Main Cast : Jeon Wonwoo

Genre : Romance and Friendship

Disclaimer : Mine

Rating : PG-15

Warning : Typo

By : Yara

.

.

.

Suara high heels menggema di sebuah rumah mewah. Membuat beberapa wanita yang tengah berbenah berjalan ke ruang tengah. Seorang wanita cantik berjalan dengan anggunnya. Meski di usianya yang tidak muda lagi, tidak terlihat keriput di wajahnya. Justru terlihat sangat cantik dengan rambut bergelombang sebahu yang dibiarkan tergerai.

Kaki rampingnya ia langkahkan ke setiap anak tangga. Beberapa maid yang melihat saling menyikut.

"Kau saja yang katakan!" ucap seorang wanita bertubuh kurus.

"Tidak. Sebaiknya kau saja!" wanita yang memiliki tubuh lebih tinggi menggeleng. Sedangkan wanita lainnya langsung menggeleng sebelum diperintah. Saat mereka sibuk saling tunjuk, wanita cantik itu sudah menuruni tangga. Ia tampak sibuk dengan tas di tangannya.

"Kalian tetap perhatikan pola makan Wonwoo ku," ucap Wanita cantik itu tanpa menatap para pelayannya.

"Nyonya—"

"Aku tidak bisa berlama-lama. Masih banyak yang harus ku kerjakan."

"Nyonya, tuan muda Wonwoo—"

"Katakan padanya aku sudah mentransfer uang ke rekeningnya. Sudah beberapa hari dia sulit untuk di hubungi."

Belum sempat para pelayannnya berbicara, wanita cantik itu sudah memasuki mobil. Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, mobil mewah itu langsung melaju. Menimbulkan desahan-desahan kecewa dari beberapa manusia yang berdiri di ambang pintu.

"Ya Tuhan bagaimana ini?"

"Sampai sekarang nyonya tidak tahu kalau tuan muda sudah tidak tinggal di sini lagi."

"Kasihan tuan muda Wonwoo."

Saat para pelayan itu tengah berbisik-bisik, pelayan Kim hanya menunduk sedih. Ia kembali teringat dengan nasib tuan mudanya. Sampai detik ini, remaja berusia tujuh belas tahun itu tidak menghubunginya. Ia yakin tuan mudanya mengalami kesulitan, tapi seperti kebiasaanya sedari kecil, tuan mudanya selalu menahannya seorang diri. Memendamnya dalam diam. Tanpa membiarkan orang lain memasuki hidupnya.

.

.

.

Soonyoung tersenyum melihat amplop di tangannya. Hari ini adalah akhir bulan. Dan mereka semua mendapat gaji masing-masing. Dengan semangat, ia mengambil tas dan jaket di dalam lokernya. Menemui anak-anak lain yang menunggu di depan.

"Kalian pulang saja lebih dulu. Aku mau menemani Jihoon ke suatu tempat," ucap Soonyoung sambil menghampiri teman-temannya. Mereka semua mengangguk. Tanpa bertanya, anak-anak yang memang segera ingin sampai di rumah langsung beranjak pergi. Meninggalkan Soonyoung yang masih menunggu Jihoon.

Beberapa menit kemudian, Jihoon muncul dengan ransel yang tersampir di pundaknya. Lelaki mungil itu berjalan dengan tidak semangat. Berbeda dengan Soonyoung yang tampak sangat bersemangat.

"Eh…mana yang lain?" tanya Jihoon saat baru menyadari hanya ada mereka berdua. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tidak menemukan siapapun. Hanya orang yang berlalu lalang di jalanan.

"Mereka sudah pulang!"

"Pulang? Kenapa mereka meninggalkan kita?" tanya Jihoon tidak terima. Biasanya mereka selalu menunggu satu sama lain. Selalu pergi dan pulang bersama. Sesuai nasehat Seungcheol, pergi pulang harus dalam keadaan lengkap.

"Aku yang memintanya. Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Belum sempat Jihoon bertanya lagi, Soonyoung sudah menarik tangan Jihoon. Membuat pemuda mungil itu mau tidak mau berlari kecil menyamai langkah Soonyoung.

