IV
Jungkook tersentak ketika penyelamatnya berhenti diluar alun alun. Hoseok berusaha mengatur napas, menahan pusing ketika ia menyadari bahwa ia sangat kelelahan. Hoseok tidak boleh pingsan dan menjadi beban bagi mereka.
"Kenapa kita berhenti?", tanya Jungkook sembari meremas tangan Hoseok yang membungkuk dengan keringat bercucuran. Penyelamatnya terdiam beberapa saat, mengisi ulang peluru senapan yang tergenggam erat di tangannya.
"Mereka tak akan menemukan kita disini, kita cukup aman".
Jungkook menatap tidak percaya. Pria berambut cokelat itu berputar, kerutan kecil terpeta di dahinya, "Aku Seokjin, omong omong".
"Aku menghargai apa yang kau lakukan tadi, terimakasih", Hoseok berucap dengan suara parau. Seokjin mendengus, melirik Jungkook yang balas memelototinya.
"Maksudmu, menyelamatkan bokong bokong menyedihkanmu?".
Hoseok menahan lengan Jungkook ketika temannya menggeram, "Begitulah".
Mereka pun melanjutkan langkah. Seokjin berjalan di depan, ia menggeleng sesaat. Ia tak bisa membayangkan sebodoh apa kedua pria itu hingga berada di tempat yang sudah jelas tidak aman lagi.
"Apa yang kau lakukan di alun alun, hah? Mau bunuh diri?".
"Dulunya itu tempat tinggal kami, sebelum para tentara Berg berdatangan", Hoseok menjawab cepat, sebelum Jungkook dapat membalas dan memperburuk keadaan mereka. Meski Seokjin tidak terlalu ramah, tapi pria itu telah menyelamatkan nyawa Jungkook. Hoseok tidak akan membiarkan pertengkaran terjadi akibat emosi Jungkook yang tidak bisa dikendalikan.
"Oh, maksudmu para keparat itu? Mereka melakukan hal yang serupa kebeberapa tempat. Mengubah orang orang menjadi sinting, kau tahu?".
"Ya, kau menyebut mereka Crank".
Seokjin mengangguk, mereka berbelok pada tikungan di ujung distrik. Rumah reyot terpajang sepanjang jalan. "Mereka mengidap penyakit yang dapat menular melalui darah".
"Jadi, panah itu menyebarkan penyakit?".
"Tepat".
Hoseok tampak berpikir, ada yang menganggunya. Ia teringat kejadian pada malam penyerangan. Beberapa orang yang terkena anak panah langsung tewas seketika itu juga. "Bagaimana dengan orang orang yang mati ketika panah itu mengenai mereka? Dan mengapa berbeda dengan para Crank?". Seokjin menatapnya sepersekian detik, kerutan pada dahinya bertambah dalam, ia berulang kali memikirkan pertanyaan itu.
"Seandainya aku tahu".
Ia pun mempercepat langkah, senapan tercengkeram erat dikedua tangannya. "Namamu Hoseok, benar?".
"Ya, dan ini Jungkook".
"Bocah bocah beruntung yang dapat bertahan dari kiamat", Seokjin mendengus sinis. Hoseok terlambat untuk menghentikan Jungkook yang sudah membuka mulutnya dan melontarkan segala amarah yang ia pendam sedari tadi.
"Apakah kau protes? Dan sebetulnya, kami baru saja menelantarkan satu teman. Tidak terlalu beruntung, kan?".
Seokjin tidak berkata apa apa. Hoseok menghindar menatap temannya yang terlihat kacau dan tertekan. Ia hanya akan teringat Taehyung melalui tatapan gelisah Jungkook. Bagaimana Taehyung akan bertahan sendirian? Mereka berdua baru saja meninggalkannya…lagi.
Bola mata Seokjin bergerak gerak resah, ia sudah memikirkan rencana yang akan dilakukannnya sebelum bertemu dengan kedua pria yang baru saja ia selamatkan. Seharusnya, Seokjin hanya melewati alun alun, tapi ketika mendengar jeritan histeris Hoseok, ia terpaksa memeriksa. Seokjin terkejut bukan main menemukan dua bocah tak berotak yang berusaha melawan Crank dengan tangan kosong.
