Naruto belongs to Masahi Kishimoto

Warning : AU, highly OOC, typos, sho-ai detected, informal style

Pair : GaaHina, SasoSaku, SasuNaru/NaruSasu

Happy reading minna~~

.

.

"Ohayou gozaimasu."

Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun tiba di halaman rumah Keluarga Akasuna. Senyuman manis dan rona kemerahan di pipi tak lepas dari raut wajahnya. Di belakangnya ada sosok Uchiha dewasa yang tampil formal dengan setelan Armani-nya. Sasori yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Masih mengenakan kaos oblong dan kain sarung, ia meninggalkan kopi dan pisang goreng di meja.

"Ohayou gozaimasu, Hinata-chan," ia tersenyum membalas sapaan Hinata, kemudian beralih menyapa Sasuke, "ohayou gozaimasu, Uchiha-san."

"Ohayou gozaimasu, Akasuna ... chan."

Detik itu juga Sasori merasa seperti tersengat listrik. Semenjak mengetahui orientasi seksual Sasuke lima tahun lalu, ia menetapkan jarak lima meter sebagai jarak minimal yang aman dari jangkauan Uchiha berambut jabrik. Apalagi dengan seduksi yang diam-diam-tapi-menerkam yang dipilih Sasuke sebagai taktik. Tidak, terima kasih. Sasori masih jauh lebih menyukai wanita cantik.

Dan obrolan mereka pagi ini mungkin hanya akan berisi sapaan ohayou gozaimasu saja andaikata Sakura tidak ikut berpartisipasi. Ibu-ibu fujoshi satu ini jelas tidak mau melewatkan hints berharga, bahkan jika hints itu melibatkan suaminya sendiri. Baginya, pagi-pagi mendapatkan fanservice itu sungguh sesuatu sekali.

"Hinata-chan ... kebetulan sekali Gaara belum berangkat," ucap Sakura gembira.

"Justru karena itu, Sakura-san. Aku ingin mengajak Gaara berangkat bersama. Dan...," Sasuke mengambil jeda sesaat, "sepulang sekolah nanti, aku juga ingin menitipkan Hinata pada kalian. 'Istriku' sedang mengikuti dinas di luar kota. Aku sendiri akan menghadiri persidangan salah satu klien-ku. Mungkin akan sampai sore. Jadi...,"

"Kami mengerti. Uchiha-san dan Uzumaki-san memang sibuk," potong Sasori lagi pula kau sudah sering mengatakan alasan yang sama berkali-kali, "lagi pula kami senang jika Hinata-chan di sini. Iya kan, Saku-chan?"

"Tentu saja. Hinata-chan adalah anak perempuan yang manis yang tidak pernah kumiliki," sambar Sakura dengan cepat.

"Ah, te-terima kasih. Bibi Sakura juga sangat baik," lagi-lagi rona kemerahan tipis muncul di permukaan pipinya.

"Ayo, berangkat." Suara sedatar talenan itu sudah jelas milik putra tunggal Keluarga Akasuna. Orbita berhias bola mata hijaunya melirik ke arah Hinata. Gadis cilik itu menyetujuinya. Lima tahun mengenal kepribadian Gaara, ia tak lagi menganggapnya sebagai spesies panda paling menyeramkan sedunia.

"Hati-hati di jalan, ya," Sakura melambaikan tangan ke arah mereka. Hanya Hinata yang membalas lambaian tangannya. Yah, Sakura tahu putranya terlalu gengsi untuk mengangkat tangannya tinggi-tinggi meski sudah memakai deodoran paling ampuh di Konoha.

Apa yang terjadi pagi ini memang bukan pertama kali terjadi. Sasuke atau Naruto akan datang ke kediaman Keluarga Akasuna untuk menitipkan putri yang mereka cintai. Sebagai orang tua yang baik, mereka tidak ingin Hinata mengalami hal-hal buruk seperti penculikan anak-anak yang marak terjadi. Lagi pula dalam Keluarga Akasuna ada Sakura yang bisa memahami abnormalitas keluarga mereka sekaligus mendidik Hinata dalam perjalanannya menjadi seorang remaja putri.

"Paman, jam berapa Paman akan menjemput Hinata?" tanya Gaara saat mereka bertiga sudah berada dalam mobil.

"Kau tidak senang Hinata ada di rumahmu?" Sasuke balik bertanya.

