Apa yang aku katakan tadi?

Apakah ini seurius?

Dia akan membantuku masturbasi sebagai tindakan kerjasama yang dia katakan tadi, meskipun begitu aku masih merasa ragu untuk melakukan semua ini.

Kami berdua terpaut usia begitu jauh, hampir 10 tahun. Kami juga sudah memiliki pacar, meskipun kami berdua tidak tahu nasib pacar-pacar kami diluar sana.

Pacarnya mempercayakan nyawa Rias kepadaku, dia memintaku untuk menjaganya sampai bantuan datang menjemput kami disini. Mengingat tentang itu, aku sadar bahwa kami tidak bisa berbuat seperti in-

"Uhhhh~"

Dengan melenguh Rias menarik dan memeluk tubuhku, dan aku sedikit terkejut karena hal itu.

Aku bisa membaui aroma tubuhnya yang didominasi oleh keringat khas Rias. Kami bedua belum pernah mandi, jorok memang, tapi itu sangat normal jika mengingat situasi dengan kami harus menghadapi kawanan zombie yang mengurung kami dilantai 3 supermarket ini.

Apakah kalian pernah mendengar tentang istilah 'bau pekat tubuh seorang perempuan bisa membangkitkan gairahmu' (?).

Jika aku boleh jujur, bau tubuhnya lebih memabukan daripada yang pernah kubayangkan selama ini.

*Dag! Dig! Dug!

Inilah yang aku rasakan saat ini. Jantungku berdegup dengan kencangnya, nafasku terasa terengah karena merasakan sebuah dorongan libido untuk segera dilepaskan.

Pikiranku kosong, rencana untuk menarik kesepakatan tadi terbang dan menghilang begitu saja.

Sebelum aku mati, aku ingin melakukan hal ini. Sejauh informasi yang sudah aku dapatkan, tidak ada seorangpun yang lolos dari infeksi virus zombie ini. Meskipun hanya gigitan kecil, itu akan tetap membunuhku.

Selain mempertimbangkan tentang faktor sekaratku, aku juga merasa sangat penasaran dan ingin melihat secara langsung siswi SMA melakukan Blowjob.

Pikiranku benar-benar tersesat karena pemikiran tersebut, tapi,,,

Apakah ini akan disebut sebagai NTR? Selama pacar kami tidak tahu, ini akan baik-baik saja.

Seperti yang dia katakan, ini adalah bentuk kerjasama.

"Kalau begitu, mari kita mulai!"

Sedikit melonggarkan pelukannya aku segera membuka ritsleting celana jeansku, dan setelah itu aku menuntun tangan Rias untuk menyentuh Penis semi ereksiku.

Aku melihatnya gelagapan sebelum dia menggerakan tangannya untuk mestimulasi saraf Penisku.

"I- ini Penis pria dewasa,,,"

Sedikit mendesah Rias bergumam, aku bisa mendengarnya sehingga aku sedikit menyeringai menatapnya.

"Bukankah kau sudah pernah melihatnya?"

"Ya, t- tapi,,," Dia terlihat sedikit ragu, kemudian dia menggelengkan kepalanya. ",,,Aku hanya belum percaya jika saat ini aku sedang menyentuhnya."

"Apakah ini sesuai harapanmu?"

"Uuuuh~ apakah bisa lebih besar lagi?"

"Kau bisa mencaritahunya sendiri!"

Rias setuju, dia perlahan menggerakan tangannya diatas Penisku, menstimulasi untuk meningkatkan gairahku.

Aku tidak tinggal diam. Aku menyusuri belakang pinggulnya, menyelinap dan menyimpan tangan kananku diatas paha kanannya.

Kebanggaanku terlalu tinggi, aku adalah type pria yang tidak ingin berhutang budi kepada siapapun. Untuk itulah aku akan membayar 10x lipat untuk segala kenikmatan yang dia berikan.

Aku mengelusnya seduktif menghasilkan suara erangan manja keluar dari mulut Rias, menyebabkannya terus memompa tangannya semakin cepat.

"Ennnggg~"

"Y- ya, seperti itu~!"

Gerakan tangannya tidak terlihat canggung, seperti yang diharapkan dari seseorang yang sudah memiliki pengalaman seperti ini.

Kulitnya sangat lembut membuat Penisku tergelincir mulus melewati lubang buatan telapak tangannya.

Sial, dia sangat seksi!

Rias menatapku, aku balas menatapnya. Beberapa detik saling memandang, perlahan namun pasti wajah kami semakin mendekat.

Sedetik menempelkan bibir, kamipun memulai untuk bercumbu mesra. Kami saling melumat, berperang dan berakhir saling membuka mulut untuk menjelajahi kedalaman mulut masing-masing.

French Kiss!

Lima menit berlalu, Rias tersentak dan langsung mengakhiri sesi make out kami. Kedua matanya membelakak, dia memandangku sekilas sebelum tatapannya turun untuk memperhatikan Penisku.

"Ada apa?"

