Disclaimer: Kubo-sensei… med puasa… (lho?)
WARNING (WARung Neng niNING): "H2C DIPERBOLEHKAN DI CHAPTER INI, KARENA CHAPTER INI SANGAT EKSPLISIT, TIDAK RASIONAL, DAN 'BERLEBIHAN'. HARAP MEMPERSIAPKAN MENTAL ANDA!" –ngusirin anak kecil- "CHAPTER INI JUGA TAK BAIK UNTUK KEMAJUAN BANGSA."
Episode perdana: Getting Merried's Last Chapter,
Chapter 4
Yesterday, today, and Forever
These feelings are trying to boiled my head up!
It's really annoy me...
-Dua tahun setelah kejadian itu, musim semi...-
Di sekolah...
Akhirnya~ lulus-lulusan telah tiba! Hinamori dan Toushirou berhasil mendapat nilai ujian terbaik! Kini saatnya mereka masuk universitas favorit.
Hari terakhir masuk sekolah...
"Hinamori! Hinamori!" Toushirou berteriak dari belakang Hinamori, terengah-engah. Sepertinya ia berlari dari tadi mengelilingi sekolah hanya untuk mencari satu orang.
"Eh? Shirou? Ada apa? Kok terengah-engah begitu?"
"Huff... kau ini aku cari-cari kemana saja sih?"
"Ano, ada apa ya, mencariku?"
Wajah Toushirou mulai memerah mengingat hal yang akan ia sampaikan itu dan berusaha berpaling dari hadapannya. Ketika ia berbalik, Kurosaki, Rangiku, dan Mizuiro sudah berada di situ bersembunyi di balik pohon. Rangiku melambai-lambaikan tangannya kebawah dan ke atas, seolah berkata 'Ayo cepat! Dia menunggumu agar kau berkata yang sejujurnya!'
Toushirou yang melihat hal itu, membuat jantungnya berdegup semakin kencang. Tapi kemudian ia mengontrol dirinya dan menarik nafas panjang, mengelus-elus dadanya.
"Shirou? Ada apa?" Hinamori bertanya dengan wajah lugunya. Mendengar suara lucu Hinamori, Jantung Toushirou benar-benar berdegup kencang lagi. Duk-duk... duk-duk...
"Ah, Tidak. Hinamori, ng... bisa kamu temui aku nanti sepulang sekolah di halaman belakang sekolah?"
"Eh? Kenapa?"
"Aku mau berbicara sesuatu yang penting denganmu, boleh ya?"
"Eh?! Kenapa tidak katakan sekarang saja?"
"Ti-TIDAK BISA!"
"Eh?!"
"Pokoknya ikuti perintahku!"
"...O-okay..." Shirou aneh sekali. Pikir Hinamori. Tapi, Shirou, terlihat lebih gagah setelah dua tahun akhir-akhir ini... apa karena tingginya yang sekarang melebihi tinggiku ya?
Sementara itu, Hitsugaya sudah berlalu pergi melambaikan tangannya. Tersenyum-senyum seperti orang gila. Dasar...
Pulang sekolah, ketika matahari mulai menenggelamkan dirinya di sisi barat, anak berambut putih itu tersenyum melihat gadis itu berlari-lari ke arahnya. Melambaikan tangannya. Ia membangkitkan diri yang bersandar di pohon dan kemudian menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Shirou! Maaf aku telat!"
"Tidak apa-apa, aku pun belum lama ada disini..."
"Ngh, oh ya, k-kau mau b-berbicara tentang apa?" Wajah Hinamori memerah, melihat sekeliling hanya mereka berdua.
"Oh itu... Tutup matamu.."
"EH?! Untuk apa?!"
CHUUG...!
Toushirou menciumnya tepat di bibirnya. Awalnya Hinamori cukup tercengang. Tapi, ia mendorong lebih kuat Toushirou untuk mendekat padanya. Toushirou memeluk pinggang Hinamori kuat-kuat. Sejenak Hinamori menghentikan ciumannya.
"Jadi, Shirou? Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya dengan nada menggoda, tapi wajahnya tetap saja memerah.
"Hinamori, aku mencintaimu..."