"Untuk apa kita ke sini?" tanya Jihoon bingung. Mereka saat ini berhenti di depan sebuah toko.

"Karena kita sudah menerima gaji bulan ini, aku mau membelikanmu sebuah robot. Mengganti robotmu yang sudah usang itu." Soonyoung tersenyum lebar. Membuat matanya semakin menyipit. Tangannya merogoh amplop yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya.

Mendengar ucapan Soonyoung, raut wajah Jihoon berubah. Ekspresi pemuda itu menjadi datar. Matanya menatap tidak suka ke arah Soonyoung. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Jihoon pergi dari tempat itu. Menabrak bahu Soonyoung hingga terdorong ke belakang.

"Jihoon-ah tunggu!" Soonyoung mencekal lengan Jihoon. Namun langsung ditepis kasar. Mata Jihoon berkilat marah. Dan lagi-lagi ia pergi begitu saja.

Baru beberapa langkah, Soonyoung kembali mencekal lengan pemuda mungil itu. Membuat Jihoon menggeram marah.

"Lepaskan!" desis Jihoon tajam.

"Kenapa kau selalu sensitif setiap membicarakan tentang robot-robotan itu? Aku hanya ingin membelikanmu yang baru. Yang lebih bagus dari—"

"Aku tidak butuh!" Jihoon langsung memutus ucapan Soonyoung. Membuat pemuda bermarga Kwon itu langsung mengatupkan bibirnya. Untuk ke dua kalinya, Jihoon menepis tangannya dengan kasar. Wajahnya terlihat jelas kalau ia tengah menahan amarah.

"Aku tidak akan pernah menggantinya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menggantinya. Meski kau tunjukan padaku semahal dan sebagus apapun, tidak akan pernah bisa menggantinya. Kau harus ingat itu!" Jihoon memberi penekanan di setiap kalimatnya. Dan langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar.

Soonyoung menghela nafasnya. Frustasi menghadapi Jihoon. Ia hanya berniat membelikan sesuatu yang Jihoon senangi. Karena robot-robotan milik Jihoon saat ini sudah sangat usang. Robot-robotan itu sudah sangat lama. Soonyoung tidak tahu berapa usia robot berwarna biru itu. Yang ia ingin hanya membelikan sahabatnya yang lebih baik lagi.

"Selalu seperti ini," keluh Soonyoung. Bukan kali ini saja Soonyoung berniat membelikan benda itu untuk Jihoon. Namun tanggapan Jihoon selalu sama. Selalu marah dan berubah menjadi sangat dingin. Ia kira seiring berjalannya waktu, Jihoon mau berubah pikiran.

Soonyoung berjalan di belakang Jihoon. Ia tidak ingin Jihoon bertambah marah kalau saat ini ia mendekatinya. Ia hanya mengikuti pemuda yang mengenakan jaket berwarna biru tua itu. Hingga tiba di SVT house, Soonyoung masih berjalan di belakang Jihoon.

Brak…

Penghuni SVT house terkejut saat pintu dibuka dengan paksa. Sungcheol yang berdiri di tengah ruangan mengelus dadanya. Menghela nafas melihat Jihoon yang masuk ke kamar dengan wajah masam.

"Ada apa lagi ini?" Seungcheol memijat pelipisnya. Tidak berapa lama, Soonyoung muncul. Pemuda bermarga Kwon itu berjalan dengan lesu. Ransel hitam miliknya ia seret dengan langkah lunglai. Semakin menambah kerutan di dahi Seungcheol.

"Ada apa dengan Jihoon, Soonyoung-ah?" tanpa menatap, Soonyoung menggeleng lemah. Masuk ke kamarnya yang diikuti Seokmin di belakangnya. Sepertinya Seokmin akan menuntut penjelasan dari sahabatnya.

Seungcheol menoleh saat Mingyu keluar kamar. Entah untuk yang keberapa kali, yang pasti pemuda tertua itu mulai jengah dengan kelakuan Mingyu. Berulang kali keluar masuk melihat jam di dinding.