Bagaimana dengan rencananya sekarang? Sesuatu yang sangat beresiko dan bisa dibilang nekat. Parahnya lagi, Seokjin membawa dua pria yang harus mempertaruhkan nyawa mereka di garis depan.
Seokjin menarik napas dalam dan berusaha mengabaikan pemikiran itu. "Ayo jalan, jangan manjakan tubuh kalian".
"Kita mau kemana, sih?".
"Ikut sajalah. Aku mempunyai rencana untuk pergerakan kita selanjutnya".
Jungkook menatapnya malas, "Oh, ya? Gerakan macam apa yang kau pikirkan, hah?".
Seokjin berbalik badan, bola matanya menyala penuh tekad. Senyum yang tersungging di wajah bengisnya membuat Jungkook bungkam dan Hoseok berpaling gugup.
"Kita akan melumpuhkan sebuah Berg", Seokjin tertawa ketika Jungkook menganga lebar, "Bagaimana dengan itu, bocah songong?".[]
Hoseok membelalakan mata, sedikit mengambil langkah mundur ketika Seokjin terlihat puas dengan reaksi yang mereka berikan. "Apa kau gila?!", Hoseok menghardik.
Seokjin tak menunjukkan gurauan sedikitpun, Hoseok menggeleng tidak habis pikir. "Ayolah, aku tau kau hebat. Tapi sebuah Berg? Apa kau sinting?". Seokjin menatap Hoseok dengan kerutan pada sudut bibirnya yang pecah pecah, entah ia sedang tersenyum atau menyeringai. "Kau tahu, bocah? Kita semua akan menjadi gila tak lama lagi. Sebelum itu terjadi, aku berharap kita dapat menghancurkan para bedebah itu".
"Aku setuju", Jungkook mengangguk mantap, membuat Hoseok berbalik badan dan nyaris pingsan. "Kau juga?!".
"Hyung, kita tidak boleh tinggal diam. Kau tahu apa yang telah mereka perbuat kepada kita, kan?".
"Ya, memang mengerikan, Tapi-".
"Taehyung".
Hoseok terkejut ketika Jungkook menyebut nama temannya. Hoseok terbungkam untuk beberapa detik. Pedih bergejolak di dadanya dengan dentuman hebat yang tidak dapat berhenti.
"Menyelamatkan itu tidak semudah mengucapkannya, Jungkook".
Seokjin meletakkan telapak tangannya pada pundak Hoseok, membuatnya sedikit terkejut. Ia menoleh dan melihat raut garang pria itu telah melembut sepersekian persen.
Seokjin pun menatap mereka bergantian. Ia bergerak mondar mandir dan berkata, "Apa yang akan kita lakukan itu berbahaya. Tapi, Aku tau kalian berhak mengakhiri hidup dengan perjuangan, bukannya berubah menjadi salah satu dari orang berpenyakit".
Hoseok mengangguk angguk. Ia mencoba mengenyahkan ketakutan yang tengah mengecamnya, berusaha bersikap percaya diri meski jantungnya bertalu talu dan kedua kakinya selemas agar agar.
"Yah, kurang lebih begitu", Seokjin berderap mendekat, kerutan terpapar lagi dirautnya yang kaku, sepertinya ia telah melalui banyak kejadian mengerikan setelah bencana.
"Dengar, Aku tidak bisa bilang aku mampu menjamin keselamatan kalian. Ini tentu berbahaya, bahkan, nyawa kita dipertaruhkan". Hoseok menenggak ludah, Seokjin pun melanjutkan.
"Aku tidak tahu apa yang mampu membangkitkan semangat kalian. Kalau kalian tidak mau ikut, tak apa. Tapi ingat, mereka tak akan pernah memberi ampunan". Jungkook mendongak kecil, menatap penyelamat mereka dengan kemantapan yang teguh.
"Aku tidak begitu suka mengatakannya, Tapi aku akan mengikuti rencanamu".
"Bagus", Seokjin tersenyum tidak ikhlas dan menoleh kepada lelaki yang bergerak gerak gugup. "Bagaimana denganmu, Hoseok?".
