Selamat Membaca Minna~Chan...
Chappy 4 MULAI TITIK TERANG…..
Happy Reading…
"SWEET AND TEARS IN A BELL" © Noeruhi Karachou
Disclaimer : Naruto Punyanya Masashi Kishimoto-san
Seperti biasa saya cuma numpang obrak-abrik hehe...
: ) ( digebuki fansx Naru...)
Pairing : Hinata H x Sasuke U
Rate : T-M
Warning : AU,AT,OOC,Longshoot,Gaje,Miss Tipo,Ejaan tidak Sesuai EYD,
Blood,Lime/Lemon .
Anak kecil Silahkan tekan Kembali , Hanya Untuk 18+...
Uchiha Sasuke : 21 Thn
Hyuuga Hinata : 20 Thn
Uchiha Itachi : 25 thn
Hatake Kakashi : 25 Thn
.
.
.
Chapter 4 :
Itachi masih memeriksa berkas bisnisnya di kantor saat Mei datang dan meletakkan segelas kopi hangat di meja kerjanya. Gadis itu berdiri agak lama sebelum akhirnya mengatakan sesuatu dengan hati-hati….
"Itachi~Sama, Ini….sudah pukul 6:30" Ucap Mei takut-takut, gadis itu bahkan berdiri agak jauh dari Itachi mengantisipasi jika pria itu murka dan marah padanya.
Itachi seakan tersentak dan melihat kejendela yg mulai gelap. Lalu ia terlihat menutup map kerjanya dan memijit pelipisnya,
"Kau bisa pulang sekarang Mei" Ucap Itachi kemudian.
Tangan sekertaris Itachi itu mengibas-ngibas di depan dadanya dengan gerakan sesopan mungkin…..
"Bukan begitu, Itachi~sama harus istirahat sejenak dan membersikan diri. Malam ini ada pestakan ?" Gadis itu menyodorkan kopinya kedekat Itachi.
Itachi balas mengerutkan dahinya. Pesta ? Pesta apa ?
Ia menatap Mei dengan agak intens dan tajam, dan sepertinya gadis itu mengerti….
"Itachi~sama menyuruh saya mengingatkan kalau ada pesta besar malam ini di Bar Blossom Lily" Jelas Mei agak ragu karena Itachi hanya bilang akan ada pesta dan menyebut nama adik bossnya itu lalu tidak ada keterangan lain. "Anda bilang Sasuke~sama mungkin….." gadis itu terlihat berusaha keras menirukan penggalan tak terjelaskan yg sama dengan ucapan Itachi meski dengan nada seformal mungkin.
Itachi menghela nafas kasar….
Bagaimana ia bisa lupa dengan pesta tidak masuk akal itu ?
Kepala itu mengangguk pada Mei, tanda bahwa ia sudah ingat dan mengerti. Lalu suasana diantara keduannya hening…..
Itachi mulai menyesapi kopi Cappucinno buatan Mei dengan tenang. Sementara Mei mulai membereskan berkas-berkas di meja Itachi dan menyisihkan berkas yg urgen atau mungkin akan dilanjutkan Itachi dirumah.
Aroma kopi itu mengepul memenuhi hidung Itachi. Untuk beberapa saat ia memandangi langit gelap dari jendela kantornya lalu berahli menatap sosok Mei yg masih sibuk membereskan dokumen miliknya.
Hingga sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Itachi…
"Kakashi mungkin tertarik padamu, Bagaimana menurutmu ?"
Aktivitas Mei langsung terhenti, dan tidak berusaha memandang Itachi. Tapi gadis itu terlihat tersenyum kecil, bukan senyuman karena malu tapi lebih menganggap hal yg Itachi tanyakan itu lucu.
"Saya yakin Kakashi~san mungkin lebih menganggap saya ini sosok asing yg tiba-tiba berada disekitar anda" Balas Mei tenang dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Lalu bagaimana jika aku yg tertarik padamu ?" Itachi mengatakan itu dengan nada biasa tapi justru menemukan reaksi yg berbeda pada diri Mei.
Gadis itu terlihat menjatuhkan beberapa berkasnya kelantai dengan mata terbelalak. Tapi kemudian cepat-cepat menata sikapnya dan tersenyum agak canggung. Ia meminta maaf lalu memunguti berkas yg jatuh akibat kecerobohannya.
"Itachi~sama pasti hanya bercanda" balas gadis itu pelan dan dibuat agar tidak menyinggung pria itu sedikitpun..
