TUTOR JEON

wonwoops' first experiment, a meanie story.

Cast :

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

others

Summary :

Jeon Wonwoo disuruh menggantikan ayahnya sebagai tutor privat Mingyu selama beliau sedang diluar kota. Apakah Wonwoo senang karena bisa dekat dengan namja tampan itu atau karena uang jajannya bertambah?

o

o

o

"Soonyoung-ah, bawa aku ke rumahmu."

CHAPTER 3

Drrt. Drrt. Drrt.

Sekarang sudah jam 9 malam dan Handphone Wonwoo sudah 21 kali bergetar semenjak ia tiba di rumah Soonyoung. Ia sengaja mengganti mode handphonenya menjadi mode getar karena saat di mobil, handphonenya tidak berhenti berdering. Ringtone yang ia pasang khusus untuk Mingyu kini terdengar sangat menyebalkan walaupun kemarin ia sangat menantikan ringtone itu untuk berdering di handphonenya.

Soonyoung selaku tuan rumah sekaligus sahabatnya tentu bingung oleh perubahan sikap Wonwoo sehabis dari SMA Kyungbock, begitu juga dengan Jihoon. Mereka berdua hanya bisa saling melemparkan tatapan kebingungan melihat Wonwoo yang kini meringkuk di sofa sambil menatap handphonenya yang terletak disebelahnya.

"Kenapa tidak diangkat? Apa ada sesuatu yang terjadi di SMA Kyungbock tadi?" singgung Jihoon yang kini duduk disebelah Wonwoo sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

"Tidak apa-apa, Jihoon-ah." jawab Wonwoo berusaha meyakinkan, tapi ia malah semakin mengeratkan pelukannya kepada kedua lututnya yang ia tekuk didepan dadanya.

"Apanya yang tidak apa-apa? Kau terlihat seperti bayi raksasa yang sedang merajuk, Wonwoo-ya! Ayolah, sahabatmu ini sudah berbaik hati membantumu bolos dari jadwal mengajarmu dengan Mingyu."

Kata 'Mingyu' yang disuarakan oleh Soonyoung itu langsung mendapat decihan oleh Wonwoo. Ia langsung mengingat kata-kata para siswi yang ia dengar tadi. Kesal rasanya dibohongi. Malu rasanya, setiap hari ia merendahkan Mingyu padahal mungkin Mingyu lebih pintar daripada Wonwoo sendiri. Dan terakhir, sakit. Sakit rasanya diberi harapan yang sangat besar namun harapan itu dihempas secara mentah-mentah.

Jadi, siapa yang salah disini? Mingyu karena dia memberi harapan atau Wonwoo karena dia terlalu berharap? Ayolah, Wonwoo juga masih punya perasaan. Dan ia bebas menaruh perasaan pada siapa saja, tapi ia tidak tahu bahwa ternyata Mingyu adalah pilihan yang salah.

"Soonyoung-ah, Jihoon-ah. Benar kata orang-orang. Cinta pertama itu tidak pernah berhasil. Dan pria tampan itu semuanya bajingan."

Wonwoo menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya, mungkin sekarang ia tengah menyembunyikan bulir-bulir air mata yang enggan ia pertontonkan kepada kedua sahabatnya itu.

"Hah? Maksudmu apa— AH. SI KIM MINGYU ITU MELAKUKAN APA?" teriak Soonyoung, kedua matanya yang tadinya menyipit kebingungan kini membola karena terkejut, sekaligus kesal. Jihoon yang sedari tadi diam juga ikut terkejut.

"Ani.. Setelah kupikir-pikir lagi.. Mungkin aku yang salah. Dengan bodohnya termakan oleh kata-kata manisnya.. Menyimpan harapan yang ia berikan walaupun itu hanya omong kosong.. Dengan percaya dirinya yakin kalau perasaan ini tidak sepihak. Padahal, mana mungkin seorang Kim Mingyu jatuh cinta padaku yang culun ini."

Suaranya serak dan terbata-bata, jelas sekali kalau ia sedang menahan isak tangisnya. Semakin diingat, ia semakin sakit, semakin malu, dan semakin merasa dirinya sungguh bodoh karena kalah pada perasaannya sendiri.

