Regrets

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story by Mel

.

Cerita ini diilhami dari banyak kisah sebelumnya, maaf bila banyak kesamaan – mohon tidak di-flame :)

Please enjoy

.

.

Jordaan, Amstredam

Akashi melangkah panjang-panjang di atas beton kelabu peron stasiun. Ia tidak peduli apakah pemuda itu mengikutinya atau tidak. Ia hanya ingin menyusul dua orang yang tadi bersamanya.

Akashi diekori pemuda itu keluar dari Amsterdam Central Station, setelah turun dari kereta yang tadi ditumpangi bersama Kuroko dan Mayuzumi. Akashi menatap dua orang itu semakin menjauh, langkah mereka terlihat menuju Jordaan. Berjalan di sebelah kanal – sungai buatan – yang airnya jernih, tak ada sampah sama sekali, pohon rindang tumbuh di tepinya. Di kanal itu melintas sebuah cruise – kapal yang disediakan untuk turis menyusuri sungai. Jordaan merupakan salah satu obyek wisata kanal terindah di Amsterdam.

Kedua iris rubinya tidak dapat beralih dari perahu yang bergerak pelan dengan dua orang penumpang, seperti sepasang kekasih. Mereka duduk berhadapan, satu memegang sepasang dayung, satunya lagi duduk manis dengan raut senang dan mata berpendar kagum pada panorama yang terpampang di sepanjang kanal Prinsengracht. 'Dengan mata seperti itu ia terlihat begitu cantik!' batinnya. Sesaat mata mereka beradu, iris rubi bertemu biru muda. Akashi mengunci tatapannya, tapi tidak dengan Kuroko. Wajah datar itu memutus kontak, beralih pada pemandangan di sampingnya.

"Amsterdam benar-benar cantik, senpai!" ucap Kuroko datar. Wajah putih itu menengok ke kanan dan kiri, seolah ingin memuaskan hasratnya menikmati seluruh panorama yang ada.

Perahu itu melewati gedung-gedung tinggi yang sudah berdiri lebih dari satu abad yang lalu. Melalui bawah jembatan tembok, mengitari taman yang bunganya sedang mekar berwarna-warni.

Tapi untuk pria bersurai keperakan yang paling menawan adalah mahluk mungil yang tengah duduk di depannya. Pipi kemerahan, rambut biru bergoyang tertiup angin dan sepasang iris yang tampak cemerlang.

"Senpai boleh aku coba mendayung?" lengan mungil itu mencoba mengayuh tetapi perahu itu malah oleng.

"I ini berat, senpai!" mengerahkan tenaganya. Mayuzumi hanya terkekeh. Pada sebuah dermaga kecil perahu itu berhenti, lalu ditambatkan. Baju mereka sedikit basah, tapi tidak mempengaruhi mood mereka untuk menikmati kota cantik itu.

"Apa kau mau mengunjungi Anne Frank Huis, Kuroko?" tanya Mayuzumi, dan dengan antusias Kuroko mengangguk. "Hai, senpai!" mereka berjalan ke sebuah bangunan tua yang dirawat dengan baik, sebuah museum biografi dan rumah bersejarah yang didedikasikan untuk penulis buku harian keturunan Yahudi, Anne Frank, yang akhirnya ditangkap dan dihabisi pada usianya yang ke limabelas. Gedung ini terletak di Prinsengracht. Rumah berlantai tiga itu sejajar dengan bangunan lainnya di sisi kiri dan kanan. Mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk mengamati semua benda yang tersimpan di dalam sana.

"Sudah tengah hari, sebaiknya kita makan siang dulu, apa yang ingin kau santap, Kuroko?" tanya Mayuzumi.

"Hmm, aku ingin makan makanan Holland, senpai!" Jawab Kuroko intonasinya datar. Sebelah alis kelabu itu terangkat. Lalu mengangguk.

"Ayo!" ajak Mayuzumi, ia hapal tempat yang cocok untuk makan siang mereka berdua.

Sebuah restoran sederhana terjepit diantara gedung-gedung tua, menawarkan makanan khas Belanda. Di atas meja telah tersaji menu yang dipesan Mayuzumi. Stamppot untuk Kuroko dan Hutspot untuknya, ditambah sup ercis. Sedangkan orange jus adalah pilihan keduanya untuk minuman. Satu suapan masuk ke mulut mungilnya. "Hmm…ini enak sekali!" mata lebar itu mengerjap. Mayuzumi yang sudah terbiasa dengan makanan itu hanya mengangguk setuju.

