BLEACH © Tite Kubo

Pairing: Ichigo K. x Rukia K.

Warning: AU, OOC, TYPO(S)

Unmei

.

.

.

# 3 : Akai Sora

.

.

.

Sejak pulang dari taman ria Ichigo menjadi sangat aneh dan begitu protektif terhadap Rukia, sementara si gadis itu merasa memang ada yang aneh dengan Ichigo namun ia sendiri mencoba berfikiran positif. Mungkin itu hanya karena Ichigo lelah atau salah satu bentuk rasa kasih sayang pemuda berambut sewarna kulit jeruk mandarin itu kepadanya. Namun demikian tanpa sepengetahuan Rukia, Ichigo sering mengamati flat dimana gadis kesayangannya itu tinggal, mencoba untuk mengetahui siapa sebenarnya stalker yang menguntit Rukia. Sore itu seperti biasa Ichigo mengantar pulang Rukia kali ini mereka baru pulang dari sebuah toko buku yang letaknya tak jauh dari sekolah.

"Terimakasih ya Ichigo, sudah mengantarku membeli buku," kata Rukia sambil tersenyum, "hem sebenarnya kau tak perlu repot-repot…" Belum sempat gadis bermata amethyst itu melanjutkan kata-katanya jemari telunjuk Ichigo telah berada di atas bibir mungil Rukia. Membuat wajah Rukia merona sementara detak jantungnya berpacu lebih kencang..

"Sttt… Jangan bicara begitu Rukia," Mata Ichigo menatap lurus iris violet di hadapannya membuat Rukia menjadi semakin salah tingkah sendiri. "karena ini sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga ups maksudku mengantarkanmu kemanapun kau mau karena aku tukang ojek kesayanganmu," kata Ichigo yang sukses membuat Rukia cengo.

"Dasar Ichi kau ini bercanda saja. Aku tadi berkata serius tau!" seru Rukia sambil mencubiti lengan kekar pemuda itu.

"Aw aw sakit Rukia, sudah jangan mencubitiku seperti itu. Ampun aku hanya ingin membuatmu tertawa." kata Ichigo samba berusaha menghindari serangan Rukia.

"Ichi no baka! Aku ngambek!" seru Rukia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menggembungkan pipi. Membuat Ichigo semakin gemas.

"Oh ayolah nona Rukia yang manis jangan ngambek, nih kukasih permen." Kata Ichigo sambil mengeluarkan bungkus permen.

"Kau kira aku anak-anak apa, aku tak mau menerimanya!" Rukia lalu memalingkan mukanya.

'Shing~~'

Tiba tiba suasana menjadi sepi, membuat Rukia tak enak hati, 'apa Ichi sudah pergi? Sunyi sekali' batin Rukia.

"Rukia-chan~" Panggil Ichigo membuat Rukia menoleh dan 'Cup' Sebuah ciuman kilat mendarat di pipinya. Tentu saja Rukia terkejut, pipi gadis itu kembali merona menampakan semburat merah jambu yang manis.

"Sudah sampai nih, aku pulang dulu ya Rukia." Kata Ichigo sambil mengacak-acak rambut Rukia.

"Dasar Ichigo!" Seru Rukia sambil merapikan rambutnya.

"Oiya Rukia," Ichigo berbalik menatap gadis itu, "kalau sudah di rumah jangan sekali-kali kau pergi keluar, kalau ada barang yang ingin kau beli di tengah malam kau bilang saja padaku. aku akan membawakannya padamu. Pokoknya jangan sampai kau keluar di malam hari kalau terpaksa kau harus menghubungiku biar aku yang mengantarmu atau kau bawa semprotan merica ini!" Kata Ichigo panjang lebar kemudian melemparkan sebuah botol kecil yang dengan mudah ditangkap oleh Rukia. Botol itu mirip dengan botol parfum biasa namun terdapat sticker bergambar kepala pria paruh baya dengan tulisan Urahara Shoten.

"Ichigo dari mana kau mendapat barang aneh ini?" Tanya Rukia terlihat sedikit ilfil dengan gambar aneh di botol tersebut.