"Yak Mingyu-ya, berhentilah melihat jam seperti itu. Kepala Hyung sakit melihat kau mondar mandir seperti itu. Sebenarnya apa yang kau tunggu? Kalau kau hobi melihat jam kenapa tidak membelinya satu dan pajang di kamarmu?"

Omelan Seungcheol tidak ditanggapi Mingyu. Pemuda bertubuh tinggi itu kembali melenggang ke kamarnya. Seungcheol yang masih di luar tengah mengacak rambutnya frustasi. Semakin frustasi saat Seungkwan berjalan ke dapur dengan kaki yang dihentak-hentakkan.

"Ya Tuhan Kwan-ie, hentikan aksi merajukmu itu! Hyung benar-benar lupa membelinya. Besok Hyung janji akan membelikannya untukmu."

Meski sudah di bujuk berulang kali, tidak membuat Seungkwan merubah ekspresinya. Tetap menekuk wajahnya dan memandang sebal ke arah Seungcheol. Bahkan saat pemuda bermarga Boo itu berjalan ke kamar dan melewatinya, Seungkwan sengaja memalingkan wajahnya. Seolah menunjukkan pada hyung tertuanya kalau ia tengah merajuk.

"Dan kau Jeonghan-ah. Berhenti menertawakanku! Semua ini juga salahmu yang menarikku ke sana ke sini. Aku sampai lupa membelikan pesanan Seungkwan." Bukannya berhenti, Jeonghan justru semakin tertawa. Pemuda berwajah cantik itu sampai membekap mulutnya. Tidak ingin mengganggu anak-anak lainnya yang akan beristirahat.

"Aku bisa cepat tua kalau seperti ini," keluh Seungcheol sambil berlalu ke kamar. Menyusul Jisoo yang sepertinya sudah terlelap. Ia juga butuh istirahat. Masih banyak kegiatan yang menunggu mereka esok hari.

"Kalian cepat tidur! Kau berhenti tertawa Jeonghan-ah! Dan kau Kim Mingyu, cepat tidur sekarang! Jangan mondar-mandir melihat jam di dinding," teriak Seungcheol dari kamarnya.

.

.

.

Chan tidak bersuara dalam gendongan Wonwoo. Matanya terus menatap ke dahi pemuda itu. Meski berulang kali Wonwoo melemparkan senyum untuk menenangkan, tidak membuat bocah cadel itu merubah ekspresinya. Sedih dan merasa bersalah yang menjadi satu.

Tangan mungil Chan terangkat ke dahi Wonwoo. Menyeka darah yang terus keluar dengan lengan jaketnya. Matanya tampak memerah. Namun ia tidak menangis. Masih berusaha untuk menahan tangisannya.

"Chan benci appa. Kalena appa, Wonwoo hyung jadi beldalah. Chan-ie benci appa," batin bocah mungil itu.

Matanya menatap sedih ke arah Wonwoo. Meski pemuda itu tidak mengatakan sakit, tapi Chan tahu bagaimana rasanya. Chan tahu Wonwoo tengah menahan sakit. Cairan kental berwarna merah itu terus saja mengalir. Bahkan wajah pemuda tampan itu semakin memucat.

"Hyung, Chan-ie bica jalan cendili."

Chan meminta turun dari gendongan Wonwoo. Wajah yang semakin memucat membuat Chan semakin sedih. Ia tidak ingin menyusahkan Wonwoo di saat seperti ini. Ia bisa jalan dengan kaki mungilnya.

"Tidak apa-apa. Sebentar lagi kita akan sampai!"

Chan memilih bungkam. Suara Wonwoo mulai terdengar melemah. Tangan mungilnya kembali menyeka darah yang masih saja keluar. Bocah berambut hitam itu melakukannya tanpa rasa takut. Sebenarnya ia ingin menangis saat ini. Menangis karena darah itu tidak kunjung berhenti. Tapi Chan tidak ingin membuat Wonwoo khawatir.

Chan mengalihkan pandangannya. Tidak jauh dari mereka, tampak sebuah bangunan menjulang. Meski bukan gedung pencakar langit, namun tampak lebih tinggi dibandingkan gedung yang lainnya.

