Ah.. update yang sangat lama. Akhirnya saya bisa juga melanjutkannya. Chapter kali ini mungkin cenderung membosankan karena temanya benar-benar pasaran. Tetapi mau bagaimana lagi, ini adalah scene wajib Marauders!

- - - - -

Disclaimer : Harry Potter dan segala karakter di dalamnya adalah milik J.K. Rowling. Beberapa karakter yang dirasa tidak ada dalam novelnya berarti milik saya.

- - - - -

Another Conclusion

By : z-hard

- - - - -

Chapter 4 : Bulan Purnama

Ketika itu, permainan yang sedang populer di kalangan anak-anak Hogwarts adalah permainan menyentuh batang dedalu perkasa, yang katanya ditanam tepat saat angkatanku masuk Hogwarts. Whomping Willow, meskipun termasuk ke dalam genus yang sama, tidak seperti Weeping Willow yang tumbuh di daratan Selandia Baru, dedalu yang satu ini terkesan botak, jarang ada daunnya. Cabang-cabang pohonnya berdiri tegak angkuh dan mengerikan, apalagi dengan latar belakang langit kelam bulan Oktober di pekarangan sekolah. Benar-benar membentuk kesan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tetapi dasar anak-anak, bisa saja memanfaatkan celah untuk menciptakan permainan baru yang menantang. Aku tidak tahu siapa pencetusnya, pokoknya tiba-tiba permainan ini jadi populer. Saat itu adalah puncak maraknya perjudian anak-anak karena para murid gemar sekali bertaruh siapa yang berhasil masuk ke dalam diameter berbahaya di sekeliling dedalu perkasa dan menyentuh batangnya.

Seakan menerima tantangan anak-anak, sang dedalu yang angkuh ini mengadakan perlawanan. Tiap ada langkah mendekat sekitar tiga meter dari pusat batangnya, dia dengan liar mengayun-ayunkan dahannya seperi cambuk raksasa. Tak jarang batang besarnya juga mendadak jadi lentur dan membentur-benturkan bagian cabangnya hingga ke tanah, membuat bumi bergemuruh. Seorang anak Hufflepuff, Davey Gudgeon, pernah nyaris hilang nyawanya karena dihantam si dedalu perkasa itu. Teori yang menyatakan bahwa mulut besar bisa membawa celaka memang benar adanya.

Sejak saat itu, guru-guru melarang murid untuk melakukan permainan absurd itu lagi, karena jika ada anak yang meninggal karena dedalu perkasa, tanggung jawabnya akan jatuh ke tangan mereka dan jelas mereka tidak menginginkan hal itu. Kami sangat kecewa akan putusan itu karena kami baru saja menyusun rencana jempolan untuk menaklukkan dedalu perkasa. Jadi sejak saat itu, kami hanya bisa duduk-duduk dan memerhatikan dedalu dari jauh, menunggu kesempatan untuk memublikasikan kecerdasan kami.

- - - - -

Seperti yang pernah kukatakan terdahulu, Remus Lupin adalah satu-satunya laki-laki 'wajar' dalam angkatan kami di Gryffindor. Kegigihannya dalam menuntut ilmu kadang membuat kami merasa teramat sangat tolol jika berjajar dengannya. Dia juga tidak terlihat minder dengan jubah dan buku-bukunya yang merupakan barang bekas. Satu-satunya benda baru yang dia miliki hanyalah sehelai pena-bulu yang selalu ia gunakan untuk menulis dan sebotol tinta. Meskipun demikian, kami tetap memandangnya sebagai orang besar.

Dari segala perangkat kemanusiaan yang dia miliki, kami paling menyukai kebesaran hatinya. Dia tidak pernah sirik atau iri jika aku dan Sirius mengalahkannya dalam pelajaran Transfigurasi padahal semalam suntuk dia mempelajari buku teks yang tidak kalah tebal dari kamus Rune Kuno sementara kami asyik main catur. Dia bahkan bisa lebih sabar dari ibuku jika sudah menyangkut soal membantu Peter—yang otaknya bebal luar biasa—mengingat tanggal-tanggal pemberontakan goblin.

