Title : Lunar

Chapter : 4/?

Author : Shiro Usagi

Genre : fantasy, romance, sci-fi, friendship, angst

Warnings : language, abal dan gaje

Rating : PG-13

Pairing/characters : Ruki/Liv (OC) or Fag/Bitch, Aoi/Uruha, Reita/Nyx, Kai/Smitha

Disclaimer : The GazettE bukan punya saya TAT

Synopsis : Apakah kalian pernah mendengar soal kejadian Lunar? Di mana seorang elf yang Cuma ingin membuat desa nya lebih tentram harus melawan kejinya takdir? Di mana semua makhluk ikut berpartisi pasi dalam pesta pertumpahan darah ini? Pasti belum kan? Ini terjadi beribu-ribu tahun yang lalu, di mana sihir dan makhluk legenda masih hidup dan menyatu dengan damai… mari aku beritahu bagaimana ceritanya…

Comment : enjoy~

Chapter 3 –hey! my Name is myv-

Setelah mandi dan berpakaian baru yang di berikan oleh Nyx, Liv mencuci pakaian lamanya, ia agak terkejut begitu menemukan 2 koper besar yang berisi berbagai macam pakaian untuk dirinya dari Nyx, memang ia perlu baju ganti, tapi memberi jumlah pakaian yang lebih banyak dari miliknya membuat Liv sendiri bingung, setelah itu Ia makan siang bersama dengan yang lain dengan hasil berkelahi lagi dengan Ruki dan Uruha, kali ini masalahnya rebutan daging terakhir yang sengaja Liv sisakan, dan pemenangnya adalah Kai yang tiba-tiba saja mengambilnya dengan bantuan Smitha, membuat Liv teriak-teriak kepada Kai yang dengan cengiran lebar mengunyah daging kelas atas atas itu.

"sedang apa kau di sini?" tanya Nyx yang berjalan menuju ke arah Liv yang sedang berdiri di pinggiran kapal dan memandangi laut. "bukankah aku sudah menyuruhmu untuk istirahat?" tanya Nyx lagi, Liv berbalik dan tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.

"aku tidak begitu lelah…" Liv beralasan, sebetulnya ia sangat lelah, tetapi ia tidak bisa tidur, pikirannya tidak tenang sama sekali memikirkan tentang keadaan desanya. Nyx menyadari kebohongan Liv, tetapi ia tetap diam, malahan ia mengangguk dan memberi Liv tepukan di kepala sebanyak 3 kali, lalu meninggalkannya tanpa ekspresi, atapun satu kata. Membuat Liv tercengang di sana sambil memegang kepalanya.

"hei bodoh, ngapai lagi kau?" tiba-tiba Ruki muncul dari deck bawah dan berjalan ke arah Liv, Liv berbalik dan menatap Ruki dengan sebal, seenaknya saja ia memanggilnya bodoh. Ruki memperhatikan Liv dari atas sampai bawah, ia memakai boot yang sampai ke pahanya dan gaun dengan tali yang melingkar di lehernya yang sepanjang pahanya dan bagian belakangnya panjang, keduanya berwarna putih, dengan rambut perak dia yang berkibar di terbangkan angin, kulit putih dan matanya yang putih, Liv bagaikan seorang malaikat tanpa celah dan polos, membuat siapa saja ingin datang kepadanya, berlutut dan bersumpah untuk melindunginya, walaupun fakta kalau dia ini adalah gadis yang keras kepala dan drama queen membuat Ruki menggelengkan kepalanya dan berjalan melewati Liv, lalu menyandarkan dirinya di pinggiran kapal memandangi laut.

"apakah baru kali ini kau melihat laut?" tanya Ruki tiba-tiba, Liv agak terkejut karena sekali lagi ia membuat percakapan santai tanpa harus membuat emosinya sampai ubun-ubun, tetapi Liv telah mempelajari pelajarannya untuk menaikkan dagunya ke atas jika bersama warlock faggot ini, jadi ia mengibaskan rambutnya dengan anggun dan mengikuti posisi Ruki yang menghadap laut.

"tidak, sudah beberapa kali aku menaiki kapal pesiar seperti ini" jawab Liv dan Ruki mendeham pelan.

"aku kira kau ini adalah seoarng bitch manja calon pemimpin desa yang like, tidak di beri kebebasan untuk melihat keluar" kata Ruki dengan senyum mengejek dan Liv mendengus kesal.