Masih dalam gendongan Wonwoo, Chan sedikit merasa lega. Mereka saat ini sudah berada di dalam Rumah Sakit. Meski luka Wonwoo masih belum diobati, setidaknya di tempat itu banyak yang akan menolong pemuda tampan itu. Ia hanya bocah yang belum lancar berbicara. Tidak bisa membantu Wonwoo meski sangat ingin.

"Wonwoo!"

Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Tampak seorang dokter muda berparas tampan. Dokter yang memiliki tubuh tinggi itu berjalan tergesa ke arah mereka.

"Hyung!" ucap Wonwoo sedikit ragu. Pandangannya mulai mengabur. Wajah dokter tampan itu tidak begitu jelas di matanya. Seiring langkah sang dokter yang semakin mendekat, membuat Wonwoo bisa melihat dengan jelas.

"Ya Tuhan Wonwoo-ya, ada apa denganmu? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" wajah dokter itu tampak terkejut. Sangat jelas kalau ia merasakan kekhawatiran melihat luka Wonwoo. Matanya menelisik penampilan Wonwoo yang tampak kacau.

"Dan bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya dokter itu lagi.

Wonwoo tidak menjawab. Perlahan menurunkan Chan dari gendongannya. Mendudukkan bocah manis itu di bangku yang tersedia. Wonwoo berjongkok. Menyamakan tinggi badan ke duanya. Tangannya diletakan pada bahu Chan.

"Chan-ie, jangan kemana-mana ya! Chan-ie tunggu hyung di sini. Jangan nakal dan jangan menangis!"

Dengan patuh bocah itu mengangguk. Membuat senyum lemah tampak di wajah pucat Wonwoo. Sambil berdiri, Wonwoo mengacak rambut Chan. Sedangkan Chan hanya diam memandangi Wonwoo.

"Kau berhutang banyak penjelasan pada Hyung! Dan sekarang kita obati lukamu."

Wonwoo dan dokter tampan itu berjalan beriringan. Sebelum benar-benar menjauh, Wonwoo memutar kepalanya. Menoleh ke arah Chan yang masih memandanginya. Memberi senyuman menenangkan untuk anak yang sudah mulai menjadi bagian dari hidupnya.

Jam di dinding sudah menunjukan pukul dua pagi. Berarti Chan sudah menunggu Wonwoo selama tiga jam. Dan selama itu, Chan tidak berpindah dari duduknya. Sesuai perintah Wonwoo, ia tidak boleh kemana-mana. Apalagi sampai berbuat nakal. Bocah cerdas itu tetap tenang menunggu Wonwoo.

Meski matanya mulai mengantuk, Chan tidak berniat untuk tidur. Ia ingin terus menunggu Wonwoo. Ia ingin melihat keadaan pemuda yang entah sejak kapan mulai ia sayangi.

Chan menoleh saat ada yang mendekat. Dokter yang sama, duduk di sebelahnya sambil tersenyum ramah.

"Adik kecil mau bertemu dengan Wonwoo hyung?" seketika Chan langsung mengangguk mantap. Rasa kantuknya langsung menguar begitu saja. Sedari tadi ia memang sangat ingin melihat keadaan Wonwoo.

"Chan-ie mau beltemu Wonwoo hyung!" ucap Chan cadel yang membuat dokter tampan itu tersenyum.

"Ayo kita melihat Wonwoo hyung di kamarnya."

Bocah yang hanya mengenakan celana pendek itu lompat dari duduknya. Dengan semangat ia mengikuti langkah sang dokter. Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai di depan sebuah ruangan. Chan baru bisa masuk saat dokter muda itu membuka pintu.

Pemandangan pertama yang tersaji adalah Wonwoo yang terbaring di ranjang. Dengan seragam pasien yang membungkus tubuh kurusnya. Chan memandang pemuda tampan itu bingung. Matanya terus menatap Wonwoo yang memejamkan matanya.

"Ahjucci, apa Wonwoo hyung tidul?" tanya Chan dengan mendongakkan kepalanya. Menatap sang dokter yang jauh lebih tinggi darinya.

"Iya, Wonwoo hyung sedang tidur. Jadi Chan-ie tidak perlu khawatir. Wonwoo hyung tidak apa-apa."