Hinata turut memandangi Gaara. Pertanyaannya sama dengan apa yang ditanyakan ayahnya. Yah, ia tahu Gaara memang tak ramah, tapi seingatnya baru kali ini Gaara bersikap sedemikian frontal untuk menolaknya.

"Bukan begitu. Yah ... pokoknya nanti Paman harus main PS dulu denganku!" jawab Gaara.

Sasuke tertawa ringan, Hinata mengembuskan napas lega. Ia ingat, Gaara memang sering menantang ayahnya memainkan game, apa pun jenisnya. Sosok yang semula dianggap Gaara sebagai lawan yang mudah nyatanya belum bisa dikalahkannya. Bahkan terakhir kali mereka bertanding, Gaara kalah telak dari ayahnya. Yah, mungkin ia ingin membalas kekalahannya.

"Baiklah ... baiklah ... berjanjilah kau tidak akan membuatku rugi karena telat makan malam bersama 'istriku', Gaara-chan," jawab Sasuke.

"Aku pasti menang!" kata Gaara yakin, "Dan jangan panggil aku Gaara-chan. Aku ini laki-laki!"

"Tapi kau manis, Gaara," jawab Sasuke, "seperti papamu."

Cukup, Sasuke! Jangan ikut-ikutan butler sinting di rumah sebelah yang tega menyemei Tuan Muda-nya sendiri! Lagi pula, siapa tahu Gaara ternyata adalah sosok menantu masa depan.

"Kurasa Paman harus memeriksakan mata," komentar Gaara sembari membuang muka.

"Ta-tapi kurasa Ayah benar. Gaara-kun memang manis kok," timpal Hinata.

Oh, Hinata tentu tak cukup peka untuk menerjemahkan kata 'manis' yang dikatakan ayahnya. Hidup bersama orang tua bergender sama tentu membuat Hinata berpikir ucapan Sasuke wajar-wajar saja. Namun bagi Gaara—yang sudah berulang kali diingatkan papanya yang mengingatkannya agar jangan sampai berdua dengan Sasuke dalam ruangan tertutup—cukup memahami Ayah Hinata melihat dirinya dan Papanya dengan cara yang berbeda.

.

.

.

Mobil Sasuke berhenti tepat di depan gerbang sekolah mereka. Seperti biasa, Gaara akan langsung melenggang ke kelasnya sementara Hinata akan menghabiskan satu atau dua menit untuk bicara dengan ayahnya. Apalagi siang ini Sasuke takkan datang menjemputnya.

"Hati-hati, ya, Hinata-chan. Pulang sekolah nanti, langsung pulang sama Gaara-chan, ya," pesan Sasuke.

Hinata menganggukkan kepala, "Ayah juga hati-hati, ya."

Sasuke mengusap puncak kepala putrinya dan memberikan sebuah ciuman ringan sebagai ganti kata pamitan. Kemudian ia melajukan mobilnya sembari memandangi putrinya yang melambaikan tangan. Gadis kecil itu baru memasuki gerbang sekolahnya setelah mobil ayahnya menghilang di pertigaan jalan.

"Uchiha-chan diantar ayahnya lagi, ya? Eh, ayahnya atau papanya sih?" Seperti biasa, komentar-komentar itu kerap menyambutnya. Sebagian besar teman-temannya sudah mengetahui Hinata memiliki dua orang laki-laki yang menjadi orang tuanya. Tak jarang komentar kurang mengenakkan didapatkannya.

"Menjijikkan. Masa orang tuanya sama-sama laki-laki sih."

"Jangan-jangan nanti dia juga akan menikah dengan seorang wanita."

Hinata mempercepat langkahnya demi menghindari komentar-komentar yang semakin menyakitkan. Bagaimanapun ia tidak suka mereka membicarakan ayah dan papanya seperti membicarakan harga beras dan minyak goreng yang terus melonjak di pasaran. Ia tahu keluarganya memang abnormal, tapi ... sulitkah bagi mereka untuk menerima sebuah perbedaan?

"Bicaralah sedikit lebih keras. Mereka takkan mengerti kalau kamu tidak pernah menjelaskan."

