Dikirim, ke Dunia Lain?
Genre : Fantasy, Adventure
Rating : T/M
Pair : ? (ada saran?)
Warning : strong naruto, white hair, terinspirasi dari game Assassin Creed dan beberapa anime, beberapa karakter diambil dari berbagai anime, Alternative Universe bersetting seperti tahun 1870-an dengan unsur fantasy.
Chapter 4
Gurun pasir, apa yang ada di pikiran kalian saat mendengar kata tersebut. Ya sesuai namanya, suatu tempat bercuaca ekstrim yang dipenuhi hamparan pasir sejauh mata memandang dan pegunungan ataupun perbukitan batuan gersang, juga terdapat beberapa jenis tumbuhan yang hidup di gurun pasir walaupun tidak banyak.
"hahh... hahh... hahh..." Mai terus menarik nafas melalui hidung dan hembuskannya melalui mulut, terlihat pula peluh yang membasashi wajah cantiknya dan bahkan lengkuk tubuhnya yang indah cukup terlihat sebab keringat yang membanjiri hampir di setiap bagian tubuh sedikit membasahi pakaiannya, laki-laki mana pun pasti akan tergoda jika melihat Mai seperti itu.
Tapi tidak dengan Itachi yang melangkah di samping Mai, Itachi tidak peduli dengan pemandangan indah di sampingnya yang cukup menggugah hawa nafsu tersebut, karena hatinya telah sepenuhnya menjadi milik Kurousagi dan ia tidak akan menghianati cinta tulus dari seorang wanita yang mencintainya dengan melirik wanita lain.
"panas sekali..." gumam pelan Mai yang mengibas-kibaskan telapak tangan ke arah dirinya sendiri, berharap usaha tersebut dapat mendatangakan angin sejuk menerpa dirinya.
Itachi yang sempat mendengar gumaman dari Mai, menoleh sekilas sebelum pandangannya kembali ke depan "nona Mai, apakah anda ingin istirahat sejenak?" tawarnya sopan, Itachi tau jika gadis bangsawan yang berjalan di sampingnya itu tengah kelelahan.
Mendengar tawaran tersebut, sontak Mai mengalihkan perhatiannya kepada Itachi "tidak, aku masih cukup kuat melanjutkan perjalanan, juga aku tidak mau menjadi penghambat bagi kalian dalam perjalanan ini"
"jangan sungkan nona Mai. Kita bisa istirahat dulu sejenak"
Mai menggeleng pelan "nanti saja" tukasnya, kemudian pandangannya tertuju ke depan dimana terlihat Naruto yang berjalan santai dalam diam 2 meter di depan mereka "Aku sudah mulai terbiasa berjalan jauh semenjak bepergian bersama Naruto" sambungnya dengan senyum tipis yang terpatri di wajah cantiknya.
Itachi juga memandang ke arah Naruto dengan wajah netralnya, jika diperhatikan namapak keringat sebesar biji jagung di pipinya 'ya ampun Naruto, kau membuat seorang bangsawan tinggi seperti nona Mai menempuh perjalanan panjang hampir tanpa istirahat seperti kuda. Jika Kurousagi-san tau...' batinnya dalam hati.
Merasa diperhatikan, Naruto menghentikan langkah dan menoleh menghadap Mai dan Itachi yang juga menghentikan langkah mereka "jika kalian lelah kita bisa istirahat" ujar Naruto netral.
"tidak apa-apa, lanjutkan saja. Aku masih sanggu-"
"aku bisa bepergian dengan jalan kaki selama seharian, tapi tidak dengan mu"
Mai tidak dapat melanjutkan ucapannya karena disela oleh Naruto. Itachi merasa was-was melihat Naruto berani menyela ucapan Mai barusan, Itachi khawatir jika gadis bangsawan itu tidak terima atas perlakuan Naruto barusan.
Kekhawatiran Itachi lenyap melihat Mai hanya diam mengatupkan kembali bibirnya tanpa ada tanda-tanda tersinggung dari gadis tersebut. Nafas lega dapat Itachi hembuskan.
"kau butuh istirahat. Jangan paksakan diri mu sendiri, lagi pula kau itu seorang perempuan" sambung Naruto yang kemudian pemuda itu melangkah ke salah satu batu berukuran sedang dan duduk di atasnya. Kebetulan di sekitar mereka terdapat bebatuan besar yang dapat digunakan untuk duduk dan beberapa pepohonan yang tidak terlalu rindang tumbuh di sekitar sana, tempat yang cocok untuk mengistirahatkan tubuh dan berteduh.
"benar apa kata Naruto. Sebaiknya kita beristirahat sejenak dahulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kita masih lumayan jauh" ucap Itachi yang kemudian mendudukan dirinya di salah satu batu besar.
Mai hanya diam menuruti apa kata Naruto dan Itachi, dalam diam Mai mendudukan dirinya di salah satu batu yang di sampingnya ditumubuhi sebuah pohon yang tidak terlalu rindang namun terlihat cukup teduh.
"Mai"
Mai mengalihkan perhatiannya kepada Naruto dan saat itu juga dengan sigap ia menangkap sebuah botol berisi air putih yang dilemparkan Naruto, hampir saja botol tersebut menghantam dirinya jika bukan kesigapannya menangkap botol tersebut.
"terimakasih. Bagaimana dengan mu, Naruto?"
"aku sudah minum" jawab Naruto singkat dan kembali menundukan kepala dalam posisi duduk di atas batu dan bersedekap dada, wajahnya semakin tak terlihat karena kerudung yang pemuda itu kenakan. Ia mulai tidur dalam posisinya...
Mendengar jawaban Naruto, Mai langsung menyesap air dalam botol tersebut dengan khikmat, tidak sadar jika ia meminum air tersebut hingga tetas terakhir.
"ahh~ segarnya~" gumam Mai merasakan tenggorokannya serasa segar kembali dibasahi oleh air putih yang sangat menyegarkan. Sejenak melihat botol kosong di genggangamanya, Mai mulai menyadari sesuatu "ya ampun?!" gadis itu sadar akan sesuatu. Dan tunggu dulu, sepertinya ini pernah terjadi sebelumnya.
Perlahan namun pasti, wajah Mai mulai dihiasi rona merah menyadari apa yang telah terjadi.
Dengan senyum kikuk, Itachi memandang secara bergantian Mai yang tengah memerah padam dan Naruto yang tertidur dalam posisi duduk bersedekap 'ciuman secara tak langsung kah...' batin Itachi yang mengetahui apa yang telah terjadi pada Mai.
Itachi meminum sebotol air putih yang ia munculkan dari sihir penyimpanannya, ia tidak akan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, biarlah apa yang akan terjadi pada dua insan di depannya itu.
Mai curi-curi pandang melirik Naruto yang masih duduk diam bersedekap (tidur) tak jauh di sampingnya, gadis itu mencoba melihat wajah Naruto lebih jelas, namun karena kerudung yang Naruto kenakan sehingga wajahnya hanya terlihat sebatas hidung sampai leher jika di lihat dari depan, jika dari samping hanya terlihat hidung mancung dan pipinya.
Tetapi karena itu pula yang membuat Mai semakin penasaran dengan wajah Naruto jika terlihat jelas. Jujur selama bersama Naruto, Mai berlum pernah melihat secara jelas wajah Naruto karena hampir setiap saat pemuda itu mengenakan kerudung jubahnya.
Kesempatan melihat wajah Naruto hanya saat pemuda itu sedang tidur atau mandi.
Tapi Mai tidak bisa melakukannya dalam kedua kesempatan tersebut karena...
Naruto selalu tidur dalam posisi duduk bersandar dengan kerudung jubah yang selalu dikenakan. Saat itu Mai ingin menyingkap kerudung yang dikenakan Naruto tapi dirinya merasa tidak enak dengan pemuda itu jadi ia urungkan. Saat menginap di penginapan, mereka berada di kamar yang berbeda, tidak mungkin ia menyelinap ke kamar Naruto untuk melihat wajahnya.
Dan kesempatan kedua yaitu saat Naruto sedang mandi, tapi yang kedua ini tidak mungkin Mai mengambil kesempatan itu dan mengintip, ia bisa dianggap sebagai orang mesum. Naruto saja tidak pernah mengintipnya saat mandi jadi ia merasa tidak sepantasnya jika harus mengintip Naruto sedang mandi, dan jika sampai ia melihat pusaka milik pemuda itu bisa gawat nanti.
Ia sangat penasaran seperti apa sebenarnya wajah Naruto itu sebenarnya. Jika hanya melihatnya sebatas hidung sampai leher hanya akan membuat rasa penasarannya semakin besar.
Mai dapat merasakan wajahnya semakin memanas saat membayangkan seperti apa wajah Naruto.
Dengan lekat Mai memandangi area wajah Naruto dan tanpa sadar dirinya tergerak mendekati Naruto. Dekat dan semakin dekat gadis itu berusaha melihat wajah Naruto yang tertunduk.
"ada yang datang"
Seketika Mai tersentak dan reflek mengambil 1 langkah mundur saat tiba-tiba Naruto membuka suaranya.
Naruto bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandang ke berbagai arah dengan penuh kesiagaan, mencoba untuk mencari keberadaan beberapa orang yang mendekati posisi mereka.
Begitupun juga dengan Itachi yang bersiaga dengan 2 buah pedang pendek yang ia pegang secara terbalik dan pandangan mengoreksi ke area sekitarnya.
Mai yang melihat kesiagaan Itachi dan Naruto, tanpa pikir panjang menarik pedang pendek miliknya dan mengambil posisi siaga, diam dan memejamkan mata berusaha mendeteksi mana atau aura yang dipancarkan tamu tak diundang namun hasilnya nihil, Mai sama sekali tidak merasakan mana maupun aura dari orang-orang yang mendekat.
Mai hanya bisa merasakan aliran mana milik Itachi saja bahkan ia sama sekali tidak merasakan aliran mana dari diri Naruto sedikitpun. Mungkinkah para tamu tak diundang ini tidak memiliki kekuatan sihir seperti Naruto?
Dari balik bayangan kerudung jubahnya, mata milik Naruto mengerling ke segala arah mengamati daerah sekitar, indra pengelihatannya yang memiliki pengelihatan cukup tajam berusaha mencari pergerakan sekecil apapun.
Naruto dapat merasakan ada beberapa orang yang mendekat tapi indra pengelihatannya belum menemukan keberadaan mereka, ia pun memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi.
Dirinya tidak berusaha mendeteksi aliran mana seperti yang dilakukan Mai, tetapi ia menggunakan indra keenam miliknya... Eagle Vision, indra keenam yang dimiliki para BrotherHood dan keturunanannya.
Berhasil, Naruto merasakan kehadiran 3 sosok yang mendekat dari arah yang berbeda, dan salah satu dari ketiga sosok tersebut berada kurang lebih 2 meter di belakangnya.
