CATCH ME! If You Wanna
Sherry Kim

Happy Reading...!

"Maaf mengganggu Mr. Jung." Konsentrasi Yunho buyar oleh suara dari salah satu Sekertarisnya.

Seungri menutup pintu sebelum memasuki ruangan wakil presdir Jung dan membungkuk hormat. "Saya membawa dokumen yang anda inginkan."

"Bacakan untukku Seungri." Kembali, Yunho menyibukan diri dengan lembaran kertas dan membubuhkan tanda tangan disana.

Seungri mengangguk dan mulai membuka lembaran pertama. "Shim Changmin,,,"

"Tunggu, Shim Changmin?" ulang Yunho. "Bukankah dia keponakan Yoochun." ia menyahut.

"Benar. Mr. Jung. Tuan muda Changmin keponakan dari Tuan muda Yoochun. ''Seungri kembali pada lembaran kertasnya. " Shim Changmin..." Yunho kembali menghentikan Seungri dengan mengangkat tangan. "Anak satunya, dan kenapa aku tidak mengenali bocah itu kemarin." ujarnya pada diri sendiri.

Pria tinggi berjas rapi itu membalik dokumen dan kembali membaca. "Kim Jaejoong, usia Tujuh belas tahun. Mendapatkan beasiswa dan bersekolah di Shinki Highschool. Yatim piatu, beliau menjadi tanggungan Mr..." Seungri berhenti.

Yunho menunggu dengan tenang namun terlihat jelas jika pria itu penasaran dengan apa yang membuat Seungri terdiam. Mengulurkan tangan, Seungri memberikan lembaran data Kim Jaejoong dan menunduk hormat sebelum keluar dari ruangan wakil Directure Jung Emperor dengan tenang.

Kursi bergoyang membawa tubuh Yunho berputar menghadap jendela kaca lebar yang memperlihatkan keindahan kota dari tempat pria itu duduk. "Song Il Gook." keningnya berkerut terkejut membaca nama CEO moldir pada dokumen Kim Jaejoong.

Dari seluruh warga dan penghuni Seoul yang jumlahan puluhan ribu, kenapa harus keluarga Song yang menanggung hidup pemuda yang telah mencuri hatinya. Ya, Yunho sangat yakin jika ia menginginkan pemuda tersebut karena Kim Jaejoong telah mencuri hatinya.

Musang Yunho kembali pada barisan rapi yang menulis lebih informasi tentang pemuda yang membuatnya terkagum sampai sulit untuk tidak memikirkan Kim Jaejoong semalam pwnuh. "Tidak menikah. Tapi memiliki seorang putra." Alis Yunho bertautan saat membaca bagian itu.

Jadi, ibu Jaejoong adalah putri kepala pelayan disana, dan tidak tercantum nama sang Ayah. Sejak kecil pemuda itu menjadi tanggungan Song Il Gook dan Istrinya Song Ji Hyo. Bekerja di rumah tersebut sebagai penjaga hewan piaraan dari keenam putri Mr. Song.

"Hewan piaraan?" ulang Yunho. Sungguh konyol dan,,, "Menarik." Menyobek kertas itu menjadi sobekan sobekan kecil, ia melemparkanya ke dalam tong sampah.

"Siapkan Mobil, aku ingin menemui Park Yoochun di lokasi Syuting. Sendirian." ujarnya melalui telefon kepada sekertaris pribadinya. Pria itu meraih Jas yang tersampir di punggung kursi dan mengenakanya sebelum keluar ruangan dengan senyum terpatri di bibir hati yang biasanya membentuk garis lurus.

.

.

.
*

Lagi. Untuk kesekian kali Jaejoong menghela nafas sedikit dramatis dengan tingkat sebal setengah mati dan menengok kebelakang. Dimana gedung Moldir yang memiliki lantai tiga puluh satu menjulang dengan gagah seakan menantang langit untuk bersandar di atasnya.

Memutar tubuh dan berjalan menjauh, bahu Jaejoong di tarik sebelum lengan seseorang memeluk lehernya sedemikian rupa yang ternyata Soulmate terbaik yang Jaejoong miliki. Shim Changmin lah pelakunya.

"Kenapa kau bisa disini?" Keduanya berjalan beriringan.

"Tentu saja mencarimu, Jongie."

"Bagaimana kau bisa tahu aku disini?"

"Kemarin kau gagal membujuk Paman agar memberimu ijin liburan ke Jeju Doo, dan sekarang kau kesini lagi. Tepat seperti dugaanku." Ujar pemuda yang memiliki tinggi di atas rata rata tersebut.

