Sejujurnya saya menulis author's note ini karena bingung mau mulai chapter 4 dari mana. XD Jadi sekalian saja, daripada masih blank begitu document-nya. =P

DISCLAIMER: Saya ATLUS adalah pemilik Persona 3.

Enjoy! ^^

Akihiko's POV

Daripada berlama-lama di dalam hutan yang semakin gelap, kami bertiga sepakat untuk keluar dulu dari tempat ini, baru membicarakan apa pun yang butuh untuk dibicarakan.

"Ngomong-ngomong, magic yang tadi hebat. Itu magic yang paling hebat ya?" tanyaku pada Mitsuru selama perjalanan.

"Yang terkuat dariku. Masih banyak sekali magic yang jauh lebih kuat daripada yang tadi," jawabnya. "yang mungkin saja kumiliki." ia menambahkan.

Sisa perjalanan keluar dari hutan itu sunyi tanpa ada yang bicara. Sepertinya kami masih belum bisa beradaptasi satu sama lain. Sampai akhirnya kami berhasil melihat langit malam dan sebuah kota yang cukup besar di bawah sana.

"Akhirnya keluar juga, hutan ini luas ya." komentarku.

"Sebaiknya kita cepat-cepat ke kota. Selain itu, boleh aku tanya sesuatu tentangmu, Shinjiro-san?" tanya Mitsuru sambil tersenyum.

"Panggil Shinjiro juga boleh, tidak usah repot-repot," jawabnya. "Kau mau tanya apa?" ia bertanya balik.

"Sedang apa kau di hutan tadi?" tanya Mitsuru tanpa basa-basi.

Shinjiro terdiam sejenak, cukup terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Tidak melakukan apa-apa." jawabnya santai.

Aku tertawa kecil. "Bohong, siapa sih yang mau ke sana tanpa ada tujuan khusus?" balasku.

Ia menatapku tajam, tapi lalu menatap lurus ke jalan setapak yang kami lalui sekarang. "Nanti juga kalian tahu. Aku tidak perlu memberitahukan segalanya pada orang yang baru kukenal, kan?" katanya.

"Kalau memang begitu, kenapa kau mau ikut dengan kami?" tanya Mitsuru santai. Tapi di sudut matanya ada kejahilan yang membuatku tersenyum.

Kali ini Shinjiro benar-benar tidak bisa menjawab. Ia malah semakin cepat berjalan meninggalkan aku dan Mitsuru di belakang. Kami saling berpandangan dan mengangkat bahu, lalu cepat-cepat berjalan supaya sejajar dengan Shinjiro.

Sesampainya di gerbang kota yang cukup besar itu, kami berhenti sejenak. "Akihiko, kau bilang setelah kota ini ada sesuatu?" tanya Mitsuru.

Aku mengangguk membenarkan. "Ya, menurut buku ini sih begitu." jawabku sambil mengangkat buku yang kami pinjam dari perpustakaan di kota sebelum hutan tadi.

Mitsuru mengangkat alisnya. "Aku nyaris melupakan buku itu, dari tadi kau pegang?" tanyanya lagi.

"Uhm, ya, tadi di jalan aku mengeluarkannya untuk membacanya sebentar." jawabku agak ragu. Sebenarnya aku juga baru menyadari sesuatu. Kalau saja tadi saat kami diserang dan tas berisi buku ini kenapa-kenapa, kami dalam masalah besar.

"Kalian dapat buku itu dari mana?" tanya Shinjiro tiba-tiba, menunjuk buku di tanganku.

"Dari perpustakaan di kota sebelum hutan tadi. Buku ini sudah lama tidak tersentuh, padahal berguna sekali." jawabku.

"Boleh aku melihatnya? Tenang saja, aku tidak akan mencuri. Tak ada gunanya juga bagiku." katanya sambil mengulurkan tangan.

Tanpa ragu aku mengangguk, karena entah kenapa aku mempercayai orang ini. "Tentu saja, silahkan." balasku.

Ia meraihnya dariku dan membuka-buka halamannya sebentar. Dan yang ia buka adalah beberapa halaman sebelum dan sesudah halaman yang terbakar. "Buku ini penting, jangan sampai kau kehilangannya. Ia akan menunjukkan jalan bagi kita." katanya sambil menyerahkan kembali buku itu.

Aku dan Mitsuru berpandangan lagi saat Shinjiro meneruskan perjalanan sendiri. "Kita?" kata kami bersamaan.

Lalu Mitsuru berlari kecil mengejar Shinjiro, dan aku menyusulnya. "Shinjiro-san, kau mau ikut dengan kita melanjutkan perjalanan?" tanyanya dengan serius, tapi tetap tersenyum.

Masih sambil berjalan, Shinjiro menatap Mitsuru. "Aku? Ikut kalian?" katanya sambil mengernyitkan kening. Mitsuru mengangguk.

"Tapi itu kalau kau mau. Aku tidak akan memaksa." tambah Mitsuru.

"Kalau dipaksa juga aku tetap mau kok." balas Shinjiro.

