Kesalahpahaman Di Suatu Hari

Chapter 4

Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei desu!

Main Chara: Generation of Miracle, Kise Ryouta, Aomine Daiki, & Akashi Seijuurou

Genre: Friendship-Humor-Parody

Rated: K+

Warning: Typo, OOC (bener-bener deh), Humor Gagal/Garing, Gaje, Abal, & Nggak Disarankan (bagi yang gampang ambigu)

Don't Like Don't Read

Happy Reading~!

Story by Ni-chan XD

RnR please! :D

.

.

.


Prologue


"Hahahaha..!"

Suara tawa itu selalu terdengar kini setelah festival sekolah usai dan tiap orang-orang melalui koridor kelas dua akselerasi. Dan mereka sudah tau, tiap mereka tertawa, mereka juga kasihan terhadap orang yang mereka tertawakan karena anggap lucu itu... Sementara yang dituju hanya menempelkan kepalanya lemas di meja.

"GYAHAHAHAHA! Kekekekekk ..," Aomine memegangi perutnya saking gelinya. "Akashi bisa salah-dengar kayak gitu! Nggak percaya!" teriak Aomine tega sambil memukul-mukul meja. Ah, kalimat sebelumnya aku ralat, mungkin yang kasihan hanya sebagian orang.

"Pffftt, kenang-kenangan yang nggak diduga ya-ssu. Untung aku sudah menyuruh salah satu fans-ku merekam dramanya. Aku pikir-pikir akan kuberikan pada kalian semua buat kenang-kenangan nanti-ssu," ucap Kise berusaha menahan tawanya biar nggak meledak, apa daya efek sampingnya dia malah terkentut-kentut terus dari tadi pagi.

"Aka-chin keren banget ya," tanggap Murasakibara polos.

"Kalian jangan anggap enteng begitu-nanodayo," ucap Midorima sambil membenarkan kacamatanya. Seluruh temannya menghentikan tawa mereka menatap si Megane aneh. Midorima yang menyadari tatapan itu langsung melanjutkan kalimatnya. "Kalau Akashi saja bisa salah-dengar separah itu, berarti yang selanjutnya akan lebih parah lagi bukan?"

"WADUH!" Mereka langsung panik.

"Aduh ... aku lupa soal itu ... eh, hari ini siapa yang jadi tumbal ya?" seru Aomine khawatir.

"Aku juga mau tau itu. Eit! Kenapa nggak tanya Kurokocchi aja! Dia kan tau semua mengenai fic ini-ssu!" usul Kise.

"Benar juga! Tetsu!"

"Apa?" tanya Kuroko yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah Aomine dan Kise.

"KUROKOCCHI/TETSU!"

"Ah, aku kaget banget-ssu. Jadi, jadi, Kurokocchi, to the point aja nih-ssu, siapa tumbal di chapter kali ini?" tanya Kise semangat.

"Hmm? Oh iya, aku harus bilangin siapa tumbalnya sebagai prolog ya ..," Kuroko menoleh ke arah langit-langit kelas. "Tumbal kali ini adalah ... Kise-kun dan kita semua."

"..."

"..."

"APAAAAAA~?!" teriak Kise dan Aomine berbarengan.

.

.

.


Kise Ryouta | Aomine Daiki


"Eeeehhh? Ada acara apa lagi bulan ini? Festival budaya kan sudah lewat-ssu?" tanya Kise kepo melihat Akashi dan teman-temannya memeriksa banyak buku.

"Kise-kun lupa?" tanya Kuroko.

"Lupa apa, Kurokocchi?" Kise balik bertanya.

"Huffftt, bener-bener deh, Kise. Kau kemarin dengerin gak sih, waktu kita rapat-nanodayo?" tanya Midorima sambil mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang dibacanya.

"Ehh? Kemarin rapat ya? Aku lupa ..."

'Sudah bisa diduga.' Begitulah isi para member GoM yang kebetulan kompak. Nggak mungkin si 'Kuning' itu bisa diam dan tenang sewaktu rapat berlangsung, yang ada banyak dia yang protes. Kalaupun tenang, bisa dipastikan dia ngorok, sama kayak kejadian kemarin.

"Haaah, merepotkan banget. Shintarou, tolong jelaskan ulang pada Ryouta," perintah Akashi malas-malasan sambil tetap membaca buku yang sedang dipegangnya.

"Mattaku. Dengar ya! Demi membalaskan dendam Akashi, eh yah, sebenarnya aku juga nggak peduli sih ..,"

"APA KATAMU?!" teriak Akashi.

"Itu gak penting sekarang deh," buru-buru Midorima mengalihkan pembicaraan. "Jadi demi membalaskan dendam Akashi gara-gara makan kodok masak kecap di chapter dua kemarin, kita akan ikut lomba masak-nanodayo!" jelas Midorima.

"Lomba masak? Buat apaan?" tanya Kise.