"Ya, Hitsugaya Toushirou, aku juga mencintaimu..." Mereka meneruskan kembali apa yang telah mereka lakukan dari awal.
Di sisi lain...
"Hey-hey! Lihat! Hitsugaya dan Hinamori berciuman!" Asano berteriak sekencang-kencangnya dan berhasil mengundang temannya yang lain untuk melihat pemandangan indah dari jendela sekolah.
"Wah! Benar! Akhirnya, Toushirou dan Hinamori pacaran juga ya?" salah seorang dari mereka berteriak.
"Iya, padahal kan sudah lama mereka saling menyukai, tapi baru sekarang ya, pacaran!" seorang lain berbicara.
"Wah, so sweet...!" para wanita berteriak histeris.
"Shh...! kalian bisa menghancurkan acara mereka, tahu!" Asano menaruh jari telunjuk di bibirnya untuk menghentikan keributan.
Begitulah akhir dari flashback masa kini. Sekarang, kita lanjutkan pada kehidupan mereka 5 tahun kemudian.
"Shirou! Sarapan!"
"Iya, sayang!" Toushirou berteriak dari lantai dua karena mendengar panggilan dari istri tersayangnya. Ia turun ke bawah dan langsung duduk di kursi meja makan.
"Pagi, Shirou sayang, manisku, cintaku!" sapa Hinamori hangat mencium pipi Toushiro.
"Pagi, sweetheart."
"Shirou, tidurmu nyenyak sekali semalam. Pasti kau lelah, ya?"
"Iya, kemarin kan, hari pernikahan kita..."
"Oh, ya. Hari ini aku masak spesial untukmu,"
"Oh, benarkah~?" Toushirou mengelitik pinggang istrinya yang sedang menyiapkan meja makan dan memeluknya dari belakang.
"Shirou! Geli ah!"
Toushirou senang sekali menggoda istrinya itu. Dia hanya tertawa melihat istrinya merasa geli, ia tahu kelemahan istrinya.
"Udah Shirou! Ayo makan!" Istrinya berusaha menghentikan sifat jahil suaminya. Toushirou menghentikan kegiatannya dan mulai sarapan bersama istrinya. Waw... hebat! Makanannya enak... Pikir Toushirou.
"Oh, ya. Hinamori. Besok kita honeymoon-"
"Eh?"
"Bukan 'eh', besok kita bulan madu... kan?"
"Ya, ke Bali, kan?"
"I-Iya... aku sudah menyiapkan tiketnya, dan seseorang yang di sana (Fuyuri) sudah mendaftarkan nama kita di hotel,"
"Oh, ya?"
"Ya," Toushirou memotong kalimatnya sendiri dan memandang jam. "Wah! Gawat! Aku harus berangkat kerja! Bye, sweetheart, aku berangkat dulu. Muahh.." Toushirou mencium dahi istrinya dan segera mengambil jasnya. Ia berangkat keluar, naik mobil pribadinya dan kemudian berangkat.
"Eh, dasar! Maen nyosor trus pergi!" Gumam Hinamori sambil tersenyum pada dirinya sendiri.
-Esok pagi...-
Hitsugaya dan Hinamori telah menikah sekarang. Tapi mereka belum berani tidur satu ranjang (Hinamori sih belum, tapi Toushirou udah kebelet... XD). Rencananya, mereka akan melakukannya pada saat honeymoon.
Hinamori mengendap-endap ke kamar sebelah, kamar suaminya. Ia hampiri kasur tempat suaminya tidur, kemudian duduk di sebelahnya. Ia belai pipi suaminya dengan lembut.
"Sayang, selamat pagi. Ayo bangun, jadi honeymoon-nya, gak?"
"Oh, good morning sweetheart~" Toushirou bangun dan langsung memeluk istrinya, menggodanya. Hinamori hanya tertawa geli.
"Iiih, udah, ah, jangan ngelindur. Siap-siap, gih! Sebentar lagi taksi bandara akan menjemput kita, aku sudah membereskan barang-barang kita,"
"Mm... ayolah... masih lama kok, kita main sebentar ya~ Hinamori, my sweetheart~"
"Ahh, nanti mainnya! Buat nanti, mainnya. Mandi dulu, sana!"
