.
.
Pertarungan Hashirama dalam mempertahankan keamanan desa Konoha dari serangan Madara telah usai, Hashirama berhasil menghentikan Madara.
Walau dari lubuk hati Hashirama tidak menginginkan kejadian tersebut terjadi, Hashirama tidak memiliki pilihan lain untuk menghentikan Madara selain dengan cara membunuhnya.
Setelah pertarungan selesai, mayat Madara diambil alih oleh Tobirama, mayat Madara diawetkan dan disimpan dalam ruang bawah tanah tersembunyi digunung Konoha.
Tiga musim telah berlalu, area yang terkena dampak serangan Madara beberapa waktu lalu kini terlihat lebih baik.
Penyerangan yang dilakukan Madara terhadap Konoha sedikit demi sedikit mulai meluap dari ingatan para penduduk desa, serta tidak lagi menjadi topik yang marak menjadi perbincangan hangat di Konoha.
Bangunan yang hancur akibat penyerangan Madara kini telah diperbaiki dan menjadi bangunan yang beridiri kokoh, serta kembali berfungsi seperti sebelumnya.
Semua berkat Hashirama, berkat kekuatan Hashirama semua kekacauan diKonoha dapat teratasi.
Kekhawatiran sempat menghinggapi hati para penduduk dan Shinobi Konoha, terlebih Tobirama dan Mito saat Hashirama terbaring beberapa pekan di Rumah Sakit, mereka mengira jika hal itu adalah akhir dari kepemimpinan Hashirama.
Namun saat mendengar Hashirama bangun dengan keadaan yang baik-baik saja, kekhawatiran para penduduk itu pun seketika sirna, kabar pulihnya Hashirama turut membuat para penduduk desa bahkan Shinobi Konoha menghembuskan nafas lega, bahkan ada yang menangis haru.
Kondisi Hashirama semakin hari semakin membaik, dan para penduduk sangat bersyukur.
Hashirama sudah mulai menjalani aktifitasnya sebagai Hokage.
Bahkan kini Hashirama tengah berbahagia, pasalnya sebulan lalu setelah pergantian musim gugur istri pertamanya Uzumaki Mito melahirkan putri pertama mereka.
Tak terbayang sebahagia apa Hashirama dan Mito.
Terlebih Hashirama, ia sangat menikmati perannya sebagai seorang ayah selama sebulan terakhir, tiap kali berjauhan dengan buah hatinya, separuh yang memenuhi pikiran Hashirama hanya wajah putrinya.
Dan rasa rindu untuk sekedar melihat keadaan anaknya membuatnya kadang tidak fokus dengan urusannya.
"Anata... ?"
Hashirama menoleh.
"Mito"
"Bayi Ino akan diangkat hari ini juga, pergilah kerumah sakit"
ooOoOoo
Didepan sebuah pintu kamar rawat khusus, berdiri seorang wanita setengah baya, keberadaannya ditemani oleh Tobirama yang berdiri disampingnya.
Sejak Tim medis khusus pembedahan masuk kedalam kamar tersebut, wanita yang akrab disapa Ny. Inoichi itu tak henti-hentinya menggumam cemas, ia bahkan mondar-mandir tidak jelas didepan pintu.
2 jam telah berlalu sejak tim medis masuk kedalam ruangan tersebut dengan membawa putrinya, Ny. Inoichi menggelengkan kepalanya, ia sekeras mungkin mengusir kalimat yang terus mengiang dikepalanya.
Ia meneguhkan pendiriannya untuk tidak mempercayai dugaan dan pendapat yang dipaparkan Tim medis itu.
Didalam hatinya sangat meyakini, jika Ino akan baik-baik saja.
Cukup suaminya yang menghilang dari hidupnya, jangan sampai anaknya juga meninggalkannya, Ny. Inoichi tidak berniat menumpahkan airmata kesedihan untuk yang kedua kali.
"Uh..!"
Samar-samar dari dalam ruangan, telinga Ny. Inoichi mendengar suara tangisan bayi, membuat ia sesaat terpaku.
"Yokatta..." Ujarnya lega sekaligus bahagia.
