The Nest.

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto,

Highschool DxD © Ichiei Ishibumi,

Serta unsur-unsur lain yang tercantum disini.


Genre(s): Fantasy, Adventure, Action. a Little bit of Gore.

Rated: M

Pair : - (Untuk sekarang)

Warning(s): AU, AR, AT, OOC(s), OC(s), Typo(s), MissTypo(s), and More Warnings in The Future.


Summary:

Dunia ini dipenuhi oleh Sarang. Sarang yang baik, dan sarang yang jahat. Eksistensi di Dunia sudah mulai mempertanyakan, bagaimana dunia berkahir? bagaimana dunia berlanjut? Sedang tidak ada yang menempati posisi Sarang manapun. Disinilah Naruto, bocah yang tidak tahu apapun mencoba menguak kebenaran dari Sarang yang memenuhi Dunia ini, dengan tujuan untuk melindungi sang Kunci Sarangnya.


Happy Reading! Enjoy!

.

.

.

Chapter 4


Tsunade, perempuan hot ini sekarang tengah berada diatas bangunan tertinggi di Mana Ridge, irisnya tertuju pada garis horizon nun jauh di ufuk sana yang sedang terang benderang. Dia tidak sendirian, sudah pasti ditemani oleh pengikuti loyal-nya, Shizune.

Mereka berdua, jika dicermati, seperti sedang saling berbicara namun tidak menunjukkan bahwa mereka sedang dalam sebuah dialog? Apa yang sebenarnya mereka diskusikan?

Tetapi, tiba-tiba muncul seorang perempuan yang berpakaian seolah dia ada biarawati, yang segera saja mengganggu obrolan Tsunade dan Shizune.

"Permisi, Tsunade-sama. Aku ada sebuah kabar untukmu."

Tsunade mengangkat salah satu alisnya, dia pun membalikkan badannya untuk melihat bawahannya itu. "Ada apa?"

"Ini tentang misi yang kau berikan pada kami tempo hari."

Shizune, dalam pandangannya, bisa melihat sedikit perubahan situasi diwajah Boss-nya setelah mendengar hal itu. Walaupun demikian, orang biasa tentu tidak akan menyadari hal tersebut.

"Bagaimana hasilnya?"

"Setelah melakukan ekspedisi selama kurang lebih 3 hari, kami berhasil menemukan beberapa petunjuk yang menguatkan bahwa Shaman telah bangkit kembali dan semakin menguat hari demi hari."

"Cih, ini diluar dugaan. Perkembangan mereka jauh diatas ekspektasiku…. Lalu, bagaimana dengan Black Knight? Sudah kau dapatkan informasinya?" Kesal. Kiranya itu suatu kata yang tepat menggambarkan suasana hati sang wanita seksi ini.

"Tentang itu,…. Kami belum menemukan kaitannya dengan kebangkitan Shaman. Akan tetapi, dia sudah dipastikan mulai mengambil sebuah pergerakan misterius," jawab si wanita sambil terus berlutut, bila dilihat dari mimik-nya, dia seperti 'kebelet' ingin mengutarakan suatu hal dibenaknya.

Tsunade mengambil nafas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kalang kabut. Karena, pikirnya, amarah tidak akan membuatnya menang dan berhasil. Kedua bahunya pun sedikit turun. "Baiklah, aku mengerti. Apa ada lagi yang perlu kau sampaikan."

Si Wanita itu sedikit tersentak saat mendengar Tsunade, dengan kepala tertunduk dia pun menjawab perlahan. "A-ada.. Tsunade-sama."

"Apa itu?"

"Aku, dengan merasa bangga sebagai rekan, ingin melaporkan bahwa Asia Argento telah gugur dalam misi ini," jawabnya yang bila dilihat dari bawah, dari arah yang memperliahtkan wajahnya, air mata telah menumpuk di area terluar mata Red-Light-nya.

Tsunade dan Shizune terkejut bukan main. Mereka tentu tahu siapa yang baru saja disebut telah gugur, mereka mengenal semua anggotanya. Bila diumpamakan, semua Sorcerer disini telah seperti satu aliran air yang akan tersendat bila salah satunya 'terganggu'.

"Apa? Bagaimana mungkin? Asia adalah salah satu yang terbaik diantara kalian?" Shizune mencoba bersuara, alasannya mungkin ingin meminta kejelasan, karena setahu dia Asia adalah Sorcerer yang bisa dikatakan paling pekerja keras dan berdedikasi, jadi mendengarnya gugur adalah kabar yang sangat tidak terduga.

"Pada saat melakukan misi, kami sempat berhadapan dengan beberapa Shaman. Namun, kekuatan kami tidaklah sebanding dengan para Shaman itu, singkat cerita kami berhasil meloloskan diri, tapi A-asia, dia banyak menerima luka fatal dibagian tubuhnya, kami pun berusaha untuk mengobati tapi itu semua tidak berhasil."