"Aku akan berdemo jika Paman tidak mengijinkanku, tetapi aku sendirian dan takut. Maukah kau berdemo denganku."

Changmin mendaratkan jitakan sayang pada kening Jaejoong yang tertutup poni. "Tidak akan. Dan jangan berpikir konyol. Jika kau tidak berada di rumah sepulang sekolah tentu saja kemana lagi kau akan pergi selain ke sini. Setiap hari pada jam makan siang atau sore hari sepulang sekolah. Dan berhenti memanggil Ayahmu Paman di hadapanku."

"Aku takut ada orang lain yang mendengarnya," Cicit Jaejoong. Ia menambahkan "Mungkin saja aku pergi jalan jalan."

"Aku satu satunya teman terbaikmu, kau tidak akan lupa mengajakku jika kau keluar untuk jalan jalan." Pemuda yang memiliki tinggi lebih dari rata rata itu mengerutkan dahi melihat wajah lesu tanpa semangat Jaejoong.

"Paman Song tetap tidak memberimu ijin ikut liburan ke Jeju Doo?" Kepala mungil dengan rambut hitam itu mengangguk lesu. "Kenapa?"

"Karena dia bilang tidak aman jika aku bepergian sendirian, alasan yang sama seperti kemarin."

"Aku juga pergi."

"Terlalu jauh."

"Demi Tuhan, Jeju masih bagian dari Korea, Kim Jaejoong." Suara Changmin begitu keras sampai menjadi pusat perhatian sekeliling. "Setelah ku pikir pikir, Demo lumayan menguntungkan."

"Lupakan. Lupakan, aku hanya bercanda." Langkah kaki Jaejoong terhenti untuk melihat pantulan dirinya pada kaca bening sebuah toko. Benarkah ia tidak memiliki kemiripan sedikitpun kepada Song Il Gook, sama yang seperti yang di katakan kakak ketiganya, Tiffany. "Aku tidak memiliki Ayah lain selain dia, hanya kau yang tahu rahasiaku Chwang."

"Maafkan aku, aku tahu kau anak baik penurut dan penyayang tetapi jika kau tidak pergi bagaimana jika Shin Se Kyung berhasil di taklukan oleh Choi Seunghyun. Kau akan kalah taruhan sebesar seratus ribu won. Ya Tuhan, kau tidak akan merelakan gajimu selama beberapa bulan kerja bukan?"

Astaga. Benar! Taruhan itu... Sialan, ia melupakan taruhan mereka.

Kedua tangan Jaejoong menggenggam rambut Changmin dengan gemas dan mengacak acak rambut hitam pendek pemuda tersebut. "Oh, Chwang, matilah aku." Bagaimana bisa Jaejoong melupakan hal penting itu. "Choi sialan itu pasti akan berbangga diri setelah liburan seminggu ke Jeju bersama Se Kyung."

Seakan tuli, Jaejoong mengabaikan jeritan kesakitan Changmin akibat ulah tangan jahil Jaejoong yang masih setia menjambak rambut indah pemuda yang lebih tinggi darinya. Mereka menjadi tontonan gratis di pinggi jalan bagi para pejalan kaki yang lewat di sekitar mereka. Bahkan ada yang secara terang terangan menertawakan keduanya.

"Kau akan membuatku botak Kucing nakal."

"Itu tujuanku menjambak rambutmu. Kucing pencuri."

"Aku bukan kucing pencuri."

"Dan aku akan merontokkan gigimu jika berani memanggilku Kucing nakal." Changmin berhasil lolos dari cengkraman tangan maut Jaejoong. Ia melompat mundur setelah merekalakan beberapa helaian rambut indahnya rontok di tangan Jaejoong.

"Baiklah... Kucing centil yang sok cantik... Hoy." Kembali ia melompat dan berlari mendapat delikan serta tinju Jaejoong yang gagal menyentuh wajahnya. Demi seluruh kucing cantik, tinju Jaejoong masihlah menyakitkan meski pemuda itu meniliki paras cantik seperti para gadis, bagaimanapun juga Jaejoong seorang laki laki.

Changmin menoleh kebelakang, dimana Jaejoong masihlah setia mengejarnya dengan langkah yang Changmin akui cukup cepat. Pemuda itu menjulurkan lidah dan menunduk melihat sepatu Jaejoong melayang kearahnya.

"Waow Jongie,,," Keduanya berhenti untuk menatap horor ke arah mobil mewah yang baru saja mendapat ciuman sayang sepatu Jaejoong.