Slik!
Hidden Blade di protektor tangan kiri Naruto menunjukan bilah tajam nan mengkilap, tinggal menunggu waktu bagi sosok tersebut semakin mendekat dan masuk ke dalam jangkuan Naruto.
Merasa sosok tersebut semakin dekat di belakangnya, Naruto membuka kelopak matanya dan langsung memutar tubuhnya ke belakang dan bersamaan menghunuskan Hidden Blade miliknya ke arah sosok tersebut.
Namun seketika Naruto menghentikan niatnya, ujung runcing Hidden Blade berhenti beberapa senti hampir menyentuh leher sosok yang berdiri di hadapannya tersebut. Ia sangat mengenal sosok tersebut.
Sosok itu menunjukan senyum ramah kepada Naruto, tidak peduli dengan Hidden Blade yang hampir menikam lehernya.
"haluu adiku Naruto!"
.
.
.
.
.
.
.
Di lain tempat...
"cerahnya cuaca hari ini" gumam Kurousagi memandang cerahnya langit biru yang membentang luas di atas luasnya padang rumput yang hijau bagaikan permadani.
Perempuan itu melangkahkan kaki jenjangnya menyusuri jalan setapak dengan langkah santai sembari mengamati pemandangan di sekitarnya.
Hembusan angin sesekali menerpa dirinya sehingga rambut birunya yang indah dan ujung roknya melambai-lambai pelan seperti lambaian rumput di sekitar yang terhembus angin.
Sungguh indah pemandang di sekitarnya ini, ingin rasanya ia mengajak Menma, Naruto, dan Kekasihnya, Itachi, piknik di padang rumput yang indah tersebut.
Sesuatu mengingatkannya... Kurousagi tersenyum miris mengingat saat ini tengah terjadi peperangan di wilayah Elemental Nation, pikiran tentang piknik bersama orang-orang yang ia sayangi harus ia tepis jauh-jauh.
Kurousagi memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa dirinya.
"hahh... seandainya peperangan tidak terjadi- ?!"
Kurousagi langsung membuka kedua matanya saat merasakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di sekitarnya.
Dan benar, rerumputan tampak kaku dalam posisi melambai, burung-burung yang berterbangan membeku di udara dalam kondisi mengepakan sayap mereka.
Mata beriris indah milik Kurousagi mulai melebar melihat keadaan tersebut, apa yang sedang terjadi? Keadaan ini seperti waktu telah berhenti tapi tidak untuk dirinya.
Kurousagi mengedarkan pandang ke segala arah mengamati fenomena yang terjadi di sekitarnya tersebut, dan tidak jauh di garis pandanganannya, ia melihat seorang perempuan cantik nan anggun berambut putih keperakan tengah berdiri tidak jauh di depannya.
Perempua Warbeast itu langsung mengambil posisi siaga siap bertarung melihat kehadiran perempuan yang sebelumnya tidak ia rasakan tersebut dan muncul begitu saja di garis pandangannya.
Perempuan berambut panjang berwarna putih keperakan itu hanya tersenyum ramah melihat kesiagaan yang ditunjukan Kurousagi.
"terimakasih telah merawat kedua putraku"
Kurousagi terdiam dengan salah satu alisnya terangkat mendengar ucapan perempuan tersebut, ia bingung akan maksud dari ucapan perempuan cantik layaknya bidadari itu, berterimakasih telah merawat kedua putranya?
Melihat Kurousagi yang tampak kebingungan atas ucapan terimakasihnya, perempuan berambut putih keperakan itu kembali membuka suara "bukankah kau ibu angkat Menma dan Naruto?"
Kurousagi tertegun mendengar 2 nama dari kedua anak angkatnya dari perempuan asing di depannya itu yang membuatnya semakin waspada. Bagaimana orang itu tau tentang kedua anak angkatnya?
"siapa kau? Dan bagaimana kau tau tentang kedua putra angkat ku?" tanya Kurousagi dengan mata memicing tajam dan posisi siap kuda-kuda bertarung miliknya, bahkan tombak Indra berwarna keemasan yang menguarkan aura kemasan yang cukup mengerikan sudah berada dalam genggaman perempuan Warbeast tersebut.
Ekspresi ramah masih perempuan berambut putih keperakan itu tunjukan seakan dirinya tidak terpengaruh oleh tatapan tajam syarat akan itimidasi yang kuat dari Kurousagi.
"siapa aku? Aku bukanlah siapa-siapa. Dan bagaimana aku mengetahui Nama kedua putra angkatmu, itu karena aku yang memberi mereka nama"
Kedua mata Kurousagi menyipit, otak miliknya berkerja mencerna ucapan yang dilontarkan perempuan di depannya itu. Jika benar apa yang ia pikirkan dalam kepalanya, perempuan di depannya itu memiliki hubungan dengan Menma dan Naruto.
"sekali lagi kuucapkan terimakasih pada mu yang telah merawat mereka"
Kurousagi yang terlarut dalam pikirannya seketika tersadar dan kembali memandang perempuan di depannya, yang mana perlahan tubuh bagian bawah perempuan itu mulai terurai menjadi partikel-partikel cahaya.
"tu-tunggu!"
"akhirnya Menma dan Naruto menemukan sosok yang bisa mereka sebut sebagai ibu..."
Ucap perempuan berambut putih keperakan yang belum diketahui namanya itu sebelum dirinya terurai menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang sepenuhnya, meninggalkan Kurousagi yang tertegun di tempat bersamaan fenomena berhentinya waktu sekarang telah kembali normal.
Perempuan itu menghilang, pergi begitu saja meninggalkan Kurousagi di tengah luasnya hamparan padang rumput yang bergoyang lembut diterpa hembusan angin di siang hari.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke laptop...
Namun seketika Naruto menghentikan niatnya, ujung runcing Hidden Blade berhenti beberapa senti hampir menyentuh leher sosok yang berdiri di hadapannya tersebut. Ia sangat mengenal sosok tersebut.
Sosok itu menunjukan senyum ramah kepada Naruto, tidak peduli dengan Hidden Blade yang hampir menikam lehernya.
"haluu adiku Naruto!"
Di hadapan Naruto saat ini berdiri sosok Menma yang tengah tersenyum lebar sembari mengangkat kedua tangannya ke atas, terlihat juga keringat dingin yang mengalir di pelipisnya.
Penyebabnya adalah bilah tajam Hidden Blade yang hanya berjarak beberapa centi dengan lehernya dan kurang sedikit lagi akan menggores leher milik pemuda berambut hitam jabrik keturunan Ninja tersebut.
Naruto kembali menarik Hidden Bladenya "nii-san. Tak kusangka itu dirimu" ujarnya netral.
Menma mendengus mendengar nada bicara Naruto "tenang sekali nada bicara mu setelah hampir menikam leher kakak mu ini, wahai adiku yang dungu, Naruto"
"itu salah mu sendiri, seharusnya kau tidak mengendap-ngendap dari belakang tadi" tukas Naruto dengan nada yang masih netral tanpa emosi.
Benar apa kata Naruto, itu juga termasuk salah Menma sendiri yang mengendap-endap dari belakang berniat mengejutkan adiknya tersebut, dirinya lupa jika adiknya itu memiliki insting yang tajam menyamai dirinya sehingga menyadari keberadaannya.
"hahaha aku yang salah, maaf ya" Menma meminta maaf pada Naruto dengan tawa kikuk yang hanya ditatap dalam diam oleh adiknya tersebut, ditambah kerudung jubah yang Naruto kenakan membuat Menma tidak dapat menebak ekspresi yang ditunjukan Naruto saat ini.
Sedetik kemudian senyum tipis Naruto tunjukan membuat Menma dapat bernafas lega melihatnya.
Menma dan Naruto saling bercakap tanpa memperdulikan atau lebih tepatnya lupa akan keberadaan Itachi dan Mai yang diam memandang interaksi antara kakak dan adik tersebut.
"kau mengenal mereka?" ujar Naruto yang pandangannya tertuju ke arah belakang Menma, Menma mengikuti arah pandang Naruto dimana terlihat Oga dan Yamada berjalan ke arah mereka.
"ya, mereka teman-teman ku" jawab Menma yang kemudian memperkenalkan Oga dan Yamada kepada Naruto.
"senang bertemu dengan kalian" ujar Naruto berjabat tangan dengan Yamada dan Oga secara bergantian.
"aku seperti pernah melihat mu, kau pemuda yang ikut bertempur di depan gerbang desa Konoha dan menghentikan Uchiha Sassuke saat pertemuan di balai desa itu bukan?" ujar Yamada setelah mengamati sosok Naruto dengan lebih teliti. Naruto mengangguk kecil sebagai jawaban 'iya'.
"menghentikan Sasuke?" beo Itachi yang membuat perhatian keempat pemuda tersebut tertuju padanya, mereka baru menyadari jika ternyata sosok Uchiha Itachi bersama mereka sedari tadi.
"woahh... Itachi-san, ternyata kau bersama Naruto? Maaf tidak menyadari keberadaan mu" ujar Menma yang disertai dengan cengiran khas miliknya.
"Menma, apa yang sudah dilakukan Sasuke selama aku pergi" tanya Itachi dengan nada serius dan tatapan menuntut jawaban, membuat Menma salah tingkah melihat tatapan yang ditunjukan kekasih ibu angkatnya itu.
"Maaf Itachi-san, aku harus melakukannya karena jika tidak ia akan membuat seseorang terluka saat pertemuan waktu itu" bukan Menma yang menjawab, melainkan Naruto yang menjawab dengan nada yang terdengar netral tanpa emosi di dalamnya.
Naruto sudah tau dari Kurousagi jika Uchiha Sasuke itu adalah adik dari Uchiha Itachi, kekasih ibu angkatnya.
Mendengar jawaban Naruto, Itachi menghela nafasnya "si arogan itu pasti berulah lagi. Aku mohon maaf atas apa yang dilakukan adikku, ia pasti merendahkan seseorang lagi karena sifat arogannya itu"
"kau tidak perlu meminta maaf Itachi-san, sebagian besar itu salah Menma-nii yang menyulut emosinya"
Bukannya tersinggung akan sindiran Naruto, Menma malah membusungkan dadanya dengan bangga "itu memang betul, aku sengaja menyulut emosinya karena ya... memang dia yang memulainya dulu. Ekspresinya waktu itu sungguh menghibur"
Yamada mengangguk-anggukan kepalanya memahami perkataan Menma, Itachi tersenyum kikuk mendengar penuturan pemuda keturunan Ninja tersebut, sedangkan Naruto hanya diam tanpa sekatah kata.
"lalu kalian mau ke mana?" Menma kembali berucap.
"kami akan pergi ke Suna untuk menemui Kazekage" jawab Itachi.