Hoseok mengepalkan telapak tangannya yang berkeringat. "Y-Yah, Mungkin memang sudah saatnya aku melakukan sesuatu". Hoseok tertawa gugup ketika wajah Jungkook berseri seri, bahkan senyum tipis berhasil terukir di bibirnya.
Mereka pun kembali berderap, mentari mengeringkan cairan pada tubuh mereka yang terbakar, kalau mereka tidak menemukan air, sebentar lagi mereka akan mengalami dehidrasi berat.
"Aku telah mengetahui lokasi pendaratan Berg selanjutnya", Seokjin mengumumkan. Jungkook menoleh, kernyitan dalam terpampang pada dahinya, "Bagaimana kau tahu?".
"Aku selalu memantau".
"Mmmm", Jungkook mengangguk berlebihan, Hoseok paham pria itu tengah mengolok ngolok. "Keren sekali".
Seokjin mengerang tertahan, berusaha bersabar menghadapi bocah yang selalu saja membuatnya naik pitam. Ia menghela napas dan menodongkan senjatanya ke wajah Jungkook, setidaknya reaksi tersentak pria itu sedikit menghiburnya. "Sebaiknya kalian tidur. Perjalanan panjang menunggu".
"Aku yang jaga", Jungkook mendengus dan menjauhkan diri dari mereka. Kedua temannya pun merebahkan tubuh pada tanah yang berdebu, meski keras dan tidak nyaman, mereka sudah terbiasa tidur di tanah. Rasanya, berbaring di ranjang sudah berlalu sejak ribuan tahun yang lalu.
Tak lama kemudian, mereka terlelap. Jungkook menatap langit yang mulai menggelap sembari terlalut dalam pikirannya sendiri. Ia teringat beberapa kenangan yang kerap berkelebat dan menganggunya, bahkan trauma yang membangunkan Jungkook dari tidur.
Seandainya dunia tidak terkena ledakan sinar matahari, apa yang akan ia lakukan?
Jungkook memandangi beberapa rumah yang hancur diberbagai sudut distrik dengan nanar. Debu berterbangan menyelubungi tubuhnya yang pegal pegal, dan tak terasa, matanya pun memberat. Tiba tiba, Jungkook mendengar sebuah jeritan. Jeritan yang tak akan pernah ia lupakan.[]
Jungkook berlari secepat yang ia mampu. Suara bergemuruh terdengar dibelakangnya. Trotoar bergetar dengan hebat, orang orang menjerit dan saling dorong untuk menghindari kematian yang akan menjemput mereka.
"Apa yang terjadi?!".
"Air! Sangat banyak air!".
Taehyung berteriak dengan ketakutan. Jungkook menggenggam tangannya, tak akan pernah membiarkan pria itu pergi.
"Kita akan aman digedung itu!", Jungkook berteriak, menunjuk sebuah gedung pencakar langit yang terletak beberapa meter dari mereka. Hoseok mengangguk dan mempercepat larinya. Tiba tiba, terdengar lolongan mencekam dan air setinggi sepuluh meter meruak diantara gedung yang mulai ambruk, menelan banyak korban yang hanyut dengan begitu cepat dan terlupakan begitu saja.
Tubuh tubuh bergelayutan diantara mereka, menyelubungi Hoseok dalam ketakutan yang tak terperi. Genangan pun mulai merenggut kedua tungkainya yang menjerit kepanasan, menyeretnya dengan gejolak yang hebat.
Hoseok membelalak sakit, "Panas!".
Taehyung berputar terkejut dan berteriak ketika air mencengkeram mata kakinya. Ledakan sinar matahari telah menaikkan permukaan air dengan cepat. Banjir telah terjadi diberbagai belahan dunia.
Jungkook menggertakkan gigi, kulitnya mulai terbakar dan melepuh. "Ayo! Sedikit lagi!".
Jungkook menyeret teman temannya yang terjerembab beberapa kali. Ia mengerang menahan sengatan dan memacu kedua kakinya yang mengejang hebat.
"Jungkook! Aku tidak bisa!".
Ia mendorong Taehyung dan menjaganya dari genangan air.
"Kita akan bertahan!", Jungkook dapat mendengar debar jantungnya memompa keras, mengomando anggota geraknya untuk tetap bekerja. Ia menjaga tubuhnya agar seimbang, kalau ia terjatuh, tamatlah sudah riwayatnya.
