Your Smile
A Kaisoo Fanfiction.
I don't own anything but the storyline.
Don't like don't read. As simple as that.
0-0-0-0-0-0
"Apa? Kalian akan pergi ke Gyeongju hari Sabtu nanti?" Tanya Kris yang sedang menyetir untuk mengantar teman-temannya pulang ke rumah masing-masing.
"Iya Oppa, kami akan pergi ke sana untuk melengkapi laporan kami tentang Kerajaan Silla." Kata Baekhyun.
"Itu tugas kelompok?" Kris bertanya lagi.
"Iya Oppa." Jawab Baekhyun.
"Kalian sekelompok?"
"Tentu saja kami sekelompok, Cho Sonsaengnim menyuruh kami untuk menentukan kelompok masing-masing." Kata Sehun.
"Hanya bertiga?" Tanya Kris lagi, sekedar memastikan.
"Tidak, ada seorang lagi, Kim Jongin." Jawab Sehun sambil menggerutu sebal.
"Kim Jongin? Kalian kenapa bisa sekelompok dengannya?" Tanya Kris heran.
"Tanya saja Baekhyun. Ia yang membuat kami sekelompok dengannya." Kata Sehun.
"Hehehe, aku hanya ingin membantu Kyung-hmmpp," belum selesai Baekhyun berbicara, Kyungsoo sudah membekap mulut prempuan itu.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti berbicara Baek?" Tanya Kris sambil menoleh ke belakang.
"Tidak apa-apa Oppa," jawab Baekhyun, "omong-omong, aku hanya membantu Jongin agar ia mendapat kelompok. Habisnya ia belum mendapatkan kelompok tadi," lanjut Baekhyun.
"Kau tidak apa-apa berada dalam satu kelompok dengan Jongin, Kyung?" Tanya Kris. Kris memang sangat perhatian terhadap sahabat-sahabatnya.
"Tidak apa-apa Oppa. Lagipula, Jongin sudah minta maaf tadi pagi. Ia juga bilang bahwa ia tidak lagi menyukai Luhan dan berjanji tidak akan berkata kasar padaku lagi," jelas Kyungsoo.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu, tapi tetap saja aku tidak suka padanya." Kata Sehun menanggapi.
"Kau harus belajar memaafkan orang Hun. Lagipula, kau tahu sendiri kan, bagaimana kelakuan Jongin? Ia memang womanizer, selalu berganti-ganti kekasih. Luhan hanyalah salah seorang yeoja yang menarik perhatiannya. Itu bukan masalah serius menurutku." Kata Baekhyun.
"Sifat itulah yang tidak aku sukai dalam dirinya. Belum lagi ia sok keren dan sok tampan. Dan berani-beraninya ia membully Kyungie…" Sehun terus mengomentari sifat Jongin.
"Sudahlah, tidak akan ada habisnya jika kau terus mengomentari sifatnya." Kyungsoo tiba-tiba ikut berbicara.
Baekhyun hanya tersenyum penuh arti melihat Kyungsoo yang seolah membela Jongin.
Kris dan Sehun tampaknya tak terlalu memperhatikan hal itu.
"Aku boleh ikut tidak dengan kalian ke Gyeongju? Aku tidak tahu harus menghabiskan weekend dengan siapa jika kalian pergi." Kris bertanya.
"Wah Kris Oppa mau ikut? Tentu saja boleh! Pasti akan lebih ramai jika Kris Oppa ikut." Baekhyun membalas omongan Kris dengan antusias.
"Baguslah Hyung ikut. Aku jadi tidak terjebak dengan Jongin." Kata Sehun. Sepertinya, ia sangat lega karena bukan hanya ia satu-satunya namja selain Jongin dalam perjalanan ini.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut kalian pada hari Sabtu nanti."
0-0-0-0-0-0
Tak terasa, hari ini adalah hari Sabtu. Baekhyun, Kyungsoo, Jongin, Sehun, dan juga Kris, sedang berada dalam bis yang bergerak menuju Gyeongju.
Perjalanan dari Seoul menuju Gyeongju memakan waktu selama kurang lebih lima jam. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk berangkat pukul enam pagi, agar bisa sampai di sana pukul sebelas. Lalu mereka berencana akan pulang ke Seoul pada pukul tujuh malam.
Itulah rencana mereka.
Di dalam bis, mereka mengambil posisi duduk paling belakang, sehingga mereka duduk berjajar. Kris duduk di paling ujung kiri dekat jendela, di sebelah kanannya ada Baekhyun, di sebelah Baekhyun ada Sehun, Kyungsoo duduk di sebelah Sehun, dan tentu saja Jongin duduk tepat di sebelah Kyungsoo.
Mereka mengobrol dan tertawa selama perjalanan. Ya tentu saja, kecuali Jongin. Ia hanya menatap mereka dengan pandangan bosan. Telinga Jongin pun tak pernah lepas dari headset-nya.
