A/N : Bayangkan, dua tahun ini cerita terbangkalai dan ketika sadar aku shock liat yang riview itu sampai lebih dr perkiraan aku. Hikd, aku sempet nangis nginget kalian yang udah dukung aku tapi aku menghilang gitu aja. Ntah apa yang harus aku lakukan sekarang, tapi yang bisa aku kasih cuma apdetan ga jelas ini. Gomennn T-T
Warning : My story is full of my imagine
EYD parah, AU, Sho-ai, Yaoi, BL, OOC, SasuNaru, Typo(s), NonCanon.
Genre : Humor / Romance / Friendship / General
: Disclaimer :
Naruto by Masashi Kishimoto
Okay! Yes I'm jealous! by upannokitsune
Arigatoo (-/\-)
Sasuke menatap kumpulan soal di hadapannya dan tersenyum tipis, bahkan sangat tipis untuk dilihat oleh siapapun.
Tangannya dengan apik mengukir setiap rumus dan angka di atas kertas, dalam beberapa menit kertas itu sudah penuh dengan tulisan tangannya.
Sasuke menengok ke luar jendela, pemuda pirang yang selalu menempel padanya kini tengah bergerak lincah memacu kakinya berlari dengan seragam olahraga yang terlihat lusuh karena keringat.
Tapi.. apapun yang terjadi, pada akhirnya kau akan jatuh hati padaku, teme. Akan ku buat kau melakukannya.
Sasuke mendengus mengingat perkataan yang di dengarnya beberapa saat lalu, dimana Naruto mengirannya tidur namun sebenarnya ia sepenuhnya sadar.
"Jangan mengatakan apapun yang mustahil, dobe." Sasuke bergumam.
Padangannya kembali ia alihkan, kurang dari sepuluh menit lagi bel istirahat akan berbunyi, ia memutuskan untuk mengumpulkan kertas ujian tersebut dan pergi ke perpustakaan.
Sasuke menghela napas tenang, perpustakaan adalah tempat dimana ia bisa mendapat ketenangan selain di kamarnya (itupun ketika Naruto atau Itachi mengganggunya).
Buku setebal empat ratus halaman itu menjadi peneman Sasuke untuk saat ini. Wajah dinginnya membuat beberapa siswa perempuan yang berada disana berbisik hingga mendapat teguran dari sang penjaga perpustakaan, sedangkan yang menjadi pusat perhatian tak memberi reaksi apapun.
"Jika kau datang kesini hanya untuk tidur, lebih baik kau pulang," ujar Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Ck, kau menjadi semakin berisik akhir-akhir ini Sasuke," Shikamaru menanggapi sarkas Sasuke dengan santai dan membaringkan dirinya acuh pada sofa yang ada.
Sasuke melirik Shikamaru tajam, "Apa maksudmu."
Shikamaru menatap Sasuke dengan senyum miring, sesungguhnya Shikamaru memahami Sasuke dengan sangat. Otak jenius ditambah kemampuan menganalisis yang sangat baik dan berteman dengan Sasuke sejak sekolah dasar membuat dirinya paham betul bagaimana seorang Uchiha Sasuke.
"Semakin hari Naruto semakin menempel padamu, tuan Uchiha. Semua tahu bahwa kau sangat banyak bicara ketika bersamanya walau kau hanya terus memakinya, padahal jika kau mau kau bisa saja tidak melayaninya dan mengabaikannya. Lalu mengapa kau tidak melakukannya jika menurutmu dia mengganggu?"
Sasuke bungkam dan memilih kembali fokus pada buku bacaannya, sedangkan Shikamaru tersenyum tipis dan mendengus.
"Tidak satu atau dua tahun aku bersamamu, Sasuke. Bahkan selama sepuluh tahun kita tidak pernah berpisah kelas dan aku selalu bersamamu," ucap Shikamaru sebelum memutuskan untuk menjelajah pada alam mimpi.
"Lalu bagaimana dengan kau dan bocah anjing itu, rusa."
Ucapan Sasuke membuat Shikamaru kembali membuka matanya cepat dan menatap pemuda raven itu. Ia bangun dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak satu atau dua tahun aku bersamamu, Nara. Bahkan selama sepuluh tahun kita tidak pernah berpisah kelas dan aku selalu bersamamu," ucapan yang diucapkan Shikamaru menjadi boomerang baginya sendiri.
Shikamaru tertawa kecil, "Kau adalah manusia paling menyebalkan yang pernah aku kenal, sialan."
Sasuke mendengus dan tersenyum kecil, pertemanan diantara keduannya memang tidak terbangun dari suasana yang harmonis seperti kebanyak orang. Mereka punya cara sendiri untuk bagaimana saling memahami.
Dilain sisi, pemuda dengan taring tajam tengah menatap vending machine dengan sangat teliti. Keringat mengucur pada pelipisnya dan tatapannya fokus pada dua minuman di hadapannya.