"Urahara Shoten, kau tahu toko serba ada di seberang Stasiun kan? Na'ah pokoknya kau harus hati-hati jangan sampai kau pergi sendirian, jangan keluar malam dan jangan tidur larut malam," kata Ichigo sambil berjalan pergi.

"Iya! Iya! Ichigo, cerewet banget, kau juga hati hati di jalan ya, aku bisa jaga diri kok," kata Rukia sambil melambaikan tangannya dengan riang namun tiba-tiba wajah Rukia memucat dan kepalanya terasa sangat pusing.

'Oh ayolah jangan sekarang, aku mohon jangan di depan Ichigo,' batin Rukia panik sementara bibirnya menyunggikan senyum agar tidak ketahuan Ichgo. Rukia terus tersenyum dan melambai riang sampai pemuda itu benar-benar menghilang di ujung gang. Rukia buru-buru berbalik dan menutupi hidungnya yang mengalirkan cairan kental beraroma besi. Setetes Kristal bening mulai menetes dari sudut mata violetnya.

"Ichi…"

.

.

.

setelah meninggalkan rumah Rukia, Ichigo memutar jalan dan menuju sebuah gang sepi di sanalah ia berhenti. Matanya mengamati sekeliling dan kemudian terpejam.

"Hei,kau keluarlah." Ucap Ichigo tiba-tiba dan tak lama kemudian seorang pemuda pucat bermata hijau dengan seragam yang sama dengan Ichigo keluar dari tempat persembunyiannya, "kau kan yang mengikuti Rukia selama ini?" tanyanya pada pemuda yang masih terdiam itu. Ia masih tidak menunjukan ekspresi bahkan sepasang emerald pemuda itu menatap balik Ichigo dengan tatapan penuh intimidasi, membuat Ichigo semakin kesal.

"Hei jawab aku! apa yang kau inginkan dari Rukia? Ulquiorra Schifer!" Seru Ichigo yang kini binernya nampak berkilat-kilat tajam.

"Huh…" pemuda bermata emerald itu akhirnya menghela nafas. "Sebetulnya aku tidak menginginkan apa-apa darinya, tapi karena pekerjaanku lah yang mengakibatkan aku harus begini."

"Apa maksudmu? kau stalker, Atau pembunuh bayaran, atau apa? Apa urusanmu dengan Rukia? Apa salah gadis itu? Kau punya dendam padanya?" tanya Ichigo bertubi-tubi.

"Kau salah paham kepala jeruk, aku bukan stalker atau pembunuh bayaran atau apapun yang kau tuduhkan padaku. Bahkan aku sama sekali tidak memiliki dendem padanya, karena bertemu dia pun tak lebih dari sebulan lalu. Tapi ku akui aku memang harus mencabut nyawanya." Jawab Ulquiorra datar tanpa ekspresi.

"Kau? Sama saja bukan? kau ini pasti pembunuh bayaran!" dan Ichigo melayangkan pukulan kewajah pemuda stoic itu sebagai wujud dari pelampiasan amarah meluap akibat kalimat datar yang diucapkan pemuda bermata zambrut di hadapanya. Namun dengan mudahnya Ulquiorra menahan kepalan tangan Ichigo. Padahal kalau dikeadaan biasa kepalan tinju itu mampu merubuhkan seorang preman berotot. Tapi ini? Dengan mudahnya dihentikan oleh seorang pemuda kurus nan pucat yang tak lebih tinggi postur tubuhnya dari Ichigo.

"Sebenarnya aku tidak mau, tapi ini karena aku adalah seorang shinigami."

"Apa kau shinigami? Oh kalau begitu aku raja neraka. Jangan berkata bohong kau ini psikopat kan?" Tanya Ichigo mencoba mencari celah untuk kembali menyerang dan akhirnya mampu mencengkram krah seragam Ulquiorra.

"Bisakah kau tenang sehingga aku bisa menjelaskannya padamu?" Tanya Ulquiorra dengan nada rendah sangat rendah nyaris seperti bisikan, "yare, sebenarnya aku tak boleh mengatakan lebih dari ini, tapi… ah sudah lah."

