"Ayah, aku ingin mengundurkan diri dari wawancara itu." Kata Jackson kepada Ayahnya -Paman yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
"Dengan alasan apa, Jackson?" tanya Tuan Yoo tenang.
"Aku rasa, aku tidak pantas untuk artikel itu, Ayah." Kata Jackson lirih dan menunduk tak berani menatap wajah Pamannya.
Tuan Yoo tersenyum teduh,"Aku sebenarnya melakukan ini semua demi orang tuamu, Jackson."
Jackson mulai mengangkat kepalanya menatap pria paruh baya itu.
"M-Maksud Ayah?"
"Aku ingin menenangkan hati orang tuamu, aku ingin mereka bangga padamu karena sekarang kau sudah menjadi orang hebat. Meskipun orang-orang tahu tentang kehebatanmu, tapi akan lebih baik jika orang tuamu mellihatnya secara langsung melalui bukti fisik dengan ulasan tentangmu di artikel itu." Kata Tuan Yoo panjang lebar dengan tatapan intens ke mata Jackson.
Jackson membuang napas pelan.
Ia baru menyadari bahwa tindakan bodohnya telah mengecewakan orang yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri.
Jackson memahami makna implisit dari perkataan Pamannya, bahwa dia ingin menunjukkan pada orang tua kandung Jackson bahwa dia berhasil mendidik dan merawat Jackson dengan benar.
"T-Tapi Ayah, aku sudah terlanjur membatalkannya dengan Bambam."
Jackson menunjukkan raut wajah penyesalan. Namun Tuan Yoo tetap tersenyum teduh. Lalu –
"Bambam tak punya waktu untuk mencari penggantimu, kau harus mendatanginya sekarang juga dan mengadakan wawancara dengannya."
"Apa Bambam tak akan menolak?"
"Posisinya tidak memungkinkan dia untuk menolakmu, kau tahu benar itu, Jackson."
Akhirnya Tuan Yoo tersenyum lebar, diiringi dengan tepukan menguatkan di pundak Jackson.
Maka setelah mengobrol selama beberapa saat, Jackson berpamitan untuk pulang. Asal tahu saja, Jackson tinggal di apartemennya sendiri. Dia sesekali berkunjung ke rumah Tuan Yoo hanya untuk mengobati kerinduannya akan sepasang suami-istri yang telah membesarkannya dengan penuh cinta itu.
Jackson melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, dia terus memikirkan cara untuk kembali melanjutkan wawancara dengan Bambam tanpa menjatuhkan harga dirinya lagi.
Berpikir lama tak kunjung membuatnya mendapatkan ide brilian, ia akhirnya membelokkan mobilnya ke sebuah Bar langganannya.
Bar itu memiliki suasana yang tenang karena tidak terlalu ramai, karena itulah Jackson sering berkunjung kesana hanya untuk sekedar minum tanpa harus mabuk.
Saat Jackson mengayunkan langkahnya ke meja bartender, ia melihat sesosok pria yang sedang mabuk berat dan hampir tertidur disana, dan saat pria mabuk itu menolehkan wajahnya mencari posisi paling nyaman untuk tidur di meja bartender, mata Jackson membulat penuh. Orang itu ternyata-
"Bambam?"
Sejak kapan Bambam mulai berkunjung ke Bar itu? Seingatnya dia tak pernah melihat Bambam disana. Oh, atau mungkin hanya kebetulan mereka memilih waktu yang berbeda untuk mengunjungi Bar? Pikirnya ringkas.
Jackson merasa gemas pada Bambam yang tak kunjung mendapatkan posisi nyaman untuk tidur, akhirnya dia memutuskan untuk memapah Bambam keluar dari Bar dan berniat mengantarnya pulang.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia membawa Bambam ke apartemennya karena 'serangan' dari Bambam yang bertubi-tubi selama perjalanan membuatnya horny dan tidak tahan untuk tidak meniduri Bambam. Permainan Bambam benar-benar gila menurutnya, mungkin karena Bambam memiliki banyak pengalaman dan itu benar-benar membuat Jackson merasakan seks paling nikmat. Dia bersumpah bahwa seks dari Bambam benar-benar seks terbaik yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Dan itu jujur saja membuat Jackson ketagihan. Maka dari itu, Jackson menggagahi Bambam sampai jam empat pagi. Dan ia tidur telanjang di samping Bambam dengan membelakangi pria cantik itu setelahnya.