"APA!? Kurang ajar si Kim ini—" geram Soonyoung. Jihoon berusaha menahan Soonyoung, tapi Soonyoung lebih duluan merampas handphone Wonwoo yang masih bergetar. Diangkatnya telepon dari Kim Mingyu itu.

Wonwoo membelalakan matanya melihat tindakan sahabatnya. Soonyoung bukan orang yang temperamental, tapi, melihat sahabatnya sedari kecil itu menangis karena disakiti orang asing tentu membuatnya sangat geram.

"Ah, hyung! Akhirnya diangkat ju—"

JANGAN DEKATI WONWOO MULAI SEKARANG."

Lalu ia memutuskan sambungan. Jihoon sangat terkejut melihat Soonyoung yang berteriak seperti itu— padahal biasanya Soonyoung adalah orang yang lembut selembut kue moci.

Tapi Jihoon maklum. Dari awal Soonyoung memang sangat protektif kepada Wonwoo, jauh sebelum mereka berpacaran. Dan ia tidak pernah cemburu karena Soonyoung hanya mengidap brother complex.

"Jihoonie, maaf, tapi tolong jaga rumahku dulu ya? Wonwoo-ya, ayo kuantar pulang, nanti bibi khawatir." ucap Soonyoung sembari menarik tangan Wonwoo untuk bangun dari sofa.

"Iya, hati-hati, Soonyoung. Wonwoo-ya, istirahatlah. Jangan membuat dirimu sakit." Jihoon beranjak untuk mengusap kepala Wonwoo, walaupun ia harus menanggung malu karena harus berjinjit.

Sementara Wonwoo hanya mengangguk lemas. Mungkin eommanya nanti akan marah-marah, entah karena tidak mengabarinya sampai semalam itu atau karena bolos dari jadwal mengajarnya hari ini.

Soonyoung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak mau mengambil resiko karena dirinya masih kesal oleh perlakuan Mingyu terhadap sahabatnya ini. Sedangkan Wonwoo menutup matanya berusaha melupakan semua kejadian tentang Kim Mingyu, kalau bisa sekalian dengan perasaannya itu.

o

o

o

"Kuantar sampai dalam, ya? Sekalian mengucapkan salam kepada bibi, agar dia percaya kau tidak melakukan hal yang aneh." Wonwoo hanya terdiam mendengar tawaran Soonyoung. Kapan lagi Soonyoung bisa seperhatian ini padanya? Walau terasa menggelikan, Soonyoung yang seperti ini jauh lebih baik daripada Soonyoung yang seperti terompet tahun baru.

Sesampainya di depan pintu, eomma Jeon langsung membuka pintu karena mendengar suara mobil di depan rumahnya. Eomma Jeon yang matanya sembab langsung memeluk anak sulungnya itu. Baru pertama kali ini Wonwoo pulang semalam itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu, hampir saja ia dilaporkan ke polisi sebagai anak hilang.

"Bibi, maaf, tadi Soonyoung mengajak Wonwoo main ke rumah tapi kita malah ketiduran tanpa memberitahu bibi dulu." jelas Soonyoung, berbohong.

"Tidak apa. Lain kali jangan begitu, ya? Yang penting anak eomma tidak apa-apa. Terima kasih, nak Soonyoung. Lain kali kalau seperti ini eomma hukum kalian berdua!" tukas eommanya sambil mengacak-acak kedua surai namja dihadapannya.

"Maaf, eomma. Wonwoo lelah—"

"Wonwoo hyung!"

Suara yang sangat tidak ingin Wonwoo dengar itu kini memanggil namanya, seorang namja bersurai gelap yang berlari mendekatinya dari dalam rumah. Sedang apa Mingyu sampai semalam ini?

"Ah, tadi nak Mingyu kesini untuk les, tapi kau tidak pulang, jadinya ia ingin menunggu—"

BUK!

Satu hantaman sukses mendarat di pipi Mingyu. Pelakunya tak lain adalah Soonyoung sendiri. Wonwoo dan eommanya kaget setengah mati.

"BERANI KAU MENAMPAKKAN DIRIMU LAGI DI DEPAN WONWOO, HAH?" teriak Soonyoung. Wonwoo langsung mendorong eommanya masuk ke dalam kamarnya dan berkata 'aku yang akan mengatasi ini, eomma. Eomma tunggu saja dikamar dan jangan bilang siapa-siapa dulu, janji?' sebelum ia menarik Soonyoung menjauh dari Mingyu.