Mendengar jawaban dari Itachi, Menma memejamkan mata dan mengelus dagunya "hmm... Suna ya, kebetulan kami juga ingin ke sana. Bagaimana jika kita pergi bersama?"
"ide yang bagus" tukas Itachi yang disetujui Naruto dengan anggukan kecil, sedangkan Yamada hanya tersenyum lebar, kebetulan sekali mereka juga mempunyai tujuan yang sama.
"tunggu sebentar..." ujar Oga tiba-tiba yang sukses mendapatkan perhatian dari Menma, Yamada, Itachi, dan Naruto "ini memang benar, atau pengelihatanku yang salah jika aku melihat nona Kawakami Mai sedang berdiri di sana?" sambungnya sembari menunjuk ke arah Mai yang berdiri tidak jauh di dekat mereka. Dapat dilihat gadis itu menunjukan senyum kikuk saat semua perhatian tertuju kepadanya.
Yamada, dan Menma diikuti Oga mengerjapkan mata beberapa kali berusaha menerima kenyataan bahwa Kawakami Mai benar-benar ada di hadapan mereka saat itu juga, memperhatikan dengan teliti sosok Mai dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan seketika mata mereka berhenti berkedip dan mulai melebar dengan perlahan menyadari kenyataan yang benar adanya.
""INI BUKAN ILUSI?! INI KENYATAAN!""
Menma dan Yamada melompat tinggi ke udara dan berakrobat indah beberapa saat sebelum kemudian mendarat dalam posisi berlutut layaknya seorang kesatria terhormat, Oga hanya cengo melihat aksi kedua temannya sebelum kemudian ikut berlutut.
""NONA MAI, MAAF ATAS KEBODOHAN KAMI YANG TIDAK MENYADARI KEHADIRAN ANDA!""
Seru mereka dengan kompak, ralat hanya Menma dan Yamada yang berseru tidak dengan Oga yang hanya diam menundukan kepala.
Itachi tidak berkedip menyaksikan aksi ketiga pemuda tersebut, sedangkan Naruto... ekspresi netral masih ia tunjukan, dalam hati ia terkejut melihat aksi kakak dan teman-temannya, sebegitu tinggikah kedudukan gadis yang tidak sengaja ia selamatkan itu?
"ti-tidak apa-apa, kalian tidak perlu berlutut seperti itu, berdirilah" ucap Mai dengan nada gugup dan senyum kikuk yang berhasil membuat 3 pemuda di depannya kembali menegakan badan mereka.
"maaf nona Mai, kami terkejut melihat anda ada di sini, karena menurut informasi yang beredar anda telah diculik oleh bangsa Elf. Lalu bagaimana anda bisa berada di sini bersama Itachi-san dan Naruto?" ujar Menma mewakili ketiga temannya.
Terlihat jelas rasa penasaran yang tinggi terpancar dari tatapan Menma, Oga, dan Yamada mengenai sebab Mai yang bisa berada di gurun gersang tersebut. Begitu pun dengan Itachi yang tidak tahu dengan pasti kronologis Mai bisa bersama Naruto.
Melihat tatapan-tapan penuh penasaran dari para pemuda di depannya, Mai menarik nafas sejenak sebelum kemudian mulai bercerita bagaimana dirinya bisa bersama Naruto dan Itachi...
Mai bercerita dari pertama dirinya bertemu Naruto sampai bertemu dengan Itachi dan akhirnya bertemu dengan mereka bertiga (Oga, Yamada, dan Menma).
Berbagai ekspresi ditunjukan oleh para pemuda di depannya setelah mendengar ceritanya. Ada beberapa bagian dari cerita Mai yang membuat mereka kagum tapi ada pula yang...
"tidak sengaja menyelamatkan"
"tidak peduli"
"hampir meninggalkannya"
"tidak menghormati"
"tidak mengenal walapun hampir 1 bulan pergi bersama"
Gumaman tidak percaya meluncur dari mulut Yamada dan Menma, yang bahkan aura suram menguar dari diri mereka berdua. Mereka saling pandang sebelum kemudian memandang Naruto dengan mata yang berkilat tajam secara bersamaan. Kecuali Itachi yang hanya diam.
""dan yang paling parah... membuat gadis secantik nona Mai memakai pakaian yang cukup terbuka?!""
Ujar mereka kompak dengan ekspresi sinis masing-masing yang mereka tunjukan, terlihat pula mata mereka yang berkilat tajam memandang diri Naruto yang hanya diam di tempat. Itachi dan Oga hanya bisa diam dan menepuk dahinya melihat tingkah kedua pemuda tersebut 'ya ampun...'
"Bu-bukan, bukan seperti itu, kalian salah paham?!" ujar Mai kikuk dan melambai-lambaikan tangannya sebagai penegas tanda jika kedua pemuda di depannya salah paham.
"oh baiklah jika begitu" respon cepat tiba-tiba Menma tunjukan menyebabkan Yamada langsung terkejut tak percaya.
"hoi!? Apa maksudnya 'oh baiklah jika begitu' itu, Menma?!"
"hahh... dengar Yamada... Naruto itu bukan orang yang memiliki fetish semacam itu. Orangnya saja pendiam, irit bicara dan ekspresi, jangankan memiliki fetish seperti itu, perempuan cantik seperti nona Mai pun tidak tertarik" jelas Menma dengan pandangan tertuju pada Mai yang seolah mengatakan 'benar bukan?' dan dibalas anggukan oleh gadis tersebut.
Yamada ber'oh' ria, Itachi dan Oga manggut-manggut mendengar penjelasan dari Menma.
"Menma-nii, penjelasanmu seakan menggambarkan diriku seorang yang memiliki kelainan seksual. Bukannya tidak tertarik, hanya saja aku belum pernah memiliki pengalaman dengan seorang perempuan. Baru Mai teman perempuan pertama yang kumiliki, jadi aku tidak begitu tau harus berbuat apa" ujar Naruto dengan nada netralnya.
Semua terdiam mendengar ucapan dari Naruto, sedangkan Menma menunjukan senyum cerah karena dirinya paham betul seperti apa kehidupan Naruto sebelum dirinya dikirim ke dunia ini "maaf adikku, lupakan saja apa yang kukatakan tadi"
Naruto tidak menjawab, hanya mengangguk kecil dan mengulas senyum tipis. Ternyata betul apa kata Menma mengenai Naruto yang irit bicara dan irit Ekspresi, mereka tidak menyangkalnya.
"mari kita lanjutkan perjalanan ke desa Suna!" ujar Menma yang kemudian melangkah pergi diikuti Oga, Yamada, dan Itachi yang mengekor dalam diam dan saat berpas-pasan dengan Naruto, mereka bertiga menepuk pundak pemuda keturunan BrotherHood itu dengan senyuman yang seakan mengatakan dapat menebak seperti apa masa lalu Naruto.
Apakah mereka mengetahui tentang masa lalunya dari Menma atau Kurousagi, jika melihat mereka memiliki hubungan dengan kakak angkat dan ibu angkatnya, entahlah... memikirkan itu Naruto menggeleng pelan sebelum kemudian melangkahkan kakinya mengikuti keempat pemuda di depannya.
Mai masih berdiri diam di tempatnya memandang punggung lebar nan tegap milik Naruto, gadis itu terdiam dengan pikiran yang berisi pertanyaan seperti apa latar belakang dari Naruto. Selama 1 bulan bersama pemuda itu, dirinya sama sekali tidak tahu menahu tentang latar belakang Naruto.
Bahkan baru beberapa menit lalu dirinya tau Naruto memiliki sorang kakak yang ia ketahui bernama Menma, seorang pemuda berrambut hitam jabrik dan bermata biru shapire yang datang bersama 2 pemuda lainnya yang diketahui bernama Oga dan Yamada.
Yang Mai tahu, Naruto adalah seorang pemuda misterius dengan sifat pendiam yang memburu para bangsawan atau pembisnis yang memiliki hubungan dengan Kekaisaran.
Mai sempat berpikiran jika Naruto merupakan seorang Shadow yang bekerja untuk seseorang.
Mengenyahkan segala pemikirannya, Mai bergegas melangkahkan kaki menyusul para pemuda yang tengah melangkah santai beberapa meter di depannya.
Teringat akan sesuatu, tanpa menghentikan langkah Menma menoleh ke belakang dimana pandangannya tertuju pada Naruto yang kebetulan tengah memandang dirinya "Naruto" panggil Menma sembari memberi kode kepada sang adik untuk mendekat.
Melihat itu Naruto bergegas mendekati Menma dan melangkahkan kaki sejajar dengan kakaknya tersebut, ia hanya diam menunggu apa yang akan dikatakan kakaknya tersebut.
"ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu" ujar Menma merogoh jubahnya dan menarik suatu benda berbentuk panjang yang langsung Naruto ketahui apa itu hanya dengan sekilas lihat, yaitu sebuah senapan.
"M1894 atau disebut Winchester, senapan Lever action dengan magazin internal yang mampu menampung 15 butir peluru, dan memiliki jarak tembak sekitar 400 sampai 500 meter lebih" jelas Menma singkat sebelum menyerahkan senapan yang ia maksud kepada Naruto.
"terimakasih" ucap Naruto menerima senapan pemberian Menma tersebut dan kemudian mengapresiasinya dengan teliti. Mendorong ke depan tuas kokang yang terdapat di bagian bawah senapan dekat dengan pelatuk.
Kembali mengamati sejenak untuk memastikan sesuatu, Naruto mencoba mengokang senapan tersebut dengan cara memutarnya dan berhasil.
(A/N : cara Naruto mengokangnya seperti senapan M1887 di game Point Blank. Jika kalian tidak tau senapan M1887, di PB sering disebut dengan Shotgun Putar. Winchester memiliki disain yang sama seperti M1887)
"kau tampak ahli menggunakannya" celetuk Yamada yang sedari memperhatikan intraksi antara kakak dan adik tersebut, tidak hanya Yamada, yang lain juga memperhatikan mereka.
"begitulah" tukas Naruto sembari menyimpan senapan pemberian sang kakak ke dalam kantung penyimpanan dan kemudian menyimpan kantung tersebut ke tas kecil di pinggang belakangnya.
"bagaimana dengan sihir? Kau bisa memakai serangan sihir?" kini Oga yang mengajukan pertanyaan.
"tidak"
"jadi kau hanya menggunakan kemampuan fisik untuk bertarung?"
"ya" Naruto kembali menjawab dengan jawaban yang sangat singkat, hanya 1 kata saja.
"kau seperti kami yang hanya mengandalakan kekuatan fisik dan senjata api maupun tajam" ujar Oga yang diangguki oleh Menma dan Yamada.
"senapan memang salah satu teknologi manusia yang hebat, sorang petani dengan sedikit latihan menggunakan senapan pun dapat mengalahkan prajurit veteran. Dan... tembakan senapan lebih cepat dari serangan sihir, itu poin terbaiknya" tukas Menma dengan mata penuh kilauan.
