Chapter 3
Evil Riders Are...Evil?
.
.
.
[Photon Access!]
Particle Overflow!
"Henshin!"
Quantum set!
[Kamen Rider Photon!]
Seperti yang biasanya aku lakukan sebelum bertarung, aku berubah. Ada sebuah program di KROH yang melindungi setiap player sebelum berubah. Dengan kata lain, pemain yang belum berubah tak akan bisa diserang. Dan sepertinya Program itu sudah tertanam pada avatar setiap pemain. Bahkan diriku yang terbawa ke dunia ini. Buktinya saja anak panah yang tadi mereka tembakkan tak sedikit pun melukai ku, padahal kena telak diwajahku.
Si Wanita yang memimpin 'parade' pasukan itu pun turun dari kuda yang bersurai ungu panjang. Dia dilengkapi oleh Armor metal yang cukup tebal di bagian dada, bahu, kaki dan tangan. "Siapa kalian sebenarnya!?" Tanyanya dengan angkuh pada kami.
Genm jengkel. "Sebelum menanyakan nama orang lain, alangkah baiknya kau beri tahu nama mu dulu." Balasnya.
"Cih, tak ada untungnya bagiku memberi tahukan namaku pada orang yang akan segera mati ditanganku."
Diam-diam kuambil satu papan Quantum dan ku posisikan didepan sabukku. Setelah scanning selesai, seperti biasa ku lempar papan Quantum itu ke tanah. Di saat itulah gelombang kejut kembali muncul. Para pasukan itupun tak dapat bergerak.
"A-Apa ini!?"
[Photon Break : Meteor Rain]
Seperti yang sebelumnya, aku melambung tinggi ke langit. Di ketinggian, muncul sejumlah bola api berukuran besar yang berputar mengelilingi ku. aku pun langsung mengambil posisi tendangan super ku. Kemudian, bersamaan dengan bola api yang mengelilingi ku, aku melesat ke arah kerumunan pasukan itu.
Ledakan hebat terjadi. Sekelompok pasukan yang aku serang terlempar kesegala penjuru. Bara api menyebar membakar mereka yang ada di dekat sana. Jeritan, raungan, dan tangis pun menggema dimana-mana. Anehnya lagi, aku menikmatinya. "Ah, sudah lama sekali rasanya..."
[Kamen Ride : Sasword]
[Kamen Ride : Ouja]
[Kamen Ride : Dark Kiva]
Melihatku yang sudah beraksi Diend pun ikut serta. Tapi emang dasarnya nggak mau susah, dia summon saja 3 Beast Rider untuk bertarung demi dirinya. Sementara ia sendiri keluyuran entah kemana. "Aku mau cari bahan lagi ya..." Pamitnya yang sudah jelass bohong.
"Woi Diend!, Mau kemana kau!?"
[Dangerous Zombie!]
Tak mau kalah. Genm segera masuk ke mode Level X miliknya. Dipersenjatai oleh Gashacon Sparrow, Ditebasnya musuh yang tersisa satu per satu. Dia pasti sangat menikmatinya. Tawa khas miliknya sampai terdengar saat ia mencabik-cabik para pasukan itu.
Indah sekali. Benar. Inilah perasaan yang sudah lama terlupakan oleh ku. Beginilah rasanya bertarung sebagai seorang penjahat. "Kita tunjukkan pada mereka arti Evil Riders yang sesungguhnya!"
.
.
"Ainz-sama, apa tidak apa-apa membiarkan tiga orang aneh itu bergabung dengan kita?" Tanya Narberal yang saat ini sedang menyamar sebagai Nabe pada tuannya itu.
Sang tuan, Momon alias Ainz Ooal Gown alias Momonga agak tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia tak mau para pelayannya sampai tahu kebenarannya. "Kau tak perlu khawatir, dia rekanku sekarang. Dan lagi, katakan pada pelayan yang lain kalau mereka bertiga akan menjadi penghuni tetap di Makam Agung Nazarick!"
"Baik, Ainz-sama."
Keduanyapun lantas diam. Dari tepi tebing, mereka memperhatikan desa yang saat ini sudah dilengkapi dengan pertahanan dasar. Ini semua berkat Momonga yang memberikan peluit itu pada gadis bernama Enri. Dari kejauhan, mereka menyaksikan pada penduduk desa yang sedang latihan memanah dibantu oleh para Goblin.
"Lumayan juga ya..." Ucap Momon tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Untuk hal seperti itu?" Balas Nabe dengan nada yang meremehkan.
Momon terdiam. "Dari nilai, pencapaian mereka tidaklah , mereka yang ada disana pada sepuluh hari yang lalu benar-benar belum pernah menggunakan panah sama sekali. Mereka semua itu berusaha agar perasaan saat teman, anak dan orang tua mereka yang terbunuh tidak terulang kembali untuk yang kedua kalinya. Selain menghargai tekad mereka, lalu aku harus apa?"
"Mohon maafkan saya. Saya tidak berfikir sampai kesana."
Ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja ledakan hebat terjadi. Bumi bergetar. Lantas saja semua orang didesa panik. Bersamaan dengan itu, K-Pad milik Momon ikut berdering. Ada pesan masuk dari Zagi.