"Soonyoung-ah, tolong hentikan. Sudah kubilang, bukan salah Mingyu. Pulanglah, aku tidak apa-apa." bisik Wonwoo sambil terus berusaha menenangkan sahabatnya yang nafasnya kini berderu. Wonwoo senang dibela, tapi bukan berarti Soonyoung harus melukai tangannya untuk kepentingan Wonwoo. Ia tidak seegois itu.

Sedangkan Mingyu hanya menatap keduanya dengan bingung— apa salahnya? Apa yang sudah ia perbuat sampai ia tidak pantas menampakkan dirinya di depan Wonwoo lagi? Dan mengapa Wonwoo kini menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan itu? Kecewa? Sedih? Kesal?

"Pulanglah Soonyoung-ah, Jihoon-ah menunggumu. Nanti akan kutelepon." bisik Wonwoo lagi sambil mendorong Soonyoung pelan untuk pergi dari rumahnya. Soonyoung mendelik ke arah Mingyu dengan tajam seakan mengancamnya.

Dan jujur Mingyu tidak suka. Tidak suka dengan delikan Soonyoung. Tidak suka dengan luka yang diberikan oleh Soonyoung. Dan tidak suka dengan bagaimana Wonwoo berbisik lirih kepada Soonyoung, bagaimana Wonwoo berkata bahwa ia akan meneleponnya, padahal sedari tadi Mingyu menelepon Wonwoo tapi tidak ada satupun yang tersambung, kecuali Soonyoung yang membentaknya tadi.

Setelah memastikan Soonyoung pulang dari kediaman Jeon, Wonwoo beranjak masuk rumah, mengabaikan Mingyu yang menatapnya nanar. Mingyu yang diabaikan di depan pintu langsung menarik lengan Wonwoo saat ia berjalan melewatinya.

"Hyung, apa salahku?" tanyanya lirih, merasa sangat tidak adil dengan semuanya yang sangat tiba-tiba.

"Pulang, Kim. Aku tidak suka berbicara dengan seorang pembohong." Wonwoo menepis tangannya kasar.

"Apa yang aku bohongi padamu, hyung? Ah, masalah perasaanku? Aku benar-benar tertarik padamu!"

Tertarik katanya. Tertarik untuk menjadikanku korban harapan palsumu? Batin Wonwoo.

"Cut the bullshit, Mingyu. Aku tahu kau berprestasi sejak SMP. Aku tahu kau sebenarnya berpacaran dengan noona-mu yang bernama Nayoung. Kau boleh saja memberiku kata-kata manis, tapi, berhenti membuatku menyimpan harapan." Wonwoo merintih, kembali menahan isak tangisnya karena hal yang paling tidak ingin ia lakukan adalah— terlihat lemah di depan Mingyu.

Mingyu tidak membalas perkataan Wonwoo. Memang benar kalau selama ini ia sudah membohongi Wonwoo, dan penjelasan apapun itu akan semakin membuat masalah ini rumit dan Mingyu tidak bisa membela diri.

Wonwoo memang kesal, sedih, dan kecewa. Tapi perasaan itu makin menjadi-jadi karena sekecewa apapun ia, masih ada secercah harapan bahwa gosip itu palsu. Bahwa Mingyu akan menjelaskan padanya bahwa itu semua bohong dan ia benar-benar serius mencintainya.

Namun Mingyu tidak mengelak sekalipun, dan secercah harapan itu tumpah seiring dengan air matanya yang kini membasahi pipinya.

"Baiklah. Aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, hyung."

Dan dengan itu, Mingyu menghilang dari tatapannya.

Malam itu, Wonwoo menangis sepuas hatinya. Hanya dia, bantal, dan eommanya yang tahu.

o

o

o

Keesokan harinya, Wonwoo tiba di sekolah dengan wajah pucat dan mata membengkak karena menangis hingga fajar. Wajahnya ia tutupi dengan masker dan matanya terhalang kacamatanya. Soonyoung yang menyadari keadaan Wonwoo itu langsung mengepalkan tangannya kesal, namun Jihoon mengusap pundaknya, menenangkan kekasihnya.