Meskipun wajahnya hanya memperlihatkan kesan yang itu-itu saja—lusuh dan lelah seperti siap mati kapan saja—jika sudah tersenyum, dia akan menjadi sosok yang amat sedap dipandang mata. Senyumannya seperti matahari di waktu fajar, sejuk dan teduh, ditambah bola matanya yang kuning kecokelatan senantiasa memancarkan kedamaian. Karena alasan itulah kami sangat menyukai senyuman Remus, lebih dari kami menyukai kejeniusan kami sendiri, dan kami akan menghukum siapapun yang membuat senyuman itu tidak merekah di bibirnya yang pucat.

Pagi itu, ketika secercah sinar matahari menerobos masuk dari celah-celah tembok batu dan jendela di kamar asrama kami, adalah pagi yang benar-benar menarik seseorang untuk panik. Awalnya dari pekikan rendah Sirius jam enam pagi. Dengan jengkel aku meraba-raba meja di sebelah ranjangku untuk mencari kacamata, memakainya, kemudian sebelum aku sempat membuka kelambu, kain tebal merah itu sudah terlebih dahulu disingkapkan dengan kasar oleh Sirius.

Bukan lagi suatu hal yang langka melihat ekspresi mengernyit Sirius, karena dia memang nyaris menunjukkan ekspresi tersebut tiap berhadapan dengan suatu hal yang membuatnya jengkel meskipun hanya sedikit saja. Bola matanya yang abu-abu makin terlihat kelam jika dikombinasikan dengan dahinya yang dikerutkan, tidak lupa perangkat pelengkapnya, kepalan tangan dan hembusan napas berat. Tetapi agaknya kali ini kernyitannya bukan mengindikasikan bahwa dia marah, tetapi lebih terlihat panik.

"James! Remus tidak ada di tempat tidurnya!" semburnya tak sabar. Dia tidak menunggu jawabanku dan segera menarik lengan dan menyeretku menuju tempat tidur Remus. Sirius menunjuk lokasi yang dimaksud dengan tatapan seakan-akan akulah penyebab hilangnya Remus.

Sebenarnya bukan hal yang asing lagi mengetahui bahwa Remus sering sekali tidak ada di tempat tidurnya. Pertama kali kami menyadari itu adalah ketika bulan kedua kami masuk Hogwarts. Kami panik bukan main, bahkan aku yang gelap mata sampai nyaris menyerang anak Slytherin karena kupikir mereka menculiknya. Tetapi esok paginya Remus kembali, dengan kesan lusuh dua kali lipat, tersenyum menenangkan dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Mrs Lupin seorang wanita lemah yang sakit-sakitan, aku Remus, sehingga dia harus sering pulang untuk menjenguk beliau. Kami menerima alasan itu dengan pikiran terbuka karena memang masuk akal, rupanya gen resesif sakit-sakitan Remus menurun dari ibunya. Sejak saat itu Remus selalu pamit ketika ingin pulang, sehingga kami tidak khawatir.

Kini aku tahu mengapa Sirius begitu panik, karena apa yang terjadi saat ini benar-benar di luar prosedur yang biasanya. Kemarin Remus sama sekali tidak bilang apa-apa. Remus tidak pamit ingin pulang menjenguk ibunya. Tetapi kini Remus tidak ada, meninggalkan ranjangnya yang mendingin karena iklim daratan tinggi Inggris.

"Aku..." mataku tidak beranjak dari kekosongan yang nyata di depanku, tetapi otakku berpikir cepat. Inilah gunanya kecerdasan, digunakan saat situasi mendesak. "Kurasa kita harus lapor Profesor McGonagall."

