How To Feel part 4

HunHan/Rated T

.

.

.

Luhan membuka matanya perlahan, tepat didepan pupil matanya ada mobil terhenti yang jaraknya tak lebih dari 1 cm. Ia hampir saja tertabrak.

Jantungnya berdetak kencang, dan tubuh mungilnya bergetar hebat. Tetesan air matanya terus jatuh seiring dengan jatuhnya salju pertama.

"Luhannie! Salju pertama! Nanti hyung akan mengajarkanmu bermain ski!"

Kris hyungnya sangat menyukai salju. Karena salju terlihat sangat indah ketika jatuh dari langit.

"Salju itu air mata tuhan yang membeku"

Luhan akan duduk manis di depan tv, lalu kakak dan ibunya datang membawakan sepiring cookies dan coklat hangat.

Luhan sangat suka makanan manis.

"Kau sangat suka makanan manis, pantas saja adik kecilku ini sangat manis"kris tertawa.

Suara tawa kris adalah musik favorit bagi luhan, karena dengan begitu artinya kris tidak merasa kesakitan, karena kris harus melewati hari-hari dengan penyakit jantungnya.

Luhan tak mau kehilangan kris, juga sebaliknya.

"Luhan, maafkan hyung ya?"

"Tidak mau! Aku membenci hyung!"

Luhan belari ke tengah jalan

"Luhan! Luhan!" Kris tak hentinya memanggil luhan, luhan terlalu takut, ia menutup matanya kemudian ia merasakan tubuhnya di dorong seseorang.

Luhan membuka matanya, dan menemukan kris sudah tergeletak di tengah jalah dengan darah yang bercucuran.

Dengan tubuh bergetar luhan merangkak mendekati kris. Kris membuka matanya perlahan "lu-han, syukurlah kau ba-ik saja"kris tersenyum lalu tertawa keras, meski kepalanya terasa berat, kris memaksakan dirinya untuk tertawa.

Luhan ikut tersenyum, karena kris tertawa bukankah artinya hyungnya baik-baik saja? Itulah yang dipikirkan luhan.

Bahkan ketika seluruh keluarganya sudah berada di rumah sakit, luhan masih setia tersenyum. Ia pikir kris tetap baik-baik saja, karena hyungnya tadi tertawa keras. Tapi, keluarganya malah menganggap anak kecil polos itu psikopat, pembunuh dan sengaja membunuh kris.

Ia bahkan tau, sebenarnya ibunya kecewa dengannya walaupun ibunya tetap bersedia mengurusnya.

Tidak ada yang mau mempercayai luhan, luhan tau itu. Bahkan baekhyun teman baiknya saat kecil pun hanya diam ketika luhan di injak dan di pukuli teman-temannya.

Semuanya menyalahkan luhan, semuanya mengatakan luhan pembunuh, tidak ada yang mau mempercayai luhan.

Luhan tertekan dan memilih mengurung dirinya di kamar. Dan dia tetap memilih di kamar untuk tahun-tahun selanjutnya, selama 15 tahun.

ingatan masa lalunya tiba-tiba mencuat keluar dalam memorinya.

Sehun yang masih dalam posisi terjatuh karena di dorong luhan merasa jantungnya terasa akan pecah. Tubuh luhan bergetar hebat, air mata terus mengalir dari di pipi tirusnya, ia mundur beberapa langkah menjauhi mobil tersebut.

'Bruk' ia pingsan

gelap

Semuanya gelap

.

.

.

Luhan masih tak sadarkan diri, di rumah sakit, tubuhnya berkeringat di basahi peluh, dan wajahnya terlihat sangat pucat. Ia terkena demam tinggi karena terlalu kaget dan juga karena mimpi buruknya. Dalam tidurnya bahkan tubuh luhan tak berhenti bergetar. Sehun menatapnya lirih merasa khawatir, ia memeluk luhan, menepuk-nepuk punggungnya, sesekali mengecupi pelipisnya.

"Tenang luhan, aku disini, aku disini"gumamnya pelan.

Luhan terlihat sedikit tenang, kerutan di keningnya terlihat mulai menghilang, ia merasa hangat dan nyaman dalam dekapan anak yang lebih muda, seperti bayi. Sehun masih saja menepuk-nepuk punggungnya dan tak lama ia ikut tertidur.

.

.

.

Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba membiasakan matanya dengan cahaya lampu rumah sakit. Ia menemukan tempat tidur luhan kosong, sehun terkejut dan mulai merasa khawatir, jika saja sesuatu terjadi pada luhan, dia akan benar-benar membunuh dirinya sendiri.

