Disclaimer : I do not own Naruto.

Warning : OOC. SasuIno. Absurd. Rush. Gaje. Abal. Aneh. Lebay. Gila. I warned you.

Tidak ada unsur kesengajaan jika ada kemiripan ide cerita. Tolong beritahu ketika menemukan kesamaan.

Anggap sebagai hiburan semata.


THERAPY

- Malady -

"Karena aku yakin, obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan phobiamu itu adalah . . dengan membuatmu jatuh cinta."


Sore hari di ruang kesehatan Konoha Gakuen,

.

"Dia hamil. Kurasa dia sedang mengandung anakku "

Tiga pasang mata orang dewasa memandang lekat ke arah sepasang muda-mudi yang salah satunya baru saja memberikan pengakuan menggemparkan tersebut.

Suasana hening.

"Oh Tuhan," gumam seorang wanita cantik berambut hitam panjang, yang pertama memecah keheningan.

Disampingnya, sang suami belum berkomentar.

Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto sudah sangat terkejut saat mendapat sebuah panggilan telepon dari sekolah yang meminta keduanya untuk datang. Ini bersangkutan dengan kabar anak bungsunya, Uchiha Sasuke.

Segera saja panggilan yang tidak biasa itu membuat keduanya menghentikan segala aktivitas yang sedang mereka kerjakan dan tanpa pikir panjang lagi langsung melesat menuju sekolah di sore itu juga.

Panggilan yang tidak biasa. Benar.

Karena tidak biasanya Sasuke membuat masalah di sekolah sampai-sampai orang tuanya dilibatkan.

Apalagi yang berurusan dengan seorang gadis, yang ternyata kini sedang mengandung jabang bayi milik si bungsu Uchiha itu, katanya. Orang tua Sasuke tambah syok.

Begitu pula dengan Miss Shizune, sang suster sekolah yang sedaritadi belum bisa sembuh dari syoknya. Dibuat kalap oleh tangisan si gadis kembang sekolah sebelumnya, Shizune sampai-sampai tidak sempat melapor pada pihak sekolah terlebih dahulu melainkan langsung nekat menghubungi orang tua murid yang bersangkutan.

Kini mereka bertiga tengah fokus menatap bergantian dua siswa SMA di depannya.

Yamakana Ino masih kehilangan kata-kata. Sepertinya gadis itulah yang paling kaget akan pengakuan tersebut.

Hamil?

Jika orang tuanya sampai tahu kalau anak gadisnya tiba-tiba hamil apalagi di luar nikah, Ino sudah pasti akan langsung dipecat sebagai anak keluarga Yamanaka. Ia merinding saat memikirkan pasokan uang jajannya dihentikan dan ia diusir paksa dari rumah, demi menjaga kehormatan.

Selain itu satu sekolah akan gempar dan ia pun harus dikeluarkan dari sekolah. Lalu bagaimana dengan nasib masa depa- Tunggu.

Ino menggeleng. Bukan itu pokok masalahnya disini.

Ia tidak sedang hamil betulan!

Lelucon konyol macam apa itu? Seumur hidupnya saja ia tak pernah disentuh oleh makhluk bernama lelaki yang bukan mukhrim –sebelum barusan dicium paksa oleh pemuda laknat itu-, bagaimana bisa ia sampai berbadan dua?

Sementara Uchiha Sasuke masih berdiri disampingnya dengan sikap kalem dan so coolnya yang biasa.

Mengingat itu saja, Ino kembali merasa jijik dan mual-mual.

Malangnya Ino tidak bisa segera menyanggah akibat rasa mual yang sedang melandanya itu, ia yakin dirinya akan kelepasan muntah jika mulai membuka mulut.

Saat sedang sibuk menahan muntah, manik biru gadis itu melebar ketika Mikoto tiba-tiba mulai terlihat berjalan menghampirinya. Refleks, Ino segera menyondongkan punggungnya ke belakang, merasa ngeri.

Ibundanya Sasuke itu kini sudah berdiri tepat dihadapan si gadis.

Ino menelan ludah. Meski sebenarnya sang ibu hanya sedang salah paham, tapi gadis itu sudah bisa membayangkan bahwa dirinya akan ditampar dan dikata-katai sebagai gadis murahan atau dicaci maki dan dibentak habis-habisan karena sudah berani-beraninya menggodai anak mere-

Grep.