Oh,Tuhan. Keduanya menatap satu sama lain sebelum berlari menghampiri mobil dan menunduk untuk memeriksa goresan yang di akibatkan sepatu mahal Jaejoong pada sisi pintu depan mobil mewah tersebut. "Tamatlah riwayat kita."

.

.

.

*

"Hi Dude, angin apa yang membawamu kesini? Angin topan atau angin beliung?" Keduanya berjabat tangan khas dua sahabat lama yang kelewat akrab.

Park Yoochun, actor, model, musisi serta penyanyi. Pria Casanova tampan yang mendapat predikat Playboy dari penggemarnya karena mengencani banyak gadis baik dari berbagai jenis. Terutama sesama Aktris.

"Sudah lama kita tidak keluar bersama, bahkan untuk makan siang bersama pun sulit sejak kau menjadi actor besar beberapa tahun terakhir, tidak ada salahnya jika aku datang mengundangmu untuk makan malam bersama bukan?"

Pria yang memiliki kening lebar di atas rata rata itu mendengus mendengar ocehan sahabat terbaiknya itu. "Kau yang selalu sibuk dengan sarang laba laba di komputermu, pak tua."

Keduanya tertawa bersamaan. Kehangatan serta keakraban datang begitu saja. Sudah sangat lama Yunho tidak merasakan selega dan tertawa seperti saat ini. Hanya Yoochun yang mampu membuatnya tertawa serta terhibur, karena hanya pria Casanova inilah yang mendekatinya tanpa memiliki maksud tertentu.

"Jadi, mau makan malam bersama?"

"Masih terlalu sore untuk itu, tetapi baiklah." Melirik jam tangan mahal miliknya, Yoochun melayangkan tatapan kesekeliling. "Masih ada waktu sepuluh menit sebelum jam pulang," pria itu tersenyum memperlihatkan giginya. "Tetapi aku ingin ikut denganmu, sungguh jarang kau datang mencariku kecuali memiliki alasan khusus. Dan aku rasa kita membutuhkan privasi untuk itu."

Berdiri dari duduknya, pria itu melihat seseorang yang di carinya. "Tunggu aku di mobil, aku harus meminta ijin kepada manager cantikku terlebih dulu atau dia akan marah dan berdakwah layaknya penyebar keagamaan sampai telingaku panas karena menghilang tiba tiba." ikut berdiri, Yunho mengangguk untuk menunggu sahabat baiknya itu di dalam mobil miliknya yang ia parkir asal tidak jauh dari lokasi syuting di sisi jalan raya.

Belum beberapa lama ia duduk dan mengeluarkan Handphon untuk membatalkan acara malam ini dengan para kolega saat telinganya mendengar suara benda menghantam sesuatu sebelum ia menyadari benda itu menghantam pintu Mobilnya sendiri.

Tangan Yunho sudah akan membuka kaca hitam pintu mobil saat dua remaja berhambur ke sisi mobil sebelah kiri dan menunduk. Ia menarik kembali tanganya. Terdengar gumaman mereka berdua dan Yunho menahan tawa saat keduanya menyalahkan satu sama lain dengan ejekan ejekan konyol seperti yang ia dan Yoochun lakukan dulu. Kenangan masa Muda memanglah indah, dimana kau hanya perlu memikirkan bermain dan belajar tanpa perlu berpikir tentang rumitnya kehidupan.

Mendekat kearah kaca ia berniat melihat kedua pemuda itu sebelum di kejutkan oleh wajah seseorang yang tiba tiba muncul di sisi kaca yang sama. Karena terkejut Yunho mundur dan kehilangan keseimbangan sampai punggungnya membentur pembatas jok di tengah mobil.

Wajah pemuda itu menempel di kaca dengan sempurna sampai hidung dan bibir pemuda itu membentuk sesuatu gambaran yang konyol. Detik berikutnya pemuda itu mundur dan Yunho berhenti tertawa saat melihat wajah pemuda itu dengan jelas.

Dirinya tidak yakin berapa lama jantungnya berhenti, atau bahkan paru parunya menolak di aliri udara. Pemuda itu Kim Jaejoong, menatap kaca yang tentunya tidak akan bisa membuat pemuda itu melihat bagian dalam mobil Yunho. Shim Changmin muncul di sebelah Jaejoong dan melakukan hal yang sama.

"Tidak ada orang di dalam." Itu suara Jaejoong.

"Tidak terlihat apa apa di dalam sana."

Dengan wajah tanpa dosa Jaejoong mengutarakan ide yang menurut pemuda itu ide terbagus di antara semua ide."Bagaimana kalau kita pergi, tidak ada orang yang melihat. Kita juga tidak tahu kapan pemiliknya akan datang."