Ia berlari mengelilingi rumah sakit dan menemukan luhan di depan pintu masuk rumah sakit. Dengan hembusan nafas lega yang tersengal, sehun menghampiri luhan "luhan"panggilnya lembut.

Luhan menoleh dengan wajah datar, dan menatap sehun tak suka. Meski sehun merasa aneh, ia tetap merasa lega luhan tak terluka barang sedikitpun.

"Luhan ayo ke dalam, di luar dingin"ujar sehun sambil tersenyum lembut lalu menarik tangan luhan.

Luhan terlihat memberontak lalu menghempaskan tangan sehun "siapa kau?"

"Apa? Hey, ini aku sehun"jawab sehun terheran-heran.

"Aku tidak mengenalmu!"

"Apa?"

"Aku sedang menunggu kris hyung, dia bilang akan menjemputku disini. Kau ini siapa?"tanya luhan menatap sehun penuh benci.

.

.

.

"Sepertinya itu kenangan buruk dari masa lalunya, karena terlalu shock membuat ingatan yang ingin di lupakannya malah mengacaukan memorinya. Ini biasa terjadi pada orang-orang yang merasa tertekan"kyungsoo menjawab dari ujung telpon.

Sehun kini tengah menelpon kyungsoo sambil menatap luhan yang kini duduk di dekat mesin minuman, setelah tadi memaksanya untuk ikut dengan sehun dan sehun berjanji akan menceritakan semuanya, akhirnya luhan mau ikut walaupun dengan sedikit pemberontakan.

"Lalu apa ini permanen?"

"Pernah terjadi kasus permanen, tapi jarang sekali terjadi, kemungkinannya 97% banding 3%, biarkan luhan beristirahat terlebih dahulu sehun"

Sehun mengangguk "heum baiklah"ia lalu memutuskan sambungan telpon.

Sehun kini menatap luhan yang masih menatap benci ke arahnya, ia benar-benar tidak suka melihat luhan yang seperti ini.

"Kita pulang"ujar sehun lalu menarik paksa luhan untuk pergi dari rumah sakit.

.

.

.

Setelah membersihkan diri, luhan turun dari lantai atas dengan kaos bergambar rusa. Ia duduk di meja makan, kemudian maid datang menyajikan beberapa makanan untuk luhan. Luhan diam dan menatap makanan itu jijik seakan makanan itu akan menyebarkan virus mematikan dalam tubuhnya.

"Tuan luhan, anda harus makan"ujar maid lembut.

Luhan mendelik tajam, lalu melempar piringnya ke sembarang arah membuat piring itu pecah dan terbelah menjadi serpihan beling-beling kecil yang cukup berbahaya, membuat maid memekik kaget.

Mendengar teriakan maid, sehun bergegas turun dan terkejut mendapati pecahan piring berserakan di lantai.

"Aku tidak mau makan! Dimana kris hyung! Dimana orang tua ku!"teriak luhan, mata rusa indah itu kini terlihat rusak karena tatapan tajamnya yang terasa menusuk jantung.

"Luhan!"teriak sehun.

"Aku bilang dimana mereka!"bentak luhan tak mau kalah, ia mulai melempar beberapa barang yang ada di sekelilingnya.

"Ibumu meninggal! Ayahmu meninggal! Dan bahkan aku rasa hyungmu juga sudah meninggal!"

Luhan terdiam mendengar setiap detil kata yang terlontar dari bibir sehun. Bayangan ketika ia melewati mayat ibunya dan ketika ia melihat kakaknya mati tepat di hadapannya mengelilingi kepalanya seperti roll film. Setitik kristal membasahi pipinya memperlihatkan goresan garis transparan tercetak di pipinya.

"Tidak mungkin!"teriak luhan histeris, dia menampar-nampar pipinya dan menjambak-jambak rambutnya.

Sehun mendekati luhan dan memegang erat tangannya "hentikan, aku mohon"lirih sehun.

Luhan menepis tangan sehun dan kembali melemparkan barang-barang yang ada di sekelilingnya.

"Bibi kim, kau pulang saja"ujar sehun datar dan dingin, maid itu mengangguk mengerti lalu bergegas pulang tidak mau terluka.

Sehun berdiri membeku disana dengan ekspresi datarnya yang diam mengamati luhan yang terus melempar barang-barang tersebut. Ia diam dan masih diam, tak perduli rumahnya sudah hancur dia masih diam, hingga akhirnya luhan terlihat lelah dan berakhir duduk di lantai sambil terisak pelan.