Bulir-bulir tetesan air mata sudah mulai berjatuhan dari wajah itu, meskipun dalam keadaan tertunduk namun bisa dilihat dengan jelas bahwa bahunya sedikit bergetar.

"I-ini tidak bisa dibiarkan….. Shizune, cepat kumpulkan Sorcerer terbaik sekarang juga, kita harus segera bertindak sesuatu!" Perintah tegas Tsunade yang langsung dilaksanakan tangan kanannya.

"Baik," jawab Shizune yang segera undur diri dari sana.

Atensi Tsunade kemudian beralih pada wanita yang sedang berlutut didepannya. Dia pun mendekat dan berjongkok didepan wanita itu.

"Kau sudah melakukan yang terbaik, aku percaya itu. Kita pasti akan segera membayarnya. Untuk sekarang kau boleh beristirahat, Raynare."

Wanita yang bernama Raynare itu pun, dengan tetap penuh rasa hormat, mundur lima langkah sebelum pergi meninggalkan Tsunade sendirian disana.

Di tengah kesendirian itu, Perempuan bersurai pirang pucat itu kembali menatap cakrawala, namun bedanya sekarang penuh akan intimidasi. Bibir peach itu pun mengucapkan sesautu entah pada siapa diiringi senyuman yang sedikit membuat bulu siapapun berdiri.

"Kita memang tidak pernah bisa bersatu, benar, bukan?"

.

.

.

Puncak Gunung besalju, beberapa mil dari Mana Ridge.

Disebuah lapang bersalju tipis terbaring sebuah tubuh penuh peluh dan nafas yang terengah-terengah. Tubuh yang ber-gender laki-laki itu terlihat seperti telah melakukan olahraga berat ditengah guyuran salju.

"Huahhhhh~ Lelah sekali… Meskipun aku berada ditengah-tengah salju, entah kenapa aku selalu berkeringat," ujar si pemuda yang kita ketahui adalah Naruto. Ucapannya memanglah sedikit ngawur, namun itulah kenyataannya. Dia kini hanya dibalut sebuah jumper tanpa dalaman apapun dan celana trousers yang kini sedang digandrungi anak-anak kekininan.

Ya, memang begitulah, sejak tinggal disini, dia seringkali mencoba cara berpakaian yang belum pernah ia coba dan tentu keren menurutnya.

Naruto PoV.

Hahh, ini sungguh melelahkan. Sudah 4 hari sejak aku mulai berurusan dengan manipulasi sihir menyusahkan ini. Sudah 4 hari pula sejak aku tinggal di Mana Ridge.

Yah, mesti harus aku akui sejauh ini petualanganku baik-baik saja.

Tapi, justru itulah yang membuatnya kurang menarik. Sebuah petualang tidak akan terasa rasa petualangannya tanpa ada adrenaline yang memikat. Tapi, bukan berarti aku ingin mencari masalah. Hanya saja itulah yang aku sering aku dengan tentang petualangan yang hebat.

"Hahh, sebaiknya aku segera selesaikan ini. Tinggal sedikit lagi! Yosshhh!"

Untuk sejenak tadi, aku berbaring diatas tumpukan salju tipis yang entah kenapa tidak terasa dingin untuk sedikit mengambil rehat dari latihan yang sangat menyiksa ini.

Berbicara soal latihanku tentang manipulasi sihir. Ada banyak sekali yang harus aku pelajari dan kuasai. Pertama, ternyata setiap orang yang dianugerahi Mana telah digariskan pada satu golongan tertentu, dan golonganku adalah menjadi seorang Abyss Walker, yang mana membuatku bingung dan sedikit 'ngeri' saat tahu apa itu Abyss Walker.

Abyss Walker adalah golongan yang mendapat julukan Assasin di benua ini, golongan yang ditakdirkan menjadi seorang pembunuh handal. Yahh, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, kata membunuh bagiku sungguh membuatnya terdengar jahat.

Awalnya aku tidak bisa menerima itu, hal itu pula yang membuatku terhambat dalam latihan. Tidak menerima jati diri sendiri. Namun, lambat laun aku mulai menemukan secercah cahaya yang membuatku menerimanya.

Lalu, selain meneima jati diri dan golonganmu, hal yang paling merepotkan adalah meditasi. Aku harus duduk berjam-jam, melatih pikiran dan tubuhku agar tersinkron dengan benar. Aliran Mana dan gerakan tubuhku haruslah seirama. Jadi, hal utama kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir adalah karena aliran Mana dalam tubuhku belum terbuka, normalnya seseorang membuka Aliran Mananya adalah saat masih kecil.

Shizune mengatakan, mungkin kelak aku akan mengalami kesulitan untuk berkembang karena aku telat untuk membukanya. Intinya, ini seperti akan membuka mata batin seseorang.

Kemudian setelah aku berhasil, aku langsung bisa merasakan perbedaanya. Tubuhku terasa lebih ringan dan segar. Aku seperti mendapat sokongan energy yang terus mengalir.