Pelupuk mata Ny. Inoichi mulai dibanjiri oleh airmata.
Setelah lama menunggu, akhirnya cucu pertamanya lahir.
"Kaa-sama..."
Suara yang tak asing memanggilnya, mengenali pemilik suara tersebut Ny. Inoichi pun menumpahkan airmata bahagianya.
Ny. Inoichi menatap Hashirama, "Hashirama-san bayi kalian sudah lahir.."
Hashirama yang memang menanti kelahiran anaknya, seketika tersenyum lega, perasaan bahagia saat menyambut kelahiran putrinya dengan Mito kini kembali menyelimuti Hashirama, bahkan rasanya berlipat ganda.
"Yokatta bu.. lalu bagaimana dengan keadaan– ..."
Pandangan Hashirama tanpa sengaja mengarah pada Tobirama, dan Hashirama seketika menjeda kalimatnya saat melihat Tobirama memberinya isyarat untuk diam, mengerti dengan maksud Tobirama, Hashirama pun memilih untuk tidak meneruskan kalimatnya.
"Keluarga Yamanaka Ino silahkan masuk"
Hashirama dan dua orang lain didekatnya mengalihkan perhatian, seseorang dari tim medis tersebut membungkukan kepalanya saat melihat kehadiran Hashirama.
"Hokage-sama silahkan masuk anak anda sudah lahir, anak anda terlahir normal dan sangat sehat"
Hashirama tidak dapat menahan perasaan bahagia yang membendung didadanya, tanpa membuang waktu sedikitpun Hashirama melangkah menuju pintu, dan saking bahagianya Hashirama tanpa sadar mendahului ibu mertuanya.
Saat akan memasuki ruangan Ino, ketiganya diberikan baju khusus dan diminta untuk mengenakannya, dan tanpa protes sedikitpun ketiganya mengenakannya.
Terlebih Hashirama yang mengenakan baju tersebut dengan asal-asalan, lalu masuk kedalam ruangan tersebut.
Saat benar-benar memasuki ruangan, pandangan Hashirama tanpa sengaja jatuh pada tubuh yang masih terbaring dengan beberapa alat medis yang terpasang dibagian pernafasan.
Melihatnya Nafas Hashirama tercekat, serasa ditenggorokannya ada penghalang.
Setelah melahirkan, tubuh itu tetap terbaring dengan keadaan yang sama, Hashirama pikir dengan kelahiran anak mereka tubuh itu akan bangun.
Akan ada sebuah keajaiban yang datang menghampiri Ino setelah melahirkan anak mereka.
Namun harapannya tak lebih dari sebuah khayalan.
"Bagaimana dengan keadaan Ino.. ?" Tanya Hashirama pada tim medis yang masih berdiri dengan kepala membungkuk.
Hashirama memilih mendekati tubuh Ino, menggenggam telapak tangan Ino yang terkulai lemas lalu mengecup dibagian punggung.
Beberapa menit telah berlalu, tim medis itu tak kunjung mengeluarkan jawaban atas pertanyaannya.
Hashirama diam-diam mengepalkan tangannya.
"Jantung Ino-sama masih berdetak, kami berjanji akan lebih berusaha lagi, Hokage-sama" Salah satu dari tim medis tersebut menyuarakan kalimat yang membuat kekhawatiran Hashirama semakin memuncak.
Ruangan sejenak menjadi hening.
Ibu mertuanya pasti merasakan kekhawatiran yang sama, meski tidak mengetahui luka parah dijantung Ino, ibu mertuanya itu tetap mengerti jika keadaan Ino sedang kritis.
Koma selama tiga musim sudah membuktikan jika keadaan Ino tidak baik-baik saja.
Hashirama meletakan kembali tangan Ino, lalu bergerak mendekatkan wajahnya dengan wajah Ino.
"Kau akan baik-baik saja... kan?" Bisik Hashirama, lalu mencium kening Ino.
Setelahnya Hashirama berbalik, menatap anaknya yang berada dalam gendongan Tobirama, serta mertuanya yang kini sibuk bermain dengan pipi anaknya.
