Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC-ness, Mistypo

MY LOVER, MY SERVANT

Chapter 4

"Kau masih belum tidur, Sakura-chan?"

Sakura buru-buru menutup kembali buku yang dibacanya dan menyelipkannya di bawah bantal tidurnya saat Temari menegur gadis berambut pinkish itu, "Eh? Maaf, sepertinya kalian tidak bisa tidur kalau lampunya dinyalakan, ya? Maaf. Sekarang kalian bisa mematikan lampunya, kok." Sakura turun dari atas tempat tidurnya dan mematikan tombol lampu yang terletak di seberang pintu masuk.

Sebenarnya Sakura penasaran dengan novel yang dikarangnya ayahnya. Benarkah novel itu buatan ayahnya? Kenapa Naruto bisa memilikinya? Padahal Sakura tahu bahwa Jiraiya berhenti menjadi novelis karena novel karangannya tidak pernah laku di pasaran. Tanpa sadar, saat berpikir demikian, Sakura terus membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur.

Ino yang kesal melihat Sakura tidak bisa diam di atas tempat tidurnya, berbisik pelan ke arah Sakura, "Sakura. Kenapa kau tidak bisa diam begitu, sih? Aku tidak bisa tidur, nih, gara-gara melihat kau terus membolak-balikkan badan seperti itu…"

Sakura menoleh ke arah Ino sambil menarik gulingnya, "Aduh. Maaf. Aku sedang tidak bisa tidur, nih."

"Jangan bilang kau tidak bisa tidur karena keterusan memikirkan Tuan Muda," kata Ino.

"Tunggu!" Sakura berseru pada Ino sambil berbisik pelan, membantah perkataan gadis blonde itu, "Kenapa aku harus memikirkan Tuan Muda! Jangan salah sangka, dong!"

"Tapi siang tadi kalian tampak dekat sekali," Ino terkekeh pelan, wajahnya tersenyum jahil.

"Bu-"

"Eh? Eh? Apa? Apa? Sakura-chan benar-benar berpacaran dengan Tuan Muda?" tiba-tiba saja Ten Ten dan Temari menimbrung percakapan mereka sambil menyembul dari tempat tidur mereka, mengagetkan Ino dan Sakura di saat yang bersamaan. Tampaknya mereka juga hobi bergosip sama halnya dengan Ino.

"Asyik, nih. Waktunya bergosip," Ten Ten menggosok kedua telapak tangannya secara bersamaan.

"Aku tidak berpacaran dengan Tuan Muda!" bantah Sakura. Wajahnya memerah, "Kenapa sih kalian berpikir kalau aku dan Tuan Muda berhubungan dekat? Padahal kami baru saja bertemu tidak sampai seminggu!"

"Tapi kurasa Tuan Muda memang menyukaimu, Sakura-chan," balas Temari, "Kalau ia tidak menyukaimu, kenapa ia mengundangmu untuk menemaninya saat makan malam tadi? Bahkan saat makan malam berlangsung kulihat kau dan Tuan Muda terus berbicara. Padahal Tuan Muda tidak suka diajak bicara kalau sedang makan malam."

"Sakura-chan akan menjadi Nona di rumah ini kalau menikah dengan Tuan Muda suatu hari nanti," timbrung Ten Ten.

"I-itu tidaklah benar!" Sakura kembali membantah. Kini wajahnya benar-benar memerah, malu sekaligus merasa sedikit kesal karena teman-temannya terus menggodanya soal Naruto, "Aku ini kan pelayan pribadi Tuan Muda, jadi kurasa tidaklah aneh kalau aku sampai dekat dengannya…"

"Benarkah begitu?" Ino masih berniat menjahili Sakura, "Kalau begitu bagaimana dengan kejadian di perpustakaan? Bagaimana ceritanya Tuan Muda melindungimu dari buku yang berjatuhan sampai terluka?"

Sakura mendelik marah ke arah Ino, "Ino!" sementara Ino sendiri hanya menjulurkan lidahnya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Eh? Melindungi Sakura? Astaga! Romantis sekali~! Seperti film drama-drama saja, di mana sang pangeran menolong sang putri!" Ten Ten menepuk kedua tangannya. Wajahnya tampak berbinar-binar saat mendengar ucapan Ino barusan, "Ceritakan! Ceritakan!"

Temari menggelengkan kepalanya melihat reaksi Ten Ten, "Ten Ten, kau terlalu berlebihan."

"Tapi aku ingin tahu~!"

"Oh, halo teman-teman! Ingat, aku ini hanya seorang pelayan. Mana mungkin seorang pelayan bisa menikah dengan tuannya? Lalu aku ini hanya bermaksud melayaninya, bukannya menarik perhatiannya. Jangan bergosip seolah-olah aku ini berniat menarik perhatian Tuan Muda," ujar Sakura akhirnya, berusaha meluruskan gosip soal dirinya dengan Naruto, "Kemudian, Tuan Muda sendiri…" mulutnya kembali menganga saat ia mengingat keadaan tadi siang saat ia berada di kamar Naruto, di mana Naruto dikiranya hampir saja menciumnya, "…dia…"

"Dia kenapa?" Ino mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa kau diam saja?"

Wajah Sakura memerah, "P-pokoknya bukan apa-apa! Tidak ada apa-apa di antara kami, kok! Sungguh!"

Ten Ten memasang wajah kecewa, "Sayang sekali…"

"Kenapa kau harus kecewa begitu?" Temari bingung melihat Ten Ten memasang wajah kecewa.

Ino mendengus, berusaha menahan tawanya, "Ya sudahlah kalau kau bilang begitu Sakura," ujarnya, "Aku yakin pasti ada apa-apa di antara kalian. Oh ya, Temari, Ten Ten, apa kalian tahu kapan Nona Hinata akan datang ke mari?"

Temari duduk menepi ke tempat tidurnya, "Katanya dalam tiga hari lagi dia akan datang ke sini."

"Kenapa kau menanyakannya?" celetuk Ten Ten.

"Siapa itu Nona Hinata?" sela Sakura tiba-tiba.

Ino terkekeh pelan, "Kau itu anak baru, sih, ya. Nona Hinata itu teman Tuan Muda sejak kecil," ujarnya menjelaskan, "Dua tahun lalu, ia ditunangkan dengan Tuan Muda. Dan katanya, sebelum Tuan Muda lulus mereka akan dinikahkan."

Wajah Sakura mendadak berubah jadi ekspresi muram, "O-oh. Begitu, ya." Ia menundukkan kepalanya.

"Ya," meski Ino tidak dapat melihat ekspresi di wajah Sakura karena ia menundukkan kepalanya, tetapi sepertinya Ino tahu dengan apa yang Sakura pikirkan. Pandangan matanya beralih pada jam weker yang diletakkannya di sisi tepi tempat tidur, "Hei. Sudah malam. Baiklah, selamat malam."

Ten Ten dan Temari membalas ucapan selamat malam Ino dan kembali tidur. Sementara Sakura, ia jadi kepikiran soal perkataan Ino mengenai Hinata, tunangan Naruto. Sakura jadi merasa penasaran sekali, kira-kira seperti apa wajah Hinata. Wajahnya merengut, sebelah tangannya memegangi dadanya. Entah kenapa perasaannya jadi sedikit berdenyut. Malam itu Sakura benar-benar tidak bisa tidur.


Keesokan harinya, Sakura tengah membaca buku novel yang dipinjamnya dari Naruto di dapur. Entah kenapa, ia jadi malas membaca novel buatan ayahnya tersebut. Ia tidak tertarik dengan novel khusus pria di atas 17 tahun. Apalagi pikirannya terus melayang-layang soal tunangan Naruto. Ia penasaran dengan wajah Nona Hinata. Apakah dia cantik? Tunggu, tegur sakura pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus memikirkan soal itu? Toh tak ada hubungannya Naruto bertunangan dengan siapa!

Sakura buru-buru berdiri dari atas kursinya. Saat ia menengadahkan kepalanya, ia mendapati Shion, Tayuya dan Haku berdiri di hadapannya; masing-masing berkecak pinggang dan melipat kedua tangan mereka.

"Hei, anak baru! Berhentilah membaca dan cepatlah bersihkan ruangan tamu!" seru Shion galak.

Sakura hanya tersenyum sinis, "…aku harus menemui Tuan Muda. Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."

"Kamu berani ngelunjak rupanya! Udah tugas pelayan baru di sini menggantikan tugas pelayan yang lebih senior, jadi sekarang cepat kamu bersihkan ruangan tamu! Tuan Muda Sasuke akan datang ke sini siang nanti. Memalukan kalau sampai ruang tamu belum dibersihkan," ujar Tayuya sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.

"Kenapa tidak kalian saja yang membersihkannya? Kenapa malah menyuruh orang lain?" Sakura memasang tampang polos.

Haku dan kedua temannya berdecak kesal, "Berani sekali kamu berkata begitu di depan kami! Jadi kamu berniat membuat kami marah, ya?" geram Haku.