Dokter muda yang ber-name tag Shim Changmin menuntun Chan ke sofa. Mengajak bocah manis itu untuk duduk. Jarak yang tidak jauh dengan ranjang Wonwoo, memudahkan Chan untuk melihat lebih dekat.

"Ahjucci, kenapa tangan Wonwoo hyung ditucuk jalum cepelti itu?" Chan menyerukan kebingungannya. Sedari tadi ia memperhatikan tangan Wonwoo. Tangan mungil Chan menunjuk ke arah tangan Wonwoo yang diberi infus.

Yang ia tahu, Wonwoo hanya terluka di bagian dahi. Selang infus yang tergantung membuatnya bingung. Menurut pemikirannya, Wonwoo hanya perlu diperban. Apalagi melihat keadaan Wonwoo yang tengah terbaring saat ini.

"Itu hanya vitamin supaya Wonwoo hyung cepat sehat. Kalau Wonwoo hyung diinfus, besok Wonwoo hyung bisa bermain bersama Chan lagi." Chan mengangguk paham. Ia tersenyum membayangkan besok Wonwoo sudah sehat. Bisa menemaninya lagi seperti biasa. Changmin yang duduk di samping Chan ikut tersenyum. Matanya menatap Chan dan pemuda yang tertidur itu bergantian.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa dia tidak tahu kalau kau saat ini begitu terlihat menyedihkan?" batin Changmin.

"Chan tunggu di sini saja. Jangan kemana-mana!" perintah Changmin yang langsung diangguki Chan. Dokter berwajah tampan itu berdiri dari duduknya. Mengacak rambut bocah itu sebelum berjalan keluar.

Sepeninggal Changmin, Chan turun dari sofa. Berjalan ke arah ranjang Wonwoo. Anak laki-laki bermata sipit itu tidak berani menyentuh Wonwoo. Hanya memperhatikan wajah tampan yang kini tengah terlelap.

Lama kelamaan rasa kantuknya semakin berat. Meski ia berniat ingin menunggu sampai Wonwoo bangun, tapi matanya tidak bisa bertahan lama. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali ke sofa. Kali ini Chan merebahkan tubuhnya. Dan tidak membutuhkan waktu lama, mata sipitnya benar-benar terpejam.

.

.

.

"Kau sudah bangun?"

Wonwoo mengarahkan pandangannya pada asal suara. Changmin berdiri di depan pintu sambil menutup pintu hati-hati. Dokter tampan itu berjalan ke arahnya. Dan langsung menuju selang infus yang masih tergantung.

"Hyung bisa lepaskan ini? Ini benar-benar menganggu," keluh Wonwoo sambil menunjuk selang yang terhubung ke tangannya.

"Kau melepas gelangmu?" tanya Changmin sambil melepas infus di tangan Wonwoo.

"Aku tidak memerlukannya. Apa Hyung mau membuat yang lebih besar? Supaya aku bisa memakainya di leher?" Changmin tergelak. Merasa lucu saat membayangkan Wonwoo memakai kalung seperti peliharaanya di rumah.

"Ide bagus. Pasti sangat menggemaskan kalau Hyung memberi tambahan tali." Wonwoo mendengus saat Changmin kembali menertawakannya.

Changmin hanya berdiam diri saat Wonwoo turun dari ranjang. Karena pemuda itu tidak akan pernah mau menerima uluran tangannya. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berjalan ke kamar mandi. Menyambar pakaiannya yang terletak di nakas.

Sampai Wonwoo selesai berganti pakaian, Changmin tidak merubah posisinya. Berdiri dengan tangan dilipat di depan dada. Memandang Wonwoo dengan pandangan menuntut.

"Bisa jelaskan pada Hyung sekarang?"

Wonwoo mendesah. Ia kembali ke ranjangnya. Namun bukan untuk merebahkan diri. Hanya duduk dan memandangi lantai. Ia seolah enggan menatap mata Changmin yang terus memperhatikannya.