Hashirama hanya menarik senyum, dilain sisi sebenarnya Hashirama terkejut melihat anaknya berada dalam gendongan Tobirama.
"Hashirama-san...? Anakmu laki-laki. Akan kau beri nama apa dia?"
Ekspresi mertuanya yang sebelumnya terlihat murung kini perlahan-lahan mulai menampakan senyumnya.
Melihatnya Hashirama lega, setidaknya kehadiran anaknya dapat mengalihkan kesedihan mertuanya.
"Benarkah? Anakku laki-laki Kaa-sama?" Tanya Hashirama senang.
Hashirama pun mendekati Tobirama, dan mengamati bentuk wajah bayi laki-lakinya digendongan Tobirama.
"Hai Hashirama-san.."
Dan tanpa persetujuan Tobirama, Hashirama mengambil alih anaknya dari Tobirama yang tampak tidak rela.
"Waah... benar-benar anak yang tampan." Puji Hashirama bangga.
Hashirama mencium kedua pipi anaknya.
"Warna rambutnya sama seperti... Kawarama"
Masih dengan senyuman yang tersemat dibibirnya, Hashirama meneliti tiap anggota tubuh anaknya.
"Kenapa rambutmu mirip sekali dengan paman Kawarama, nak.."
Hashirama mencubit kecil pipi anaknya .
"Kau jadi mengingatkan Tou-san pada pamanmu Kawarama"
"Wakatta –W akatta, jika rambutmu mengingatkanku pada Kawarama. Bagaimana jika namamu mengingatkanku pada paman Itama juga.. ? Hm?"
Ibu mertuanya tertawa.
Sedangkan Tobirama terlihat mengerutkan keningnya.
"Yosh, Itama. Namamu Senju Itama"
Hashirama sekali lagi mengecup kedua pipi putranya.
"Selamat datang didunia, Senju Itama.."
Tak lama tangisan khas bayi terdengar dari anaknya, berbeda dengan mertuanya yang kini terlihat panik, mendengar tangisan menggema anaknya Hashirama hanya menarik senyum.
Bahkan Hashirama tanpa henti mencium pipi putranya.
"Menangislah nak, katakan lewat tangisanmu pada ibu, jika kau terlahir sangat sehat dan membutuhkan ibu untuk menemani ayah menjagamu..."
"Itama Ka ?" Tanya Tobirama yang berjalan mendekat.
Hashirama mengangguk.
"Ha' Senju Itama"
Tobirama tersenyum tipis.
Ditengah-tengah aktifitas menenangkan putranya, Hashirama memperhatikan tubuh Ino yang terbaring lemah.
ooOoOoo
Hari demi hari terus berganti, tubuh Ino yang masih terbaring belum juga menunjukan tanda-tanda akan bangun.
Meski sebagian besar pengobatan Ino dibantu oleh Hashirama, kondisi Ino masih saja dalam keadaan koma. Tidak sadarkan diri.
Separuh para medis sebenarnya sudah menyerah, tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk mempertahankan kehidupan istri Hokage tersebut selain dengan alat-alat yang saat ini masih melekat ditubuh Ino.
Disamping itu para medis tersebut tidak berani mengambil ketegasan mengingat pasien tersebut adalah istri Hashirama, orang yang sangat dihormati oleh warga desa, dan tentunya dihormati oleh mereka juga.
Hari ini usia kelahiran Itama genap seminggu, dan selama itu pula putra pertama Hashirama dengan Ino tersebut berada dirumah sakit.
Sebenarnya beberapa hari lalu Itama sudah diperbolehkan untuk pulang, namun dicegah oleh Hashirama.
Menurutnya Itama adalah nyawa Ino, jika Itama berada jauh dari jangkauan Ino, sama saja dengan memisahkan Ino dari nyawanya dan akan kehilangan nyawanya untuk selamanya.
Jika Itama dibiarkan dekat dengan Ino, ada kemungkinan untuk Ino bisa bangun dari komanya, karena Itama adalah semangat hidup Ino.
Buktinya luka fatal yang dialami Ino tidak berhasil merenggut nyawanya, meski dalam keadaan koma Ino tetap bertahan, bahkan Ino masih sanggup bertahan setelah kelahiran Itama.