"ayahku memberiku kebebasan atas apa yang aku ingin kan dan percayai, because … you know.. I am his princess" kata Liv dengan bangga sambil memainkan rambut panjangnya, Ruki meliriknya dan melihat matanya, ia melihat jelas kerinduan dan kesedihan ada di mata Liv walaupun suaranya begitu stabil dan penuh kekuatan, tapi tetap saja… tidak senang melihat musuh kesayangannya ini mengingat almarhum ayah kebanggaannya itu dan sedih, Ruki mengangguk pelan dan tertawa kecil

"yeah, I can see that, like, really can see that.. from your bitchy attitude. Your father must be like, really proud of you now. Like, you know.. you become this bitchy bitch" kata Ruki dan Liv melihatnya dengan mata bercahaya, merasa sangat bangga mendengar pujian dari Ruki, faggot yang selalu membuatnya kesal, tetapi suara, mata, dan kata-kata lelaki ini membuatnya senang dan ingin terus di dekatnya, entah karena apa, seolah mata emas yang cantik itu mengingatkannya pada sesuatu yang berharga, entah apa itu, tapi itu terlupakan dalam pikiran Liv tetapi terpendam dalam hatinya sedalam-dalamnya.

"by the way fag, apa yang kau ingin beri tahu kepada ku tadi?" tanya Liv yang mendekat pada Ruki, sang warlock meng-ah dan mengangguk pelan.

"mau jadi cute cupid bitch?" tanya Ruki tiba-tiba dan Liv terlihat bingung, ia mengedipkan matanya beberapa kali dan dahinya mengernyit. "maksudmu?" tanya Liv pelan sambil menopang dagunya dengan tangannya. Ruki mengkerling kan satu matanya pada Liv dan tersenyum nakal, membuat Liv bergidik takut.

"menurutmu Nyx dan Reita pasangan yang cocok apa tidak?" tanya Ruki dan Liv Nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "tentu saja, mereka sangat dekat dan selalu bersama, bahkan beberapa kali aku mendengar Nyx memanggil dengan sebutan Aki or something like that" jelas Liv sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.

"well, bagaimana kalau aku katakan mereka sama bodohnya dengan Kai dan Smitha?" tanya Ruki lagi, dan di situlah baru pikiran Liv terbuka, ia menganga dan memegang mukanya , dengan mata yang lebar, ia menatap Ruki tidak percaya.

"the freaking fuck!? Mereka juga!?" teriak Liv dan Ruki mengangguk dengan coolnya.

"you know fag, what's your plan?" tanya Liv dengan antusias dan Ruki tersenyum licik begitu mendengar pertanyaan itu.

"oke bitch, listen to, like, my faboulus plan" kata Ruki dengan antusias sambil menggosokkan kedua tangannya lalu menarik Liv lebih dekat.

"jadi, kita tidur bareng?" tanya Liv pada Nyx dan Smitha, mereka berdua memakai lingerie yang sexy, Nyx memakai lingerie sexy hitam dengan stocking yang hampir semuanya tembus pandang kecuali di bagian private, sedangkan Smitha memakai berwarna merah cerah, tanpa stocking tetapi menunjukkan hampir seluruh tubuhnya, dan Liv memakai camisole putih pemberian Liv karena ia sama sekali tidak mau memakai lingerie, Nyx dan Smitha yang duduk di depannya hanya mengangguk semangat dengan senyum sumingrah di wajah mereka berdua, Liv menghela nafas dan merebahkan dirinya di tempat tidur queen size nya itu.

"jadi, ceritakan tentang dirimu" kata Smitha tiba-tiba sambil memindahkan posisi duduknya di samping kepala Liv begitu pula dengan Nyx

"well, aku berasal dari keluarga kepala desa yang sudah turun-temurun memimpin desa" Liv memulai cerita nya sambil menatap asbes kamar yang berwarna putih "dari aku lahir ayahku sudah menetapkan aku sebagai penerusnya, walaupun adik ku yang lelaki sudah lahir ia tidak merubah pikirannya, padahal kemampuan kami hampir sama, tetapi karena tahu hal itu ia semakin mendidik ku dengan keras, tidak terlalu buruk sih, karena biasanya ia mengajarkan ku dengan metode santai dan cepat di mengerti"

"aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan jika aku menyelesaikan tugas dari ayahku, memberi ku pelajaran semuanya di dapatkan dengan usaha, di desa aku mempunyai sedikit teman, karena kesibukkan ku, aku sudah menjadi kepala desa semenjak berumur 19 tahun, saat ayahku meninggal karena sakit, desa kami terpenicil dan sangat kecil, tetapi kami semua bisa bertarung karena di desa ada sebuah artefak kuno yang terus kami lindungi sampai sekarang" Liv menngambil medali yang ia sembunyikan di balik bajunya, ia mengangkatnya seakan benda itu sangat berharga, hati-hati dan pelan.

"that medallion…" engah Smitha yang takjub melihat benda itu.

"I can't belive it… I thought it was just a myth" bisik Nyx dengan nada tidak percaya, dahi Liv berkerut, ia memandang 2 gadis itu dengan heran.

