Author: x3811421511

Tittle: Even SKY Perforce To Bow Down

.

Plagiarism prohibited! Happy reading!

.

Chanyeol berlari ibarat di kejar setan. Dia bersumpah dalam hidupnya tidak ingin berurusan dengan bangsawan sinting bernama Baekhyun Romanov, apapun bentuknya. Awalnya dia berpikir bahwasannya seorang Baekhyun adalah pria normal yang kekanak-kanakan. Namun ternyata, Chanyeol tak mampu berkata apa yang barusan terjadi hari ini.

Ia langsung mengarahkan ke lantai bawah, ruangan para pembantu, dan mendudukkan diri di salah satu kursi kayu disana. Ada beberapa maid dan butler yang sedang membereskan alat bebersih, salah satunya Jongin-Sehun yang menatapnya panik saat mendapati kakak kesayangannya datang dengan cucuran keringat serta napas yang tergesah-gesah.

"H-Hyung, kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?" Sehun langsung berlutut di depan Chanyeol yang menduduki dirinya sendiri di kursi, sambil memegang tangan nya yang kelewat hangat.

"Hyung, kalau kau sakit, aku akan kabarkan ke Tuan Luhan untuk memberimu izin." Ujar Jongin yang tak luput dari rasa cemas setengah mati.

Chanyeol menggeleng pelan, meyakinkan kedua adiknya bahwa tak terjadi apa-apa. Dia hanya lelah bermain lari-larian bersama Baekhyun. Sempat keduanya tak percaya, tapi Chanyeol memainkan ekspresi wajahnya seolah-olah jujur dan serius. Yang pada akhirnya, Jongin-Sehun hanya mengangguk paham pasrah.

"Anu, maaf, bolehkah aku istirahat sebentar? Aku perlu menenangkan pikiranku." Tutur Chanyeol kepada asisten kepala pelayan, Junmyeon, yang sedang mencuci peralatan makan.

"Kau seenak jidat berkata ingin istirahat, tadi saat acara makan siang anak bangsawan kau menghilang." Junmyeon membalikkan kepalanya sekilas, lalu ia kembali berkutat pada mencucinya.

Sehun inisiatif mengarahkan kakinya ke arah asisten Yixing itu, "Junmyeon-hyung, kumohon. Biarkan Chanyeol-hyung beristirahat sebentar, ya? Aku akan mengerjakan pekerjaan punya nya." Pintanya dengan aegyo maut, Junmyeon hanya menghela napasnya mengalah.

"Baiklah. Aku memberimu istirahat, nanti akan ku kabarkan pada Yixing." Ucapnya final lalu dibalas oleh pelukan kemenangan dari seorang Sehun.

.

Even SKY Perforce To Bow Down

.

Matahari agak begitu terik, setidaknya pepohonan yang menjulang tinggi mampu menutupi sengatan Raja Siang itu. Beberapa orang bekerja di perkebunan buah-buahan seluas tujuh hektar disana, siap untuk memanen berbagai macam buah untuk siap di pasarkan, sebagian untuk di konsumsi para bangsawan Romanov. Tidak sedikit para pekerja yang merawat serta mengangkut, namun hanya saja ada seorang butler yang mau panas-panasan demi tidak ingin bekerja di dalam manor. Bukan tidak ingin, hanya menghindar.

"Sehun, kau yakin ingin membantu mengangkut nanas-nanas ini?" Tanya Kakek Paul sembari mengelap peluh di dahinya.

"Ya, tentu, Kek. Aku akan membantu Kakek." Jawab Sehun mantap sambil menggulung kedua lengan kemejanya, siap untuk mengangkut drum berisikan nanas yang akan penuh.

"T-tapi, bukankah kau harusnya bekerja di dalam manor? Bukannya disana kau lebih nyaman karena teduh dan sejuk?"

"Memang, tetapi di dalam sana mengerikan. Aku lebih suka bekerja disini."

Sehun mulai mengangkat drum tersebut, diangkatnya menuju mobil bak yang sudah menanti di ujung jalan, siap untuk di pasarkan. Walau sangat berat, Sehun lebih memilih bekerja seperti ini daripada membersihkan seisi manor yang didalamnya ada manusia-manusia mengerikan bermarga Romanov. Dia sudah bertekad di dalam dirinya untuk tak berurusan dan sebisa mungkin menghindar.

"Sehun! Kau disini rupanya." Seorang maid menghampirinya dengan napas terengah-engah. "Kami mencarimu kemana-mana!"