"Aku tidak berniat membuat kalian marah," gumam Sakura santai, "Kalian duluan yang mulai. Sudahlah, aku mau pergi dulu," Sakura melangkah keluar dari dapur sambil memasukkan buku novel yang dipinjamnya ke dalam saku apronnya. Tetapi tiba-tiba Haku menyeret apronnya dengan kasar dan mengambil novel tersebut. Mata Sakura terbelalak panik, "Oh, hei! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!"

"Untuk apa kami mengembalikannya padamu?" ejek Haku sambil menyeringai, "Tangkap ini Tayuya!" ia langsung melempar novel itu ke arah Tayuya.

Tayuya dengan tangkas menangkapnya, "Aku mendapatkannya!"

Sakura berlari menuju Tayuya sambil menjulurkan tangannya ke arah novelnya, "KEMBALIKAN! Jangan sampai kalian merusaknya!" saat ia nyaris mendapatkan novelnya, Tayuya melemparkannya ke arah Shion.

"Huu, terlambat!" ejek Shion. Ia mengacung-acungkan novel itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, "Jangan berharap kami akan mengembalikannya sampai kau minta maaf dan mematuhi kami untuk membersihkan ruangan tamu~!"

Sakura menggeram frustasi sambil menarik rambutnya sendiri, "Uh! Baiklah! Baiklah! Aku minta maaf!" seru Sakura. Kedua tangannya kini terkepal, "Sekarang bisa kalian kembalikan novel itu? Aku janji aku akan membersihkan ruang tamu."

Ketiga cewek itu tersenyum puas, "Hehe, bagus kalau begitu," kata Haku. Shion mengoper novel yang dipinjam Sakura kepadanya. Gadis berambut biru tua itu tersenyum sinis ke pada Sakura sambil meletakkan novel pinjaman dari Naruto ke bawah sepatunya yang berhak tinggi, "Tetapi sayang sekali, Sakura-chan. Kau terlalu terlambat untuk minta maaf. Katakan selamat tinggal ke pada novel kesayanganmu ini."

Sakura membelalakkan matanya. Ia berlari menerjang Haku, tetapi Tayuya dan Shion memegangi lengannya, "Tidak! Hentikan! Jangan rusak buku itu!"

Terlambat. Haku sudah menginjak-injak buku novel tersebut di depan mata kepala Sakura. Ia menginjak-injaknya tanpa ampun. Akhirnya, dalam beberapa detik saja, buku itu nyaris hancur menjadi serpihan-serpihan kertas. Mulut Sakura menganga lebar. Raut wajahnya langsung berubah panik, "Astaga… apa yang kau lakukan…" ia melotot marah pada Haku, "APA YANG KAU LAKUKAN, IDIOT?" hatinya terasa hancur berkeping-keping. Ia meminjam buku itu dari Naruto yang dengan senang hati meminjamkannya novelnya. Tetapi kini Sakura benar-benar kelabakan mendapati novel yang dipinjamnya dari Naruto hancur berantakan.

"Kau yang idiot. Itu kan kesalahanmu sendiri, Sakura-chan sayang. Kau sendiri yang sudah bersalah membuat kami marah," kata Haku sambil mengamati kuku-kuku jarinya. Kedua temannya tertawa mendengar ucapannya, "Sekarang kau rasakan akibatnya kalau kau melawan kami." Ia pun ikut tertawa bersama teman-temannya. Lalu ia menoleh ke arah kedua temannya dan mereka bertiga berjalan pergi.

Sakura tertawa getir, "Lucu sekali. Kalian itu benar-benar menyebalkan. Dan kalian tahu? Kalian benar-benar membuatku marah!"

Haku, Tayuya dan Shion menoleh ke arah Sakura, "Hah? Kau bilang apa barusan?" Haku menaikkan sebelah alisnya.

Sakura benar-benar tak bisa membendung rasa marahnya. Ia langsung berlari menerjang Haku. Haku sendiri, wajahnya langsung berubah panik saat Sakura tiba-tiba saja menerjang ke arahnya. Keduanya langsung jatuh bergulingan di dalam dapur. Shion dan Tayuya berteriak panik, mereka berusaha menolong Haku, melepaskan Sakura darinya. Tetapi keduanya sudah terlibat adu jambak rambut dan saling cakar-cakaran. Beberapa orang pelayan yang kebetulan lewat berusaha melerai keduanya, tetapi di antaranya bersorak-sorak mendukung salah satu pihak.

"Kau menyebalkan! Kau seenaknya saja merusak buku milik orang lain!" geram Sakura. Tangannya menjambak rambut Haku, "Kau jahat! Kau jahat! Kenapa kau merusak bukunya? Itu bukan buku milikku tahu!" wajahnya kini banjir oleh tetesan air mata. Ia mencakar pipi Haku hingga menyebabka sebuah tanda bekas kuku di wajahnya.

"Ugh! Untuk apa aku minta maaf! Yang salah kan itu kau!" Haku balas menjambak rambut Sakura dan mencengkram tangan Sakura keras-keras, sampai-sampai darah segar mengalir dari lengan gadis berambut pinkish itu.

Ino datang ke tempat itu bersama Kiba dan Ten Ten. Mereka berubah panik saat melihat apa yang terjadi. Langsung saja Kiba menarik lengan Sakura, berusaha melerai mereka. Sementara pelayan laki-laki lainnya menarik lengan Haku. Penampilan mereka tampak acak-acakan.

"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kalian berkelahi seperti itu?" marah Ino. Kedua tangannya terlipat di sekitar perutnya.

"Tanya tuh sama temanmu yang bodoh! Tiba-tiba saja dia menyerangku seperti itu!" sahut Haku sebal.

"Ya, gadis pelayan baru itu yang memulai duluan! Tahu-tahu saja dia menyerang Haku! Padahal tadi kami hanya memintanya membersihkan ruang tamu!" timbrung Shion dan Tayuya, membela Haku.

"Tidak, itu tidak benar!" sela Sakura. Air matanya benar-benar menganak sungai kali ini dan wajahnya memerah karena marah sekaligus karena menangis, "Saat aku bermaksud menemui Tuan Muda, tiba-tiba saja mereka memaksaku membersihkan ruang tamu! Padahal aku yakin kalau mereka hanya bermaksud menyuruhku sementara mereka sendiri bersanta-santai" gadis berambut pinkish itu mengambil novel yang sudah hancur sehabis diinjak Haku.

Semua mata kini tertuju pada Haku, Tayuya dan Shion. Tampaknya kini kesabaran mereka atas sikap ketiga gadis itu benar-benar sudah habis. Tetapi Haku dan kedua temannya tetap ngotot kalau mereka tidak bersalah, "Tidak! Itu tidak benar! Kami memang benar-benar ingin agar ia membantu kami!"

Tiba-tiba muncullah Naruto. Para pelayan yang berada di sana langsung membuka jalan mereka saat si Tuan Muda Uzumaki ini datang, "Apa-apaan ini? Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Mengganggu jalan saja…"

"Tu-Tuan Muda. Anu, sebenarnya…" ucapan Ino terpotong oleh ucapan Tayuya.

"Itu tuh Tuan Muda! Pelayan baru ini seenaknya saja menolak permintaan kami untuk membantu kami membersihkan ruangan tamu! Bahkan dia membawa-bawa nama Anda dengan alasan harus melayani Anda. Itu kan sama saja dengan dia menyalahkan Anda, Tuan Muda," ujar Tayuya, menuduh Sakura.

"I-itu tidak benar! Aku tidak berkata seperti itu!" bantah Sakura.

"Akui saja. Seharusnya kau mengakui perbuatanmu di depan semua orang," timbrung Shion.

"Tapi aku memang tidak melakukannya!"

Naruto mengarahkan pandangan matanya ke arah buku novel yang dipegang oleh Sakura. Raut wajahnya berubah marah, "Sakura-chan. Kenapa buku novel itu bisa hancur begitu? Bisakah kau menjelaskannya? Apa kau yang merusaknya?"

Mata Sakura terbelalak mendengar pertanyaan Naruto. Ia menjadi bimbang ingin mengatakan apa. Di dalam hatinya, ia ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya agar orang-orang tidak salah menuduhnya, tetapi di lainpihak, ia merasa tak enak mengatakan kebenaran. Ia takut kalau Naruto sampai berbuat apa-apa pada ketiga gadis itu, "I-itu… Saya…"

"Iya Tuan Muda! Dialah yang merusaknya!" kata Haku. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Sakura, "Saat kami meminta bantuannya untuk membersihkan ruangan tamu, kami melihatnya sedang merusak buku novel itu!" ujarnya berdusta. Kini Naruto menatap Sakura dengan mata terbelalak tak percaya.

"I-itu tidak benar!" bantah Sakura. Matanya kini berkaca-kaca, "S-saya tidak melakukannya!"