"Tentu saja buat menenangkan pikiranku! Kalau makan yang enak-enak kan, beban pikiranku bisa tersamarkan sedikit! Tapi untuk menghindari masakan yang aneh-aneh, kali ini kompetisi cake aja!" kata Akashi memberi syarat.

"Lomba masaknya ini, resmi atau nggak sih?" tanya Aomine heran sambil menggaruk-garuk kepala birunya.

"TENTU-AJA-NGGAK-RESMI!" kata Akashi enteng. "Lombanya diadakan di pekarangan rumahku besok sore jam empat! Jurinya tentu saja aku, SENDIRI!" seru Akashi mempertegas kata 'sendiri'.

"EH?! Aku juga nggak jadi juri-nanodayo?!" protes Midorima. "Aku kan, Wakil Ketua OSIS!"

"Ini nggak ada hubungannya denganmu, Shintarou, ini bukan acara resmi ..," kata Akashi santai sambil mengibas-ngibaskan tangannya, seakan-akan bilang 'mampus-lo-makanya-kemarin-waktu-festival-korek-kuping'.

"Licik banget, begitu makanannya jelas pada enak-enak semua, kamu nggak ngajak aku-nanodayo!" kata Midorima iri.

"Ini juga balas dendamku untukmu yang salah-dengar waktu itu tauuu!" seru Akashi sambil menunjuk-nunjuk muka Midorima yang sekarang nyengir tidak ikhlas. "Jadi untuk kali ini, aku ingin menikmati tea time-ku yang indah!" ucap Akashi sambil melipat tangannya.

'Dasar orang kaya,' dumel GoM kompak.

"Oh iya, satu lagi!" Akashi kembali menaikkan telunjuknya. "Satu tim cuma terdiri dari dua orang!"

"Dua orang? Lah, lo kan nggak ikut? Jadinya kita kan cuma berlima!" protes Aomine.

"Kan masih ada Satsuki," kata Akashi enteng, lupa soal masakannya Momoi yang innalillahi. "Bahannya terserah kalian asal nggak ngaco kayak kemarin!" ucap Akashi sambil melirik Aomine, Kise, dan Kuroko sengit, kayaknya dendam banget gegara kemakan daging keramat kemarin. Yang dilirik reaksinya beda-beda. Kise bersiul sok nggak peduli, Aomine ngupil dengan santainya, dan Kuroko pura-pura nggak denger.

"Iya, iya." jawab semuanya nggak mau ambil pusing berdebat sama kapten mereka yang kanakan ini. Kalau ada pertandingan adu mulut pun, pasti teteup Akashi yang bakal menang.

"Bagus! Kalau gitu sampai jumpa besoook~!" kata Akashi riang lalu berlalu dari gym sambil melambaikan tangannya dengan wajah tanpa dosa waktu melihat rekan-rekan timnya dipenuhi aura-aura hitam mengancam.

Sepulang sekolah tim sudah (lebih tepatnya baru) fix. Dari enam orang itu dibagi menjadi tiga tim. Yaitu Murasakibara dengan Midorima, Kuroko dengan Momoi, dan Aomine dengan Kise. Pasalnya, gegara Aomine dan Kise ribut siapa yang bakal setim dengan Kuroko, mereka langsung duel nggak jelas. Duel makan tercepat, duel teriak terkeras, duel ngumpulin kucing terbanyak, duel basket, sampai pilihan terakhir, duel tenaga. Saat Aomine sudah mendapat gelar menang dari duel nggak jelas itu plus babak belur, dia bilang ke orang yang bersangkutan, eh, Kuroko malah bilang dia sudah diajak sama Momoi. Dan kini berakhirlah Aomine dan Kise berada dalam satu tim.

"Cih, kenapa aku harus barengan sama demit ini," bisik Aomine cuma nggak terlalu pelan untuk bisa terdengar oleh telinga si 'Kuning' di sebelahnya.

"APA AOMINECCHI BILANG?! AKU DEMIT-SSU?! NGACA DULU SANA!" teriak Kise yang nggak terima dikatai demit sama kembaran demit itu sendiri #digilesfansAomine.

Karena lagi nggak pengen perang mulut lagi untuk yang kedua kalinya, Aomine hanya mendiamkan kawannya itu mengoceh bak burung kakak tua keselek biji durian sampai puas. Yang didiemin pun mulai merasa kesal dan diacuhkan (emang diacuhin keles~). Baru aja Kise akan menjitak kepala sobatnya itu dengan penuh rasa cinta (apaan sih), matanya mendadak tertuju pada kaca di sebuah minimarket. Niat menjitak pun dibatalkan (Aomine: hoooh~ syukur).

"Nee~ Aominecchi. Kita nggak belanja bahan-bahan buat besok-ssu?" tanya Kise sambil melihat brosur bakery baru yang tertempel di kaca minimarket depan mereka.

