A Story in Cruel War

Warning : OOC (pasti(?)), Many OCs, Typo, dll.

Disclaimber : Kuroko no Basuke own to Fujimaki Tadatoshi

Settings : Diantara dua negera yaitu Jepang dan Indonesia. Zaman dimana Jepang menguasai Indonesia.

Genre : Romance, Drama, Hurt-Comfort, Slightly-Humor (untuk sedikit hiburan), dll.

Note :

- "..." = Bahasa Indonesia

- "..." = Bahasa Jepang atau Asing

.

.

Chapter 4 - Kefrustasian dan Kehangatan

Gara-gara Kise yang memberitahu bahwa Akashi turun ke medan perang telah membuat feeling-nya tidak enak karena tidak lama lagi, dia pasti akan turun ke medan perang.

Midorima ingat sekali percakapannya antara Kise dan Midorima ketika sore tadi.

"Oh ya, besok pagi kita harus segera kumpul ke ruang komandan," ujar Kise yang sedang serius.

"Tumben, dia menyuruh kita berkumpul..." gumam Midorima dengan datar karena mood-nya langsung benar-benar berantakan gara-gara berita yang disampaikan oleh Kise tadi.

"Midorimacchi? Kau ketular sikapnya Aominecchi, ya?" tanya Kise yang merasa ganjil dengan sikap Midorima.

Midorima langsung menatap tajam ke Kise, "Jangan sebut nama manusia hitam sialan itu-nanodayo."

Ah iya, Midorima sepertinya masih kesal dengan perbuatan Aomine yang tadi pagi dan sama halnya dengan orang yang dia umpatkan.

Kise langsung bungkam dan bingung apa yang harus dia lakukan untuk sahabatnya yang satu ini.

Midorima pun melepaskan kacamatanya dan membersihkan lensa kacamatanya dengan saputangan serta helaan nafas yang keluar, "Aku benar-benar merasa berantakan sekarang..."

Entah kenapa, Kise bisa membayangkan kalau Midorima lepas kacamata seperti itu pasti bakal banyak para perempuan langsung mempekik tidak jelas.

Maria? Kise tidak tahu reaksi perempuan bersurai hitam itu karena dia sepertinya agak kebal.

"Midorimacchi... Kalau kau memang merasa berantakan, kenapa kau tidak mengingat hal yang membuatmu menjadi membaik? Seperti keluarga atau dia?"

Keparat kau, Kise.

Kau telah membuat wajah Midorima langsung bersemu merah dan mengumpat Kise yang membuat dirinya menjadi seorang pemuda yang sedang menyurahkan isi hatinya kepada sahabatnya.

Midorima pun memakai kacamatanya dan membenarkan letak kacamatanya, "Baiklah, aku ingin keluar dulu untuk menenangkan pikiranku."

Tanpa basa-basi apapun, Midorima pun langsung keluar dan meninggalkan Kise, tapi dia langsung dicegah oleh Kise yang tersenyum penuh arti.

"Semoga, kau bertemu dengannya, Midorimacchi~!"

"Sialan kau, Kise."

Tanpa dia sadari, bibirnya melekung ke atas dengan perlahan.

.

.

Ini cukup aneh. Karena Midorima hanya bisa bertemu Maria dengan ketidaksengajaan, hal itu membuatnya penasaran dimana daerah Maria tinggal.

"Midorima-san? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?"

Astaga, baru saja dia memikirkannya dan benaran terjadi. Apakah ini takdir? Berhenti, ini bukan cerita romantis yang terlalu berlebihan.

Maria mengangkat salah satu alisnya dan menatap Midorima yang masih asyik dengan dunianya sendiri, "Midorima-san?" panggil Maria dengan suara yang lebih keras.

"Apa?! Ma, maksudku, aku hanya keliling saja!" balasnya dengan kalap.

"Midorima-san ingin berkunjung ke rumahku? Rumahku tinggal beberapa langkah lagi soalnya," ajak Maria sambil tersenyum.

"Bo, bo, boleh... Apakah itu tidak apa-apa-nanodayo?"

"Tidak apa-apa! Di rumahku hanya ada bunda dan Tumanto, adikku karena ayah sedang ada urusan di luar kota."