Itachi tersenyum misterius tanpa diketahui Mei, ia tidak menjawab balasan Mei tapi justru…..
"Kemarilah!" Itachi menyuruh Mei mendekat kearahnya.
Gadis itu melangkah perlahan ke sisi Itachi dengan dokumen dipelukannya
"Ada yg bisa saya bantu Itachi~sama" dengan ekpresi sedikit dibuat biasa..
"Bisakah kau menemaniku kepesta malam ini Mei ?" Tanya Itachi datar. Tapi sorotnya seolah sangat menginginkan jawaban ya yg mutlak.
Mei terlihat tersenyum tulus….
"Tapi…..apa tidak apa-apa saya datang dengan baju seperti ini ?" kepala gadis itu tertunduk dalam agak malu tapi ia juga tidak bisa langsung mengatakan ya….
"Itu masalah mudah" balas Itachi, lalu Itachi terlihat melihat jam ditangannya dan serigai tipis tercipta "Masih satu setengah jam lagi, Aku ingin kau menyiapkan dokumen kerja sama dengan Shimura Corp untuk besok" ia mencari kemungkinan bisa melepas rasa pening dikepalanya….untuk sejenak…..
"Baik Itachi~sama" kepala itu cepat-cepat mengangguk.
"Tapi sebelum itu bisa kau duduk disofa sebentar ?"
Untuk pertama kalinya Itachi menatap Mei dengan pandangan yg menurutnya berbeda.
"Itachi~sama, saya tidak penat sama sekali" ia mengira Itachi menyuruhnya duduk untuk beristirahat….
Itachi berdiri tanpa berkata apapun lalu menyeret Mei duduk dan merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu….
"Bukan kau tapi aku yang lelah" dengan mata berat dan muka suntuk itu Itachi langsung memejamkan matanya.
Mei sempat terjingkat, muka gadis itu memerah penuh…
'Ita-Chi~Sama ?' tangannya dengan canggung mengambang diatas kepala Itachi, ia takut tidak sopan membelai kepala itu meski ia sangat ingin …..
"Anda harusnya mengambil libur untuk beristirahat" hanya kata itu yg akhirnya keluar dari mulut Mei, sembari mengatur detak jantungnya yg meloncat-loncat.
Tap….
Itachi menangkap tangan mengambang itu, dan disambut tubuh tegang gadis itu. Mei langsung panik….
"Maaf , Itachi~Sama!" ucapnya cepat. Dan berusaha menarik tangannya dengan selembut mungkin tapi Itachi tidak melepasnya…
Itachi membuka matanya dan menaruh tangan itu didahinya, muka itu tiba-tiba seperti sesuatu yg membara terkena dingin es, mengepul dan terlena.
"Begini lebih baik"
BLUSHHHH…..
Mei membeku ditempat, mata itu melihatnya dengan penuh damba seolah Itachi mempunyai perasaan seperti yg dia ucapkan tadi….
Mulut itu terkatup rapat, ia menjadi sangat canggung dan sudah akan beranjak saat tiba-tiba kedua lengan Itachi merangkul erat perutnya dan menyembunyikan wajahnya disana….
"Ita-Chi~Sama ?" panggilnya pelan denga suara nyaris terpekik…..
"Kepalaku sakit", Itachi bahkan tidak berusaha beranjak malah menyamankan posisinya.
"Hanya 15 menit" gumamnya lagi….
Mei menghela nafas berulang kali mencoba setenang mungkin. Perlahan namun pasti tangan itu membelai rambut Itachi dengan senyum kecil…..
"Jika aku mengambil cuti untuk liburan maukah kau menemaniku ?" kembali gumaman Itachi terdengar.
Mei sudah lebih bisa mengatur reaksinya, ia kembali tersenyum kecil melihat kelakuan Itachi yg jauh dari yg selama ini terlihat.
"Saya akan pikirkan itu nanti" Mei menahan nafas lagi saat rengkuhan Itachi lebih erat diperutnya.
"Kalau kau menolak aku akan menyeretmu" desisan itu membuat bulu kuduk Mei merinding dan cepat-cepat mengangguk…..
"Baiklah Itachi~sama"
Ada serigai di wajah yg bersembunyi itu….
Apa salahnya bersantai sejenak…..Aroma dari tubuh itu sedikit besar berpengaruh pada otak Itachi yg benar-benar mengepul…..
Sejujurnya dia sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok yg ia lihat 3 hari yg lalu….