Selanjutnya, adalah proses terakhir, yakni menjadi Abyss Walker yang sesungguhnya. Sejauh ini aku hampir menguasainya, aku tinggal harus menguasai langkah terkahirnya. Menurut Shizune, sebagai mentorku, langkah ini dinamakan 'Menyatu dengan alam'.

Pada awalnya aku tidak mengerti, dan saat kutanyakan, ternyata ini adalah suatu hal wajib yang dilakukan bagi seorang Abyss Walker sepertiku. Berbeda dengan Sorcerer yang proses akhirnya adalah 'Menjiwai Alam' dengan tujuan untuk menyerap esensi dari alam itu sendiri, sebab itulah kebanyakan Sorcerer memiliki sihir berbasis energi alam.

'Menyatu dengan alam' agaknya sedikit berbeda, aku harus bersatu dan menjadi alam itu sendiri. Menjadi gelap dan terang. Menjadi bayangan dan cahaya. Dua hal yang berlawanan tapi tidak bisa dipisahkan. Harus seperti itulah seorang Abyss Walker.

Kembali pada latihanku, dengan terlebih dahulu menarik nafas panjang aku melanjutkan proses terkahir ini agar sah menjadi seorang Abyss Walker.

Naruto PoV End.

Setelah itu, Naruto bangkit. Dia kembali berdiri tegap dengan mata terpejam. Cukup lama seperti itu, dia sepertinya tengah fokus pada sesuatu yang ia kerjakan.

"Alam adalah raga, alam adalah sahabat jiwa dan alam adalah ….aku," gumam Naruto pelan sembari mulai meliak-liuk bak seorang penari lihai. Tapi, memang harus diakui dia menari dengan indah, kaki dan tangannya seolah dibuat untuk hal itu.

Untuk beberapa saat dia terus menari, tanpa menghiraukan salju yang semakin lebat. Hingga tibalah saatnya.

"Alam adalah raga,"

Tiba-tiba aura disekitar Naruto mendadak berubah, muncul warna-warna hitam dari yang mulanya hanya bintik-bintik. Aura itu terus berkembang dan menjadi semakin tebal.

"Alam adalah sahabat jiwa."

Perlahan namun pasti, aura hitam itu mulai tertarik dan merekat pada tubuh Naruto. Alhasil, kini seluruh tubuhnya sudah tertutupi warna hitam, meskipun begitu dirinya masih tetap menarik seolah tidak terpengaruh.

"Dan alam adalah…AKU!"

Brak~

Satu hentakan kaki dilesakkan olehnya, membuat tanah pijakannya sedikit retak. Angin pun berhembus cukup kencang hingga membawa salju-salju menjauh dari situ.

"Haaaaaaaaa….. Abyss Mastery!"

Setelah mengucapkan itu, dengan sekejap mata, aura hitam yang melingkupi dirinya pecah berkeping-keping seolah adalah kaca lalu menciut pada satu titik hingga akhirnya membentuk sebuah gelang hitam di lengan kanan Naruto

"I-inikah?" gumamnya sambil melihat gelang hitam itu. Entah karena apa, dia tersenyum kecil lalu berjalan perlahan kedepan dan mempersiapkan sebuah tinju.

"Okeeee, kita lihat saja sendiri. Heyaaahhh!"

Syuuut!

DIpukulnya udara dengan keras hingga mengeluarkan sebuah lesatan hitam mirip peluru tapi seukuran tangan, lesatan itu mealju kencang sampai menabrak sebuah pohon dan melubanginya.

Naruto yang melihatnya kaget sekaligus bangga sekali. Wajahnya menunjukan kepuasan tiada tara, dirinya merasa begitu bahagia melihat hasil kerja kerasnya membuahkan hasil.

"Yihhhaaaaaa! Aku berhasil. Aku berhasil."

Pemuda pirang itu kemudian melihat keatas dengan senyuman lebar yang sangat hangat. Bahkan langit yang awalnya dipenuhi gumpalan awan hitam perlahan mulai tergantikan dengan biru langit cerah, seolah ikut bahagia dengan capaian Naruto.

"Aku harus segera kembali!" gumam Naruto penuh semangat saat menerka-nerka bagaimana respon Shizune dan Tsunade nanti.

.

.

.

Mana Ridge.

Situasi sore sekarang bisa dibilang cukup menegangkan bagi sebagian Mana Ridge. Bagaimana tidak? Kabar meninggalnya salah seorang Sorcerer-nya telah menyebar dengan cepat. Banyak warga yang membicarakannya, bahkan ada yang terang-terangan mengobarkan api kebenciannya pada siapa yang telah membunuh Asia.

Ya, selain dikenal sebagai Sorcerer muda handal, dia juga sering berinteraksi dengan warga sekitar hingga membuatya cukup dikenal khalayak akan kebaikannya. Maka tidak heran, bila kabar ini tentu sangat menyesakkan hati.

Disalah satu bangunan, tepatnya paling besar dan mencolok. Berkumpul beberapa orang yang sedang berdiskusi. Salah duanya adalah Tsunade dan Shizune.