Jam sembilan pagi Bambam membuka matanya, kemudian dia bangun dan menyandarkan kepalanya di kepala ranjang, dia tersenyum lebar dan berkata lirih-
"Mimpi tadi malam benar-benar gila. ugh! bagaimana bisa aku merasakan seks sedahsyat itu hanya dalam mimpi. Ck." Wajah Bambam bersemu merah saat mengatakan hal itu.
.
OH. Ternyata Bambam belum menyadari apa yang sedang terjadi.
Ranjang yang asing. Tubuhnya yang telanjang. Dan pria tampan yang tergulung selimut di sampingnya.
Bambam benar-benar belum menyadarinya sampai suara panggilan video berhasil mengembalikannya ke dunia nyata.
Itu panggilan dari ibunya.
Bambam mendecak. Pasti ibunya akan mengomelinya lagi.
Bambam menghela napas, kemudian menjawab panggilan video dari ibunya.
"Selamat pagi, Mamaku tersayang~" sapa Bambam secerah sinar matahari di pagi hari.
"Bambam, kau ingat kan kalau hari ini hari Minggu? Kau tak lupa kan dengan tugasmu di hari Minggu? Lalu kenapa kau baru bangun?"
"Aku kesiangan, Ma."
"T-Tunggu, kau tidur telanjang?" selidik Ibu Bambam
Bambam mengikuti arah pandang ibunya. Ups, kenapa Bambam tidur telanjang? Seingatnya dia tidak membuka bajunya tadi malam. Tapi kemudian matanya membulat penuh saat ia menemukan pakaiannya berserakan di lantai yang sama sekali asing. Itu bukan lantai kamarnya, dan kemudian dia melihat sekeliling ruangan, dan ternyata itu bukan kamarnya. Bambam terkejut bukan main. Dia tak menghiraukan ibunya yang memanggil-manggilnya dari tadi.
Namun, suara ibu Bambam yang terdengar begitu keras itu akhirnya berhasil mengusik tidur seseorang yang tergulung selimut dari tadi, yang akhirnya membuatnya bangkit tanpa membuka matanya. Dan ternyata objek itu tertangkap oleh ibu Bambam.
"KYAAA!"
"KYAAAAA!"
Pekikan ibu Bambam berhasil membuat Bambam mengarahkan pandangan ke sampingnya, dan dia hampir terkena serangan jantung saat mendapati pria kekar berambut pirang itu bertelanjang bulat -dengan selimut yang menutupi pinggangnya- di sampingnya dan menunjukkan raut wajah sangat cerah meskipun belum membuka matanya secara penuh.
Karena suara yang memekakkan telinga itu, akhirnya mau tak mau Jackson membuka matanya. Dan hal itu sontak membuat Bambam mematikan sambungan dengan ibunya.
Bambam sudah memakai pakaiannya dengan lengkap untuk segera pergi dari apartemen itu. Meskipun Bambam malu setengah mati karena telah tidur dengan orang yang saat ini sangat tidak disukainya -apalagi orang itu terlihat sangat puas dengan peristiwa semalam- ,tetapi Bambam tetap bersikap tenang seperti biasanya. Ia tak boleh terlihat seperti orang yang telah kecolongan karena itu akan membuatnya lebih malu lagi.
Maka sebelum beranjak dari situ, ia mengatakan pada Jackson yang masih duduk di ranjang tanpa berniat memakai pakaiannya itu, bahwa—
"Jackson-ssi, anggap saja kita tak pernah melakukan apapun tadi malam, jadi jangan pernah mengungkitnya. Lagipula, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan pria-pria yang telah meniduriku. Kau sangat payah." Kata Bambam dengan seringai tipis di wajahnya, meskipun ia mati-matian menyembunyikan rona merah di wajahnya. Bagaimana pun melihat Jackson dalam keadaan telanjang seperti itu membuatnya ingin disetubuhi oleh pria tampan itu lagi. Tapi tentu saja ia mengurungkan niatnya, Bambam tak akan menjatuhkan harga dirinya untuk meminta seks lagi kepada pria yang sudah dibuangnya.
