Chapter 4 – Last Snow Camellia's Blooming

.


Summary

Musim dingin, saatnya bunga Tsubaki mekar. Saat itu pula Hak dan Hazuki kehilangan kedua orang tua kandungnya tepat di depan mata mereka sendiri. Mundok dan Neguro mendapatkan mandat dari Maya, ibu kandung Hak dan Hazuki untuk menjaga mereka berdua, tapi keduanya terpaksa melepaskan Hak dan Hazuki yang telah tumbuh dewasa.


Reishi, pada awalnya itu adalah kemampuan untuk menguasai hati dan permasalahan orang lain tanpa melihat dan mendengar apapun, sehingga orang itu bisa ikut melihat dan merasakan hati manusia selain dirinya, kekuatan yang bisa digunakan untuk mempengaruhi orang lain tapi semakin kuat kemampuan orang itu, semakin tinggi kemungkinan hatinya ikut terhanyut. Jika si pemilik kekuatan bisa mengendalikannya, itu bukan masalah seperti Hazuki yang menyadari bahwa jika ingatan dan perasaan orang lain bisa ia dapatkan dengan atau tanpa ia inginkan maka ia juga bisa menyampaikannya pada orang lain, melalui mata kirinya yang merah.

.

15 tahun yang lalu...

Seorang wanita yang pinang dibelah dua dengan Hazuki terlihat menyusuri pekarangan kuil di atas pegunungan yang bersalju, yang membedakannya dengan Hazuki hanya warna bola mata biru wanita itu yang persis seperti mata Hak. Saat Yona dan yang lain merasa kagum melihat betapa cantiknya wanita itu, Kou Ren dan Tao bisa langsung mengenali wanita itu sebagai bibi mereka, Maya.

"sosoknya yang terlihat begitu lembut dan rapuh itu begitu cantik... jadi itu putri Maya, ibu kandung Hak dan Hazuki juga bibi putri Tao dan putri Kou Ren...".

"Hakuya? Kemana dia..." ujar Maya.

"ibu, ayah dan kakak ada di belakang kuil dan kalau ibu tak datang dalam 5 menit lagi, bisa-bisa kakak mati beneran..." ujar Hazuki yang masih kecil.

Mendengar ucapan Hazuki, Maya refleks berlari setelah menggendong Hazuki.

Maya terkejut melihat Hak yang masih kecil digantung terbalik di pohon sambil mengayunkan pedang kayu "sayang!? apa yang kau lakukan pada Hak!?".

Pria yang pinang dibelah dua dengan Hak, bedanya hanya warna matanya yang unik, yang tak lain adalah ayah kandung Hak dan Hazuki dimana warna matanya menurun pada Hazuki.

"ya, seperti yang kau lihat, aku hanya melatih anak kita, dia sendiri yang minta..." ujar Hakuya menunjuk Hak dan menurunkan pedang kayunya.

Maya menyerahkan Hazuki pada Hakuya dan menggendong Hak selagi Hakuya melepaskan tali yang mengikat Hak "tetap saja... Hak masih 4 tahun, kan? dia masih terlalu kecil, aku tak melarangmu melatih anak kita tapi tunggu dia sedikit lebih besar...".

"jangan terlalu dimanja... di usia 16 tahun sebagai upacara kedewasaan di tempatku, aku dibuang ke pegunungan paling ujung daerah Kekaisaran Kai Utara yang terjal, liar dan paling dingin selama musim dingin berlangsung dan aku berhasil bertahan hidup..." ujar Hakuya melipat tangan.

"tolong jangan samakan orang biasa denganmu... eng? Hak, kenapa ada luka? kau berkelahi lagi?" ujar Maya memeriksa tubuh Hak.

Hak yang digendong Maya menunjuk Hazuki yang digendong oleh Hakuya "itu salah mereka sendiri, siapa suruh mereka menganggu Hazuki?".