"Bila apa yang kau katakan tadi benar, maka kita harus segera bertindak tegas pada apa yang dilakukkan mereka, Tsunade-hime," ungkap seorang pria bersurai putih dengan kacamata bulat.

"Apa yang dikatakan Kabuto ada benarnya, tapi aku sarankan untuk berhati-hati karena mungkin ini sudah menjadi rencana mereka," timpal seorang perempuan berambut hitam dengan mata merah menyala.

Dua orang itu, Yakuhsi Kabuto dan Yuhi Kurenai, adalah yang terbaik di Mana Ridge untuk saat ini, selain Tsunade tentunya. Mereka baru saja dipanggil oleh Shizune untuk membicarakan permasalahan yang semakin menjadi tentang kebangkitan musuh alami para Sorcerer, yakni Shaman, bahkan telah merenggut satu nyawa berharga.

Mereka beruda baru saja diberitakan bagaimana situasi terkini mengenai misi penyelidikan Shaman sesuai apa yang telah dibawa oleh Raynare.

Sebagai tambahan informasi, Shaman adalah salah satu dari sekian banyak golongan hitam yang ada di benua ini. Kebanyakan golongan hitam memang sudah punah, namun baru-baru ini bermunculan kasus dan tanda-tanda kebangkitan mereka, para Shaman lah contohnya.

"Tapi, aku memiliki alasan untuk bergerak secepat mungkin sebelum terlambat," pungkas Tsuande dengan nada yang sangat serius.

"Apa maksud anda, Tsunade-hime?" Kabuto bertanya.

"Meskipun ini masih menjadi spekulasiku sendiri, tapi aku sangat yakin bahwa Black Knight adalah orang dibalik bangkitnya musuh alami kita ini."

"A-apa? Bagaimana mungkin?" Kurenai merespon dengan tidak percaya, pasalnya dia tahu siapa Black Knight itu dan siapapun yang berursan dengannya pasti tidak akan mengalami kemudahan.

"Kenapa anda bisa berpikiran seperti itu, Tsunade-hime?" tanya Kabuto yang tanpa rasa terkejut, dia hanya membenarkan letak kacamtanya yang sedikit merosot.

Tsuande dan Shizune terlihat saling bertatapan sebentar sebelum akhirnya Tsnade kembali seperti semula, melihat dua orang didepannya.

"Aku, secara pribadi, sebenarnya telah mengirim Shizune untuk menjalani misi khusus mencari petunjuk lebih tentang Black Knight, dan hasilnya pun sungguh membuatku ingin segera meluncurkan lusinan Sorcerer untuk membumi hanguskan mereka kembali."

Tanpa orang lain sadari, Kabuto dibalik kacamatanya sedikit menyeringai tatkala mendengar hal tadi, namun semua itu berhasil ia tutupi berkat ketenangannya. "Dan apa itu?"

"Disana Shizune berhasil menemukan seorang gadis yang dirasuki oleh roh seorang Shaman…. Yang membuat aku yakin bahwa Black Knight adalah dalang dari semuanya yaitu, fakta bahwa Shaman yang merasuki gadis tersebut menggunakan serpihan kekuatan Black Orb!"

Kurenai sungguh tidak menduga hal itu akan dia dengar, sungguh. Apapun golonganmu jika sudah berbicara tentang Black Orb pasti hanya ada hal buruk yang menimpa. Dan ia baru saja mendengar hal tersebut!

Sementara Kabuto, ekspresinya tidak bisa dibaca, pantulan cahaya dari kacamatanya menghalangi hampir seluruh permukaan wajah laki-laki itu.

"Black Orb? Aku tidak menyangka akan berurusan dengan benda terkutuk itu," ucap Kurenai sambil memijat pelipisnya.

Tsunade mengangguk, "maka dari itu aku ingin segera untuk melakukan kontak dengan mereka sebelum semakin berbahaya, sebelum semuanya terlambat. Jadi, apakah kalian setuju denganku?"

"Aku setuju." Kurenai tanpa ragu pun mengangguk setuju, dia meskipun tahu seberapa merepotkannya berurusan dengan hal-hal seperti ini, tapi itu tidak menyurutkan jiwa Sorcerer-nya sama sekali. Apalagi fakta bahwa salah satu saudarinya sudah menjadi korban, tidak ada lagi alasan untuk mundur/

Sedang dengan Kabuto, pria misterius itu hanya memasang wajah biasa saja, tapi meskipun begitu dia tetap menyetujui usulan Tsunade. "Aku ikut apapun keputusanmu, Tsunade-hime."

"Kalau begitu. Siapkan Sorcerer-Sorcerer terbaik kita semua. Aku pastikan besok adalah hari dimana kita kembali menghancurkan musuh alami kita. Besok malam kita akan bergerak ke markas mereka …

…..

…..

….. Hall of Marian!"


/

/

/

Malam telah menyambut. Malam yang sangat indah dengan ditaburi bintang-bintang cantik menggantung diatas sana. Sesekali bisa dilihat, dengan mata telanjang, ada sekelebat lintasan-lintasan komet yang bergerak cepat.