Menatap sahabatnya galak, Changmin mendorong kening Jaejoong keras. "Kau mau lari dari tanggung jawab?" Telapan tangan Jaejoong mengusap keningnya sambil mengerucutkan bibir. Tanpa menyadari adanya mata lain yang memperhatikan bibir plum mungilnya yang bergerak gerak lucu dari dalam mobil.

"Apa yang kau lakukan disini anak nakal?"

Keduanya mendelik horor. Changmin dan Jaejoong menengok kearah suara yang menyapa mereka, atau lebih tepatnya mengejutkan mereka. Keduanya berpelukan dramatis seakan melihat hantu di sore hari.

"Berhenti bersikap over, katakan padaku apa yang kalian lakukan? Bukanya pulang setelah sekolah selesai." Mata Yoochun memperhatikan keduanya dari atas kebawah. "Kalian belum ganti pakaian, apa kalian ingin di tangkap pokisi karena keluyuran memakai seragam di malam hari."

Jaejoong mendorong tubuh Changmin yang memeluk tubuhnya menjauh. "Ini masih sore." ia membela diri.

"Hampir jam enam." Yoochun berkata sambil meliri jam tangan miliknya.

"Kami akan pergi tetapi..." Keduanya saling melirik satu sama lain. "Kami melakukan kesalahan." Jaejoong berkata takut takut.

Kerutan di kening Yoochun semakin terlihat nyata memperhatikan keponakan nakalnya dan teman setia bocah nakal itu, Kim Jaejoong.

Yoochun mengenal baik mereka berdua dan tidak heran jika mereka membuat masalah dimanapun mereka berada. Yoochun akan lebih terkejut jika keduanya tidak melakukan kesalahan apapun selama sehari penuh. "Dan kesalahan apa yang kalian lakukan?"

Hening. Tidak ada yang berkata untuk beberapa saat. Keduanya saling menyenggol satu sama lain dan mulai berbisik bisik tidak jelas sampai membuat kesabaran Yoochun menipis. "Katakan atau aku..." suara Yunho menyahut dari dalam mobil, tentu saja setelah membuka jendela kaca mobil bagian depan. "Mereka hanya menyapa mobilku menggunakan sepatu mereka."

Karena terhalang oleh tubuh Changmin, Jaejoong harus memiringkan kepala dengan sedikit membungkuk untuk melihat suara seseorang yang menyahut entah dari mana. Mata Doe miliknya mendelik lebar melihat mobil yang ia gores ternyata berpenghuni. "Omo, bagaimana ini chwang." ia berbisik.

Changmin sama terkejutnya sebagaimana Jaejoong terkejut sampai tidak merasakan sodokan siku Jaejoong pada pinggangnya, atau lebih tepat mengabaikan Jaejoong yang mulai menarik narik seragam miliknya.

"Apa yang mereka lakukan terhadap mobil barumu, Waow Ferrari 458.'' Kekehan Yoochun membuat Jaejoong ngeri.

Demi Tuhan, Jaejoong tahu harga mobil sport itu berkat Song Jessica, wanita cantik yang kakak keduanya itu juga menginginkan mobil tersebut namun di tolak oleh Song Il Gook karena tidak baik seorang wanita mengendarai mobil seperti itu. Ya Tuhan, harganya sangatlah mahal.

Menghela nafas ia melirik goresan ringan pada pintu mobil. "Maafkan Jongie, Jongie tidak sengaja menggores mobil anda." ia berkata.

Yoochun memperhatikan Jaejoong yang menunduk dan memperhatikan goresan pada pintu mobil. "Ya Tuhan, kau yang melakukanya?" Jitakan pada kepala Jaejoong membuat pemuda itu menjerit seperti wanita centil.

"Anak nakal."

Changmin mendelik kearah Yoochun yang berani menyakiti teman baiknya. "Jongie sudah minta maaf, lagi pula bukan mobil Samcon yang lecet. Tetapi mobil Paman itu." Yoochun membekap mulut sang keponakan badungnya. "Jangan panggil aku samcon, panggil aku Hyung anak nakal."

"Tidak akan!" suara Changmin tersamarkan oleh tangan Yoochun yang betah membekap mulut pemuda tersebut.

Dalam diam Yunho memperhatikan Jaejoong yang juga sedang memperhatikanya. Apakah pemuda itu mengingat bahwa mereka pernah bertemu?

Maju beberapa langkag. Jaejoong membungkuk minta maaf. "Maafkan aku Hyung nim." ia berkata lirih.