"saat aku mengacuhkan mereka yang mengejekku karena warna mataku, mereka menarik rambutku, jadi kakak marah pada mereka dan lagi-lagi mereka semua babak belur dihajar kakak" ujar Hazuki mendongak pada Hakuya.

"hoo... anak-anak mana yang menarik rambutmu ini?" ujar Hakuya tersenyum dengan aura yang mengerikan.

"sayang, hentikan... auramu mengerikan..." ujar Maya lalu menghela napas "dasar, nggak kau atau ayahmu, sama saja... sama-sama berdarah panas".

"tapi kata ayah, sebagai laki-laki, aku harus kuat dan menjaga orang yang kusayangi seperti ibu dan Hazuki..." ujar Hak menggenggam lengan Maya.

Mendengar ucapan Hak, Maya tersenyum lebar "dasar... kau bisa jadi kakak yang overprotektif pada adik-adikmu nanti".

"bu, kenapa kata adiknya jamak? kan adikku cuma satu" tanya Hak.

"tunggu, dokter bilang apa tadi padamu?" tanya Hakuya.

"aku hamil lagi, sudah 3 bulan~" ujar Maya yang sontak membuat Hak, Hazuki dan Hakuya bersorak serentak sehingga Maya tertawa melihat reaksi keluarganya yang kompak.

Saat tiba di kuil, Hakuya dan Maya kedatangan tamu sehingga mereka menaruh Hak dan Hazuki di kamar sebelah. Karena rambut Hazuki berantakan, Hak menyuruhnya duduk dan menyisir rambutnya.

"sudah warna mataku beda warna begini, warna rambutku juga merah begini, wajar saja jadi bulan-bulanan anak-anak di sekelilingku" ujar Hazuki yang memainkan poninya.

"jangan pedulikan ucapan mereka, warna mata dan rambutmu itu unik, lagipula kau juga manis makanya mereka yang iri padamu jadi mengejekmu, seharusnya kau lebih percaya diri..." ujar Hak yang menata rambut Hazuki, memicingkan mata "tapi kau sendiri terlihat sangat santai... meski aku tahu sih, itu kan karena wajah poker facemu yang turunan dari ibu...".

"soalnya marah itu memerlukan tenaga, aku lebih suka hidup tenang dan tentram seperti ibu, tak seperti kakak dan ayah yang berdarah panas...".

"lidah tajammu sama persis dengan ibu..." ujar Hak menggelitiki Hazuki sehingga Hazuki yang merasa kegelian jadi menggeliat di lantai.

Tak lama kemudian, seorang wanita bermata ungu berambut putih lurus masuk dan menyapa mereka. Melihat posisi Hak dan Hazuki, wanita itu tertawa geli "Oshikura Manju?".

"bukan..." ujar Hak berbaring di lantai dengan posisi telentang ditindih Hazuki saat keduanya tengah bergulat.

"apa bibi Yuki akan menginap disini?" tanya Hazuki sambil duduk di atas badan Hak.

"Hazuki, cepat minggir!? berat, tahu!?" protes Hak.

Pria berambut hitam dan bermata coklat masuk dan menggendong Hazuki "yo, bocah-bocah, karena ayah dan ibu kalian ada kerjaan, jadi sementara waktu kalian dengan kami dulu, ya".

"lho? ayah dan ibu mau kemana?" tanya Hazuki.

"mereka akan segera kembali setelah pekerjaan mereka selesai, jadi tunggu saja... omong-omong, selamat ya, kalian akan dapat adik~" ujar Yuki.

Saat bermain di pekarangan, melihat salju mulai turun, Hak mengajak Hazuki pulang ke rumah "kita minta bibi Yuki masak oden saja malam ini...".

"kalau ibu sudah pulang, kita minta ibu saja...".

"dasar manja, baru juga ditinggal sebentar".