Sepasang netra sapphire tengah menatap langit penuh ketenangan, biru-nya sungguh mencerminkan ketentraman yang pasti, dengan senyuman yang terpahat Naruto sedang menikmati dinginnya suhu Mana Ridge dimalam hari.

Dia, dengan dibalut coat krem panjang serta syal, sedang berjalan-jalan kecil ditengah Desa. Selepas pulang dari latihannya tadi, dia segera berniat untuk pergi menemui kedua mentornya.

Sepanjang jalan dia bisa melihat orang-orang yang sibuk menghias rumah mereka, ada pula yang bergegas memebeli berbagai pernak-pernik. Ya, ini memang bukan hal baru dan memang sudah menjadi tradisi setiap menjelang Natal pasti seluruh warga akan berbondong-bondong memperelok rumah mereka.

Bagi Naruto yang baru kali ini menemuinya, tentu sangat senang bisa ikut serta dan turut dalam kebahagiaanya banyak orang. Rasanya ia segera kembali, dan mempraktekkannya dikampung.

Namun, ia malah tertawa kecil pada pikirannya sendiri.'ini masih terlalu cepat, masih banyak yang harus aku bawa pulang nanti,' batinnya berkata disertai senyuman tulus.

Walaupun begitu, ditengah keasyikkannya, dia bisa menyadari ada beberapa keanehan. Dia bisa melihat sekumpulan Sorcerer mundar-mandir dengan tergesa-gesa, seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Namun, dia tidak mengambil pusing akan hal itu, Naruto pun lekas mempercepat langkahnya ke tempat Tsunade.

"Bagaimana persiapannya?" Sebuah suara dengan nada bertanya meluncur dari wanita cantik ini, Tsunade yang sedang berkumpul bersama Shizune dan Kabuto di satu ruangan.

"Persiapan kita sudah mencapai 50%, Boss. Aku perkirakan seluruh unit sudah berkumpul kembali dini hari nanti, aku juga sudah mengabari Sorcerer Veteran yang ada di Saint Heaven, mereka setuju dengan rencana dan siap mengirim bala bantuan," Jawab Shizune dengan tenang sambil melihat pada sebuah kertas ditangannya.

"Jika begitu, kita akan memiliki cukup batalyon untuk satu serangan penuh dan masih mempunyai cadangan senjata, ya? Kerja bagus, Shizune," sahut Tsunade dengan ekspresi puas mendengar laporan tangan kanannya.

"Tsunade-hime, bolehkah aku bertanya?" Kabuto tiba-tiba bersuara, dia sedikit membenarkan letak posisi kacamatanya. Alis Tsunade terangkat, dia juga mengalihkan atensinya pada pria itu. "Kau mau bertanya apa?"

"Ini tentang pemuda yang ditempo hari masuk melalui portal itu, Aku masih tidak bisa menaruh kepercayaanku sepenuhnya. Dia seperti orang yang berpura-pura polos tapi menyimpan seribu tipu muslihat." Ada sedikit keraguan yang terpancar dari mata hitam Kabuto, meskipun wajahnya mash terlihat datar.

Tsunade terlihat menghela nafas, yah, mungkin persoalan soal itu tidak bisa dikesampingkan. Perlu kalian tahu, akibat kedatangan Naruto yang mendadak itu telah menimbulkan berbagai kecurigaan di kalangan tetua. Walaupun sudah dijelaskan secara rinci oleh Tsunade, mereka berdalih bahwa gelagat Naruto terlalu mencolok, dalam artian kelewat bodoh hingga tidak tahu persoalan dasar dunia ini.

"Sudahlah, untuk urusan bocah itu, biar aku dan Shizune yang mengurusnya. Pun kalau dia bertindak mencurigakan aku sendiri yang akan menindak Naruto."

Kabuto tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sudah di checkmate. Tsunade sudah memotong tali pembicaraan ini. "Kalau begitu, baiklah. Aku pergi."

Pria itu pun melangkah pelan keluar, tapi disaat akan membuka pintu. Pintu itu terlebih dahulu terbuka dan memperlihatkan sosok Naruto yang baru saja dibicarakan. Mereka berdua berpapasan, bahkan saling bertukar pandangan untuk sejenak.

Dan untuk Naruto, dia berani bersumpah, dibalik tampang datar dan kacamata itu, dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada laki-laki tersebut. Entah apa tapi.

"Naruto?"

Perhatian Naruto kembali terfokus, dia mendengar suara Shizune yang sontak memasang tanda bingung diwajahnya.

"Ah, yo. Shizune-san, Tsunade-hime," sapa pemuda itu ramah sambil tersenyum.

"Kenapa kau kesini? Bagaimana dengan latihanmu?" Shizune langsung memberondong Naruto dengan pertanyaan saat mendapati orang itu malah berada disini bukannya serius berlatih.