"Wonwoo nanti makin sedih kalau kau terus marah-marah, Soonyoungie." ucapnya mengingatkan. Soonyoung langsung melepaskan kepalan tangannya dan menghela napas. Benar juga kata kekasihnya itu.

"Wonwoo-ya! Ada yang mencarimu di gerbang sekolah. Katanya ingin mengantar sesuatu yang kau lupa bawa..?"

Suara salah satu teman sekelasnya itu membuat Wonwoo menoleh. Oh iya, dia memang lupa bawa buku matematika hari ini. Mungkin eommanya sedang berbaik hati untuk mengantarkan buku itu yang tertinggal di atas meja ruang tengah.

Wonwoo berjalan dengan terhuyung-huyung sampai di depan gerbang, tenaganya seperti habis karena menangis sepanjang malam.

Soonyoung dan Jihoon mengintip ke arah gerbang sekolah dari jendela ruang kelasnya. Keduanya membulatkan matanya saat ia mendapati seorang namja bersurai gelap yang sudah menjadi definisi musuh di dalam kamus kehidupan Soonyoung sejak kemarin berdiri di depan gerbang sekolah.

"Shit! Mau apalagi dia—"

"Soonyoung. Diam. Biarkan Wonwoo menyelesaikan masalah ini. Entah kenapa, tapi aku yakin Mingyu punya alasan untuk datang kesini, di jam istirahat pertama."

o

o

o

Wonwoo ingin sekali lari saat itu juga, tapi badannya membeku saat ia mengetahui bahwa orang yang menunggunya itu adalah Kim Mingyu.

Ia menggenggam satu amplop yang Wonwoo ingat biasanya diisi oleh uang. Uang— uang untuk apa? Untuk biaya lesnya selama ini? Jadi, Mingyu akan berhenti ke rumahnya?

Wonwoo memang tidak ingin melihat Mingyu lagi, tapi, setelah tahu bahwa Mingyu juga berpikiran yang sama, hatinya tetap saja seperti sedang diiris-iris.

"Yang hyung bilang tadi malam memang benar. Aku sudah bohong pada hyung. Aku bahkan tidak berani untuk minta maaf karena perbuatanku memang sudah keterlaluan." ucap Mingyu sambil menyerahkan amplop yang sedari tadi berada di pegangannya.

Dengan tangan bergetar, Wonwoo menerima amplop itu. Tapi— isinya tidak seperti uang? Bentuknya tak sepanjang uang dan lebih keras daripada— tanpa berpikir panjang, Wonwoo membuka amplop tersebut.

Dan betapa Wonwoo ingin sekali bunuh diri, atau bunuh Mingyu sekalian yang dengan kejamnya malah memberikan foto yang menampilkan dirinya, keluarganya, dan seorang wanita yang ia asumsikan sebagai Nayoung.

Apa maksudnya ia memberikan foto itu pada Wonwoo? Bukannya Wonwoo sudah secara tidak langsung memberitahunya bahwa ia menyimpan harapan pada Mingyu?

Lalu mengapa ia memamerkan kemesraannya dengan noonanya itu?

Wonwoo benar-benar akan melayangkan tinjunya pada Mingyu kalau saja Mingyu tidak kembali bersuara.

"Hyung memang benar kalau aku bohong tentang diriku yang bodoh. Hyung memang benar kalau aku bohong tentang aku yang masuk Kyungbock karena nilaiku pas-pasan. Aku masuk Kyungbock karena aku ingin menjaga Nayoung noona."

Kalimat Mingyu yang terakhir itu membuat Wonwoo kembali menitikkan air matanya. Cukup, Mingyu. Wonwoo tidak ingin kau memamerkan noona-mu itu. Tidak sadarkan ia kalau setiap kata-katanya itu seperti granat pada hatinya yang sudah rapuh?

Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari amplop yang ia pegang. Ia melihat ke bawah, diambilnya satu foto yang belum ia lihat tadi.

Foto itu menampilkan Mingyu dan Nayoung yang tersenyum sambil terduduk di ranjang rumah sakit, dengan beberapa alat bantu pernapasan terhubung padanya.

"Tapi hyung salah tentang Nayoung noona yang adalah kekasihku. Nayoung noona adalah sepupuku yang sering sakit-sakitan dari kecil. Aku masuk Kyungbock karena takut ia kenapa-kenapa selama di sekolah. Dan aku sama sekali tidak kehilangan akal untuk menyukai sepupuku sendiri."