"habisnya, aku selalu cemas jika ayah dan ibu pergi bekerja seperti sekarang, kuharap mereka tak terlibat sesuatu yang berbahaya...".

Saat mereka berdua pulang ke rumah, suasana rumah begitu hening seperti tak ada siapapun di dalam rumah. Begitu Hak membuka pintu salah satu kamar, ia terkejut saat melihat seisi ruangan itu dipenuhi oleh warna merah cipratan darah. Melihat potongan tubuh Ruka yang berserakan di kamar, Hak dan Hazuki malah masuk ke dalam dan mulai menyusun potongan tubuh Ruka.

"darahnya banyak sekali, paman pasti kesakitan..." ujar Hazuki menyelimuti tubuh Ruka.

"...apa yang kalian lakukan!? anak-anak gila ini..." ujar bayangan hitam yang muncul di udara hingga terlihat sosoknya mengenakan jubah hitam dengan sabit besar di tangannya, terlihat tangannya yang hanya berupa kerangka menunjuk Hak dan Hazuki "orang itu kan sudah meninggal?! biarpun kalian susun tubuhnya, dia takkan hidup lagi".

"om siapa?" ujar Hak disambung Hazuki "iya, muncul tiba-tiba terus tangannya kok cuma tulang?".

"aku yang gila atau anak-anak ini yang terlalu polos?" gerutu makhluk itu melayang di depan Hak dan Hazuki "kalian anak-anak yang aneh... tidak hanya bisa melihatku, kalian juga tidak takut padaku? aku ini Shinigami (dewa kematian)...".

"ayah kita lebih seram kalau marah" ujar Hazuki.

"benar" angguk Hak.

Saat Hazuki bertanya pada Shinigami tentang apa artinya kematian, Shinigami itu tertawa kecil "rupanya kalian hanya belum mengerti tentang apa itu kematian? Wajar sih, masih terlalu kecil bagi kalian untuk mengetahui apa itu kematian...".

Setelah Shinigami itu memberitahu apa itu kematian, Shinigami menghilang tanpa jejak dan Hazuki menangis keras mengetahui ia tidak bisa bertemu Ruka lagi. Yuki yang masuk ke dalam terkejut, tapi ia langsung membawa Hak dan Hazuki keluar rumah begitu ia merasakan ada bahaya yang datang. Tiba-tiba, Hazuki dan Hak terlempar dari tangan Yuki yang tertusuk beberapa tombak dari belakang. Hazuki dan Hak tak bisa bergerak karena shock saat melihat tubuh Yuki ditembus beberapa tombak muncul dari bawah, menusuk seluruh tubuhnya.

"Hak... Hazuki... lari... cepat lari!?" teriak Yuki menatap mereka saat mengarahkan tangannya ke arah mereka dengan tubuh berlumuran darah.

Saat tangan Yuki terkulai lemas dan sorot matanya berubah menjadi kosong, Hak menarik tangan Hazuki "turuti apa yang diberitahu bibi Yuki!?".

"tidak!? Bibi Yuki masih didalam, kak!?".

"apa kau tak lihat?! Shinigami itu muncul lagi, ia menjemput bibi Yuki... itu berarti bibi Yuki sudah mati...".

"aku juga lihat!? tapi kita mau lari kemana, kak?" isak Hazuki menyeka air matanya.

Saat mereka berdua berlari keluar rumah, mereka melihat desa tempat mereka tinggal terbakar. Rumah mereka adalah kuil di atas pegunungan dimana mereka dapat melihat situasi desa dari atas sini.

"lari... itu yang dikatakan bibi Yuki, kan? kita bisa lari kemanapun, asalkan kita tetap hidup!? jika kita mati, kita takkan bisa bertemu ayah dan ibu lagi, kan?" ujar Hak mengulurkan tangannya pada Hazuki yang menyeka air matanya dan meraih tangan Hak.

Keduanya berlari menyusuri desa yang terbakar, sampai akhirnya seorang tentara berkuda menemukan mereka.