"Tidak adil." Yoochun berteriak. "Yunho dan aku lahir di tahun yang sama dan kau memanggilku Samcon Jaejoongie." Jaejoong mengabaikan grutuan Yoochun untuk kembali membungkuk. "Aku minta maaf, Jongie benar benar tidak sengaja."

Lampu jalanan menyala, menyinari wajah Yunho yang tadinya temaram di dalam mobil yang gelap. Doe milik pemuda tersebut sedikit membelalak kemudian memicing, "Kau paman yang kemarin bukan?" Teriak histeris Jaejoong setelah mengenali siapa pria yang masih betah duduk di dalam sana.

Yoochun dan Changmin berhenti berdebat untuk melontarkan pertanyaan yang sama kepada Jaejoong. "Kau mengenalnya Jongie?"

Poni Jaejoong bergoyang saat kepala pemuda itu mengangguk untuk kemudian menggelang.

"Yang benar yang mana?" Geram changmin gemas.

"Aku melihatnya kemarin di Moldir, tetapi tidak tahu nama paman itu." Tawa Yoochun membuat kebahagiaan serta semangat yang tadi Yunho rasakan luntur sudah. Pria dengan jidat lebar itu pasti menertawakan apa yang mengganggunya.

"Senang mendengar kau memanggilnya paman Jaejongie." Benar bukan! seperti yang Yunho pikirkan.

Jawaban Yunho atas permintaan maaf Jaejoong membuat mereka semua terkejut. Mata bulat pemuda itu mengerjap cepat dan memiringkan kepalanya lucu. "Apa yang Paman katakan?" Jaejoong kembali bertanya, mungkin saja ia salah dengar.

"Aku tidak mau mereka mengganggu kita. Kau belum tahu betapa nakalnya mereka." Sahut Yoochun. Hal terakhir yang diinginkanya adalah melihat sang ponakan dan teman badungnya di sekitar Yoochun atau ia akan dipermalukan Changmin seperti pada beberapa waktu lalu saat mereka makam malam di restoran ternama dengan banyaknya wanita cantik di sekeliling mereka.

Yunho mengabaikan sahabat terbaiknya dan kembali berkata untuj meyakinkan Jaejoong. "Makan malam bersama maka aku akan menganggao giresan yang kau buat sebagai kenang kenangan perkenalan kita."

Ya Tuhan, Yoochun menggeram. Yunho pasti sudah gila ataukah pria itu salah minum obat pagi tadi?

"Tentu." Jaejoong semakin mendelik kearah Changmin, karena pria itulah yang menjawab pertanyaan Yunho. "Dengan senang hati Yunho Hyung." tambah Changmin.

Kedua tangan Jaejoong bergoyang kesana kemari dengan cepat. "Jongie tidak bisa, Jongie harus pulang atau Paman Song akan mencari Jongie. Juga, Jongie harus memberi makan anak anak Jongie," ia menggeleng.

Musang Yunho mengerjap. "Anak anak?"

"Maksud Jongie hewan hewan piaraan Jongie." Jaejoong menjelaskan, pemuda itu memasang wajah memelas dan menatap Yunho penuh harap.

Astaga, Jaejoong tidak perlu memperlihatkan wajah seperti itu karena Yunho sudah akan mengiyakan apapun yang pemuda itu inginkan. "Lain kali." Janji yang Jaejoong ucapkan membuat semangat dalam diri Yunho kembali berkobar. "Lain kali Jongie akan menraktir Paman makan, tapi tidak hari ini."

"Meneraktir? Kau bahkan belum pernah meneraktirku, kucing nakal."

"Diamlah Chwang."

"Tidak sampai kau juga mengajakku."

Mata Doe Jaejoong melirik Changmin sadis namu ia mengangguk. "Baiklah." Yunho mengulum senyum melihat Jaejoong menghela nafas panjang.

Yunho kembali berkata sesuatu yang membuat Yoochun juga Changmin terkejut bukan kepalang. "Tapi ku harap kau tidak menolak jika aku mengusulkan untuk mengantarmu pulang." Astaga Yoochun tidak meragukan bahwa Yunho sudah mukai tidak waras.

Dengan tatapan menyelidik Yoochun masuk ke sisi lain mobil tanpa perlu ijin terlebih dahulu. Senyum Yunho mengisyaratkan sesuatu yang sungguh membuatnya merasa konyol. Ya Tuhan, apa yang di pikirkan Jung Yunho saat ini? Pria yang terkenal dingin itu tersenyum penuh arti saat mencuri pandang pemuda yang saat ini masuk kedalam Mobil Yunho di belakang.

~TBC~