"Ah, iya deh," Toushirou melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan membuka pintunya. Sebelum masuk, ia menoleh sebentar ke belakang. "Sayang, kau mau mandi berdua denganku?" tanyanya sambil nyengir.
"Eh?! Ah! Sudah-sudah masuuuk!" Wajah Hinamori benar-benar memerah. Ia mendorong Toushirou dari belakang untuk segera masuk ke kamar mandi. Toushirou hanya tertawa melihat Hinamori seperti itu. Ia pun menutup pintu kamar mandi yang ia belakangi dan mulai menyalakan shower kamar mandinya.
Hinamori menarik napas panjang, menepuk dadanya. Huff... Shirou, mainnya buat nanti di Bali, saat bulan madu kita, ya... Hinamori berbicara dalam hati. Ia tersenyum mengingat bagaimana ia dan Hitsugaya pacaran ketika lulus-lulusan dari sekolah menengah atas. Kalau mengingat hal itu, pipi Hinamori mulai jadi merah.
"Eh?! Kok kejadian itu teringat lagi olehku, ya?! kyaa...! jadi deg-degan," Hinamori bergumam. Ia ingat sekali bagaimana ia mendapat ciuman pertamanya bersama Hitsugaya. Ia berteriak histeris sendiri dalam hati, menggelengkan kepala. Ketika ia pegang pipinya sendiri, uwaah... badannya panas.
Beem... beem...!
"Ah! Shirou, cepetan mandinya! Taksinya udah datang tuh!"
"Tenang aja, say, taksinya bisa nunggu kok..." Jawab Toushirou dengan santai.
Suara shower yang terus mengucur, hingga 30 menit lamanya. Hinamori hampir kesal dibuatnya karena harus menunggu selama itu.
Suara shower yang berhenti diiringi suara pintu kamar mandi bergeser. Toushirou keluar dengan hanya menggunakan handuk dipinggangnya. Hinamori yang menunggunya di depan pintu, spontan terkejut. Matanya terbuka lebar dengan pipi yang memerah padam. Ia memperhatikan tubuh Toushirou dari bawah sampai ke atas, oh, ya, ampun... pikirnya dalam hati.
"Hinamori, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
" ... " Tidak ada jawaban.
"Oi! Hinamori!" Toushirou memegang kedua bahu gadis itu dan menggoyang-goyangnya berkali-kali. Hinamori tak menjawab apapun. Seluruh tubuhnya merah dan gemetar. "Hinamori? Kamu sakit, sweetheart?" tanya Toushirou sekali lagi.
"K-k-k-k-k-k-k-kamu..."
"Eh? Hinamori-?"
"SO CUTE...!!!!" Teriak Hinamori histeris ala fansgirl dan langsung merangkul Toushirou yang masih kebingungan (dan belum pakai baju, basah pula). "Shirou, kamu lucu sekali..." lanjutnya.
"Lucu?" tanyanya bingung.
"Rambutmu yang putih keperakan itu!"
"Kenapa? Ada yang salah dengan rambutku??" tanyanya sambil memegangi helai rambut yang ada diatas kepalanya itu.
"Rambutnya basah terkena air~"
"Oh itu..." Puas mendengar jawaban Hinamori, ia tertawa terkikih-kikih di hadapan istrinya, istrinya pun turut tertawa mendengar suaminya tertawa. Toushirou pun segera berlalu ke kamar sebelah dan mengganti pakaiannya.
Istrinya memebereskan koper yang kemudian siap untuk dibawa pergi. Setelah selesai, Toushirou membawakan kopernya itu dan segera turun ke bawah, disusul istrinya tepat dibelakangnya. Toushirou menggeret kopernya, mula-mula turun dari tangga hingga ke luar pagar untuk menemui taksi...
"AP...?! FUYURI!! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?! D-D-D-DAN INI....?!"
"Ada apa, say-... Fuyuri-chan?!"
"Mobilku siap mengantar anda, tuan, nyonya... free love for new couple!"
"AP..?! Ini mobilmu kan?! Taksi yang kupesan kemarin mana?!"
"Ah~ kakak, aku membatalkannya dan sengaja datang ke sini dengan mobilku - kali ini aku yang jadi supir!!"