Setelah tiga jam perjalanan, mereka semua mulai kelelahan. Kris sudah tertidur dengan kepala menyandar pada jendela di sebelah kirinya. Baekhyun memperhatikan Kris yang sedang tidur, sementara Sehun sedang bermain dengan handphone-nya. Sedang berkirim pesan dengan Luhan, mungkin?
Kyungsoo hanya diam saja, terus menatap ke depan, sambil mendengarkan musik dari earphone yang ada di telinganya.
Dan Jongin? Apa yang Jongin lakukan? Ia terus memandangi gadis mungil yang duduk di sebelahnya. Ajaibnya, Kyungsoo tidak merasa bahwa ia dipandangi terus oleh Jongin.
'Tidak, tidak. Aku tidak menyukainya sama sekali. Ini memang wajar, bibir Kyungsoo memang terlalu menggoda. Hanya itu. Aku tidak menyukainya, apalagi menyayanginya.' Jongin terus berkata seperti itu dalam hatinya.
Hei, tidak tahukah bahwa semakin kau mengelak, perasaan itu akan semakin muncul, Kim Jongin?
Kyungsoo sedang menikmati lantunan suara merdu Taeyeon SNSD yang sedang bernyanyi di telinganya ketika Jongin tiba-tiba meletakkan kepalanya di bahu Kyungsoo.
Kyungsoo terperanjat, "Jongin?"
"Boleh kan aku bersandar di bahumu? Aku sangat mengantuk dan kepalaku pegal, Soo." Katanya. Bahkan di saat seperti ini, wajahnya tetap terlihat dingin. Meskipun tidak sedingin dulu.
"T-tentu saja boleh…" jawab Kyungsoo sambil memarahi dirinya sendiri dalam hati. Mengapa ia tidak bisa berbicara dengan lancar jika sedang nervous?
Jongin bersandar dengan nyaman pada bahu Kyungsoo. Diam-diam, ia menyukai wangi tubuh Kyungsoo. Jongin mencari pusat wangi tubuh Kyungsoo yang menguar, dan menemukan pusatnya pada perpotongan leher Kyungsoo.
'Ah, nyamannya.' Batin Jongin.
Jongin tertidur dua menit kemudian.
0-0-0-0-0-0
"Jongin, bangun. Kita sudah sampai." Kyungsoo menepuk-nepuk pipi Jongin.
Jongin pelan-pelan membuka matanya, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah manis Kyungsoo yang sedang menatap wajahnya. Dengan jarak yang begitu dekat.
Kyungsoo reflek menjauhkan wajahnya dari Jongin.
Jongin menyeringai melihat Kyungsoo yang seperti itu.
"Bis nya masih berjalan Soo, dan ini bahkan belum sampai terminal. Biarkan aku tidur sebentar lagi," kata Jongin lalu bersandar lagi pada bahu Kyungsoo yang menurutnya nyaman.
Kyungsoo hanya mendesah pelan. Tidak apa lah, lagipula, ia senang diperlakukan seperti ini oleh Jongin.
Tanpa sepengetahuan mereka, Baekhyun melihat kejadian itu dan terkikik sendirian.
Kris memperhatikan Baekhyun dan berbisik padanya, "Mereka saling menyukai ya?"
"Oppa memperhatikan mereka juga? Entahlah, semoga saja iya." Jawab Baekhyun sambil tersenyum penuh arti.
Kris suka melihat Baekhyun yang bersemangat seperti ini. Ia suka melihat Baekhyun tersenyum. Sangat suka. Ia selalu berharap Baekhyun akan terus tersenyum seperti ini padanya.
Baekhyun terdiam, ia jadi merasa canggung karena Kris hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
"Memangnya Kyungsoo menyukai Jongin?" Tanya Kris tiba-tiba.
"Hmmm, tebak saja sendiri," jawab Baekhyun dengan senyumnya yang jahil.
"Dasar menyebalkan."
"Oppa, apakah Oppa mau membantuku?"
"Membantu apa?" Kris mengerutkan keningnya, penasaran.
"Menyatukan Jongin dan Kyungsoo. Bukankah mereka akan menjadi pasangan yang serasi?" Baekhyun mendekatkan bibirnya ke telinga Kris. Agar tidak ada orang lain yang mendengar.
Kris melihat Jongin yang sedang bersandar di pundak Kyungsoo. Dan wajah Kyungsoo yang masih saja memerah di bagian pipinya.
Kris menganggukkan kepalanya.
0-0-0-0-0-0
Mereka kini sudah sampai di Museum Nasional Gyeongju.
Kris dan Baekhyun sengaja ikut menarik Sehun untuk membiarkan Jongin dan Kyungsoo agar memiliki waktu berdua.
Kyungsoo berjalan di sebelah Jongin dengan canggung. Sementara Jongin, tentu saja ia biasa saja. Cenderung santai. Bukan hal baru baginya berjalan hanya berdua dengan seorang yeoja.