Langkah Hinata sesaat terhenti mendengar komentar Gaara. Akasuna sepuluh tahun itu berdiri di ambang pintu kelas Hinata dengan sebuah konsol game di tangannya. Jika sudah begini, sulit untuk tidak membayangkan Gaara memakai stripes merah-hitam atau hitam putih seperti tokoh Mamatt dalam anime Rebirth Note yang sering ditontonnya. Apalagi jika melihat rambut merah dan bola mata hijaunya—lebih bagus lagi kalau Gaara mau memakai goggle berwarna jingga.

"Umm ... a-anou...,"

"Siang nanti, aku minta onigiri-mu, ya," potong Gaara. Tanpa menunggu jawaban Hinata, ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang hanya berjarak beberapa meter dari tempat mereka berada.

"Ha-hai," jawab Hinata.

Gaara memang selalu menyemangatinya dengan caranya sendiri. Apalagi jika hal itu menyangkut keadaan orang tua Hinata yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Sebagai seorang ibu—sekaligus fujoshi—Sakura selalu menekankan bahwa pasangan yaoi juga ingin dihargai. Mereka juga ingin membuktikan bahwa cinta mereka suci. Takkan luntur walau dikucek seribu kali.

Yah, setidaknya itu amanat dari dorama shounen-ai Tukang Bubur Jualan Panci The Series dengan sponsor utama brand sabun colek yang diklaim mampu menghilangkan berbagai macam noda mulai dari noda membandel sampai tumpukan daki.

"Ohayou gozaimasu," sapa Hinata sembari meletakkan tasnya di meja.

Tak ada yang menjawab sapaannya, bahkan tidak dari teman sebangkunya. Untunglah, Hinata sudah sangat terbiasa menghadapinya. Jika tidak, mungkin ia sudah akan meng-update status facebook-nya dengan kalimat-kalimat galau seperti yang dilakukan senpai-senpai di sekolahnya. Opsi yang lain mungkin curhat colongan dengan mem-posting pic pesepakbola Italia pengguna setia koyo berwarna biru di situs naingeg dengan sebaris kalimat khas KENAPA KUDU INYONG seperti yang kadang-kadang dilakukan kakak sepupunya saat putus cinta.

Yeah, hidup ini terlalu indah untuk ditangisi. Jadi lebih baik Hinata membuka bukunya, menunggu sensei datang dan mengajarinya ilmu-ilmu yang bermanfaat lalu makan onigiri bersama Gaara saat istirahat siang nanti. Oh, Gaara juga harus tahu ia sudah bisa membuat onigiri dan menghiasinya dengan umeboshi.

Bel sekolah berbunyi. Shizune-sensei masuk dengan membawa beberapa buku berisi materi yang akan mereka pelajari. Guru muda itu menebar senyum sehangat teh poci, lalu menyapa murid-muridnya sebelum memulai pelajaran hari ini.

"Ohayou gozaimasu, minna-san."

.

.

.

Hinata melangkahkan kaki dengan riang meninggalkan kelasnya. Akhir jam pelajaran berarti ia bisa pulang bersama Gaara lalu mengobrol dengan Paman Sasori dan Bibi Sakura. Keluarga yang menyenangkan, setidaknya ia takkan merasa kesepian menunggu papa atau ayahnya kembali dari tempat kerja.

"Aku menyukai Gaara-kun."

Langkah Hinata tiba-tiba saja terhenti. Ia tak ingin kehadirannya menginterupsi. Matanya melirik, mendapati di hadapan Gaara ada seorang senpai yang cukup populer di sekolah ini. Mungkin lebih baik Hinata menunggu Gaara di gerbang depan dan memberi mereka privasi.

"Lama sekali, Hinata," Gaara malah melangkah mendekatinya, "ayo, pulang. Nanti aku terlambat nonton Hunter x Hunter yang akan ditayangkan ulang."

"Eh? Ta-tapi Miyuki-senpai...,"

"Kubilang cepat, Hinata. Nanti aku terlambat," potong Gaara.

"STOP!" Miyuki merentangkan tangannya untuk menghalangi mereka. Matanya melotot ke arah dua kouhai-nya, khususnya pada Gaara yang dengan seenaknya pergi tanpa memberi kepastian atas pernyataannya. "Aku tidak terima! Kau bahkan belum menjawab pernyataanku!"

"Memangnya masih perlu dijawab, ya?" Gaara balik bertanya.

Pandangan Miyuki beralih ke arah Hinata, lalu menunjuknya, "Anak ini pacarmu?"