"Kau mau sesuatu yang manis?" jarinya menunjuk pada gambar kue berwarna coklat beraroma kayu manis, ombitjkoek. Kuroko menggeleng, "bukankah itu untuk pengganti sarapan, senpai? dan lagi perutku sudah penuh." Tolaknya.

Seharian itu mereka habiskan untuk menikmati wisata di sekitar Jordaan. Saat hari menjelang sore, matahari kemerahan membayang pada kanal, semburat jingga indah membuat pemandangan yang memanjakan mata.

.

"Apa kau mau menginap di apartemenku?" tanya Mayuzumi, berharap kepala dengan surai biru langit mengangguk. Tapi tidak. "Sebaiknya aku pulang, senpai, masih banyak tugas yang harus aku selesaikan." Pria dengan tubuh tinggi itu dengan terpaksa mengangguk, menyembunyikan raut kecewa. "Aku antar ke Central station." mereka berjalan beriringan. Kereta menuju Leiden masih setengah jam lagi.

"Senpai, boleh aku minta sesuatu?" Mayuzumi menolehkan kepalanya ke sosok mungil disebelahnya. "Apa?"

"Boleh tidak kalau aku memanggilmu dengan sebutan 'nii-san'?" suaranya datar, tapi mata itu menyorot penuh harapan.

"Nii-san, ya?" ada gelenyar aneh di dada kirinya.

"Un, karena aku tidak punya kakak, dan senpai tidak punya adik, umur kita beda dua tahun." Alis kelabu berkerut.

"Jadi adikku? Kenapa tidak jadi kekasihku saja?" ucap Mayuzumi serius, tapi dengan tenang Kuroko menggeleng.

"Aku lebih suka senpai jadi nii-san-ku, karena senpai adalah orang yang paling baik dari semua yang pernah aku kenal." Senyum lembut tersungging di bibir mungil itu. Mayuzumi melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Ia memang sangat menyayangi dan akan selalu melindungi sosok mungil itu. 'Apa yang salah?' batinnya. Mayuzumi mengeluarkan sigaretnya, menyalakannya, lalu menghisapnya dalam-dalam, seakan meredam sesuatu, asap putih keluar dari celah bibirnya. Cara menghisap yang terburu-buru membuat Kuroko khawatir.

"Senpai, ada apa?" matanya menatap manik kelabu. Mayuzumi menggeleng. Ditatapnya sosok mungil itu. 'Aku tidak akan pernah bisa merubah perasaanku padamu, walaupun kau memintaku menjadi seorang kakak untukmu'. Lirih batinnya berucap.

Kuroko Tetsuya, sebenarnya mengerti. Sangat mengerti. 'Maafkan aku senpai' ucapnya dalam hati. Perjalanan setengah jam dari Amsterdam central ke Leiden terasa sangat sunyi. Kuroko Tetsuya sangat menyayangi Mayuzumi Chihiro, ia tahu ada sesuatu yang berubah dalam diri senpainya, dari tatapannya, sentuhannya. Kuroko hanya tidak ingin kalau Mayuzumi akan tersakiti karenanya.

.

.

Akashi Seijuurou ternyata memang serius dengan keinginannya. Ia tercatat sebagai mahasiswa di Leiden university pada semester berikutnya, artinya beda satu tahun dengan Kuroko Tetsuya.

Pada bulan-bulan pertama perkuliahan eksekutif muda itu jarang bertemu dengan Kuroko, perbedaan jam kuliah serta kesibukan di perusahaannya sangat menyita waktunya. Ini membuatnya kesal, karena maksud ia kuliah magister di sini adalah untuk selalu ada di dekat sosok mungil bersurai biru itu.

Pemuda pirang sesekali datang ke kampus, tak jarang pemuda itu bertemu dengan Kuroko. Aura permusuhan nyata ia tunjukkan pada pria muda bersurai biru. Tapi Kuroko Tetsuya tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya akan menganggukkan kepala. Walaupun mata beiris hijau itu memicing tidak suka.

Saat ini mereka sama-sama berada di kafetaria kampus, Kuroko duduk menikmati makan siang, disamping baki makannya, sebuah buku terbuka. Handphone beberapa kali berdenting, chat dengan senpai abunya. Ia melahap makanannya pelan sambil membaca, kacamata minus tergantung di atas hidungnya.