"Eomma! Hiks appa! Hiks" jadi ini rasanya berduka? Terakhir kali dia menangis karena berduka adalah 15 tahun yang lalu. Ia baru menyadari bahwa ibunya telah meninggal dan baru menyadari betapa sakitnya saat tau orang yang kau sayang tidak akan berada di sampingmu lagi. Ia baru menyadari semua itu, padahal ketika itu ia hanya melewati mayat ibunya dengan santai dan tanpa perasaan.

Sehun menghampiri luhan, menariknya dalam dekapnnya. Luhan masih memberontak, namun sehun semakin mengeratkan pelukannya.

"Kris hyung, kakak ku yang lebih tua 12 tahun. Ia pewaris perusahaan xi, dan aku hanyalah anak berusia 6 tahun yang manja"luhan mulai bercerita sesekali sesenggukan.

"Tapi ia punya penyakit jantung, sehingga ayah harus menyembunyikan tentang keberadaan kris hyung. Kau tau kan ayah tidak suka jika keluarga dan pekerjaan di jadikan satu"

"Ayah sangat menyayangi kris hyung karena dia anak yang pintar dan punya sopan santun yang sangat bagus"

"Bahkan ia hanya melihat kris hyung di banding aku. Walaupun begitu kris hyung tetap orang yang paling aku sayangi"

"Dia membelikanku apa yang tidak di belikan orang tuaku. Suatu hari di sekolah, aku ikut pertunjukkan drama.

"Kris hyung berjanji akan menonton, tapi dia tidak datang, karena ia sedikit sibuk"

"Aku kecewa dan merasa marah, lalu mengatakan kalau aku membencinya hiks"luhan mulai terisak kembali.

"Ia mencoba menjelaskan tapi aku tak mendengarkan, aku berlari ke tengah jalan, kemudian yang aku tau kris hyung berlari mendorongku, dan besoknya aku hanya tau dia sudah meninggal hiks hiks"luhan masih terisak.

"Semua orang menatapku penuh benci, nenek dan kakekku, karena telah membunuh cucu kesayangannya"

"Ayahku, karena telah membunuh putra kesayangannya"

"Bahkan teman-temanku di sekokah mem-bullyku, memukulku, menendangku. Saat itu usiaku hanya 6 tahun, dan semua tatapan itu mengatakan kalau aku ini pembunuh"

"A-aku tak bermaksud hiks, aku sungguh hiks kehilangan kris hyung hiks"luhan terus menangis di pelukan sehun.

Detik berikutnya, luhan sudah jatuh tertidur. Sehun menatap sedih luhan, pria yang tadinya ceria, kini tertidur dengan mata sembab dan hidungnya yang memerah.

Sehun menggendongnya dan menjaganya agar pria mungil itu merasa nyaman dan tidak merasa terganggu. Ia membaringkan luhan, lalu menutup tubuhnya dengan selimut hangat bergambar rusa. Kemudian mengecup keningnya sejenak dan mematikan lampu.

.

.

.

"Sehunnieee!"teriak luhan dari lantai atas berlari menuju ruang makan.

Sehun yang tengah sarapan kini menatap luhan takjub, pria itu kini kembali ceria. Luhan berhenti sejenak lalu melihat sekelilingnya.

Bersih

"Lu-luhan"panggil sehun tersenyum kaku.

"Aku semalam mimpi buruk sehunnie"ujar luhan duduk di hadapan sehun.

"A-ada apa dengan mimpimu?"tanya sehun sedikit penasaran.

"Aku menangis disini, lalu melempar barang-barang. Tapi aku lega kalau ruangan ini rapi"

Kyungsoo telah menjelaskannya ketika sehun kembali menelponnya.

"Jika tidak permanen, ingatan yang mengacau memorinya akan kembali ketempatnya, dan memorinya normal kembali. Tapi ingatan ketika memorinya kacau, ia tidak akan mengingatkan dan merasa itu seperti mimpi, ia akan kembali seperti semula"

"Singkatnya, ia seperti mengigau"

Luhan benar-benar berpikir bahwa semua yang ia alami semalam hanyalah mimpi belaka. Ia kembali pada dirinya semula.

Kini sehun tau mengapa ayah luhan menutupi keberadaan kris dan luhan, tapi ia memilih menyimpannya sendiri.

Luhan meminum susu stroberinya, sehun menatapnya lirih, anak ini terlalu banyak mendapat tekanan, dan terlalu banyak menyimpan masalahnya sendiri, dan terlalu banyak beban yang di tanggungnya.