"Jika kau mendengar suara ledakan, abaikan saja. Kami hanya ingin bersenang-senang sebentar...hehe..." Isi dari pesan tersebut ditambah dengan beberapa Emoji.
Nabe langsung bersiaga. "Ainz-sama itu..."
"Itu ulah mereka. Biarkan sajalah." Cegah si Undead. "Hufft...mereka lebih liar dari yang kuduga." Gumamnya.
"B-baik..."
.
.
"M-Mustahil... Siapa kalian sebenarnya..."
[Critical Dead]
Belum lagi, sempat ia mendapat jawaban atas pertanyaannya, Genm telah terlebih dahulu mengantamkan tendangan supernya ke wajah prajurit itu. Alhasil ia pun terpental hebat dan mendarat naas ditanah. Kepalanya hancur dan dia pun tewas seketika dibuatnya.
Entah kenapa aku sedikit kesal. "Hei, kenapa tidak kita jawab dulu pertanyaannya?" protesku.
"Tak ada gunanya menjawab pertanyaan dari orang yang akan segera mati. Ayo kita jarah mereka master!" Balas Genm. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Terserah kau sajalah. Aku mau cari Diend dulu..." Ucapku sambil berjalan meninggalkan Genm yang sibuk menjarah harta para prajurit.
Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi tak sedikitpun rasa bersalah hinggap didalam hatiku saat menghabisi para ksatria kerajaan itu. Rasanya seolah-olah aku sudah menjadi Dark Riders sepenuhnya. Dan aku menikmatinya.
Belum lagi jauh aku berjalan, sebuah bola api tiba-tiba saja melayang kearahku dengan kecepatan tinggi. Aku pun tak dapat mengelak dan kena. Namun berkat item milikku, serangan itu tak sedikitpun berdampak padaku.
Jaga-jaga, aku mengambil langkah arah datangnya serangan ku lihat seorang wanita berdiri disana. Wanita dengan rambut Ungu gelap dan armor baja yang menutupi hampir sekujur tubuhnya. Dia terlihat takut, stress, panik. Kulitnya terlihat mengkilap akibat basah oleh keringat. Aku ingat dia. Dia adalah wanita yang sama yang berlagak seperti pemimpin para pasukan ini. Hanya saja dengan saat ini kondisinya memprihatinkan.
"M-Mo-Monster...MONSTER!" Jeritnya sambil menembakkan beberapa bola api lagi ke arahku. Aku pun memilih menghindar untuk mengurangi resiko. Namun kemudian tanpa kusadari, dengan kekuatan magisnya ia lemparkan sebongkah batu besar kearahku.
[PhotonBlade]
Cepat-cepat kumunculkan pedangku dan kutebaskan pada batu besar itu. Membelahnya menjadi dua. Tapi ternyata itu hanyalah umpan. Diluar dugaanku, ia melesat ke arahku sambil bersiap menghunuskan sebilah pedang ke tubuhku.
Sayangnya aku tak selemah itu. Dengan cepat aku bermanuver kearahnya, lalu ku hadiahkan sebuah pukulan telak diwajahnya. Dia jatuh. Matanya berdarah. Sepertinya tanpa sadar pukulan ku barusan menghancurkan bola matanya.
Aku jadi merasa iba, tapi biarlah. Aku ambil saja satu papan Quantum lalu kuposisikan didepan sabukku. "Bersiaplah menjemput ajalmu."
"Tidak! Tidak! kumohon jangan bunuh aku! Ampuni aku!" Ratapnya dibarengi oleh air mata yang bercampur darah. Ah, indah sekali...
Disaat-saat terakhir, tiba-tiba saja Genm datang menghentikanku. "Master tunggu!" Sahutnya. Aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan, tapi jika itu dia, pastilah ini penting.
Aku pun beranjak dari tubuh wanita itu."Ada apa?" dengan penuh rasa penasaran aku bertanya padanya.
"Izinkan aku yang menangani ini." Pinta Genm.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Aku ingin menjadikannya kelinci percobaanku. Akan kusimpan dia disini" Jelasnya sambil menunjukkan sebuah benda bernama hijau yang ia sebut Bugvisor Zwei.
Aku berpikir sejenak. Rasanya tak ada gunanya. Namun karna Genm sendiri yang minta, ya biarlah. "Well, she's yours..." Kataku.
Kuserahkan wanita itu pada Genm. Genm mengarahkan Bugvisor Zwei ke arah si wanita tadi. Tak lama kemudian, tubuh wanita itu berubah menjadi partikel data dan terhisap masuk ke dalam Bugvisor. "Selesai sudah."
Sasword, Ouja, dan Dark Kiva yang di summon oleh Diend menghilang. Menyisakan kami berdua disana. Kulihat burung pemakan bangkai sudah beterbangan di sekitar kami. Pastilah mereka senang karna akan makan kenyang. Namun sayangnya salah satu dari mereka harus rela berkorban demi yang lainnya. Karna bahan terakhir yang dibutuhkan oleh Nfirea adalah Bulu burung pemakan bangkai. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