"Ba, baiklah-nanodayo..."

Midorima juga baru sadar, dia bertemu dengan Maria di tengah-tengah permukiman warga. Untuk sekali lagi, Midorima merasa beruntung bisa jalan kesini.

Akhirnya, mereka berdua pun berjalan menuju rumah Maria yang tidak terlalu jauh dari permukiman tadi.

"Midorima-san, apa benar kau ini serdadu Jepang?"

"Be, benar-nanodayo..."

"Terus kenapa kau mau berbicara dengan gadis pribumi seperti itu?"

Midorima hanya menghela nafas dan merasakan perasaan yang cukup membuatnya sakit hati, "Aku ingin mempunyai teman disini, bukan berarti aku ingin berteman dekat denganmu!"

Pernyataan dari Midorima itu telah membuat Maria tertawa geli dan Midorima semakin salah tingkah dengan sikapnya yang tadi ditambah dengan tawa geli Maria.

"Ah, kita sudah sampai."

Sekarang, mereka berdua berada di depan sebuah rumah sederhana yang cukup nyaman dan tidak begitu besar, "Inilah rumahku," ujar Maria sambil tersenyum senang karena dia baru pertama kali mengajak temannya yang berasal dari luar datang ke rumahnya.

"Wow..." Midorima cukup kagum dengan rumah Maria yang menurutnya berbeda jauh dengan rumahnya yang ada di Jepang.

Jelas berbeda jauh, Midorima. Kau berada di bangsa lain.

"Silahkan duduk disini." Maria mempersilahkan Midorima duduk di salah kursi yang berada di teras rumah Maria, "Aku ambil minum untukmu dulu."

"Ti, tidak usah!" Tapi telat sudah karena Maria sudah terlanjur masuk ke dalam rumahnya dan Midorima langsung menghela nafas sambil menatap langit malam yang penuh bintang.

"Phu~!"

Suara yang sukses membuat Midorima merinding dan dia langsung menatap pintu rumah, Midorima langsung spot jantung.

Apa yang membuatnya spot jantung?

Dia melihat ada dua orang yang sedang mengintipnya dan mereka itu adalah ibu Maria sama Tumanto.

"Astaga... Maria, bunda nggak nyangka kamu bisa bawa laki-laki kesini..." gumam ibu Maria yang terharu melihat teman (atau calon menantu) laki-laki anak perempuannya datang ke rumahnya.

Satu hal lagi, ibu Maria juga terharu karena anaknya bisa berteman dengan orang Jepang.

Mari kita berhenti membahas khayalan ibu Maria yang kesenangan.

"Bunda, ngapain bunda mengintip seperti itu?" tanya Maria sambil membawa penampang minuman.

"Nggak, kok, sayang! Bunda hanya penasaran dengan temanmu, benarkan, Tumanto?" Ibu Maria menatap Tumanto yang sudah setengah mengantuk sambil mengangguk polos, padahal dia tidak tahu apa yang dimaksud sang ibu.

"Bunda, kau lebih baik menidurkan Tumanto, dia sudah ngantuk..."

"Bilang aja, kamu malu ada bunda disini."

"Bunda, jangan goda aku dan kasihan Midorima-san menunggu di teras."

"Diam-diam, kamu perhatian, ya."

"Bunda!"

Tumanto pun menghampiri Midorima dan duduk di kursi sebelah Midorima, "Tuan ini tentara Jepang, ya? Kok, mau sama kakak?" tanya Tumanto, polos.

Pertanyaan anak kecil yang sukses membuat Midorima kalap untuk menjawabnya.

"Tuan, aku kasih tau, ya! Kakak itu baik dan cantik, loh! Kapan nikahin kakak?" tanya Tumanto yang menjadi-jadi.

Midorima sudah dibuat kalap tingkat akut oleh anak kecil yang berusia 4 tahun ini. "Kalau itu..."

"Tumanto! Ayo, kamu tidur sama bunda! Besok, kakak tidak ingin memasak makanan kesukaanmu!" seru Maria dengan wajah yang sedikit merona karena sempat mendengar percakapan Midorima dan Tumanto.

"Baiklah, kak..." Tumanto pun masuk ke dalam rumah bersama ibu Maria dengan lesu.