Gadis riang dengan pipi cabby yg dulu selalu memanggilnya kakak dengan manisnya…
"Selamat Pagi Nii~san!" gadis yg mampu membuat mansionnya lebih hangat dan disayangi seperti keluarga sendiri…..bahkan Itachi tidak bisa membedakan rasa sayangnya antara gadis itu dan Sasuke adiknya…
Hanya satu pertanyaan yg membuat otaknya sangat berat…..pertanyaan yg hanya akan bisa ia ketahui jawabannya saat ia bertanya pada Sasuke…..
Jika saja itu mungkin maka ia pasti sudah bertanya….
'Benarkah itu Hinata ?'
Itachi belum sempat mencari tau tentang gadis itu karena ia sangat sibuk beberapa hari ini. Hanya saja kemunculan tiba-tiba Hinata dikantor Sasuke sangat ganjil. Gadis yg sempat terpikir olehnya saat insiden penusukan itu memang Hinata. Tapi kenapa Hinata tidak menghubungi keluarganya jika ia sudah pulang ? Sampai 2 tahun yg lalu bibi Hikari masih mengiriminya email meski sangat jarang. Ia bahkan tidak mengatakan mengenai kontaknya dengan ibu Hinata itu pada Mikoto, Ibunya.
Foto Hinata juga sempat dikirim dan isi surat itu seolah semua baik-baik saja…..
Sasuke juga tidak mengatakan apapun padanya tentang Hinata. Seolah kemunculan gadis itu tidak ada pengaruhnya….tapi jika dipikir kembali percobaan pembunuhan yg terjadi lima tahun lalu pada Sasuke mungkin adalah kendalanya….Kerusakan memori akibat pukulan benda tumpul di kepala Sasuke tidak menyebabkan kejeniusan adiknya itu berkurang tapi dokter berspekulasi bahwa kemungkinan memori masa kecil yg paling Sasuke lindungi akan hilang atau terselubungi.
Kekawatiran ibunya sangat beralasan, dokter bahkan pernah mewanti-wanti agar Sasuke tidak berpikir terlalu keras. Pemaksaan pada memori terselubung itu bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah, dan mungkin saja mengembalikan Sasuke ke masa koma 5 tahun yg lalu. Itachi tidak pernah cemburu pada Sasuke yg menerima perhatian penuh ibunya, ia bahkan lebih suka mengejek adiknya itu.
Dulu Sasuke selalu yg paling semangat saat Hinata datang ke mansion keluarganya. Mereka masih sangat kecil saat itu, tapi tidak halnya dengan naluri melindungi satu sama lain.
'Apa mungkin memori yg terselubung itu adalah ingatan tentang Hinata ?'
Pasalnya sejak bangun dari koma Sasuke sudah tidak pernah menanyakan Hinata lagi. Semakin beranjak dewasa barang-barang kenangan tentang gadis itupun sudah masuk ke gudang semua. Sikap Sasukepun menjadi lebih kejam, lebih dingin dan tentu saja lebih liar.
Kerusuhan sering terjadi di SMAnya, dan itu selalu berakhir dengan kemurkaan ayahnya. Tidak pernah ada masalah dengan prestasi Sasuke bahkan ia menempuh masa itu hanya 1,5 tahun dan meraih gelar masternya dalam 3,5 tahun dengan ipk fantastis. Dalam setengah tahun perusahaannya yg berdiri sendiri dari Uchiha Corp induk sudah memiliki cabang dibeberapa kota dengan pendapatan bersih yg terlalu banyak jika ditulis nolnya. Itachi tidak memungkiri gen ayahnya sangat unggul tapi perubahan sikap Sasukelah yg ia soroti.
Ia bahkan sempat berharap,
'Jika saja Hinata tidak pergi ke Negara yg begitu jauh maka Sasuke tidak akan jadi sosok yg selalu kecanduan alcohol dan dunia malam'
Hhhhhh….
'Jika saja…..'
Itachi merasakan kedamaian dalam sekejap saat belaian dikepalanya seolah membuang segala beban dipikirannya. Seharusnya ia bisa selalu mendapat kedamaian ini dari hari pertama Mei berkerja…tapi ia hanya tidak mau membuat gadis yg tengah ia peluk ini ketakutan….
Siapa sangka jika Mei sudah di incar Itachi sejak gadis itu lulus kuliah. Meski ia tidak menampakkannya secara langsung…
Sepertinya Uchiha bukan tipe orang yg akan mengutarakan segalanya secara langsung tapi mereka lebih memilih dengan cara yg mungkin sedikit ektrim. Lalu Itachi mendapati dirinya benar-benar memejamkan matanya…..hanya ada suara denting jam yg terdengar ditelinganya lalu sayup-sayup ia mendengar senandung kecil yg menenangkan….