"Aku temannya," jawab Hinata refleks, tak ingin menambah runyam suasana atau lebih buruk lagi, mencari masalah dengan senpai-nya.

"Oh, kamu yang punya orang tua homo itu kan? Cih, lihat saja apa yang akan...,"

"Papanya seorang Hokage. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Paman Naruto seandainya dia tahu putri kesayangannya disakiti Miruki-senpai," potong Gaara.

"Namaku Miyuki!" jerit Miyuki tidak terima.

"Yah, apa pun itulah," sahut Gaara sembari melirik jam tangannya, "ugh, sudah hampir mulai. Ayo, Hinata. Kita pulang."

Hinata mengiyakan, tetapi baru beberapa langkah mereka pergi, Miyuki-senpai sudah menahan tangannya.

"Anou, kau tidak akan mengadu pada ayahmu kan?" tanyanya pada Hinata.

Hinata terpana sebelum akhirnya menjawab, "Tentu saja tidak."

Yah, sekali lagi hal ini memang sering terjadi. Ia memang dijauhi dan dibenci, tapi tak ada yang berani mengganggunya hanya karena ia putri seorang bupati. Belum lagi profesi ayahnya sebagai pengacara hebat yang dikhawatirkan akan siap memejahijaukan siapa saja yang mengganggu ketenangan sang putri.

"Ck! Tsundere sialan. Aku jadi telat nonton Hunter x Hunter kan," Gaara meremas rambutnya frustasi.

"Maaf," cetus Hinata refleks.

"Bukan salahmu. Senpai tsundere itu yang menghalangi kita sampai di rumah tepat waktu," ucap Gaara.

"Miyuki-senpai menyatakan perasaannya padamu, kan?" tanya Hinata.

"Aku tidak tertarik punya pacar tsundere seperti dia. Kupikir dia bahkan lebih cerewet dan merepotkan daripada Mama," tukas Gaara.

Iya juga sih. Kadang-kadang Hinata juga merasa Bibi Sakura terlalu bersemangat. Apalagi jika itu menyangkut tentang fetish-nya yang sudah mendapat penyaluran yang tepat. Dalam hal ini Sasori boleh berlega hati karena ia tak tak dipaksa istrinya menjadi crossdresser demi memuaskan hasrat. Biasanya Sakura akan mendatangi rumah Keluarga Uchiha lalu memaksa salah satu dari mereka mengenakan gaun ala Cinderella dan wig berwarna kuning pucat.

"Menerima pernyataan cinta di usia yang sangat muda itu benar-benar merepotkan," gerutu Gaara.

Semburat merah muda muncul di pipi Hinata. Entah kenapa tiba-tiba ia teringat pada selembar surat kiriman Neji yang didapatkannya saat masih berada di TK Shinobi Ceria. Sampai sekarang, Hinata tak pernah benar-benar bertemu dengannya. Hyuuga cilik itu sudah terlanjur pindah ke Okinawa.

FLASHBACK

"Teme! Kalau kau mengantar Hinata-hime besok pagi, aku mau kau mencari tahu tentang anak yang bernama Neji!" tuntut Naruto berapi-api.

"Seingatku, anak yang mengganggu Hinata-chan tempo hari namanya bukan Neji," balas Sasuke sembari menyesap kopi sore harinya dengan santai. Ia mengabaikan lusinan berkas perkara yang terpampang dalam layar komputernya agar bisa menanggapi aduan sang 'istri'.

"Baca ini!" Naruto menunjukkan selembar kertas penuh dengan bekas lipatan origami pada Sasuke, "Ck! Anak-anak zaman sekarang itu benar-benar pintar membuatku sakit kepala." Naruto menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Sasuke membaca sekilas isi surat yang ditujukan pada putrinya. Pria Uchiha itu hanya tertawa kecil menanggapinya. Tentu saja hal itu membuat Naruto bertanya-tanya—dan sedikit bertanya-tanya adakah yang salah dengan menu makan siang pasangan hidupnya. Sasuke menggeleng-gelengkan kepala lalu bangkit dari kursinya.

