Semua yg ada disini MILIK J K ROWLING!


-Chapter 3-

Pansy begitu bersemangat pagi ini. Bagaimana tidak? Ia akan mendapatkan bunga idamannya lagi, bunga tulip.

Ia mengayuh kencang, senyum di wajahnya tidak berhenti henti terlihat—sesekali Pansy menyapa orang lewat yang di kenal. Tak berapa lama sampailah ia di toko bunga Lavender.

"Selamat Pagi Miss. Brown " suara Pansy membuyarkan Lavender yang sedang melamun, "Er—pagi juga Miss. Parkinson, pesanan seperti biasa?" tanya Lavender, Pansy mengangguk cepat.

Lavender pergi ke belakang lalu kembali dengan 3 tangkai bunga tulip yang sudah rapi di bungkus, "Ini" Lavender menyerahkan bunga itu pada Pansy dan menerima uang sebagai bayarannya, "terima kasih" Pansy berbalik naik ke sepedanya untuk kembali pulang.

Lavender menatap sayang kepada pelanggan setianya itu.

"Aku bingung"

Suara khas itu terdengar sangat dekat dari samping Lavender—spontan saja ia langsung terperanjat kaget, "Blaise! Jangan mengagetkanku terus!" sergah Lavender setengah kesal.

Blaise hanya tersenyum sekilas dan masih memandangi Pansy yang semakin menjauh, "Aku hanya bingung dengan pelangganmu itu" lanjutnya.

"Kenapa?"

Blaise mengangkat bahu, "dia selalu membeli bunga yang sama dalam jumlah yang sama—setiap hari pula, untuk apa coba?"

Lavender menatap Blaise dengan pandangan menyelidik, "kenapa kau begitu ingin tahu?" Jari jari Lavender menari di wajah Blaise, "jangan bilang kau suka kepadanya ya" goda Lavender.

Blaise menangkap jari jari Lavender, "bukan, aku hanya ingin tahu…sudah lama aku melihatnya—tapi nama wanita itupun aku tidak tahu"

"Pansy, namanya Pansy Parkinson" Lavender masih senang menggoda Blaise.

"Aishh, kau ini?! terus kenapa dia selalu membeli bunga yang sama?" meskipun di cemooh, rasa penasaran Blaise jauh lebih besar makanya dia masih berani bertanya terus.

Wajah Lavender mendadak serius—tidak ada senyum jenaka di sana, "Aku tidak berhak memberitahumu, kali ini kau terpaksa cari sendiri" Lavender menepuk Blaise lalu masuk, membiarkan Blaise bertanya tanya seorang diri di luar.


Draco berdendang senang sambil membalik catatannya sendiri—dia sedang belajar di perpustakaan, Ipod tergeletak manis di saku, buku fisika Draco baca seolah-olah itu bacaannya sehari-hari. Maklum nanti ada ulangan di kelasnya.

BRUKKKK

"Maaf" bunyi buku-buku jatuh mengagetkan Draco. Ia melepas Earphone dan melihat ke sumber suara. "Aku kenal dengan wanita itu" bisik Draco.

Tak jauh dari tempatnya duduk, Hermione bertabrakan dengan Luna yang sedang berbenah buku, alhasil buku-buku itu jatuh dan hampir mengenai tubuh Luna kalau Hermione tidak segera menariknya.

"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya berterima kasih kau sudah menolongku" Luna merapikan buku berserakan di lantai—Hermione ikut membantunya karena merasa tidak enak.

Draco hanya menaikkan alis lalu kembali sibuk dengan teori fisikanya.

"Kau kenapa?" Luna mengibaskan tangan di hadapan Hermione.

"Hellooo" Luna meyakinkan sekali lagi

Kedua mata Hermione terbelalak kaget—ia menganga lebar saat berpindah menatap Luna lekat, "Kau kenal dengan Neville Longbottom?" pertanyaan Hermione berbalik mengagetkan Luna, "kenal—dia siswa yang terkenal itu kan? kami sekelas" jawab Luna mulai mengerti, mungkin Hermione salah satu penggemar fanatik Neville.

Luna hendak bangun ketika lengan Hermione menahannya, "bukan itu maksudku—akhir-akhir ini kalian lebih sering berinteraksi?"

Luna sebenarnya bingung harus menjawab apa tapi demi rasa aman sebaiknya Luna jujur kepada Hermione, "Neville hanya membantuku selama seminggu ini di perpustakaan karena telah membuat Madam Pince gegar otak kemarin, kau puas?" desah Luna kesal.

"Puas?" Hermione menatap tidak percaya.

"Ya, kau salah satu penggemarnya kan?" ucap Luna takut-takut.

Hermione menaikkan alis lebih ke atas, "itu sudah pasti mustahil" Hermione bangkit berdiri sambil menyerahkan sebagian buku-buku kepada Luna, "selamat" ucap Hermione tersenyum kecil.

"Selamat? Kenapa?" Pertanyaan Luna tidak terjawab, Hermione sudah menghilang lagi—menghilang dari hadapannya.


"Ugh"

Ginny menggeliat di atas tempat tidur. Ia terbangun karena cahaya matahari menembus ke arahnya dari luar jendela.

"jam 9 pagi" Ginny bangkit dari tempat tidur, ia bingung melihat ada bantal kompress di meja sebelah lengkap dengan segelas air dan thermometer.

Ginny mengusap dahinya—ia baru sadar tubuhnya berkeringat tetapi itu membuatnya makin segar, "kemarin itu aku memang agak tidak enak badan" gumam Ginny sambil mengingat ingat lagi kejadian setelah ia tidak sadarkan diri di tokonya sendiri.

Mata Ginny membulat, "setahuku ada suara Harry samar samar….jangan jangan" Ginny melesat berlari ke bawah—masuk ke dalam toko miliknya.

