Oke, akhirnya bisa update juga. Ini juga disela-sela ngerjain tugas di sekolah.. =_=" Makasih sama kalian yang udah review nih pic gaje, maaf klo ga sempet dibales. Gua males. hehehehe...
Twilight © Stephenie Meyer
Miracle 69 © KiReiKi Flaurenoct
Penuh dengan kemungkinan bakal OOC, Typo, Gaje, Diksi acak-acakan, Humor kriuk-kriuk, et cetera, et cetera
Ragu-ragu? Lebih baik kembali. Tombol Back masih setia menunggu anda.
Mind to read? Please review.
Sam's POV
Aku tersungkur tidak bergerak di tanah setelah terkena sikutan 'lintah kecil' itu di rusuk. Hampir seluruh tubuhku sakit saat digerakkan. Sepertinya ada beberapa tulang rusuk yang bergeser. Kulihat kawananku yang lain; Embry, Paul, Quil, Jared, dan kedua anak baru, Collin dan Brady. Mereka semua sudah hampir tidak bisa bergerak tanpa membuat tulangnya bergeser lebih jauh.
Kalian baik-baik saja?
Tentu saja tidak, Sam! Lintah sialan itu mematahkan tulang keringku, dan sekarang aku tidak bisa bangun kecuali tulangnya sudah tersambung. Paul meringis.
Suara-suara yang lain ikut memberitahu keadaan mereka. Jared merasa rahangnya retak dan engsel bahunya lepas. Tulang iga Quil patah-hampir hancur katanya, tapi ia bilang sekarang sudah mulai sembuh. Embry bilang bahwa tulang belakangnya ada yang lepas –karena sering mendarat di batang pohon dengan punggung duluan- dan rahangnya juga retak. Kedua anak baru itu paling parah. Mereka tidak memikirkan apapun, tapi merefleksikan rasa sakitnya di dalam pikiran. Dan itu membuatku meringis lagi. 3 tulang rusuk patah, engsel lutut lepas, 2 tulang iga retak, tulang hasta hancur, dan lagi-lagi rahang yang patah.
Aku tersadar. Leah! Aku tidak mendengar pikirannya di dalam kepalaku. Embry menenangkanku karena aku melihat Leah yang tergeletek di samping tubuhnya melalui pikirannya. Ia masih hidup, kan?
Yeah. Mungkin hanya pingsan. Gadis vampir itu menghancurkan beberapa ruas tulang belakang dan meretakkan tulang tengkoraknya. Tapi sekarang sepertinya mulai membaik. jawab Embry.
Aku menatap gadis lintah yang membelakangiku itu dengan penuh amarah. Beraninya dia menyakiti kawananku! Geraman keras keluar dari mulutku.
Ehm... yah, sebenarnya itu salah kita juga, Sam. kata Embry pelan. Aku bisa melihat ingatannya saat Paul yang langsung menerjang penghisap darah itu dan membuatnya terlontar.
Hei, tindakanku itu benar! Penghisap darah itu berada di dalam wilayah kita! Kalau kita membiarkannya masuk lebih jauh, bisa saja dia membunuh orang-orang kita. Protes Paul.
Tapi tidak seharusnya kau langsung menerjangnya begitu saja. Bisa saja dia hanya lewat, atau mungkin teman para Cullen itu dan tidak tahu peraturan di sini, kata Quil menenangkan.
Err... tapi aku ragu 'lintah kecil' ini, Collin menggunakan istilahku, teman para Cullen itu. Karena ia tidak mengikuti bau para Cullen dan malah kesini.
Ya, Brady menimpali, tingkahnya terlalu aneh. Tidak seperti sedang berburu. Apa mungkin penghisap darah ini baru lahir?
Mungkin, aku menjawab, mengingat kekuatannya barusan. Tapi, bisakah vampir bergerak secepat itu? Aku mengingat saat ia yang menghilang saat hampir diterkam Brady, dan kemudian muncul di belakangnya. Aku bahkan tidak sempat memberitahunya melalui pikiranku saat tongkat aneh yang dipegangnya menghempaskan Brady ke batang pohon.
Well, kita semua, Sam. Quil mengoreksi.
Err... teman-teman, maaf mengganggu percakapan kalian, pikiran Seth mengalihkan perhatian kami. Aku bisa merasakannya kepanikannya saat ini, dan itu membuatku sadar BAHWA yang berada di depan 'lintah kecil' itu ADALAH Seth.
Bisakah membantuku di sini? Kata Seth panik. Aku merasakannya. Ia bisa saja menerkam penghisap darah kecil itu saat ia hampir menyerang Seth, tapi dengan tulang bergeser pada kaki depannya, ia ragu bisa menghabisinya sendiri.
Uh oh.