"Hah? Ngapain musti belanja segala? Buang-buang duit! Kan Akashi sudah nyiapin bahan sama alat-alatnya di dapurnya yang superkomplet dan melebihi besar rumah kita itu!" seru Aomine alay.

"Hmmm ... iya sih," gumam Kise. "Baiklah, kalau gitu besok kita mau bikin apa-ssu?"

"Aaaahhh~! Banyak omong lo, Kise!" dengus Aomine. "Masak apa adanya aja! Lagian ngapain toh, kita musti masak sampai setengah mati buat Akashi cuma gegara salah dengarnya Midorima? Yang salah-denger bukan kita kan? Harga diri kita mau dikemanakan?" kata Aomine sok ngedramatisir.

"Iya sih, tapi kan, kita yang masak kodok buat Akashicchi kemarin ... malah Aominecchi yang nyari kodoknya, bukannya di peternakan kodok (emang ada?), tapi malah di rawa-rawa. Untung Akashicchi gak tau, kalau nggak kan, nggak mungkin kita bisa hidup sampai sekarang," tukas Kise. "Ya Aominecchi juga harus ikut tanggungjawab dong-ssu ..."

"Masa bodo!" gerutu Aomine. Dari raut mukanya sudah terlihat jelas pemuda berkulit tan itu tidak senang dengan perlombaan semena-mena ini. Keningnya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kise, enaknya masak yang gampang itu apa ya?"

GUBRAAAAKKKK! Yaelah, ternyata dia sendirinya masih takut dengan hukuman matinya Akashi kalau berani-berani nggak ikut kompetisi gaje itu. Yah, apa boleh buat. Kise menghela nafas lalu juga ikut berpikir.

"Pancake ... masaknya lumayan mudah tuh. Aku pernah bikin," pikir Kise. "Cuma kayak serabi yang dilumurin madu atau saus maple."

"Ya sudah, pancake aja! Itu masaknya pakai apaan ya? Kukusan?" tanya Aomine polos.

Kise sweatdrop. "Ya sudah deh, biar aku yang beli bahan-bahannya, Aominecchi bawa peralatan buat masaknya aja ya-ssu!" ucap Kise.

"Jadi? Gue harus bawa apa?" tanya Aomine lagi.

Kise mau pingsan. "Aominecchi, masa gak tau peralatan buat bikin pancake sih-ssu? Ketahuan nggak pernah masak (emang dia gak pernah keles~)! Itu tuh ... hmm ... kurasa cuma *anci sama spatula sih-ssu." Kise berpikir-pikir.

"HAH? SERIUSAN?!" teriak Aomine kaget.

Pembicaraan yang absurd (bagi Aomine) tadi masih melayang-layang di benaknya. Nggak pernah kepikiran Kise bakal nyuruh dia beli 'barang' begituan. Eh, dia mikir ulang, emangnya itu termasuk barang atau alat? Hmm ... mikir terus-terusan nggak bakal nyelesaikan masalah. Lagian Kise kan sudah bilang, kalau tugasnya cuma bawain aja, nggak usah ditambah-kurangi lagi. Jadi Aomine pun membulatkan tekad, apa pun yang terjadi dia harus bawa itu 'barang' ke rumah Akashi besok (Ni-chan: bego! Jangan dibawa o'on!| Aomine: ini emang yang ngetik dan ngerancang plotnya siapa hah?!).

"Hm?" tanya Kise bingung.


-Besoknya di rumah sang Kapiten eh, Kapten ...-


"Datang juga! Kau lama banget! Yang lain sudah pada di meja masing-masing tuh!" dengus Akashi sewaktu melihat Kise melewatinya sendirian. Akashi mengernyit, merasa ada yang janggal. "Lho, partner-mu mana, si Daiki?"

"Oh?" sahut Kise. "Aominecchi masih nyari peralatannya tuh-ssu! Nyusahin banget, barusan dia nelepon aku mau ke taman lawang dulu buat nyari alatnya. Masa alat bikin pancake aja musti pergi ke taman lawang buat minjem sih-ssu," Kise tertawa renyah.

"Eh? Ngapain dia ke taman lawang buat minjem alat? Di rumahku udah lengkap gini!" tanya Akashi aneh.

"Aku lupa-ssu." kata Kise polos.

"Bego lo!" ucap Akashi sepenuh hati.

Midorima yang dari tadi mendengarkan pembicaraan Akashi dan Kise dari tempatnya memasak spontan menghentikan pekerjaannya, mengupas buah-buahan. Dalam dirinya mulai muncul perasaan tidak enak. Mungkin lebih tepatnya dibilang firasat gitu? Jelasnya yah, firasat buruk...

"Mido-chin kenapa? Kulit apelnya keras ya?" tanya Murasakibara yang dari tadi cuma memakani buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong dadu Midorima, alhasil, piring yang harusnya terisi penuh potongan-potongan buah sekarang masih kosong.