"Itu! Itu gedungnya! Cepat!", jantung Hoseok berpacu dan ia mengangguk. Dua meter, satu meter. Jungkook melompati anak tangga gedung dan mendobrak pintu ganda hingga menjeblak terbuka. Hoseok berlari menaiki tangga berikutnya, Taehyung mengikuti tepat dibelakang.
"Jungkook!".
Pria itu menoleh dan membelalakan mata. Hoseok tengah mencengkeram lengan Taehyug kencang. Setengah badannya terendam oleh air yang bergelombang. Taehyung menjerit, menahan panas pada seluruh tubuhnya.
"Jangan lepaskan!".
Jungkook berlari kearah mereka dan menarik Taehyung sekuat tenaga, otot ototnya menegang dan berkecamuk ingin berhenti. Genangan air menyeruak semakin tinggi, mayat mayat berhanyutan ditelan gelombang.
Taehyung berteriak ketika jemarinya tergelincir dan ia tercebur kedalam banjir yang mengamuk.
"Taehyung!", Jungkook membelalak dan menceburkan diri kekedalam air tanpa berpikir panjang.
"Jungkook!", Hoseok berteriak dengan panik, tubuhnya bergetar dan memucat. Bola mata Hoseok bergerak mencari cari. Ia tak dapat menemukan bayangan apa pun di dalam air yang menggelegak hebat.
"Jungkook! Kau dimana?!", Hoseok meremas rambutnya frustasi, ia berlutut di depan gedung, nyaris menangis ketika ia tak kunjung menemukan kedua temannya di antara riak air. Hoseok berteriak ketika gelombang menyerang di antara gedung pencakar langit, jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Ia tercekat lega ketika sebuah kepala menyembul dari permukaan air. Tubuh Jungkook sangat merah dan melepuh.
"Hyung!", Jungkook menggapai nggapai tanpa daya. Hoseok tersentak dan segera mengulurkan lengannya, berusaha mengenggam jemari Jungkook yang tergelincir akibat basah.
"Ayo, Jungkook!". Taehyung terkulai tak berdaya dipundaknya yang gemetaran.
"Jungkook! Pegang tanganku!".
"T-Tidak bisa, Hyung!".
Jungkook mempertahankan dirinya dari serangan arus, ia menjulurkan jemarinya lebih jauh, berusaha menggapai Hoseok, tetapi tak ada yang dapat ia perbuat.
"Terlalu jauh!", Jungkook berteriak dan meraup raup udara. Hoseok menggertakan gigi dan menjangkau sejauh yang ia mampu, hingga telapak tangan Jungkook dapat meraih genggamannya.
Hoseok menyeret semua beban sekuat tenaga. Lengannya berteriak hendak lepas dari engselnya. Ia menggeram dan kembali menyeret, Hoseok mengangkat Jungkook dengan seluruh kemampuannya, dan perlahan, tubuh mereka pun mulai terangkat ke tepian.
Hoseok melontarkan Jungkook ke dasar gedung. Jungkook terbaruk batuk dan bergoncangan hebat, air menetes netes dari setiap senti tubuhnya. Ia menghirup udara, berusaha melupakan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang melepuh. Dan pada saat seperti ini, Hoseok pun menyadari bahwa Jungkook sangat ketakutan
"Apa kau baik baik saja?!", Hoseok bersimpuh di samping temannya, meremas pundak Jungkook yang meringis kesakitan.
"Y-Ya, Hyung. Ya-Aku tak apa".
Tetapi, ada hal lain yang membuat pria itu ketakutan setengah mati.
"Taehyung". Jungkook menatap lelaki yang tergeletak dengan bibir membiru dan tubuh pucat.
Jungkook segera mengangkat kepala Taehyung dan membaringkan pria itu di pangkuannya. Hoseok berdiri takut ketika Jungkook memompa dada Taehyung dengan jemari yang bergetar, memberinya napas buatan. Jungkook menggeram dan menyumpah ketika Taehyung tak kunjung membuka mata. Aliran air menderu disamping mereka bertiga, menghanyutkan mayat mayat yang tak pernah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan hidup lagi.[]
