Author: Chapter 4! Fiuuhhh, saya lagi gak punya komentar apa-apa jadi

Disclaimer: Hetalia masih punya Himaruya Hidekaz

Warning: Agak sedikit kekerasan, sama OOC buat seseorang (?)


Canada memutuskan kalau makan malam di rumah America dengan menu Mac n cheese yang mudah dibuat. Lagipula melihat isi kulkas si empu rumah memang cuma mampu membuat makanan tak sehat. Ah, lagipula ia tidak lama tinggal di rumah America, mungkin dua hari saja dan selanjutnya pulang kembali ke wilayah asal.

Beruang kutub mungil dengan sabar melihat si tuan sibuk menyiapkan peralatan dan bahan-bahan untuk makan malam. Mungkin karena terlalu membosankan, Kumajirou-nama beruang kutub yang suka menempel pada Canada-sampai tertidur menunggu. Canada hanya tersenyum tipis melihat bola bulu putih tidur dalam posisi duduk. Personifikasi Canada lalu sibuk kembali memasak.

Wangi keju yang gurih mulai menyeruak. Canada bahkan berniat untuk menambahkan potongan bacon untuk pelengkap sehingga bukan hanya wangi keju saja. Harum bacon juga pasti akan sampai ke ruang depan di mana America sedang tertidur. Semoga saja saudaranya terbangun dengan aroma makanan karena ia membuatnya dalam porsi banyak. Ia yakin, Kumajirou dan dirinya tidak akan bisa menghabiskan Mac n cheese satu panci penuh.

Setelah mengangkat panci berisi mac n cheese hangat, ia menyiapkan piring. Ketika meletakkan piring di atas meja makan, terdengar langkah kaki terburu-buru dari ruang tengah. Canada sudah dapat menebak siapa orang yang akan sampai ke dapur. Terlihat saudaranya tanpa kacamata memasang wajah khawatir.

"Eh Canada? Kukira siapa. Lalu… bagaimana dengan pertemuan? Eh tunggu, kenapa kau ada di sini? Oh mac n cheese, aku mau!" America malah teralihkan perhatiannya, ia lebih peduli pada makanan buatan Canada.

Sebelum America melahap makanan, Canada langsung menarik piring. Saudara di bagian selatan wilayahnya menatap Canada dengan pandangan kecewa seperti permen milik anak kecil diambil paksa.

Mulut America manyun, "Canada! Kenapa?"

"Karena aku ingin bertanya banyak hal, apalagi masalah pertanyaanmu. Aku saja belum jawab, kau malah lebih peduli sama mac n cheese." Canada memang kesal bahkan bermaksud memarahi namun suara lembut darinya malah terdengar seperti orang mengomel.

"Eh? Pertanyaanku? Tapi, makanan…"

"AMERICA!"

America manyun, ia akhirnya memfokuskan perhatiannya pada sang saudara.

"Iya, kok bisa di sini? Padahal seingatku kau tidak bilang mau menumpang? Terus bagaimana dengan pertemuannya? Sepertinya aku ketiduran…"

Ketiduran? Canada jadi bungung.

"Aku di sini karena sehabis mengantarkanmu, kau pingsan America… terus apa maksudnya ketiduran? Kau hadir di World Meeting. Bahkan membuat usulan tentang keamanan internet." Canada akhirnya meletakkan kembali piring berisi mac n cheese di depan America. Terlihat mata si saudara berbinar. Ia menusuk makanan dengan garpunya dan melahap dengan semangat walaupun pada akhirnya berteriak kesakitan karena masih panas. Canada hanya menatap America dengan wajah malas.

America berhenti sejenak dari melahap makanan, ia baru saja mencerna penjelasan Canada. ia tersadar dan langsung merasa janggal, "hah? Aku hadir? Lalu apa maksudnya usulan keamanan internet? Hei! Agenda yang mau dibahas kan tentang perdagangan internasional. Terus aku tidak mungkin hadir, Canadia, aku ketiduran!"

"Namaku Canada, America… bukan Canadia. Ketiduran dari mana, hadir kok. Tidak percaya? Aku bisa telepon England bahkan Germany untuk klarifikasi buat meyakinkan."

America mengunyah makanan, wajahnya terlihat kebingungan. Ia sepertinya masih sibuk memikirkan tentang pertemuan. Kalau dia memang datang, kenapa dia terbangun di sofa? Lalu kenapa juga ia tidak ingat apa-apa? Lagipula, kalau dia memang ketiduran, pasti beberapa negara menelepon.