Didorong oleh rasa penasaran yang bertumpuk akhirnya Ichigo menurut, diturunkannya tangan yang sedari tadi mencengkram krah baju pemuda bermata hijau itupun kemudian menjentikkan jarinya mengubah gang tempat mereka berada menjadi suatu ruangan besar nan suram dengan berjuta lilin berbagai ukuran menyala memancarkan api yang menari-nari dalam keremangan.

"Tempat apa ini?" Tanya Ichigo bergidik tak percaya. Atmosfer ditempat itu terasa berat dan menyesakkan rongga paru paru Ichigo. Ditambah lagi udara terasa sangat dingin menusuk nusuk seolah musim dingin telah datang padahal di Kara Kura sendiri baru pertengahan musim semi.

"Ini ruang usia." Jawab Ulquiorra datar seraya tetap melangkah maju. Ruangan itu begitu besar dan teramat sunyi tak ada kebisingan kota ataupun suara binatang, bahkan kerikan jangkrik pun tak terdengar. Hanya derap langkah pelan yang ditimbulkan sepatu yang membungkus kaki-kaki mereka berdua.

"Apa maksudmu? Hei tunggu!" kata Ichigo yang segera menyusul Ulquiorra yang telah berjalan jauh di depannya. Semua hal ini tak bisa dipercaya begitu saja, namun terasa begitu nyata. Ichigo tampak begitu heran sekaligus terkejut.

"Sudah ku katakan akan kujelaskan,kau ini cerewet sekali." ucap Ulquiorra sambil merentangkan sepasang sayap hitam yang muncul begitu saja dari punggungnya, "Lilin lilin itu melambangkan usia manusia," Ulquiorra melangkah pelan menuju sederetan lilin semntara Ichigo menggikutinya dari belakang,

"dan ini milik Kuchiki-san" Ucapnya sambil menunjuk lilin kecil bertuliskan nama Rukia Kuchiki yang sudah sangat redup nyala apinya. Sayap Ulquiorra mengepak pelan pemuda itu menatap datar Ichigo. "jika lilin ini mati akulah yang akan membimbing Kuchiki-san kembali menghadap SANG PENCIPTA"

"JADI DIA AKAN MATI? Uso!" Kini Ichigo tidak bisa mengontrol suaranya pemuda berambut orange itu kembali mencengkram krah baju Ulquiorra "Katakan kalau ini bohong, ini hanya sandiwara, iya kan? tak mungkin terjadi katakan kau hanya murid biasa, murid pindahan dari rusia bukan seorang shinigami dan ini hanya reality show yang sering disiarkan ditelevisi itu kan? Dan Rukia tidak akan mati katakan itu!"

"Kurosaki ada tiga fakta yang harus kusampaikan peratama aku bukan murid pindahan dari Rusia, kedua aku adalah shinigami dan terakhir Rukia akan mati."

Kata-kata terakhir yang Ulquiorra katakan begitu menohok hati Ichigo, perlahan ia melepas cengkramannya dari kerah baju Ulquiorra dan berdiri terpaku ."Tak mungkin Tak adakah cara agar ia tetap hidup?" Tanya pemuda itu hampir putus asa.

"Ada."

"Apa itu?"

"Disini tertulis kau diizinkan untuk menukar lilinmu dengan lilinnya yang artinya kau menukar nyawamu dengan nyawanya," kata Ulquiorra sambil membaca sebuah buku tebal bersampul hitam yang entah dari mana munculnya. Sementara Ichigo terdiam sesaat .

"Baiklah kalau begitu,aku Setuju."

Ulquiorra tak nampak terkejut, rautnya masih sama, sedatar dinding-dinding muram yang tampak di kejauhan. Bahkan ia tak terkejut dengan keputusan Ichigo, ia hanya mendesis pelan, "kau yakin?"

Pemuda bersurai gelap itu melangkah mendekati sebuah lilin yang bersinar cukup terang dengan label bertuliskan Kurosaki Ichigo pada bagian bawahnya mengambil lilin itu dan menukarnya dengan lilin redup milik Rukia.

"Kuharap kau tak akan menyesal dengan keputusan yang telah kau buat, Kurosaki."