"Luhan"panggil sehun

"Hum?"

Sehun mengambil tangan luhan dan mengelusnya pelan "mulai hari ini, jangan menyimpan masalah sendiri hum? Kau harus berbagi beban denganku ya?"ucapnya lalu mengecup punggung tangan luhan.

Meskipun tak mengerti apa yang di katakan sehun, ia tetap mengangguk dan merasa tersipu dengan perlakuan sehun.

"Oh ya, hari ini kita akan membuat kontrak dengan perusahaan kosmetik yang kemarin kau pilih"jelas sehun lembut, luhan mengangguk tersenyum.

"Kita harus mendapatkan kontrak ini, mengerti?"lanjut sehun.

"Kalau kita dapat ?"tanya luhan menatap sehun berharap bahwa sehun akan membelikannya kaset anime dan game favoritnya

Sehun yang tak peka akan tatapan luhan, hanya terdiam lalu berkata "mungkin aku akan mentraktirmu es krim"jawab sehun santai lalu kembali menyantap sarapannya.

Luhan mengerucutkan bibirnya lucu "sehunnie!"teriaknya membuat sehun terkaget.

Luhan menghentakkan kakinya, lalu meminum susu stroberinya dalam beberapa tegukan kemudian berlari keluar dan masuk kedalam mobil sehun.

Sehun merasa heran kemudian cepat-cepat menyelesaikan sarapannya dan ikut menyusul luhan di mobilnya.

"Luhan, ada apa?"tanya sehun lembut.

Luhan memalingkan wajahnya, memilih menatap keluar jendela. Sehun menghela napasnya "jika kau menginginkan sesuatu, kau tinggal bilang saja padaku"ujar sehun, lalu mulai menjalankan mobilnya.

Luhan memilih diam, ia tak ada niat untuk memberitahu sehun. Ia ingin sehun ingat sendiri tentang janjinya.

Sesampainya di kantor luhan memilih mengurung dirinya di kantor.

Meeting akan di mulai dalam 30 menit, namun luhan masih mengurung dirinya di kantor, sehun mulai merasa gelisah dan mulai menggedor-gedor pintu ruangan luhan.

"Luhan! Sebentar lagi meeting akan di mulai! Jangan seperti ini, aku mohon"mohon sehun.

"Tidak mau! Sehun harus ingat dengan janji sehun terlebih dahulu!"balas luhan dari dalam ruangannya.

"Janji?"gumam sehun, ia memutar pikirannya, beberapa saat kemudian ia teringat akan janjinya membelikan kaset game dan anime jika luhan bekerja keras.

Sehun terkikik, lalu berdehem "jika kau tidak keluar, katakan selamat tinggal pada game dan anime-mu"ujar sehun pelan, namun masih dapat terdengar oleh luhan.

Luhan terbelalak, lalu membuka pintu dengan cepat. Luhan keluar menampakkan mata coklat hazel rusanya itu. Sehun merasa lega, lalu tersenyum senang "kau mau anime dan game-mu kan? Kalau begitu akan aku belikan jika kau mendapatkan kontrak ini"tawar sehun.

Luhan mengangguk dengan semangat.

.

.

.

Luhan membeli dua paper bag penuh kaset game dan anime, membuat sehun hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi ia sudah berjanji pada luhan. Dan tadi kedua belah pihak bersepakat dan menanda tangani kontrak.

"Luhan, kita harus membeli tuxedo untuk malam besok"ujar sehun sambil sesekali melirik arlojinya.

"Untuk apa?"tanya luhan menatap sehun dengan mata rusanya.

Sehun tersenyum "setiap desember, perusahaan kita mengadakan pesta winter. Ini adalah acara formal, kita akan mengundang beberapa kolega perusahaan kita"jelas sehun.

Menit berikutnya keduanya sudah sampai di toko tuxedo. Seorang wanita manis yang sepertinya sudah mengenal sehun, menyapa sehun dengan lembut "kali ini kau mau tuxedo yang seperti apa sehun-na?"tanya gadis tersebut.

Sehun tersenyum "yang menurutmu cocok padaku, krystal. Dan pilihkan satu untuk rusa ini"sehun terkekeh sambil menyenggol bahu luhan.