Hashirama meyakini jika Ino akan bangun suatu saat nanti, entah kapan. Tapi Hashirama percaya jika Ino akan baik-baik saja.
Chu~p
"Cepatlah bangun... Itama dan aku menunggumu" Hashirama mencium dahi Ino.
Cukup lama, hingga Hashirama menjauhkan wajahnya.
Hashirama kini memperhatikan wajah Ino, dimulai dari kulit yang terlihat memucat dan pipi Ino yang terlihat sedikit menyusut.
Hashirama menahan deru nafasnya, sesungguhnya ia tidak sanggup melihat pemandangan ini.
"Shu~ ssshht... Yoshi Yoshie Itama"
Pandangan Hashirama teralih pada ibu mertuanya yang sibuk menimang Itama.
"Kaa-sama ?"
Sang mertua seketika menoleh, "Ya Hashirama-san ...?"
"Aku ingin memegang Itama..."
"Oh Hai..."
Ibu mertuanya memberikan itama padanya.
Sesaat Hashirama mengembangkan senyumnnya saat melihat Itama menggeliat.
"Yoshie... Yosh"
Hashirama mencium kedua pipi putranya.
"Tidur lagi hm...?" Ujar Hashirama lesu.
"Kau dan ibu sama saja ya.."
"Dasar tukang tidur.."
Hashirama menatapi wajah damai Itama.
Gemas dengan ukiran wajah anaknya, Hashirama pun mendaratkan ciuman bertubi-tubi dikedua pipi Itama, dan perlakuan barusan kontan membuat Itama terbangun, dan bergerak gelisah tiap ciuman Hashirama mendarat dikulit merahnya .
Melihatnya Hashirama tertawa,"Ssshh..t Ssshhht~
Sembari menenangkan Itama tatapan Hashirama beralih menatap tubuh Ino.
"Kapan kau akan bangun.. Ino"
.
.
.
Hashirama melangkah masuk kedalam rumah.
"Tadaima.." Ucapnya tak bersemangat.
Mendengar langkahnya seorang wanita dengan membawa seorang bayi ditangannya segera menghampiri Hashirama.
"Anata..." Sapanya.
Hashirama menghadap Mito, mencium pipi anak perempuannya, lalu mengambil alih putrinya dari tangan Mito.
"Sedang tidur ya? Sokka... kenapa anak-anak Tou -san suka sekali tidur ?" Hashirama tertawa kecil.
"Bagaimana keadaan Ino, Anata... ?" Tanya Mito, air muka Hashirama seketika berubah, senyumnya perlahan menghilang dan berganti menjadi raut wajah sedih.
Melihat perubahan diwajah suaminya, Mito sesegera mungkin mengatupkam mulutnya, ia berjalan mendekati Hashirama.
"Ano... Ino akan baik-baik saja, Anata... Jangan khawatir"
"Ya... Tentu, Ino akan baik-baik saja"
Hashirama memaksa senyum dibibirnya, lalu memberikan anak yang digendongnya pada Mito.
"Aku ingin mandi Mito, jaga anakku.."
Mito tersenyum geli mendengar kalimat berlebihan Hashirama.
"Hai Hai, Anata mandilah air mandimu sudah kusiapkan"
"Baiklah, terimakasih"
Hashirama melepas pakaian Hokage nya dan berlalu menuju kamar mandi.
.
.
.
"Anata, kau sudah selesai mandi ?"
"Iya"
Hashirama mengambil baju dari lemari, kemudian memakainya, setelah berpakaian lengkap Hashirama berjalan mendekati ranjang tempat Mito dan anaknya berbaring.
"Apa.. kau tidak kembali menjenguk Ino?"
Hashirama menatap Mito.
"Aku memang berpikir akan kembali ke Rumah Sakit, tapi aku sudah seharian meninggalkan kalian berdua"
Hashirama menyentuh pipi mungil bayinya, "Aku akan kembali besok saja..."
"Jangan membohongi perasaanmu, kau sebenarnya tidak ingin jauh dari... Ino, bukan ?"