- - - - -

Peter masih menggosok-gosok matanya dalam usaha mengusir kantuk ketika kami menyusuri lorong menuju kantor Profesor McGonagall. Kami bahkan masih mengenakan piyama yang ditimpa asal dengan jubah sekolah saking panik dan terburu-burunya. Dengan tergopoh-gopoh Sirius memimpin rombongan kecil kami hingga akhirnya sampai di depan ruangan kepala asrama kami.

Aku baru akan mengetuk daun pintu kayu mahoni itu ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Profesor McGonagall berdiri di ambangnya. Kacamata perseginya berkilat mengancam ketika beliau menunduk menatap kami. "Bangun pagi memang baik, Mr Potter, tetapi bisakah kalian tidak berlari-lari di lorong karena suara langkah kalian benar-benar menggangg—"

"Ini bukan waktunya untuk membahas hal tidak penting seperti itu, Profesor!" sergah Sirius. Aku bahkan bisa menilai dia agak keterlaluan meskipun situasinya sedang tidak baik.

Profesor McGonagall menggeleng-gelengkan kepalanya, "memotong ucapan guru. Apa kau tidak pernah diajari sopan santun, Mr Black? Potong dua poin dari Gryffindor."

Sirius menggeram rendah dan aku menarik bahunya pelan, hanya sebagai isyarat bahwa tidaklah bijaksana marah hanya karena alasan sepele seperti itu untuk saat ini. Aku mengerling Peter dan aku tahu dia membalas tatapanku, dan aku yakin dia juga mengerti apa maksudku. Maka, dengan agak terbata-bata—Peter bukanlah murid populer di kelas Profesor McGonagall—dia berkata, "err.. begini Profesor, sebenarnya kami.. itu.. Remus.. Remus hilang.."

"Aku mengerti, Mr Pettigrew," Profesor McGonagall memotong, kelihatannya tidak sabaran dengan kalimat anak pendek gemuk di depannya yang tidak selesai-selesai. Aku merasakan bahu Sirius bergetar seakan-akan ingin membalas perkataan Profesor McGonagall tentang memotong pembicaraan orang yang belum selesai, tetapi kelihatannya dia tahu dia akan memperkeruh suasana jika melakukannya. "Mr Lupin tidak ada di tempat di mana seharusnya dia berada, benar? Dan apakah masih perlu kuberitahu mengapa demikian, karena kupikir kalian telah mengetahui bahwa Mr Lupin harus menjenguk—"

"Tetapi dia tidak bilang apa-apa kemarin!" sembur Sirius akhirnya.

Profesor McGonagall mengejap. Aku menepuk dahiku. "Astaga Mr Black, sekali lagi kuperingatkan, sopan santun! Potong dua poin lagi dari Gryffindor." Sesaat aku bisa mendengar beliau menggumamkan sesuatu kalimat keluhan sebelum melanjutkan kembali, "banyak situasi yang harus diperhitungkan. Kalian pikir suatu kewajiban bagi Mr Lupin untuk selalu melaporkan tindakannya pada kalian? Atau mungkin Mr Lupin sendiri sudah menganggap kalian tahu bahwa dia akan selalu pulang sekali sebulan sehingga merasa tidak perlu lagi memberi tahu kalian. Nah, kalau kalian sudah paham, mengapa tidak kembali ke asrama, ganti pakaian, dan bersiap turun ke Aula Besar?" akhirnya sambil menutup pintu tepat di depan hidung kami.

Sirius menatap pintu kayu mahoni itu dengan mencela. Aku tahu dia sakit hati, bukan karena dikurangi empat poin atau dituding tidak punya sopan santun, melainkan karena telah diberikan penilaian yang rendah atas persahabatan kami.