Seperti yang dikatakan oleh Menma, proyektil yang ditembakan senapan memang memiliki kecepatan yang cukup tinggi sekitar 100 meter sampai yang tercepat 1.000 meter per detik. Itachi dan Mai hanya diam mendengarkan percakapan para pemuda di depan mereka yang sepertinya sangat memahami tentang senapan.
"tapi... cukup merepotkan melawan orang berkekuatan sihir besar dengan senapan... apa lagi mereka yang bisa menggunakan sihir pertahanan kuat" celetuk Yamada yang menarik perhatian semua orang di sekitarnya dan membuat mereka terdiam.
"mudah. Tembak mereka sebelum berhasil melancarkan serangan" ujar Naruto.
Menma tersenyum tipis mendengar pendapat adiknya itu "siapa cepat dia dapat. Sepertinya kau memiliki pengalaman Naruto"
"sudah beberapa kali" jawab Naruto menjeda ucapannya sebelum kembali melanjutkan "menurutku, mereka yang memiliki kemampuan sihir cukup hebat akan bergantung pada sihir yang dimiliki dan melupakan kemampuan fisik mereka. Itu sebabnya para pengguna sihir mudah dibunuh jika kita bisa memanfaatkan dengan baik kelemahan mereka"
Semua terdiam mencoba memahami apa yang baru saja dikatakan oleh pemuda berjubah Assassin berwarna putih tersebut.
Bagi mereka yang pernah melihat kemampuan Naruto secara langsung hanya bisa diam dan mengakuinya.
Seperti Menma, Oga, dan Yamada yang melihat Naruto pergi seorang diri ke garis belakang musuh dan membunuh seorang jendral dari 1000 prajurit Kekaisaran yang saat itu menyerang Konoha.
Atapun Mai yang menyaksikan langsung kemenangan Naruto atas melawan sekelompok Elf berdarah murni dan belasan bandit bersenjata lengkap bawahan Gataou yang dibantai pemuda tersebut seorang diri.
Tapi tidak dengan Itachi yang hanya mendengar kabar tentang Naruto dari desa, mungkinkah hal yang sama juga terjadi pada para Shadow yang menangakapnya di perbatasan negeri Angin beberapa jam lalu? Entah lah.
"ngomong-ngomong Itachi-san. Apa urusan mu menemui Kazekage?" tanya Naruto mengganti topik yang berhasil membuyarkan lamunan Itachi dan membuat pemuda keturunan Uchia tersebut menoleh ke arah si penanya.
"untuk menyampaikan surat perjanjian"
Naruto terdiam mendengar jawaban dari Itachi. Mereka yang ada di sana tidak tau jika di balik sikap diam yang ditunjukan Naruto adalah suatu rasa penasaran yang ia ditunjukannya dalam diam.
Menma yang dibesarkan bersama Naruto, tentu paham jika adiknya tersebut tengah dilanda rasa penasaran "kau pergi dari desa beberapa hari sebelum aku, jadi wajar jika kau tidak mengetahui tentang apa yang dikatakan Itachi-san"
Naruto hanya diam menunggu penjelasan lebih lanjut dari Menma.
"sekitar sebulan yang lalu, seseorang telah menemui para pemimpin di setiap negeri dan bernegosiasi dengan mereka untuk membentuk aliansi dengan tujuan memukul mundur Kekaisaran dari Elemental Nation. Dan mulai saat itu para pemimpin di setiap negeri mulai mengerimkan pembawa pesan milik mereka ke negeri-negeri terdekat untuk membangun aliansi, saling mengirim dan menerima pesan berisi rencana pembentukan aliansi mulai terjadi saat ini"
Jelas Menma yang membuat Naruto termenung sejenak sebelum membuka suara menyampaikan pendapatnya "para pemimpin percaya begitu saja pada orang yang tidak diketahui ini, dan setuju membentuk aliansi tanpa bertemu secara langsung?"
"entahlah..." Menma menggidikan bahunya "menurut rumor, orang tersebut seorang perempuan cantik yang tidak diketahui pasti latar belakangnya, namanya pun tidak diketahui" sambungnya, informasi yang satu ini memang tidak begitu penting bagi Naruto.
"Minato-sama yang sudah bertemu secara langsung, mengatakan jika dirinya tidak melihat kebohongan dalam diri orang tersebut, hanya terdapat perasaan kuat untuk menyatukan Elemental Nation dan mengusir para penjajah yang menginjak tanah kelahiran kita. Mungkin hal yang sama juga dilihat oleh para pemimpin negeri lainnya" ucap Itachi menambahkan penjelasan dari Menma.
"benarkah orang itu seorang perempuan cantik?" tanya Yamada memastikan dengan mata berbintang-bintang yang direspon Itachi dengan senyum kikuk. Pemuda yang satu ini memang selalu antusias jika masalah perempuan.
"dan juga sepertinya ada yang membocorkan rencana ini kepada Kekaisaran" celetuk Oga tiba-tiba.
" jadi... kemungkinan besar memang ada yang membocorkan informasi, sehingga Kekaisaran mengambil tindakan untuk mencegah terbentuknya aliansi. Salah satu upaya Kekaisaran... menyergap pembawa pesan seperti apa yang terjadi pada Itachi-san tadi atau menggunakan sandera politik seperti penculikan Mai?" ujar Naruto menyampaikan pendapat.
"benar sekali Naruto" ujar Menma dengan acungan jempol.
"lalu..." ucap Mai menggantung yang sedari tadi diam mendengarkan, alhasil semua perhatian tertuju padanya "siapa orang yang membocorkan informasi mengenai pembentukan aliansi?"
"yang pasti orang ini mata-mata dari Kekaisaran... atau orang dalam" tukas Menma yang menimbulkan hawa keseriusan menguar dari diri mereka saat mendengar kalimat terakhirnya.
Kemudian pandangannya tertuju pada Naruto yang senantiasa berjalan di sampingnya "jika diketahui siapa orang ini, bantu aku memburunya, adikku" sambung Menma dengan ekspresi serius.
Naruto mengangguk pelan tanpa sepatah kata sebagai jawaban 'iya' atas permintaan bantuan dari kakaknya tersebut.
.
.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dan disuguhi pemandangan 3 buah gunung dengan ukuran menyamai gunung Everest yang merupakan gunung terbesar di dunia, menjulang tinggi di tengah-tengah gurun pasir yang gersang nan luas.
Ketiga gunung tersebut terlihat hijau dan indah karena ditumbuhi oleh pepohonan subur nan lebat layaknya hutan rimba yang belum terjamah oleh tangan manusia.
Juga terlihat beberapa bangunan bergaya mesir kuno yang terbuat dari bebatuan dan berdiri kokoh di beberapa tempat di masing-masing ketiga gunung tersebut yang dapat diasumsikan sebagai pedesaan, serta terlihat juga mata air jernih yang mengalir dari masing-masing ketiga gunung tersebut dan mengalir ke atas gersangnya pasir gurung begitu saja menyerupai air terjun.
Dan itulah yang aneh, ketiga gunung yang bisa dikatakan sangat subur lengkap dengan mata air masing-masing yang mengalir deras tersebut terletak di tengah-tengah padang pasir bersuhu ekstrim yang tidak ditumbuhi satupun pohon.
"gunung yang sangat subur di padang pasir. Aku tak bisa berkomentar selain 'sungguh indah dan luar biasa menakjubkannya'" gumam Naruto pelan. Ia berjalan di urutan paling belakang sehingga yang lain tidak mendengarnya.
Tapi tidak dengan Menma yang berjalan di sampingnya, diketahui jika pemuda ninja itu memiliki pendengaran yang cukup tajam sehingga dapat mendengar gumaman pelan Naruto.
"mereka memang terlihat seperti gunung, tapi bukan" bisik Menma yang langsung membuat Naruto menoleh cepat ke arahnya.
"tunggu. Kau bilang 'mereka'?"
"ketiga makhluk yang kau sebut gunung itu adalah Aspidochelone. Kura-kura raksasa dengan ukuran menyamai gunung bahkan lebih yang mampu hidup selama ribuan tahun" jelas Menma singkat.
"kura-kura, jadi mereka hidup, bisa bergerak, dan... itu Suna yang akan kita tuju"
"benar sekali, selamat kau mendapat hadiah sebuah senapan Winchester yang sudah kau terima"
Naruto kembali memandang ketiga Aspidochelone yang tak jauh di depan, yang mana desa Suna dibangun di atas ketiga makhluk yang menyerupai gunung tersebut.
"dunia fantasy memang luar biasa"
"kau benar sekali, adikku"
Terus melangkahkan kaki menuju gunung dimana desa Suna berdiri, akhirnya mereka telah sampai di dekat salah satu gunung berukuran lebih besar dari 2 gunung lainnya, yang nyatanya ketiga gunung tersebut bukanlah gunung melainkan Aspidochelone.
Sedikit mendongakan kepala, memandang dari balik bayangan kerudung jubahnya, Naruto memandang takjub Aspidochelone yang menyerupai gunung tersebut dari dekat.
Kemudian dirinya mengalihkan perhatian saat suara siulan yang seolah memanggil terdengar oleh indra pendengarannya, dan terlihatlah Menma yang memberi kode padanya untuk pergi, yang kemudian pemuda keturunan ninja sekaligus merupakan kakaknya tersebut mulai mendaki gunung bersama yang lainnya.
Naruto pun bergegas menyusul yang lainya. Langkah yang awalnya menapak pasir gersang kini berganti menapaki bebatuan keras nan hitam yang lembab dan di tumbuhi sedikit gunung, begitupun dengan suasana yang awalnya terasa panas mulai diganti oleh hawa sejuk nan asri yang menenangkan jiwa dan raga.
Itu semua dikarenakan pepohonan rindang dan berbagai tumbuhan yang tumbuh subur di gunung tersebut.
Hampir melupakan fakta jika yang dipijakinya saat ini adalah tempurung dari seekor Aspidochelone berukuran raksasa menyerupai sebuah gunung. Sungguh luar biasa desa Suna yang dibangun di atas makhluk ini pikirnya.
Sibuk mengamati keindahan dari pepohonan yang tubuh subur di sekitarnya, hampir saja Naruto menabrak orang di depan yang ternyata Oga. Pandangannya pun tertuju ke depan di mana terlihat beberapa orang yang menghadang perjalanan mereka.
Sekitar 20 orang bersenjata api maupun tajam menghadang jalan dengan pandangan penuh selidik yang ditujukan masing pada mereka, menerka apakah mereka orang dengan niat jahat yang akan langsung ditembak di tempat atau sebaliknya diperbolehkan untuk memasuki desa kelahiran.