Kedua tangan Mikoto mencengkram kuat bahu Ino, membuat si gadis yang masih terduduk di atas kasur berjengit. Manik hitam wanita berparas cantik itu dipancangkan tajam pada safir biru milik si gadis.

Seketika Ino lupa akan caranya bernapas.

"Ma, biar kujelaskan," Sasuke mencoba menahan apapun yang akan dilakukan ibunya.

"Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi." Tegas Mikoto.

Si pemuda dan si gadis sama-sama mengernyit ngeri.

Firasat buruk semakin menggentayangi fikiran Ino. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Disaat seperti ini apa yang bisa ia lakukan? Sepertinya akan percuma jika ia mencoba ikut menjelaskan disaat Sasuke yang notabene adalah puteranya saja diabaikan.

"Benarkah apa yang dikatakan anakku?" Mikoto memulai, "Kau hamil?" tanya wanita paruh baya yang tetap nampak cantik itu.

Ino menggeleng ngeri. Tidak ada yang datang di benak Ino pada saat krusial seperti itu selain dirinya harus meminta maaf duluan. "Maa-"

"KYAAAAA! AKHIRNYA AKU AKAN MEMPUNYAI SEORANG PUTERI!" Jerit Mikoto dramatis seraya merengkuh Ino ke dalam dekapannya, mengabaikan sangkalan rusuh si gadis barusan.

.

.

Ino berkedip dua kali.

.

.

Hee?

Mikoto melepaskan pelukannya dan kembali memandang Ino yang masih mematung dan kentara sekali sedang kebingungan. Satu tangan nyonya Uchiha itu menangkup pipi ranum Ino.

"Dan lihatlah, kau cantik sekali seperti seorang puteri dari negeri dongeng." Gumam wanita itu dengan suara lembut, sungguh kontras dengan jeritan berusan. Tangannya yang lain menangkup mulutnya saat onyxnya mulai berair karena menahan tangis.

"Rambut pirang dan mata biru . . Papa!"

Mikoto berpaling ke arah suaminya yang masih belum bergerak satu sentimeter pun dari tempatnya. "Bukankah gadis ini mirip sekali dengan Puteri Aurora dari kisah sleeping beauty yang sering kita tonton itu?"

Tanyanya pada sang suami, penuh harap dan menuntut persetujuan.

Tanpa ragu Fugaku mengangguk. "Dia mirip sekali dengan heroin dari kisah favoritmu itu."

"Benar kan!" Mikoto bersorak, lalu kembali memandang Ino dan sekali lagi meraih tubuh gadis yang belum lepas dari bengong itu ke dalam pelukannya, "Ah, aku senang sekali~"

Sementara Ino masih tercengang, diikuti dengan Sasuke yang hanya bisa melihat adegan itu sambil speechless. Sudah pasti si pemuda tidak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi.

Apa yang sedang berlangsung saat ini? Ino merasa otaknya dijungkir balik sekaligus pada satu waktu.

Berita baiknya adalah ia tidak jadi dimarahi, tapi berita buruknya adalah . . kesalah pahaman ini terus berlanjut.

Tidak ingin euforia kekeliruan ini berlarut, Ino segera menarik tubuhnya dan berkata, "Maaf Tante, sepertinya Anda-"

Satu jari ibundanya Sasuke ditempatkan pada mulut Ino, "Mulai sekarang panggil aku Mama," tukasnya sumringah.

Ino hanya bisa sweatdrop.

Disisi lain, dengan tak disangka kepala keluarga Uchiha mulai beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri tempat anak lelakinya berdiri sekarang.

Kini, Sasuke lah yang mulai merasa tegang.

Selama ini si pemuda selalu berusaha untuk menjaga sikap, tidak berbuat onar, dan menjadi yang terbaik di sekolah, semata-mata untuk bisa membuat sang ayah bangga padanya. Tapi kali ini, situasi memaksanya bertindak sedikit nekat. Meski tahu apa konsekwensi yang akan ia terima, Sasuke tidak bisa mundur. Ia tahu tindakannya sudah kelewatan, dan mungkin mampu mencoreng nama baik keluarga besarnya.

Terlepas dari kelakuan sang ibu yang malah tampak senang, pemuda itu selalu yakin ayahnya tidak akan sehalus ibunya. Ia tahu percis seberapa tegas dan ketatnya Uchiha senior itu.