Kini Mingyu sudah berada di depannya, tangannya meraih pipi Wonwoo yang sudah basah karena air mata. Mingyu mengusap pipi itu pelan, dan ia daratkan beberapa kecupan lembut si sudut matanya yang bengkak.

"Dan hyung salah kalau hyung mengira aku tidak serius mencintai hyung. Aku sangat mencintaimu. Jauh sebelum kau menjadi tutorku."

"Bohong—"

"Aku tidak akan nekat meninggalkan sekolah pada jam istirahat pertama kalau hanya ingin berbohong padamu, hyung."

"Terus kenapa berbohong kalau kau itu bodoh!" bentak Wonwoo dengan kesal, ia memukul-mukul dada Mingyu. Niatnya dengan keras, tapi tenaganya masih belum pulih sepenuhnya.

"Aku melihat hyung saat seminar di SMP. Seminar yang diketuai oleh Jeon ssaem, hyung waktu itu ada di atas panggung, ingat? Sejak saat itu aku jatuh cinta pada hyung. Hyung manis, pintar, dan saat tersenyum, aku seakan menjadi orang bodoh yang tidak bisa apa-apa. Setelah itu, aku memohon untuk ditutori oleh Jeon ssaem agar bisa melihat hyung terus. Pernah bertanya kenapa aku yang datang di rumah hyung, bukannya Jeon ssaem yang datang ke rumahku?"

Wonwoo terdiam. Memang benar. Biasanya kan tutor privat itu akan datang ke rumah anak didiknya.

"Aku sampai harus jujur kepada eomma appaku kalau aku mencintai anak Jeon ssaem agar mereka mau bohong pada Jeon ssaem kalau aku ini anak yang bodoh agar Jeon ssaem percaya dan mau menutoriku agar aku bisa terus melihatmu, hyung! Lihat, betapa gilanya aku?"

Wonwoo hampir tertawa dengan ide bodohnya itu, untung saja ia ingat kalau ia sedang marah.

"Kau memang gila dan aku tidak percaya padamu, Kim." Wonwoo mengusap matanya yang sudah tak mengeluarkan air mata lagi.

"Astaga! Apakah aku harus teriak kalau aku betul-betul mencintaimu, hyung? Oke. WONWOO HYUNG, AKU, KIM MIN—"

"Ahhhh! Ya! Berhenti!" Wonwoo dengan refleks memukul perut Mingyu karena panik.

"Augh— Hyung kejam sekali. Tapi tidak apa, sekarang hyung percaya? Aku benar-benar mencintaimu." Setelah ia merintih kesakitan, ia segera melingkarkan lengannya di pinggang hyungnya itu. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Wonwoo sehingga kedua kening mereka saling bertemu.

"Tidak."

"Hyung—"

"Kecuali kau dapat nilai sempurna di test matematika nanti."

Mingyu langsung menunjukkan senyuman termanisnya, merasa sangat bahagia. Ia mendekatkan wajahnya sekali lagi, tapi sekarang untuk melekatkan kedua bibir mereka.

Namun niatnya itu langsung sirna setelah ia merasa kepalanya dihantam oleh ujung badan gitar.

"WOI, HITAM. BERANI-BERANINYA KAU CIUM-CIUM WONWOO. DASAR MESUM. KARDUS. KUTU."

"Soonyoung!"

"GITARKU!"

Hari itu Jihoon pun putus dengan Soonyoung karena gitar kesayangannya patah.

o

o

o

END

o

or not?

- author's note! -

canda deng. SoonHoon putusnya sejam doang kok, abis itu balikan lagi. MAAF YA INI CHAPTER KAYANYA KEPANJANGAN. tapi saya mau selesein semuanya disini. dan kayanya ini terlalu cliche tapi dari awal emang udah cliche jadi akhirnya jg harus cliche maaf ya hehe.

terima kasih semuanya yg sudah baca sampai sini dan terus kasih reviews~ seru bacanya kk. selanjutnya ada yg mau kasih saran bagusnya saya bikin cerita kaya gimana?

btw saya ada niatan mau kasih bonus ini afterendingnya antara scene dimana semua tokoh ketemu dan bahas meanie yg udah jadian. perlu ga ya?