"Jangan bohong Sakura. Kami melihatmu melakukannya dengan mata kepala kami sendiri," sela Shion. Wajahnya tersenyum sinis.

"Tidak! Aku berani bersumpah bahwa aku tak melakukannya!" kini air mata kembali membasahi wajahnya. Kedua matanya yang berwarna hijau emerald beradu pandang dengan kedua mata Naruto yang berwarna biru safir, "Aku tidak melakukannya, sungguh! Kumohon, percayalah padaku!"

Kini seisi dapur benar-benar hening. Tak ada seorang pun yang berani bersuara. Tetapi kemudian keheningan terpecah oleh suara langkah sepatu Naruto yang bergema di seisi dapur. Lelaki remaja itu berjalan menuju Sakura. Wajahnya terlihat penuh kemarahan. Semuanya tampak penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Naruto pada Sakura. Sedetik kemudian wajah mereka berubah kaget saat Naruto mengayunkan tangannya ke arah Sakura, kecuali Haku, Shion dan Tayuya yang memasang senyum penuh kemenangan.

"Tuan Muda! Hentikan! Jangan tampar Sakura!" seru Ino.

Sakura hanya bisa menutup kedua matanya sambil menggenggam buku novel milik Naruto erat-erat dalam pelukannya. Tetapi beberapa detik ia tunggu, tak ada rasa sakit yang dirasakannya. Malah ia merasakan sebuah tangan memegang bahunya dan mendekapnya.

"Aku percaya kalau Sakura-chan tidak bersalah."

"Eh?"

Sakura mendongakkan kepalanya dan melihat Naruto mendekapnya agar mendekat padanya. Wajah Sakura mulai terasa panas.

Langsung saja raut wajah Haku, Shion dan Tayuya berubah, "T-tunggu Tuan Muda! Anda tidak tahu yang sebenarnya! Dia-"

"DIAM!" bentak Naruto. Raut wajahnya berubah garang, "Kalian bertiga, tidak ada gunanya menyembunyikan kesalahan kalian sendiri di balik orang lain! Aku yakin, pasti kalianlah yang merusak buku novel milikku ini! Bukankah begitu?"

"B-buku novel Tuan Muda?" kata Shion tergagap-gagap. Pelayan lainnya saling berpandangan heran, "Ke-kenapa buku novel Anda bisa ada pada pelayan itu?"

"Aku yang meminjamkannya pada Sakura-chan," sahut Naruto. Kini wajah para pelayan lainnya berubah terkejut. Mereka saling berbisik satu sama lain, "Karena kesalahan kalian sudah merusak bukuku dan sudah membuat masalah dengan pelayan lainnya, kalian akan kupecat! Sekarang cepat angkat kaki dari rumahku! Kalian sudah tidak diterima lagi di sini! Aku muak melihat sampah-sampah seperti kalian!" bentak pria berambut blonde itu sambil menyentakkan kakinya.

Shion, Tayuya dan Haku memasang wajah terkejut. Mereka langsung bersujud di kaki Naruto, "Tidak! Jangan pecat kami Tuan Muda! Kami mengakui kesalahan kami, tapi jangan pecat kami! Ini perkerjaan kami satu-satunya!" wajah ketiganya kini dibanjiri oleh air mata.

"Aku tidak mau mendengarkan," gumam Naruto sambil berlalu pergi.

Sakura menghadangnya, "Tunggu Tuan Muda! Jangan bersikap kekanakkan seperti itu! Jangan sembarangan memutuskan! Mereka tidak bermaksud buruk! Mereka tidak sengaja merusakkan buku milik Anda! Kumohon, Tuan Muda, jangan pecat mereka!"

Naruto menoleh ke arahnya dengan wajah heran, "Tapi, bukannya mereka sudah mengerjaimu? Apakah kau tidak senang kalau aku memecat mereka?"

"Tentu saja saya merasa tidak senang! Saya rasa itu bukanlah hukuman yang setimpal untuk mereka! Pokoknya saya minta Anda jangan sampai memecat mereka," ujar Sakura. Naruto tampak memutar bola matanya, berpikir sejenak.

"Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan," katanya pada akhirnya. Lalu ia berpaling pada ketiga cewek pelayan itu, "Kalian kumaafkan kali ini. Tapi kuharap kalian tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, jika tidak, kalian akan langsung kuusir dari rumah ini!" ia pun berlalu pergi.

Tayuya, Shion dan Haku hanya bisa menangis sambil menganggukkan kepala mereka berulang kali. Sedangkan para pelayan lainnya hanya bisa bernafas lega, sementara Sakura hanya bisa menatap kepergian Naruto sambil terbengong-bengong sedikit. Tiba-tiba saja wajahnya terasa sangat panas.


"Gila! Kau keren sekali saat meminta Tuan Muda agar tidak memecat ketiga cewek menyebalkan itu! Bahkan tanpa pikir panjang Tuan Muda langsung mengiyakan permintaanmu! Sepertinya kau ini memang pelayan kesayangannya… Dan tak kusangka dia bisa mempercayaimu begitu saja saat kau dituduh oleh cewek-cewek jahat itu!" ujar Ten Ten sambil menepuk telapak tangannya dengan gembira. Kepolan di rambutnya bergoyang saat ia berbicara dengan Sakura, "Apakah ini karena kekuatan cinta?" katanya bergaya sok puitis.

"Tidak, pasti bukan karena itu," sela Sakura menghela nafas, "Aku tidak tahu alasannya, tapi aku yakin alasan ia mempercayaiku pasti bukan karena cinta. Mungkin ia memiliki insting untuk percaya padaku. Siapa tahu?"

Temari datang menghampiri mereka sambil membawa piring-piring yang habis ia cuci, "Tapi kenapa ia bisa sampai meminjamkan buku novel kesayangannya padamu? Padahal yang aku tahu, Tuan Muda tidak pernah mengijinkan salah seorang dari kami, pelayan di sini, untuk meminjam atau pun menyentuh sedikit saja buku-buku di perpustakaannya."

"Soal itu…" wajah Sakura mendadak berubah merah. Tetapi kemudian ia berubah panik, "Oh, iya! Aku harus menyiapkan camilan untuk Tuan Muda!" ia menoleh ke arah Temari, "Temari, di mana kau letakkan jatah camilan untuk Tuan Muda siang ini?"

Temari menunjuk ke arah dapur, "Ih. Tidak perlu terburu-buru seperti itu, kali… atau kau memang berniat menghindar dari pertanyaanku?"

"Yah… Padahal aku ingin mendengar lebih banyak mengenai hubungan kalian berdua…"

"Ti-tidak! Itu tidak benar, kok! Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami! Sungguh!" kata Sakura memotong ucapan Ten Ten, "Baiklah, aku pergi dulu, ya! Dah~!" ia menghilang di lorong.

TOK… TOK…

"Masuk."

Pelayan berambut pinkish itu menarik daun pintu dengan sebelah tangannya yang tidak memegang baki dan kemudian ia mendorong pintu dengan bahunya, "Tuan Muda, ini saya bawakan camilan untuk Anda," kata Sakura memberitahukan. Di dalam kamar Naruto ia melihat pemuda itu sedang ada bersama Ino dan dua orang pelayan lainnya.

"Ino dan kalian berdua, kalian keluarlah sampai aku mengijinkan kalian masuk," perintah Naruto.

Ino dan kedua pelayan lainnya membungkukkan badan mereka dan berjalan menuju pintu. Saat Ino berjalan melewati Sakura, gadis itu menepuk bahu Sakura dengan lembut sambil tersenyum jahil, "Baik-baik ya kalian berdua!"

"Ino!" desis Sakura. Tetapi temannya itu sudah menghilang di balik pintu.

"Nah," suara Naruto merebut perhatian Sakura, "Sekarang, cuma ada kita berdua. Bisakah kau jelaskan mengapa bisa terjadi kejadian tadi secara kronologis?" tanyanya pada gadis berambut pinkish itu.

Dahi Sakura agak berkerut, tetapi kemudian ia menjelaska apa yang terjadi padanya dengan ketiga gadis pembawa masalah itu. Di akhir ceritanya, ia menambahkan, "Dan saya merasa lega sekali Tuan Muda tidak jadi memecat mereka."

Naruto hanya mangut-mangut mendengar perkataannya. Pemuda kaya ini merasa sangat tertarik pada Sakura. Tertarik dengan sikap Sakura yang begitu rendah hati dan baik hati, bahkan meski ia harus menghadapi orang yang buruk sikapnya sekalipun. Selain itu, di matanya Sakura juga tampak cantik dan begitu menawan. Tanpa sadar Naruto memerah wajahnya.

"Ah, ya, Tuan Muda," kata Sakura pada Naruto, "Sepertinya saya harus mengembalikan novel ini pada Anda. Terima kasih sudah meminjamkannya pada saya dan saya benar-benar minta maaf tak dapat menjaganya. Ini semua kesalahan saya sampai merusak novel kepunyaan Anda."