"Apa yang harus kita catat?" Jongin menolehkan kepalanya ke kanan, ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo menolehkan kepalanya ke atas, menghadap Jongin, "entahlah, lebih baik kita observasi dulu museum ini. Lebih baik kau foto saja hal-hal penting untuk dimasukkan ke laporan. Biar aku saja yang mencatat."
Jongin mengangguk, "baiklah."
Mereka pun kembali berjalan dan Kyungsoo menemukan sebuah patung, dan melihat-lihat patung tersebut. Entah apa yang menarik dari patung itu, tetapi Kyungsoo memang sungguh-sungguh memperhatikannya.
Jongin tidak peduli sama sekali dengan patung itu. Ia malah memperhatikan objek mungil yang manis di sebelah kanannya.
'Kenapa ia menggemaskan sekali sih? 'pikir Jongin. Lagi dan lagi.
"Museum ini indah sekali ya." Kata Kyungsoo ketika ia mengedarkan pandangannya, dan tersenyum senang.
'Kau lebih indah.' Batin Jongin. Tapi setelah itu, ia memaki dirinya sendiri dalam hati, 'tidak. Aku tidak menyukainya. Sama sekali tidak.'
"Jongin?" Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan aneh.
"Ya?" Jongin menjawab.
"Kau kenapa? Belum makan?"
"Sudah."
"Ooh, aku kira kau lapar," kata Kyungsoo.
"Kenapa? Kau lapar?" Tanya Jongin.
"Tidak…" Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya lucu.
Jongin terdiam lagi. Tertegun sekali lagi, melihat tingkah laku gadis ini. Ia terlihat sangat senang berada di museum ini. Seperti anak TK yang menemukan taman bermain.
Lihatlah pandangan dan kilat matanya yang bersinar ketika melihat peninggalan-peninggalan zaman Kerajaan Silla. Seolah semuanya bersinar di matanya. Jongin tidak menemukan hal apapun yang menarik di dalam museum ini.
Kecuali gadis di sebelahnya.
Kyungsoo begitu menarik perhatian Jongin. Setiap kali ia melihat Kyungsoo, ada sesuatu yang magis terjadi pada dirinya. Jongin tidak tahu hal itu dinamakan apa.
Jongin tidak pernah memperhatikan Kyungsoo sebelumnya. Ia hanya tahu bahwa Kyungsoo itu salah satu gadis terpintar yang ada di kelasnya.
Jongin sebelumnya tidak tahu bahwa gadis pintar itu juga memiliki mata yang indah. Kulit yang halus. Pipi yang selalu merona jika sedang berbicara dengannya. Dan tentu saja, bibir yang manis. Bibir yang entah memiliki kandungan apa, yang jelas bibirnya merupakan sebuah candu tersendiri bagi Jongin.
Jongin yakin, masih banyak keajaiban lain yang ada dalam diri Kyungsoo. Kyungsoo begitu special. Begitu menakjubkan. Setidaknya itulah yang alam bawah sadar Jongin pikirkan.
Hanya alam bawah sadarnya. Alam sadarnya tentu saja menampik seluruh hal tentang Kyungsoo.
"Kyungsoo, sebenarnya kau itu kenapa?" Jongin bertanya pada Kyungsoo secara tiba-tiba.
"Apanya yang kenapa?" Kyungsoo menjadi panic setelah mendengar pertanyaan Jongin.
"Kau… entahlah. Ini sulit untuk dijelaskan. Segala sesuatu yang ada pada dirimu itu… aneh, Soo. Semua ini aneh untukku." Jelas Jongin.
Kyungsoo terdiam. Pandangan mata dan ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang mencari-cari makna di balik perkataan Jongin barusan.
Jongin memandang wajah cantik itu sekali lagi., sebelum berkata, "Soo, bolehkah aku merasakannya lagi?"
"Merasakan apa?" Kyungsoo melebark, bingung.
Jongin mempersempit jarak di antara mereka. Raut wajah Kyungsoo berubah. Gadis itu terlihat kaget sekaligus malu. Pipinya merona seketika.
Jongin tentu saja tahu apa artinya. Dari gesture tubuh gadis itu, terlihat sangat jelas bahwa Kyungsoo menyukai Jongin. Jongin sadar akan hal itu.
Justru hal itu menyebabkan Jongin ingin menyentuh Kyungsoo lagi. Merasakan bibir manis itu lagi.
Jongin mulai mencium bibir tebal Kyungsoo. Kali ini dengan penuh perasaan, dan sangat lembut. Sungguh, rasanya seperti permen kapas. Manis dan lembut.
Kyungsoo tertegun sesaat. Tetapi, tidak memerlukan waktu lama baginya untuk menikmati ciuman itu, dan membalas pagutan dari Jongin.
Jongin tersenyum dalam ciuman mereka. Ia memegang kedua pipi putih Kyungsoo yang merona,lalu semakin memperdalam ciuman mereka yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.
Kyungsoo memeluk leher Jongin, sudah benar-benar terhanyut dalam kegiatan yang sedang mereka lakukan.