"hoho... mirip sekali dengan mereka berdua, kecuali warna mata mereka yang tertukar... setelah lewat beberapa tahun sejak ia kabur, wajar jika sudah ada anak yang mereka miliki" ujar pria itu menghunuskan pedangnya.

Saat pria itu mengayunkan pedangnya, Hakuya menangkisnya dengan tombaknya "apakah prajurit kerajaan Xing memang punya hobi membunuh anak-anak, Lou!?".

"anak-anak, cepat kemari?!" ujar Maya yang berada di belakang mereka.

"Maya, cepat bawa anak-anak lari?!" ujar Hakuya menyerahkan pedangnya pada Maya setelah ia menendang Lou hingga Lou terlempar beberapa meter.

"bagaimana denganmu?" ujar Maya menggendong Hazuki yang menangis sambil memeluknya erat.

"pergilah" ujar Hakuya mengecup dahi Maya.

"pastikan kau kembali padaku" ujar Maya mencium Hakuya dan pergi sambil membawa Hak dan Hazuki.

"ibu, kembali!? ayah, lari?!" ujar Hazuki mengulurkan tangannya ke belakang.

Tepat di kaki bukit yang menghadap desa, saat Hak dan Maya melihat ke arah yang dilihat Hazuki, terlihat jelas di tepi desa diterangi oleh api yang membakar rumah di desa, beberapa prajurit menusukkan tombak ke punggung Hakuya dan Lou menebasnya. Maya memalingkan wajahnya sambil menahan air matanya.

Setibanya di atas gunung, Maya menyembunyikan Hak dan Hazuki di semak-semak "diamlah disini, jangan bersuara, jangan menangis, dan jangan keluar apapun yang terjadi... Hak, kau kakaknya, tepati janjimu pada ayahmu, sebagai laki-laki kau harus melindungi orang yang kau sayangi...".

Saat Hazuki menangis, Hak menutup mulut Hazuki dan mengangguk.

"bukankah saya sudah memperingatkan anda sebelum anda pergi meninggalkan kerajaan Xing, tuan putri Maya? jangan pergi jika anda tak ingin menderita..." ujar Lou saat ia berhasil menyusul Maya.

"sayangnya, tidak pernah sekalipun aku menderita selama aku berada di sisi Hakuya dan aku tak pernah menyesali pilihanku... karena pada nyatanya, kaulah yang membuatku menderita, seperti sekarang..." ujar Maya mengacungkan katana ke arah Lou sambil menangis.

"sebagai putri kerajaan Xing, anda diperbolehkan mempelajari 18 seni wajib militer, dan saya yang mendapat kehormatan untuk menjadi lawan anda... sudah lama sekali, sejak terakhir kali kita beradu pedang, tuan putri..." ujar Lou berlari dan mengayunkan tombaknya.

Selama beberapa saat, Maya dan Lou beradu pedang dan tombak hingga akhirnya Lou jatuh tersungkur ke tanah karena Hakuya menusuk Lou tepat di jantungnya dari belakang "jika kau ingin membunuhku, pastikan kau penggal dulu kepalaku, bodoh...".

Maya mengayunkan pedangnya ke bawah sehingga darah Lou terlempar dari katananya dan menghampiri Hakuya "Hakuya, kau...".

"Maya, kandunganmu..." ujar Hakuya menunjuk darah yang keluar dari balik rok dan mengalir ke kaki Maya yang menangis sambil memegangi perutnya "maafkan aku...".

Hakuya memeluk Maya dan berbisik "akulah yang seharusnya minta maaf karena aku datang terlambat... dan maaf... karena aku harus menyusul anak kita...".

Maya memeluknya dan menangis histeris melihat Hakuya menghembuskan napas terakhirnya, setelah Hakuya menepati janjinya kembali menemuinya meski beberapa tombak dan panah menancap di tubuhnya.