- - - - -

Ketika sarapan, kami sepakat bahwa kami tidak akan bisa konsentrasi pada jam pelajaran pertama hari ini. Bukan mempertegas bahwa kami sebenarnya memang tidak pernah mendengarkan pelajaran, tetapi fakta bahwa Remus belum juga kembali benar-benar membuat khawatir sekarang. Sirius sendiri rupanya memikirkan hal ini lebih dari siapapun, kelihatan dari mood-nya yang sangat jelek—dia menghardik kasar seorang gadis yang sengaja menyapanya.

"Aku tidak tahu apa berguna mengatakan ini," kataku ketika kami akhirnya selesai sarapan (yang sama sekali tidak membuat kami kenyang) dan berjalan menuju kelas Mantra. "Tetapi bersikap uring-uringan seperti itu tidak membuat suasana lebih ba—" dan suaraku tercekat.

Aku yakin Sirius dan Peter juga melihatnya, di sana, tepat di seberang pintu kelas Mantra, bersender pada tembok batu yang dingin, Remus Lupin tersenyum pada kami.

Senyum itu senyum Remus yang biasanya, senyum yang kami suka. Tetapi Remus sendiri kelihatan jauh lebih lusuh dari biasanya. Sirius dengan cekatan menghampiri Remus, "astaga, dari mana saja kau, sejak kemarin malam!"

"Ah, maaf," Remus berkata setelah aku dan Peter menyusul, "aku tidak sempat memberitahu kalian. Mendadak sekali, kau tahu." Remus menggaruk-garuk tengkuknya gugup. Ketika melakukan ini, aku melihatnya, di balik lengan panjang jubah sekolah yang meluncur turun karena dia mengangkat tangannya, sebuah luka panjang yang kami yakin belum ada sebelumnya.

"Tanganmu kenapa, Rem?" tanyaku tanpa berusaha menyembunyikan rasa penasaran.

Remus kelihatannya tidak menduga akan ditanyai seperti ini karena dia tidak bisa langsung menjawab, tidak seperti Remus yang langsung tanggap jika ditanyai. Dan sebelum Remus bisa menjawab apa-apa, Sirius meraih pergelangan Remus dengan satu tangannya dan menariknya sementara tangan satunya menyibakkan lengan jubah sehingga terlihatlah luka itu dengan jelas.

"Seperti bekas cakaran," celetuk Peter. Aku sadar betul Remus merespon celetukan ini diam-diam.

"B-bukan apa-apa," Remus tersenyum. Tetapi dia tidak tahu kami sudah hafal senyumannya, dan yang satu ini bukan senyuman tulus. "Ketika menjenguk Ibuku, aku dikejar anjing tetangga—dan inilah akibatnya. Bukan masalah besar."

Kedatangan anak-anak ke lorong itu untuk menghadiri kelas menyelamatkan Remus dari pertanyaan-pertanyaan kami selanjutnya. Kami berusaha bertanya ketika pelajaran, tentu saja, namun Remus menyibukkan dirinya dengan mendengarkan penjelasan Profesor Flitwick. Dan ketika akhirnya dua jam yang membosankan usai, dengan cepat Remus pamit ke perpustakaan dan kami tak sempat mengejar.

Atau sengaja tidak mengejar.

Sementara Remus ke perpustakaan (atau itulah yang dia katakan), kami kembali ke menara Gryffindor, jam pelajaran kedua baru akan dimulai sekitar setengah jam lagi. Segera setelah kami bertiga masuk ke kamar asrama, aku menutup pintu dan menguncinya.

"Ada yang aneh dengan Remus," aku langsung menyuarakan permasalahannya.

"Ya, aku bahkan menyadari ada yang aneh sejak awal sekali," Sirius tidak menatapku atau Peter, melainkan lantai batu.

"Aku ada beberapa perkiraan," kataku, "tetapi aku tidak mau berspekulasi. Tidak secepat ini. Bagaimana menurutmu?"

Peter menggeleng. Sirius diam dan aku melihat dia mengangkat bahu sedikit.

Aku menghela napas, "kurasa Remus manusia serigala."