Ia mengambil telepon pintar dari kantung celana. Di layar tidak ada pemberitahuan tentang telepon yang tak diangkat. Bahkan layarnya bersih hanya terlihat waktu, prakiraan cuaca, berita harian, dan pengingat.

"Ughhh… yah aku percaya, tapi kok bisa? Jangan katakan… Oh God, no no no! No way!" suara America mulai melengking, ia panik sendiri.

"Kenapa lagi?"

"Kalau aku memang ada dan datang, jangan katakan si Confederate sialan. Ugh, bahkan menyebut namanya saja membuatku mual."

Canada menghirup nafas panjang, saudaranya malah menuduh negara yang tidak salah (dan sudah tiada pula!).

"Kalau memang CSA mengambil alih tubuhmu (di mana tidak mungkin terjadi), coba jelaskan kenapa dia tidak tersinggung saat semuanya memanggil nama America? Terus 'dia' juga secara tak jelas menyakiti England. Kau tahu kan kalau CSA itu hampir mau minta bantuan England?"

America terkejut, dia menyakiti England?

"Aku menyakiti England? Bro, aku memang suka usil sama dia tapi tidak se-ekstrim itu!"

Canada angkat bahu, "entahlah… kau aneh kemarin. Lagipula CSA sudah tidak mungkin muncul, America. Dia bahkan menghilang di depan matamu, kan?"

America tak membalas, mengingat sejarah saat ia masih muda sebagai negara independen membuat perasaan tak enak. Perang Saudara saat itu masih terasa pahit di lidah. Ia menggelengkan kepala untuk mengalihkan ingatan agar tak terbawa jauh ke lembah dalam.

"Oke, tapi tetap saja aku tidak mengingat apa-apa seharian ini. Bisa jelaskan hasil pertemuannya? Yah paling penting… pertemuan terlaksana, kan? Dan… aku juga puas tidur seharian, HAHA!" Minimal ada yang melihat kejadian aneh dalam sisi positif, Canada lebih memilih untuk mulai makan tanpa mempedulikan America.

Kedua bersaudara sekarang malah sibuk dengan kegiatan masing-masing. America duduk di sofa depan televisi, ia terlihat menonton acara tentang pemilihan model. Canada sibuk berkutat dengan laptop, kedua mata dengan serius menatap laptop dan tangan dengan lincah menekan keyboard. America sesekali memberi semangat pada kontestan kesukaannya.

"America… tak kusangka kau masih saja nonton acara itu…" Canada melihat ke arah layar televisi karena bosan melihat huruf dan angka-angka.

"Karena acara ini memang seru, Canada!"

"Baiklah…"

"Hei aku serius, kalau tak percaya… bagaimana menonton satu episode saja sekarang?"

Canada menggeleng tak mau. Oh, ia juga baru sadar satu hal.

"America… kau tidak pakai kacamata, lagipula… darimana kau dapat kacamata itu?" Canada menyerah, ia sudah pusing melihat laporan pemerintahan. Laptop di pangkuan sudah mati dan diletakkan di bagian sofa yang kosong.

America memeluk erat bantal, ia gemas saat melihat model dukungan dikritik pedas oleh juri. "Hmm? Tadi bilang, apa?"

Canada tepok jidat, kenapa ia punya saudara macam begini pula.

"Aku bilang, bagaimana bisa dapat kacamata pengganti? Itu bukan Texas kan?"

"Hmm… aku tidak tahu, tapi bisa jadi itu memang Texas. Kan kita sudah konfirmasi kalau bagian rambut mencuat kita kalau dipotong malah cepat tumbuh, bagaimana kalau sama dengan benda yang menggambarkan wilayah? Jadi aku percaya kacamata hitam itu Texa- oh ya! Kacamatanya di mana?"

Memang untuk urusan saudara satunya ini paling menyusahkan. Punya ide nyeleneh, salah satu hal yang dihadapi jika mengobrol atau bekerja sama dengan dia. America juga mulai panik mencari kacamata.

"... Entahlah tentang teori itu, America. Kalau tentang kacamata, ada di bufet." Canada menunjuk posisi kacamata dengan frame hitam.

America melihat ke arah telunjuk Canada mengarah. Ia sudah ingin berdiri untuk mengambil, tapi diurungkan.

"Kenapa duduk lagi, America?"

"Meh, dipakai besok saja. Soalnya ingin tidur. Oh ngomong-ngomong, Canada… tinggal di sini sampai berapa hari?" America matikan televisi karena rasa kantuk mulai menyerang, ia berdiri dari sofa dan melakukan peregangan.