Sedangkan Jackson yang mendengar kalimat yang terdengar penuh penghinaan terhadap dirinya itu hanya tersenyum bodoh. Dia tidak sakit hati sama sekali, karena yang tadi malam dia dengar dari desahan Bambam sungguh bertolak belakang dari apa yang baru saja pria cantik itu ucapkan.
Jackson tahu benar bahwa perkataan orang mabuk adalah ucapan yang paling jujur. Maka dari itu Jackson sama sekali tak berniat membalas perkataan Bambam.
Dan Jackson yang tersenyum bodoh dari tadi itu benar-benar membuat Bambam semakin kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari situ tanpa berkata apa-apa lagi.
Mulai saat itu Bambam pastikan dia tidak akan merasa nyaman saat bertemu dengan Jackson.
Dia sungguh malu.
Bambam selesai mandi dan dia hanya memakai bathrobe.
Dia berjalan menuju meja makan yang telah ada segelas susu rendah lemak dan roti baguette yang sudah diolesi mentega dan dipanggangnya sebelum dia pergi mandi.
Saat ia tengah asyik makan sendirian, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Dari Jaebum.
"Halo, Hyung?"
"Bambam-a, kenapa dari kemarin ponselmu sangat sulit dihubungi? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Tidak, Hyung. Aku baik-baik saja. Aku baru bangun tidur."
"Oh, begitu. Err, apakah hari ini kau ada waktu?"
"Aku ada waktu kok, Hyung."
"Kalau begitu bersiap-siaplah, aku sudah ada di depan apartemen sekarang."
"Apa?"
Tok Tok!
Suara pintu diketuk dan Bambam tahu bahwa Jaebum tak bohong. Maka—
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu, Hyung."
"Baiklah."
.
Bambam akhirnya selesai dengan ritual mematut dirinya lima belas menit kemudian. Lalu dia keluar dari apartemen dan mendapati Jaebum tersenyum lebar dan membuatnya mau tak mau ikut tersenyum. Bambam mulai menyadari bahwa akhirnya ia bisa membuka hatinya lagi setelah delapan tahun tertutup rapat.
Rupanya Jaebum akan mengajaknya berkencan hari ini. Menonton film. Ugh, Bambam benar-benar merasa canggung.
Namun belum juga mobil dijalankan menuju ke gedung bioskop, sebuah panggilan masuk ke ponsel Bambam lagi. dan mau tak mau Bambam mengangkatnya karena itu dari nomor tak dikenal, siapa tahu itu klien penting, pikirnya.
"Halo, Bambam-ssi."
"Siapa ya?"
"Aku Jackson."
What the—
"Ada perlu apa, Kwajangnim?" desis Bambam.
"Bisakah kita melakukan wawancara sekarang? Kau tahu? aku hanya memiliki waktu hari ini, seminggu ke depan aku akan sangat sibuk jadi aku sama sekali tak ada wakt-"
"Dengar ya Kwajangnim, ini hari Minggu dan aku ada urusan untuk hari ini, jadi—"
"Baiklah kalau begitu, kau bisa mencari orang lain saja. Aku sudah mengatakannya pada ayahku jadi aku sudah berusaha menepati janji pada ay-"
"Baiklah, baiklah, dua jam lagi, aku akan menghubungi fotografer dan kru yang lain. Dimana kita bisa bertemu?"
"Di Apartemenku."
"Tak bisakah di tempat lain?" tawar Bambam.
"Tidak bisa, hari Minggu seperti ini pasti sangat ramai di tempat umum, jadi di apartemenku saja."
"Baiklah." Bambam mendengus kasar. Jackson benar-benar menyebalkan.
.
Bambam menggenggam ponselnya ragu, memikirkan cara membatalkan kencan pertamanya dengan Jaebum.
Jaebum yang menyadari gerak-gerik Bambam yang aneh akhirnya membuka percakapan sambil menjalankan mobilnya—
"Ada apa, Bam?"