"Kyungs—YA AMPUN KYUNGSOO? JONGIN?" Baekhyun yang sedang mencari-cari Kyungsoo kaget ketika mendapati Kyungsoo yang sedang dicarinya, berciuman dengan lelaki tampan itu.
Rasanya seperti de javu, bukan?
Lagi-lagi, Kyungsoo dan Jongin cepat-cepat melepas pagutan di antara keduanya.
Kyungsoo sangat sangat merasa malu, sehingga ia langsung berlari menjauhi Jongin sambil menarik lengan Baekhyun agar ikut pergi dari situ bersamanya.
Sementara Jongin, ia masih terdiam di tempatnya sambil memegang bibirnya. Kehangatan bibir Kyungsoo belum hilang. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Ia tidak ingin berkata bahwa ini cinta. Hal itu terlalu jauh berada di luar logikanya.
Menurut Jongin, dirinya bukanlah sosok pria yang melankolis dan percaya akan cinta atau semacamnya. Ia berbeda dengan pria Korea lainnya yang romantic. Ia tidak merasa ia memiliki sisi itu sedikitpun.
Pada akhirnya, ia hanya menyalahkan hormonnya yang berkembang begitu pesat dan berlebihan. Ia merasa ini semua hanya karena masa pubertasnya, oleh karena itu ia menjadi seperti ini terhadap prempuan.
Tetapi kenapa hanya pada Kyungsoo? Jongin masih belum menemukan jawabannya.
0-0-0-0-0-0
Baekhyun masih tertawa geli, bahkan ketika mereka sudah sampai di halaman museum.
"Ciumanmu dan Jongin benar-benar panas, Kyungie. Jika aku tidak memanggilmu dan menghentikan kegiatan kalian, mungkin Jongin sudah memakanmu hidup-hidup," ujar Baekhyun sambil terus terkekeh.
"Diam kau bacon hidup." Kyungsoo menatap Baekhyun sebal.
"Hahahaha, kau sangat lucu Kyungie. Dan lihat bibirmu… Aigoo, bibirmu sangat bengkak. Beruntung museum ini sangat sepi, dan tidak ada orang ketika kau dan Jongin berciuman. Jika museum ini ramai, pasti kau sudah dituntut karena melakukan tindakan pornografi di muka umum." Kata Baekhyun panjang lebar.
"Baekhyun… Jangan meledek aku terus. Kurasa kau juga sebentar lagi akan mendapatkan ciuman pertamamu." Kata Kyungsoo sok tahu.
"Jangan asal Kyungie! Memangnya dengan siapa?"
"Tentu saja dengan Kris Oppa~" Gantian, kali ini Kyungsoo yang menggoda sahabatnya.
"Huh, itu tidak mungkin!"
"Tidak ada yang tidak mungkin!"
"Semua hal mungkin terjadi, kecuali hal itu Kyungieee!" Baekhyun tetap keras kepala.
Kyungsoo menyerah. Setelah tertawa sebentar, ia berkata pada Baekhyun, kali ini dengan nada yang serius, "Baek, sebenarnya apa ya maksud Jongin mencium bibirku? Bodohnya, aku malah menikmati cumbuan yang ia berikan padaku…"
"Entahlah Kyung, tidak ada yang tahu tentang itu… semuanya kan butuh proses. Lebih baik kau jalani saja dulu."
Kyungsoo mengangguk, membenarkan perkataan Baekhyun. Lagipula, ia tidak ingin terlalu berharap pada Jongin. Lelaki itu terlalu sering mempermainkan perasaan prempuan.
0-0-0-0-0-0
Di tempat yang lain, tepatnya di Seoul, terdapat tiga anak lelaki yang sedang bermain skateboard.
"Bagaimana jika malam ini kita menginap di rumah Yongguk Hyung?" usul Zelo, anak lelaki yang terlihat paling tinggi di antara mereka.
"Ide yang bagus, Junhong. Aku sedang malas pulang ke rumah." Daehyun menyetujui perkataan temannya.
"Panggil aku Zelo!" kata Zelo. Ya, nama aslinya memang Junhong. Tetapi, ia lebih suka dipanggil Zelo.
Daehyun hanya menjulurkan lidahnya.
"Bagaimana Hyung? Kau mau kan menampung kami di rumahmu?" Tanya Zelo lagi.
"Tentu saja rumahku akan selalu siap untuk kalian." Yongguk membalas sambil mengambil papan skate nya.
"Kau memang yang terbaik Hyung!" Daehyun mengancungkan kedua jari jempolnya.
"Tentu saja aku Hyung yang baik. Kalian sudah makan belum? Lebih baik kita makan dulu. Aku bosan bermain di sini. Biar aku yang traktir makan." Ajak Yongguk.
"Benar Hyung? Ayo! Aku juga sudah lapar." Zelo langsung mendekat ke arah Yongguk dan menggandeng tangan sahabatnya itu. mereka bertiga mulai berjalan menuju kafe terdekat.