Hashirama tidak berniat menatap Mito, perkataan Mito memang benar tapi makna kalimat tersebut jauh berbeda dengan perasaannya.
"Aku... Sesungguhnya belum bisa menerima kehadiran anak yang dikandung Ino.."
"Walaupun marah padamu sekarang tidak ada gunanya. Lagipula semua sudah terlambat"
Hasirama mengakui jika dari awal memang dirinya yang salah, tepat sebelum menikah dengan Ino, Hashirama pernah berjanji pada Mito untuk tidak menyentuh Ino.
Tapi pada akhirnya Hashirama melanggar janjinya tersebut, dan membuat wanita itu kecewa.
"Kalian para lelaki memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya"
Hashirama menegakkan tubuhnya, ia menjaga pandangannya agar tidak bertemu dengan Mito.
"Butuh waktu 50 tahun lagi untukku menerima kehadiran Itama."
Pendengaran Hashirama terusik dengan kalimat yang dilontarkan Mito.
Itama memang buah dari kesalahannya, tapi Hashirama tidak dapat menerima pernyataan yang diungkapkan Mito barusan.
Dalam hati Hashirama memang tidak menyimpan perasaan khusus terhadap Ino, tapi biar bagaimanapun anak yang dilahirkan Ino adalah anaknya, dibandingkan dengan Ino, rasa cinta dan sayang nya terhadap Itama bahkan lebih besar.
"Pergilah, temani Ino. Selama Ino koma, aku mengijinkanmu menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ino dan Itama"
Hashirama menatap Mito.
"Tapi setelah Ino sembuh, menjauhlah dari mereka. Jangan pernah temui Ino lagi"
"Apa maksudmu aku harus menjauhi mereka?
"Jadi kau bermaksud menjauhkanku dari anakku ?"
Raut wajah Hashirama berubah kesal, namun saat mendapati gelengan dari Mito ekspresi Hashirama kembali berubah menjadi tenang.
"Aku tidak bilang bahwa kau harus menjauhi Itama."
"Kau boleh menemui Itama sesuka hatimu. Tapi jangan Ino"
Hashirama mengalihkan pandangannya, lama terdiam, Hashirama kemudian bangkit.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan turuti.."
Mito menatap punggung Hashirama.
"Dengar Mito, sampai sekarang yang menduduki tempat teratas dihatiku hanya kau"
"Walau Ino tidak memiliki tempat khusus dihatiku, aku tetap menyayangi Itama lebih dari nyawaku sendiri."
"Rasa sayangku terhadap anak kita dan Itama, sama. Aku lebih memilih mati daripada harus kehilangan kedua anakku"
ooOoOoo
Hashirama berjalan dilorong rumah sakit dengan membawa seikat bunga, masing-masing dari bunga-bunga tersebut terdiri dari berbagai macam jenis dengan makna berbeda.
Entah apa maknanya, Hashirama tidak begitu tertarik.
Pikirannya sedang kacau sekarang, ia jadi menyesali keputusannya yang dengan ceroboh menyetujui permintaan Mito.
Betapa bodohnya dirinya.
Hashirama mendesis gelisah.
Ditambah lagi dengan kondisi Ino yang tak kunjung membaik.
Bunga yang saat ini dibawanya adalah bunga yang ditanami Ino ditaman belakang, Hashirama hanya berharap bunga-bunga tersebut dapat menjadi obat untuk membangunkan Ino dari koma, kemudian sembuh.
Dan membesarkan Itama bersama-sama.
Hashirama tidak mau Itama hidup tanpa kasih sayang dari seorang ibu, meski ada wanita yang dengan sukarela bersedia merawat Itama sebagai pengganti kedudukan Ino, tetap saja kasih sayang yang diberikan tidak sama.
Cklekk
Pintu ruang Inap Ino terbuka, dan Hashirama setengah terkejut mendapati siapa yang berada dibalik pintu.
"Tobirama.. ?"
Keduanya saling berhadapan.
Hashirama heran sekaligus senang melihat kehadiran Tobirama, menjenguk orang sakit secara terus menerus seperti ini bukanlah tipe seorang Tobirama.