Mei menggumamkan nada-nada psikologis yg pernah ia pelajari secara praktis untuk menenangkan seseorang….ia memandangi wajah Itachi yg sudah tertidur sembari memijit kepala itu…
Mata senduh itu berahli memandangi bintang dari balik kaca besar…..lalu memandang kembali kearah Itachi yg sudah tidak bergerak…..
"Beban yg anda pikul pasti sangat berat" bisik Mei lirih….
"Semoga semua yg anda rencanakan berjalan seperti yg anda inginkan" tambahnya…
Senyum di wajah cantik itu tiba-tiba diselimuti malu kembali.
"Jika anda melakukan ini lagi di waktu lain, Saya mungki tidak akan bisa menahan kebahagiaan yg meledak dihati saya" akunya jujur, ia tidak mungkin mengatakan itu saat Itachi sadar.
"Istirahatlah Itachi~sama" Bisik Mei lagi….
Gadis itu memandangi jam didinding sejenak, dan 15 menit itu sudah lewat…..
Tapi ia tidak tega beranjak dan membiarkan Itachi terganggu….
Akhirnya Mei tetap diposisi itu dan menunggu waktu yg tepat untuk membangunkan Itachi….
.
.
=========**OO**==========
Green Lord Apartement, 30 menit yg lalu…..
Hinata berdiri didepan pintu yg sudah terbuka lebar itu dengan sorot agak ragu. Sasuke yg sudah masuk kedalam tampak mengernyit, lalu dengan tidak sabar menarik gadis yg basah kuyup itu.
Hinata agak tertatih mengikuti tarikan Sasuke. Kemungkinan stiletto bertalinya yg membuat luka pada pergelangan kakinya, Rasa perih itu bahkan lebih panas dari matanya yg agak bengkak. Tubuh itu masih bergetar kedinginan, tapi tekatnya masih sangat bulat.
Sasuke melepaskan tarikannya dan duduk disofa ruang tamunya. Sementara gadis didepannya terlihat bingung harus melakukan apa…..
Lama Sasuke terdiam hingga kemudian memandangi tubuh Hinata dengan helaan kecil…
"Kurasa kau harus berganti pakaian" Ucapnya, "Pilih baju yg mungkin cocok untukmu di ruangan itu setelah itu baru aku akan memberitahumu apa yg harus kau lakukan"
Jari Sasuke menunjuk ruangan disebelah kanannya.
"Baik Uchiha~sama" gadis itu mengangguk patuh…langkah pelannya sangat mengganggu Sasuke.
Ia bahkan melihat pergelangan kaki gadis itu yg memerah…..
"Kau itu sangat lambat, aku tidak suka punya sekertaris lamban" Sasuke berdiri dan berjalan ke arah Hinata lalu mendorong tubuh itu agak kasar agar duduk di tepi ranjangnya…..
Hinata nyaris terkejut saat dengan cepat pria didepannya itu jongkok melepas stilletonya dan melemparnya ketempat sampah.
Baru ia akan berdiri saat mendapati Hinata yg dalam posisi setengah merebah. Serigai tipis terpatri disana dan mulai mengurung tubuh itu dan mempersempit jarak diantara mereka…
Hinata menahan nafasnya saat kepala Sasuke sangat dekat dengan wajahnya. Ia bahkan takut bergerak, saat himpitan Sasuke semakin membuat debaran dijantungnya berdentum-dentum.
"Uchiha~sama ?"
Hembusan nafas Sasuke tiba-tiba memberat ia membelai rambut indigo Hinata yg terurai basah di atas sprei…..
"Dengarkan aku baik-baik, Karena aku akan menjelaskan apa saja tugasmu disini dan aku tidak akan mengulanginya dua kali" Sasuke memberi jeda…..
"Satu, kau tidak boleh mencampuri urusanku diluar kantor" Terpaan nafas hangat itu menjalar dipermukaan wajah Hinata. "Terutama dengan kehidupan nokturnalku"
"Dua, kau hanya melakukan sesuatu yg kuperintah" Himpitan itu semakin erat…
"Pekerjaanmu salah satunya adalah memuaskan apapun yg ku inginkan" bisik Sasuke seperti mencoba menahan bara yg mulai panas. Dahi itu bahkan mulai berkeringat…
Kembali hati Hinata berdetak nyeri…..Akhirnya dia akan mewujudkan olokan ibu tirinya dengan menjadi pelacur Sasuke…..Tidak bisakan ia mempercayakan hidupnya pada Sasuke ?...