"Nggak kok," ucap Midorima sambil membenarkan kacamatanya. "Dan sampai kapan kau mau terus menghabiskan buah-buahnya, Murasakibara?"

"Masa sih? Midorima-kun nggak merasa ada yang aneh?" sahut Kuroko yang tiba-tiba sudah ada di samping Midorima.

"KUROKO! Ngapain kau ke sini? Dan sejak kapan kau datang-nanodayo?!" tanya Midorima shock.

"Nggak, aku cuma mau minjem pisau sama kalian, pisau kami tumpul," ucap Kuroko sambil memperlihatkan pisaunya. "Dan yang lebih penting, Midorima-kun juga merasa ada yang aneh dengan Kise-kun yang datang sendirian itu?"

"Gimana aku nggak merasa ada yang aneh-nanodayo!" desah Midorima. "Liat aja tuh, di papan di atas (maksudnya tulisan Kise Ryouta | Aomine Daiki), udah jelas-jelas Aomine yang bakal salah-dengar kali ini. Tapi ntuh orang mana? Curiga aku, jangan-jangan dia ..."

"YO, KISE! Maaf lama ya, musti gue tawar-tawar dulu sih!"

Dari awal mereka berdua (Midorima dan Kuroko) udah tau kalau suara itu berarti bencana, menengok dengan keadaan seluruh tubuh gemeteran dan keluar keringat dingin (Ni-chan: lebay amat| GoM: kite bunuh juga lo!). Aomine dengan muka watadosnya melambaikan tangan ke seluruh rekan-rekan timnya. Tapi bukan itu! Bukan senyum belepotannya Aomine yang bikin mereka mual dan pengen lari sekencang-kencangnya sekarang. Tapi lihatlah apa -ralat-, siapa yang dibawa Aomine...!

"Iiiiyyhhh ... rumahnyah guedee bangetz yaaaacchh~! Eyke jadih kepengin dech, jyadi iscri pemilik rhyumah inyihh~! Oom Mine, syekarang ane haruz ngapain yaaakk?" seru suara genit yang berasal dari mulut seseorang (cowok/cewek?), berambut hitam sebahu yang terlihat mengilat plus lengket karena kelebihan conditioner, berbibir tebal dan seksi, plus berbulu mata panjang dan lentik.

'Omegattt ...' pikir seluruh GoM plus Momoi sambil menelan ludah. Kise sendiri menganga lebar tak percaya dengan kelakuan orang yang dia kira sahabat baiknya kedua setelah Kuroko itu.

"Lho? Kok kalian pada bengong sih? Ini, Kise. Aku udah bawa 'BANCI' pesananmu! Enaknya masukin penggorengan atau dikukus nih?" tanya Aomine bego.

"ANJRITTT! NGAPAIN LO BAWA-BAWA NTUH BENCONG KE SINI, DAIKI?!" teriak Akashi nggak terima lantai rumahnya yang terbuat dari marmer nomer satu di galaksi itu kotor dan harus diganti baru karena keinjek banci gak jelas undangan Aomine (lebay...).

"Lah, Kise kemarin bilang alat buat bikin pancake itu 'BANCI' sama spatula? Ini, bancinya udah gua bawain. Spatulanya ntar pinjem punya Akashi aja," kata Aomine.

"AOMINECCHI~! Yang kemarin kubilang itu 'PANCI', bukan 'BANCI'~!" seru Kise. Eh, tapi kok ... cuma suaranya doang yang kedengeran? Orangnya mana? Oalaaahh ... itu toh, lagi di atas pohon bareng temen-temennya yang sama-sama nggak mau dijorokin sama banci taman lawang undangannya Aomine.

"Ha? Panci?" ulang Aomine bego, masih belum bisa mencerna omongan Kise.

"O'ON LU, DAIKI! ITU ANAK SIAPA LAGI LO BAWA-BAWA KE SINI?! SANA SURUH PULANGGG~!" teriak Akashi ngamuk sambil pegangan di dahan pohon biar nggak jatuh dan melempari Aomine dengan kenari (tupai banget~ X3) yang langsung diikutin sama anak-anak buahnya.

"KOK GUE YANG DILEMPARIN SIH?! HARUSNYA KISE TUH!" seru Aomine gak terima.

"ENAK AJA GUE YANG KENA! YANG SALAH-DENGER SIAPA COBA-SSU?!" balas Kise. "MAKANYA LAIN KALI SANA KOREK KUPING!" (capslock jebol)


Akashi Seijuurou | Generation of Miracle


"Akashi, kau yakin? Biasanya kau kan pelit banget soal kayak ginian-nanodayo," tukas Midorima nggak percaya dengan apa yang barusan didengarnya dari sang Kapten yang paling seke' ngasih cuti sedunia.