Seth! Aku berteriak di dalam pikiranku sementara lolongan keras meluncur dari mulutku. Disusul teriakan-teriakan benak lainnya. Aku; bukan, kami semua melihat gadis vampir itu menerjang Seth.
.
.
.
Tapi kemudian tersungkur tepat di depan kaki Seth.
.
.
.
.
Aku shock. Semuanya shock. Sampai-sampai tidak ada pikiran yang terdengar. Hanya terasa perasaan yang sama; kaget bercampur bingung. Seth terlihat ragu, sebelum akhirnya ia menendang tubuh itu hingga terlentang.
"Hibernate system mode: Activated."
Suara itu sangat samar, bahkan dengan wujud ini, aku hampir tidak bisa mendengarnya.
Apa maksudnya? tanya Paul.
Tidak ada yang menjawab. Yang ada hanya perasaan bingung dari kawanan yang memenuhi pikiranku. Kemudian aku melihat ke arah Seth.
Apa dia hanya pura-pura? tanyaku.
Err..., Seth mengamati tubuh tidak bergerak itu. Kami bisa melihat refleksi apa yang dilihatnya. Kulit putih pucat, rambut perak dengan semburat kebiruan sebahu. Tubuh kecil yang terbalut baju hitam dengan garis vertikal di kedua sisinya berwarna kuning, dan dasi merah polos. Hanya mengenakan celana pendek hitam, dan ia mengenakan jubah hitam tanpa lengan yang ujungnya mencapai kaki.
Dan baunya; membakar rongga hidung, sama seperti vampir umumnya. Mungkin bagi manusia bau mereka itu manis, atau harum. Tapi bagi kami para shape-shifters, baunya lebih parah dari bau daging yang membusuk. Tapi yang ini –menurut Seth- baunya tidak terlalu membakar hidung, hampir seperti bau Nessie yang setengah vampir.
Seth menggerakkan kakinya pelan; menginjak-injak perut vampir itu. Tidak ada reaksi. Keadaannya benar-benar mirip seperti mati.
Jadi Sam, apa yang harus kita lakukan sekarang? tanya Paul.
Aku mulai berpikir sebagai jawaban dari pertanyaan Paul. Kalau kita meninggalkannya di sini, bisa saja vampir ini menyerang para pendaki, atau mungkin malah membunuh orang. Dan pilihannya, kita bisa membakarnya sekarang.
Oh yeah! Paul bersorak girang.
Tapi, aku mengabaikan kegirangannya, bisakah kita melakukannya sekarang sementara kita semua bahkan hampir tidak bisa berdiri?
Seruan-seruan setuju menggema. Aku bisa merasakan perasaan Paul yang kesal.
Ehm... bagaimana kalau kita membawa dia ke para Cullen? usul Seth membuatku terkejut.
...Kenapa kita harus membawanya ke para Cullen?
Yah... aku penasaran dengan keadaannya ini. Aku yakin kalian semua juga kan?
Yeah. Tapi apa hubungannya dengan kita membawanya ke para Cullen? Tanya Embry.
Ah, aku mengerti. Aku menganggukkan kepala. Kita biasanya akan bertanya pada para tetua jika ada kejadian aneh kan? Tapi kita tidak bisa mengambil resiko untuk membawanya ke La Push; terlalu berbahaya.
Jadi maksudmu; kita menggotongnya, yang baunya super membakar hidung ini, ke kediaman Cullen? Paul bertanya dengan sarkastik.
Aku mendesah. Tentu saja tidak ke kediaman mereka, hanya sampai ke perbatasan. Dan sisanya, kau yang melakukan, Seth. kataku.
Yah, Seth menghela nafas pasrah, kau bisa mempercayaiku, Sam. Aku mendengarnya menggeram rendah. Tapi, tunggu sampai tulangku sembuh dulu ya? aku bisa membayangkan wajahnya yang cengar cengir tanpa dosa itu.
Aku mendesah lagi.
.
.
.
.
Bella's POV
Aku melihat Edward mengernyit jengkel. Menatapnya heran, aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan mendekatinya. Ia menoleh padaku. Tanganku memeluk lehernya dan kemudian mencium di lehernya.
"Ada apa, Edward?" tanyaku khawatir.
Edward mencium puncak kepalaku sebelum menjawab, "Seth datang dengan membawa seorang gadis vampir ke sini."
Aku terbelalak. "Vampir lain? Bagaimana bisa?" aku bertanya dengan perasaan bercampur aduk. Antara terkejut, takut, gugup, bingung.
"Nanti saja aku menjelaskannya. Setelah Seth datang kemari." Edward mengatakannya dengan suara rendah. Mungkinkah ini akan menjadi berita buruk?
Tak lama kemudian Alice, Jasper, Carlisle, Esme, Emmett dan Rosalie berkumpul di ruang tamu tempatku dan Edward berdiri.