Tapi sejak kelahiran Itama, Tobirama hampir setiap hari mendatangi ruang rawat Ino.
"Anii -chan ? Masuklah, Ino sudah bangun, Ino mencarimu"
Hashirama terkejut.
Perkataan Tobirama barusan terdengar seperti mimpi ditelinganya.
"Ino sedang menyusui Itama, jadi aku keluar untuk sementara"
"Anii-chan ?" Tegur Tobirama.
Hashirama dengan keterkejutannya menoleh, "Hai"
"Masuklah Ino mencarimu"
Benar.
Tobirama tidak sedang bercanda.
Tak dapat menahan perasaan bahagianya, Hashirama pun melangkah masuk.
Dan perasaan bahagia Hashirama semakin membuncah saat melihat tubuh telanjang Itama berbaring diatas dada Ino, mulut kecil Itama terlihat mengemut puting payudara Ino.
Menyadari kehadirannya sang ibu mertua menoleh, "Hashirama-san ? Cepat kemari. Ino sudah bangun"
"Hai Kaa-sama,"
Hashirama segera mendekati Ino yang memandangnya.
"Ino..."
"Kau sudah bangun... Yokatta"
Hashirama mencium dahi Ino, membuat yang dicium seketika bersemu malu.
"Hashi –sa –ma.." Ujar Ino lemas.
Hashirama mengusap helaian rambut Ino.
"Hm~ Ino, terimakasih sudah bangun untukku dan Itama..."
"Apa kau tahu kami begitu lama menunggumu bangun"
Hashirama masih mengusap puncak kepala Ino.
Lama terdiam Ino kembali menyuarakan pertanyaan yang beputar dikepalanya.
"Ita –ma... Ka ?"
"Iya... Itama, nama putra kita Senju Itama"
Ino menarik senyum kecil.
"Bagus... aku su –ka"
Hashirama tersenyum seraya mengangguk, ia memperhatikan Itama yang tampaknya sudah berhenti menghisap puting susu Ino.
"Itama sepertinya sudah kenyang, apa tubuh Itama berat ?" Tanya Hashirama perhatian.
Ino menggeleng pelan.
"Tidak juga..."
"Ano... Itama belum meminum air susuku sedikitpun"
Ino melanjutkan kalimatnya, satu lengannya terangkat menyentuh tubuh Itama, dan menepuk lembut punggung Itama.
"Aku takut Itama kesakitan karena dibiarkan diatasku... Ambil Itama, Hashi-sama" Suruh Ino.
Hashirama pun mengangkat tubuh Itama, mencium pipi Itama lalu memberikan Itama pada mertuanya yang mendekat.
Airmata bahagia lolos begitu saja dari pelupuk mata Ino.
"Yokatta... Itama baik-baik saja." Ucap Ino terisak.
Hashirama menghapus airmata Ino, "Jangan khawatir, Itama terlahir sehat"
Telapak tangan Hashirama mengusap pucuk kepala Ino. Perhatian Hashirama kini tertuju pada payudara Ino yang terbuka.
"Hashi-sama" Panggil Ino, ia menggenggam tangan Hashirama.
Hashirama mengalihkan perhatiannya di wajah Ino, dan sesekali melirik gundukan dada Ino yang masih terbuka.
"Iya Ino ?"
"Aku ingin duduk... bisakah Hashi-sama membantuku ?"
"Tapi kau masih belum bisa bergerak Ino..."
Ino mengabaikan peringatan Hashirama, Ino sekuat tenaganya mencoba untuk bangkit, kontan saja membuat sang ibu yang berada didekat keranjang Itama memekik khawatir.
"Ino!? Kenapa kau bangun? Hashirama-san benar. kondisimu belum sepenuhnya pulih"
Ino bertumpu dilengan Hashirama agar bisa duduk, dan mau tidak mau Hashirama membantu Ino untuk duduk.
"Ino... Jangan memaksakan dirimu" Nasihat Hashirama.
Ino merebahkan kepalanya dipundak Hashirama, kemudian melingkarkan kedua tangannya dipinggang Hashirama.