Sasuke memandang lekat netra gelap sang ayah yang kini sudah berada di hadapannya. Ia siap menerima apapun yang akan datang. Keduanya saling menatap intens.

Sasuke memutuskan untuk mulai bicara, "Maafka-"

Tap.

Fugaku menepuk bahu Sasuke. Gerakan sederhana itu mampu membungkam si pemuda.

Ayah dan anak tersebut masih bersitatap cukup lama, sampai akhirnya Sasuke melihat sorot mata ayahnya melembut seraya sang ayah mengangguk.

Apa? Melembut? Mungkinkah ini cuma halusinasi Sasuke semata?

Sepertinya bukan.

Pemuda stoik itu hampir dibuat menganga tapi ia langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Pemuda itu mulai paham apa yang sedang terjadi.

Ya Tuhan, Sasuke merasa seakan ayahnya sedang berbicara padanya tanpa bersuara, 'Well done, Nak. Good job! Papa bangga padamu.'

Cara sesama lelaki berkomunikasi, bisa saling mengerti tanpa harus bicara.

Kini gantian Sasuke yang berhasil dibuat tercengang.

Rupanya sang ayah yang sudah berumur itu diam-diam ingin memastikan garis keturunannya berlanjut dengan kehadiran seorang cucu di tengah keluarga besarnya yang bisa menjadi penerus pengemban darah Uchihanya. Namun, ia tidak bisa lagi menyimpan harap pada anak sulungnya yang workaholic itu –a.k.a abang Itachi- untuk segera merealisasikan cita-citanya tersebut. Disuruh menikah saja susahnya minta ampun, bagaimana mau memberi keturunan.

Bersyukur, nampaknya kini Fugaku sudah tak perlu risau lagi karena ia bisa mengandalkan anak bungsunya (?)

"Siapa namamu, nak?" Suara sang ibu mengakhiri momen ayah-anak itu.

"I-Ino. Yamanaka Ino." Jawab si gadis tergagap, dan entah mengapa pula ia refleks menjawab.

Mikoto menepukkan kedua tangannya. "Baiklah Ino-chan, mulai saat ini kau harus banyak istirahat."

Nasihat si ibu sambil tersenyum hangat.

Ino tidak tahu lagi harus merespon apa selain mengangguk.

Kini Mikoto beralih menghadap Sasuke dan mengelus lengan atas milik anaknya itu. "Jaga pacarmu baik-baik ya, sayang." ucap sang ibu senang.

HA? PACAR? WHAT THE . . Ingin rasanya Ino berteriak kencang tapi ia ingat kini dirinya sedang tidak kuasa berkomentar, jadi ia hanya diam.

Sasuke ketularan mengangguk.

Merasa semuanya telah clear, dengan perasaan bahagia Mikoto memberi isyarat pada suaminya untuk segera pamit darisana.

"Papa dan Mama ada urusan, setelah ini kau antar Ino-chan pulang ya."

Tidak perlu menunggu lama, titah sang ibu tersebut segera disanggupi oleh puteranya.

Setelahnya, tuan dan nyonya Uchiha menghampiri suster sekolah yang sedaritadi belum bersua entah karena masih tenggelam dalam syok atau takjub menyaksikan semua momen bahagia itu.

Shizune baru tersadar saat Mikoto berucap kepadanya.

"Suster, tolong rahasiakan keberadaan bakal cucu kami ya." ujar Mikoto sambil tersenyum penuh arti.

Fugaku mengangguk, ia ikut mendelik tajam ke arah Shizune. "Aku tidak ingin keselamatan cucu- ehem, janin dan ibunya terganggu selama gadis itu masih bersekolah disini."

Intinya : rahasiakan semua ini dari dunia, ya!

Shizune tidak tahu lagi apakah kalimat itu berisi permintaan, peringatan atau . . ancaman, yang jelas ia hanya ikutan mengangguk. Paham bahwa ia tidak bisa asal menolak pesan dari keluarga donatur utama sekolah yang mempekerjakannya itu.

"Yeay, aku akan segera mempunyai seorang puteri dan kau akan mempunyai cucu. Dan menantu kita punya rambut pirang, mata biru dan wajah yang cantik sekali~" Mikoto bersenandung riang sambil menepuk-nepuk lembut dada suaminya, sambil keduanya berlalu meninggalkan ruangan.

Seketika itu pula tubuh Shizune ambruk terkulai di lantai, berusaha mencerna seluruh kejadian yang barusan disaksikannya.