"Um.. M-Maaf Hyung, tiba-tiba aku ada pekerjaan mendadak." Bambam menjawab sambil menundukkan kepalanya. Ia tak berani melihat Jaebum secara langsung.
Tapi tiba-tiba Jaebum mengusap kepalanya dengan lembut sambil tersenyum manis.
"Tak apa. Kita bisa menundanya. Tapi kau ada pekerjaan apa?"
"Aku mendapat tugas untuk mewawancarai seseorang."
"Bukankah tidak seharusnya kau melakukannya, kau kan—"
"Direktur utama yang memintaku secara langsung. Aku tak bisa menolaknya."
Jaebum mengangguk paham, lalu kembali mengusap rambut Bambam dengan sayang tanpa kehilangan fokus ke jalanan.
.
"Ah! aku melupakan sesuatu!" Seru Bambam tiba-tiba.
Jaebum hanya tersenyum kecil, dan Bambam langsung mengggeser navigasi ponselnya untuk mencari kontak seseorang. Dan akhirnya ketemu kemudian dia menekan tombol panggil untuk kontak itu—
"Halo, Bambam?"
"Halo Brian Hyung, kau ada dimana?"
"Aku baru akan keluar rumah untuk berkencan dengan-"
"Siapkan kamera dan semua alatnya kemudian pergilah ke apartemen East Seoul sekarang juga, Hyung."
"YA! Bambam! Ini hari Minggu! Ini waktuku untuk menikmati hari libur ber-"
"Kita sebagai orang redaksi harus selalu siap untuk mengumpati pekerjaan setiap mendekati waktu pencetakan, kan?" Bambam tersenyum pahit meskipun Brian tak bisa melihatnya.
Brian di seberang telepon mendengus kesal. Sebagai seorang fotografer majalah yang cukup diminati di Korea, ia harus selalu siap dan sigap jika kapan saja ada pekerjaan mendadak, ya seperti sekarang ini.
"Baiklah, aku akan bersiap. "
"Bagus. Ajak Jae dan juga yang lainnya."
"Mengapa harus?"
"Aku akan membutuhkannya, lagipula kau tak akan bisa bekerja seorang diri kan, Hyung."
"Aish. Kalau kau bukan pemimpin redaksi, aku sudah membuangmu di jalan tol, Bam!"
"Terserah katamu. Kalau kau sudah sampai, tunggu aku di lobi. Bye!"
.
"Kita mau kemana, Bam?"
"Ke apartemen East Seoul, Hyung."
"Baiklah."
Sesampainya mereka di lobi apartemen Jackson, Bambam langsung memberikan komando kepada semua kru-nya untuk berjalan menuju apartemen Jackson. Tak ada yang curiga mengapa Bambam bisa tahu nomor apartemen Jackson, kecuali satu orang.
"Kau sudah tahu nomor apartemen Pak Manager, Bam?" tanya seseorang bernama Jae penuh kecurigaan.
Bambam berpikir sejenak sebelum menjawab, lalu -–
"Tadi dia mengatakan di telepon, jadi kita tak usah repot-repot bertanya pada resepsionis." Dia menjawab dengan -pura-pura- tak acuh.
Tentu saja Bambam tahu, tadi malam di apartemen itu kan terjadi pergulatan yang sangat panas antara dirinya dan Jackson. Dan benar, seks yang dahsyat itu ternyata bukanlah sekedar mimpi.
TING TONG!
Pintu terbuka dan memperlihatkan tubuh Jackson yang terbungkus busana yang bertema smart-casual yang memancarkan aura seksi dan cerdas pada diri Jackson. Dan selama beberapa detik, Bambam terpana akan penampilan Jackson yang terlihat santai tetapi 'panas' itu. Lalu dia kembali ke kesadarannya, kemudian berpikir bahwa ini mungkin hanya efek dari kejadian semalam.
Itulah alasan mengapa Bambam tak ingin menemui pria-pria yang telah menidurinya, karena ia takut akan merasa canggung jika bertemu lagi.
Tapi sial baginya, karena sekarang ia malah bertemu dengan pria yang menidurinya semalam dan faktanya pria itu sekantor dengannya yang bahkan saat ini akan diwawancarainya. Sungguh sial!