"Kurasa kau membutuhkan sedikit relaksasi. Dengarkan aku, ini bukan hal yang sepantasnya kaupikirkan setengah mati." Sambil berkata begitu, kedua tangan Sasuke bergerak untuk memberi pijatan di bahu pasangan hidupnya yang memang terasa tegang dengan setumpuk beban, "Rileks, Naru-chan. Semua orang tahu, putri kita memang manis. Semua orang juga tahu, putri kecil kita yang berwajah malaikat memang menyenangkan untuk dilihat, bahkan oleh teman-teman seusianya. Kurasa Neji hanya seorang anak yang memiliki keberanian lebih untuk mengungkapkan pendapatnya. Kurasa dia juga cukup pintar, meski aku tak yakin dia sepintar Gaara."

"Tapi kata ailoffyu-nya itu ... apa itu bentuk baru penulisan frasa I love you? Ck, tetap sulit bagiku untuk menerimanya, Teme," keluh Naruto.

Lagi-lagi Sasuke hanya tertawa ringan, "Umur lima tahun, Hinata sudah mendapatkan surat cinta pertamanya dan reaksimu marah-marah seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan kalau sepuluh tahun lagi ada seorang pemuda yang mengajaknya kencan atau bahkan menciumnya di depan matamu sepertinya kau akan langsung membunuhnya."

Kali ini tawa itu menular. Naruto juga tertawa kecil menanggapinya, "Tapi aku tetap ingin kaubicara dengan Hinata-hime besok pagi. Dan untuk sekarang ... kurasa aku memang membutuhkan relaksasi." Ada seringai nakal berbumbu seduksi ketika ia menghentikan kedua tangan Sasuke yang masih memijatnya. Kali ini giliran Naruto yang bangkit dari kursi, lalu menggerakkan jemari untuk melolosi satu per satu kancing kemeja biru muda milik pasangannya.

"It's my turn, Sa-su-ke..."

Demi sekarung doujinshi yaoi, Sasuke benar-benar lupa kalau hari ini dirinya yang mendapat jatah menjadi uke!

.

.

.

"Neji? Tidak, aku tidak mengenalnya."

Itu reaksi Gaara saat Hinata bertanya padanya. Bocah Akasuna itu duduk di ayunan dengan tenang, memainkan megaminx dua belas warna. Uchiha cilik yang bertanya padanya duduk di ayunan yang ada di sebelahnya. Menimbang-nimbang siapa lagi yang akan ia tanyai terkait identitas anak yang disebut ayahnya sebagai pengagum rahasia.

Tadi pagi Sasuke memang memberinya beberapa pesan, khususnya berkaitan dengan Neji. Ayahnya mengatakan Neji mengaguminya, tetapi Hinata harus tetap berhati-hati. Hinata tidak mengenalnya sehingga tidak ada yang bisa memastikan bahwa Neji adalah anak baik yang tidak akan mengganggunya seperti anak-anak nakal tempo hari.

Ah, kenapa Hinata tidak bertanya pada Inuzuka-kun saja?

"Neji-sama? Aaa ... sepeltinya Uchiha-chan sudah membaca sudah membaca sulatnya, ya?" tanya Inuzuka saat Hinata bertanya padanya.

Hinata menganggukkan kepala, "Aku juga ingin main ayunan sama Neji-kun."

Ekspresi bocah Inuzuka itu tiba-tiba berubah menjadi sedikit murung, "Neji-sama sudah pergi ke Okinawa." Kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Neji-sama selalu ingin belmain belsama Uchiha-chan. Kalena itu, kemalin Neji-sama membelikan sulat itu pada Uchiha-chan."

"Kukila aku masih bisa main sama Neji-kun," kata Hinata.

Inuzuka menatap ekspresi bocah Uchiha berpipi merah muda di hadapannya lalu berkata, "Uchiha-chan jangan sedih. Kalau Neji-sama kembali lagi, aku yakin Neji-sama akan mengajak Uchiha-chan belmain ayunan belsama."

Hinata menganggukkan kepala, menyetujui apa yang diucapkan Inuzuka. Ia berharap Neji bisa kembali dari Okinawa agar mereka bisa bermain ayunan bersama. Ia juga ingin mengucapkan terima kasih karena pesawat kertas yang diberikan Neji, ia jadi bisa belajar membuat origami bersama Gaara. Ah, mungkin akan menyenangkan bila nanti ia bisa bermain bersama Neji dan Gaara.

Yah, karena itu, Hinata kan sabar menanti.

.

.

FLASHBACK OFF

"Hey, kamu memikirkan sesuatu?" tanya Gaara.

"Ti-tidak," sangkal Hinata tanpa berani membalas pandangan Gaara.