Dari yg Hinata dengar tidak ada kebebasan apapun yg Sasuke berikan padanya…..dia hanya sebuah bidak yg sudah diatur posisinya…..
Namun…..ternyata masih ada tali lain yg menjerat Hinata lebih erat…
"Dan…..kau akan tinggal disini bersamaku sebagai pelayan" Ucapan Sasuke untuk beberapa detik membuat Hinata membeku ditempat. Tubuh itu tiba-tiba bergetar hebat, lelehan tangis itu kembali turun dengan deras dalam diamnya.
'Kenapa harus begitu lagi ?' Hinata ingin mejerit sekeras-kerasnya…..
Nyatanya ia sudah tidak bisa menarik segalanya kembali, Tubuh itu melemas seketika.
Satu hal yg tidak di inginkan Sasuke adalah bocornya infomasi kekubu Neji. Dan itu mutlak harus dilakukan…..dia tidak mau mengambil resiko apapun dan untuk hal apapun.
"Kau paham Hinata ?" Onix itu tiba-tiba agak senduh melihat kondisi Hinata yg seperti itu, ia sangat ingin mencicipi tubuh dalam tindihannya itu….Tapi ada hal yg menahannya…
"Saya berarti harus hidup dalam kurungan lagi" balasan lirih Hinata mampu membuat dahi Sasuke berkedut tidak mengerti…..
Tapi ia juga tidak berusaha bertanya….
"Aku tidak perduli dengan hal lain, jika kau tidak mau pintu keluarnya disana" Sasuke tidak beranjak bangun dari himpitannya tapi dia menunjuk pintu keluar dengan dagunya….
"Sangat mudah bukan ?" lanjutnya….
Kepala Indigo itu tertunduk dalam, cairan beningnya masih merembes disana.
"A-ku akan tinggal disini" ucap Hinata lemah….sekaligus pasrah….
Sasuke mengangkat dagu itu agar Hinata melihat ke matanya…
"Jika kau ragu menjadi pelayan rendahanku, kau bisa melarikan diri sekarang selagi bisa" ia memberi jeda sejenak. "Karena aku tidak akan melepaskan santapanku sebelum aku bosan" lidah Sasuke terjulur dan membasahi bibir gadis dibawahnya. Menyeka disepanjang dagu Hinata, dengan sorot tajam seperti biasa seolah tidak ada nafsu disana hanya keinginan bermain-main.
Mata indigo itu melebar, bahkan terlihat takut berkedip. Ada sesuatu yg menghangat dipipi itu tapi cukup tipis saat kembali rona itu lenyap mengingat posisinya sekarang yg hanya sebuah boneka.
"Sasuke" panggilan lembut itu secara tidak sadar membuat pria didepannya mengenyit lebih dalam…..
Bukan karena bingung tapi disebabkan rasa nyeri di kepalanya yg sangat tiba-tiba ketika panggilan itu hinggap di telingannya.
'Ugh…Apa itu tadi ?'
Hinata agak takut saat Sasuke beringsut menimpanya sembari memegangi kepalanya sediri. Nafas Sasuke agak terputus dan bergerak-gerak dengan pola tak beraturan diatas dadanya…
Tidakkah itu erotis ?
Mukanya bahkan terpendam erat diantara kedua dada Hinata…..
Hinata menahan nafas dengan semu yg lebih ketara yg kembali hadir…..
"Sa-suke ?" Kembali panggilan itu terdengar…..tangan Hinata dengan ragu mengelus punggung itu saat Sasuke mengerang kesakitan.
"A-da a-pa dengan an-da ?" Hinata bersikap lebih formal dan agak terkejut saat Sasuke bangun dari tubuhnya dengan muka menahan sakit.
Sasuke mengingat sesuatu yg sepertinya sama…tapi ia juga ragu. Ia bahkan terdiam sembari mengamati Hinata yg bangun dan mencoba menyentuh tubuhnya namun ia tepis kasar…
"Jangan pernah memanggilku dengan nama kecilku" suaranya lebih dingin dan tidak main-main.
Hinata agak terperangah lalu mengangguk mengerti, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Sasuke sedang marah.
Lalu Sasuke segera beranjak dan duduk di sofanya tadi. Muka itu terlihat tegang seolah sesuatu telah muncul disana meski hanya sedikit.