"Bisa lain waktu saja, Hyung? aku tidak ingin mengatakan apapun saat ini. Lain kali aku akan mengunjungimu di sini," ucap Wonwoo pelan. Ia mengalihkan pandangannya pada Chan. Bocah mungil itu masih tertidur pulas. Tersenyum tipis melihat wajah Chan yang begitu menggemaskan.

"Tapi aku tidak mengharapkan kedatanganmu seperti malam tadi. Dan lagi, hyung tidak lama bekerja di sini. Hyung hanya beberapa hari menggantikan dokter yang seharusnya bertugas." Wonwoo hanya mengangguk. Sudah paham dengan kesibukan dokter tampan itu.

"Apa dia tahu?" tanya Changmin. Wonwoo menggeleng lemah sebagai jawabannya.

"Jangan bahas dia hyung!" pinta Wonwoo tanpa memandang Changmin. Dokter muda itu akan membuka mulutnya lagi, namun urung melihat raut sendu yang Wonwoo tampilkan.

"Hyung, untuk biayanya—"

"Jangan pikirkan soal biaya." Changmin langsung memotong ucapan Wonwoo.

"Pikirkan saja tentang dirimu. Jangan pernah terjadi seperti ini lagi." Changmin kembali mengingatkan. Namun pemuda tampan itu hanya diam. Entah apa yang tengah dipikirkan.

"Aku justru mengharapkannya. Saat itu terjadi dan Hyung tidak ada mungkin aku—"

"Masih banyak dokter yang lain." Lagi-lagi Changmin memutus ucapan Wonwoo. Terlalu paham ke mana arah pembicaraan remaja itu.

"Jangan pernah lakukan itu Wonwoo-ya. Hyung yakin dia tidak melupakanmu. Pasti ada suatu alasan yang membuatnya seperti ini. Jadi jangan lukai dirimu untuk membuatnya datang padamu!" Wonwoo diam. Namun Changmin tidak tahu, diamnya pemuda itu mendengarkan nasehatnya atau malah sebaliknya.

"Kau menyayanginya?" tanya Changmin yang membuat Wonwoo mendongak. Pemuda tampan itu mengikuti arah pandang Changmin. Tersenyum kecil dan turun dari ranjang. Berjongkok menghadap makhluk kecil yang masih terlelap.

"Aku menyayanginya."

Changmin ikut tersenyum melihat Wonwoo. Remaja berkulit putih itu membelai rambut Chan dengan sayang. Tidak terkejut dengan perlakuan Wonwoo. Karena ia sangat mengenal bagaimana remaja itu. Changmin sangat paham bagaimana lembutnya hati pemuda bermarga Jeon itu.

"Saat aku dibuang ke kota ini, aku hampir menyerah dengan hidupku sendiri Hyung! tapi semenjak ada dia, aku tidak kesepian lagi. Hyung tahu kan hati anak kecil begitu tulus? Dia tidak pernah memandangku dari satu sisi seperti yang orang lain lakukan. Dan lagi, aku seperti melihat diriku sendiri dalam wujud yang berbeda."

Sebenarnya Changmin ingin bertanya. Begitu banyak pertanyaan yang tertimbun di benaknya. Tentang bagaimana Wonwoo bisa berada di kota ini. Bagaimana Wonwoo bisa dibuang. Bagaimana Wonwoo bisa mendapat luka. Dan bagaimana Wonwoo bisa bersama anak kecil berwajah manis itu. Namun semua itu Changmin tahan di hatinya. Sesuai permintaan Wonwoo yang tidak ingin mengatakan apapun.

Merasa ada yang menyentuh rambutnya, Chan menggeliat. Mata sipitnya mulai terbuka. Dan langsung terbelalak saat melihat wajah tampan di hadapannya. Dengan senyum cerah, ia bangkit dari tidurnya. Menerjang Wonwoo dengan sebuah pelukan.

"Hyung!"

Karena tanpa aba-aba membuat Wonwoo hampir terjengkang. Tapi pemuda itu masih bisa menahan berat badan Chan.

"Hyung cudah cembuh?" tanya Chan sambil melepas pelukannya.

"Seperti yang Chan-ie lihat!" Wonwoo merentangkan tangannya. Membuktikan pada bocah cadel itu kalau ia sudah baik-baik saja.