Naruto meraih novel di tangan Sakura, "Kau sudah membaca semuanya?"

"Tidak semuanya, sih, tapi saya rasa saya harus segera mengembalikannya pada Anda."

Naruto hanya tersenyum, "Kau ini memang menarik, ya, Sakura-chan."

Blush! Wajah Sakura mendadak berubah warna menjadi tomat, "Saya tidak menarik," bantah Sakura cepat, "Kalau bisa, perbolehkan saya untuk permisi Tuan Muda. Saya khawatir kalau nanti pelayan lainnya akan berpikir hal-hal yang tidak-tidak mengenai saya dengan Anda karena saya terus menerus bersama Anda."

"Pelayan pribadi memang sudah sewajarnya bersama tuannya. Jadi lebih baik tak usah kau pedulikan gosip mengenai kita," kata Naruto enteng, "Lagipula, apakah kau merasa tak nyaman denganku? Padahal, aku," Naruto berdeham dengan pipi yang bersemu merah, "Aku merasa nyaman kalau bersamamu."

Deg! Jantung Sakura mulai berdetak lebih kencang dari biasanya, "Ta-tapi, tapi, kita tak seharusnya berada di sini berdua Tuan Muda. Sebagai seorang pelayan saya tak pantas dipuji seperti itu oleh Anda. Apalagi, saya dengar… Tuan Muda mempunyai tunangan," suara Sakura mulai bergetar. Ia merasakan dadanya nyeri untuk sesaat, "Bagaimana kalau tunangan Anda sampai marah kalau mengetahui Anda berduaan dengan seorang pelayan?"

Suasana di dalam kamar mendadak hening. Tetapi kemudian kembali terdengar suara Naruto berbicara, "Aku tak peduli," ujarnya. Perkataan yang terlontar dari mulut Naruto sontak membuat Sakura membelalakkan matanya. Pria blonde itu berdiri menghadap jendela kamarnya yang terbuka lebar, "Aku tak peduli dengan apa yang dipikirkannya, karena aku tak pernah mencintainya. Orang tuakulah yang memaksaku untuk menikah dengannya."

Sakura menggigit bibirnya, "S-saya…"

"Saat aku pertama kali melihatmu, kupikir kau akan segera mengundurkan diri seperti pelayan lainnya. Tetapi ternyata malah kau yang membuatku menyerah untuk mengerjaimu," ujar Naruto. Ia menoleh ke arah Sakura, "Saat kau membentak pada waktu kita pertama kali bertemu, aku cukup kaget juga. Baru pertama kali ini ada pelayan yang bersikap seperti itu padaku. Dan saat pertama kali kau… ehm, mempergokiku sedang…"

"Narsis di depan cermin?" kata Sakura menambahkan.

"Ya, itu—hei!" bentak Naruto. Wajahnya langsung merah padam karena malu, "Yah, pokoknya sejak saat itulah, aku merasa aku mulai menyukaimu," ia menggaruk pipinya, "Soalnya, di mataku, kau tampak begitu berbeda dibanding gadis-gadis yang pernah kutemui…" ia berjalan ke arah Sakura dan menggenggam tangan Sakura, "Kalau menurutmu, bagaimana aku di matamu?"

Sakura memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tidak kelihatan oleh Naruto, "S-saya… Seharusnya Anda tidak usah berkata seperti itu Tuan Muda. Anda pasti sedang bermain-main dengan saya… saya mohon, berhentilah mengerjai saya…"

"Aku serius, Sakura-chan!" seru Naruto.

Ia menarik pergelangan tangan Sakura dengan sebuah tarikan halus dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura. Kini wajah keduanya saling berhadapan, dan masing-masing wajah dari keduanya sama-sama memerah. Sakura tampak memalingkan pandangannya ke arah lain sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Naruto. Tetapi pria blonde itu tidak ingin melepaskan pegangannya, ia malah menguatkan genggamannya, "Lihatlah aku, Sakura-chan. Aku benar-benar menyukaimu."

"Ini tidak boleh Tuan Muda. Saya sendiri tidak tahu bagaimana perasaan saya yang sebenarnya ke pada Anda," bisik Sakura. Ia bisa merasakan debaran jantungnya bertambah kencang setiap detiknya, seiring detakan jam di kamar Naruto.

Lalu tiba-tiba telapak tangan Naruto menyentuh dagu Sakura, menyuruhnya agar mau melihat ke arahnya. Kini sepasang mata berwarna biru safir bertemu dengan warna hijau emerald milik Sakura. Naruto mendekatkan perlahan wajahnya ke wajah Sakura, meletakkan bibirnya ke atas bibir Sakura yang berwarna merah alami. Keduanya berciuman. Sakura menahan nafasnya sambil berusaha melepaskan dirinya dari Naruto, tetapi Naruto malah mendekapnya erat-erat.

"HENTIKAN!"

DUAKKKKKH!

Sebuah tendangan melayang tepat di bagian bawah perut Naruto. Pria berambut blonde itu membelalakkan matanya, raut wajahnya terlihat kesakitan. Ia melepaskan pegangannya dari Sakura. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, gadis pinkish itu berlari keluar dari kamar Naruto.

"Hei! Tunggu!" seru Naruto.

Tetapi Sakura sudah berada di luar kamarnya.


Sakura berlari sampai menuju kamar mandi khusus pelayan. Nafasnya tersengal-sengal, begitu pula dengan degupan jantungnya yang terus menerus berdetak tak beraturan. Ia mematut dirinya di depan cermin. Wajahnya masih memerah dan tampangnya kelihatan acak-acakan. Rambutnya yang berwarna pinkish berantakan. Sakura memutar keran dan membasuh wajahnya dengan air keran, kemudian ia mencuci mulutnya.

Pikirannya terus melayang saat Naruto menciumnya. Ia tidak menyangka Naruto benar-benar akan menciumnya. Bahkan tadi sepertinya Naruto nyaris memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mengulum lidahnya! Tetapi anehnya Sakura tidak merasa jijik, ia malah terasa menikmatinya. Sentuhan lembut bibir Naruto masih terasa di bibirnya. Sakura menyentuh bibirnya untuk sesaat.

"…Aku benar-benar menyukaimu…" kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya.

'Tidak, tidak! Ia pasti hanya bercanda saja,' batin Sakura pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya keras-keras, 'Dan kau tidak boleh sampai menyukainya, Sakura. Dia sudah mempunyai tunangan, apalagi kau ini hanya pelayannya! Kau seharusnya melupakan kejadian tadi!'

Saat Sakura mendongakkan kepalanya, ia melihat bayangan Ino terpantul di cermin. Sakura menoleh ke belakangnya, "Sakura-chan! Astaga! Kenapa kau tampak acak-acakan begitu? Dan kenapa tadi kau tampak terburu-buru saat keluar dari kamar Tuan Muda? Ada apa? Apa kau baru saja dimarahi olehnya?"

"Aku tidak apa-apa," kata Sakura, "Kau mengejarku sampai sini?"

"Sebenarnya aku disuruh oleh Tuan Muda untuk memeriksa keadaanmu," jawab Ino sambil tersenyum kecil, "Ia mengkhawatirkanmu."

Jantung Sakura kembali berdetak, 'Oh, jangan lagi…'

Tiba-tiba saja, keesokan harinya, Sakura malas untuk pergi bekerja. Saat Ten Ten, Ino dan Temari menyuruhnya untuk bangun, Sakura sengaja menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Ayolah, Sakura-chan! Nanti kita bisa terlambat kalau kau terus tidur!" omel Ino.

"…aku tidak enak badan, nih…"

"Soalnya kau belum mandi dan juga kau belum sarapan. Ayo, cepatlah bangun, mandi, ganti baju dengan seragam kerjamu, dan makan sarapanmu," kata Temari sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sakura. Sakura tetap tak bereaksi.

"…nanti saja…"

"Huh. Padahal kau ini baru bekerja di sini seminggu, tetapi malah santai-santai begini. Mentang-mentang pelayan kesayangan Tuan Muda… Tapi memang benar, siapa tahu, ia malah dimaafkan oleh Tuan Muda. Wajar saja," celoteh Ten Ten sambil mengeraskan suaranya, menyindir Sakura.

Sakura langsung bereaksi pada ucapan temannya yang satu ini, "Ugh! Iya, iya! Aku bangun!" kata Sakura akhirnya. Ia berjalan keluar dari kamarnya sambil membawa sepotong handuk.

"Wah, kau berhasil membuatnya bangun, Ten Ten," ujar Temari kagum.

"Siapa dulu… hehe," Ten Ten nyengir ala kuda.

"Tapi kenapa, sih, Sakura tiba-tiba saja mendadak malas bekerja? Padahal kemarin-kemarin ia tampak bersemangat bekerja. Bahkan meski berantem dengan Haku dan teman-temannya. Aneh sekali…" gumam Ino penasaran.