"turunkan senjata kalian"
Semua pandangan tertuju kepada seorang pemuda berperawakan tinggi dan kekar yang datang menghampiri mereka dengan langkah santai. Mereka yang melihat kedatangan pemuda tersebut, menurunkan senapan mereka.
"Sairaorg" gumam salah satu dari mereka yang menurunkan senapan.
"aku mengenal mereka" ujar pemuda yang diketahui bernama Sairaorg tersebut yang telah berdiri di dekat mereka.
Mengetahui orang-orang yang telah menginjakan kaki di desa mereka ternyata kenalan Sairaorg, mereka para penduduk desa Suna pun memilih untuk melenggang pergi.
Sairaorg memandang sejenak 6 orang yang bersamanya tersebut sebelum kemudian senyum lebar ia tunjukan melihat 3 pemuda yang sangat ia kenali.
"hehh lama tak berjumpa... Menma, Oga, Yamada" ujar Sairaorg yang kemudian 3 pemuda yang ia sebut namanya ikut tersenyum lebar dan berhambur memberikan perlukan persahabatan secara bersamaan kepada Sairaorg, tak luput kepala Sairaorg diacak-acak oleh ketiga pemuda tersebut, aksi keempat pemuda tersebut seperti team sepak bola yang memberikan selamat pada pemain yang berhasil mencetak goal kemenangan.
Tawa keras nan bahagia terdengar dari keempat pemuda tersebut, membuktikan bahwa mereka adalah sahabat yang sangat dekat bagaikan keluarga. Mengabaikan kehadiran 3 manusia lainnya yang hanya menatap kegiatan mereka dalam diam.
Kegiatan mereka tak berlangsung lama, kompak melepaskan pelukan masing-masing.
"apa yang dilakukan para sahabatku ini di desa Suna, desaku yang tercinta ini?" tanya Sairaorg yang mendapati kekehan dari Yamada dan Menma.
"ucapan mu seakan mengatakan kau adalah kepala desanya" dengus Oga.
"ya... siapa tau di masa depan tuan muda Gaara menunjuku sebagai kepala desa selanjutnya" canda Sairaorg dengan bersedekap dada "jadi... ada urusan apa sehingga kalian datang kemari? Kuharap untuk menemui sahabat kalian ini"
"pertama, kami memang datang kemari dengan niat untuk menemui sahabat kami. Dan yang kedua, kami datang untuk menyampaikan pesan dari Hokage" jawab Menma menjelaskan maksud kedatangan mereka di desa Suna.
"mungkinkah ada hubungannya dengan rencana itu?" tanya Sairaorg yang mendapati anggukan kecil dari Menma sebagai jawaban 'iya'.
Sairaorg terdiam sejenak "baiklah. Ikuti aku" ujarnya sebelum kemudian melangkah pergi memimpin jalan, diikuti oleh Menma bersama rombongan mengekor di belakang.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak dengan medan tanah dan bebatuan yang mulai menanjak, sejauh mata memandang hanya terdapat bebatuan hitam dengan lumut yang menempel dan hutan lebat berisi berbagai tumbuhan dan pohon besar.
Tak jarang mereka berpas-pasan dengan beberapa orang entah itu tua maupun muda, perempuan ataupun pria yang lengkap dengan senjata tajam dan senjata api berbagai tipe.
Ada pula beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat, entah itu di atas batu besar dalam posisi tengkurap atau duduk di dahan pohon, mereka semua terlihat tengah mengintai dengan teropong jarak jauh dan berbekal senapan jarak jauh yang mereka bawa lengkap dengan alat bidik optik.
Itulah yang membuat Naruto tertarik, perhatiannya pun tertuju ke arah dari mana dirinya dan rombongannya datang, memandang luasnya hamparan gurun pasir yang terbentang luas di luar area hutan dari celah-celah pepohonan.
"untung aku sempat menghentikan mereka. Jika tidak, kalian sudah menjadi papan sasaran berjalan di tengah gurun oleh para sniper itu" celetuk Sairaorg yang memimpin jalan di depan.
Menma, Oga, Yamada, dan Itachi menghembuskan nafas lega, dalam hati mereka berterimakasih dan bersyukur nyawa mereka telah diselamatkan oleh Sairaorg.
Sedangkan Mai terlihat pucat, ia teringat saat diamana dirinya melihat Naruto menggunakan sebuah senapan jarak jauh yang lebih besar dan terlihat lebih kuat dari pada yang dipegang oleh orang-orang yang dimaksud Sairaorg barusan. Walaupun demikian, gadis itu berpikir senapan mereka tidak kalah mematikannya dengan senapan yang dipakai Naruto pada waktu itu.
"mengintai pergerakan musuh di luasnya gurun pasir dari kedalaman hutan. Medan yang sangat strategis, di mana pihak musuh dirugikan" celetuk Naruto yang tak luput menarik perhatian dari teman-temannya.
"kau benar sekali. Pergerakan musuh cukup terlihat jelas di gurun pasir yang hampir tidak ada tempat untuk sembunyi" timpal Sairaorg dengan senyum yang mengembang menampakan deretan gigi-giginya "siapa namamu? Sepertinya kau kenalan Menma yang baru kulihat"
"namaku Naruto... adik angkat dari Menma" jawab Naruto netral.
"ternyata kau yang bernama Naruto itu... aku sudah pernah mendengar tentang mu dari Menma, sering malahan" tukas Sairaorg tanpa memperlambat langkah kakinya. Hati-hati kersandung.
Naruto hanya diam mengangguk tanpa sepatah kata.
"seperti yang dikatakan Menma, kau memang seorang pendiam yang irit bicara hahahahaha!" Sairaorg tertawa keras di akhir kalimatnya, kemudian pandangannya tertuju pada Mai yang berjalan di samping Naruto "lalu siapa gadis itu? Sepertinya aku pernah melihat wajahnya... terlihat tidak asing" sambungnya dengan tatapan penuh selidik.
Menyebabkan Mai tersenyum kikuk akibat dari tatapan penuh selidik yang Sairaorg tunjukan. Oga, Yamada, dan Menma sususah payah menahan tawa mereka sehingga menghasilkan suara cekikikan pelan.
Sairaorg merasa ada yang janggal dengan cikikikan para sahabatnya 'sepertinya... ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku' perempetan muncul di keningnya dan berkedut beberapa kali.
"ano..." perasaan janggal di benak Sairaorg seketika lenyap saat mendengar Mai mulai membuka suaranya.
"nama ku Mai... kawakami Mai lengakapnya"
"Eh...?" menghentikan langkah memandang gadis tersebut dari ujung kaki sampai puncuk kepala, hanya satu orang yang ia tahu memiliki nama tersebut... Perlahan kedua bola mata Sairaorg melebar sempurna, iris matanya mengecil, dan disusul rahang bawah yang jatuh ke bawah "NO-NONA KAWAKAMI MAI?!"
""BWAHAHAHAHAHAHA!"" Tawa dari Yamada, Oga, dan Menma pecah dengan kerasnya menertawakan reaksi Sairaorg yang begitu konyol dan menghibur bagi mereka.
"bagaimana anda bisa berada di sini?" tanya Sairaorg tanpa memperdulikan para sahabat yang menertawakannya, jujur ia tidak tau bagaimana gadis bangsawan yang dikabarkan telah diculik oleh bangsa Elf bisa berada di desa Suna tepat di depan matanya sekarang ini.
"a-ah ceritanya panjang..." jawab Mai dengan senyum kikuk, reaksi yang ditunjukan pemuda bertubuh kekar tersebut mengingatkannya pada ekspresi yang ditunjukan Menma dan Yamada saat bertemu dirinya saat itu.
Sairaorg menggaruk tengkuknya dan menghembuskan nafas "seandainya kita punya banyak waktu... tapi ada yang lebih penting" ujarnya kembali melangkahkan kaki memimpin jalan, terserahlah nanti juga ia akan mengetahuinya dari ketiga sahabatnya "ayo bergegas"
.
.
Beberapa menit menyusuri hutan... akhirnya sebuah pemukiman dengan arsitektur bangunan bergaya mesir kuno tertangakap oleh indra pengelihatan. Pemukiman tersebut dibangun di atas lahan terasering yang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk mengatasi lereng gunung yang bermedan miring, dengan terasering... resiko terjadinya longsor di lereng pegunungan dapat minimalisir.
Langkah kaki membawa mereka masuk ke dalam desa tersebut.
Memandang sekitar desa dimana terlihat orang-orang yang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tidak hanya bangunannya yang bergaya mesir kuno namun pakaian yang digunakan para warganya juga identik dengan busana di daerah gurun, sehingga suasana pada zaman mesir kuno dapat mereka rasakan secara langsung. Ralat, hanya Menma dan Naruto saja yang merasa seperti liburan ke timur tengah.
Masing-masing pasang mata milik Menma dan Yamada melirik kesana-kemari memandangi para kaum wanita di desa Suna yang bisa dikatakan berpakaian minim memperlihatkan beberapa bagian tubuh mereka.
Tanpa sadar mereka berdua menunjukan wajah mesum dengan hidung yang kembang kempis serta mulut yang menghembuskan sedikit uap dan hampir meneteskan air liur dari sudut bibir.
Puk!
Tepukan di bahu Naruto berhasil menarik perhatiannya dan langsung menoleh ke arah Menma selaku pelaku yang penepuk bahunya.
"lihatlah para gadis cantik itu hehe~" bisik Menma tepat di telinga Naruto, pemuda keturunan BrotherHood itu mengalihkan perhatian ke arah yang ditunjuk sang kakak, tetapi ia hanya diam tanpa satupun komentar seakan tidak tertarik dengan para perempuan cantik berpakaian minim yang dimaksud Menma.
Jangankan para perempuan cantik bertubuh indah yang berlalu-lalang di sekitarnya, bahkan Mai yang tidak kalah kecantikan dan keindahan tubuhnya yang selama 1 bulan ini bersamanya pun tidak begitu ia pedulikan.
Menma mendengus lelah melihat reaksi dari Naruto yang tampak tidak peduli. Kembali memandang ke depan dan seketika sebelah alisnya terangkat saat melihat Mai yang berjalan tak jauh di depan tengah memandang dirinya dan Naruto dengan pandangan sulit diartikan.
Menyadari pandangan Mai tidak tertuju padanya, Menma pun mengikuti arah pandang gadis tersebut dan tertuju pada Naruto di sampingnya yang tengah memandang sekitar.
'hmm... begitu rupanya' batin Menma dengan tersenyum tipis yang ia tunjukan menyadari akan sesuatu. Senyumannya semakin lebar saat pandangannya tak sengaja melihat salah satu lapak yang menjual berbagai macam aksesoris.