"Se-sejak kapan kau bisa menyetir?!"
"He~ kakak, aku ini sudah berumur 19 tahun~ tentu saja ada izin mengemudi, kalau ada izin mengemudi, berarti aku lulus tes menyetir..."
"Wah! Fuyuri-chan! Dekorasi mobilnya romantis sekali, thank you~!"
"Sama-sama, kakak ipar. Well, skip the babling, let's go..."
"Yang bener nih, kamu bisa nyetir, entar rusuh loh..." gumam Toushirou pada dirinya sendiri. Fuyuri mendengarnya, hanya berpura-pura tidak tahu. Ia hanya tertawa terkikih-kih dalam hati.
Dalam perjalanan, Toushirou benar-benar memperhatikan setiap inchi adiknya itu. Ia mengawasi betul gerak-gerik adiknya. Hingga di bandara...
"Yah, aku tidak menduga akan berkata seperti ini, tapi... terima kasih, ya!"
"Sama-sama, kak. Nah, ayo, cepat, nanti ketinggalan pesawat. Oh, ya, emm... 3 hari lagi aku akan menjemput di sini," ia sempat menghentikan kalimatnya. Ia berbalik dan menengok ke belakang, "Nanti kalau pulang, hati-hati dengan bayinya. Untuk kakak, jangan menghabiskan susu anakmu sendiri, ya~" Fuyuri nyengir diiringi pelariannya menuju mobil.
"AWAS KAU FUYURI! PULANG HONEYMOON AKU AKAN MENGAHAJARMU!!!" Teriak Toushirou mengancam adiknya yang terus berlalu mengejeknya. Hinamori hanya tertawa geli melihat mereka berdua.
Perjalanan yang begitu panjang memang, butuh 8 jam untuk menempuh perjalanan dari kota Karakura menuju Bali, Indonesia. Ini negeri paling indah, Zamrud Khatulistiwa – itulah yang dunia katakan. Kekayaan alam yang melimpah ruah, dan daya tarik pariwisata yang merupakan penghasil utama negara ini. Membuat bangga penduduk di dalamnya.
Toushirou yang masih ada didalam pesawat pun turut hanyut ketika melihat keindahan alam Indonesia dari pemandangan atas. Oh, tak heran mereka menyebutnya Negeri Zamrud Khatulistiwa... pikir Toushirou. Ya, memang benar. Jika kau melihatnya dari pemandangan atas, pulau-pulau yang terhampar di atas laut akan terlihat seolah-olah pecahan batuan zamrud di atas air laut nan biru. Toushirou hanya tersenyum ketika ia tahu Indonesia merupakan negeri yang indah, dan tentu saja itu jauh dari perkiraannya.
Ketika pesawat telah mendarat, kedua pengantin baru ini ternyata telah disambut di ujung pintu keluar bandara. Penyambut itu membawa papan nama tertulis 'Hitsugaya couples'. Toushirou tersenyum ketika ia tahu, sang penyambut itu memiliki wajah yang sudah tak asing baginya. Itu rekan kerjanya, GOTA (A/N: Aha! It's me!). Ia pernah bertemu dengannya ketika orang itu datang berkunjung ke kantor tempat ia bekerja sebagai tenaga ahli tambahan sementara.
"Oy-oy, Gota, apa yang kau lakukan di sini?"
"Hai! Hitsugaya-kun! Uh, ini perintah adikmu, Fuyuri. Lagipula, Aku tinggal di daerah sini."
"Oh, begitu... eh, iya, perkenalkan, ini istriku!" Toushirou memperkenalkan istrinya yang dari tadi mengikutinya dari belakang.
"Oh.. ini istrimu. Cantik sekali, sayang, dia mau saja jadi istrimu, ya!"
"APA KATAMU?!"
"Ah, enggak, bukan apa-apa kok..." Keringat nya mengucur dari dahi hingga dagu.
"S-salam kenal, aku Hitsugaya Momo..."
"Ya, aku tahu. Pria beruntungmu itu sudah menceritakan semua tentangmu padaku," Toushirou rupanya ketika ia berada dikantor, senang sekali menceritakan tentang Hinamori, euh... maksudku Momo. Momo hanya menundukan kepala dengan wajah yang berseri-seri.