Sakura meringis saat Ino memberikannya setumpuk seprai dan selimut yang baru dicuci padanya, "Nah, ingat Sakura-chan! Pokoknya kau jangan menunjukkan wajah muram begitu di hadapan Tuan Muda meskipun kau ini adalah pelayan kesayangan Tuan Muda. Tapi jangan sampai seperti itu, dong! Semangat!"

'Semangat apanya kalau aku terus terbayang-bayang soal kemarin,' gumam Sakura, "Iya, iya. Aku tahu."

Sakura berjalan pergi. Ia berjalan menuju kamar Naruto melewati sebuah koridor utama. Tiba-tiba saja ia berpapasan dengan ketiga cewek itu, Haku, Shion dan Tayuya. Saat mereka berempat berpapasan, Sakura maupun ketiga cewek itu sama-sama tersentak kaget. Kemudian Haku berjalan menghampiri Sakura sambil melipat tangannya di sekitar perutnya.

"Hei, kau," katanya pada Sakura. Suaranya terdengar seperti orang marah.

Aduh, apalagi ini? Dahi Sakura berkerut samar, "…kalian mau apalagi? Aku sudahtidak ingin kembali berurusan dengan kalian."

"Sombong sekali kau bicara begitu!" bentak Tayuya.

Shion berusaha menenangkannya, "Sudahlah, Tayuya! Jangan lupa apa tujuan kita bertemu dengannya!" lalu ia menoleh pada Haku, "Haku, cepatlah kau lakukan sekarang!"

Wajah Sakura menampakkan ekspresi bingung, "Apa? K-kalian mau apalagi?"

"Membalas perbuatanmu yang kemarin!" sahut Shion.

Mulut Sakura ternganga lebar, tetapi tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, 'Aduh, apakah mereka masih belum kapok juga setelah kejadian kemarin? Apa yang akan mereka lakukan padaku hari ini?' Sakura mulai memikirkan hal yang terburuk dalam otaknya. Tiba-tiba saja, saat ia masih sibuk berpikir, Haku menggiringnya ke ujung lorong dengan kasar.

"Hei, apa-apaan ini? Kenapa, sih kalian tiba-tiba saja bersikap begini padaku? Aku kan tidak melakukan apa-apa! Lepaskan!" seru Sakura, ia berontak sambil berusaha melepaskan dirinya.

"Uh! Diamlah!" seru Haku.

Ia menoleh ke arah kedua temannya. Kemudian mereka saling mengangguk setelah berpandangan satu sama lain selama beberapa detik. Kebingungan Sakura semakin memuncak saat mereka bertiga tiba-tiba saja membungkukkan badan mereka sambil berbisik pelan, "Kami minta maaf atas sikap kemarin!"

Mulut Sakura menganga lebar. Sepertinya ia salah dengar tadi. Iya, kan? "Ka-kalian… Barusan bilang apa?" tanyanya bingung.

Tayuya mengangkat kepalanya. Wajahnya memerah, "H-huh! Masa perlu kami ulangi? Kami bilang, kami… m-minta maaf! K-kemarin kami sudah bersikap keterlaluan sekali."

Sakura terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia tersenyum, "Oh. Tidak apa, kok. Aku sudah memaafkan kalian," katanya. Lalu ia menoleh ke arah Haku sambil menggaruk pipinya, "Aku juga minta maaf padamu, Haku. Kemarin, aku sudah menjambak rambutmu dan mencakar pipimu… Pipimu tidak apa-apa, kan?"

Haku memegangi pipinya yang terdapat bekas luka cakaran yang sudah mengering, "Aku tidak apa-apa. Kau sendiri? Aku ingat kalau kemarin aku melukai tanganmu…"

Sakura memegangi lengan tangannya, "Sudah tidak sesakit kemarin, kok. Terima kasih sudah menanyakannya. Aku benar-benar menyesal atas kejadian kemarin," Sakura tersenyum getir sambil menghela nafas.

Ketiga cewek itu memerah wajahnya. Mungkin karena malu atau apalah. Shion berjalan maju, berdiri di hadapan Sakura sambil memalingkan wajahnya, "Kami juga. Kami menyesali perbuatan kami kemarin," sahut Shion, mewakili teman-temannya. Lalu ia menoleh ke arah Tayuya dan Haku, "Karena urusan kami sudah selesai, kami pergi dulu." Lalu mereka berlalu pergi meninggalkan Sakura.

Sakura melambaikan tangannya tanpa disadari. Mungkin karena ia merasa agak kaget sekaligus senang dengan apa yang barusan terjadi pada ketiga cewek itu. Dan tanpa diduga-duga, saat Sakura melambaikan tangannya, Haku menoleh. Wajahnya tampak tanpa ekspresi, tetapi kemudian bibirnya bergerak-gerak seperti. Meski begitu, Sakura bisa menangkap apa yang dikatakannya

"Terima kasih."


Sakura mengetuk pintu kamar Naruto dengan ketukan lemah begitu sesampainya di depan kamar Naruto, "Tuan Muda, bisakah saya masuk? Saya ingin mengganti seprai Anda."

Bukannya jawaban yang menyuruhnya masuk, Sakura malah mendengar suara Naruto sedang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Sakura membuka pintu sedikit, sehingga ia bisa melihat keadaan kamar Naruto di dalam lewat celah kecil di pintu.

"Apakah ia tidak menyukaiku? Padahal sudah jelas-jelas wajahku tampan begini. Bahkan aku berani taruhan, wanita di manapun di seluruh dunia tidak akan ada yang berani menolakku. Wajahku tampan, aku ini kaya raya, bahkan otakku pun tidak jelek juga," Sakura melihat Naruto sedang berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin. Sakura nyaris menjedotkan kepalanya ke pintu saking gelinya dengan sikap Naruto, betapa narsisnya tuannya.

Tetapi senyuman di wajahnya menghilang saat ia mendengar kalimat yang terlintas dari mulut Naruto berikutnya, "Padahal aku pun benar-benar menyukainya. Kenapa sepertinya ia tidak senang saat aku menyatakan perasaan sukanya padaku, ya? Apa yang akan dipikirkannya setelah aku menciumnya, ya? Aku ini memang bodoh sekali, kenapa tiba-tiba aku menciumnya begitu…"

"Tuan Muda, saya permisi ingin mengganti seprai Anda," suara Sakura mengagetkan Naruto.

Naruto langsung menabrakkan kepalanya ke cermin saking kagetnya dengan kemunculan Sakura yang tiba-tiba, "K-kenapa kau bisa ada di sini?"

"Saya sudah bilang, saya ingin mengganti seprai Anda."

Naruto meringis untuk sesaat, lalu ia menyuruh Sakura menuju ke tempat tidurnya. Sakura berjalan ke tempat tidur Naruto dan mulai membongkar pasang seprainya tanpa suara. Begitu pula Naruto, ia hanya diam sambil mengamati Sakura. Keduanya saling berdiam diri dalam beberapa menit sampai akhirnya Sakura selesai mengganti seprai Naruto.

"…kau tadi mendengar apa yang kukatakan, ya?" tanya Naruto.

Sakura terdiam untuk beberapa saat. Ia tergerak ingin membalikkan badannya berhadapan dengan Naruto, tetapi ia hanya menoleh sedikit ke arahnya, "Tidak," ujarnya berdusta, "Tapi saya tadi melihat Tuan Muda sedang melakukan aktivitas seperti biasa."

"Itu bukan aktivitas sehari-hariku," rengut Naruto, merasa sedikit tersinggung.

Sakura tertawa, "Maaf. Kalau begitu, saya permisi. Anda bisa memanggil saya kalau masih ada keperluan lain," ia berjalan pergi sambil membawa seprai bekas yang baru saja ia ganti. Saat Sakura hampir menghilang di ambang pintu, Naruto menarik tangannya.

"…tunggu."

"Tuan Muda masih ingin saya melakukan apa?"

Blush. Wajah Naruto memerah. Ia buru-buru melepaskan tangan Sakura sambil memalingkan wajahnya, "Aku hanya ingin kau tinggal lebih lama di sini. Apakah kau keberatan?"

"Eh!" gadis berambut pinkish itu memasang wajah kaget bercampur rasa tidak percaya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Naruto padanya. Wajahnya juga berubah merah, "S-saya… Seharusnya saya tidak boleh berada di sini terus menerus kalau Anda sudah tidak memerlukan apa-apa dari saya. Saya tidak ingin kalau sampai pelayan lainnya-"

"Aku kan sudah mengatakan bahwa aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan," ujar Naruto memotong ucapan Sakura, "Aku tidak peduli karena aku benar-benar menyukaimu."