Aku sendiri cukup terkejut dengan pernyataannya. Orang ini baru saja bertemu dengan kami beberapa puluh menit yang lalu, tapi sekarang dengan beraninya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan tanpa akhir ini? (Kalau benar tanpa akhir, untuk apa dimulai?)

"Benarkah??" aku bisa melihat mata Mitsuru yang begitu berbinar-binar saat mengatakannya.

Shinjiro mengangguk kecil. "Aku sendiri tidak ada kerjaan lain." balasnya singkat.

Saat itu juga kami memutuskan untuk pergi bersama melanjutkan perjalanan yang kami sendiri tidak tahu di mana ujungnya.

Penginapan yang kami datangi malam itu rupanya punya taman belakang yang cukup luas dan sepi untuk dipakai berlatih. Jadi malam itu kami keluar sama-sama. Aku dan Shinjiro memutuskan untuk sedikit mengajari Mitsuru cara memakai panah dan pedang.

"Yang ini tidak begitu berat kok, mau coba?" aku memberikan senjataku yang berwarna perak dan memang tidak begitu berat pada Mitsuru.

Ia menggenggam pegangannya dan aku melepas peganganku. Untuk sementara ia berhasil beradaptasi dengan massa benda tersebut, tapi lama kelamaan ia menurunkannya ke tanah.

"Kalau lama-lama tetap saja berat, tahu…!" protesnya sambil mengembalikannya padaku.

Aku tertawa dan menusuk tanah dengan pedangku. "Kalau begitu kau coba pakai panah saja. Sepertinya kota ini khusus untuk persiapan perang. Lihat, di sana ada sasaran panah." kataku sambil menunjuk sesuatu—entah terbuat dari apa—yang merupakan sasaran untuk menembakkan panah.

Melihat benda itu, Shinjiro mengangkat panahnya dan menusuk sasaran itu nyaris tepat di tengah.

"Waw, kau pemanah yang hebat." komentarku.

Shinjiro tidak membalas dan mengulurkan busur beserta anak panahnya pada Mitsuru. "Kau mau coba? Tidak akan begitu berbahaya, paling tergores sedikit." katanya.

Mitsuru menerimanya tanpa ragu-ragu—melakukan perjalanan seharian ini dengannya membuatku belajar bahwa ia memang takut gelap, tapi ia tidak takut akan apa pun yang mungkin akan melukainya. "Baik, ajari aku bagaimana cara memakainya dengan benar." balasnya.

Selama beberapa menit kemudian, Shinjiro bersusah payah menjelaskan tentang busur dan anak panahnya itu. Bukan karena Mitsuru yang tidak mengerti, tapi karena Shinjiro sendiri yang merasa kesulitan dan tidak tahu cara menjelaskannya.

"Oi, Shinji! Coba kau contohkan saja, deh!" teriakku dari bangku taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Shinjiro menatapku kesal. "Jangan bikin nama panggilan seenaknya!" protesnya. Aku hanya tertawa.

"Kau kan tidak protes dipanggil Shinjiro, harusnya dipanggil Shinji juga tidak protes dong!" balasku.

"Terserah!" teriakannya membuat Mitsuru yang tak sempat menutup telinga bergerak menjauh secara spontan sambil meringis. Aku tergelak melihatnya dan memutuskan untuk bergabung.

"Coba dari tadi kau tunjukkan, tidak akan sesulit itu!" protes Mitsuru sambil berdiri sesuai dengan yang Shinji baru saja tunjukkan.

"Ya sudah lah, sekarang tarik sekuat mungkin dan lepaskan saja." kata Shinji singkat.

"Itu tidak menjelaskan apa pun, tahu." protesku sambil menatapnya bingung.

"Habis aku bingung bagaimana cara menjelaskannya. Sudah lah, untuk yang satu ini percobaan saja." ia mengelak.

Mitsuru menggelengkan kepala frustasi, tapi dengan serius membidik sasaran setepat mungkin. "Tenang saja, di belakangnya ada tembok yang tebal kok." komentarku setelah melihat tembok yang tidak akan mungkin bisa ditembus oleh anak panah itu.

Setelah diam sejenak (dan mungkin setelah pegal menahan busur yang agak berat untuk ditarik), Mitsuru melepaskan anak panah dan benda itu mengenai sasarannya, walaupun agak di pinggir.

"Not bad, aku tidak bisa melakukannya waktu pertama menembakkan anak panah itu." komentar Shinji sambil mengambil alih busurnya sebentar dan menjelaskan lebih detail bagaimana supaya bisa lebih tepat sasaran. Aku tersenyum melihat Shinji yang mulai bisa menjelaskan dengan cukup lancar.

Setelah Mitsuru cukup capek untuk melanjutkan latihannya, sekarang gilirannya bersantai sedikit sementara aku dan Shinji bergantian mencoba menukar senjata masing-masing. Tapi sepertinya aku tidak ada bakat menggunakan panah, dan Shinji pun tidak ada bakat menggunakan pedang. Kami sama-sama canggung sampai Mitsuru menertawakan kami.

"Mitsuru, magic tidak bisa diajarkan ya?" tanyaku.

Ia mengangkat alisnya. "Aku belum pernah coba," jawabnya sambil berdiri dan menghampiriku. "bagaimana kalau kita coba?" katanya.