Rias bersemu merah dan langsung memalingkan wajahnya.

Aku ingat respon seperti ini, pacarku juga bertingkah seperti ini ketika dia pertama kali melihat bentuk Penisku.

Apakah dia (juga) terlalu terkejut ketika menyadari tentang ukuran Penisku yang (mungkin) baru pertama kali dia rasakan dalam sentuhannya itu?

Penis full ereksiku memang tak terbantahkan. Panjang Penisku mencapai -8 inci, sedangkan lingkar Penisku mencapai -6 inci. Sedikit diatas rata-rata memang, meskipun begitu, ketebalannya menjanjikan kenikmatan untuk Vagina setiap wanita yang dimasukinya.

"Rias?"

Tidak menjawab.

Aku menghela nafas sebelum bergeser mendekatinya. Aku melingkarkan tanganku dipinggulnya, setelah itu aku sedikit menarik untuk meminta perhatiannya.

"Kau membuatku sangat bersemangat!"

*Badum! Badum! Badum!

Rias masih terdiam, dia terlihat gugup dan aku bahkan bisa mendengar detak jantungnya yang semakin keras.

Aku meraih dan menuntun tangannya kembali keatas Penisku. Menggoyangnya, membantunya menggerakan tangannya diatas Penisku.

"Ennnggg,,,"

Rias mengerang, dia menoleh dan mulutnya sedikit terbuka untuk membantu pernafasannya yang terengah.

Rias sudah kembali menggerakan tangannya sendiri membuat tanganku tidak perlu lagi membimbing gerakannya. Meninggalkan tangan Rias, aku menggerakan tanganku untuk kembali menyelinap dibalik pinggulnya, menyentuh paha kanannya dan melakukan gerakan seduktif untuk memancing gairahnya.

Tubuh Rias gemetar, dia membuka kedua kakinya seolah mengundangku untuk mendatangi pangkal pahanya.

Tentu saja aku menerima undangan itu, aku menggerakan tanganku kepangkal pahanya, mengelus seduktif permukaan celana denim tempat Vaginanya berada.

Rias berhenti menggerakan tangannya, mungkin terlalu terkejut dengan seranganku itu.

"Ahhh~ Naruto-san~!"

"Sepertu itu, lepaskan semuanya!"

Rias kembali memompa Penisku, berirama denganku yang memberikan usapan seduktif diatas permukaan titik sensitifnya.

Rias semakin terengah-engah, dan aku terus melakukan pekerjaanku untuk menstimulasi titik sensitifnya, sampai,,,

"Naruuuuhhh~"

Kedua kakinya menjepit tanganku, tubuhnya terhuyung kesamping dan langsung memeluk tubuhku.

"Kau sudah sampai? Disini sepertinya hanya aku saja yang sedang membantumu masturbasi!"

Sindirku mendengus membuat Rias mendongkak dan menampakan kedua matanya yang berkaca-kaca.

"A- aku,,,"

"Ya, ya, ya. Aku tahu kau hanya tidak berpengalaman dengan pria dewasa!"

"Bukan itu!"

"Hm?"

Aku mencoba sedikit mendorongnya. Jika hanya seperti ini, sampai lengannya copotpun dia tidak akan bisa membuatku cum.

"Kau sangat sialan tahan lama!"

Rias memuntahkan semuanya, secara tidak langsung dia mengakui bahwa daya tahanku lebih kuat dibandingkan dengan pacarnya.

Aku cukup tersanjung.

"Tidak seperti pacarmu, handjob tidak akan bisa membuatku cum." Kataku sambil mengulum bibir bawahku.

Rias tersentak, dia menatapku dengan mata yang membelakak.

"Tidak, tidak. Aku tidak akan melakukan itu! Kami tidak dalam sebuah hubungan!"

Rias menyadari tentang petunjukku yang mengisyaratkan tentang oral seks.

Sial, seharusnya aku tahu jika aku tidak akan mendapatkan itu.

Sejujurnya aku tergoda dengan bibir tebal dan merahnya itu, bayangan French Kiss sebelumnya membuatku tergoda untuk menginginkannya mengulum Penisku.

"Lalu bagaimana?"

Aku sengaja memberikan teka-teki, aku har-

"Pinjami aku Vagina silikon itu!"

Vagina silikon itu? Apakah,,,

Sialan, apakah dia meminta senjata rahasia masturbasiku?!

Tidak akan aku berikan, seharusnya kau menggunakan mulut seksimu itu! Tunggu, tunggu,,,

"Jika ujung-ujungnya memakai itu, aku rasa aku tidak lagi membutuhkanmu untuk membantuku masturbasi. Aku bisa melakukannya sendiri!"

"T- tapi,,,"

Aku mencoba beralasan untuk mengarahkannya lagi menuju jalan yang menyimpang.

"Gunakan tanganmu, namun kali ini kau harus menggunakan Lub untuk melancarkan pekerjaanmu itu!"