"Sei, aku lama menunggumu!" Sambutan yang tujukan pada Akashi, ada aura tidak suka pada sorot mata rubi. Tapi pria itu hanya diam saja. Mendudukan dirinya di depan pemuda yang tengah menunggunya. Mata rubi lebih tertarik pada sosok di depannya arah jam 2. 'Tetsuya, aku menemukanmu disini' tanpa peduli dengan seseorang yang menatapnya marah.

"Sei, apa yang kau lihat? Aku ada di depanmu tapi kau tak disini!" sindir pemuda itu.

"Diamlah Yuki! aku ingin menemuinya." dagunya menggedik. Yuki yang sebut Akashi menoleh ke arah yang sama. Lalu Akashi berjalan ke arah itu.

"Tetsuya, kau sendirian?" bariton yang tidak asing masuk di pendengaran Kuroko.

Pria mungil itu menatapnya sesaat lalu mengangguk. Kuroko bisa melihat pemuda disana mengawasi dengan sorot mata tajam.

"Bagaimana kuliahmu, Akashi-kun? Apakah kau suka di sini?" tanya Kuroko, sekadar untuk mencairkan suasana.

"Tentu saja aku suka di sini, dan kuliahnya aku rasa tidak sulit." Mereka berbincang.

"Akashi-kun, sepertinya ada sorot laser mengarah padaku, ingin membunuhku, dan sebentar lagi aku akan hangus." Diucapkan Kuroko dengan datar. Akashi terkekeh, dagunya ditopang tangan kanan, matanya memperhatikan kegiatan Kuroko. Makan, membaca buku, membaca chat, dan membalasnya.

"Senpaimu, hmm?" nadanya rendah. Surai biru itu mengangguk.

"Ha'i, Mayuzumi-san sedang magang di IJC di Den Haag" jawabnya. Alis crimson berkerut

"ICJ, apa itu?" tanyanya.

"Internasional Court of Justice, pengadilan tertinggi PBB."

"Apakah dia jadi hakim di sana?" kepala biru menggeleng.

"Mungkin nantinya Mayuzumi senpai akan menjadi mediator atau negosiator, entahlah aku tidak begitu mengerti, yang jelas keahliannya adalah international law." jawab Kuroko.

"Mungkin nanti Mayuzumi-san akan bekerja di Jenewa di kantor PBB." Sambungnya, ada nada bangga pada suara halus Kuroko, ini membuat Akashi merengut tidak senang.

"Akashi-kun, sebaiknya cepat temani dia, aku tidak enak dilihat seperti penjahat begini." Iris biru langit menatap rubi di depannya.

"Tetsuya, aku ingin bicara banyak denganmu." Tapi penolakan yang Akashi terima, Kuroko menggeleng.

"Lebih baik tidak usah Akashi-kun, aku rasa kau akan menyakiti satu hati lagi."

"Tetsuya, ini tidak seperti yang selama ini kau pikirkan."

"Apa pun itu Akashi-kun, sebaiknya kau pikirkan perasaannya, bukankah dia jauh-jauh datang hanya untukmu?" Kuroko melirik pemuda bersurai pirang itu masih menatapnya tajam.

"Tetsuya, ada satu hal yang harus kau tahu, tentang ini semua, dan aku menyesal, sangat menyesali atas perbuatanku." Sebuah senyum menggaris pada bibir mungil. 'Tapi senyum itu tidak semanis senyumnya pada saat bersama Chihiro', batin Akashi.

Beberapa kali Akashi mendatangi apartemennya, berbagai alasan ia kemukakan. Padahal intinya ia hanya ingin bertemu, karena di kampus tidak memungkinkan untuk itu. Kuroko Tetsuya selalu berusaha menghindari bertemu dengannya.

.

"Senpai, boleh aku menginap di sini?" Jumat sore ia mendatangi apartemen Mayuzumi di Amsterdam. Kedua alis kelabu itu terangkat, ketika membuka pintu setelah bel berdenting dua kali. Rasa hangat menjalari hatinya. Akhir pekan ini Kuroko tidak mau berada di kamarnya sendiri. Ia punya fisrasat lelaki dengan surai merah itu pasti akan mengunjunginya.