"Tak akan," Ichigo berujar mantap.

.

.

.

Ruang itu tak seberapa luas dengan dinding bercat ungu muda yang salah satu sisisnya terpasang beberapa bingkai foto. Disudut Ruang terdapat sebuah meja belajar dengan buku-buku yang tergeletak dalam keadaan terbuka. Beberapa tisu juga terlihat berserakan dengan noda merah kehitaman. Beberapa bungkus obat masih berserakan di atas meja belajar itu. Sementara masih di dalam ruang yang sama seorang gadis tengah terlelap dalam futon-nya namun terlihat tidurnya tidak tenang, beberapa kali ia berpindah posisi tidur dengan gusar. Gadis itu adalah Rukia yang tengah bermimpi.

.

.

.

Rukia's Dream

.

.

.

Rukia berdiri menatap suatu padang ilalang yang bergoyang tertiup angin semantara langit terlihat berwarna kemerahan. Rukia berfikir mungkin hari sudah beranjak sore tapi perasaan hatinya tidak tenang, hatinya terasa gelisah. Iapun mulai berlari seakan-akan ada sesuatu yang mengejarnya. Namun tak ada siapapun di sana. Tidak ada satupun, hanya padang ilalang, angin yang bertiup serta mentari yang sudah sangat condong ke barat. Gadis itu terus berlari dan baru berhenti setelah ia melihat siluet pemuda yang berdiri di kejaugan. Seorang pemuda tinggi tegap dengan hakama berwarna hitam serta warna rambut yang tak asing lagi baginya.

"Ichigo,kau kah itu?" panggil Rukia dan pemuda itu menoleh, terlihat lah wajahnya yang rupawan, mata musim gugurnya menatap Rukia sayu dengan bibir menyunggi senyum lembut yang jarang ia tunjukan.

"Rukia. "

"Ini di mana Ichigo?" tanya Rukia yang kini berjalan mendekati pemuda yang sangat ia sayangi itu, "kenapa kita disini ayo pulang," ajaknya sambil menarik lengan pemuda itu, terasa dingin. Ichigo tak bergeming dari tempatnya berdiri namun sepasang lengannya menarik sang gadis, merengkuhnya dalam dekap dingin yang menyedihkan. Sementara angin menderu-deru seolah badai akan datang meski langit masih menyiratkan warna lembayung senja.

"Aishiteru," bisik pemuda itu.

"Ichigo kau ini apa-apaan sih malu kalau dilihat orang," kata Rukia dengan pipi yang sudah semerah tomat. Namun Ichigo tak membuat gerakan, masih memeluk sang gadis.

"Tak ada yang akan melihat kita. Izinkan aku tetap seperti ini sebentar saja Rukia, kumohon."

"Ichigo kau aneh sekali."

Mereka berpelukan cukup lama, entah sudah berapa lama, namun Rukia tak merasakan kehangatan, pemuda itu dingin dan seolah hampa. Setelah beberapa waktu lama pemuda itu kini melonggarkan dekapannya hingga melepas pelukan yang seolah tanpa akhir itu, sepasang manik senjanya menatap permata amethyst Rukia dengan sorot pilu.

"Ichigo kau kenapa?" Tanya Rukia yang semakin bingung dengan sikap aneh Ichigo.

Pemuda iu mendekatkan wajahnya kewajah Rukia kini wajah mereka hanya sejarak kelingking bisa merasakan deru nafas Ichigo dan aroma parfum yang biasa dipakai pemuda itu, aromanya yang lembut dan terasa manis mengelitiki penciuman Rukia. Perlahan pemuda itu mengecup bibirnya. Dingin itulah yang rukia rasakan dari ciuman ini.

"Nee Rukia… maafkan aku." ucap Ichigo setelah mereka melepas ciman lembut itu.

"Kau kenapa Ichigo? Kenapa atamu berkaca-kaca begitu ?" tanya Rukia mulai khawatir, ia tak tahu kenapa pemuda itu menjadi begini aneh.