"apa kalian tahu apa ini?" tanya Liv penasaran

"are you kidding? Ini… kunci menuju kuil terlarang, Everensincy. Tempat di mana 2 kekuatan berlawanan tersimpan! Oh god! Semua makhluk mencari ini untuk membuka kuil itu!" seru Smitha yang menyentuh medali itu dengan sangat hati-hati, ia memandang medali bulat dengan symbol hitam putih, atau Yin Yang dengan kagum.

"h-how did you get this?" tanya Nyx tidak percaya. "a-and.. is this thing is real?" tanyanya lagi, dan kepala Smitha terangkat dan ekspresinya mengeras.

"tidakkah kau merasakan kekuatan yang besar dari medali ini? Kekuatan ini belum pernah aku rasakan" katanya dan mata Nyx menyala semakin merah. Tetapi ekspresinya tidak berubah. "hei, kalian berdua. Tenanglah" kata Liv tiba-tiba yang merasakan gemercik kemarahan di diri Nyx

"seperti yang aku katakan, desa kami melindungi artefak kuno. Dan kalian sepertinya pernah mendengar tentang kuil Everesincy, yang berada jauh di dalam desaku" jelas Liv dan mata mereka berdua membelalak.

"artefak yang kami lindungi adalah 2 kekuatan yang bertolak belakang, dimana satu bisa menyembuhkan dunia dari kehanacuran dan satunya lagi bisa menghancurkan alam semesta. Yin dan Yang, itulah kami menyebutnya. Selama beribu-ribu tahun para MoonForest menjaganya dan berhasil menyembunyikan keberadaan kuil serta artifak itu."

"hingga menjadi sebuah legenda, karena tidak ada satu makhluk pun yang bisa menemenukannya, bahkan sang raja, bahkan makhluk yang berevolusi dari makhluk berdaging menjadi monster paling kuat, jika menemukannya mereka tidak akan bisa membukanya, karena tempat itu terkunci oleh berbagai macam pelindung kuno yang tidak bisa kau bayangkan bisa membunuhmu" mereka berdua terdiam mendengar cerita Liv, sesuai legenda, tempat keramat itu berbahaya, tetapi di cari semua orang, bahkan para komisi kerajaan telah mencoba mencarinya, tetapi hasilnya nihil dan sekarang di anggap menjadi sebuah legenda dan mitos saja, karena tidak ada satu orang pun yang berhasil keluar dengan selamat dari tempat itu.

"aku pernah mencari nya sekali sebenarnya" kata Smitha dan Liv mengerutkan keningnya "kuilnya, dan aku sama sekali tidak bisa menemukannya" sambungnya.

"kau hanya mencoba mencari kuilnya saja? Tidak kekuatannya?" tanya Liv tidak percaya dan Smitha Cuma mengangkat bahu dan menelengkan kepalanya ke samping dengan ekspresi tidak peduli.

"yup, aku tidak mencari kehancuran atau perkelahian dengan kekuatan gila artefak itu, tetapi aku hanya penasaran saja" jawab Smitha dan Liv tersenyum pelan, dia bukan orang jahat.

"oh! Yang kau pulang dengan luka-luka itu ya? Sekitar 50 tahun lalu tidak salah" kata Nyx yang mencoba mengingat kejadian Smitha, seorang penyihir yang terkenal dan kuat, pulang dari desa MoonForest dengan kekuatan sihir yang melemah dan luka sana-sini.

"ya, baru saja aku menemukan jalan menuju kuil itu, tapi pada di pintu paling luar saja sudah di pasang dengan berbagai macam mantra yang sama sekali tidak aku kenal, untuk mantra statis nya masih bisa aku lewat. Tolong di garis bawahi, lewati bukan melepaskannya, dan itu sudah mengerahkan banyak kekutan, dan berbagai macam mantra pelindung dan perangkap, ugh! Benar-benar menyebalkan!" gerutu Smitha dan Liv tertawa pelan mendengarnya.

"well, tentu saja itu wajar, kau sedang memasuki ke dalam kuil dengan isi artefak yang bisa menghancurkan alam semesta ini, jadi jangan terkejut menemukan hal itu" kata Liv dan Smitha mengangguk dengan muram sebagai tanda setuju.

"apakah kau pern- kyaaaaa!" mereka bertiga terkejut begitu merasakan ruangan itu memiring dan bergoyang dengan keras hingga menjatuhkan beberapa perabotan. Nyx langsung melesat dengan kecepatan tidak terbayangkan manusia keluar untuk memeriksa keadaan.

"ada apa!?" teriak Nyx yang membuka pintu deck atas dan terkejut begitu melihat hujan badai dengan ombak yang besar sekali menggoyangkan kapal mereka, Reita, Ruki, Uruha, dan Kai yang kebetulan memerintahkan para kru kapal dan membantu mereka untuk mempertahankan kapal berbalik, dan Reita langsung memegang hidungnya untuk menahan mimisannya, begitu melihat Nyx berpakaian menggiurkan begitu. "Nyx! Puts your damn clothes on!" teriak Reita yang semburat merahnya di tutupi oleh nose-bandnya, Nyx tidak memperdulikannya dan melihat sekeliling, padahal tadi langit sangat cerah, dan menurut navigator tidak akan ada badai atau ombak besar, tetapi ini…

"ada apa!? OMG! Badai!" pekik Liv yang sudah berpakaian semula bersama Smitha di belakangnya.