"Tapi seharusnya kita tidak boleh seperti ini Tuan Muda," Sakura memalingkan wajahnya. Ia mendekap seprai bekas di dekapannya erat-erat, "Saya ini hanya seorang pelayan. Tugas saya adalah menjadi pelayan Anda, bukannya menjadi orang yang Anda sukai. Bahkan saya sendiri tidak tahu seperti apa perasaan saya yang sebenarnya pada Anda. Saya pernah mengatakannya pada Anda."

"Aku tahu," Naruto menghela nafas, "Tapi aku yakin. Kau pasti juga memiliki perasaan yang sama denganku, kan? Saat aku menciummu kemarin, aku bisa merasakan bahwa kau menikmatinya. Kau bahkan tampak tidak ingin melepaskan ciumanku darimu."

Sakura menggelengkan kepalanya, "I-itu tidak benar. Saya tidak segera melepaskan ciuman Anda karena pada saat itu saya begitu terkejut saat Anda mencium saya."

"Heh. Kau berani sekali berbohong di hadapanku," Naruto tersenyum sinis pada Sakura sambil menyisir rambutnya ke belakang, "Mana mungkin orang sepertimu tidak jatuh cinta padaku. Aku ini orang yang serba sempurna, aku memiliki segalanya. Kenapa gadis pelayan sepertimu bahkan tidak memiliki perasaan apa-apa padaku? Aneh sekali. Padahal aku tahu gadis mana pun akan jatuh cinta pada-"

PLAKKKK!

Sakura menampar wajah Naruto. Naruto memegangi wajahnya dan menatap Sakura dengan wajah terkejut bukan main, pipinya terasa berdenyut-denyut. Sedangkan Sakura, gadis di hadapannya tampak berkaca-kaca kedua matanya, dan dalam beberapa detik air mata membanjiri wajahnya. Seprai yang dibawanya basah oleh air matanya. Sehabis ia menampar Naruto, ia menurunkan tangannya dan menempatkannya di dadanya.

"K-kenapa kau bisa bicara seperi itu dengan mudahnya?" isak Sakura, "Kenapa kau menganggapku kalau aku ini gadis gampangan yang bisa menyukaimu dengan mudahnya hanya karena kau ini kaya dan tampan? Padahal barusan kau bilang bahwa kau menyukaiku! Aku tidak bisa percaya padamu lagi!"

"S-Sakura-chan…"

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!" seru Sakura setengah berteriak, "Aku pergi!"

Ia berlari keluar dari kamar Naruto sambil terus berlinangan air mata. Sementara Naruto sendiri memasang wajah terkejut bercampur sedih. Ia jatuh berlutut di lantai. Sebelah tangannya memegangi dadanya. Kini rasa nyeri di dadanya lebih sakit dari pada rasa sakit yang dirasakannya saat Sakura menamparnya, "…sial… Apa yang telah kulakukan…"


Sakura berlari menuju gedung asrama pelayan dengan langkah tergesa-gesa. Beberapa orang pelayan memandanginya dengan tatapan aneh. Tetapi ia tidak menggubrisnya. Ia ingin pulang sekarang juga. Sakura pun membereskan baju-bajunya yang berserakan di atas tempat tidurnya saat ia sampai di kamarnya. Ten Ten, Temari dan Ino memandangnya dengan pandangan aneh. Wajah mereka juga tampak terkejut saat Sakura membereskan barang-barangnya. Apalagi gadis itu sudah tidak memakai seragam pelayannya lagi.

"S-Sakura-chan! K-kenapa kau tiba-tiba saja membereskan barang-barangmu? Dan kenapa kau tidak memakai seragammu?" tanya Ten Ten bingung.

"Aku mau pulang."

"Pulang?" seru Temari tak percaya, "Hei! Yang benar saja! Sekarang bukan saatnya untuk pulang ke rumahmu! Tuan Muda masih membutuhkanmu tahu!"

"Aku tak peduli," kata Sakura, "Aku sudah mengundurkan diri dan Tuan Muda sudah memecatku."

"Memecatmu?" Ino memasang wajah penuh keheranan, "Hei, kalau Tuan Muda memecatmu, seharusnya ia memberitahukannya dulu padaku. Memangnya apa yang sebenarnya terjadi, sih? Kenapa mendadak kau bilang kau ingin pulang setelah Tuan Muda memecatmu?"

Sakura terdiam sejenak, "…ada sedikit masalah. Itu saja," kata Sakura. Ia memanggul tas bawaannya dan berjalan keluar. Tetapi sebelumnya ia membalikkan badannya menghadap ketiga temannya, "Maafkan aku, ya. Padahal kita baru saja akrab, tetapi mendadak kita harus berpisah seperti ini. Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku harus pergi sekarang."

"Tunggu, Sakura-chan!" belum sempat mereka meminta Sakura kembali, Sakura sudah menghilang dari hadapan mereka.

Sakura berlari keluar sambil berlinangan air mata. Sebenarnya ia tidak mau pergi seperti ini dan terus menyembunyikan perasaannya pada Naruto. Tetapi memang tak seharusnya ia dan Naruto saling jatuh cinta. Toh ia merasa seperti memanfaatkan Naruto. Apalagi Naruto juga sudah memiliki tunangan.

Kenapa, sih, aku harus merasa aneh begini? Rasanya aku ingin pergi jauh saja dari pada aku hanya akan membuat situasi ini tambah kacau, batin Sakura.

Sakura berjalan keluar dari gerbang pintu masuk kediaman keluarga Uzumaki. Pikirannya terasa benar-benar kacau, hingga tanpa sadar ada sebuah mobil sedan mewah berwarna silver lewat di hadapannya. Mobil tersebut membunyikan sirene, menyuruh agar Sakura minggir. Tetapi Sakura masih terbawa akan pikirannya dan tanpa sadar, saat Sakura membalikkan badannya, mobil sedan tersebut nyaris menabraknya. Sakura berteriak kaget sekaligus ketakutan saat berpikir mobil sedan itu akan menabraknya. Mobil tersebut berhenti mendadak di depan Sakura dan Sakura pun jatuh pingsan tepat di depannya.

"Aduh!" seseorang berpakaian ala supir pribadi keluar dari mobil sedan tersebut sambil memasang wajah panik, "Bagaimana ini? Apa yang Tobi lakukan! Tobi baru saja menabrak seseorang! Kalau begini Tobi bisa dikenal sebagai anak nakal!"

"Ada apa?" sebuah suara milik seorang pria berambut raven yang baru saja keluar dari mobil mengejutkan supir tersebut, "Tobi, apa yang kau lakukan di sana? Dan kenapa ada gadis tergeletak di jalanan begitu?"

Tobi, nama supir tersebut, menoleh ke arah pria berambut raven tersebut sambil bersikap panik, "Tu-Tuan Sasuke, To-Tobi… Tobi… Tobi tak sengaja menabrak gadis ini. Tadi saat Tobi membunyikan sirene ke arahnya, dia tidak memperhatikan dan akhirnya…"

Dahi Sasuke berkerut samar. Kemudian ia berjalan mendekati tubuh Sakura yang tergeletak di atas jalanan beraspal sambil menyandarkan kepala Sakura di pangkuannya, "Dia tidak apa. Sepertinya hanya pingsan karena kaget," kata Sasuke, "Dan kenapa saat gadis ini pingsan kau tidak segera menghampirinya dan memeriksa apakah dia terluka atau tidak?"

"Hee?" Tobi menggaruk bagian belakang kepalanya sambil memiringkan kepalanya, "Maaf, Tuan. Tobi tidak sempat memikirkannya."

Sasuke menarik nafas frustasi, "Ya, ya. Sudahlah. Cepat bukakan pintu mobil." Ia mengangkat tubuh Sakura dengan kedua lengannya dengan mudahnya, seolah-olah tubuh Sakura terasa begitu ringan. Sesaat Sasuke menoleh ke arah Tobi yang masih terbengong-bengong di hadapannya, belum bergerak dari tempatnya. "Tobi? Bisakah kau bukakan pintunya?" Alis Sasuke naik, menunjukkan bahwa ia mulai merasa kesal dengan supirnya ini.

"Untuk apa Tuan?" tanya Tobi kebingungan.

Pria berambut raven itu menggeram kesal, "Sudahlah, Tobi! Tidak perlu banyak tanya! Sekarang cepat bukakan pintu mobilnya!" gertak Sasuke keras.


Tobi yang ketakutan kalau-kalau sampai tuannya mulai memarahinya langsung berlari ke arah mobil dan membuka pintunya. Ia menundukkan tubuhnya takut-takut.

"Apa? Sakura benar-benar pergi meninggalkan rumah ini?" suara Naruto menggema di seisi rumahnya.

Ino dan beberapa pelayan lainnya memasang wajah tegang. Sepertinya kali ini Naruto benar-benar merasa marah dengan mereka. Meski sebelumnya Naruto hanya marah karena urusan kecil yang disebabkan oleh para pelayannya, tetapi kali ini ia marah karena salah seorang pelayan kesayangannya pergi melarikan diri darinya. Bahkan pun sekarang Sakura—pelayan kesayangannya, sudah tidak ada untuk membantu para pelayan lainnya untuk meredakan amarah Naruto. Padahal biasanya semenjak kedatangan gadis itu, amarah Naruto tak pernah memuncak seperti biasanya.