"Kenapa tiba-tiba saja, Kuroko?" suara tenang Mayuzumi diliputi keheranan, walaupun dalam hatinya ia sangat senang.

"Bosan di Leiden, senpai." Gumamnya.

"Okay, kau boleh tinggal di sini sesukamu." Di liriknya travel bag yang sedikit menggembung.

"Terimakasih, senpai" ucapnya. Apartemen Mayuzumi lebih luas dari apartemennya di Leiden, ruang tamu dengan sofa kulit berwarna marun, ruang tengah dengan rak buku yang menempel di dinding setinggi plafon dipenuhi buku hukum dan novel, pada seberang dinding menggantung televisi layar datar. Dua buah kamar tidur yang luas, lengkap dengan springbed berukuran besar kualitas terbaik. Ruangan itu ditata dengan apik, cat warna putih memberi kesan elegan.

"Kau bisa menggunakan lemari itu untuk menyimpan pakaianmu, Kuroko." ia menunjuk pada lemari dinding.

"Senpai, apa kau tidak kesepian dengan apartemen sebesar ini sendirian?" saat kakinya melangkah ke ruang tengah. Ia telah mengganti bajunya dengan t-shirt dan celana selutut.

"Aku sudah terbiasa seperti ini." Kata Mayuzumi yang tengah mempersiapkan makan malam di konter dapurnya yang mewah. Baru saja Kuroko duduk di kursi tinggi, handphone-nya berdering. Sudut mata Mayuzumi menangkap kerutan samar pada kening putih itu.

"Kau tidak mengangkatnya?" seraya menyiapkan piring.

"Tidak penting, senpai!" tapi deringan itu seolah tidak mau putus.

"Angkatlah Kuroko, mungkin seseorang perlu bantuanmu, atau… itu Akashi?" tebak Mayuzumi. Mata sewarna langit melebar. "Ha'i, senpai".

"Moshi-mos"

"Tetsuya, aku di depan apatermenmu, bukakan pintunya!" suara tegas memotongnya.

"Aku sedang di Amsterdam, Akashi-kun."

"Hoo begitu, aku akan menyusulmu, katakan kau dimana sekarang!"

"Tidak! Kau tidak usah menyusulku!"

"Tetsuya, kau tahu aku tidak suka dibantah, katakan!" Kuroko menghela nafas.

"Maaf Akashi-kun, aku sedang bersama Mayuzu…aah…geli senpai…" lalu sambungan diputus. Mata rubi membulat, kepalan tangan kanannya menghantam tembok apartemen Kuroko. Bayangan yang iya-iya melintas di balik surai crimsonnya. Apakah yang pernah mereka lakukan dulu, tengah berlangsung disana? Nafas Akashi menderu. Dadanya naik turun. Dan hal itu sukses membuatnya meradang semalaman. Mungkin sampai berhari-hari.

"Kau kenapa, Kuroko?" kedua tangan Mayuzumi sibuk mengelap dua set sendok garpu, lalu meletakkannya di samping piring ceper putih, dahinya berkerut, apa barusan ia tidak salah dengar? Kuroko sedikit mendesah!

"Tidak apa-apa senpai, aku hanya ingin mengakhiri teleponnya saja." ujarnya datar. Mayuzumi hanya mengangkat bahu. Makan malam telah tersaji, walaupun sederhana tetapi penataan yang apik dan hidangan dengan kentang tumbuk dan daging panggang dengan beberapa butir zaitun begitu menggugah selera.

"Kau mau mencoba wine?" sebuah minuman dalam botol tinggi berwarna kehijauan dengan tutup berwarna merah diletakan pada baki perak beserta dua buah sloki kristal di ujung meja, berlabel Chateau Lafite. Kuroko menggeleng lalu bersiul, "Senpai, kau memiliki wine termahal di dunia, apakah rasanya enak?" matanya terpaku pada botol itu. Mayuzumi terkekeh, "Aku meminumnya sedikit dan ya rasanya enak sekali, kau harus coba sekali-kali." Ujarnya. Kuroko tetap menggeleng. "Aku tidak kuat dengan minuman yang beralkohol." Tolaknya. Ya, Mayuzumi tahu itu, karena setiap kali ia menawarinya minuman dengan alcohol berkadar rendah sekali pun selalu ditolak sosok mungil kesayangannya.