"Kau selalu bertingkah seperti anak kecil, Junhong." Daehyun tersenyum menatap Junhong yang sedang bergandengan dengan Yongguk.
"Memang beginilah sifatku, Daehyun. Kau seperti tidak mengenalku saja."
Daehyun hanya tersenyum, tidak menanggapi lebih jauh.
"Tumben sekali kau tidak secerewet biasanya. Ada apa?" Tanya Yongguk menatap Daehyun penuh arti. Yongguk adalah yang tertua di antara mereka. Jadi wajar saja Yongguk selalu khawatir pada Daehyun dan Junhong.
"Tipikal lelaki yang meratapi cintanya Hyung." Junhong mengadu pada Yongguk.
"Diam kau, Choi Junhong." Daehyun menyuruh Junhong untuk berhenti bicara.
"Ah, aku tidak suka dipanggil dengan nama Junhong. Sudah kubilang panggil aku Zelo. Zelo terdengar sangat keren." Ucapnya manja.
"Junhong. Junhong. Junhong." Daehyun semakin meledeknya.
"Dasar Daehyun lelaki patah hati!" Balas Zelo.
"Sudahlah, kalian berdua berisik sekali." Yongguk menengahi Junhong dan Daehyun dengan suara beratnya.
"Aku tidak terima dibilang lelaki patah hati olehnya, Hyung." Daehyun membela harga dirinya sendiri.
"Kau memang patah hati, sudah mengaku saja." Lagi-lagi Junhong meledeknya.
"Sok tahu kau Choi Junhong."
"Ku bilang panggil aku Zelo!"
"Tidak mau!"
"Diam!" Yongguk lagi-lagi merasa risih dengan perang mulut di antara mereka berdua.
Daehyun dan Junhong langsung terdiam mendengar Yongguk yang terdengar risih.
"Sebenarnya ada apa dengan Daehyun, Junhong?" Tanya Yongguk pada Junhong. Yongguk memang berasal dari sekolah yang berbeda dengan Daehyun dan Zelo.
"Aku tidak kenapa-napa Hyung." Jawab Daehyun.
"Aku tidak bertanya padamu, Daehyun. Aku bertanya pada Junhong." Kata Yongguk.
Zelo menjulurkan lidahnya pada Daehyun. Daehyun hanya mencibirkan bibirnya.
"Jadi begini Hyung, Daehyun mendapat kabar bahwa pujaan hatinya sedang berada di Gyeongju bersama lelaki yang ia curigai sebagai kekasihnya." Jelas Zelo.
"Oooh, prempuan itu. siapa namanya? Baekhyun?" Yongguk bertanya, memastikan.
"Ya, Byun Baekhyun." Zelo membenarkan.
Daehyun hanya diam saja, tidak membantah apa-apa.
"Memang mengapa kau mencurigai lelaki itu sebagai orang yang disukai Baekhyun?" Tanya Yongguk.
Daehyun menghela napas, lalu menjawab, "aku juga tidak tahu Hyung. Perasaanku mengatakan hal itu. Lagipula, orangnya tampan dan pintar. Namanya Kris."
0-0-0-0-0-0
"Aku ingin memiliki kamar sendiri Hyung! Kau sekamar dengan Jongin saja, oke?" Sehun tersenyum licik dan segera merebut kunci kamar hotel bernomor 1201 dari tangan Kris.
Ya benar. Hotel. Mereka memang pada awalnya berencana untuk pulang hari ini juga, tetapi badai menyerang daerah Gyeongju. Sehingga tidak ada bis yang beroperasi. Mereka terpaksa menginap di Gyeongju.
"Baiklah." Kris mengalah pada Sehun.
"Lebih baik kita ke kamar sekarang, aku ngantuk sekali. Hari ini cukup melelahkan, dan sekarang sudah jam lima sore," Kyungsoo berkata sambil menguap. Sepertinya hari ini benar-benar melelahkan bagi Kyungsoo.
"Baiklah, sebaiknya kita ke kamar masing-masing. Kyungsoo, Baekhyun, ini kunci kamar kalian berdua," Kris menyerahkan kunci kamar bernomer 1202.
"Jongin, kau tidak keberatan bukan sekamar denganku?" Kris menatap Jongin yang sedari tadi hanya diam saja.
"Tidak." Jawab Jongin singkat.
Mereka pun masuk ke dalam lift menuju lantai 12 tempat di mana kamar mereka berada.
Setelah sampai di kamar, Kyungsoo langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Sementara Baekhyun membenahi barang-barang.
"Untung saja firasatmu benar Kyung. Aku jadi bawa baju tambahan." Kata Baekhyun yang sedang mengambil bajunya. Sepertinya dia akan mandi.
"Membawa baju tambahan itu memang perlu Baekhyun… bukan hanya karena firasatku saja." Kata Kyungsoo yang sudah memeluk gulingnya dengan nyaman.