"Maaf, Tuan Muda," Ino akhirnya angkat bicara, berusaha meredakan suasana, "Sebenarnya kami sudah berusaha menghentikannya pergi dari sini, tetapi ia tetap memutuskan untuk pergi."

Naruto terdiam untuk sesaat. Wajahnya tampak geram, penuh amarah. Ia menggigit bagian bawah bibirnya. Ini pasti gara-gara hal yang kulakukan padanya barusan. Ini semua salahku… tapi, kenapa ia memutuskan untuk pergi begitu saja? Naruto meremas korden kamarnya dan menariknya sambil berteriak marah, membuat para pelayan berkedut ketakutan. Ia merasakan hatinya tercabik-cabik. Ia baru saja ditolak oleh gadis pelayan itu. Kenapa aku harus merasa seperti ini? Padahal dia kan hanya seorang gadis pelayan, tapi kenapa…

Beberapa saat kemudian terdengar suara benda-benda berbantingan. Naruto menendang rak-rak buku yang terletak di dekatnya, "Keluar," perintahnya kepada para pelayannya.

"Tapi, Tuan Naruto…" Ino merasa enggan untuk meninggalkan tuannya.

"KELUAR! Aku sedang ingin sendirian!"

Para pelayan beramai-ramai keluar dari ruangan pribadi Naruto sambil memasang wajah panik. Gawat sekali kalau mereka tetap memaksakan diri bersama Naruto di dalam ruangannya kalau pria blonde itu sedang marah. Sudah bertahun-tahun mereka mengabdi di kediaman Uzumaki. Aneh kalau mereka tak paham betul bagaimana sifat tuan muda mereka. Tuan muda yang egois, tetapi sebenarnya ia merasa kesepian. Kesepian karena sebenarnya ia tak pernah bisa merasakan sebuah kehangatan keluarga.

Naruto menarik helai-helai rambutnya dengan frustasi dengan posisi terduduk di atas lantai. Kemudian tangannya beralih dari rambutnya ke atas bibirnya. Bibir yang baru saja mencuri keperawanan bibir gadis pinkish yang merupakan pelayan kesayangannya, "Kenapa… Kenapa aku sampai melakukan hal itu sih? Memalukan sekali… mencium bibir seorang pelayan… yang tak sederajat denganku…" Naruto terdiam untuk sesaat.

Bukan. Sakura bukan hanya seorang gadis pelayan yang memiliki derajat rendah. Ia memiliki pesona yang tak bisa Naruto temukan pada gadis lainnya. Sikapnya yang brutal dan kasar, tetapi sebenarnya memiliki perangai yang baik. Tidak bisa dibandingkan dengan Hinata, dengan tunangannya. Dan Naruto sudah terpikat dan jatuh cinta pada gadis pelayan ini.

Inikah yang dinamakan cinta? Hn, menggelikan…

Sebuah suara ketukan halus terdengar di telinga Naruto.

"Tuan muda…" terdengar suara panggilan Ino.

"Apa? Apa yang kau perlukan? Aku sudah katakan aku tidak ingin diganggu, kan?" sahut Naruto ketus.

"Bukan maksud saya mengganggu Anda, Tuan Muda. Tapi Tuan Sasuke sudah datang kesini Tuan. Beliau sedang menunggu Anda di luar."

Huh? Sasuke? Si Teme itu?Naruto memasang wajah malas, tetapi ia langsung bangkit dan berjalan keluar dari ruangan pribadinya. Gawat kalau seandainya sahabatnya sejak kecil itu menemuinya saat ia sedang dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa sahabatnya itu tahu tentang masalah yang sedang dihadapinya ini.

Ia berjalan menuruni tangga dan mendapati Sasuke Uchiha, sahabat sejak kecilnya sedang berdiri di ruangan tengah. Wajahnya tampak tanpa ekspresi seperti biasanya.

"Hei. Naruto."

"Hei," Naruto memasang wajah malas, "Untuk apa kau ke sini? Kau selalu saja datang di saat-saat yang sedang tidak menguntungkan."

"Apa maksudmu?" Sasuke memasang wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, tetapi bibirnya berkedut.

"Tidak, aku ha-" ucapan Naruto terhenti saat ia melihat Tobi, supir pribadi Sasuke sedang membawa tubuh seorang gadis berambut pinkish. Gadis itu, tak lain dan tak bukan adalah Sakura. Naruto berlari menuju Tobi, "K-kau! Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa ia bisa seperti ini?" Naruto tampak heran. Ia menoleh ke arah Sasuke, mengharapkan jawaban darinya.

"Oh. Gadis itu. Aku menemukannya tergeletak di depan gerbang rumahmu," jawab Sasuke, "Tobi hampir saja menabraknya, tetapi gadis itu malah pingsan."

"Tentu saja ia pingsan! Supirmu itu nyaris menabraknya, kan!" gumam Naruto emosi, sambil menatap Tobi dengan tatapan death glare. Tobi sendiri hanya pasang muka kebingungan, bingung kenapa tiba-tiba saja ia dikambing hitamkan, "Lalu, apakah dia baik-baik saja? Apakah ia terluka?" tanya Naruto khawatir.

Kini tampak ekspresi terkejut di wajah Sasuke, "Dia baik-baik saja. Hanya pingsan," sahutnya. Naruto menghela nafas lega, menambah kecurigaan di wajah Sasuke, "Memangnya dia ini siapamu? Kau mengenalnya?"

Naruto diam mematung sebelum akhirnya bilang, "Dia ini pelayanku," jawabnya singkat.

Bukan Cuma sekadar pelayan... Sasuke mengerutkan dahinya samar-samar.

"Berikan dia padaku," perintah Naruto pada Tobi sambil mengulurkan kedua tangannya.

"Eh? Eh?" Tobi celingukan.

"Cepat, supir bodoh! Biar aku membawanya ke kamar," tapi karena Tobi masih kebingungan, Naruto akhirnya meraih tubuh Sakura dari gendongan Tobi dan mengangkat tubuh Sakura ke gendongannya. Kemudian ia berjalan menuju lantai atas, "Dan kau Sasuke, kau bisa menungguku di ruangan pribadiku."

Naruto menghilang di lantai atas diikuti oleh Ino. Tetapi, bukannya mengikuti permintaan Naruto, Sasuke malah mengikutinya. Sasuke memasang wajah datar, tetapi dilihat dari kerutan alisnya sepertinya ia menyimpan perasaan curiga akan sikap Naruto yang aneh. Kenapa anak itu bisa begitu perhatian dengan salah seorang pelayannya? Padahal biasanya pria raven ini selalu mendengar suara omelan yang keluar dari mulut Naruto yang sedang memarahi pelayan-pelayannya tiap kali ia bertandang kemari. Apalagi baru pertama kali ini Sasuke melihat pelayan berambut pinkish itu untuk yang pertama kalinya.

Sasuke melihat Naruto membawa tubuh pelayan berambut pinkish itu—Sakura, ke salah satu kamar tamu. Sasuke bertambah heran saat ia melihat Naruto meletakkan tubuh gadis itu di atas kasur mewah dan menyuruh Ino untuk membawakan minuman untuk pelayan yang sedang pingsan itu, bukannya menawarkan minuman ke pada Sasuke yang jelas-jelas merupakan sahabatnya yang sedang bertamu.

Saat Naruto mendapati Sasuke tengah berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak sedikit panik, "H-hei. Kenapa kau bisa ada di sana? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi ke ruanganku?"

"Aku ini bukannya pelayan yang bisa kau suruh-suruh, Naruto," sahut Sasuke sambil melipat kedua tangannya dan bersandar pada pintu. Naruto mengeluarkan suara decakan lidah, "Tak perlu tampak tak senang begitu. Memangnya aku sudah melakukan hal apa?"

"Kau ini selalu saja bersikap seolah tidak tahu apa-apa," Naruto memalingkan wajahnya. Kini wajahnya menatap tepat ke wajah Sakura.

"Aku memang tidak tahu apa-apa. Memangnya kau melakukan hal apa yang membuatku jadi ingin tahu?"

"Katakan apa maumu, Sasuke."

"Katakan juga apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Naruto. Kenapa dari tadi kau tampak bersikap setia sekali dengan pelayanmu itu? Kenapa kau tidak membawanya ke kamar pelayan, malah ke kamar tamu? Dan kenapa kau memaksa dirimu sendiri untuk membawanya kemari? Lalu, kenapa wajahmu tampak khawatir begitu?" sebuah senyuman sinis muncul di wajah Sasuke, senyuman yang penuh keingin tahuan.