Tanpa disadari oleh siapapun, Menma memunculkan sesuatu dari bayangannya sendiri dan sesuatu yang menyerupai bayangan hitam tersebut melompat cepat ke sudut jalan sebelum kemudian mulai berubah wujud menjadi sosok Menma yang sangat mirip dengan aslinya.
Tanpa membuang waktu, bunshin milik Menma tersebut bergegas pergi ke suatu tempat.
Mereka telah sampai... di depan sebuah bangunan besar bergaya mesir kuno yang terletak di bagian teratas desa Suna, bangunan tersebut adalah kediaman dari sang penguasa ketiga pemukiman yang dibangun di atas 3 Aspidochelone yang berbeda.
Terlihat pula beberapa prajurit yang berjaga di depan bangunan tersebut.
Sebagai warga Suna, Sairaorg maju ke depan berhadapan dengan para penjaga tersebut "bisa biarkan kami menemui tuan muda? Ada pesan dari Hokage yang harus kami sampaikan" ucapnya mewakili kedatangannya bersama yang lain.
Prajurit yang diajak berkomunikasi oleh Sairaorg menngangguk paham dan menyingkir bersama dengan prajurit lainnya yang berjaga di depan pintu untuk memberi jalan masuk ke dalam. Untungnya mereka bersama Sairaorg sehingga urusan lebih mudah.
Mendapati izin dari para penjaga, Sairaorg bersama rombongan bergegas memasuki bangunan tersebut, masuk begitu saja tanpa halangan sebab bangunan tersebut tidak memiliki daun pintu sehingga akses masuk terbuka lebar.
Di dalam mereka disuguhi ruangan luas yang mampu menampung puluhan hingga ratusan orang di dalamnya, ruangan tersebut memiliki arsitektur bergaya timur tengah dengan berbagai interior yang mengisi di dalamnya.
Terlihat pula beberapa pria maupun wanita dari ras manusia dan warbeast lengkap dengan senjata tajam masing-masing yang berdiri di beberapa sudut ruangan. Sepertinya mereka adalah para prajurit elit yang bertugas menjaga tuan mereka dari serangan musuh.
Pasang mata dari para prajurit tersebut tak henti-hentinya melemparkan tatapan penuh selidik ke arah mereka yang pergi bersama Sairaorg.
Terutama kepada Naruto sebab kerudung kepala yang ia gunakan mempersulit orang-orang untuk melihat wajahnya lebih jelas sehingga menimbulkan kesan misterius bagi mereka yang melihat dirinya.
Sairaorg beserta rombongannya menghentikan langkah, 3 meter di depan mereka saat ini terlihat seorang pemuda bersurai merah bata dengan busana bagaikan seorang sultan yang duduk tenang di sebuah kursi kebesaran negeri Angin ditemani seorang perempuan dan laki-laki yang berdiri di sisi kanan dan kirinya.
Iris jade si pemuda bersurai merah bata memandang netral kehadiran Sairaorg dan beberapa orang yang bersama pemuda bertubuh kekar tersebut.
"Sairaorg kawan baikku, adakah sesuatu sehingga kau datang kemari?" ujar netral pemuda bersurai merah bata tersebut yang merupakan penguasa dari Suna... Sabaku Gaara.
"benar sekali. Aku datang bersama mereka yang membawa pesan dari Konoha" jawab Sairaorg dengan nada santai dan bersahabat, tidak peduli jika lawan bicaranya tersebut adalah seorang penguasa dari negeri Angin dan itu tidak ada yang mempersalahkannya, sebab seluruh penghuni desa Suna sudah tahu jika tuan muda mereka memiliki ikatan pertemanan yang dekat dengan Sairaorg.
Dan didukung title prajurit terkuat Suna yang melekat pada diri Sairaorg sehingga orang-orang segan dan berpikir kembali jika ingin berurusan dengan dirinya.
Setelah mengatakan maksud kedatangannya, Sairaorg mengambil 2 langkah ke samping untuk mempersilahkan seseorang di belakangnya maju ke depan dan orang tersebut adalah Itachi.
"tuan Kazekage... ini surat dari tuan Hokage, mohon anda berkenan menerimanya" ujar Itachi formal seraya menunjukan sebuah gulungan kertas yang terikat oleh tali.
Melihat gulungan kertas yang ditunjukan Itachi, Gaara bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati pemuda keturunan Uchiha tersebut, dan itu sukses menimbulkan rasa terkejut di benak seorang pemuda dan gadis yang berdiri diam di kedua sisi kursi yang baru saja diduduki Gaara, mereka berdua adalah Sabaku Temari dan Sabaku Kankuro... kakak perempuan dan kakak laki-laki Sabaku Gaara.
Gaara menerima dengan baik gulungan kertas yang diserahkan oleh Itachi, sebelum kemudian membukanya dan membaca isinya.
Setelah usai membaca isi pesan dari gulungan di tangannya, Gaara kembali menggulung kertas tersebut dan memandang ke arah Itachi yang menunjukan ekspresi ramah padanya "terimakasih telah membawa pesan penting ini pada ku. Kau pasti mengalami banyak kesulitan saat membawanya" ucap Gaara ramah dan tersenyum tipis.
"sama-sama Tuan Kazekage. Saya bisa sampai di sini berkat bantuan mereka" tukas Itachi dengan kepala sedikit menoleh ke belakang memandang Oga, Yamada, Menma, Sairaorg, dan Mai yang menunjukan senyum bersahabat masing-masing, sedangkan Naruto hanya diam dengan bibir membentuk garis horizontal datar.
"aku ucapkan selamat datang pada kalian yang telah datang ke negeriku ini" sambut Gaara dengan senyuman ramah dan sesaat kemudian perhatiannya terkunci pada Mai satu-satunya gadis di kelompok itu.
Sesaat berpikir untuk mencoba menggali memorinya saat melihat sosok Mai yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya, dan akhirnya ia menyadari siapa gadis tersebut "ada Nona Kawakami Mai juga rupanya... maaf jika saya tidak menyambut anda dengan lebih baik"
Mendengar ucapan dari Gaara, semua pasang mata yang ada di sana langsung tertuju kepada Mai yang membuat gadis itu tersenyum kikuk, sungguh mereka tidak menyadari jika saorang Kawakami ada bersama rombongan yang datang dengan Sairaorg. Terkecuali mereka yang sudah bersama Mai sedari tadi.
"ti-tidak apa-apa tuan Kazekage. Saya ucapkan terimakasih banyak atas sambutannya" tukas Mai dengan nada formal layaknya seorang bangsawan.
Gaara menggeleng pelan "anda adalah tamu negara di sini..."
.
.
Malam hari di Suna... terdengar lantunan irama musik dari kecapi dan kendang yang berasal dari kediaman Kazekage yang tampak ramai seakan tengah diadakan sebuah pesta.
Tarnyata tengah diadakan jamuan besar untuk menyambut seorang tamu negara yang tanpa diduga-duga datang bersama para pembawa pesan dari Konoha siang hari tadi.
Ruang utama kediaman sang Kazekage yang mampu menampung puluhan sampai ratusan orang nampak ramai nan meriah dipenuhi para penduduk yang duduk di lantai (Para pria duduk bersila sedangkan para perempuan duduk bersimpuh) menikmati berbagai macam hidangan khas Suna yang tersaji di hadapan mereka.
Orang-orang tidak ada yang duduk di tengah-tengah ruangan yang dibiarkan kosong, sengaja untuk tempat para penari yang terdiri dari ras manusia dan warbeast yang keseluruhannya perempuan cantik dalam busana khas Suna yang memperlihatkan beberapa bagian tubuh indah mereka.
Para penari menari dengan indahnya dengan perassan riang yang ditunjukan masing-masing penari, diiringi alunan musik dari para pemain alat musik di sudut ruangan.
(A/N : bayangakan saja tarian yang disuguhkan seperti tarian khas india... timur tengah... atau mesir kuno.)
Di sudut lain terlihat Menma, Oga, Yamada, Naruto, Itachi, Mai, dan Sairaorg yang duduk bersila bersama Gaara sang Kazekage menikmati jamuan yang digelar meriah, Menyaksikan pertunjukan tari yang disuguhkan oleh para penari cantik.
Menari dalam beberapa gerakan indah sebelum kemudian beberapa di antara para penari keluar dari formasi tari dan mendekat dengan mempertahankan gerak tarian ke arah Naruto dan kawan-kawan.
Masing-masing satu penari menari di hadapan Menma, Sairaorg, Oga, Yamada, Naruto, Itachi, dan Gaara... kemudian masing-masing penari menggoda para pemuda tersebut dengan tarian dan lebih mendekatkan diri mereka kepada masing-masing pemuda dengan tujuan untuk menarik minat para pemuda tersebut menari bersama mereka.
Menma, Yamada, Oga, Sairaorg, dan Gaara yang tertarik, bangkit dari duduk mereka yang kemudian dituntun oleh masing-masing penari ke tengah ruangan untuk menari bersama.
Sedangkan Iatchi menolak ajakan penari di depannya dengan halus diringi senyum ramah yang ia tunjukan. Melihat penolakan dari Itachi, penari tersebut membalas dengan senyum manis sebelum kemudian kembali menari di tengah ruangan.
Naruto memandang sejenak apa yang dilakukan Itachi barusan, kemudian dirinya kembali memandang seorang gadis cantik nan manis yang menari-nari di hadapannya, ia menggeleng pelan bermaksud untuk menolak ajakan dari penari di hadapannya tersebut. Jujur Naruto tidak tertarik, keramaian seperti ini tidak cocok untuknya.
Gadis tersebut hanya tersenyum manis sebelum kemudian kembali menari bersama penari lainnya di tengah-tengah ruangan.
Naruto tidak menyadari jika Mai yang duduk di sampingnya tengah memperhatikan dirinya sedari tadi, entah mengapa dalam hati Mai terasa lega saat Naruto menolak ajakan dari seorang penari barusan.
Memikirkan hal tersebut, perlahan namun pasti rona merah mulai muncul di kedua pipi mulus milik Mai yang kemudian gadis tersebut bergegas mengalihkan pandangannya dari Naruto ke arah hidangan daging panggang yang tersaji di hadapannya.
Teringat sesuatu, Naruto merogoh tas kecil di pinggang belakangnya dan kemudian mengeluarkan sesuatu yang berada dalam genggaman tangannya.
Memandang dalam diam sesuatu yang berada dalam genggaman tangannya tersebut dan mulai teringat apa yang dikatakan oleh Menma siang tadi saat kakaknya tersebut mememberinya sesuatu.
"berikanlah ini pada nona"
"anggap saja ini sebagai tanda pertemananmu dengannya"
"pastikan kau memberikannya ya"
Menoleh ke samping dimana Mai duduk bersimpuh di sampingnya "Mai"
Mai tersentak dan sedikit memkik pelan yang untungnya tidak didengar oleh siapapun kecuali Naruto yang hanya diam saja, kemudian dirinya mengalihkan perhatian ke arah Naruto.