Sehun mengernyitkan dahinya, "ada apa memangnya?"

"Tuan Luhan ingin pergi ke benteng untuk melakukan observasi, dia ingin kau menemaninya."

Sehun mengarahkan atensinya ke samping, ia berpikir sejenak. Ia sudah berusaha untuk menghindar, pun menjauh juga. Tapi mengapa ada saja yang masih mau mencarinya walau ada banyak pembantu yang siap menemani si bangsawan sulung?

"K-kenapa harus aku? Bagaimana dengan yang lain?"

"Entah, Tuan Luhan ingin pergi denganmu. Ayo cepat, basuh wajah dan rapikan rambutmu. Aku akan menyiapkan jas baru untukmu. Ku yakin jas mu itu sudah berkeringat dan bau." Maid tersebut menarik lengannya, meninggalkan area kebun sambil menghela napas.

Perjalanan nya agak sedikit jauh, mengingat seberapa luasnya kediaman manor dengan kebun yang letaknya sendiri pun bahkan sama luasnya.

Sehun berdoa dalam dirinya, semoga ia tak diberikan segala jenis perlakuan aneh. Semua yang dikatakan Chanyeol tadi, ia tak sedikit pun percaya. Sehun tahu bahwa kakak angkatnya itu berbohong mengenai bermain lari-larian. Biarkan aku menenangkan pikiranku dulu. Pasti telah terjadi sesuatu antara Chanyeol dengan Baekhyun.

Sehun berjalan mengarah ke kamar mandi, membasuh wajah serta merapikan rambutnya yang berantakan. Kemeja putihnya ia luruskan kembali, mengencangkan kancing atas serta dasi dengan benar. Ia menghela napas, memandang dirinya sendiri dari pantulan kaca.

Betapa menyedihkannya dirinya. Sebab peperangan demi memperluas daerah kekuasaan, membuat Sehun mendekam di balik jeruji besi yang bertajuk manor luas.

Ketukan pintu kamar mandi pembantu menginterupsi atensinya, Sehun membesarkan suaranya bahwa ia akan keluar.

Maid tadi memberikannya jas baru, tersemat nama Sehun Rosewell di dada bagian kanan. Wanita itu juga membantu Sehun memakaikan jas layaknya seorang istri memakaikan untuk suaminya yang hendak pergi ke kantor.

"Terima kasih, Angelina. Jadi, dimana Tuan Luhan?" Sehun mengancing jasnya.

"Di ruang kantornya. Lantai empat, pintu nya berornamen cina. Cepat kesana."

Sehun mengangguk, ia berlari kecil ke lantai empat lalu berhenti pada pintu dengan ornamen cina. Jarinya mengetuk pelan, suara mempersilahkannya masuk terdengar di gendang telinga.

Sehun memutar knop pintu pelan, menyembulkan batang hidungnya hati-hati. Luhan disana tengah terduduk manis di depan sebuah jendela besar bersama dengan meja kantornya. Pria Rosewell itu langsung disambut dengan senyuman cantik dari si bangsawan.

"Kau lama, Sehun." Luhan menautkan kedua tangannya, menumpukan dagunya di atas punggung tangannya.

"Maaf, Tuan." Sehun menutup pintu, lalu berjalan tegap dan berdiri di meja kantor Luhan.

Luhan menyesapi teh nya diatas cangkir antik, jarinya dengan anggun menggenggam gagang cangkir tersebut. Sebelah tangannya membenarkan tumpukan kertas supaya lebih teratur. Sedangkan Sehun masih berdiri mematung di depan Luhan.

Luhan Romanov.

Dia adalah anak pertama yang sangat cerdas di bidang politik dan peperangan. Keahliannya dalam berstrategi membuat semua orang tunduk dan mematuhi perintahnya. Mata cantik bak rusa tersebut pun sangat tajam, Luhan sendiri adalah seorang sniper yang bahkan bisa menembak dari kejauhan lima ratus meter bahkan lebih.

Luhan bukanlah tipikal orang yang memiliki sifat menonjol sesuatu. Seperti Baekhyun dengan kekanak-kanakan, atau Kyungsoo yang pendiam. Luhan cenderung berkepribadian normal pada umumnya, namun sadis. Ia tak segan melayangkan tangan nya pada siapapun. Yang menentang perintahnya, dan memiliki hirarki lebih tinggi darinya.

Kepribadiannya sangat lembut, namun juga sangat binasa di dalamnya.

"Sehun, kamu tahu kita akan kemana?" Tanya Luhan dengan suara lembut.