Lou tertawa sebelum menyeringai "meski aku akan mati dan tak bisa membawamu bersamaku, paling tidak aku bisa mengirim pria Oni yang menghasutmu itu... dan anak-anakmu...".

Saat Maya menoleh ke belakang, Maya terkejut melihat seorang prajurit Xing bawahan Lou menarik kedua anaknya keluar dari tempat persembunyian mereka. Karena melindungi Hazuki, Hak terkena pukulan yang cukup keras di kepalanya. Melihat Hak jatuh ke arahnya dengan kepala berlumuran darah, Hazuki menangis keras. Anehnya, saat Hazuki menatap prajurit itu, prajurit itu menggelepar kesakitan di tanah hingga akhirnya dia tak bergerak lagi. Maya langsung mengetahui kalau itu adalah perbuatan Hazuki, tepatnya mata kiri Hazuki yang berwarna merah.

"jangan nangis, dasar cengeng..." ujar Hak memegang wajah Hazuki sehingga Hazuki yang lega memeluknya sambil menangis "kukira kau sudah mati...".

"jangan membunuhku seenaknya, dong..." ujar Hak bersandar pada Hazuki.

Sayangnya apa yang terjadi tadi dilihat oleh beberapa prajurit, sehingga para prajurit Lou melontarkan anak panahnya, semua anak panah itu mengenai punggung Maya yang melindungi Hazuki dan Hak.

Sambil mendekap erat Hak dan Hazuki, Maya tersenyum dengan lembut "tak apa-apa... jangan takut... orang jahat itu sudah pergi...".

Tiba-tiba, para prajurit yang tadi memanah Maya tumbang karena dibunuh pasukan Neguro.

Setelah memastikan Lou sudah mati, Neguro menghampiri Maya "tuan putri Maya?!".

"Neguro..." ujar Maya terbaring lemas sambil memeluk Hak.

Neguro menjelaskan bahwa ia bergegas ke tempat Maya berada setelah ia tahu kalau Lou seenaknya menggerakkan pasukannya untuk mencelakai Maya "ucapan maaf sebanyak apapun tak akan cukup untuk menebus apa yang terjadi malam ini...".

"Neguro, lupakan apa yang terjadi malam ini dan tolong rahasiakan apa yang dilakukan Lou malam ini pada siapapun termasuk pada Sophia, cepat kabur sebelum pasukan dari suku angin tiba... jika kau merasa bersalah padaku, tolong bawa putriku, pertemukan dia dengan Sophia... dan tolong sampaikan pesanku pada Sophia, maafkan aku..." ujar Maya tersenyum "jika setelah ini putriku tak ingat apa yang terjadi malam ini, bisa kau berjanji padaku? rahasiakan apa yang terjadi malam ini pada putriku termasuk identitasnya... tolong jaga dia dan sayangi dia, seperti kau menjagaku... sampai nanti datang seseorang yang bisa menjaganya... maaf, karena sampai akhir hidupku, aku selalu merepotkanmu...".

Neguro menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya "sesuai keinginan anda, tuan putri... seharusnya sayalah yang meminta maaf... maaf, karena tak bisa menyelamatkan anda...".

"tak masalah bagiku, Neguro... asalkan anakku masih hidup..." ujar Maya memegang wajah Hazuki dan menyeka air mata Hazuki "maafkan ibu... karena ibu harus meninggalkanmu begitu cepat... aku mencintaimu, Hazuki...".

Saat tangan Maya terkulai lemas dan sorot mata Maya menjadi kosong, terdengar peluit disertai teriakan peringatan dari salah satu prajurit "prajurit suku angin sebentar lagi tiba di tempat ini!?".

Mendengar peringatan prajurit itu, Neguro naik ke atas kuda dan memacu kudanya setelah menyelimuti Hazuki dengan mantelnya.