Malam itu mereka habiskan hanya dengan membaca, Kuroko memilih novel yang ada pada rak buku di sana, sedangkan Mayuzumi mempelajari teknik mediasi yang dia pinjam dari perpustakaan ICJ. Walaupun sebagian besar waktunya ia habiskan untuk menatapi sosok yang tengkurap di atas bantal besar beralaskan karpet Persia tebal bermotif rumit, membaca novel koleksinya.

.

Sementara di Leiden sana, Akashi telah kembali ke apartemennya, ia berdiri dibawah guyuran shower, mendinginkan kepalanya dan darahnya yang mendidih. "Tetsuya, bagaimana caranya membuatmu mengerti?" berkali-kali tinjunya menghantam dinding kamar mandi.

Akashi masih ingat ketika di stasiun Amsterdam, saat Mayuzumi dengan sangat protektif menarik tangan Kuroko, menjauh darinya karena keberadaan pemuda itu. Lalu pertengkaran dengan pemuda itu benar-benar membuatnya muak.

"Sei, bagaimana mungkin kau abaikan aku seperti ini, padahal aku sudah jauh-jauh datang, tadinya aku akan menyusulmu ke Leiden!" rajuk pemuda itu, kedua tangannya terkepal. Ia berjalan sedikit dihentak, mengekor pria bersurai crimson. Beberapa orang Eropa melirik interaksi mereka.

Akashi Seijuurou semakin kesal dengan situasi seperti ini. Pemuda yang tidak ia kehendaki kehadirannya ada di sini. Lengan baju Akashi ditarik, manik berwarna hijau itu menuntut perhatian. Akashi memejamkan matanya, sementara giginya gemeletuk, menahan marah.

"Sei, kumohon jangan perlakukan aku seperti ini. A aku minta maaf, tolong jangan berpaling dariku, aku sangat mencintaimu, ba bahkan lebih besar dari cintamu pada Tetsuya-mu!" seketika Akashi berbalik. Sorot matanya menusuk iris hijau di depannya.

"Bagaimana mungkin kau katakan itu semua, kau sudah sangat jahat padanya!" ada getar amarah pada nada bicara Akashi

"I itu, karena Kuroko Tetsuya sangat tidak sebanding denganmu, tidak pantas untukmu, tidak sepertiku! Lihat aku Sei, aku punya segalanya, orang tuaku punya perusahaan setara denganmu. Kedua orang tua menjodohkan kita, itu artinya kita pasangan yang sempurna, dan…dan bukanlah waktu itu kau bilang bosan dengannya yang selalu datar?" mengingatkan pada kejadian lalu. Ya, saat itu Akashi hanya sedang kesal saja pada Tetsuyanya. Lalu pemuda itu datang, selalu merepetisinya setiap waktu, membuatnya terpengaruh. Kemudian pemuda itu mulai mendekatinya dengan segala cara, muncul di kantornya, mengiriminya makanan, menelepon, SMS, bbm, watsap, laiin, menyedot seluruh perhatiannya.

"Sempurna katamu? setelah kau tipu aku habis-habisan, setelah Tetsuya dan orang tuanya kau terror, sampai ia tak mau bertemu lagi denganku!" suaranya rendah.

"Tapi aku benar-benar mencintaimu Sei, kau segalanya untukku!" serunya.

"Pulanglah ke Jepang! Tidak ada yang bisa kau lakukan di sini!" kalimat sinis terucap sangat dingin.

"Aku akan selalu ada disisimu, Sei, lihat saja! Kau akan menyesal memperlakukanku seperti ini!" suara manja berubah menjadi geraman. Alis Akashi terangkat sebelah

"Oh, kau berani mengancamku? Setelah aku tahu semuanya kau masih berani ingin bersamaku?" Akashi berbalik meninggalkannya.

Lalu ia menyaksikan kedekatan dua orang itu, berperahu bersama, berjalan bersisian, makan siang berdua. Senyum yang terukir pada wajah datar itu benar-benar menawan, tapi bukan untuknya. Rasanya Tetsuya sedang membunuhnya perlahan.

.

"Kapan aku bisa menjelaskan semuanya padamu, Tetsuya!" teriakannya diredam suara shower yang dipasang maksimal. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Akashi tidak peduli.

.

TBC

.


Note:

Dear readers.

Terimakasih masih bersedia mengikuti fict ini, membaca, memfollow, memfavoritkan, juga memberikan review.

Ini updatenya semoga dapat menghibur...

Love you all

Mel~