"Nyx, ini pakaian mu, cepat pakai." Perintah Smitha dan Nyx mengangguk lalu berlari ke belekang setelah menerima pakaiannya dari Smitha.

"bitch! Cepat masuk! Ini berbahaya!Kami tidak mau sampai kau lebih menyusahkan dengan terjun ke laut!" teriak Ruki dan Liv menggeleng dengan jengkel "tidak! Aku akan membantu kal- waaa!" Liv hampir saja jatuh, sampai Reita bergerak cepat menangkapnya.

"masuklah, we got this" katanya dengan tenang dan mendorong Liv ke dalam bersama Smitha.

"what!? Aku juga!?" protes Smitha

"jaga dia, itu tugas kau dan Nyx" perintah Reita dengan tegas, ia menutup pintu deck dan berbalik untuk kembali membantu yang lainnya .

"w-what!? Apa-apaan itu! Aku bisa membantu! Jangan kira aku lemah!" seru Liv dengan kesal, ia mengepalkan tangannya dan mengertakkan giginya dengan geram. Smitha melipat tangannya dan menghela nafas pelan. "ya, dengan gadis elf muda yang seperti bayi berumur 2 bulan untuk kami, kau akan sangat membantu jika menurut" kata Smitha dengan sarkastik, Liv semakin jengkel dan menatap Smitha dengan tajam sekali.

"ja- agh!" gerutu Liv begitu kapal bergoyang lagi dan ia harus menyangga pada dinding.

"miyavi!" teriak Ruki pada lautan luas itu, anginnya sangat kencang dan ia harus berpegangan kuat pada pinggiran kapal.

"apa-apaan ini!?" teriaknya lagi dan tak berapa lama seekor naga biru yang sangat besar dengan sisik ikan muncul ke permukaan laut.

"ini bukan aku. Dan aku tidak bisa mengendalikannya" terdengar suara berat dan besar dari naga itu sendiri.

"then do something damnit! Kapal ini tidak akan tahan dengan ombak dan badai sebesar ini!" geram Uruha yang berpegangan pada sebuah tiang kapal.

"wh-what is that!?" teriak Liv yang terkejut melihat naga laut yang berbicara itu.

"itu Miyavi, salah satu teman kami, Leviathan" jelas Nyx yang sudah berganti baju dengan singkat, dan Liv menganga mendengarnya.

"makhluk itu ada!?" tanya nya dengan suara kuat lagi dan Nxy Cuma mengangguk dengan sabarnya saja.

"okay, berpeganganlah" kata naga itu dan ia meraung kuat dan membelokkan badannya hingga menciptakan omba lebih besar datang dari bawah kapalnya dan mengolengkan kapalnya ke arah timur.

"whaaaa! Bitch, what are you doing!?" protes Uruha yang semakin berpegangan erat bersama yang lainnya.

"aku pusiiiinnnggg~" kata Liv yang sudah terduduk dengan memegangi dinding lorong deck itu, mukanya pucat sekali dan hampir ungu.

"bertahanlah, kapal ini akan di pinggirkan" kata naga itu, dan begitu ia meraung sekali lagi, ombaknya semakin besar dan membuat kapal itu di bawa ombak kea rah timur dengan guncangan yang sangat kuat.

"kyaaaaaa!" teriak Liv yang merasa kapal itu sudah terbalik, sungguh ia tidak pernah melihat badai yang tidak wajar ini, begitu besar dan menakutkan, Ruki mendengar teriakkan Liv dan melesat masuk ke dalamnya, begitu ia menemukan Liv yang di pegangi oleh Nyx dengam aman, ia menyambarnya dan menarik Liv ke dalam pelukkannya yang protektif. "calm down, I got you" bisik Ruki dengan suara lembut, membuat Liv yang sudah hampir kehilangan kesadaran, merasa tenang, karena ia merasa familier dengan suara ini. "Taka" bisiknya dengan suara pelan, dan kesadarannya menghilang, Ruki terkesiap dan menatap Liv yang sudah pingsan dengan tidak percaya, dan tiba-tiba saja air masuk dari luar dan kapal mereka terbentur sesuatu yang kuat, membuat guncangan keras dan Ruki harus mengeratkan pelukkannya pada gadis elf itu.

"kyaaaa!" teriak Smitha dan mereka semua terhempas keluar hingga terjatuh dari kapal bersama yang lainnya, mereka semua terbawa ombak, Kai langsung menarik Smitha dan mengubah dirinya menjadi ular besar bersisik hitam dan langsung menjauhi mereka semua dengan gerakkan sangat cepat dengan Smitha terikat di ekornya ke pinggir pantai, Aoi memegangi Uruha yang tangannya di pegang Reita bersama Nyx sedangkan Ruki, memeluk Liv dengan erat dan tubuh mereka semua terhempas ke pasir putih pantai itu.