"Sekarang kita bisa pulang!"

"Yeeaaaay!" Chan bersorak kegirangan.

"Hyung cudah cembuh, Chan-ie jadi tidak kecepian lagi!" Chan tersenyum senang. Dengan kepala digoyangkan ke kanan dan ke kiri. Namun tiba-tiba senyum bocah manis itu menghilang. Wajahnya merengut lucu.

"Cebenalnya Chan-ie mau menunggu campai Wonwoo Hyung bangun. Tapi Chan-ie caaaaaaangat mengantuk." Wonwoo menahan senyumnya mendengar ocehan Chan. Ia dengan sabar menunggu bocah cadel itu menyelesaikan kalimatnya. Begitu pula dengan Changmin. Dokter yang sedari tadi memperhatikan keduanya membekap mulutnya. Ekspresi Chan sangat lucu menurutnya.

"Mata Chan-ie tidak mau dibuka lagi. Jadinya Chan-ie ketidulan di cini." Chan menepuk sofa yang ia duduki. Mau tidak mau Wonwoo dan Changmin tertawa. Dengan gemas, Wonwoo menarik pelan pipi Chan.

"Pantas saja tidur hyung sangat nyenyak. Ternyata Chan-ie menunggu hyung tidur ya?" kali ini wajah Chan kembali ceria. Meski tidak bisa menunggu Wonwoo sampai bangun, setidaknya tidur Wonwoo sudah nyenyak karenanya. Seperti itu lah pemikiran Chan.

Wonwoo melepas jeket yang membungkus tubuh mungil Chan. Lengan jaket bocah manis itu sudah terkena noda darahnya. Jadi ia membiarkan Chan hanya mengenakan kaos berlengan pendek.

"Kalian mau pulang sekarang?" tanya Changmin saat Wonwoo mulai berbenah.

"Iya, kami harus pulang! Nanti aku akan menghubungimu Hyung!"

.

.

.

Wonwoo berjalan di trotoar. Bocah mungil yang sedari kemarin bersamanya berada dalam gendonganya. Digendong di punggungnya dengan lengan yang melingkar di lehernya.

"Mulai sekarang, Chan-ie tinggal bersama Hyung ya?" dalam gendongannya, Chan mengangguk. Ia justru merasa senang bisa terus bersama dengan seseorang yang ia sayang.

Saat beberapa meter lagi mereka tiba di SVT house, Wonwoo menurunkan Chan dari gendongannya. Berjongkok dan menghadap anak laki-laki berambut hitam itu.

"Hyung boleh minta sesuatu dari, Chan-ie?" tanya Wonwoo sambil memegang ke dua pundak Chan. Tanpa ragu bocah mungil itu mengangguk. Matanya menatap Wonwoo dengan intens.

"Mulai saat ini kita akan tinggal di sana!" Wonwoo menunjuk sebuah rumah berwarna kuning yang dipadukan dengan coklat. Membuat Chan mengikuti arah tunjuk Wonwoo dan kembali mengangguk.

"Hyung minta, selama di sana Chan-ie tidak boleh nakal. Chan-ie jangan sering menangis. Dan Chan-ie tidak boleh menyentuh apapun yang ada di rumah itu." Meski tidak tahu apa alasannya, Chan tetap menurut. Bocah kecil itu mengangguk. Membuat rambut hitamnya bergoyang-goyang.

"Dan satu lagi, kalau Chan-ie membutuhkan sesuatu, Chan-ie harus beritahu hyung!"

"Apa di dalam cana banyak olang jahat, Hyung?" tanya Chan dengan wajah polosnya. Namun Wonwoo menggeleng dan tersenyum.

"Tidak! Mereka semua orang baik. Tapi Chan-ie hanya boleh meminta sesuatu pada hyung saja." Wonwoo tidak bisa mengatakan kebenarannya. Apapun yang ia alami di rumah itu, Wonwoo tidak ingin Chan mengetahuinya. Dan Wonwoo akan berusaha melindungi Chan. Membuatnya merasa nyaman saat bersamanya. Wonwoo tidak ingin melihat kesedihan di wajah manis itu. Sudah cukup penderitaan Chan selama ini. Ia tidak ingin anak yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang orang tua itu merasakan yang selama ini ia rasakan.

