagi saat jenjang sekolah menengah pertama.

Benarkah kalau Hinata mengagumiku sejak kecil? Aku kurang percaya.

Hari ini aku bertemu dengan Naruto-kun , dia semakin tinggi dan tampan. Senyumannya sangat indah dan bahagia. Aku iri. Tapi aku merasa sangat bahagia setelah 3 tahun berpisah dengannya dan akhirnya dapat melihat wajahnya lagi. Aku mencintaimu..

Hmm.. kali ini aku membaca tulisan empat tahun yang lalu. Tepat di malam saat aku tiba-tiba saja merasakan getaran hebat dan pikiranku yang tak pernah lepas dari gadis ini.

Oh, dia melihatku! Waktu terasa berhenti ketika ia menangkap pandanganku. Sesuatu seakan menusuk jantungku hingga berhenti berdetak. Tapi tentu saja aku tidak berani menatapnya terlalu lama. Memang aku bisa apa? Mana mungkin dia membalas perasaanku?

Jantungku berdegup kencang. Aku berkli-kali menyadarkan diriku. Apa aku sedang bermimpi?

Benarkah Naruto-kun menyukaiku? Ah, tidak mungkin. Aku pasti terlalu banyak minum soda atau mungkin sedang sakit kepala. Mana mungkin? Dia berhak mendapat gadis lain yang lebih cantik dan ceria dibandingkan memilih diriku yang pemalu dan penakut, bahkan takut untuk mengungkapkan perasaanyang disimpannya sendiri selama lebih dari 7 tahun. Aku sangat mencintaimu, Naruto-kun..

Menurutku ini sudah cukup menyadarkanku. Aku berniat menutupnya dan kembali menyimpannya. Aku merasa lancang telah membuka privasinya. Namun di halaman terakhirnya..

Jangan lakukan itu, Sasuke! Jangan ganggu Naruto-kun! Kenapa kau menyalahkan dia atas ketidakbahagiaanmu? Kumohon tinggalkan dia! Pergilah!

To Be Continued..

Summary of Next Chapter..

Chapter selanjutnya adalah bagian sudut Hinata yang berbicara.

...

"Hinata-chan.." suaranya mengusik telingaku. Rasanya aku ingin menutup keduanya, namun aku mengurungkan niatku dan tetap mendengarkannya.

Tiba-tiba kedua telapak tangannya menyentuh pundakku yang bergetar. Aku sangat malu dengan keadaanku. Seorang gadis pemalu yang ketakutan dengan perasaannya sendiri.

Ia memelukku. Aku terkejut setengah mati. Namun aku berjanji tidak akan lari lagi.

...

Gimana minna?

Apakah ceritanya semakin ga nyambung? Ku mohon reviewnya..

Apapun akan author terima ala kadarnya

Jangan segan-segan juga untuk nge-flame. Flame yang bermanfaat akan sangat berguna bagi author. Semua masukan pasti author terima, karena author bukanlah pembuat fiksi yang sempurna.

Halah.. cukup bacotnya.

seperti kata-kata author kemaren, author sedang berusaha menepati janji untuk mencegh kekecewaan readers.. haha.

Semoga readers mau mebaca next chapternya.

See ya... :*