"uhuk uhuk.. fuck Miyavi… pikirkan sedikit jika kau mau menolong, kami bisa saja terbunuh lebih cepat" kata Reita dengan suara serak, ia menggelengkan kepalanya dengan keras lalu membantu Nyx duduk.

"sorry man, tidak ada cara lain, dan aku tidak bisa mengelakkan kalian dari batu karang besar itu, kekuatan badainya begitu besar" kata naga itu.

"semuanya baik-baik saja!?" teriak Ruki yang menggendong Liv yang terengah-engah, dan terlihat lelah sekali, ia menyandarkan kepalanya di bahu Ruki dan lengannya di atas perutnya.

"ya, Kai dan Smitha segera kemari, Uruha, bagaimana denganmu?" tanya Aoi yang memegang kepala Uruha dengan lembut.

"I'm alright.. just… no, I'm not alright, I freaking tired, sick, and ughh… air asin tidak cocok untuk kulitku this is bad as fuck, and that storm is a bitch" omel Uruha sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aoi.

"aku tidak apa-apa" kata Nyx dengan tenang, ia seorang vampire, daya tahan tubuhnya sangat baik seperti Reita dan Aoi.

"put me down" bisik Liv dan Ruki Cuma menurutinya saja, ia berlutut dan menurunkan Liv dengan hati-hati, wajahnya penuh dengan perhatian, mengamati seluruh gerakkan Liv dengan konsentrasi penuh, takut ia akan tumbang lagi, tangannya terus hampir di belakang punggung Liv untuk mencegahnya jatuh, dan hal itu membuat teman-temannya yang lain menganga lebar, seorang Ruki, yang sering menyulut api kemarahan Liv tiba-tiba saja menjadi lelaki gentleman yang tidak banyak omong, mereka rasa bahkan para gentlemen lain akan malu melihat perubahan sikap Ruki ini.

"it's okay, thanks fag" kata Liv dengan pelan dan senyum terima kasihnya, Ruki mengangguk dan terduduk.

"Seriously guys.. what is that?" tanya Kai yang datang bersama Smitha dari belakang mereka, naga itu tiba-tiba saja menyusut dan menjadi seorang lelaki berambut biru laut dengan kaca mata renang di kepalanya, ia memakai jaket hujan putih dengan celana tentara dan boots tentara juga, di wajahnya terdapat berbagai macam piercing, di mulut, hidung dan juga alis. Ia memiliki postur tubuh tinggi sekali dan kulit putih pucat serta wajah yang tampan.

"Aku juga tidak tahu, tetapi… itu bukan aku, dan kehendak alam, itu sihir, aku yakin itu" kata lelaki itu mendekati mereka.

"jadi kau bisa berubah jadi manusia juga" kata Liv tiba-tiba, lelaki itu menurunkan pandangannya pada Liv dan menatapnya terus, lalu beralih kea rah Ruki dengan pandangan bertanya dan tidak percaya.

"who's this chic? Your girlfriend?" tanya lelaki itu tiba-tiba dan bulu kuduk Ruki dan Liv berdiri begitu mendengarnya.

"No!" seru mereka berdua dengan tegas dan lelaki yang terkejut itu mengangkat kedua tangannya dan mundur beberapa langkah. "whoa! Easy bro! aku Cuma bertanya!" katanya. Ruki menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"sudah ku duga itu sihir, tetapi aku tidak bisa melacak pemakainya, bagaimana denganmu Smitha?" tanya Ruki pada Smitha dan gadis itu Cuma mengangkat bahunya dengan ekspresi muram. "tidak" katanya.

"so, bisa kalian jelaskan siapa gadis ini? Dan kenapa kalian semua berbarengan keluar pulau? Bukan seperti diri kalian saja" kata lelaki itu heran.

"Dan aku pikir bahwa Leviathan itu tidak ada, dan disinlah kau..." balas Liv dengan sarkastik dan memutar kedua bola matanya. Miyavi terkekeh mendengarnya dan melipat kedua tangannya di depan dada nya. "oh yeah benar… tidak ada yang tidak mungkin" katanya dengan seringai licik.

"kami ingin mengantar gadis ini ke MoonForest, dia kepala desanya sekarang, dan ia… terdampar ke daerah ku" jelas Smitha dan lelaki itu tersenyum, menunjukkan gigi-gigi taringnya yang bagaikan hiu.