Naruto menggeram pelan, "Diam kau," ia menatap Sasuke dengan tatapan kesal, "Tapi… Kau memang pandai menyimpulkan sesuatu, ya."

"Jadi, apakah pelayan itu memang memiliki hubungan khusus denganmu?" tanya Sasuke lagi.

Naruto terdiam untuk beberapa saat. Keheningan pecah saat terdengar suara Ino memasuki ruangan, "Tuan Muda, saya sudah membawakan air putihnya," katanya.

"Ah. Bagus!" seringaian muncul di wajah Naruto, "Bisakah kau menyiram wajahnya dengan air putih yang kau bawa? Siapa tahu nanti ia akan terbangun!"

"Haa?" alis Ino naik, heran dengan apa yang dieprintahkan Naruto kepadanya. Bahkan Sasuke yang berdiri di ambang pintu pun memasang wajah kaget sambil menggelengkan kepalanya, 'Dasar, pikiranmu pendek sekali, ya. Sama seperti dulu.'

"Cepat lakukan."

Ino mau tak mau menuruti perintah majikannya sambil menghela nafas. Ia berbisik pelan, 'Maafkan aku, Sakura,' yang di mata Naruto dan Sasuke tampak seperti sedang komat-kamit baca mantra. Kemudian ia mencipratkan sedikit wajah Sakura dengan air putih yang berada di dalam gelas dengan tangannya. Ia mengulanginya beberapa kali sampai Sakura terbangun sambil megap-megap seperti kehabisan nafas.

"PUAH! IBU! MAAFKAN AKU! AKU TAK AKAN TELAT BANGUN PAGI LAGI!" teriak Sakura panik saat ia terbangun dari pingsannya. Sesaat kemudian ia mulai tenang. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri sambil mengusap-usap wajahnya dari cipratan air, "Eh? Ini di mana? Rasanya tadi aku seperti baru saja kembali ke rumah… eh? Ino?" Sakura memasang wajah kaget saat ia melihat wajah Ino di hadapannya.

"Syukurlah kau sudah bangun. Maaf kau jadi basah begini, Sakura," kata Ino sambil tersenyum kecil. Ia membantu Sakura mengeringkan Sakura dengan sapu tangan yang baru ia keluarkan dari saku bajunya.

Sakura menyapu tangan Ino dengan lembut, "Tidak apa, tapi… Ke-kenapa aku bisa kembali ke si-" ia berteriak saat ia melihat wajah Naruto sambil melompat dari tempat tidur.

"Kenapa kau tampak kaget begitu?" Naruto memasang wajah bingung.

"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, Tuan Muda yang egois! Kenapa aku bisa kembali lagi ke sini?"

Naruto menunjuk ke arah Sasuke yang menatap Sakura dengan tatapan aneh, "Dia yang membawamu ke sini. Katanya dia menemukanmu di depan pintu gerbang. Dia ini sahabatku, dialah yang menemukanmu."

Sakura diam untuk beberapa saat, "Dia… Dia yang menemukanku?" ia baru ingat bahwa ia baru saja berusaha kabur dari kediaman Uzumaki, gara-gara… Sakura merasakan wajahnya mendadak terasa panas. Ia menjauh saat Naruto berusaha mendekatinya, "Uhm… Be-begitu…"

"Kau seharusnya memanggilnya Tuan, Sakura-chan," tegur Naruto, "Lalu apa yang membuatmu berniat kabur dari sini? Apa kau kabur karena 'hal itu', ya?"

Jantung Sakura berdetak keras saat Naruto tiba-tiba menanyakan hal itu. Pasti Ino yang menceritakan pada Naruto bahwa ia mengatakan kalau Naruto memecatnya. Gawat. Matanya yang berwarna hijau emerald menangkap mata Ino yang berwarna biru keabu-abuan. Ino balik memandangnya dengan tatapan merasa bersalah, sekaligus rasa ingin tahu apa yang dimaksud Naruto dengan 'hal itu'. Tetapi Sakura tak bisa menyalahkan Ino, "B-Bukan! B-bukan karena itu! Sa-saya…"

Hening untuk beberapa saat. Seolah menyadari suasana yang tiba-tiba berubah tegang, Sasuke berjalan mendekati Naruto sambil meletakkan telapak tangannya di bahu Naruto, "Sudahlah Naruto. Tampaknya ia masih tampak terguncang karena tadi Tobi nyaris menabraknya. Sekarang bagaimana kalau biarkan ia beristirahat dulu?"

"Hmm, benar juga," Naruto mengangguk setuju.

Sakura menghela nafas lega, untung saja ia bisa terbebas dari menjawab pertanyaan seperti itu. Ia tak punya alasan yang baik untuk membohongi Naruto soal niatnya untuk kabur dan tak punya alasan untuk mengatakan hal yang sebenarnya mengapa ia kabur. Bisa-bisa ia malu untuk menemui Naruto selama sebulan lebih. Apalagi ia baru saja mengatakan hal yang seharusnya tak ia katakan saat Naruto menciumnya. Sakura tersenyum penuh terima kasih pada Sasuke, "Err… Terima kasih sudah membawa saya kembali kemari… Tuan…?"

"Ah. Seharusnya dari awal aku memperkenalkan diriku," sebuah senyuman membingkai wajah Sasuke. Ia mengambil tangan Sakura dan berlutut di hadapan gadis itu dan mengecupnya layaknya seorang gentleman, "Namaku Sasuke Uchiha. Senang berkenalan denganmu, Sakura-chan. Bukankah namamu Sakura-chan?"

Wajah Sakura memerah, "Eh. I-iya. Namaku Sakura Haruno. Se-senang berkenalan denganmu Tuan Sasuke."

"Manis sekali. Namamu juga indah. Bunga yang bermekaran. Bukankah begitu?" Sasuke mengangkat wajahnya, menatap wajah Sakura sambil tersenyum saat ia melihat gadis itu tersipu-sipu.

Naruto menggeram marah. Ia memukul tangan Sasuke agar menyingkir dari tangan Sakura, "Hentikan Sasuke! Tak perlu bersikap sesopan itu di hadapan seorang pelayan! Ingat akan derajatmu sebagai seorang yang derajatnya lebih tinggi dari pada gadis pelayan ini!"

"Huh! Apa katamu? Kau mau bilang kalau aku ini berderajat rendah?" Sakura memukul kepala Naruto dengan keras.

Naruto meringis pelan, "Terserah aku mau bilang apa! Sekarang Sakura, kembali ke pekerjaanmu!"

"Hei! Seenaknya saja tiba-tiba menyuruhku! Bukannya tadi kau menyuruhku untuk beristirahat?" omel Sakura kesal. Ino menarik lengan Sakura agar gadis itu tidak bertindak lebih jauh.

"Sudah, sudah, Sakura-chan. Lebih baik kita turuti apa keinginan Tuan Muda."

"Tapi-" Sakura masih mau memberontak.

"Aduh. Sepertinya kedatanganku hanya membawa masalah saja, ya," Sasuke tertawa datar di antara suasana itu, "Tapi kau tak perlu khawatir Naruto. Aku ini bukannya orang yang mementingkan derajat orang. Toh aku tak keberatan mengenalkan diriku pada gadis secantik Sakura-chan."

"E-eh?" wajah Sakura kembali memerah.

Urat-urat nadi menyembul di pelipis Naruto, "Diam kau, Teme! Sekarang kau ikut aku ke ruanganku! Cepat!"

Sasuke berjalan mengikuti Naruto sambil tertawa pelan. Diam-diam ia memperhatikan reaksi Sakura dan Naruto di saat yang bersamaan. Hmm, sepertinya ia bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di antara majikan dan pelayan itu. Tetapi sepertinya hal itu bisa menimbulkan masalah, kalau seandainya…


Author Note: Saya masih hidupppp! Saya belum matiiii :D Maafkan atas lamanya saya mengupdate chapter ini. Semester ini sekolah saya sangat padat, ditambah lagi file yang berisi tentang fanfic buatan saya hilang. Akhirnya butuh waktu lama untuk membuat lagi.

Maaf juga kalau di chapter ini kelewat OOC.

Chapter depan semoga saja saya bisa mengupdatenya dalam waktu sebu- *plakk* maksudnya dalam waktu dua minggu, menunggu saya selesai ujian semester. Mohon saran, kritik, flame dan sebagainya dalam bentuk review. Ceritakan apa yang kurang dari cerita saya, sehingga saya bisa memperbaikinya XD

Thanks to: Michael inoe the UZ, Monkey D Kobayakawa Kudo Namikaze, Ammai, sakuno narusaku lovers, karin, sherren, Shinaru Michaelis, Sabaku Tema-chan, Elven Lady18, karinuuzumaki, Nakamura Kumiko-chan, Rinzu15 The 4th Espada, akusukakashi, Nara Aiko, Lizy Naku Swales, Fidy Discrimination, Masahiro 'Night' Seiran, Azalea Yukiko, thiar2h gak login, chikara kyoshiro