Di sudut lain ruangan, saking terguncangnya Ino saat ini, sampai-sampai ia lupa bagaimana rasanya ingin muntah dan hanya menatap kosong udara di depannya saja.

Sementara Sasuke, ia sedang menutupi mulutnya dengan punggung tangan seraya wajahnya memerah seolah menahan haru –masih mendapat efek dari interaksinya dengan sang ayah-.

Seharusnya, ini menjadi sore yang damai di Konoha Gakuen sebab jam sekolah telah usai sedari tadi. Seluruh siswanya telah bubar dan berlomba untuk pulang ke kediaman masing-masing. Namun, sebuah insiden di ruang kesehatan yang terjadi barusan . . telah sukses memecah kedamaian itu.

x x x

Ting Tong. Ting Tong. TING TONG!

Seorang gadis berambut pink dengan rusuh dan tidak sabaran memencet bel kediaman Yamanaka sebanyak tiga kali.

Pintu dibuka, dan gadis bermata hijau itu buru-buru masuk tanpa perlu di persilahkan.

"Nona sedang berada di ruangannya." Ucap Santa, yang sedang membukakan pintu.

"Ok, thanks." Sahut Sakura melambaikan tangan seraya menaiki tangga.

Dengan gesit gadis itu berlari menuju kamar Ino dan segera membuka pintu kamar sahabatnya itu dengan perasaan cemas.

Saat daun pintu terbuka, segera saja Sakura melihat Ino sedang meletakkan kepalanya di meja duduk yang berada di tengah kamar, tampak sudah tidak ada nyawa.

Sontak Sakura menjerit, "Astaga Ino kau kenapa?"

Tak ada jawaban.

Tidak menunggu lama lagi, Sakura segera masuk ke dalam kamar. Namun baru dua langkah gadis itu berjalan, ia langsung memekik dan tersadar. Ada banyak gumpalan tisu memenuhi hampir seluruh lantai kamar.

Sakura mengernyit. Paham gundukkan apa itu. Ia merubah cara jalannya dengan berjinjit, melangkah pelan menghindari bongkahan yang diyakininya sudah terlumuri ingus sahabatnya.

Setelah sampai di tempat Ino, Sakura segera mencengkram kedua belah bahu gadis pirang itu.

"Ino!" Sakura mengguncang tubuh gadis Yamanaka yang sedang lunglai itu dengan keras. "Musibah besar apa yang sedang terjadi padamu sampai membuatmu hampir tewas seperti ini, pig?"

Sakura menelan ludah. Masih tak ada jawaban.

"Kau sampai membuat Santa ojisan meneleponku karena khawatir dengan keadaanmu yang nyaris tak bernyawa ini." teriak Sakura lagi, mencoba membawa kembali Ino ke dunia, "Jawab aku Ino! Kuatkan dirimu! Jangan mati!"

"Uhn," lirih Ino mulai terbangun. Gendang telinganya terasa hampir pecah dan badannya tidak bisa menahan guncangan hebat Sakura lebih lama.

Gadis berpermata biru itu mengusak kepalanya dengan dua tangan, dan mulai membuka mata. Ia berkedip tiga kali untuk menyadari siapa yang kini sedang berada di hadapannya, dan langsung menjerit seraya menangis sesenggukan.

"SAKURAAA!"

Yang namanya disebut sontak menganga. Ino terlihat menyedihkan. Rambut pirangnya yang biasa tertata rapi kini acak-acakan dan manik birunya yang biasa terlihat indah kini sedang sembab. Terlebih wajah ayunya yang biasa terlihat cantik kini tampak . . masih cantik saja.

"Ya ampun Ino, apa yang terjadi padamu?"

Yang ditanya sedang sibuk merintih, "Sakuraaa apaa yang harus akuu lakukaaan?" Air mata komikal mengalir deras keluar dari kedua rongga mata Ino.

Sakura tambah bingung, "Apa? Memangnya kau kenapa?"

"Aku . . hiks . . "

"Ya?" Sakura memandang Ino dengan serius.

.

aku . . hiks,"

"YA?!" Sakura sudah tidak sabar, "CEPAT KATAKAN!"

.

"Aku HAMIL!"

.

.

JLEGEERR!