"Kenapa makhluk itu membawa vampir tidak dikenal ke tempat kita?" tanya Rosalie dengan nada marah. Entah kenapa aku bisa merasakan tensi udara sempat naik beberapa derajat sebelum kemudian kembali normal. Aku melihat Rosalie yang perlahan merileks. Rupanya Jasper yang melakukannya.
"Tenanglah, Rose. Lebih baik kita tunggu saja Seth sampai disini dan menjelaskannya pada kita semua." Kata Carlisle. "Jadi, Edward, kapan Seth sampai disini?"
Tatapan Edward mengeras saat ia melihat ke arah kegelapan hutan di luar. "Sebentar lagi."
Sesaat kemudian aku mendengar derap kaki besar yang menghantam tanah. Disusul bau khas werewolf dan juga bau vampir yang tidak kukenal. Baunya lebih samar dari vampir umumnya. Apakah mungkin setengah vampir? Tapi kata Edward tadi, Seth membawa 'gadis vampir'.
Aku melihat Serigala berwarna pasir berjalan keluar dari hutan menuju rumah kami. Ia membawa sesuatu dimulutnya. Aku tersentak kaget.
"Seth!" aku menjerit ngeri saat menyadari bahwa Seth membawa tubuh seorang gadis mungil dengan mulutnya. Aku berlari mendekati Seth dan berniat merebut tubuh mungil yang lunglai itu sebelum sepasang tangan kekar membelit tubuhku.
"Tenanglah Bella! Yang dibawa Seth itu vampir." Edward berbisik ditelingaku. Aku menoleh untuk menatapnya. Bagaimana ia bisa berpikir bahwa tubuh kecil yang lunglai itu vampir? Tidak pernah ada vampir yang menyerahkan dirinya begitu saja untuk berada diantara gigi-gigi tajam werewolf!
"Kita tunggu penjelasan Seth nanti." Ia berbisik ditelingaku. Kemudian Edward menoleh pada Seth.
"Kurasa kau harus punya alasan yang bagus karena membawa vampir ke kediaman kami ketimbang membakarnya langsung seperti biasa?" Edward berkata dengan dingin. Ada terbesit rasa jengkel disana.
Seth mendengking pelan. Ia menggoyangkan ekornya kesana kemari. Dan, mungkin ini hanya perasaanku saja karena entah kenapa barusan aku melihat Seth meluncurkan jurus wolf eyes?
"Yah, tidak apa-apa. Bawa dia masuk, Seth." Aku mendengar suara Carlisle dari dalam rumah, "dan bisakah biarkan vampir itu berjalan masuk dengan kakinya sendiri, Seth?"
Seth mendengking lagi. Alis Edward mengerut bingung. "Apa maksudmu dia tidak bergerak?"
Aku bisa merasakan semua orang terkejut. Kami para vampir memang bisa untuk tidak bergerak sama sekali. Tapi kami juga tahu bahwa yang dimaksud Edward dengan 'tidak bergerak' bukan tidak membuat gerakan sedikitpun.
Seth menggeram pelan. Lalu ia berjalan mendekat dan meletakkan tubuh gadis itu ditanah. Kami semua membeku. Ternyata yang dimaksud 'tidak bergerak' itu adalah, untuk kasus manusia disebut 'mati'.
Edward segera memeriksa keadaan vampir itu. Aku ikut berjongkok disampingnya, dan menatap vampir mungil ini dengan cemas. Aku tahu bahwa aku tidak punya alasan untuk merasa cemas pada vampir yang tidak kami kenal, bahkan mungkin musuh. Tapi aku tidak yakin vampir kecil ini adalah musuh.
"Tidak ada retak sama sekali." Dahi Edward mengerut, "Seharusnya ia masih hidup kan?"
"Edward, lebih baik kau membawanya ke dalam, biar aku yang memeriksanya." kata Carlisle.
Menuruti perkataan Carlisle, Edward membopong tubuh gadis itu ke dalam rumah. Aku mengikutinya di belakang, begitu juga Seth.
"Alice, bisa kau bawakan beberapa pakaian lama kita untuk Seth?" kata Esme.
"Tentu saja." Alice melesat cepat ke lantai atas mengambil beberapa pakaian. Seth mendengking senang pada Esme, lalu ia duduk di sudut ruangan menunggu Alice membawakannya pakaian.
Aku mengikuti Edward dan Carlisle ke ruang perawatan pribadi kami di lantai atas. Carlisle membuka pintu, dan Edward masuk lebih dulu dan meletakkan tubuh vampir itu di kasur. Melepas jubah hitam dan juga headphone emas yang dipakainya. Carlisle sudah bergerak untuk memasang beberapa alat ke lengan gadis itu. Aku menatapnya bingung.