Maria pun menghela nafas dan duduk di kursi dimana Tumanto duduki setelah dia menaruh penampang minum di meja kecil untuk menaruh kopi atau teh, "Maafkan bunda dan adikku, mereka memang seperti itu..." ujar Maria yang tidak berani menatap Midorima gara-gara percakapan adiknya tadi.

"Ti, tidak apa-apa-nanodayo... Aku juga mempunyai adik yang seperantara dengannya..." balas Midorima sambil menyembunyikan kekalapannya.

"Eh? Kau juga punya adik seperti Tumanto?"

"I, iya... Tapi dia perempuan.."

"Benarkah?! Aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi pasti dia berada di tempat tinggalmu yang jauh..."

Maria hanya menghela nafas untuk beberapa kalinya dan dia menatap Midorima yang tidak menyentuh minuman yang sudah disediakan olehnya, "Midorima-san, kenapa kau tidak minum?"

Di tengah kecanggungan, Midorima langsung sadar dari dunianya sendiri, "Ma, ma, maaf! Ta, tadi aku memikirkan sesuatu-nanodayo!"

Dia pun langsung meminum minuman yang sudah disiapkan oleh Maria dengan canggung dan Maria hanya memandangnya sambil tertawa geli.

Sekarang, Midorima bisa merasakan wajahnya sudah merah padam sampai telinga. Maria melihat Midorima dengan tatapan bingung karena tiba-tiba, wajah Midorima menjadi merah padam.

"Maria..." panggil Midorima sambil menaruh cangkir miliknya di meja kecil disebelahnya dan dia sudah kembali semula atau dia menjadi serius.

"Ada apa, Midorima-san?" tanya Maria sambil tersenyum ramah.

"Sebenarnya... Aku punya firasat akan dikirim ke medan perang..." jawab Midorima yang membuat matanya tertutup poni dan wajahnya menjadi menggelap.

Ketika mendengar itu, Maria langsung terdiam dan dia bisa menatap ekspresi Midorima yang mulai frustasi. Baru kali ini, dia bisa melihat ekspresi Midorima yang serius karena dia lebih sering melihat sifat salah tingkah dan kikuk Midorima.

"Ja, ja, jangan berpikir seperti itu, Midorima-san!" seru Maria yang langsung memegang salah satu tangan besar milik Midorima, "Pa, pasti itu tidak akan terjadi!"

Midorima pun langsung terkejut dengan reaksi Maria dan dia menggenggam erat tangan Maria sambil tersenyum, "Terima kasih, Maria..."

Malam itu hanya ada sebuah kehangatan yang dibuat oleh kedua insan tersebut.

.

.

Keesokan paginya, semua para serdadu berkumpul di ruang komandan mereka dan mereka bisa melihat komandan muda itu sepertinya mendapatkan masalah serius.

"Nijimura-san, mengapa anda memanggil kami kesini?" tanya pemuda bernama Furihata Kouki dengan sedikit gemataran.

Komandan muda bernama Nijimura Shuuzo itu menghela nafas sebentar dan dia menatap para bawahannya dengan tajam.

"Sepertinya, kita harus mengirim pasukan ke medan perang karena... Camp disana kekurangan pasukan..."

Semuanya langsung meneguk ludah dan mengeluarkan keringat dingin karena pasti ada yang harus dikirim di antara mereka.

"Midorima, Kise, Aomine, dan Murasakibara. Aku mohon bantuan kalian."

Mereka sepertinya harus menyiapkan raga mereka. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

.

.

To be Contunie

.

.

Author's Note

Author : Hai, semuanya~! Gimana untuk chapter kali ini? Udah mulai merasa feels-nya? Author aja udah mau pingsan pas menulis chapter ini.. *berusahan tahan diri tidak pingsan*

Author emang tidak kuat menulis romance.. *mojok* Jadi mohon maklumin, ya..

Oh ya, saya sengaja kebut menulis chappie ini untuk para readers karena hari ini adalah April Mop!

Jadi, selamat April mop! Semoga yang kena kebohongan bisa tabah(?)!

Akhir kata untuk chapter ini seperti biasa...

.

.

.

Read and Review?