"Nee Rukia, aishiteiru…" angin berhembus kencang setelahnya, menderu deru seperti ada raksasa yang berteriak di kejauhan. Perlahan figur pemuda itu mengabur hingga berubah menjadi butiran pasir yang berhamburan.

"Ichigo ya da! Ikenaide yo,! Ie, ICHIGO!"

.

.

.

End of Rukia's Dream

.

.

.

"Tidak Ichigo!" Rukia terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin bercucuran membasahi tubuh mungilnya yang kini bergetar hebat, nafasnya terengah-engah seolah-olah dirinya telah berlari begitu jauh sementara tangan kanannya yang tadi sempat digunakan untuk menggenggam tangan Ichigo kini mengenggam pasir putih sama persis dengan warna pasir tadi dan pasir itu tiba tiba terbang seolah ditiup angin dan menghilang. Mimpi kah?

"Ichigo…" Rukia meraih frame berisi foto Ichigo dan mendekapnya erat.

"Sebenarnya apa maksudmu?"

Di sebuah puncak menara yang sangat tinggi Ulquiorra sang shinigami menatap sendu langit malam yang kelam.

"Unmei, nano ka?" Angin berhembus memainkan rambut hitamnya .

"Kenapa Schifer-kun?" Tanya seorang gadis berambut sewarna Senja yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.

"Kau membolos lagi? Onna?" tanya Ulquioorra datar, menatap gadis ramping berparas rupawan itu.

"Tidak kok, tugasku baru saja selesai," katanya sambil memainkan jepit hexagon yang tersemat manis menyibakkan poninya.

"Anak kecil yang tertabrak mobil itu kah?" tebak Ulquiorra, gadis itu hanya mengangguk.

"Lantas kenapa kau ada disini? Harusnya kau membimbing roh anak itu kan onna?"

"Ada tugas baru untukku dan Nel akan mengurus anak itu," jawabnya ringan, "hei bisakah kau memanggilku Orihime? Kau ini sedari dulu tak pernah berubah ya?"

"…"

Hening kembali menyapa.

"Kudengar kau tadi bicara tentang takdir ya?" Kata Orihime memecah suasana.

"Bukan urusanmu, Hime,." dan pemuda stoic itu mengepakan sayapnya terbang kelangit malam.

"Hei tunggu Schifer-kun!" seru gadis berambut senja itu dan mengepakkan sayap putihnya mengejar si pemuda menembus kegelapan malam.

====TO BE CONTINUED====

A/n: Yoo reader sekalian~ maaf baru bisa update gara-gara akun saya -atau modem ya?- sedang eror berbulan-bulan (?) jadi baru sempet update. Selain itu saya mau mengucapkan terima kasih sudah mau mengikuti dan membaca Unmei terasa fic ini sudah hampir mencapi klimaks *maybe* yap tak perlu berpanjang kata waktunya balas Review XDD

Harukichi Fujishima 'Chapyon: Sankyuu ne udah mau membaca fic saia hehe ini chap 4 sudah apdet *tapi sepertinya telat apdet* hehe

RiruzawaTakanoHiru15: Bagaimana kah fic ini? Masih kurang panjang? Hehe saia sudah berusaha membuat chapter ini lebih panjang dari yang sebelumnya dan terimakasih banyak atas koreksinya, benar-benar sangat membantu saia ^^ fic ini memeng masih banyak kekurangan selain itu karena saia masih author baru jadi masih perlu banyak kedepannya saia mohon bantuannya ya m(_ _)m

nakki desinta: wa nakki-chan tidak telat kok hehe bagaimana dengan fic ini? Sudah panjangkah dari chapter kemarin? Hehe Sudah tau kan siapa yang melafalkan nama Rukia?

Yosh terimakasih atas para Reader yang telah membaca maupun mereview fic ini sebenarnya saia mau bikin 2 atau 3 chapter langsung tamat tapi tak tau kenapa malah jadi bersambung begini, hehe. Dan fic ini masih banyak typo dan sepertinya ceritanya makin ngawur, tapi saya masih memohon kebaikan hati reader sekalian untuk mereview fic ini… Sampai jumpa di chapter depan~

Ps: kunjungi juga fic baru saya An egoistic isn't good dan light of blood jaa ne~