Seketika tubuh Hashirama menegang saat merasakan sesuatu menekan dadanya, pandangan Hashirama kini jatuh pada baju Ino yang melorot kebawah.
Hashirama sesaat terdiam.
"Aku mencintaimu... Hashi-sama"
Seolah tersadar, Hashirama meraih baju Ino, menariknya keatas lalu mengatitkan kancing baju tersebut hingga seluruh tubuh Ino tertutup.
Hashirama kini membalas pelukan Ino tanpa merespon, untuk saat ini Hashirama tidak memiliki jawaban apapun atas pernyataan Ino.
Ditempatnya Ino meneteskan airmata.
Tak mendapat jawaban apapun dari Hashirama, Ino mengeratkan pelukannya, lalu terisak didada Hashirama.
"Ino..." Gumam Hashirama resah.
Sesaat Hashirama merasakan tubuh Ino tergelak.
Hashirama mengernyit heran, ia mencoba untuk memastikan Ino baik-baik saja, namun saat hendak meraih dagu Ino, seakan menolak untuk bertatap muka dengan Hashirama, Ino secepat mungkin menyembunyikan wajahnya.
"Meskipun Hashi-sama tidak mencintaiku, aku sama sekali tidak menyesal jatuh cinta padamu.."
Hashirama menatap sendu puncak kepala Ino.
"Maafkan aku... Ino"
Hashirama menyandarkan dagunya dipuncak kepala Ino.
"H'm.. Tidak apa-apa Hashi-sama" Ino mengangguk lemah.
"Aku hanya ingin kau mengetahui perasaanku.."
Hashirama tidak tahu ingin mengatakan apa, lidahnya serasa kelu.
Untuk mengatakan ia menyayangi Ino bahkan, lidahnya serasa mati rasa, ia ingin menjelaskan perasaan sayangnya terhadap Ino.
Akan tetapi Hashirama tidak memiliki keberanian sedikitpun.
"Aku... Tidak menyesali kejadian malam itu Hashi-sama, dan aku tidak menyesal menjadi ibu dari anakmu..."
Ino menjeda kalimatnya, ia menutup mulutnya untuk menahan batuk.
"Aku.. tidak menyesal menikah denganmu, aku bersyukur bisa bertemu denganmu.."
"Yang aku sesali hanya keterlambatanku, andai aku yang lebih dulu bertemu denganmu"
"Hashi-sama pasti akan mencintaiku..."
Hashirama tidak ingin mendengar ini, ia tidak mampu menahan rasa bersalah yang menyesakkan dadanya lebih dari ini.
"Ino.."
Hashirama mencoba mendongakan wajah Ino namun tangannya segera ditepis oleh Ino.
Ino kemudian menggeleng.
"Jangan membuatku semakin sakit, Hashi-sama... melihat wajahmu hanya akan menambah rasa sakitku..."
Hashirama menjauhkan tangannya dari dagu Ino, dan memilih diam.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku, tapi.. yang kuminta padamu hanya satu. "
Hashirama menumpu wajahnya dipuncak kepala Ino.
"Sayangi Itama. Meskipun Itama terlahir dari ibu yang tidak dicintai ayahnya–"
Hashirama tidak suka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ino, mengetahui kalimat yang akan keluar dari mulut Ino adalah kalimat yang menyakitkan.
Hashirama meninggikan nadanya.
"Ino!"
Ino menahan batuknya.
"Apa yang kau katakan Ino?".
Ino sebenarnya ingin meneruskan kalimatnya, namun terhenti saat sesuatu yang ditahannya menerobos keluar.
Ino berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak dilihat oleh Hashirama, namun karena kekuatannya berada jauh dibawah Hashirama, wajahnya pun seketika terangkat dan berhadapan langsung dengan manik Hashirama yang kini bergetar.
Pandangan Hashirama berubah nanar.
"I –Ino ?" Gumam Hashirama Shock.
Kedua telapak tangan Hashirama dengan segera menghapus darah yang merembes keluar dari mulut Ino.
"Ino... kenapa kau tidak memberitahuku ?"
Hashirama menyentuh bajunya yang dibanjiri darah.
"Kenapa I –Ino... " Ujarnya lirih.