"Iya, soalnya katanya gym-nya mau dipakai buat acara perpisahan anak-anak kelas tiga. Jadi mesti ditaruh kursi-kursi sore ini, mau nggak mau aku harus melakukan ini," Akashi menghela nafas. "Tapi kukalipatkan latihan lusanya! Jadi kalian bersiaplah!"

"Ternyata dugaanku emang salah-nanodayo. Sejak kapan Kapten Empreror ini berbaik hati ngasih cuti tanpa beban..." gumam Midorima.

"Apa kau bilang, Shintarou?"

"Gak, gak ada apa-apa kok..."

"Oh, kalau gitu ayo kita kasih tau yang lain!" kata Akashi. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kantin, tempat biasa mereka kongko-kongko pas istirahat atau pelajaran bebas.

-Teikou Middle School Canteen-

"Nggak taunya ending-nya sedih banget tau gak? Nyucuk banget di hati-ssu! Sayang nggak ada subtitle-nya sih, jadi aku gak tau kenapa ending-nya bisa jadi hurt/comfort gitu-ssu," celoteh Kise kayak kucing yang ngeong-ngeong minta makan (gak nyambung).

"Lah, kalau nggak ada subtitle-nya dan lo nggak paham alur ceritanya, gimana lo bisa nangis?" tanya Aomine merasa aneh..

"Aku nangis meratapi DVD yang aku beli-ssu! Harusnya aku beli versi yang ada subtitle-nya! HUAAAA! Jadi keinget lagi kaaannn!" seru Kise gaje lalu mewek-merek. Ketiga temannya yang udah males menanggapi Kise pun kembali melakukan kegiatan masing-masing. Kuroko menyeruput vanilla shake-nya, Murasakibara sibuk dengan snack-snack-nya, dan Aomine asyik dengan majalah Mai-chan-nya.

"Hei! Di situ kalian rupanya!" seru sebuah suara yang sangat mereka kenal.

"A-Akashicchi! Ada perlu apa-ssu?" tanya Kise gelagepan. "Maaf ya! Lain kali aku belajar bahasa Korea kok! Yang kemarin itu aku cuma nangis gara-gara gak ada subtitle di drama Korea-ku! Sumpah! Bukan berarti aku males latihan hari ini dan malah kongko-kongko di sini! Iyah?!"

"Kau ngomong apa sih?" tanya Akashi bingung. "Hmm, udah deh. Gini, besok, gym kita biasa latihan akan dipakai sama anak-anak kelas tiga buat perpisahan!"

"Hah? Jadi?"

"Ya, jadi kita nggak bisa latihan seperti biasanya-nanodayo," sahut Midorima.

"Benar! Jadi besok latihannya *I*UR!" seru Akashi lantang.

"..."

"..."

"?"

"SERIUUUUUUUSSSS?!" teriak GoM ribut (minus Kuroko yang matanya membulat tanda dia kaget dan tentu teriakan yang paling bombastis Aomine dan Kise), masing-masing pada nggak percaya dengan yang barusan mereka dengar. Bahkan Momoi langsung muterin lagu 'We Are The Champion' dari ponselnya dan disusul dengan Aomine dan Kise yang joget hula-hula (gak nyambung).

"IYAAAAA! DIAM! Ribut banget! Segitu pelitnya kah, aku ini sampai-sampai waktu bilang ada sesuatu kayak gini kalian langsung jingkrak-jingkrak kesenengan?" tanya Akashi sambil mengorek-ngorek kupingnya, memastikan kalau masih berfungsi seperti biasa.

"Iyalah! Sejak kapan Akashicchi terbuka hatinya memberi kita latihan seenak itu-ssu!" kata Kise. "Biasanya nih ya, lari keliling lapangan minimal 44 kali sehari, push up, sit up, dan banding masing-masing 40 kali sehari, terus nge-shoot minimal 44 kali sehari, dan yang paling parah, nyuruh kita bersihin rumah Akashicchi yang segede seratus ikan paus biru yang disusun (?) 4 kali bolak-balik sebagai hukuman tambahan nggak ikut banding-ssu," celoteh Kise.

"Kalau yang bersihin rumahku itu kan emang salahmu sendiri, Ryouta!" dengus Akashi.

"Lah, kamunya juga, mentang-mentang Kapten, suka angka 4, mendadak seluruh latihan didominasi angka 4 semua!" seru Aomine ngebela Kise sebagai sesama kaum yang tertindas (halah).

"Ya, suka-suka dong! Kan aku Kaptennya! Kalau kau mau menentang, jadilah lebih kuat dariku, aho'!" tukas Akashi seenaknya. "Oke, fix yah? Kalau begitu besok laksanakan perintahku!"

"SIAAAAAPPP!"