"y-ya, a-ada apa?" ujar Mai yang terdengar tergagap. Mai merutuki dirinya dalam hati, entah mengapa dirinya mulai salah tingkah saat berinteraksi dengan Naruto.
Menunggu jawaban dari maksud Naruto memanggil dirinya dengan berusaha memandang wajah Naruto yang tersembunyi di dalam gelapnya bayangan kerudung jubah yang pemuda itu kenakan, 3 detik berlalu... wajahnya mulai memanas.
Naruto menunjukan genggaman tangannya kepada Mai sebelum kemudian membukannya... muncul tanda tanya dalam kepala Mai saat dirinya melihat sebuah gelang sederhana yang terbuat dari perak yang Naruto tunjukan.
"bersediakah kau menerima ini?" ucap Naruto sesuai dengan yang diintruksikan oleh Menma tadi siang, jujur ia tidak tau apa tujuan dari kakaknya tersebut dengan memberinya sebuah gelang dan menyuruhnya untuk memberikan gelang tersebut kepada Mai.
Di lain pihak, Mai tampak diam membisu, detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya dan disusul rona merah yang memenuhi wajahnya hingga menyerupai kepiting rebus. Ia tidak menyangka jika Naruto akan melakukan ini padanya.
Ia merasa ragu sebab Naruto adalah orang yang kurang lebih baru sebulan ia kenal dan baru-baru ini menjadi temannya, namun hati kecilnya mengatakan bahwa Naruto adalah pria yang tepat untuk dirinya.
Ternyata Naruto... senyum manis Mai tunjukan pada Naruto yang balik memandang dirinya heran namun tidak dapat gadis itu lihat sebab terhalang oleh bayangan kerudung jubahnya.
"uhm~ aku bersedia" jawab Mai mantab dengan setitik air mata kebahagian mengalir dari sudut mata indah miliknya yang kemudian mengambil gelang yang diserahkan Naruto tersebut.
Perasaan bahagia langsung membuncah di dalam hati Mai saat gelang tersebut telah berada dalam genggamannya.
Naruto merasa heran saat melihat reaksi yang ditunjukan oleh Mai, ia berniat untuk menanyakannya pada gadis pirang tersebut.
"wahh selamat nona Mai!"
Niat Naruto untuk bertanya pada Mai pupus saat terdengar ucapan selamat dari salah penduduk yang seketika menarik semua perhatian tertuju pada Mai.
Mai hanya bisa tertawa kikuk saat semua perhatian tertuju padanya dan mulai kebanjiran ucapan selamat atas dirinya. Naruto memandang kejadian di sekitarnya dengan tanda tanya besar di dalam kepalanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Di sisi lain, Menma menunjukan senyum tipis mengetahui rencananya berhasil. Ini dilakukannya demi sang adik, Naruto. Sudah cukup adiknya tersebut mengalami kehidupan yang suram di dunia asal mereka dan dengan ini semoga kehidupan sang adik dapat berubah pikirnya.
"hmm... siapa sebenarnya laki-laki beruntung itu nona Mai?"
Tanya Sairaorg yang membuat Mai malu-malu untuk menjawab pertanyaan tersebut "d-dia..." cicitnya sembari melirik ke arah Naruto yang mana pemuda tersebut masih larut dalam kebingungan.
""pria yang sungguh beruntung"" komentar para pria yang ada di sana kompak, ada pula berbagai komentar positif maupun negatif dari para penduduk lainnya yang sangat banyak jika saya ketik.
Kebingungan Naruto semakin berlipat ganda saat mendengar berbagai komentar dari orang-orang di sekitarnya. Sungguh ia sangat membutuhkan penjelasan sekarang.
"Naruto"
Lamunan Naruto buyar saat namanya dipanggil dan seketika dirinya langsung memandang ke arah sang pemanggil, dapat ia lihat Mai di sampingnya yang memandang dirinya dengan malu-malu, sungguh ia tidak tau apa yang tengah terjadi pada gadis itu.
Naruto hanya diam menunggu gadis tersebut kembali melanjutkan ucapannya "mungkin ini permintaan yang bodoh..." Mai menjeda ucapannya untuk menarik nafas sejenak "maukah kau membuka kerudung dan menunjukan wajahmu...? Kumohon"
Diam, hanya itu yang Naruto lakukan saat mendengar permintaan dari Mai yang terdengar seperti permohonan. Mungkin ini bukan hal yang penting baginya, tapi tidak dengan Mai yang mana gadis tersebut sungguh penasaran dengan rupa sebanarnya dari Naruto yang mulai detik ini menjadi orang terpenting dalam hidupnya.
Berpikir sejenak apakah dirinya akan mengabulkan permintaan dari Mai, tidak ada alasan bagi pemuda keturunan BrotherHood itu untuk menyembunyikan wajahnya, sebab semua yang ada di sini bukanlah musuh...
Tanpa sepatah kata, perlahan tangan kanan Naruto tergerak menggenggam ujung kerudung yang dikenakannya sebelum kemudian menyimkapnya dengan perlahan, dan itu berhasil menarik perhatian dari orang-orang saat melihatnya mulai menyingkap kerudungnya.
Mereka yang belum pernah melihat wajah Naruto secara jelas, merasa penasaran seperti apa rupa dari pemuda keturunan BrotherHood tersebut.
Kecuali Menma yang hanya tersenyum tipis sebab dirinya sudah berkali-kali melihat wajah Naruto.
Set!
Semua pasang mata tertuju padanya dalam diam.
Para gadis yang ada di sana, rona merah mulai menghiasi wajah mereka saat melihatnya, dan juga menimbulkan rasa iri bagi beberapa kaum pria. Terdapat beberapa kata yang cocok untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat saat ini, 2 di antaranya ialah... 'tampan' nan 'menawan'.
Mai yang duduk bersebelahan dengannya hanya bisa diam terpaku dengan semburat merah pekat yang memenuhi hampir seluruh wajah.
Tangan milik Mai tergerak untuk menyentuh pipi dari pemuda di sebelahnya tersebut. Jari-jemarinya yang putih begitu terlihat kontras saat bersentuhan dengan pipi berkulit tan eksotis.
Merasakan sentuhan dari Mai di pipinya, sang keturunan BrotherHood melirik ke arah si pelaku dan dapat ia lihat wajah gadis tersebut yang dipenuhi rona merah pekat.
Naruto hanya diam merasakan jari-jemari milik Mai yang dengan lembut mengelus pipinya yang kemudian beralih mengelus surai putih miliknya.
Kegiatan Mai berhenti saat pandangannya bertemu dengan iris biru sedalam samudra milik si keturunan BrotherHood yang tepat memandang dirinya dalam diam.
Mai langsung gelagapan dan menarik tangannya dengan wajah yang semakin merona hebat "ma-maaf Naruto?! A-aku telah menyentuh wajahmu tanpa seijinmu" ujar Mai diringi dengan senyum kikuk dan rona merah yang masih menghiasi wajahnya walapun tidak sepekat tadi.
Mendengar itu, Naruto menoleh ke arah Mai "bukan masalah" ujarnya netral tanpa ekspresi yang berarti seperti biasanya.
"aku terkejut melihat wajahmu"
"begitu kah?"
Mai menngangguk pelan "uhm, selama 1 bulan bersama... baru kali ini aku melihat wajahmu dengan jelas. Rasanya lega sekali" ujarnya diakhiri dengan senyuman manis yang mampu menimbulkan kejutan listrik dalam diri para pria yang melihatnya.
'manisnya~!' seru para pria dalam hati, bahkan Itachi hampir saja goyah dan berusaha bertahan.
Naruto hanya diam melihat senyum manis yang Mai tunjukan padanya... sebelum kemudian kembali memandang ke depan dan dapat ia lihat kerumunan para gadis yang entah sejak kapan telah berada di depannya memandang dirinya takjub dan semburat merah yang menghiasi wajah mereka.
"?" sang keturunan BrotherHood menautkan alisnya heran melihat para gadis yang memandang ke arah dirinya tersebut. Ada apa ini, apakah ada sesuatu yang aneh pada dirinya?
"Naruto ternyata seorang pria tampan?! Aku benci pria tampan! Sial!" umpat Yamada dengan kerasnya dan mencak-mencak tidak jelas.
"hmm... bisa-bisa semua gadis di Suna jatuh cinta padanya" gumam Gaara.
"itu sudah bukan lagi kemungkinan, tapi sudah fakta bahwa para gadis menaruh hati pada Naruto hahahahaha!" timpal Sairaog diakhiri dengan tawa keras.
"jika diperhatikan... Menma dan Naruto terlihat mirip, tapi Menma lebih terlihat seperti orang bodoh menurutku" celetuk Oga setelah sejenak memperhatikan sosok Menma dan Naruto bergantian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Menma.
"Hee... ngajak ribut ini?!" ujar Menma dengan mata berkilat tajam dan nada yang penuh penekanan.
"mari kita laksanakan. Seorang pria tidak akan menghindari tantangan" balas Oga dengan mata berkilat tajam dan menunjukan seringai lebar, membuat kedua sudut bibir Menma tertarik ke atas membentuk sebuah seringaian yang tampak kejam.
"sepertinya akan banyak saingan, jadi berusahalah nona Mai, jangan sampai lengah dan segeralah memberi jawaban anda berikutnya" ujar Itachi memberi nasihat yang dijawab oleh Mai dengan anggukan mantab.
Mai kembali memandang ke arah Naruto yang juga tengah memandang ke arah dirinya "tunggu aku, ya?" ucap Mai disertai senyuman manis menampakan gigi-gigi putih nan rapi miliknya.
Naruto hanya diam dengan dahi berkerut, kebingungan yang ia alami saat ini sungguh luar biasa 'ada apa ini sebenarnya...?'
.
.
.
.
.
.
.
Dikirim, ke Dunia Lain?
.
.
.
.
.
.
.
Tampak seekor gagak yang terbang mengarungi langit dengan latar belakang indahnya matahari terbit di waktu fajar.
Terbang melintasi fajar gurun pasir yang perlahan mulai disinari mentari pagi, gagak tersebut terus terbang mengepakan sayapnya menuju 3 buah gunung besar yang tampak sangat subur di tengah luasnya gurun pasir yang gersang.
Gagak tersebut mulai terbang rendah mengitari pemukiman sebelum akhirnya terbang mendekat ke salah satu rumah berbentuk kubus yang terbuat dari bebatuan alam berwarna kecoklatan dan mendarat di jendela rumah tersebut yang terbuka.
Berkoak menyerukan suaranya seakan berusaha membangunkan 6 sosok pemuda yang masih tertidur pulas di atas lantai beralas karpet dalam satu ruangan rumah tersebut, dan mereka semua tidur dalam kondisi bertelanjang dada menampilkan tubuh atletis nan terlatih milik masing-masing.