"Chan-ie mengelti. Chan-ie tidak boleh nakal dan menangic. Chan-ie juga tidak boleh menyentuh balang-balang yang ada di lumah. Kalau Chan-ie mau cecuatu, Chan-ie haluc membeli tahu Hyung," ucap Chan dengan begitu cerdasnya.

"Anak pintar!" Wonwoo tersenyum puas. Ia mangacak rambut hitam Chan dengan gemas. Wonwoo berdiri dan menggendong Chan. Kali ini ia menggendongnya di depan. Membawa bocah mungil itu masuk ke dalam rumah.

Saat akan memasuki pintu, Wonwoo bisa mendengar keributan dari dalam. Namun saat ia masuk, rumah itu tiba-tiba hening. Tidak lagi terdengar teriakan dan perdebatan yang biasanya menjadi rutinitas saat pagi hari. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Namun tidak mengurungkan niat Wonwoo. Ia tetap masuk sambil menggendong Chan.

"Sekarang apa lagi ini? Apa maksudmu membawa orang lain ke rumah ini?"

Wonwoo menghentikan langkahnya yang akan memasuki kamar. Memandang dingin pemuda yang baru saja berbicara. Semua mata seolah menuntut jawaban padanya. Membuat anak laki-laki yang berada di gendongannya memandang takut-takut. Wonwoo mengusap punggung Chan. Meyakinkan anak kecil itu kalau ia akan aman bersamanya.

"Kalian tidak perlu tahu siapa. Dia akan bersamaku. Aku akan menjamin dia tidak akan merepotkan kalian. Jadi kalian tidak perlu khawatir," jawab Wonwoo dingin. Berbanding terbalik saat ia berbicara dengan Chan.

Wonwoo kembali melanjutkan langkahnya. Saat baru memasuki kamar, ia berpapasan dengan Mingyu yang akan keluar. Pemuda bertubuh tinggi itu langsung mengalihkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengannya. Membuat Wonwoo mengerutkan keningnya. Tingkah pemuda itu seminggu ini tampak aneh. Selalu menghindar cepat saat tanpa sengaja mereka berpapasan atau tanpa sengaja terjadi kontak mata.

"Ya Tuhan, apalagi yang akan dia lakukan?"

"Semalaman dia menghilang entah kemana. Dan sekarang apa yang dia lakukan? Membawa anak kecil? Sulit dipercaya!"

"Siapa anak kecil itu?"

"Dari mana dia bisa mendapat anak kecil saat semalaman tidak pulang?"

"Mungkin dia baru saja menculik anak kecil itu. Kalian lihat perban di dahinya?"

"Apa mungkin itu anaknya?"

"Kau gila? Bagaimana mungkin dia bisa memiliki anak di usianya yang sekarang? Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."

"Apa ini salah satu dari hasil kejahatannya?"

"Aku tidak tahu apa saja yang ia lakukan selama di luar. Tapi kali ini sangat keterlaluan kalau ia sampai menculik anak kecil itu."

"Aku bisa gila kalau seperti ini terus menerus. Rumah kita benar-benar tidak akan pernah ada kedamaian lagi. Kalian tahu kan kalau anak kecil itu selalu nakal dan sering menangis?"

Wonwoo tidak tahu siapa saja yang berbicara di luar sana. Yang ia lakukan saat ini hanya menutup telinga Chan. Menghindari bocah mungil itu untuk mendengar semua kata-kata kasar yang dilontarkan untuknya. Ia tidak ingin Chan mendengar kalimat pedas itu.

Chan hanya memandang Wonwoo dalam diam. Matanya mengerjap berulang kali. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba Wonwoo menutup telinganya. Tapi yang ia tahu, ia harus menuruti semua yang Wonwoo inginkan. Sesuai permintaan pemuda tampan itu, Chan tidak akan nakal. Bocah cerdas itu hanya diam duduk di pinggir ranjang.

.

.

.

.

TBC

Typo tolong di maafkan!

Di tunggu reviewnya!