"paman, turunkan aku?! Ibu dan kakak... mereka masih disana!?" ronta Hazuki.

"maaf... tapi ibu dan kakakmu..." ujar Neguro menggertakkan giginya, seolah tak sanggup melanjutkan kata-katanya "aku bersumpah, tuan putri Maya... aku pasti akan melindungi apa yang anda tinggalkan...".

Setibanya di tempat itu, Mundok menemukan jasad Maya tengah mendekap Hak tepat di samping pohon Tsubaki, bunga Tsubaki berguguran di dekatnya, seolah mendoakan kepergian Maya. Merahnya warna rambut dan darah Maya yang selaras dengan kelopak bunga Tsubaki yang berguguran membuatnya terlihat seperti bunga Tsubaki yang mekar di atas salju yang putih, bunga Tsubaki raksasa yang mekar untuk terakhir kalinya. Mundok berlutut di hadapan jasad Maya dan menundukkan kepala, menyalahkan dirinya yang terlambat datang, yang bisa terucap hanyalah kata maaf.

"...ibu..." bisik Hak meneteskan air mata dengan sorot mata yang kosong.

Mundok yang mendengar suara Hak segera menarik Hak dari dekapan Maya "masih bernapas!?".

Keesokan harinya, saat Mundok berdiri di depan makam Hakuya dan Maya, ia menggendong Hak yang dibalut perban tengah tertidur "apa yang harus kukatakan pada anak ini jika ia bertanya kemana kalian berdua...".

"Mundok, tak perlu khawatir soal itu karena aku sudah menyegel ingatannya beserta kekuatannya dengan kekuatan terakhirku" ujar arwah Maya yang muncul tepat di hadapan Mundok "jangan salahkan dirimu karena kau tak datang tepat waktu... sebagai gantinya, tolong rahasiakan identitas aslinya dan jagalah dia sebagai cucumu, agar ia tumbuh menjadi anak yang kuat... sampai kelak, ia bisa memilih jalannya sendiri dan bisa melindungi dirinya sendiri... terima kasih banyak atas semua pertolongan yang kau berikan pada kami, Mundok... selamat tinggal...".

Senyuman yang begitu lembut dari sosok Maya yang menghilang setelahnya, entah kenapa terasa memilukan sehingga Mundok meneteskan air mata "aku berjanji, tuan putri Maya... akan kuberikan nama 'Son' pada putramu dan akan kupenuhi permintaan terakhirmu...".

Setelahnya, terlihat bagaimana nasib keduanya di tempat yang terpisah.

Saat Neguro membawa Hazuki ke kastil Kyuu, Neguro hanya memberitahu bahwa Maya meninggal karena serangan para perampok di desanya dan merahasiakan apa yang dilakukan Lou. Melihat Hazuki menangis dengan sorot mata yang kosong, Sophia hanya bisa menangis sambil memeluk erat Hazuki. Sophia yang merasa kalau Hazuki sangat mirip dengan Maya, mengangkat Hazuki sebagai putrinya untuk mengenang Maya juga sebagai penebusan atas apa yang telah menimpa Maya, demi Hazuki "mulai sekarang, namamu Hanna...".

Saat diperkenalkan pada Kou Ren dan Tao, Tao yang ceria bisa membuka hati Hazuki dan Kou Ren yang dewasa menjaga Hazuki dengan baik. Sementara itu di kastil Hiryuu, Mundok bertemu dengan seorang wanita berambut hitam lurus bermata ungu, keduanya bicara di tempat peristirahatan terakhir raja Hiryuu.

Selepas berdoa, wanita itu menoleh ke arah Mundok "tanpa kuberitahu, kurasa kau sudah tahu siapa pelaku penyerangan desa Hiouin, kan?".

"benar... itu ulah para pasukan kerajaan Xing... nona In Ha, apakah memang saya harus berdiam diri saja dan menutup mata atas peristiwa kali ini? tuan putri Maya tak hanya keguguran, bahkan putri Maya dan Hakuya kehilangan nyawa mereka berdua, tapi kenapa...".