"Aku sudah selesai. Makanya, aku kembali." Naruto menjawab santai sembari menyunggingkan senyum bangganya.

"Hah? Apa?"

"Kau benar-benar sudah selesai?" Tsunade bertanya balik, mencoba memastikan pendengengarannya. Jujur, ini diluar dugaannya, Naruto lebih cepat menyelesaikan rangakaian latihan itu tanpa membutuhkan waktu berarti.

"Tentu saja, aku sudah berhasil menjadi seorang Abyss Walker. Buktinya adalah munculnya gelang hitam ini." Naruto menunjukan gelang hitam yang tersemat di lengannya. Tsunade dan Shizune yang mellihat itu harus percaya karena mereka tahu benda apa itu.

"Tapi, aku sendiri tidak tahu benda ini, aku hanya menduganya saja kalau benda ini adalah bukti aku sudah lulus, hehe.." lanjut Naruto sambil sedikit menggaruk kepala belakangnya.

Shizune hanya menepuk jidat mendengar hal itu. "Kukira kau sudah tahu benda apa itu makanya kau berani kembali kesini."

Sementara Tsunade hanya terkekeh kecil melihat interaksi keduanya, dia lalu dengan tiba-tiba, melihat gelang itu untuk memastikan sesuatu.

"Ya, ini tidak salah lagi. Kau sudah mendapat Vivre Identity-mu. Itu menandakan bahwa kau memang berhasil."

Alis Naruto tertaut saat mendengar kata asing itu. "Vivre… apa?"

Perempuan didepannya sekali lagi harus bersabar menghadapi ketidaktahuan pemuda satu ini, ia pun dengan senang hati menjelaskannya. "Vivre Identity. Sebuah benda yang menjadi penanda untuk seseorang yang memang telah sah menjadi anggota suatu golongan. Hal spesial dari benda ini adalah, jiak pemegang-nya mati, maka benda ini pun akan ikut lenyap."

"Ohhh, jadi begitu… Ternyata benda kecil berguna juga."

"Pastinya….. Kalau kau mau tahu, Vivre Identity-ku adalah ini bola crystal ini." Tsuande menunjuk pada sebuah benda bulat yang diikat pada seuntai tali dileher mulusnya.

"Kalau ini punyaku." Kini giliran Shizune yang menunjukkan Vivre Identity-nya yang mengambil bentuk sebuah koin emas kecil yang dijadikan anting olehnya.

"Hey! Ini tidak benar! Kenapa punya kalian berdua terlihat bagus, sedangkan punyaku hanya gelang butut ini?" Naruto sedikit merajuk karena hal tersebut dengan ekspresi lucu, membuat dua wanita dewasa itu mengeluarkan tawa renyahnya.

Masih dengan rajukannya, tiba-tiba Naruto teringat pada suatu hal yang ia ingin tanyakan, tapi ia sendiri ragu apa dua orang ini akan menjawabnya.

"Erm… Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tanyakan?"

Tsunade yang telah usai dengan tawa-nya dengan senyuman menjawab dengan lembut. "Tentu, apa itu?"

"Dari tadi, saat sedang dijalanan Desa. Aku banyak melihat Sorcerer hilir mudik, meskipun samar aku masih bisa melihat mereka itu sedikit tergesa-tergesa. Ini tidak seperti biasanya."

Dalam hitungan detik, dua perempuan tidak berkecap apapun. Mereka terdiam cukup lama. Naruto yang melihatnya kemudian melanjutkan.

"Awalnya aku berpikiran itu paling juga hanya latihan simulasi seperti biasa. Tapi, ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Sebenarnya ada apa?"

Keheningan melanda. Tiga orang itu tidak ada lagi yang bersuara. Tsunade dan Shizune terlihat saling pandang, seolah sedang saling mengirim sinyal tertentu.

Desahan terdengar meluncur dari mulut Tsunade, akhirnya. Wanita sepertinya berniat untuk menjawab. "Yahh, sepertinya aku jawab saja. Lagian, tidak akan merugikan juga….. Seperti yang kau rasa, hampir semua Sorcerer disini sedang mempersiapkan sesuatu. Kami, besok, berencana akan menyerang para Shaman sebelum kebangkitan mereka semakin kuat. Itu tidak bisa dibiarkan."

Setelah mendengar jawaban demikian, Naruto kiranya agak mengerti, pasalnya Shizune pernah biang kalau Sorcerer dan Shaman adalah musuh bebuyutan sejak dahulu sekali. Mereka sudah sering terlibat konflik langsung. Dia pun penasaran akan apa alasannya. "Kalau boleh aku tahu, kenapa kalian, Sorcerer dan Shaman, bisa menjadi musuh dari segala musuh? Apa alasannya?"

"Kalau diceritakan seluruhnya bisa memakan waktu yang tidak sebentar. Singkatnya, kami dari awal ada, dari sejak nenek moyang memiliki semacam ikatan yang menjadikan kita saudara. Tapi, sejak 900 tahun lalu, tepatnya saat perang antar Ras pecah. Para Shaman itu melakukan sebuah penghancuran kepercayaan kepada seluruh Sorcerer.