"hey! My name is MYV! What's yours?" tanya lelaki itu, Ruki serta yang lainnya menghela nafasa lega entah karena alasan apa dan Liv tersenyum kecil. "Liv MoonForest" katanya dengan ramah, Miyavi berlutut di depannya dan mengamatinya, ia menyentuh rambut putihnya yang basah, tangannya serta wajahnya, lalu mata mereka saling bertatapan, Liv memandangnya dengan bingung, kenapa sang Leviathan mengamatinya seperti itu.

"such a rare beauty, your body as white as snow, as well as your eyes, theye're shining, as well as your soul, as pure as a newborn child. Tidak pernah aku melihat yang begini" kata Miyavi dengan pelan, ia tersenyum lembut dan mencium kening Liv tiba-tiba.

"you got my bless" katanya dan Ruki tersenyum kecil. "beruntung sekali kau dapat berkah dari dewa laut" kata Ruki sambil mengacak rambut Liv.

"e-eh? Maksudnya?" tanya Liv bingung. "Miyavi, adalaha Leviathan, dia yang menjaga dan merawat laut di dunia ini, dengan kata lain dia adalah dewa, dan kau mendapatkan berkah dari dirinya, itu akan membawa keberuntungan padamu" jelas Reita dengan senyum tulus di wajahnya, Liv menatapnya dengan mata besarnya yang berwarna putih lalu beralih kea rah Miyavi.

"te-terima kasih?" tanya nya dengan kikuk, Miyavi tertawa dan mengangguk.

"I feel something inside you, it's warm and big, takdir besar menunggu mu anakku, jadi dengan itu aku akan mengikuti mu dan melihat apa itu" kata Miyavi dan semua orang terperanjat mendengarnya.

"tu-tunggu MYV! What do you mean by that!? What's inside her!?" tanya Smitha yang maju ke depan. Miyavi tersenyum lebar dan tertawa kecil. "aku masih belum tahu, tapi… dunia benar-benar sudah kacau belakangan ini, dan tiba-tiba saja seorang MoonForest keluar dari sarangnya, itu sangat sesuatu sekali. Kalian juga tahu, pemimpin MoonForest dilarang keluar dari desanya, karena Yin dan Yang harus terus di awasi" tubuh Ruki menegang begitu mendengar itu, tidak ada yang menyadarinya.

"well, bukankah aku sudah beri tahu kepadamu kalau ia terlempar ke tempatku?" Tanya Smitha dengan tidak sabaran, Miyavi tertawa pelan lagi dan menggeleng. "setidaknya dia memang keluar my dear. Jadi, apa alasannya keluar dari desa?" tanya Miyavi. "I hate this guy, is he dumb atau memang dia suka mengulur percakapan?" tanya Liv dengan kesal, Ruki menahan tawa dan mengangguk "both" katanya pelan dan Liv mendengus kesal.

"I have a little brother, Syam, dan dia.. meracuniku dan membuang ku ke pulau itu" jelas Liv dengan enggan dan Miyavi mengangguk sambil mendeham pelan, lalu ia menatap Ruki dengan senyum penuh makna, membuat sang warlock bingung.

"hey, aku menemukan barang-barang kita" kata Aoi tiba-tiba yang datang membawa beberapa tas dan koper, Nyx menghela nafas lega.

"by the way, kita ada di pinggirian hutan Mist loh" kata Miyavi lagi dengan santai dan mereka semua terperanjat kaget.

"say what!?" teriak Uruha dengan lantang. "kita berada di pinggiran hutan Mist" Miyavi mengulang perkataannya, lalu Liv dan Uruha jatuh ke pasir dengan lebay dan lenguhan berlebihan juga. "great, we are death" kata Liv pelan, Kai melihatnya heran. "kau tahu tempat apa ini?" tanya Kai pelan dan Liv merengut.

"I know things okay? Ini tempat terindah dan tempat paling berbahaya, Cuma orang yang kuat yang bisa melewati ini, karena semua yang ada di sini hidup, serta berbahaya, bahkan batu bisa membunuhmu" omelnya sambil mengerutkan keningnya.

"dan untungnya pasir ini tidak terlalu berbahaya" sambung Miyavi dengan polosnya. Smitha berbalik dan menatap hutan rimba yang ada di depannya dan menatap sekitar.

"sebaiknya kita berkemah disini" ujar Ruki yang berdiri dan mengambil tasnya. "baiklah, Reita dan Miyavi tolong cari kayu bakar, kami akan menyiapkan tempatnya, Ruki dan Nyx tolong cari bahan makanan, hati-hati" perintah Aoi dan mereka mengangguk, lalu pergi menjalankan tugas masing-masing. Liv dan Smitha membersihkan tempat yang rata dan menyusun batu untuk api unggun nanti, Aoi berpatroli sekitar bersama Kai untuk melihat ada makhluk bahaya yang mengintai apa tidak, serta mengambil beberapa kayu besar untuk mereka duduk.