"Cepat ganti bajumu" perintah itu terdengar biasa tapi sangat dingin menurut Hinata.
Hinata segera beranjak dan masuk ke ruangan yg ditunjuk Sasuke. Tapi gadis itu sempat melirik Sasuke beberapa saat sebelum menutup pintunya.
'Sasuke tidak papakan ?' hanya itu yg muncul dipikiran Hinata.
…o…-…o…
Hinata melepas baju basahnya dengan perlahan, ia merasa tubuhnya agak ngilu. Kepalanya pusing, gadis itu bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir rasa pening itu.
Tapi tidak berhasil…..ia melihat kearah baju-baju yg tertata rapi di ruangan yg hanya berisi lemari-lemari tinggi itu. Gadis itu mencium aroma Sasuke yg sangat kental tersebar diruangan tertutup itu….sangat lembut seolah telah menempel disetiap benda ruangan itu. Aroma parfum yg sempat ia cium ditubuh Sasuke juga tertinggal disana….
Hinata berjalan kearah lemari yg terdiri atas laci-laci dan perlahan membukanya. Sudut bibir gadis itu tersenyum kecil, hanya ada satu benda yg ia kenali disana.
Sebuah dasi biru dengan symbol bunga lavender samar berwarna silver yg mengkilat, itu adalah hadiah yg Hinata kirimkan beberapa tahun setelah ia tinggal di Australia. Ia tidak mengira masih melihat dasi itu dengan kondisi yg masih sangat baik. Tapi…
Jika Sasuke masih menyimpan pemberiannya, kenapa ia tidak ingat dengan dirinya…..
Mungkinkah Sasuke memang sengaja melupakannya setelah sekian lama…..
Melupakan seseorang yg dulu pernah mengutarakan cinta padanya…..
Hinata tersenyum miris, Tentu saja Sasuke sudah melupakannya. Mana ada seseorang yg masih mengingatnya setelah dua belas tahun…ditambah marganya yg sudah berubah…..
Apa yg bisa Hinata harapkan dari itu….
Sekarang yg patut ia sukuri adalah bisa ada didekat Sasuke dengan jarak sedekat ini. Dan kemudian menagih janji pada ibu tirinya….Tidakkah itu bisa terwujut karena Sasuke….
Memulai lembaran baru dengan kisah baru, yg diawali dengan saling memberi nama masing-masing seolah Hinata dan Sasuke memang belum pernah mengenal sebelumnya.
Lama Hinata termenung disana hingga ia lupa bahwa tujuannya keruangan itu adalah mengganti bajunya. Dengan perlahan ia mencari baju yg mungkin bisa ia pakai, dan yg Hinata heran adalah ada banyak baju wanita dirak paling pojok dengan model yg sangat manis serta sangat cocok untuknya. Bahkan celemek masak dan beberapa alat make up juga tersedia di lemari itu.
Hinata baru akan memakai baju itu saat suara Sasuke menginterupsinya….
"Aku tidak suka menunggu" hanya satu desisan tapi membuat tubuh Hinata dengan kilat memakai baju itu dan membenahi rambutnya. Meski wajah pucat itu tidak bisa disembunyikan…
Hinata keluar dengan tergesah dan hampir tersandung…..ia melirik Sasuke yg menatapnya tajam…..
"Saya suda selesai Uchiha~san" dan menjadi agak canggung saat tatapan itu taaak kunjung berhenti.
Langkah pria itu yg mendekat semakin membuatnya takut….
"Buatkan aku makanan" mulut itu memang menyuruh tapi seolah bukan itu yg menarik perhatian pria itu…..Sasuke membalik tubuh Hinata untuk membelakanginya dan…
Hinata membeku saat tangan Sasuke menarik resleting punggung gaunnya keatas.
Krincing…Krincing…
Gelang yg dipakai Hinata berbunyi….Saat tubuhnya dibalik kembali dan sebuah kecupan mendarat diatas bibirnya…..Ametis itu melebar…..
'Sasuke ?'
"Kau harus patuh padaku Hinata"
"Itu aturan yg paling dasar"
.
.
.
.
============*T*B*C*==========
Bagaimana apa Tbcx maksa ?
Klow iya Noe minta maaaf sebesar-besarnya….
Seperti biasa makasih buat yg udah nunggu + ninggalin jejak di ff ini….
Semoga gk mengecewakan ya…..
Lagi buntu hihihi…..
Jumpa lagi di Chap selanjutnya…..
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dan masukan kalian…
Hope u enjoy….
Ja Ne…