Dan kuakui, Mitsuru adalah guru yang baik. Ia bisa membuat aku dan Shinji konsentrasi pada penjelasannya yang begitu menarik.

Tapi sayang, penjelasan itu sia-sia karena kami sama sekali tidak bisa menggunakan magic sedikit pun.

Mitsuru menghela nafas. "Memang sih, tidak semua orang punya bakat sihir, tapi tidak kusangka kalian berdua benar-benar tidak punya setetes pun." komentarnya.

Aku hanya tertawa. "Ya sudah lah, yang penting sekarang kau bisa lebih melindungi dirimu sendiri, jadi harusnya kau bisa melindungi kami juga." balasku.

Keesokan paginya kami langsung berangkat menuju sebuah hutan (lagi). Banyak yang bilang, di dalam situ kita bisa menemukan petunjuk tentang Chaos. Tapi sayang, orang-orang yang masuk ke sana jarang sekali ada yang keluar hidup-hidup. Hal itu tidak terlalu menggangguku, entah kenapa. Mungkin karena aku percaya pada kedua sahabatku.

"Aku capek keluar masuk hutan..." kata Mitsuru saat kita mulai memasuki hutan.

Aku tersenyum lebar. "Siapa bilang aku tidak? Tapi apa boleh buat, ini satu-satunya jalan." balasku.

Kami berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Di dalam seperti sudah malam hari, padahal baru saja jam sembilan pagi. Setelah berjalan cukup lama, kami bertemu dengan sebuah gua dengan atmosfer aneh di salah satu sudut hutan yang gelap ini.

"Haruskah kita... masuk ke sana?" tanya Mitsuru ragu-ragu di hadapan gua yang bahkan jauh lebih gelap daripada hutan ini.

"Kalau boleh memilih sih lebih baik tidak usah masuk. Tapi satu-satunya tempat menarik di hutan ini... ya cuma ini." jawab Shinji cuek sambil mengawasi sekitar.

Kami memutuskan untuk tetap masuk ke dalam, dan menanggung semua resiko yang menunggu di sana.

"Aku percaya pada kalian berdua." Mitsuru menatapku dan Shinji.

Aku terdiam sebelum menjawab, "Aku juga percaya pada kalian."

"Aku juga." Shinji pun angkat bicara.

Mitsuru tersenyum. "Apa pun yang terjadi, berjanjilah untuk tetap mempercayai satu sama lain, oke?"

Aku dan Shinjiro mengangguk.

Mitsuru's POV

"Rasanya gua ini kecil dilihat dari luar..."

"Dari luarnya saja..."

"Jangan-jangan kita yang diubah jadi kecil seperti Alice in Wonderland?"

Keluhan kami bertiga bergema di dalam gua kosong yang hanya diterangi seadanya. Dari luar memang terlihat kecil, tapi ternyata dalamnya seperti labirin. Besar dan tak berujung. Akihiko nyaris tertusuk batu tajam yang mencuat dari dinding yang baru saja kami lewati.

"Ayo terus, teman-teman. Aku merasa sesuatu yang bagus sedang menunggu di depan sana, sedikit lagi." kataku menyemangati kedua sahabatku yang sepertinya juga sudah mulai kelelahan.

"Sesuatu yang bagus?" tanya Shinji.

Aku mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak tahu pasti apa, dan ini hanya perasaanku. Tapi bisa menjadi penyemangat kan?" jawabku.

"Lebih baik kau percayai saja kata-kata seorang penyihir, Shinji." ujar Akihiko.

Kami terus berjalan, sampai kami melihat ujung jalan. "Apa berakhir di sini? Kau melihat sesuatu, Mitsuru?" tanya Akihiko sambil mengarahkan obornya ke ujung gua.

Aku melangkah ke depan sedikit-sedikit, dan menemukan sebuah papan usang yang terjatuh di dasar gua.

"Apa itu?" tanya Shinji sambil mendekatiku yang sedang membersihkan papan berdebu itu seadanya.

"Entahlah, tapi... Ada tulisan "Kirijo". Itu nama keluargaku, walaupun tidak tahu benar atau tidak." jawabku. Aku membalik papan dan melihat secarik kertas terselip di sana. "Ada petanya juga..." kataku mulai merasa ketakutan. Kebetulan kah? Mengerikan sekali kalau memang iya...

Kami terdiam sejenak, sampai Akihiko menepuk pundakku. "Petanya cukup jelas. Kita harus pergi ke sana." katanya mengusulkan. Aku mengangguk, dan kami berjalan keluar dari gua itu menuju tempat dengan nama keluargaku.

Hehe... What a slow update, yeah? Please forgive me...! m(_ _)m

Akhir-akhir ini saya sering melupakan banyak FanFic terbengkalai... ya salah satunya ini. Saya malah bikin One Shot, Song of Love. (Baca dan review ya~ XD)

Ja, sy ga bakal panjang lebar. Semoga para pembaca saya yang setia menyukai chapter yang satu ini. Dan saya berjanji akan berusaha membuat chapter berikutnya lebih menarik lagi. See you in the next chapter ^^