"Besok, awalnya dua hari tapi melihatmu baik-baik saja setelah pingsan sepertinya kupotong. Laporan pertemuan soalnya belum selesai." Canada mengambil laptop di sofa. Ia juga ikut berdiri.

"Malam, bro!"

"Yah, Bonne nuit."

"Sisi Prancismu keluar lagi." America nyengir, Canada di lain pihak hanya memutar bola mata. Ia lebih memilih jalan ke kamar tamu yang memang selalu disediakan oleh America di rumahnya karena terkadang beberapa negara tak sempat memesan hotel sehingga memilih menumpang.

Keesokan paginya

Canada bangun terlebih dulu, disusul oleh America. Kali ini yang memasak America, walaupun si negara maple sedikit tak suka kalau makanan khas wilayahnya dibuat oleh orang lain, ia terpaksa membiarkan saudaranya membuat. Ini karena si empu rumah merasa ingin membalas makan malam dibuatkan oleh Canada. Walaupun begitu, ia masih membantu dengan menyiapkan kopi untuk keduanya. Kumajirou mengikuti sang tuan mengambil kantung karton berisi biji kopi.

America baru ingat kalau ia belum memakai kacamata, selesai memasak seluruh adonan pancake baru akan dipakai.

Bersamaan dengan harumnya pancake, aroma khas kopi memenuhi ruang makan sekaligus dapur. Campuran bau yang sedap akan membuat kelenjar air liur siapapun bereaksi. Mereka selesai menyiapkan sarapan pagi bersamaan.

"Untung aku bawa sirup maple buatan rumah. Sirup mapel darimu rasanya tidak seenak di rumahku, America." Sebuah senyuman menantang diperlihatkan oleh Canada. Cukup jarang sebenarnya ia seperti ini, tapi kalau masalah maple dan hockey, bisa dibilang dua hal tersebut adalah kebanggaan paling ditonjolkan Canada.

America yang mendengar pernyataan Canada jadi tersinggung, "enak saja! Hanya karena di benderamu itu maple bahkan dianggap pohon nasionalmu, jangan seenaknya mengaku punya sirup maple terenak. Di rumahku juga ada yang bagus ya!"

America mengeluarkan botol berisi cairan berwarna keemasan dari dalam laci kabinet.

"Haha, tapi tetap saja. Sirup maple terbaik kan sudah diakui dariku, America."

America manyun sambil meletakkan sedikit potongan butter, ia tak peduli dengan perkataam Canada dan menuangkan isi botol kaca ke atas pancake yang masih panas. Selesai menuangkan, America malah pergi dari dapur.

"Eh? Mau ke mana?" Jangan katakan dia malah kesal dengan omongan Canada pula.

"Mau ambil Texas, soalnya aneh absen di muka. Dari tadi malam tidak pakai." America menjawab sambil berjalan, ia malah menjawab dengan teriakan. Canada tak peduli dan makan duluan tanpa menunggu.

Ia harus akui, sirup maple dari wilayah milik America kali ini cukup nembuat lidah puas, memang kualitasnya bagus.

America kembali lagi dengan Texas di tangan, ia pakai dan kemudian duduk. Saat ingin mengambil pisau makan, ia menunduk tanpa alasan. Canada masih tak sadar, namun Kumajirou yang sedang ikut makan langsung menggeram. Suara khas beruang kutub marah mengagetkan Canada.

"Kumadengakurou, kenapa!?" Bentakan kaget Canada tetap saja terdengar lembut.

Kumajirou tak peduli, ia malah makin manjadi geramannya. Bahkan sudah bersiap-siap mengeluarkan cakar untuk menyerang.

"Kumamiji hentikan, ada apa dengamu! Hei!" Ia berdiri dari tempat duduk, melihat America masih dalam keadaan menunduk membuat Canada makin panik. Ini sudah keterlaluan namanya, kenapa Kumajirou malah jadi buas seolah America berbahaya? Tunggu jangan katakan kalau teori tentang CSA memang benar?

Kumajirou melompat, namun dengan cepat America justru memegang beruang putih yang biasanya imut itu tepat pada leher.

"AMERICA!"

"Wah… wah… bola bulu ini mau menyerangku. Memang binatang punya insting kuat dibanding manusia." America tersenyum memperlihatkan gigi, ia menatap sumber teriakan (kalau memang suara seperti orang normal bicara disebut teriak) dan langsung saja seringaian menghilang dari bibir.