"baik, sudah semua. Harusnya Reita sudah sampai- ah itu dia" kata Smitha dengan lega begitu melihat Reita membawa setumpuk ranting di ikuti Miyavi di belakangnya, mereka mendekat dan menyusun ranting-ranting itu. "okay, last touch" kata Reita yang melemparkan bola api kecil ke tumpukkan ranting itu dan dengan cepat api unggun selesai di buat, Liv melihatnya dengan kagum dan berdecak. "tidak seburuk itu menjadi jinn api" kata Reita dengan mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kepada Liv, gadis itu mendeham pelan dan duduk di atas pasir sambil mendekatkan diri ke api unggun, angin di pantai tidak begitu bagus buat dia yang basah, ia kedinginan hingga kukunya menjadi ungu dan mukanya pucat.

"are you alright? kau gemetaran" kata Reita dengan khawatir, Liv menggosokkan kedua tangannya dan mengangguk dengan senyum canggung. "kau tidak tahan dingin?" tanya Reita lagi, dan Liv menggeleng. "n-no.." katanya dengan gigi gemertakkan, Reita menghela nafas dan menggeleng pelan. "bullshit, aku tahu kau tidak tahan dingin, desa mu itu tempat yang hangat dan di sirami matahari, dan malam begitu hangat sehingga kau tidak perlu selimut, come over here" perintah Reita dan menyuruh Liv duduk di sampingnya dengan menepuk tempat kosong di sebelahnya, Liv yang sudah tidak tahan lagi akhirnya mengangguk dan segera duduk di dekat Reita, dan ia merasa sedang duduk di sebelah api unggun yang sangat hangat, lalu tiba-tiba saja Reita melingkarkan tangannya di bahunya dan mendekatkan tubuh Liv ke tubuhnya.

"man, you are so cold.. are you sure you alright?" tanya Reita lagi dengan heran, Liv merapatkan tubuhnya dan mengangguk, ia sangat kedinginan hingga ia menggigil dan kehangatan Reita sangat nyaman membuatnya tidak mau menjauh. "y-yeah.. just a little bit cold" kata Liv pelan, lalu tak berapa lama Aoi dan Kai kembali dengan beberapa gelonggongan kayu dan menyusunnya.

"kau baik-baik saja Liv? tubuhmu gemetaran" kata Kai dengan alisnya yang berkerut.

"aku basah, angin yang begini kencang, dan juga aku tidak tahan dengan suhu ini, di tambah aku tidak biasa hidup di kutub utara" katanya dan ia langsung bersin dan Reita menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya dan menyulut api lebih besar dengan kekuatannya.

"apakah kita ada selimut atau kain kering? anak ini tidak berhenti bergetar" kata Reita yang mengusap-usap bahu Liv, Miyavi membongkar tas-tas mereka dan menggeleng. "semuanya basah, tapi kita keringkan dulu saja selimut milik Nyx" kata Miyavi sambil membangun jemuran sederhana, atau lebih tepatnya memasang bendera karena selimut itu di ikat ke sebuah kayu dan di tancapkan seperti bendera.

"aku rasa aku ada ramuan rempah, kau pasti masuk angin karena cuaca yang tiba-tiba ini" kata Smitha yang mengambil tasnya dan memeriksanya. "t-thankyou" kata Liv yang masih menggigil dan merapat ke Reita yang sekarang memeluknya. setelah itu Nyx dan Ruki kembali dengan beberapa buah-buahan dan potongan daging, dari belakang Reita, Nyx dapat melihat lelaki pirang itu memeluk Liv dengan protektif dan erat, membuat hatinya sesak dan perutnya rasanya terpilin, dan tanpa di sadari mata merahny makin menyalak. ruki yang di sebelahnya menyadari itu dan ia tersenyum licik secara diam-diam. "Nyx baby, are you,like, okay?" tanya Ruki dengan sengaja, Nyx tersentak dan mengangguk dengan kikuk. "yeah, i'm alright" katanya dan terus berjalan, Ruki mendengus kecil dan mengikuti Nyx, walaupun pandangannya tidak bisa lepas dari Liv yang memegang tangan Reita dengan erat, ia merasa agak sedikit kesal kalau boleh jujur.

"so, bitch..."

"don't you dare say a word, cause i'm fucking cold dan tidak ingin berurusan dengan sikap faggot mu" potong Liv tiba-tiba dan ia bersin sekali lagi lalu melototi Ruki dengan tajam.

"dia sakit, ia tidak terbiasa dengan suhu rendah, di tambah dengan bajunya yang basah keadaannya tidak sangat membantu" jelas Reita dan ia membuang salah satu ranting kayu lagi. Ruki mengerutkan keningnya dan bergumam pelan. "dan kau berpakaian minim seperti itu, bitch, are you,like, stupid?" omel Ruki dengan suara pelan dan ia mengeluarkan sebuah panci dan berencana membuat sup.