Gota mengantarkan mereka naik mobil pribadinya menuju hotel yang ada di Kuta, Bali. Setelah sampai, Gota melambaikan tangannya dan memberitahukan bahwa pukul 5 sore ia akan menjemput mereka kembali untuk acara makan malam. Toushirou melambaikan tangannya kembali seraya mengusirnya untuk segera pergi. Gota nyengir dan membisikan sesuatu di telinga Toushirou, "Sudah kebelet, ya?". Sontak, wajah Toushirou berubah merah seperti tomat. Toushirou tak bisa marah, tapi juga tak bisa berkata apa-apa. Sepertinya, perkataan yang diucapkan Gota adalah benar.
"Shirou! Ayo!" Momo memanggil namanya dari arah ruang utama atau Big Hall hotel tersebut. Toushirou pun masuk dan menggandeng tangan Momo untuk segera menghampiri resepsionis dan segera mendaftar ulang atau check in.
Seorang bell boy kemudian mengantarkan mereka dengan senantiasa ke kamar mereka. Kalau diperhatikan, memang ini merupakan hotel mahal berbintang lima. Dekorasi indah dan eksklusifnya itu sepertinya yang terbaik di Bali. Sementara itu, suami istri yang baru saja menikah ini sudah sampai di kamarnya. Bell boy memberitahu dan menunjukan beberapa hal di kamar tersebut. Yah, apa yang akan ditunjukkan bell boy itu tidak penting, sekarang yang penting adalah bagaimana mereka menjalankan malam pertamanya (ngeres).
Mereka berdua duduk di atas kasur mereka yang mewah dan empuk. Walau begitu, beberapa waktu, ruangan hanya mereka acuhkan, terdiam dan hening. Tak ada suarapun yang menggema meskipun suara berbisik. Karena, kini mereka hanya berdua di kamar itu. Mungkin mereka masih sedikit gugup.
"Momo," "Shirou," Disaat yang bersamaan, mereka saling memanggil nama satu sama lain. Bertatapan dan kemudian memalingkan wajah mereka kembali.
Shirou-chan~ kenapa kau tak melampiaskannya sekarang? Ini waktu yang tepat...
Ketika kau berumur enam belas tahun, kau ingin mempraktekannya kan'?
Ayo, lakukan secara perlahan... jangan sampai menyakitinya, masih ada waktu sampai makan malam~ yang kau lakukan hanyalah mendekatinya dan membawanya tidur bersamamu di atas ranjang...
Suara itu lagi, suara yang hanya Toushirou seorang yang mampu mendengarnya, suara dari sisi lain Toushirou memanggil hasratnya kembali. Toushirou takkan menolaknya kali ini, tak ada alasan untuk menolaknya umurnya sudah mencukupi untuk itu. Lagipula, ia sudah menjadi istrinya sekarang, jadi takkan apa-apa.
Toushirou tersenyum sendiri, ia mendekati istrinya secara perlahan. Menggeser badannya untuk lebih mendekatinya kembali, ia pegang tangan istrinya dengan lembut. Ia mencium istrinya dimulai dari pipi hingga lehernya. Istrinya hanya bisa mendesis seolah mengeluarkan efek 'silent scream'. Toushirou membawanya tiduran di atas kasur. Tanpa sadar, kini Toushirou sudah berada di atas badan Momo, menciuminya dari bibir, bergeser ke pipi hingga leher. Toushirou tersenyum ketika istrinya hanya membisikan namanya berulang kali di telinganya.
Tok...tok...tok...
Sial, suara pintu itu mengganggu acara saja. "Shirou, pintunya.." bisik Momo.
"Ah... jangan pedulikan, kita lanj—"
Tok...tok...tok...
"AGH! Sial! Siapa sih?!"
Toushirou yang kesal kemudian loncat turun dari kasur dan segera menghampiri pintu kamar utama. Ia membuka pintunya dan seorang bell boy berdiri di hadapannya, senyum ramah nampak di wajahnya.