Beberapa kali berkoar... akhirnya salah satu pemuda terbangun dari tidur nyenyaknya dan bangkit mendudukan diri, berusaha memulihkan kesadarannya dengan mengerjapkan mata beberapa kali.
Menoleh ke arah jendela yang terbuka di mana terlihat seekor gagak hitam bertengger di sana, sang pemuda bersetatus Shadow bangkit dari duduknya kemudian berjalan dengan langkah gontai mendekati burung gagak tersebut.
"kau sudah kembali rupanya" ujar Itachi sembari jari telunjuknya mengelus pelan kepala gagak tersebut.
Gagak tersebut kembali berkoak merspon ucapan tuannya disertai gerakan kepala.
Menghentikan elusannya dengan jari telunjuk yang masih bersentuhan dengan kepala si burung gagak, Itachi memejamkan mata memfokuskan mana dalam tubuhnya untuk menggunakan suatu skill miliknya.
Beberapa gambaran dari apa yang telah dilihat oleh burung gagak tersebut mulai memasuki kepalanya.
5 detik kemudian... kelopak matanya kembali terbuka memperlihatkan iris berwarna hitam legam segelap kegelapan di malam hari.
"Menma... Naruto..." sebutnya tanpa mengalihkan perhatian dari burung gagak dan kembali melanjutkan kegiatannya mengelus kepala burung gagak tersebut dengan jari telunjuk.
"Hmm?"
Respon pemuda pemilik nama 'Menma' yang tiduran terlentang di pojok ruangan dengan mata yang masih terpejam dan tangan bersidekap.
sedangkan pemuda pemilik nama 'Naruto' hanya diam dalam posisi tidur miring ke samping menghadap tembok dan tangan yang ditekuk sebagai bantalan kepalanya, namun dirinya tidak tidur dan dengan sangat jelas mendengar namanya disebut.
rupanya mereka sudah bangun sedari tadi saat mendengar burung gagak milik Itachi menyerukan suara beberapa saat yang lalu, namun masih setia dalam posisi tidur mereka.
"pergilah ke barat. Ada sesuatu yang harus dipastikan secara langsung" ujar Itachi dengan nada serius.
"jadi perkiraan itu benar" gumam Sairaorg yang masih setia dalam posisi tidur terlentangnya di sisi lain ruangan dan kelopak mata yang masih tertutup.
"ternyata Kekaisaran tak kehabisan akal setelah rencana menyabotase pengirim pesan gagal" timpal Oga dengan mata masih terpejam dalam posisi tidur tengkurap di sebelah Menma.
Sedangkan Yamada tidak menyuarakan sepatah kata sebab pemuda bersurai biru tersebut masih terlelap dalam tidurnya dalam posisi miring dan menghisap jempolnya sendiri seperti bayi, entah apa yang ia mimpikan.
"kita harus melakukan sesuatu agar Kazekage dapat menghadiri pertemuan dengan aman dan selamat" gumam pelan Itachi yang masih senantiasa mengelus burung gagak miliknya dengan memandang ke luar jendela yang menampilkan pemandangan matahari terbit yang menyinari Suna dengan warna keemasan yang menambah kesan indah 'apakah para pemimpin lainya juga mengalami kendala yang sama?' sambugnya dalam hati.
"tidak! Jangan di situuuu! Ahhhhmm~"
Suasana hening yang damai seketika hancur saat tiba-tiba terdengar racauan tidak jelas dari Yamada diiringi dengan tubuh pemuda tersebut yang menggelijang aneh.
Entah apa yang sedang dimimpikannya sekarang ini hingga bertingkah aneh setelah beberapa saat yang lalu tidur dengan tenang tanpa suara.
Racauan Yamada semakin menjadi-jadi yang terdengar seperti desahan menjijikan bagi mereka.
Ini harus dihentikan karena jika tidak, para tetangga yang mendengar bisa beranggapan bahwa mereka berenam sedang pesta homo. Seseorang harus mengambil tindakan dengan cepat!
Buakh!
Yamada berhenti meracau dan menggelijang aneh setelah pelipisnya telak menerima hantaman kuat dari sebuah kepalan tinju milik Sairaorg yang menimbulkan sedikit getaran dan gelombang kejut kecil di ruangan tersebut yang berhasil mengirim Yamada pada kondisi tak sadarkan diri.
"keinginannya untuk *titt* semakin menjadi-jadi sampai terbawa ke alam mimpi. Sungguh malang nasibnya..." ujar Sairaorg prihatin diakhiri dengan menghela nafas lelah.
"seandainya ada seorang gadis yang mau dengannya" timpal Menma yang perlahan mulai bangkit mendudukan dirinya dengan wajah kantuk.
"bukankah di jamuan tadi malam ada seorang gadis yang menari untuk Yamada?" celetuk Oga yang mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang menghadap langit-langit ruangan "siapa itu namanya...? ish dah lupa aku"
"Ooooo maksudmu gadis bernama Ur-"
Tok! Tok! Tok!
Ucapan Sairaorg terhenti saat mendengar suara ketukan pintu yang diketuk sebanyak 3 kali dari luar.
Mereka saling pandang sejenak sebelum kemudian salah satu dari mereka yaitu Sairaorg, bangkit berdiri dan melangkah ke arah pintu yang baru saja diketuk tersebut, berniat membukakan pintu untuk orang yang berada di luar.
Sairaorg mengambil balok kayu yang memalang pintu kayu secara horizontal dan menyandarkannya di tembok sebelah pintu sebelum kemudian tangannya meraih gagang pintu kayu sederhana, menarik pintu kedalam guna membukannya.
Pintu dibuka lebar oleh Sairaorg dan terlihatlah seorang gadis cantik bersurai pirang panjang yang kini tengah berdiri diam di depan pintu dengan wajah polosnya
Panjang umur, rupanya orang yang mengetuk pintu beberapa saat yang lalu adalah gadis yang sedang mereka bicarakan.
"Shiraishi, kebetulan kau ada di sini. Masuklah" ujar Sairaorg mempersilahkan gadis tersebut untuk masuk.
(A/N : Shiraishi, atau lengkapnya Urara Shiraishi adalah karakter dari anime Yamada-kun Sevent nin Majou)
"aku ke sin-"
"telah terjadi sesuatu pada Yamada"
Baru saja gadis bernama Shiraishi itu ingin menyampaikan maksud kedatangannya kemari, ucapannya terlanjur disela oleh Sairaorg dan saat mendengar apa yang dikatakan pemuda bertubuh kekar di hadapannya tersebut, seketika tubuh Shiraishi menegang dan bola matanya melebar sempurna.
Dan tanpa sepatah kata, Shiraishi menyerobot masuk begitu saja tanpa meminta ijin pada si pemilik rumah, yaitu Sairaorg sendiri sang pemilik rumah.
Perhatian Itachi, Menma, dan Oga langsung tertuju pada seorang gadis pirang yang tiba-tiba saja masuk dan mengedarkan pandang ke penjuru ruangan seakan mencari sesuatu, tanpa memperdulikan perhatian dari 3 orang pemuda yang tertuju padanya.
Kecuali seorang pemuda bersurai putih jabrik yang masih tiduran dalam posisi miring menghadap tembok di tepi ruangan, siapa lagi kalau bukan Naruto.
Sosok pemuda bersurai biru yang tengah tiduran di karpet dalam posisi miring terlihat di garis pandang Shiraishi yang kemudian gadis tersebut bergegas melangkahkan kaki mendekatinya.
"Yamada! Yamada! Yamada!" seru Shiraishi menyerukan nama dari pemuda tersebut sembari terus mengguncang-guncang tubuh si pemuda.
Tidak ada jawaban dari Yamada yang tampak pucat pasi seakan jiwa miliknya telah meninggalkan raganya.
Nafas Shiraishi tercekat, pikirannya tidak dapat berpikir jernih dan perasaannya kacau melihat kondisi Yamada saat ini, baru semalam ia menari bersama pemuda yang mampu menarik hatinya namun sekarang pemuda tersebut telah terbujur kaku?
Matanya mulai memanas bersiap menitikan kristal bening ke atas permukaan karpet.
Puk!
Tepukan di pundak seketika mengenyahkan segala pikiran yang berkecamuk di dalam kepala Shiraishi dan seketika gadis tersebut mengalihkan perhatian ke arah si penepuk bahunya yang rupanya adalah Menma.
"lakukanlah Resurrection dengan Yamada, mungkin nyawanya bisa selamat" ujar Menma dengan ekspresi serius yang berbanding terbalik dengan batinnya yang tersenyum jahil yang ia tujukan untuk Yamada.
Wajah shiraishi langsung merona hebat mendegar saran dari Menma, kemudian pandangannya tertuju pada Yamada yang masih tergeletak di sana dengan liur yang menetes dari sudut bibirnya.
Prok! Prok! Prok!
"kita semua keluar... beri mereka kesempatan" ujar Sairaorg setelah bertepuk tangan beberapa kali untuk menarik perhatian dari para penghuni di ruangan tersebut.
Oga dan Itachi bergegas bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan, sedangkan Menma berusaha menyeret Naruto yang masih saja tiduran sedari tadi menuju keluar.
Setelah menunggu semuanya sudah keluar, Sairaorg menutup pintu rumahnya dari luar. Mereka semua keluar meninggalkan Shiraishi dan Yamada berduaan dalam rumah milik Sairaorg.
Setelah kepergian Naruto, oga, Sairaorg, Menma, dan Itachi... suasana berubah sepi.
Shiraishi memandang sejenak sosok Yamada yang tertidur di hadapannya. Tangannya yang putih nan mulus tergerak mengelus surai biru milik Yamada.
Beberapa saat mengelus surai biru milik Yamada sebelum kemudian Shiraishi menghentikan kegiatannya dan langsung bangkit berdiri...
Set!
Gadis tersebut mulai melucuti busana yang melekat di tubuh indahnya satu-persatu dan menjatuhkan pakaiannya begitu saja di atas karpet.
"enghh..."
Tiba-tiba terdengar suara lenguhan kecil dari mulut Yamada diiringi kelopak matanya yang perlahan mulai terbuka.
mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pengelihatannya yang tampak buram, sedikit demi sedikit pandangan Yamada mulai terlihat jelas.
"Hm?"
Gumam Yamada bingung saat garis pandangannya menangakap sosok seorang gadis cantik bersurai pirang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang tengah menduduki perutnya sekarang ini.
Cup!
Bahkan pikirannya masih belum dapat merespon apa-apa saat gadis tersebut menempelkan bibir ranumnya dengan bibir milik Yamada.
'ada apa ini... Rasanya lembut...?' batin Yamada yang berusaha memproses apa yang sedang terjadi sekarang ini.
Bersambung...