Hashirama segera mengerahkan kemampuan Ninjutsu pengobatannya pada titik luka Ino.
"Saat membawaku..."
"Jangan bicara dulu Ino." Potong Hashirama cemas, ia menumpu tubuh Ino yang masih memeluknya.
"Madara ingin mengambil Itama..."
Hashirama masih fokus menyembuhkan luka dijantung Ino.
"Tolong jaga Itama, Hashi-sama.."
Hashirama menggeram marah, "Berhenti berbicara Ino."
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu dan Itama lagi. kau mengerti"
Hashirama mengalirkan sebagian cakra miliknya ketubuh Ino.
"Bertahanlah" Ucapnya sekali lagi.
"Aku akan menyembuhkanmu, Ino. Kita akan membesarkan Itama bersama-sama"
.
.
.
"Sumi masen Tobirama-san ? Ino No Okaa-sama ? kami ingin memeriksa keadaan Ino-sama"
Beberapa orang dari Tim medis yang bertugas mengontrol kondisi Ino menyapa Ny. Inoichi dan Tobirama yang kini berdiri.
Ny. Inoichi tersenyum.
"Silahkan, aku meninggalkan mereka karena mereka membutuhkan waktu sendiri untuk berbicara berdua"
Dua orang tersebut mengangguk mengerti, lalu melangkah masuk.
"Tobirama-san ayo kita masuk juga ?" Ajak Ny. Inoichi, Tobirama menyetujui saja.
"Baiklah"
Keduanya pun berjalan masuk secara bersamaan, hingga memasuki ruangan tempat Ino dirawat, langkah Ny. Inoichi maupun Tobirama terhenti.
Dibenak keduanya dihuni oleh pertanyaan yang sama saat melihat dua orang yang mendahului mereka malah berdiri diujung ranjang, bukannya melanjutkan tugas mereka.
Ny. Inoichi keheranan.
"Apa yang terjadi ?" Tanyanya bingung.
Didepan sana, Hashirama memeluk tubuh Ino, lalu menatap kearahnya dengan mata sembab.
Seraya menggeleng kearahnya pula.
Ny. Inoichi masih kebingungan.
Hashirama tidak mengangkat bicara untuk sekedar memberinya kejelasan sedikitpun, Hashirama malah kembali menenggelamkan wajahnya dipuncak kepala Ino.
Ny. Inoichi bertanya-tanya.
Dipelukan Hashirama tubuh anaknya terlihat tidak bergeming, tidak seperti biasanya, anaknya hanya diam dengan kepala menunduk.
Sejenak Ny. Inoichi mengira bahwa Ino sedang tertidur, namun saat menyadari kedua tangan Ino yang menggantung tanpa tenaga disisi tubuhnya, Ny. Inoichi mulai menangkap maksud dari kebungkaman Hashirama.
Ny. Inoichi mendekat untuk memastikan bahwa pemikirannya tidak salah, hingga kini ia berdekatan dengan Ino, Ny. Inoichi dengan jelas melihat wajah pucat anaknya yang tidak lagi dialiri oleh darah.
Tidak seperti beberapa menit lalu saat pertama Ino bangun, meski kulit Ino pucat pias ia masih melihat tanda kehidupan disana.
Sesuatu telah terjadi pada Ino, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Hashirama meneteskan airmata.
Ny. Inoichi mundur selangkah.
"I... no"
Airmata meluncur begitu saja dari kelopak matanya.
Rasanya baru beberapa menit lalu ia berbincang dengan putrinya, dan ia yakin jika putrinya baik-baik saja.
"Tidak.."
Ny. Inoichi jatuh terduduk.
.
.
.
END
Buat yang review dichapter sebelumnya, saya ucapin makasih banyak
Anyway thankyou udah baca :)
Bdw hope you like it.
Buat yang minta story ini dipanjangin, gomen~ gak bisa karena rencana awal pembuatan ff ini, batasnya cuman 4 chapter :3
Buat yang minta biar Madara-Tobirama jatuh cinta ke Ino, gomen ya, dari awal target yang bakal jadi korban angst adalah Ino :3
After all see you.