Kumajirou ia jatuhkan begitu saja, sedangkan dia malah dengan cepat berdiri dari tempat duduk. Ekspresi terkejut tertempel di muka.

"Ahahaha… Ini ilusi kan? Ivan sialan! Kau benar-benar keterlaluan!"

Canada sudah panik, sekarang bercampur jadi bingung. Kenapa saudaranya marah tanpa alasan, lalu siapa pula Ivan?

"A-apa? Umm… Ivan? Siapa? Terus tenangkan diri dulu America, AH! KUMAJIROU!" Akhirnya Canada bisa mengingat nama sang beruang kesayangan. Ia langsung menghampiri Kumajirou yang tergeletak tak sadar. Saat mulai mendekat, Canada justru didorong oleh America hingga punggung menemui kabinet dapur.

"APA-APAAN AMERICA!?" Ia mengaduh dan kembali teringat saat mengiyakan ajakan America untuk bermain tangkap bola bersama. Tenaga penuh dari lemparan bola saat bertemu badan cukup menyakitkan dan sekarang terulang lagi hanya saja di badan bagian belakang karena bertemu kabinet dapur yang terbuat dari mahoni asli.

America hanya melebarkan mata, "bu-bukan ilusi. Kau asli, Matthew? Matthew tidak mungkin… aku melihatmu, melihatmu mati karena menerima serangan yang seharusnya ditujukan untukku."

Canada berdiri dari posisi telungkup, meringis, ia berjalan mendekati orang yang sedang sibuk dengan kepanikan sendiri. Tanpa bicara apa-apa, ia langsung menonjok tepat di hidung. America langsung saja memegang hidung, cairan merah menempal pada telapak tangan.

"Terakhir kali aku menonjokmu seserius ini saat perang tahun 1812. Terus… what the hell, America!"

America tak bicara, ia masih menatap telapak tangan.

"Jangan katakan… kau benar-benar dia, si pembuat masalah alias Confederate State? Kalau benar kau bukan America… dan memang dia. Tonjokan bukan cuma yang akan ku berikan. Kembalikan kendali tubuh America!" Canada langsung mengambil Kumajirou yang tak sadarkan diri. Ia juga menjauhi America yang masih sibuk menatap telapak tangan dengan penuh konsentrasi.

Mendengar ancaman yang bukan ditujukan kepadanya membuat kedua alis bertautan. Oh, ia baru ingat, kalau tersadar berarti sudah merasuki tubuh si manusia abadi. Itu berarti ia ditonjok bukan oleh seseorang yang mati (dan tidak mungkin bangkit lagi karena sudah jadi debu). Orang si empu beruang kutub ini memang secara kebetulan saja memiliki wajah sama dengan sang saudara. Ia malah terkekeh sendiri.

"Wah, maaf! Maaf! Aku salah orang. Siapa ya omong-omong?"

Bukan sebuah jawaban diterima America (Alfred), tapi sebuah pisau makan yang sengaja diarahkan tepat di leher. Raut muka Canada sudah berbeda dari biasanya, kesan santai nan lembut telah hilang.

"Sudah kubilang kan, kembalikan kendali tubuh America!?"

Senyuman percaya diri diperlihatkan walaupun kedua tangan menunjukkan gestur menyerah. "Woah! Woah! Woah! Tunggu dulu, ini sebuah kesalah pahaman, oke?"

Melihat laki-laki di depannya tidak bergeming dan masih mengarahkan pisau ke leher, ia cuma geleng-geleng kepala.

"Karena dirimu punya wajah saudaraku yang sudah mati, yah kalau kau menganggap jadi debu dan hilang sama sekali disebut mati… jadi aku akan memperkenalkan diriku yang sebenarnya oke? Aku bukan siapa… yang kau sebut namanya," Ia berhenti sejenak untuk menarik nafas.

"Perkenalkan, tuan dengan pisau. Namaku Alfred F. Jones… yah bukan nama "lahir" tapi lebih gampang kan? Benar, aku bukan America, aku… cuma meminjam badannya. Yah mungkin mencuri lebih tepat? Err… kalian biasa menyebut hal ini kerasukan by the way. Oh, ditambah aku itu juga disebut raja para iblis. Tapi… bukan di neraka sayangnya." Cengiran lebar menjadi penutup perkenalan diri.

Canada hanya berkedip berkali-kali, "Apa?"


Author: Kasian Canada… yah apa boleh buat, sodaramu itu rada-rada idiot sih

Canada: … *narik nafas lelah*

Author: Yah, sampai jumpa di chapter selanjutnya!