Besoknya Akashi dan Midorima sekalu Ketos dan Waketos berjalan beriringan menuju gym memastikan isi bangunan itu sudah kosong sepenuhnya, walaupun firasatnya terasa aneh karena nggak tau kenapa, waktu dia dan rekan-rekan setimnya kumpul-kumpul di kantin tadi siang, mereka bukan membicarakan pulang sekolah mau kemana, karaokean kah, makan dan ngerumpi di Maji Burger lah, bareng-barengan ngunjungin jamban lah, tapi malah ngomongin rencana mau pergi ke toko bantal. Aneh nggak tuh?

Akashi segera membuang jauh-jauh pikiran ngawurnya itu dan berjalan makin cepat ke arah gym. Pintu hijau yang lebih besar darinya itu dibukanya dan ... betapa terkejutnya dia melihat gym bukannya kosong, malah penuhhhh! Sumpek pula. Iya, mending kalau bakal penuh sama kursi-kursi buat anak kelas tiga perpisahan, tapi ini penuh dengan ...

"NGAPAIN KALIAN TEPAR DI SINI BEGOOOO?!" tanya Akashi keras, tapi karena temen-temennya masih pada ngorok dan bergeming sok tuli, Akashi pun setress dan menarik asal Kise dan menampar-namparnya keras sampai bangun. "BANGUN, RYOUTA! DAN JELASKAN SEMUANYA!"

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK! PLAK! PLOK!

"Aduuuuhhh! Ittaaaiii-ssu! Akashicchi ngapain sih, pakai nampar-nampar segala? Lagi asyik-asyiknya mimpi indah-ssu!" protes Kise sambil memegangi pipinya yang sekarang 11/12 sama bakpao isi kare (karena udah memar gegara ditampar plus dia yang kesal juga menggembungkan pipinya).

"Lah, harusnya gue yang nanya! Ngapain kalian semua gelar acara BoCi (bobo ciang) dadakan di sini?!" tanya Akashi setress.

"Hah? Kan Akashicchi yang suruh! Gimana sih?"

"Atas dasar apa aku nyuruh kalian gelar acara BoCi di sini hah?!"

"Ih, Akashicchi gak ngaku lagi! Ternyata emang omongan Akashicchi kemarin emang cuma ilusi doang-ssu! Nih ya, coba aja tanya sama yang lain! Kurokocchi aja bilang Akashicchi juga nyuruh BoCi kok! Ooooiii! Semuanya! Bangun dulu sebentar-ssu!" seru Kise. Ajaib! GoM mendadak langsung bangun semua, meski semuanya masih pada merem-merem.

"Apaan sih, Kise? Gangguin orang bobok aja!" desis Aomine sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Iya nih, Kise-chin gangguin aku tidur aja! Padahal barusan aku mau makan maibou sama kue cokelat tergede di dunia!" kata Murasakibara yang masih nggak bisa ngebedain mimpi dan nyata. Maklum, baru bangun (All: Authornya juga kayak gitu kan?| Ni-chan: kok tau ... X3).

"Murasakibara, kau mimpi makanan lagi-nanodayo?" Midorima sweatdrop.

"Kise-kun jahat banget sih! Padahal barusan aku mau kawin (?!) sama istriku di masa depan," kata Kuroko kayak anak kecil. Ya, buktinya dia naruh mas kawin berupa cincin di bawah bantalnya sebelum tidur biar bisa ketemu istri masa depannya di mimpi.

"Tetsu-kun! Kayak apa tuh, istri masa depanmu? Ceritain dong!" seru Momoi kepo. Padahal beberapa detik sebelumnya dia masih bergeming.

"Aku lupa wajah sama namanya, Momoi-san. Maklumlah, namanya juga mimpi,"

"Yaaaahhh ..."

"Nah, denger ya, Akashicchi! Aku bakal buktiin sekarang-ssu! Semuanya! Kemarin Akashicchi bilang latihan hari ini kita disuruh apa ya-ssu?" seru Kise keras.

"Hah?" Keempat temannya yang baru bangun itu ber'hah' ria.

"Udah jelas kan? Masa kemarin kau nggak denger sih, Ki-chan?" Momoi balik bertanya heran.

"Iya, Kise-kun telinganya harus dikorek lagi nih," kata Kuroko. "Perlu aku ambilin sikat WC?" tawar Kuroko kejam.

"Kurokocchi hidoi-ssu!"

"Mine-chin aja yang jawab ya. Aku mau makan lagi," kata Murasakibara lalu dia langsung ambruk, maksudnya ngorok lagi.

"Haaaah? Ngerepotin aja! Orang lagi enak-enak bobok! Eh, tadi kau mau nanya apa, Kise?" tanya Aomine.

"Itu loh ... Akashicchi padahal kemarin nyuruh kita BoCi secara nggak langsung, tapi sekarang pas datang ke gym dia kaget dan marah-marah begitu kita pada BoCi di sini-ssu," adu Kise.

"Akashi, lo gila ya? Bener kata si Kise tuh!" Aomine mendukung Kise.