"Ya… tapi kan kau yang mengingatkanku. Anggap saja ini semua akibat firasatmu Kyung.."
"Terserah kau sajalah Baek… Aku ngantuk." Kyungsoo menarik selimutnya.
0-0-0-0-0-0
Sementara di dalam kamar Kris dan Jongin, mereka sedang menonton TV. Sungguh keheningan yang canggung.
"Sebenarnya, kenapa kau bertingkah seperti orang brengsek? Aku yakin semua orang itu dasarnya baik. Pasti ada suatu hal yang menyebabkanmu menjadi seperti ini." Kris memecah keheningan.
"Ini semua bukan urusanmu Sunbae." Jawab Jongin dingin.
Kris terdiam, sepertinya ia menyesali pertanyaan yang barusan keluar dari mulutnya. Tentu saja ia tidak berhak menanyakan hal itu.
"Maaf aku terlalu lancang," kata Kris, "omong-omong, panggil saja aku hyung. Tidak perlu menjaga image denganku." Lanjutnya.
"Untuk apa aku memanggilmu 'hyung'? Tidak akan ada gunanya. "
"Tentu saja ada gunanya, bodoh. Itu akan membuat kita menjadi lebih akrab. Ayolah, aku tahu kau pasti membutuhkan teman lelaki. Bukannya aku meledekmu karena hanya berteman dengan Yixing, tetapi, lelaki pasti membutuhkan teman sesama lelaki. Untuk… yah, kau tahu, membicarakan hal yang hanya diketahui oleh lelaki." Kata Kris. Ia mencoba ramah dan terbuka pada Jongin.
Jongin terdiam. Dalam hatinya yang paling dalam, sebenarnya Jongin sangat ingin mempunyai teman lelaki. Tetapi, selama ini hanya sedikit lelaki yang berani mendekatinya. Entahlah. Padahal Jongin mempunyai banyak hal yang dapat membuatnya popular di kalangan lelaki.
"Jongin? Bagaimana kalau aku menjadi temanmu, mulai dari sekarang?" Kris benar-benar tidak menyerah rupanya.
Jongin berpikir, dan tak lama kemudian, ia menjawab, "baiklah Hyung."
Kris tersenyum senang, "ternyata kau tidak seburuk yang kuduga."
Jongin hanya tersenyum kecil.
"Jadi, kau menyukai sahabatku?" Kris bertanya langsung pada tujuannya.
"Sahabatmu yang mana?" Jongin pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja kau tahu yang mana…" Kris menyeringai lebar.
Jongin diam saja, masih pura-pura tidak tahu.
"Sahabatku yang mungil dan bermata sangat besar itu Kim Jongin." Ucap Kris pada akhirnya.
"Tidak." Jawab Jongin.
"Sudahlah… tidak perlu mengelak lagi."
"Aku benar-benar tidak menyukainya." Jongin tidak mau kalah.
"Lalu, kenapa kau menciumnya sampai dua kali?" Kris tidak kehabisan ide untuk mengerjai Jongin dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Karena hormon-hormon ku mungkin?" kata Jongin.
"Kau sendiri tidak yakin dengan jawabanmu, ckck. Sudahlah, kau menyukainya." Kris mengambil kesimpulan.
"Bagaimana denganmu?" Gantian, Jongin yang bertanya pada Kris.
"Aku menyayanginya, tetapi tidak dalam konteks itu. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri." Jawab Kris.
"Kau yakin?" Jongin bertanya dingin. Ia tiba-tiba teringat ketika Kyungsoo dan Kris berpelukan.
"Tentu saja. Kyungsoo itu tidak terlalu cerewet. Ia cenderung diam saja dan tidak menceritakan masalahnya pada orang lain. ia hanya memendamnya sendirian." Kata Kris.
'Ya, aku tahu hal itu. dari luar saja sudah terlihat jelas ia orang yang seperti itu. oleh karena itu aku memilihnya sebagai objek yang aku ancam. Karena ia pasti akan bungkam.' Pikir Jongin. Dalam hati tentunya.
"Lalu, ia sangat rapuh. Aku tidak ingin memiliki prempuan yang lemah sebagai pasanganku. Aku ingin prempuan yang dapat mengutarakan perasaannya secara lisan, dan juga pemberani. Dan selalu tersenyum," jelas Kris sambil tersenyum sendiri. Tentu saja kita tahu siapa yang ada dipikirannya. Pasti prempuan itu, bukan?
Jongin terkekeh pelan, "maksudmu Baekhyun?"
Kris melihatnya dan bertanya, "bagaimana kau tahu?"
"Instingku kuat?"
"Terserah kau saja lah."
Jongin tersenyum kecil, lagi. Ternyata menyenangkan memiliki teman lelaki.
"Jadi, kau menyukainya?" Tanya Jongin lagi.
"Entahlah, menurutmu bagaimana?" Kris melemparkan pertanyaannya.