"Selamat siang, Kwajangnim." Sapa Bambam agak canggung bersama seluruh kru-nya.
"Selamat siang, mari masuk." Sapa Jackson ramah, kemudian mempersilakan mereka semua untuk masuk.
Akhirnya mereka semua masuk ke dalam apartemen Jackson. Fotografer Brian dan kru-nya sedang mempersiapkan alat-alatnya. Fashion stylist sedang membenahi penampilan dan memberi sedikit riasan pada wajah Jackson agar tampak lebih segar di kamera. Sedangkan Jae -yang sebenarnya adalah sekretaris redaksi- hanya duduk di di kursi dekat Brian -pacarnya- sambil mengamati kesibukan orang-orang di ruangan itu. Dan secara tak sengaja, matanya menemukan Jaebum, lalu tanpa berpikir panjang, dia berjalan mendekati Jaebum dan mengajaknya untuk berbincang.
"Halo, apakah kau yang datang bersama Bambam?"
"Ya." Jawab Jaebum sambil tersenyum hangat.
"Um, apa kau pacar barunya?"
"Mm.." Jaebum bingung harus menjawab apa. Lalu—
"Ah, tidak usah terlalu memikirkan pertanyaanku. Hanya saja, selama lima tahun aku bekerja dengannya, aku tak pernah melihatnya mengajak seorang pria. Kau pria pertama yang aku lihat bersamanya di—" Jae menghentikan ucapannya, dia hampir saja kelepasan.
"Apa?" tanya Jaebum penasaran.
"Ah tidak, tidak. Lupakan saja. Kau pasti pria yang istimewa, mungkin Bambam menyukaimu." Bisik Jae agak lirih di dekat telinga Jaebum, dan hal itu sontak membuat Jaebum tersenyum cerah.
Bambam yang melihat Jae sedang mengobrol dengan Jaebum pun hanya mengulas senyum tipis, Jae memang benar-benar bisa diandalkan untuk situasi seperti ini.
.
Akhirnya proses wawancara dan pemotretan sudah selesai setelah hampir lima jam Jackson berkutat dengan kilat lampu kamera dan pertanyaan-pertanyaan cerdas yang dilontarkan oleh Bambam.
Jackson dan Bambam sama-sama menghembuskan napas lega.
Bambam merasa lega karena akhirnya tidak akan lagi melakukan interaksi secara intens dengan Jackson, dan Jackson lega karena akhirnya ia bisa menyenangkan hati orang tua angkatnya dan juga orang tua kandungnya.
.
Bambam tersenyum manis sekali ke arah Jaebum. Dan entah mengapa senyum Bambam yang dilihat Jackson sekarang sangat berbeda dengan senyumnya yang sebelumnya. Mungkinkah bentuk senyuman Bambam sudah berubah menjadi lebih manis? Atau karena mulai saat ini Jackson menganggap Bambam sebagai seseorang yang istimewa? Entahlah.
Jackson menggeleng-gelengkan kepalanya guna mengusir pikiran anehnya itu.
Para kru sudah selesai berkemas-kemas dan bersiap untuk pulang, tapi sebelum mereka berpamitan untuk pulang, Jackson terlebih dahulu menawari mereka untuk makan bersama di apartemennya. Dan tentu saja tak ada yang menolak ajakan itu kecuali Bambam.
"Aku mau pergi dulu, kalian boleh tetap disini jika kalian mau." Kata Bambam singkat kemudian beranjak pergi sambil menggandeng tangan Jaebum.
Jackson yang melihat kontak fisik antara Jaebum dan Bambam itu hanya dapat memicingkan matanya. Ia merasa ada sedikit rasa aneh yang tak enak di dadanya saat melihat hal tersebut.
Maka saat Bambam dan juga Jaebum keluar dari apartemennya, Jackson mengikutinya dengan dalih ingin membeli minuman di minimarket yang terletak di dekat lobi apartemen, setelah sebelumnya ia memperbolehkan seluruh kru Bambam untuk menikmati jamuannya.
Dan ternyata, Jackson mengikuti mereka sampai di basement parkir gedung apartemennya. Dia mengawasi gerak gerik Bambam dan Jaebum di dalam mobil dari tempat tersembunyi di dekat mobil mereka.