Semua bergeming. Suasana ini bukan suasana yang kau rasakan ketika kekagetan luar biasa menyergap dirimu. Mungkin Peter benar kaget, tetapi aku bisa membaca, setelah setahun lebih bersama, bahwa Sirius juga punya prakiraan yang sama.

"Tidak ada bukti," gumam Sirius. Itu omong kosong, aku tahu. Sirius anak yang cerdas, tidak mungkin tidak menyadari sesuatu. Maksudku, aku saja sadar.. kalau Peter memang di luar hitungan.

"Berhentilah berpura-pura tidak tahu. Kau tahu—kita semua—oke, mungkin hanya kau dan aku—tahu, bukti itu ada. Nyata di depan mata kita. Sampai kapan kau mau berpura-pura buta, Sirius?" aku mengajaknya bicara dengan nada yang memaksanya untuk menegakkan kepalanya. Dan dia benar melakukannya. "Mungkin Remus pikir kita berhasil dia bodohi, tetapi sadarkah kita bahwa dia selalu pulang setiap bulan, yang jika kau lebih teliti sedikit, setiap bulan purnama?"

"Dan luka itu.." suara Peter tiba-tiba berkumpul, tidak seperti biasanya. "Memang lebih mirip luka cabikan serigala daripada anjing.."

"Persis! Kalau aku prefek kau pasti sudah kuhadiahi sepuluh poin, Mr Pettigrew!" Aku berseru penuh kemenangan. "Itu luka yang diakibatkan olehnya sendiri, kurasa. Tidakkah masuk akal kalau benar demikian? Remus manusia serigala, pihak sekolah pastinya tahu—makanya mereka membantu membenarkan alasan konyol Remus menjenguk ibunya. Dia diselundupkan entah ke mana tiap bulan dan bertransformasi. Dan karena tak ada mangsa, terpaksa dia.. melukai dirinya sendiri," aku merasa miris ketika mengucapkan kalimat terakhir.

Tetapi Sirius tidak pula kelihatan percaya. Tidak, mungkin dia bukannya tidak percaya, mungkin dia hanya tidak mau percaya.. aku menghampirinya dan dengan rasa persahabatan yang besar, menepuk-nepuk punggungnya. "Tidak akan ada yang berubah bahkan jika benar Remus manusia serigla. Kita harus saling percaya."

"Itu dia masalahnya kan," Sirius mengernyit, perlahan terasa sedikit amarah dalam tiap interval suaranya. "Kita seharusnya saling percaya! Tetapi apa Remus percaya pada kita? Kurasa tidak.. kalau ya seharusnya dia bisa memberitahukannya langsung pada kita."

"Yah, ada bermacam-macam hal yang masuk akal untuk bisa dijadikan alasan, kurasa. Dan pasti Remus punya salah satunya," aku mengangkat bahu. "Sebaiknya malam ini kita bicara padanya, agar semuanya jelas."

- - - - -

Remus naik ke kamar asrama dua puluh menit lima belas detik (bukan berarti aku benar-benar menghitung) lebih awal dari biasanya. Aku yang ketika itu sedang bermain catur sihir dengan Alphonse di ruang rekreasi, memberi isyarat pada Sirius yang terbaring asal di sofa. Dia bangkit dan menggaruk-garuk rambutnya yang hitam sehingga menjadi agak berantakan. Dia kelihatan memberi isyarat juga pada Peter. Dan dengan satu langkah anggun nan cerdik, aku mengakhiri permainan caturku dengan sempurna. Alphonse sedikit menggerutu dan berkata dia akan menantangku lagi lain kali, tetapi aku tidak benar-benar mendengar keseluruhan kalimat karena konsentrasiku sudah penuh untuk naik ke kamar asrama.

Sirius terlebih dahulu, kemudian aku, baru Peter. Sirius dengan gerakan yang hati-hati membuka pintu dan Peter menutupnya setelah kami bertiga masuk. Kelambu Remus tertutup, mungkinkah dia sudah tidur?