"Kenapa jadi Tanya aku? Aku bahkan tidak dekat dengan kalian." Jongin mendengus.
"Sepertinya iya, Jongin." Kris akhirnya mengakui perasaannya.
"Selamat kalau begitu." Balas Jongin. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Kau adalah orang pertama yang kuberi tahu tentang hal ini." ucap Kris.
Jongin terkejut mendengarnya, "bahkan Kyungsoo dan Sehun pun belum kau beri tahu?"
Kris menggelengkan kepalanya.
Jongin terdiam sejenak, lalu bertanya, "Hyung, sebenarnya cinta itu perasaan yang seperti apa?"
"Indah." Kris hanya menjawabnya dengan satu kata. Seolah itu adalah jawaban paling benar.
"Bukannya cinta itu merepotkan?" Jongin menyampaikan pikirannya, "aku selalu berhubungan dengan prempuan, tetapi hanya untuk bersenang-senang saja. Bukankah prempuan itu merepotkan, Hyung? Apalagi jika ada perasaan cinta. Semakin terikat, maka akan semakin merepotkan." Jongin berbicara panjang lebar.
"Jika begitu menurutmu, anggap saja begitu. Tapi menurutku tidak. Cinta itu indah. Asalkan kau tahu jalan yang tepat." Jelas Kris.
'Jalan yang tepat?' Jongin terus berpikir.
"Omong-omong, aku lapar. Aku mau ke kafe di bawah. Kau mau ikut?" ajak Kris.
"Tidak, aku mau mandi saja." Jawab Jongin yang sebenarnya masih memikirkan perkataan Kris barusan tentang cinta.
"Baiklah, aku pergi."
0-0-0-0-0-0
TOK. TOK. TOK.
Terdapat ketukan pintu dari luar kamar mereka.
"Hngggg, Baekhyunnn…. Tolong buka pintunyaaa. Aku ngantuk sekali… hngg.." ucap Kyungsoo yang entahlah jiwanya sudah berada di mana. Ia sudah setengah tertidur.
"Baiklah…" Baekhyun akhirnya berdiri dan membuka pintu kamar hotelnya.
"Hai."
Baekhyun mendapati wajah tampan Kris di balik pintu.
"Hai Oppa. Ada apa ke sini?"
"Aku lapar. Want to grab something?" tawar Kris.
"Ke kafe hotel?"
"Yup. Ayo temani aku. Kau tidak sedang tidur kan? Apa aku mengganggumu?" Kris bertanya lagi, harap-harap cemas.
"Tidak. Tentu saja tidak. Kau tahu kan, aku bukan orang yang senang tidur." Jawab Baekhyun dengan senyum manisnya.
"Ayo, lebih baik kita ke bawah sekarang. Perutku sudah lapar sekali. Minta diisi." Kris menarik tangan Baekhyun.
"Tunggu, kau tidak mau mengajak Kyungsoo juga?" Baekhyun bertanya heran.
"Tidak. Aku rasa bersamamu saja sudah cukup."
Baekhyun diam-diam tersenyum mendengar jawaban Kris. Perkataan Kris tadi memang bukanlah rayuan atau gombalan. Tetapi, entahlah. Ia merasa senang Kris berkata seperti itu padanya.
Sesampainya di kafe, Kris langsung memesan makanan unuk mereka berdua.
Lalu, mereka berdua duduk di kursi paling pojok. Agar mendapat sedikit privasi. Terlalu ramai jika duduk di tengah. Kris tak akan menyukai hal itu.
Baekhyun menatap Kris yang ada di hadapannya.
'Salahkah aku jika aku berkata bahwa aku lebih senang berdua dengan Kris Oppa, seperti ini?' ujar Baekhyun dalam hati.
"Kau tahu tidak?" Kris memberi jeda pada ucapannya, membuat Baekhyun memberi perhatian penuh padanya.
"Apa Oppa?"
"Terkadang aku merasa terlampau nyaman ketika berdua denganmu, Baekhyun." Sepertinya, Kris sedang memikirkan hal yang sama dengan gadis yang berada di depannya ini.
"Aku juga terkadang merasa begitu…" Kata Baekhyun sambil menundukkan kepalanya. Kris berhasil melihat rona merah pada kedua pipi gadis itu.
Baekhyun, jika sedang salah tingkah, akan sama kikuknya dengan Kyungsoo. Ckck, gadis ini.
Tercipta keheningan di antara mereka, hingga Kris berkata lagi, "apakah kau merasa seperti ini juga jika sedang bersama Sehun?"
Baekhyun pelan-pelan menggelengkan kepalanya.
Kris tersenyum senang setelah mengetahui jawaban Baekhyun. Itu berarti ia special, bukan?
"Kau sendiri… apakah merasakan perasaan itu juga ketika bersama Kyungsoo?" Baekhyun balik bertanya.
Kris menggelengkan kepalanya, seraya berkata, "tidak. Denganmu terasa berbeda. Aku tidak berani menyimpulkan perasaanku padamu, Baekhyun. Setidaknya tidak untuk saat ini."