"Kenapa kau tidak memeriksa organ dalamnya? Mungkin saja ada kerusakan kan?" akhirnya aku memberanikan diri bertanya.
Edward yang menjawab pertanyaanku. "Dia itu vampir, Bells. Vampir tidak punya detak jantung, aliran darah, dan organ dalam sudah mengeras. Kita tidak bisa memeriksanya seperti memeriksa manusia biasa."
Aku mengerjap. Ah, ya... aku hampir lupa.
"Aku tidak tahu apakah ini benar... Tapi menurutku, mungkin ini yang disebut dengan 'hilang kesadaran'." Carlisle mendesah pelan setelah akhirnya sekitar setengah jam ia memeriksa gadis itu.
Aku berjalan mendekati Carlisle yang berada di samping tempat tidur gadis itu. "Apa maksudmu?"
"Well, sejujurnya, aku juga tidak tahu, Bella." jawab Carlisle.
Aku menatap gadis yang terbaring ini. Yang pertama kali menarik perhatianku adalah rambutnya yang sebahu dan mirip Alice ini. Berwarna pirang platinum... ah, bukan, lebih mirip perak. Dan saat terkena cahaya, ada semburat biru pudar. Cantik sekali. Kulitnya putih pucat sama seperti kami, tapi yang ini lebih cerah. Bibirnya tipis, dengan warna pink alami. Alis matanya hitam, dan terbentuk rapi, sama seperti bulu matanya yang panjang. Tubuhnya ramping; atau bisa kubilang kurus, dan sedikit lebih kecil dari Alice. Mungkin ia jadi vampir saat usia 15 tahun. Tanganku bergerak untuk menyentuh sejumput rambutnya.
Lembut sekali, tanpa sadar aku tersenyum.
"Ada apa, Bells?" Edward memandangku khawatir. Aku menatapnya dengan hangat.
"Tidak ada." Aku kembali menatap gadis kecil ini, "Aku hanya merasa, ia manis sekali." Aku terkikik geli.
"Ya. Dia memang manis." kata Carlisle sambil tersenyum. "Aku berharap, ia cepat bangun."
Aku mengangguk. Tanganku memeluk pinggang Edward yang berada di sampingku, dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Tangan Edward juga melingkari tubuhku, membuatku merasa nyaman. Keheningan menyelimuti ruangan.
"Ada yang ingin kutanyakan Carlisle," Edward berbicara dengan kaku. Carlisle dan aku menoleh padanya, "Apa itu?" jawab Carlisle.
Edward menatap Carlisle. "Apakah kita tidak akan berpikir apa-apa jika kita pingsan?"
Carlisle menatapnya bingung. "Kurasa kita tidak berpikir, tapi merasakan. Keduanya sedikit berbeda, tapi kurasa 'merasakan' bisa direfleksikan menjadi sebuah 'pikiran'. Jadi mungkin kita masih bisa memikirkan sesuatu. Sama seperti saat tertidur, pikiran kita masih berkerja."
Pandangan Edward mengeras seketika. Aku menyentuh pipinya perlahan dan menatapnya khawatir. "Ada apa, Edward?"
Edward masih menatap Carlisle saat ia menjawab. "Kenapa aku tidak bisa mendengar pikirannya?"
.
.
.
Mataku terbelalak menatap Edward. Sampai saat ini, hanya pikiranku yang tidak bisa dibaca Edward. Tentu saja karena perisai; kemampuanku yang baru kusadari beberapa waktu lalu. Walaupun kadang-kadang aku melonggarkan perisaiku sehingga Edward tau apa yang kupikirkan. Bahkan Aro; vampir yang bisa membaca semua pikiran yang terlintas dari orang yang disentuhnya, pikirannya bisa dibaca Edward. Tapi kenapa gadis ini...
"Ya," Edward mengangguk pada Carlisle, "aku juga tidak tahu kenapa."
Sesaat kemudian hening.
Tapi keheningan itu segera sirna saat telingaku menangkap langkah-langkah seperti angin yang sangat kukenal mendekati pintu. Sekilas kulihat wajah Edward mengeras, sebelum akhirnya pintu menjeblak terbuka dan menampakkan postur mungil Alice dibaliknya.
Wajahnya sama kerasnya dengan Edward, dan aku bisa melihat raut cemas Jasper yang ada dibelakangnya.
"Ada apa, Alice?" Cralisle bertanya dengan ramah; setidaknya, ia berusaha terdengar ramah.
Alice menatapnya. "...aku tidak bisa melihat masa depan kita."
.
.
.
Yep. Begitulah chappie terbaru yang lebih abal dari saya. Aduh... males nulis ribet-ribet. hehe *dilempar panci*
P
L
E
A
S
E
REVIEW !