"Kalian yang GILA! Emang kemarin aku bilang apa, HAH?!" teriak Akashi yang setress-nya sudah mencapai taraf bahaya.

Aomine dan Kise berpandangan dengan mata yang memancarkan keheranan lalu dengan kompak mereka langsung ceplos. "Jadi besok latihannya 'TIDUR' ya!"

Hening ... sunyi ... sepi ... Kuroko dan Momoi udah kembali ke alam mimpi dari tadi. Murasakibara sih, lagi sibuk menjilat bibirnya, mungkin mimpi makan lagi. Midorima yang ngeliat para kawannya banyak yang bobok, otomatis jadi ngantuk juga. Aomine dan Kise pun diam saja setelah mengucapkan kalimat keramat itu. Akashi yang tadi nyerocos dan ngomel-ngomel jadi diem. Namun, diem-diem gitu, bukan berarti atmosfernya juga tenang, yang ada juga jadi makin menegangkan. Mulut Akashi perlahan mulai bergerak.

"Ohhh ... gitu ya? Jadi kemarin aku nyuruh kalian 'TIDUR' ya? Dan kalian pada denger gitu semua?" desis Akashi tajam.

"Emang Akashicchi bilang gitu kan-ssu?"

"Ealaaahh ... ngotot lagi dia, emang perkataanmu itu nggak bisa dipercaya ya, Akashi. Udah deh, mending gabung bobok sini," ajak Aomine lalu kembali berbaring di atas bantal empuknya yang baru dibelinya bareng-bareng sama temannya di toko bantal dekat sekolah. Tapi kayaknya bantal itu udah gak suci lagi deh, soalnya udah ada 'PULAU'-nya (you know what I mean ... X'3).

BUAAAAAKKK! Sebuah bola basket dengan indahnya mengenai kepala Aomine yang barusan terbaring di atas bantalnya.

"ADAAAAOOOWWW! Akashi! Lo apa-apaan sih?!" teriak Aomine nggak terima sambil mengelus-elus kepala birunya.

"KUPING KALIAN ITU HARUS DIBERI PELAJARAN!" seru Akashi lalu mukul-mukul Aomine dengan gada (gak tau tuh, darimana dia ngutilnya) dengan brutal.

"KOK CUMA GUE YANG DIPUKULLL?! OI! KISE! TETSU! SATSUKI! MURASAKIBARA! JANGAN MAIN KABUR SENDIRI DONG!" protes Aomine, tapi apa daya karena temen-temennya yang berkhianat itu udah cabut gegara nggak mau kena amukan brutalnya Akashi.

"HEIT! Bener tuh! Kalian berempat juga! Sini!" lengking Akashi. Keempat orang yang tadinya mau cabut itu langsung menengok sambil merinding disko.

"I-i-iya?"

"CEPET KELILING GYM 400 KALI SEKARANG!"

"Eh? Akashi, bukannya hari ini latihannya kau bilang libur-nanodayo?" tanya Midorima keheranan.

"Bodo amat! Pikiran gue udah terlanjur berubah! Woi! Kalian berlima! BURUAN!" seru Akashi lagi. Kelima orang yang tadinya nyantai-nyantai tidur langsung lari-lari ngibrit keliling gym nggak ikhlas.

"AKASHI/CCHI/KUN/CHIN TEGAAAA!"


~To Be Continued~

Hahaha, maaf ya. Baru update-nya habis lebaran. Abisnya baru habis PulKam sih, udah gitu bentar lagi ini mau pergi lagi dari kota tempat tinggalku ... plus nyari biji semangka item buat MOS, dan maaf ya, oleh-olehnya cuma ini aja, habisnya gak sempat buka laptop lama-lama, udah gak ada koneksi internet lagi #malahcurhat. Yup! Semoga di chapter ini pun Ni-chan bisa menghibur readers sekalian! Jangan lupa, review please! XD

Ada request salah-dengar & salah-paham? Just write it in your review! X3

Balasan untuk review yang nggak login X3 :

To Rikako Yuuki in ch.2: Sip! Segini sudah cukup parah belum? XD

To Guest in ch.2: Gak bisa bayangin? Sama! :3 (padahal elo yang nulis...)

To Readers Kalem 11457: Ni-chan juga gitu kok, biasanya cuma nge-fav atau follow aja. Sama! Ni-chan juga habis cabut gigi, sebelum dicabut itu sakit banget lagi #curhatlagi Tentang Akashi itu, mari kita adakan interview dengannya langsung. SEI-KUUUNNN~!

Akashi: Apaan? Belum puas nistain aku lagi? Tau gak, aku udah capek tau?! Perlu dinistain berapa kali lagi sih? Di chapter 1 makan kolor, di chapter 2 makan kodok plus minum jus mastin, di chapter 3 salah-dengar yang parah banget, udah gitu didepan seisi sekolahan plus beberapa orang luar! Image-ku hancur tau gak!?