Mereka, dengan liciknya, menjebak kaum kami ditengah-tengah peperangan. Dan bergabung dengan pihak musuh tanpa rasa penyesalan pun. Dari situlah istilah golongan hitam mulai muncul."

Kali ini Shizune yang menjelaskan, dia kerap menekankan nada pada setiap kata Shaman yang ia ucapkan. Menunjukan seberapa besar permusuhan mereka yang sudah tercipta ratusan tahun lamanya.

Naruto pun memperhatikan dengan cermat, dia seolah sedang mendengarka seorang Guru yang berceramah memberikan ilmu baru pada muridnya. Dalam hati, ia merasa senang telah bertanya, satu lagi pengetahuan telah dia kantongi.

"Oleh karena itu, rasa sakit akan pengkhianatan selalu membekas kepada Sorcerer tiap generasi. Seperti sudah tergariskan," gumam Tsunade menambahkan apa yang Shizune jelaskan tadi. Maka jelas sudah bagaimana mereka begitu membara ingin sekali membumihanguskan golongan hitam itu. Usut punya usut, ternyata dua golongan itu adalah dua saudara yang terpisah jauh oleh kebencian dan pengkhianatan.

Wajah Naruto tiba-tiba menunjukan keoptimisan besar, seolah baru mendapat pencerahan yang pasti. "Kalau begitu ijinkanlah aku membantu kalian!" Naruto berseru dengan tangan yang dikepal erat kedepan.

Tsunade hanya tersenyum kecil, dia sudah menduga hal ini. "Kenapa?" tanyanya singkat.

"Aku memang tidak ada urusan apapun mengenai permusuhan kalian, tapi…" Naruto sejenak berhenti berucap, lantas dia mengambil sebuah belati yang tergantung dipinggangnya, disertai tatapan yang penuh keyakinan. "…..tapi aku punya urusan pribadi dengan para Shaman itu, karena telah merasuki dan berbuat seenaknya pada Rose!"

Shizune yang melihat Naruto menggenggam Belati yang bersemayam seorang roh dari Shaman pun, sekilas teringat akan kejadian di Desa Prairie. Dia yang sempat tinggal disana dan tahu bagaimana Naruto diperlakukan, pasti tidak akan menolak permintaan pemuda tersebut.

Namun, dia tidak menampik bahwa dia khawatir pada Naruto, selain fisiknya yang kuat, dia tidak punya keahlian bertarung apapun, dia juga masihlah pemula di dunia ini. Disisi lain, pun dengan Tsuande, dia juga memiliki kekhawatiran yang sama. Takut pemuda itu mati.

Tapi, jika ditolak, dia tidak yakin bahwa itu akan menghentikannya. Maka dari itu dia pun terpaksa memberikan ijin padanya. "Hahhh. Baiklah, tapi ingat, kau yang menanggung akibatnya sendiri."

"Tentu saja!"

.

.

.

Besok petang.

Disebuah ruangan gelap yang minim cahaya, bahkan hampir gelap gulita jika tidak penerangan dari rembulan. Ada seorang pria dewasa sedang duduk pada sebuah kursi besar. Pria itu memiliki surai hitam, yang sedang berbicara pada seseorang lewat lingkaran sihir kecil didepannya.

"Apa yang kau bawa?" tanya si Pria itu datar.

"Kami akan segera berangkat, Tuan. Persiapan disini sudah hampir matang." Sebuah suara terdengar dari lingkaran sihir itu. Sang Pria yang mendengar 'kabar baik'baginya tentu puas, senyuman licik termpampang nyata disana.

"Bagus, segera mulai operasinya!"

.

.

.

Malam harinya.

Di point terluar dari Mana Ridge, tepatnya di sebuah lapangan sangat luas. Telah berkumpul ratusan Sorcerer yang berbaris rapi. Mereka semua dibagi kedalam 2 kelompok besar dan 1 kelompok kecil.

Di bagian terdepan berdiri dengan penuh wibawa seorang Senju Tsunade, meskipun dia ada wanita itu tidak menyurutkan fakta bahwa dialah yang pantas memimpin disini. Tak berselang lama, dia pun mulai berpidato. Ya, memang tidak aneh bagi seorang pemimpin untuk memberikan suntikan penyemangat disaat seperti ini.

"Wahai saudara-saudaraku. Hari ini telah tiba, hari yang terulang kembali. Hari dimana rasa terkhianati kita akan terbayarkan. Mereka, para Shaman. Telah bangkit kembali! Sebagai Sworn Brother yang dikhianati, kita tidak bisa membiarkan itu berlanjut. Segala bentuk penyebaran mereka adalah tanggung jawab kita untuk menumpasnya. Apa kalian sudah siap?"

"WOOOOOOOOOOOOO!"

"Hari ini kita pastikan, sekali lagi, untuk melenyapkan golongan hitam itu hingga tidak tersisa."