"pikirkan apa yang terjadi jika hal ini sampai ke telinga Yu Hon... baru 2 tahun setelah apa yang terjadi di kerajaan Xing, kau lupa? Dia mengatakan bahwa ia telah melepaskan para tahanan, nyatanya ia melemparkan kepala mereka semua ke depan gerbang kastil... Maya juga marah besar saat itu tapi ia tak bisa melakukan apapun... kali ini ia tahu apa yang bisa ia lakukan, mencegah agar kejadian ini tak jadi pemicu perang..." ujar In Ha menepuk bahu Mundok yang berlutut "aku tahu pasti ini berat bagimu, Mundok... selain kehilangan Hakuya sebagai calon penerusmu, dia juga sudah seperti anak laki-lakimu sendiri, kan? tapi sebagai putra kandung Hakuya dan Maya, pastilah ia akan tumbuh sebagai prajurit yang kuat... meski putriku bukan Hanatsuki, takdir yang berat juga ia miliki...".

"nona In Ha, meski anda sebagai ibunya adalah Hanatsuki, tapi kenapa putri anda...".

In Ha tersenyum simpul "Mundok, meski ibunya Hanatsuki, belum tentu putrinya akan menjadi Hanatsuki, sebab Hanatsuki hanya terlahir pada bulan Agustus di malam bulan purnama, dimana bulan bersinar merah sebagai tanda lahirnya Hanatsuki... itulah sebabnya, putriku Yona bukanlah Hanatsuki meski aku adalah Hanatsuki seperti Maya... setiap Hanatsuki terlahir dengan tanda lahir berbentuk bunga yang besar terukir di tubuh kami dan mengemban tugas kami masing-masing, dengan kekuatan mereka sebagai gantinya... kesampingkan putriku, apa adiknya belum ditemukan?".

Mundok menggelengkan kepala "saya masih melakukan pencarian di daerah sekitar, tapi tak saya temukan meski hanya jasadnya".

Pemandangan berganti, ini terjadi beberapa saat setelah Hak mengembalikan nama 'Son' pada Mundok.

Mundok meletakkan bunga di makam kedua orang tua Hak dan Hazuki, lalu berdoa "maafkan aku, tuan putri Maya... aku merasa telah melanggar janjiku... seharusnya dia tak kulepaskan tapi anak macan itu telah menjadi macan dewasa...".

Sementara itu, Hazuki yang berlari di tengah kegelapan malam di lorong kastil, ditemukan oleh Neguro saat Hazuki hendak kabur.

"tuan putri, kenapa anda ingin pergi? anda tak boleh meninggalkan kastil sesuka hati anda..." ujar Neguro yang terhenti langkahnya saat Hazuki menatapnya tajam dengan mata kanannya, dimana perban melilit mata kiri dan kepalanya.

"sejak awal tidak seharusnya aku berada disini, Neguro... kau yang paling tahu itu, bukan? tidak peduli setragis apapun peristiwa yang menimpaku dimana aku harus kehilangan orang tuaku di depan mataku, itu tidak mengubah kenyataan kalau aku adalah putri pengkhianat... bukankah itu yang kalian pikirkan?" ujar Hazuki mengacungkan katana ke arah Neguro.

"rupanya anda sudah ingat semuanya..." ujar Neguro menutup mata sesaat, sebelum akhirnya ia berlutut di depan Hazuki "saya berpikir, alasan apapun bisa saya gunakan, jika itu demi melindungi anda... demi menepati janji yang saya buat pada tuan putri Maya serta sumpah yang saya tujukan pada diri saya sendiri untuk melindungi anda... saya telah gagal melindungi tuan putri Maya, tapi setidaknya anda... jika anda memerlukan alasan untuk tetap disini, maka tolong jadikan alasan ini sebagai alasan anda... bahwa ada orang yang membutuhkan anda disini...".