Merupakan adab dasar bahwa menyibakkan kelambu orang lain tanpa seizin yang yang berada di dalamnya adalah tindakan yang cukup kurang ajar. Tetapi Sirius tidak peduli lagi soal kekurangajaran—karena dia memang sudah kurang ajar dari sananya—dan dengan cepat menarik kelambu Remus.

Aku bisa melihat Remus tengah menghadap tembok, membelakangi kami, tetapi itu sama sekali tidak cukup untuk menyembunyikan bahwa dia masih bangun. "Remus," ujar Sirius, masih berdiri tegang di tepian. "Bangun. Kami tahu kau tidak tidur. Kumohon, bangun.."

Remus menghela napas dan dia benar berbalik, bahkan bangkit. Kini dia terduduk di atas kasurnya. "Ada apa, teman-teman?" Remus bertanya sepolos yang dia bisa.

"Pertama-tama," aku mengangkat kedua tanganku setinggi dada, secara tidak langsung meminta Sirius agak menjauh dari ranjang sehingga kami membentuk sebuah lingkaran kecil. "Mari kita buat kesepakatan, bahwa kita berempat di sini berdiri bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai saudara yang bisa saling percaya. Paham?"

Sirius dan Peter mengangguk, Remus menyusul kemudian, masih kelihatan bingung.

"Kami bertiga—aku, Sirius, dan Peter—telah membuat suatu konklusi dengan perkiraan-perkiraan yang tidak asal-asalan," kataku. "Dan konklusi itu adalah, Remus, kau manusia serigala."

Hening panjang menyergapi kami setelah itu. Cahaya bulan remang-remang yang masuk melalui jendela menyinari Remus sehingga nampaklah wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.

"A-aku tidak mengerti maksud kalian.." Remus menggumam, bibirnya nyaris tidak bergerak. "Itu tidak mungkin."

"Kita di sini sebagai saudara yang saling percaya," aku mengucapkannya dengan mantap. "Dan ikatan itu tidak akan pernah terputus sampai kapanpun oleh apapun."

Remus terdiam lama sebelum menutupi wajah dengan kedua tangannya, dan dia mulai bercerita (suaranya bergetar ketika itu). Bagaimana dia digigit oleh manusia serigala ketika dia masih kecil, bagaimana dia kemudian sangat berbahagia karena ada sekolah yang mau menerimanya, bagaimana dia diselundupkan tiap bulan ke sebuah gubuk melalui lorong yang dijaga oleh dedalu perkasa, bagaimana rasa sakit fisik menyerangnya ketika siksaan mental memenuhi kepalanya karena membohongi sahabat-sahabatnya.. dan bagaimana ketakutan luar biasa menghantui dirinya jika kehilangan sahabat-sahabat itu.

Tidak ada yang menginterupsi cerita Remus hingga kisahnya selesai. Wajah Peter sudah basah dan kotor karena air mata, sementara aku bisa melihat mata Sirius juga berkaca-kaca. Aku tidak tahu apa yang menahannya untuk menumpahkan keharuan—mungkin harga diri, entah harga diri lelaki atau harga diri seorang Black yang disadari atau tidak, masih tersisa dalam dirinya.

Tetapi dia yang paling pertama memperpendek langkah dan memeluk Remus. Bahunya naik turun dan aku yakin dia telah menuangkan segala perasaannya akhirnya.. aku dan Peter ikut memeluk, tidak sadar bahwa mungkin saja Remus merasa berat menahan bobot kami bertiga. Kami tidak malu mengakui kami menangis keras saat itu, tidak pula peduli bahwa normalnya lelaki tidak cengeng seperti perempuan.

Yah, kami semua bodoh dan bagaimanapun juga ketika itu kami masih berumur dua belas tahun.

- - - - -

TBC