Baekhyun mengerutkan keningnya heran, "lalu, menurutmu, aku ini apa?"
Kris berpikir sebentar, sebelum menjawab, "sahabat yang baik. Tetapi terkadang, bisa lebih dari itu."
"Lebih?" Baekhyun merasa ada buncahan di dadanya.
"Ya… kadang." Kris menjawab ragu-ragu.
Sebenarnya, Baekhyun merasa kecewa karena ia hanya dianggap sebagai seorang sahabat oleh Kris. Walaupun terkadang lebih. Tetapi hanya terkadang kan? Baekhyun berusaha meredam kesedihan dalam hatinya. Padahal tadi, sudah ada secercah harapan yang timbul.
Keadaan menjadi sangat canggung di antara mereka.
Baekhyun terbahak, "Oppa, kenapa kau terlihat sangat canggung?"
"Siapa yang canggung?" Kris hanya tertawa membalas ejekan Baekhyun.
"Tentu saja kau, Oppa."
"Ini pesanannya, maaf menunggu lama." Kata pelayan yang baru saja datang mengantarkan makanan mereka.
"Terima kasih." Kris langsung mengambil piringnya dan melahap makanannya.
"Lapar sekali ya, Oppa?" Baekhyun tersenyum geli melihat Kris yang sangat lahap memakan makanannya.
Kris tidak membalas omongan Baekhyun. Ia hanya menganggukan kepalanya sambil terus mengunyah makanannya.
Baekhyun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu… ehm. Yang kadang 'lebih' dari sahabat itu.
"Oh iya Baek, ternyata Jongin tidak seburuk yang kukira. Ia teman mengobrol yang baik." Kata Kris setelah selesai menelan makanannya.
"Oppa sudah berbicara apa saja dengannya?" Baekhyun penasaran.
Kris memikirkan kembali percakapannya dengan Jongin beberapa saat lalu, "membicarakan prempuan," jawab Kris sambil terkekeh geli.
"Oh? Kalian membicarakan siapa?" Baekhyun terlihat penasaran dan antusias mendengar pernyataan Kris.
"Tidak akan kuberi tahu. Kau bukan lelaki. Aku tidak akan membicarakan prempuan dengan sesama prempuan." Kata Kris sambil menjulurkan lidahnya.
"Huh… kau tidak asyik, Oppa."
0-0-0-0-0-0
Kyungsoo terbangun dari tidurnya. Mendapati kamarnya yang kosong. Hanya ada dirinya.
"Kemana Baekhyun?" gumamnya.
Ia melihat jam di ponselnya, sudah jam tujuh malam.
Kyungsoo terduduk di kasurnya, lalu menyalakan TV.
"Huh… Bosan."
Akhirnya ia mengambil piyamanya. Memutuskan untuk mandi, karena dari tadi ia belum mandi.
Seusai mandi, Kyungsoo merebahkan diri lagi di kasurnya. Sepertinya ia tidak akan bisa tidur mala mini.
Kriukkkk.
"Aduh… Lapar." Kyungsoo mengeluh.
TOK. TOK. TOK.
Terdengar ketukan pintu.
Kyungsoo berdiri dan membukakan pintu itu.
"Jongin?" Kyungsoo terkejut ketika mendapati Jongin yang mengetuk pintu kamarnya. Ia kira itu Baekhyun, atau Sehun?
"Kyungsoo, badai sudah reda. Ayo ikut aku." Ajaknya.
"Hah? Ikut ke mana malam-malam begini?"
"Baru jam tujuh malam. Kau terlalu berlebihan. Ayo, pokoknya ikut aku."
Kyungsoo terdiam sambil melebarkan matanya ketika Jongin menarik tangannya paksa. Sering sekali Jongin menarik tangannya dengan paksa. Tetapi, Kyungsoo sama sekali tidak keberatan akan hal itu.
"Sebenarnya kita mau ke mana?"
"Lihat saja nanti." Jawab Jongin misterius.
TBC
a/n: haloo! hehehe akhirnya update^^ gimana chapter ini? apakah memuaskan? aku masukin B.A.P juga yaa soalnya bias pertama aku kan Jongin, nah yang kedua itu Daehyun hihi aku suka banget sama dia. jadi aku masukin di sini jadi saingannya Kris.
Biasanya kan B.A.P suka dijadiin musuhnya EXO tuh kalo di ff lain, tapi kalo di sini hanya jadi saingan kok. di sini B.A.P nya baik-baik, gak jahat.
Btw.. pada penasaran gak nihh Kyungsoo mau dibawa kemana sama Jongin?
Review yang banyak yaaah! Aku butuh saran dan kritik dari kalian. Review kalian bener-bener bikin aku semangat untuk lanjutin fic ini! ^^
Terimakasih banyak yang udah review chapter sebelumnya. Chapter ini review lagi yaa! Aku tunggu :D