Ginny membuka pintu depan yang terkunci lalu menuju kafe, "Harry?"

"Ya? Eh kamu? Ngapain ke sini!" bentak Harry sambil membenahi bekas piring kotor para pelanggan.

Ginny mengacuhkan sindiran Harry, ada hal lebih penting yang ingin dia tanyakan, "kemarin itu—kau yang menolongku?" suaranya terdengar pelan, takut salah sangka.

Harry mengangkat kepala dan meneliti wajah Ginny seksama, "bukan" jawabnya singkat.

"Ow" Ginny mendesah lega.

"Kenapa memangnya?"

"Aku bisa lega, berarti aku tidak akan pernah punya hutang budi padamu!" semangat Ginny untuk bertengkar mencuat setelah memastikan bukan Harry yang repot mengurusnya kemarin, mungkin saja itu Lavender.

"Ya! Kau! Lebih baik kau kembali ke toko sana! Jangan berkeliaran disini," usir Harry.

"Aku juga tidak mau lama-lama" Ginny berbalik senang, dia tidak sadar Harry tersenyum kecil melihat Ginny sudah sehat seperti biasa.

"Untung saja demamnya sudah turun" gumam Harry. Ia kembali berkonsentrasi membereskan piring piring kotor lalu menaruh di bak cucian.


"Salah"

"Apa lagi yang salah? Aku sudah membuatnya sesuai hasil koreksimu kemarin"

"Tapi sekarang tanggal 23 bukan 24"

"Ha? Aku harus mengetik dari awal hanya karena salah tanggal?!"

"Iya, kau tahu ini akan di tanda tangani oleh badan kampus, apalagi masalah uang—bukan urusan sepele"

"…."

Daphne dan Theo kembali berbeda pendapat. Untuk ke 7 kali, ia harus bolak balik ruangan Theo hanya untuk merevisi anggaran kas UKM yang tidak kunjung cair karena belum di setujui oleh Theo.

Dan sekarang Daphne hanya berdiam diri, mengatur nafsu membunuhnya. Masalah ini lama-lama bisa membuat Daphne gila ditambah lagi Theo sepertinya senang melihat ia susah.

"Baik aku akan mengetik ulang" Daphne tidak tahan untuk berada lama lama di situ, ia berjalan keluar.

"Tunggu" panggil Theo.

"Apa lagi?" jawab Daphne jutek.

Theo menyeringai jelas, "aku mau laporan itu selesai sore ini" Ia tidak terkejut melihat Daphne melotot mendengar perkataannya barusan.

"Ha? Tapi—aku mau pulang, tidak bisa besok" suara Daphne memohon

"Tidak" Theo mencondongkan tubuhnya ke depan, "Kau mau tanggalnya berubah lagi?"

Daphne menimbang-nimbang perkataan Theo, "baik, akan ku selesaikan" Daphne membuka pintu dan keluar dari situ.

"Itu hukuman untukmu, karena membuatku pusing kemarin" bisik Theo masih menyeringai, ingat ekspresi kesal Daphne barusan.


KLING

"Selamat datang" sapa Lavender ramah saat pintu depan tokonya terbuka. Muncullah sosok Ron masuk ke dalam, "Hai" ia tersenyum manis kepada Ron.

"Ada yang bisa kubantu?" tanya Lavender professional.

Ron mengangguk, "ada, aku mau bunga yang berbeda dengan kemarin—bunga yang lebih segar dan menggambarkan perasaan yang menggebu-gebu" terang Ron.

Sebenarnya Lavender heran melihat customernya yang satu ini. Pesanan lelaki ini selalu berbeda-beda setiap saat, kalau memang ini untuk kekasihnya berarti memang sang wanita suka berganti ganti bunga namun menurut Lavender itu jarang terjadi, wanita selalu loyal dalam memilih bunga.

"Mistletoe" Lavender menunjuk beberapa bunga tersendiri kepada Ron, "bunga itu menggambarkan semua yang anda inginkan—bunga ini biasanya digunakan sebagai hiasan natal karena indah dan begitu bercahaya" jelas Lavender.

Ron melihat bunga itu lebih dekat, "baik—bolehkan aku minta di rangkai?"

"Bisa, sebentar" Lavender mengambil sekelompok Mistletoe dan mulai membungkusnya dengan kertas baru di lapisi dengan bungkus khusus bunga dan di beri pita supaya tampil cantik.

"Selesai"

Ron mengambil beberapa uang kertas dari dompetnya, "ini terima kasih" ia menunduk sekilas dan langsung pergi keluar toko.

Lavender melihat kepergian Ron dengan pandangan menyelidik, "ada yang aneh dengan pria itu" bisik Lavender.


Apa yang di sembunyikan Pansy? Apa yang diketahui oleh Hermione? kenapa Harry menyembunyikan kenyataan dari Ginny? Apa yang di rencanakan oleh Theo? dan apa yang membuat Lavender curiga dengan Ron?

Temukan jawabannya di chapter selanjutnya

Apa yang membuat mereka begitu berkaitan dan terhubung satu sama lain?

Ingat—terkadang cinta lebih rumit dari yang kita kira. Cinta bisa membuatmu terbang melayang ke angkasa namun di saat yang sama, bisa menjatuhkanmu ke dasar bumi.

Ya, cinta memang sulit di terka. Tapi ingatlah cinta tetap indah pada akhirnya yang membuatmu tetap menunggu agar cinta datang dan menciptakan kisah untukmu.

-TBC-


A/N:: hai, thanks udah review. :)

ada yg nanya kok interaksi Dramione minim? well, cerita ini bukan hanya terfokus ke mereka berdua. Meskipun demikian, di chapter selanjutnya mereka bakalan lebih eksis.