Tangan usil itu memencet salah satu tombol yang menyala, menyebabkan sepasang bola mata coklat itu membelak jengkel.
"Apa yang kau lakukan?!" ujarnya murka.
"Kau terlalu lama hanya untuk memutuskan rasa strawberry atau apel, Kiba," ucap pemuda itu santai.
"Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya ketika uangmu habis dan kau menginginkan keduanya lalu kau dengan seenaknya menekan tombol itu ketika aku belum selesai berpikir?!"
"Kau bisa mati kehausan jika terlalu banyak berpikir."
Perempatan imajer tercetak pada pelipis Kiba, ia menjitak kepala Naruto sebelum alhirnya mengambil minumannya yang masih berada pada loker vending machine tersebut.
"Ah! Ittai, kau sudah gila?!" teriak Naruto tak terima.
"Itu akibat kau selalu berbuat seenaknya," Kiba berjalan menjauh meninggalkan Naruto yang masih meringis. Ia harus segara membilas tubuhnya dan mengganti pakaiannya, tubuhnya sudah terlalu lengket sekarang.
Naruto merutuki perbuatan karibnya dan berlari menyusulnya, setelah ini pelajaran sejarah, ia harus mempersiapkan diri untuk tidur nyenyak nanti.
Sasuke dan Shikamaru berjalan beriringan menuju kantin, setelah perdebatan tak penting mereka di perpustakaan membuat perut mereka keroncongan.
Dua sejoli itu tampak tidak peduli dengan bisikan-bisikan dari siswa siswi yang lalu lalang di koridor sekolah.
"Ck, apa istimewanya aku dan patung berjalan sepertimu sampai-sampai menjadikan kita buah bibir," Shikamaru sedikit banyak merasa risih ketika seluruh mata tertuju padanya dan Sasuke.
"Ini jauh lebih baik tanpa neji," Sasuke yang memanh tidak peduli hanya menganggap semua itu angin berlalu.
"Kheh, jika dia masuk pasti kita tidak akan bisa berjalan. Aku yakin mereka tidak mendekat karena kau menguarkan aura intimidasi, Sasuke."
"Hn."
Setelah memesan makanan, Shikamaru dan Sasuke memilih untuk kembali ke kelas dan memakan makanan mereka disana karena kantin terlalu ramai.
Ponsel Sasuke berdering ketika mereka baru saja mendaratkan bokongnya pada kursi.
"Manusia yang baru saja kita bicarakan kini menelponku," Sasuke menggeriling malas.
Ia mengangkat telepon itu dan memdengar sahutan suara bass dari sang penelpon.
Setelah Sasuke ber-hn ria selama benerapa menit akhirnya telepon kembali di tutup.
"Ia akan tiba besok sore," ucap Sasuke.
Shikamaru menaikan alisnya dan menghela napas, "Haruskah kita menjemputnya ke bandara?"
Sasuke mengangkat bahu acuh, ia memilih menggigit onigiri ekstra tomatnya dan mengunyahnya penuh khidmat.
"Sebaiknya kita jemput saja dia," putus Shikamaru.
"Hn."
Setelah percakapan itu tidak ada lagi komunikasi diantara mereka berdua, keduanya sibuk mengisi perut mereka dengan makanan masing-masing.
Kiba keluar dari bilik bilas dengan handuk yang disampirkan di pundaknya, pemuda Inuzuka itu bersiul ringan sambil mengenakan perlengkapan seragamnya.
Ia mengalihkan pandangan pada Naruto yang hari ini terlihat lebih kalem dari biasanya.
"Hey, kau ada masalah?" Kiba menegur Naruto yang menatap ponselnya dengan tatapan kosong.
"Hey, Naruto. Kau baik-baik saja?" Kiba semakin khawatir Naruto menatapnya horror.
"Kyuu-nii akan pulang lusa..."
Kiba membeku, tatapannya berubah horror dan ia menatap Naruto intens. "Candaanmu tidak lucu, Naru."
Naruto memperlihatkan surel yang diberikan padanya sekitar dua jam yang lalu, Kiba merinding ketika membaca pesan itu dan menatap iba Naruto.
"Kita kuat kawan."
Suigetsu masuk kedalam ruang ganti dan terloncat ketika melihat dua teman kelasnya terkapar tanpa nyawa di bangku loker.
"K-kiba, N-naruto? Kalian masih hidup?"
TBC
.
.
.
A/N : Untuk kalian yang menunggu author tak bertanggung jawab ini, akhirnya aku kambek. Gomen gomen gomenn, bahkan bermilyar milyar gomenpun Upan pikir masih ga cukup buat minta maaf ke kalian. Penulisanku juga mungkin berubah, aku gatel pengen revisi tapi aku tahan dulu dan mikir untuk selesaikan cerita ini yang entah kapan akan selesai. Terimakasih jika ada yang masih nunggu. Hountoni gomenasai T-T
MIND TO RIVIEW OR FLAME?