Ni-chan: Eh yaa ... Sei-kun, sabar-sabar, bukan itu yang mau kubahas di sini. Ini nih, ada readers yang nanya pertanyaan seputar kamu. Tolong dijawab dengan baik dan jujur. Ehm, gimana Sei-kun bisa salah-dengar dari 'KUKUTUK KAMU' menjadi 'KUTUAN KAMU'?

Akashi: Kok malah nanya ke gue? Jelas-jelas lo yang salah-dengar waktu nonton tipi kan? Malah gue yang kena!

Ni-chan: Oke, lanjut ke pertanyaan berikutnya. Waktu Sei-kun ngancem anak-anak basket lain dengan ancaman, 'LO BERANI BOLOS 1 DETIK AJA, GUE PENYET-PENYET BADAN LO BARU GUE GORENG DAN GUE JADIIN MAKAN MALAM GUE!', itu emang Sei-kun beneran kanibal ya?

Akashi: Lagi-lagi pertanyaan gak penting. Orang yang ngetik itu elo! Dan gue bukan ghoul! Gue waktu itu cuma lagi kepengen makan ayam penyet gegara elo sering nyeritain waktu puasa makan malam lo ayam penyet terus!

Ni-chan: Oke, itu dia akhir dari interview kita hari ini bersama Akashi Seijuurou. Balik ke review~!

Iya, Ni-chan agak-agak gak suka flame karena ... gimana gitu ya, rasanya tersakiti aja, udah capek-capek bikin fic semampuku, malah dijelek-jelekin dan dianggep sampah, itu kan nggak enak banget, meski aku tau, ada istilah 'Jangan ngaku Author populer kalau belum pernah nerima flame', tapi Ni-chan yakin, Author populer maupun baru pasti ingin fic-nya dihargai, karena itu Ni-chan nggak begitu suka flame, kalau kritik sih, itu Ni-chan suka banget, banyak-banyak juga boleh, asal nggak pakai bahasa kasar :D For all my readers, thanks for reading and appreciate my fiction! Love you all~! ^^ (All: HOWEEEKKK)


-OMAKE-

"Ano ... Midorima-san, Wakil Ketua OSIS SMP Teikou?"

"Ya, saya sendiri-nanodayo?" tanya Midorima sambil membenarkan kacamatanya sok keren plus sok pinter, padahal selalu kalah dari Akashi tiap-tiap UTS, UAS, Olimpiade, pangkat kekuasaan, maupun ulangan-ulangan harian dan permainan shogi, dan berentet-rentet kekalahan lainnya (Midorima: sialan lo! Nggak separah itu juga kali!)

"Maaf, tapi katanya gym hari ini akan diletakkan kursi-kursi untuk anak-anak kelas tiga yang mau perpisahan?" tanya orang itu lagi.

"Aduh ... maaf. Gimana ya ... kalau mau, mending ngomong langsung sama Ketua OSIS yang ada di tengah-tengah gym itu. Hati-hati ya-nanodayo," pesan Midorima.

"Ahhh, Ketua OSIS SMP Teikou kan, katanya orangnya baik dan perfect! Santai aja," kata Sang Penaruh Kursi lalu menuju ke arah Akashi, sementara Midorima sudah mendoakan orang tersebut agar tenang di alamnya. "Maaf, Ketua OSIS SMP Teikou, Akashi Seijuurou-san?"

"IYA?!" lengking Akashi.

'Mampus lo!' batin Midorima dari kejauhan.

"Maaf, hari ini gym harus ditaruh kursi-kursi untuk murid kelas tiga yang perpi-,"

"AAAAHHH! MASA BODO! SANA LO IKUT LARI BARENG MEREKA!" perintah Akashi refleks.

Orang Penaruh Kursi itu kebingungan. "Eh? Lho, tapi saya kan cuma-,"

"LARI NGGAK?!" ancam Akashi sambil memamerkan guntingnya yang kinclong seperti baru abis terasah, dan terlihat tajam tentunya. Orang Penaruh Kursi itu cuma bisa meneguk ludah dan ikut lari bersama anak-anak klub basket yang telinganya pada konslet. "OKE! HABIS ITU, KALIAN PUSH UP, SIT UP, SAMA BANDING MASING-MASING 400 KALI YA!" teriak Akashi menggandakan senam lantai mereka 10 kali lipat dari biasanya dengan kejam.

"HAAAAAHHHH?!" protes orang-orang malang yang dari tadi berlari keliling gym.

Midorima yang nggak mau ikut-ikutan kena hukum pun langsung cabut dan ada satu yang terbersit di pikirannya sewaktu ia berhasil kabur nanti. Ia akan singgah di toko bunga membeli beberapa bunga untuk nyekar ke makam rekan klub basketnya nanti.

-OMAKE FIN-