"Kalau begitu, sebaiknya kamu memeriksakan kesehatan matamu. Sudah dua kali kamu hampir menabrak tiang listrik jika aku tidak menyeretmu untuk menghindar," tukas Gaara.

"Umm ... ba-baik," jawab Hinata setengah tergagap.

Bicara tentang pernyataan cinta, mungkin ada baiknya jika Hinata membicarakan Neji. Tidak, surat pemberian Neji itu belum tentu berisi ungkapan hati. Bisa saja itu hanya surat biasa yang diberikan seorang anak balita pada temannya karena ia merasa kagum dengan apa yang Hinata miliki. Sekadar mengagumi, atau boleh jadi justru ungkapan rasa iri. Toh, sampai sekarang Neji tak kunjung muncul menampakkan diri.

Atau jangan-jangan, ia juga sudah melupakan surat yang diberikannya pada Hinata. Lagi pula umur mereka sudah sepuluh tahun, Hinata tak yakin Neji masih berminat mengajaknya bermain ayunan bersama.

"Nah, kau melamun lagi kan?" ucap Gaara sambil menarik lengan Hinata ketika lagi-lagi Uchiha junior itu hampir menabrak gerbang rumah Keluarga Akasuna.

"Maafkan aku," ucap Hinata refleks.

"Hn...," Gaara membuka gerbang rumahnya, memberi isyarat pada Hinata untuk ikut masuk, "tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Mereka hanya bocah-bocah bodoh yang belum mengerti. Jika beberapa tahun lagi mereka menjadi seorang fujoshi, aku yakin mereka akan merasa malu karena pernah mengejekmu."

Gaara memang selalu menjadi teman yang baik. Kali ini ia memang salah paham tentang alasan Hinata yang melamun sepanjang jalan, tetapi ia selalu punya kata-kata bagus yang membuat semangat Hinata kembali naik. Hinata tak bisa menahan diri untuk tersenyum bahagia sembari berbisik...,

"Terima kasih, Gaara-kun."

.

.

TBC

.

.

Thank's to : Thi3x ZamBetJalKecTuDuKanBer, Rosecchi, Minji-d'BlackJack, SasyaTazkiya Lawliet, Mitsuki Ota, NaruNarurin, suka snsd *nggak kok, khusus di fic ini anggap saja NejiHina nggak punya hubungan keluarga. Ntar kalau ada hubungan keluarga, takut mirip sinetron Panci yang Ditukar dong XD*, Hanyou Dark, chibi beary *yah, begitulah, SasuNaru memang pasangan yaoi galau sih, makanya interaksinya begitu XD*, Fujisaki Fuun, Ayuzawa Shia, Moyahime, minatsuki heartnet, Tinaff359 *arigatou gozaimasu ^^*, sin naka, sasuhina-caem *iya, bakal ada slight NejiHina kok, tapi final pairing tetep GaaHina*, Schinoue Saga, jonghoshinoxxxsai, dan Lin Hekmatyar.

Seperti biasa, yang login balesannya via PM, ya ^^

Yosh, chapter pertama dengan GaaHina umur 10 tahun. Udah nggak unyu-unyu tapi belum terlalu serius juga. Di sini, saya lebih ingin mengeksplorasi soal hubungan keluarga baik keluarga Hinata maupun keluarga Gaara. Tidak seperti saat mereka masih umur 5 tahun, di sini Hinata mulai mendapat tekanan dari teman-temannya tentang status kedua orang tuanya. Anak-anak di usia 10 tahun memang bukan lagi anak-anak yang polos, tapi juga masih terlalu muda untuk mengerti betapa menariknya pairing yaoi #fujoshi kumat. Saya pikir, umur 10 tahun memang ABG wanna be sih. Karena itu, mohon maaf jika ada yang kurang sreg jika porsi shounen ai-nya dinilai terlalu dominan.

Kalau ada yang nggak ngeh soal naingeg dan Kenapa Kudu Inyong, yang sama maksud adalah situs 9gag dan meme Mario Balotelli (pemain timnas Italia yang diketahui memakai koyo a. k. a plester berwarna biru muda saat Italia bertemu Jerman dalam gelaran Euro kemarin XDD) yang identik dengan kata Why Always Me ^^s

Yosh, selamat menikmati chapter 4 ini. Feedback dari readertachi saya terima dengan senang hati di kotak review yang masih sangat luas ini.

Molto grazie