Dan tiba-tiba dia mengepalkan kedua tangannya saat melihat Jaebum dengan lancangnya mencium Bambam di depan matanya.
Jackson merasa tidak terima.
Bambam menyandarkan kepalanya. Dia terlihat sangat kelelahan. Dan Jaebum yang melihat Bambam yang tampak kelelahan akhirnya berinisiatif untuk mengembalikan semangat Bambam. Dia menggenggam tangan Bambam, kemudian mengusap pipi Bambam dengan lembut, setelah dia melihat tak ada penolakan dari Bambam, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengecup lembut bibir Bambam.
Bambam yang merasakan betapa lembutnya kecupan Jaebum akhirnya memutuskan untuk menutup matanya, menikmati setiap inchi bibir Jaebum di bibirnya.
Jaebum menjilat permukaan bibir manis Bambam dengan lidahnya, kemudian melumat pelan, dan akhirnya melepaskannya.
Dia tak ingin bertindak lebih jauh, dia takut jika dia jatuh terlalu dalam dan akhirnya dihempaskan begitu saja oleh Bambam seperti yang diceritakan Junior kepadanya tadi malam.
Dia hanya ingin memiliki Bambam seutuhnya tanpa mempedulikan masa lalu Bambam. Yang dia inginkan hanyalah kejujuran Bambam, dan ketika Bambam mengatakan segalanya, dia akan menerima Bambam sepenuh hati.
Ya, Jaebum sudah tahu seperti apa Bambam yang sebenarnya. Dia tahu saat kemarin malam Bambam tak bisa dihubungi, lalu di tengah kebingungannya mencari Bambam akhirnya ia berinisiatif mencari tahu melalui Junior. Dan Junior mengatakan segalanya tentang Bambam. Dia mengatakan betapa mudahnya Bambam tidur dengan pria yang berbeda setiap malam, betapa arogannya Bambam tak mau berhubungan lagi dengan pria-pria yang telah tidur dengannya, betapa sombongnya Bambam yang sama sekali tak mau menerima hadiah dari para pria mesum itu. Dan Junior juga mengatakan dengan sangat yakin bahwa malam itu Bambam pasti sedang tidur dengan seorang pria, jadi wajar saja jika ponselnya dimatikan.
Dan setelah mendengar penuturan Junior itu, Jaebum merasakan sakit di ulu hatinya, ia sangat kecewa, tentu saja. Tetapi akhirnya ia memutuskan untuk tak menyerah mengejar Bambam, ia bertekad untuk menerima Bambam apa adanya dan mengubah sikap Bambam menjadi layaknya 'anak yang baik'. karena Jaebum tahu, ia sudah jatuh cinta pada Bambam, hanya saja dia tak akan pernah mau jika hanya dijadikan teman tidur oleh Bambam, dia ingin menjadi teman hidup Bambam.
Ya. Teman hidup.
To be Continued
Hai-Hai libur panjang membawa berkah nih, akhirnya aku bisa update cepet loh.
Oke, aku balas review-nya satu-satu yah.
Aiko Vallery : Yup, ini udah lanjut ya sis ^^
Iceu Doger : Iya kak, ff JackBam masih langka di ffn makanya aku bikin aja dan karakter Bambam disini OOC banget, aku bikin songong terinspirasi sama muka songong plus seksinya bambam di if you do heuheu and yes you are right! Cerita gue pasaran banget pasti yak haha
Lovewang : iyap, rated M, Semoga suka ya ^^
Peluke : Yugyeom Cuma cameo kok kak hihi
Minomine : aku masih belajar nulis kok, terima kasih atas apresiasinya ^^
Kee89 : Terima kasih. Tetep JackBam dong kakak ^^
Guest : belum dapat inspirasi buat Bbam nih qaqa L
HannyZhie68 : Junior itu orang yang naksir berat sama Jaebum dan pernah digebet sama Jackson kak tapi nolak Jack mentah mentah *Poor Jackson*
.
MIND TO REVIEW?
Terima kasih untuk yang udah review, fav, follow, and follow.
Sincerely,
.
Salvia Im