"Euh, permisi pak, maaf mengganggu. Anu, ada yang ketinggalan.." bell boy tersebut menggeret kereta dengan sebuah kue besar di atasnya. "Maaf, ini persembahan gratis dari kami untuk pengantin baru,"
Kue yang sangat cantik. Kue itu terdiri dari tiga lapis bolu coklat, hmm... ada hiasan cream berwarna pink, biru dan putih di atasnya. Kemudian cream bunga-bunga dipinggir bolu yang membuatnya semakin indah dipandang dari sudut manapun, lezaaat...
Sekali lagi senyumnya tersirat di wajah lugu bell boy tersebut. Mata Toushirou terbuka lebar diiringi ekspresi wajahnya yang berubah. "Oh, ya. Terima kasih banyak, ya!" balas Toushirou, "Tolong ditaruh di dalam.." Bell boy tersebut menuruti apa yang diperintahkan Toushirou dan langsung pergi dengan izin mohon diri. Tapi bell boy itu sungguh baik, walau ditawari tip oleh Toushirou, ia menolaknya. Ia hanya menggelengkan kepala dan mengucapkan terima kasih pada Toushirou.
Setelah beberapa jenjang berlalu, Toushirou menutup pintu dengan kakinya dan menguncinya. Ia berkedip nakal pada istrinya, "Kita lanjutkan lagi?" tanyanya. Pertanyaannya yang sederhana berhasil membuat pipi istrinya merah, ia mengangguk perlahan.
Ketika hendak mereka melanjutkan acara mereka kembali, Momo tertarik untuk melirik jam. "HAH?! Sudah jam empat sore!! Shirou, ayo cepat kita siap-siap!"
"Hm? Siap-siap apa, sayang~?" suara serak Toushirou yang mencoba menggoda Momo kembali. Ia tahu apa yang sebenarnya istrinya coba katakan. Tapi ia masih saja tak mau pergi makan malam, katanya itu bisa dibatalkan dan dilaksanakan esok, sedangkan ACARA-nya tidak. Toushirou langsung menelepon Gota untuk membatalkan makan malam dan diundur menjadi esok hari.
Setelah menutup teleponnya, Toushirou memandangi istrinya dengan tersenyum. "Nah, sudah kubatalkan, apa yang mau kau katakan, sekarang?"
"Euh, y-yah, a-aku tak bisa menolaknya. Lagipula malam ini kita punya kue, kan?" jawabnya seraya tersenyum tapi juga tak bisa menyembunyikan ekspresi tersipu malunya.
Ya, benar. Darah panas dari tubuh Toushirou sekarang sedang bergejolak, ia tak bisa menahan nafsunya. Nah, kita tak boleh mengintip adegan ini. Kita akhiri saja ceritanya... ;P
THE END... ???
Author Notes:
For Sorry...
YEESS! Finally! Akhirnya selesai juga fanfics-ku~ untuk teman-teman, maaf ya ceritanya gak begitu memuaskan. Sebenarnya aku masih punya cerita panjang, tapi... aku takut kalian udah pada bosen, so, aku mengakhiri ceritanya dengan agak canggung, sebab aku benar-benar-BENAR tidak tahu harus seperti apa aku mengakhiri ceritanya. I'm truly sorry...
Okay, that's all for today, Good bye!, Adioz!, Sayonara!, Adieu!, Auf Wiedersehen!, Arrivederci!, dan … DADAH!!!
Oh, ya… aku juga mempersembahkan puisi. Check this out!
[UNTITLED]
Memandang sunyi sisi dunia sendirian
Ingin rasanya berjumpa dengan seseorang
Perasaan yang beku dan hati buatan
Takkan mungkin membuat teman kita datang
Kata-kata tidak bisa menjelaskan perasaanku
Masa akan menenggelamkan kita dalam kegelapan lalu
Buang rasa takutmu itu
Aku ada disini untuk menemanimu
Itulah gunanya sahabat
Menulusuri jalan akhirat yang panjang
Untuk menemukan engkau yang ada disana
Dibuai rasa takut dan haus kehangatan
Sekarang kau tak akan mengerti
Tapi jika suatu saat nanti
Ketika seluruh alam sudah mati
Maka aku dan kamu mungkin takkan bersemi kembali