Langit di atas atap kediaman Yamanaka tiba-tiba menghitam dan memuntahkan beberapa pasang kilat yang menyambar-nyambar -meski hanya bayangan author semata-.

"A-apa, Ba-bagaimana bisa kau, kau-" Pernyataan itu membuat Sakura dilanda syok luar biasa. Mulutnya menganga dan mengatup secara bergantian.

Tapi lima detik kemudian, PLAK!

"ITU TIDAK MUNGKIN!" bentak Sakura sambil mengeplak tempurung kepala sahabatnya itu.

Ino kembali merintih, kali ini karena kesakitan.

"Geezz, kau membuat jantungku hampir copot!"

"Aku serius, jidat!"

Sakura menatap datar Ino. Mana mungkin ia akan percaya dengan berita gila semacam itu. Seumur hidupnya Sakura sudah tahu tabiat sahabatnya yang mengidap androphobia itu. Mana bisa ia percaya Ino hamil disaat didekati lelaki saja gadis itu langsung alergi.

Tapi gegara Ino terus ngotot, akhirnya Sakura menghela nafas pendek, "Baiklah, ceritakan." Titah gadis itu mulai serius, "Kenapa tadi siang kau tiba-tiba menghilang?"

Ino masih sesenggukan tapi ia mencoba mengatur napasnya.

"Setelah berpisah denganmu, aku terus berlari tanpa tujuan." Ino memulai.

Sakura mengangguk, dan mendadak merasa jengkel karena teringat adegan Ino yang seenaknya mencium pipinya. Tapi ia tidak berniat menyela, khawatir Ino akan pundung.

"Lalu tidak sengaja aku menabrak Sasuke-kun," si cantik Yamanaka menenuskan.

Sakura menaikkan alis, "Lanjutkan."

"Dia berkata akan membantuku kabur, dan karena tidak ada pilihan lain aku terpaksa mengiyakan."

"Apa? Kau gila? Bagaimana kalau dia menjebakmu?"

Ino mengangguk tak rela, membuat Sakura mengernyit. "Jadi kau dia-"

"Dengarkan ceritaku dulu," Ino memotong. " Lalu aku dibawa ke sebuah ruangan kosong, dan . . "

Sakura melonjak kaget, "Apa?! Jangan bilang dia melakukan sesuatu padamu?!"

Sambil menggigit bibir bawahnya, Ino mengangguk lagi.

"Lalu?!"

"Aku . . " Air mata Ino kembali mulai mengalir.

.

"Aku dicium." Rengek Ino.

DUARR. Sakura mau meledak rasanya. "SERIUS?"

Ino mengangguk dramatis sembari menahan tangis.

"Astaga," gadis berambut merah muda itu menangkupkan dua tangan di mulutnya. Ia menelan ludah, mulai mempersiapkan mentalnya untuk mendengar apapun setelah ini. Jika begini kejadiannya, Sakura bisa saja percaya dengan berita kehamilan ini.

"Terus, habis itu kau diapain lagi?" ia memberanikan diri bertanya, kedua tangannya terangkat sambil mengepal.

Ino menaikan alis, karena melihat Sakura yang malah jadi tampak bersemangat (?)

"Umm, sudah itu saja." Tutup Ino.

"Ha? Hanya dicium? Tidak ada lagi?"

Dilihatnya Ino mengangguk, membuat Sakura membuang napas berat. Seharusnya ia sudah bisa menduga, hal-hal yang lebih ekstrim dari ini tidak mungkin terjadi. Loh, kenapa Sakura malah jadi tampak kecewa?

"Oiya, habis itu-"

Sakura langsung mendongak lagi dan memotong, "Habis itu?"

"Aku pingsan." Ino mengaku.

Glek.

"Ha?" Sakura mengernyitkan dahi sebelum kembali memandang Ino dengan ekspresi datar. "Lalu kenapa kau bisa bilang kalau kau hamil, hah?" Tidak tanggung-tanggung ia menoyor kepala pirang Ino. "Sudah cu- eh? Tunggu dulu, Jangan bilang kau diapa-apain saat kau pingsan?"

"Hah?" Ino tersentak karena baru sadar dengan kemungkinan tersebut, "Benar juga, itu bisa terjadi." Ino panik dan langsung menggigiti kuku jarinya. "Bagaimana ini? Ya ampun,"

Sakura lebih dibuat bingung oleh gelagat yang ditunjukkan Ino sekarang.