Hazuki menurunkan pedangnya "kau tepati janjimu pada ibuku, menyimpan semuanya selama bertahun-tahun... apa karena kau mencintai ibuku?".

"terlepas dari apa yang saya rasakan pada tuan putri Maya atau janji yang saya buat pada tuan putri Maya dan diri saya sendiri, saya ingin melindungi anda karena anda adalah putri kandung tuan putri Maya... apakah alasan itu tak cukup untuk menahan anda?".

"Neguro, angkat kepalamu..." ujar Hazuki yang menyarungkan pedangnya dan memeluk Neguro "terima kasih... kau jangan merasa bersalah setelah aku pergi dari sini, sebab kau sudah menepati janjimu pada ibuku... jadi tidak apa-apa, ceritakan saja semuanya pada kak Kou Ren dan kak Tao... sebagai putrinya, aku bisa katakan dengan yakin, jika mendiang ibu melihatku dari atas sana, dia pasti akan tersenyum dan sama sepertiku, dia akan berterima kasih padamu karena kau sudah menjagaku dengan baik selama ini... jadi jangan lagi merasa bersalah padaku atas kematian ibuku...".

"seperti tuan putri Maya, tak hanya berjiwa bebas... tatapan mata yang dibungkus kelembutan itu seolah bisa menembus sampai ke dalam isi hati dan mengendalikan orang lain, tapi juga ada kekuatan yang bisa menggetarkan perasaan..." ujar Neguro menghela napas, ia sadar Hazuki takkan mengubah keputusannya "sebelum anda pergi, jika anda bisa mengerti apa yang ibu anda pikirkan, bisakah anda beritahu jawaban dari pertanyaan yang saya cari?".

Hazuki mengangguk "apa itu?".

"kenapa mendiang putri Maya menitipkan anda padaku dan memintaku merahasiakan apa yang dilakukan Lou padanya?".

"jika jenderal suku angin dan para pasukannya tiba disana, Lou dan para pasukannya yang telah menyamar hanya akan dikira sebagai sekelompok bandit yang menyerang desa kami... ibu adalah wanita berkepala dingin yang cerdas, kurasa ibu hanya tak ingin jika apa yang terjadi pada malam itu dijadikan alasan oleh kerajaan Kouka untuk berbalik menyerang kerajaan Xing atau memulai perang... jika kulihat dari sejarah dan hubungan antara kedua kerajaan saat itu, baru lewat 2 tahun setelah apa yang dilakukan Yu Hon pada kerajaan Xing, kan? meski dirinya sendiri tengah meregang nyawa, meski dicap sebagai pengkhianat, jika aku jadi ibu, aku akan melakukan hal yang sama dengan ibu karena aku tidak setega itu, membiarkan perang meletus dan terjadi sesuatu pada tanah kelahiranku... kurasa itu juga demi kau, Neguro... seperti kau yang selalu menjagaku, kau juga menjaga ibuku... aku yakin ibuku menyayangimu sama seperti aku menyayangimu, seolah kau keluargaku sendiri... tentu saja kami tak ingin terjadi sesuatu padamu... terima kasih banyak karena kau selalu melindungiku sejak kecil, itu membuatku tak kesepian karena mungkin hati kecilku merasa... seolah kau ayahku..." ujar Hazuki tersenyum lembut dan memeluk Neguro sebelum ia pergi.

Neguro teringat saat Maya memilih untuk pergi dari kerajaan Xing karena ia akan menikah dengan Hakuya, Maya meminta Neguro untuk pura-pura tidak tahu apapun dan membiarkan kerajaan Xing beranggapan bahwa Maya menghilang dengan alasan agar dirinya tak terlibat bahaya kelak, sehingga Neguro hanya bisa menghela napas dan tersenyum "ibu dan anak sama saja...".