Krystal menatap luhan dari atas sampai bawah lalu kembali lagi ke atas "sepertinya aku tau apa yang cocok untuknya, ayo kita ke ruang ganti"ujar krystal tersenyum lalu berbisik sebentar pada sehun "pacarmu sangat manis"

Pipi sehun memerah mendengar perkataan krystal, sedangkan krystal hanya tersenyum jahil. Gadis itu memberikan sepasang tuxedo putih pada luhan, dan sepasang tuxedo hitam pada sehun. "Kalian cobalah tuxedo itu"ujar krystal, kemudian gadis itu duduk menunggu dua orang pria itu mengganti baju.

Beberapa saat kemudian, keduanya keluar secara bersamaan. Krystal menatap takjub, kedua pria itu seperti pasangan sesama jenis yang akan menikah. Melihat mata krystal yang berbinar, keduanya heran lalu melangkah menuju cermin besar di toko tersebut secara bersamaan.

Luhan langsung saja merasa tersipu, pipinya memerah dan terasa hangat. Sedangkan sehun tak hentinya menatap bayangan luhan di cermin. Bayangan-bayangan luhan berjalan ke arahnya di altar tiba-tiba terlewat di kepalanya.

Sehun berdehem keras, dan merasa kikuk. Ia menatap luhan dan luhan juga menatap sehun. Keduanya tersenyum bersamaan. Senyum yang tulus.

.

.

.

Setelah kemarin berbelanja, keduanya kini sampai di mana pesta tahunan perusahaan di adakan. Pulau jeju.

Setelah berbelanja kemarin, mereka langsung berangkat ke pulau jeju.

Sehun menggenggam tangan luhan lalu tersenyum hangat. Luhan merasa tersipu ketika teringat kejadian semalam ketika mereka sampai di hotel.

"Uwaaa, pantai!"teriak luhan senang.

Sehun terkekeh "kudengar mereka akan meluncurkan kembang api hari ini, kau mau kesana?"tanya sehun.

Luhan menatap sehun berbinar lalu mengangguk semangat "aku mau! Kembang api!" Kapan terakhir kali luhan melihat kembang api?

Pria mungil itu sangat bersemangat.

Keduanya sampai di pantai, mereka berjalan beriringan menyusuri tepi pantai yang kini mulai di penuhi pengunjung yang ingin melihat kembang api. Luhan menghentikan langkahnya, menatap jauh ke arah laut, menikmati hembusan angin laut yang berhembus menerpa helaian rambut madunya. Deburan ombak pantai seakan menjadi irama yang menenangkan.

Sehun tersenyum dan menatap luhan lekat, luhan membuka matanya kemudian menatap sehun, mata onyx dan mata rusa itu kini bertemu. Tanpa disadari wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja.

Tiba-tiba kembang api sudah berkobaran di langit, membuat keduanya terkejut.

Mereka tertawa sejenak, sehun tersenyum lalu menarik tengkuk luhan, melumat lembut bibir manis milik luhan. Pagutan bibir mereka terlepas di bawah sinar bulan dan kembang api. Luhan kini tak memperdulikan kembang apinya, ia memilih menatap sehun yang kini menempelkan dahinya ke dahi luhan. Sehun tersenyum hangat kemudian memeluk luhan.

Kedua memasuki ruangan ballroom yang sudah di penuhi tamu-tamu dari berbagai bidang bisnis. Sehun mengajak luhan untuk berkenalan pada beberapa kolega bisnis ayahnya dan sehun sendiri.

"Ahh ya ampun, putra tuan xi sangatlah manis"ujar beberapa istri kolega bisnis mereka yang gemas melihat luhan.

Luhan hanya tersenyum kikuk. Tak berapa lama kemudian, kai datang dari arah belakang "luhan kau terlihat manis dengan tuxedo itu"ujar kai. Luhan membalikkan tubuhnya begitu juga dengan sehun, kemudian menatap kai tajam.

Kai hanya tersenyum santai "perkenalkan, ini adalah kolega bisnisku dari perusahaan Wu"ujar kai, sambil memperkenalkan seorang pria bertubuh jangkuk dengan rambut coklat kemerahan.

"Ahh selamat malam, perkenalkan namaku wu yi fan"ujar pria tersebut.

Luhan menatap pria bernama yifan itu sejenak. Tiba-tiba jantungnya terasa terenyuh, matanya mulai berkaca, napasnya tersengal.

Sehun dan kai menatap bingung luhan, sedangkan yifan yang merasa sedikit bingung, masih tetap tersenyum berusaha sopan.

Suara luhan rasanya tercekat. Ia menaikan tangannya, lalu menyentuh pipi yifan lembut.

Setetes air mata mengalir di pipinya "hyung..."

"K-kris hyung"

TBC