"WOOOOOOOOOOOOO!"

Sorak-sorai terus bergemuruh, memnuhi seluruh gendang telinga para manusia ini. Sorak-sorai yang menyiratkan keyakinan pada apa yang mereka pegang.

Naruto yang melihatnya pun tak kuasa untuk tidak takjub, baru kali ini dia akan terlibat dalam hal semacam ini. Pertempuran pertamanya dan mungkin ia akan semakin sering mengikutinya dimasa depan.

"Long March dimulai! Menuju Hall of marian!" Tsunade berseru kencang. Terompet-terompet pun mulai diperdengungkan. Ratusan manusia terlihat mulai merayap, jika dilihat dari atas. Mereka bergerak lumayan cepat dan terorganisir. 2 Batalyon besar dikerahkan sedangkan 1 Squad ditempatkan di Mana Ridge untuk berjaga-jaga.

.

.

.

Sudah berpuluh-puluh menit mereka berangkat dari lapangan tadi. 2 batalyon besar sudah dibuat bergerak terpisah, mereka menyebar keseluruh penjuru Hall of Marian. Berniat mengepung dari segala arah. Hall of Marian sendiri adalah tempat sakral bagi sebagian orang zaman dahul. Tempat besar dan luas yang sering dijadikan tempat beribadah. Hall of marian sendiri memiliki nama lain yaitu, Aula Maria.

Di salah satu sisi, tepatnya di tempat Tsunade, Shizune, dan Naruto. Mereka terus berlari-lari ditanah yang tidak lagi dipenuhi salju, melainkan rumput-rumput yang subur.

"200 meter didepan kita ada 10 orang yang bergerak cepat kemari." Shizune menyampaikan dengan serius, dia bertugas menjadi ujung tombak sensor di tim ini.

Benar saja, tak berselang lama. Mulai terlihat sejumlah orang-orang bertudung bergerak cepat sambil merapal mantra mereka masing-masing.

Zzztt~

Syuuuuush~ Blarrr~

Mereka semua terpaksa harus menghindar dan berhenti. 10 orang itu memandang tajam puluhan orang di sisi Tsunade tanpa gentar. "Tikus-tikus ini!" geram Tsunade.

Padang rumput disekitar mereka pun seakan bersiap berubah menjadi ladang darah kapanpun itu. "Kita harus cepat, atau rencana bisa gagal semua."

10 orang itu tiba-tiba seperti tersentak saat melihat Tsunade berjalan maju beberapa langkah. Mereka pun sontak membaut gesture waspada.

"Glacial Freeze!"

Zeeb~

Fenomena aneh terjadi, muncul lingakaran sihir besar di tanah dan tiba-tiba lahan puluhan meter persegi didepan mereka tercipta bongkahan Es, yang seperti terlahir dari dalam tanah. Menyebar dengan cepat, hingga membekukan ke-10 orang Shaman itu.

Itu ternyata adalah teknik dari Tsunade yang bisa membuat beku area tertentu yang diingikan.

Clap~

Prankk~

Bak sebuah kaca, selepas Tsunade menepuk sekali tangannya. Bongkahan es itu pecah berkeping-keping, tanpa menyisakka apapun. 10 orang Shaman itu pun lenyap bersamaan dengan Es tadi.

Tidak ada darah, tidak jejak, tidak ada bukti. Sungguh apa yang ditunjukkan Tsuande adalah pembantaian yang mengerikkan. Naruto yang melihat hal itu, sungguh syok. Dia yang biasanya melihat Tsunade sebagai wanita baik kini berubah menjadi wanita sadis dan kejam. Gumpalan saliva ia tela untuk menghilangkan keterkejutannya.

"Ayo pergi."

Mereka semua pun melanjutkan perjalanan kembali.

.

.

.

.

To Be Continued.


A/N:

Yo, warga Fanfiksi~

Saya kembali dengan Chapter terbaru.

Niat awal pengen ngeberesin Alur Prairie-Mana ini sekarang, tapi ternyata gagal. Lebih panjang dari perkiraan xD. Saya kalau nulis kepanjangan suka gak nyambung + ngelantur nantinya xD. Makanya saya bagi dua aja, Chap selanjutnya beres ini Alur, doain aja.

Oh, iya. Diatas disebutkan ada Vivre Identity. Ya, itu sama aja sih fungsinya kayak Vivre Card di One Piece. Kalau yang punya mati, benda itu juga otomatis ilang. Vivre sendiri dalam bahasa Perancis artinya 'Hidup'.

Ini cerita udah dimulai kok, cuman masih tahap awal + diselingi konflik, abis ini alur bakal lebih intens ngupas permaslahan demi permasalahan kok.

Terus, buat yang nanya tentang referensi FF ini. Ya, bener. Ini, mayoritasnya, ngambil dari Game DN.

Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca dan kalau berkenan silahkan tinggalkan komentar di kolom Review.

Uhm, apalagi ya? Oke, mungkin itu doang dari saya.

Bye~

27 Februari 2019.