"KALAU KAU SENDIRI TIDAK TAHU APA YANG TERJADI KENAPA KAU BILANG DIRIMU HAMIL? CIUMAN SAJA TIDAK AKAN MEMBUATMU HAMIL, PIG!" Sakura sudah tidak tahan lagi. Ingin rasanya ia menjungkir-balikan meja, tapi ditahannya sekuat hati karena pasti akan tambah mericuhkan keadaan ini.

"Ha-habisnya, Sasuke-kun bilang begitu di hadapan orang tuanya. Katanya aku hamil dan mengandung anaknya." Ucap Ino, kembali merengek saat mengingat kejadian tadi siang.

Belum juga Sakura pulih dari rasa syoknya, Ino malah semakin menambahnya. "Hah? Kenapa bawa-bawa orang tuanya segala?"

Ino mengangkat bahu, "Sadar-sadar, tiba-tiba aku sudah dikelilingi mereka."

Sakura tetiba merasa lemas. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Kau menyanggahnya kan?"

Untuk kesekian kalinya Ino menggeleng.

"Kenapa?" Sakura mengernyit lagi.

"Aku mual-mual hebat jadinya . ."

Euuhh.

"Lagipula orang tuanya-"

"Benar! Apa tanggapan orang tuanya Sasuke-kun?" Sakura menelan ludah, memprediksi sahabatnya yang malang telah dimaki-maki dan dianggap murahan, yang menjadi alasan Ino kini menangis sampai sesenggukan.

"Mereka terlihat senang." jawab Ino polos.

Hening beberapa detik.

"Apa?" Sampai Sakura menepuk jidat lebarnya. "Oh Tuhan, aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi." Ia merasa benar-benar telah dibuat mati gaya.

"Jadi bagaimana nasibku setelah ini Sakuraaaaa!" kali ini Ino lah yang mengguncang keras tubuh sahabatnya. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Ergh. Sakura memalingkan muka. Ia tidak tahu harus berkomentar apa.

"Hhhhh." Gadis bermarga Haruno itu mendesah panjang, lalu kembali menatap Ino dengan ekspresi serius.

"Ino. Aku tahu suatu saat nanti kau pasti akan kena batunya. Tapi tak pernah kubayangkan karma yang kau terima akan jadi sepelik ini."

Ino memandang Sakura dengan tatapan memelas. "Jadi aku harus bagaimana? Hanya kau yang mengerti kondisiku, kau harus memberiku saran!"

Sakura merasa prihatin dengan keadaan Ino, tapi rasanya sudah tidak ada saran lain yang bisa ia berikan. "Sebaiknya kau terima saja dia jadi pacarmu."

Benar. Lagipula kenapa Sasuke kaya ngotot sekali gitu sih?

"HAAAHH? Kau bercanda? Aku tidak sudi!" Tolak Ino.

"Memangnya kau mau melajang seumur hidup?" tanya Sakura sambil melotot. "Lama-lama kau bisa betulan jadi l*sbi tau!" gadis itu merinding.

"Uhh,"

"Coba saja dulu, mungkin dengan berpacaran dengan Sasuke-kun, kau bisa sembuh."

"Lah kenapa begitu?!" gerutu Ino heran.

"Karena aku yakin, obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan phobiamu itu adalah . . dengan membuatmu jatuh cinta." Tutur Sakura, bertaruh.

.

.

.

-TBC-


Oke segini dulu.

Tolong jangan tiru kelakuan ayah dan ibunya sasu ya, lol Maafkan jika tambah gaje~

.

.

Thanks, review lagi? :)


-Kolom balas review reader yang tidak login-

Pertama, terimakasih banyak buat semua yang udah review!

sasuino23 : sippoooo

itakun : sepertinya gak bakal dikeluarin kok XD

xoxo : asiik makasih kalo bisa menghibur, okeey

key yg lagi mager login : haha author pura-pura ga ngeliat adegan itu, biar jadi rahasia mereka berdua saja (?) huaaa, okeey

amay : iya yaah ooc banget XD siip

sasuino : makasiih, haha inonya kalo panik jadi gitu sih~ walopun ooc sasu masih cool tamvan gitu kan yaa XD

Sasuke : makasiihh

Nila : makasiih, ini udah lebih panjang yaaaa XD

JelLyFisH : kasian inonya tapi nanti jadi tersiksa terus XD

-Baca terus yaa-


Updated : 22/08/16