"Aku akan mencari beberapa tumbuhan di dalam sana, mungkin aku bisa menemukan penghilang masuk angin" kata Uruha yang beranjak dari tempat duduknya. "tu-tunggu" kata Liv yang melepaskan diri dari Reita dan merogoh salah satu kantungnya dan mengeluarkan beberapa rempah dan herbal. "aku sudah ada.. tolong di olah, bisa di jadikan soup atau teh" kata Liv yang kembali menyandar ke Reita.

"well, for a bitch, kau cukup like, mempunyai persiapan" kata Ruki yang mulai mengolah herbal yang di beri Liv, lalu Smitha datang dan memberi Liv sebuah botol berisi cairan hijau daun.

"minumlah" katanya dengan lembut dan menuangkan cairan itu ke mulut Liv yang terbuka dengan perlahan, setelah habis Liv mengerutkan hidungnya merasa cairan itu benar-benar terasa aneh. tetapi tubuhnya menghangat secara perlahan, dan rasa pusing dan mualnya mulai menghilang.

"Smitha, here.. i found some clear waters" kata Kai yang memberi Smitha sebaskom air bersih dengan kain basah, ia juga memberi Ruki beberapa botol air. "i-i'm sorry" kata Liv dengan pelan, wajahnya memerah karena tubuhnya mulai memanas. tetapi ia merasa masih kedinginan.

"sorry for what?" tanya Aoi yang sedang memasak daging bersama Miyavi. Liv terbatuk-batuk lalu melihat Reita dan Liv, dan menunduk. "i'm such a burden" katanya dengan lemah dan Reita mengeratkan pelukkannya sambil mengacak rambutnya.

"tidak apa-apa" kata Nyx yang tiba-tiba di sebelah Reita dan mengusap-usap kepala Liv dengan pelan tanpa ekspresi. "sudah lama kami tidak repot begini, jadi tidak apa-apa" katanya lagi dan Liv tersenyum padanya begitu pula dengan Reita.

"Benar, bukan masalah buat mengobati seorang yang sedang masuk angin, bahkan aku saja bisa melakukannya" kata Aoi dengan ringan dan memberi Liv satu tusuk sate penuh daging lalu tiba-tiba saja sate itu di sambar Ruki dan di makannya.

"stupid, dia tidak bisa memakan yang begini kalau sakit, bilang bisa mengobati lagi" kata Ruki yang memberi Liv semangkuk sup hangat yang berwarna agak coklat.

"aku menaruh beberapa kotoran dan serangga di dalamnya jadi kau harus like, berterima kasih kepadaku" kata Ruki dengan cueknya lagi dan menaruh teh di sebelah mangkuknya lalu kembali ke tempat duduknya sambil membuka jaket nya dan menjemurnya dengan cara seperti Miyavi. Liv tersenyum kecil, ia menurunkan tangan Reita dan duduk tegak di sebelahnya lalu mengambil sup itu dan memakannya secara perlahan, ia agak pusing, tetapi ia merasa sudah mendingan dan bisa makan sendiri. tetapi pada suapan kedua tiba-tiba saja sendoknya di ambil dan sebuah mantel bermodel ponco berwarna biru tua terpasang di tubuhnya dan seseorang menyuapkan makanannya. saat ia melihat pemilik tangan itu, ternyata itu tangan Ruki, dengan muka masam ia kembali mengaduk sup itu dan kembali menyuap Liv.

"Dasar bitch sialan, kalau kau tidak sanggup jangan diam saja, like, kau tidak punya mulut ya?" omelnya dengan kesal dan Liv mengerutkan keningnya. "aku- hmpf!" ia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Ruki langsung menyuapi nya lagi dan mendesah pelan lalu memutar matanya. "kau makan seperti nenek tua rentan, like, sangat lamban dan gemetaran" kata Ruki dan memberikan mengangkat cangkir tehnya dan mendekatkannya ke mulut Liv agar ia dapat meminumnya, Liv merengut, tetapi ia menyelimuti dirinya dengan mantel yang di berikan Ruki dengan lebih erat dan terus menerima sendok demi sendok sup hangat yang terasa hangat di tubuh dan hatinya, karena ia merasa nostalgia, teringat akan seseorang yang pernah mengurusnya saat ia sakit dulu. teman-temannya yang lain cuma diam dan memakan makan malam mereka dengan senyum tersendiri, mereka tahu Ruki pasti memiliki rasa tertarik kepada Liv, tetapi ia tidak menunjukkannya, di depan Liv bahkan, memang ia baik pada semua orang dengan caranya tersendiri, tapi tidak dengan pandangannya, mata emas itu berbicara dengan jelas, bagi Kai dan Smitha, mereka melihat kasih sayang, bagi Reita dan Nyx, mereka melihat rasa ingin melindungi, bagi Aoi dan Uruha mereka melihat bahagia, tetapi bagi Miyavi, ia melihat rasa bersalah,sedih,takut dan khawatir di mata emas yang indah itu.

-TBC-