"J- jangan bercanda! Tidak ada hal seperti itu disini, aku tidak membawa Lub!"

(Lub asal kata dari Lubricant, dan Lubricant bisa disebut juga pelumas)

Aku menyeringai.

"Gunakan air liurmu!"

Rias terdiam, namun sedetik kemudian dia menganggukan kepalanya setuju.

"Baik."

Rias langsung bergeser mendekatiku, meludah di telapak tangannya dan setelah itu dia mencengkram Penisku. Rias perlahan menggerakan tangannya, selain untuk membangunkan Penisku yang sebelumnya telah melemas, dia juga bermaksud untuk menyebarkan air liurnya disekitar batang Penisku.

Kulit telapak tangannya terasa lembut, ditambah air liurnya itu membuat tangannya semakin lancar naik-turun dibatang Penisku.

Perlahan gairahku kembali meningkat sehingga membuat Penisku perlahan namun pasti kembali menemukan kegagahannya, full ereksi.

"Lebih cepat!"

Aku menundukan kepalaku memperhatikan Penisku yang keluar-masuk lubang telapak tangan Rias. Ketika Lub yang diberikan Rias semakin tipis, aku meludahkan air liurku sendiri diatas kepala Penisku.

"A- apa yang kau lakukan?!"

Rias menderu panik, dia berhenti dan menatapku menyipit.

"Lubmu sudah habis, untuk itu aku memberikan milikku untuk membantu pekerjaanmu."

"T- tapi, aku rasa itu akan lebih baik jika aku sendiri yang memberikan L- Lubnya!"

"Apa salahnya? Bukankah sebelumnya kami juga saling bertukar air liur?"

Aku berkata santai, menyinggung kembali sesi French Kiss kami.

"J- jangan katakan itu! A- aku bahkan tidak mengingatnya!"

Rias memalingkan wajahnya, mungkin dia merasa malu karena sebelumnya telah kehilangan kendali.

"Setuju." Kataku menganggukan kepalanya. "Untuk sekarang, bisakah kau melanjutkannya?"

Tanpa menjawab Rias kembali menggerakan tangannya. Dengan wajah sedikit meringis, tangannya menyapu air liurku untuk didistribusikan keseluruh batang Penisku.

Apakah air liurku semenjijikan itu? Atau dia hanya merasa tidak nyaman melakukan itu dengan orang asing sepertiku? Entahlah, aku rasa Rias sendiri yang punya jawabannya.

Aku mendesah merasakan kembali kenikmatan tangannya.

Dua puluh menit telah berlalu, Rias menatapku berkaca-kaca karena sampai saat ini aku tidak kunjung mencapai puncakku.

"Baik, hentikan saja!"

Aku mendengus pura-pura kecewa.

"T- tapi kau,,,"

"Lupakan saja! Handjob tidak bisa membuatku klimaks!"

"A- apakah aku sebur-"

Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Tubuhnya terhuyung mundur ketika aku memaksakan diri untuk berdiri. Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan, dan meninggalkan Rias sendiri yang masih termanggu diatas sofaku.

Menutup pintu, seketika aku berlari menuju toilet satu-satunya di lantai tiga. Berdiri diatas closet, aku mulai mengocok Penisku sendiri.

*Byururururururururu

Penisku menyemburkan sperma yang telah Rias kumpulkan dari pekerjaannya tadi.

"Lega juga,,,"

Sejujurnya sedari pertama aku menginginkan pelepasan ini, namun aku terus bertahan dengan tujuan untuk membuat Rias merasa buruk.

Hampir semua perempuan tidak ingin menampilkan kekuarangannya untuk si lawan jenis, mereka selalu (berpura-pura) tampil menakjubkan dan dipandang spesial untuk lawan jenisnya.

"Apakah ini perjuanganku untuk mendapatkan Vaginanya?"

Inilah rencanaku dari awal, aku ingin membuat Rias merasa buruk sehingga dia akan melakukan segala cara untuk menutupi kekurangannya itu.

Waktuku hanya tinggal 6 hari, dalam masa sekaratku setidaknya aku ingin merasakan rasa Vagina untuk terakhir kalinya.

Setelah membersihkan kekacauan spermaku yang menyemprot kemana-mana, aku memutuskan untuk kembali keruanganku.

Dan ketika aku sampai diruang pribadiku, Rias sudah tidak ada ditempatnya.

Mungkin dia memutuskan kembali keruangannya untuk meratapi tentang sangat tidak bergunanya dia.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Diantara kalian, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama seperti Naruto? fufufufufu~

Tema cerita ini apaan? Ini cerita dewasa berlatar belakang kiamat zombie.

Berbicara tentang naluri reproduksi adalah gairah seks yang sudah menggebu-gebu, dia tidak mampu memikirkan apa-apa lagi selain menginginkan seks.

*Brururururururu maksudnya Sfx dari muncratan air mani. Kalau menggunakan kata *Crot! Crot! Crot!, emang itu bunyi ledakan airmani ya? -_-/

Terimakasih.