Sehun menggeleng.

"Jawab."

"T-tidak, Tuan." Jawab Sehun gugup.

Luhan mengernyitkan keningnya, "kupikir semua orang untuk mencarimu, memberitahumu bahwa kita akan pergi ke suatu tempat. Siapa yang menemukanmu?"

"A-angelina."

"Akan aku hajar Angelina karena tidak memberitahumu."

Kedua kelopak mata Sehun melebar, kedua kakinya di arahkan mendekati Luhan. Ia bersimpuh lutut di hadapan tuan nya itu, bahu nya bergetar, "S-saya mohon, Tuan. Jangan sakiti dia."

"Dia melalaikan tugasnya. Kau tak punya hak untuk memerintahkanku." Luhan bangkit dari kursinya, Sehun sigap memeluk kedua kaki mungil itu.

"Saya mohon jangan, Tuan! Saya mohon dengan sangat... Saya mohon.. Angelina sudah memberitahuku..." Ucap Sehun lirih.

"Oh ya? Kenapa kau tidak tahu?" Luhan kembali duduk, menatap pembantunya dengan lembut.

"S-saya baru ingat. T-tuan Luhan akan pergi ke benteng untuk observasi."

Luhan tersenyum manis, tangan nya ia usap surai kelam Sehun. "Nah, itu kamu tahu. Yuk kita pergi."

Lelaki cantik itu mengarahkan kedua kakinya, berjalan keluar diikuti Sehun di belakang. Semua pembantu yang lewat menyambutnya dengan hormat. Jongin kebetulan lewat disana seraya menenteng dus berisi sayuran, menundukan kepalanya sopan. Kedua matanya bertemu dengan Sehun, Jongin menggumamkan kalimat tanpa bersuara dan mengatakan, aku akan mendoakanmu.

Mobil sudah di persiapkan di depan pintu utama, Chanyeol berdiam diri disana dan membukakan pintu untuk majikan nya.

Chanyeol bertemu tatap dengan Sehun. Kakak angkatnya menatap sendu, kemudian Sehun memberi gestur ekspresi bahwa dirinya akan baik-baik saja.

.

Even SKY Perforce To Bow Down

.

Sesampainya di benteng, semua panglima disana menyambutnya dengan tegas. Mereka semua tunduk hormat pada Luhan yang notabene nya adalah seorang panglima tertinggi. Sehun yang berjalan di belakang Luhan menjadi kikuk, walau majikan nya yang diberi hormat, tetap saja Sehun juga merasa di hormati secara sakral seperti itu.

"Ah, Mister Lu. Akhirnya anda datang."

Seseorang berpakaian tentara lengkap datang menghampiri Luhan, tangan nya membentuk gestur untuk menyalaminya dan di sambut kalem oleh Luhan.

"Ya, tentu aku datang, Jake." Ucap Luhan manis.

Iris biru si pria bernama Jake itu menatap Sehun. Yang di tatap malah terkejut bukan main, ia segera memalingkan pandangan nya kebawah.

"Bodyguard mu? Saya tak menyangka Mister Lu menggunakan bodyguard. Bukankah anda ini kuat?" Jake menyeringai merendahkan Luhan.

"Tidak sopan. Dia butler yang baru ku angkat. Aku ingin kau menghormati dia sebagaimana kau menghormatiku."

Jake bersiul, "butler anda tampan tapi juga cantik, eh?"

Luhan memincingkan matanya, tersirat rasa tidak suka. Ia benci sikap orang tersebut pada Sehun-nya. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu, tetapi intinya Luhan amat sangat benci mendengarnya. Sehun hanya bisa merinding, ia jadi ingat dengan salah seorang kapten yang juga akan memperkosa nya waktu itu. Tenggorokannya seketika tercekat.

"Tarik kata-katamu tadi sebelum kubunuh, Jake." Wajah manis itu luntur, tergantikan dengan raut wajah membunuh.

"Kenapa harus saya tarik? Lagipula itu fakta, 'kan?"

"Kau dan aku kemari untuk berdiskusi mengenai Negara L untuk di tunduki." Tutur Luhan lalu meninggalkan area sekarang dan pergi menuju ruang rapat yang diikuti Sehun dari belakang.

Suasana rapat diskusi membuat Sehun tegang mendengarnya, ia tak mengerti dengan istilah peperangan yang di bicarakan. Sehun hanya berdiam diri di belakang kursi Luhan, sesekali matanya melihat ke arah beberapa kertas yang berisikan peta atau laporan-laporan yang sekiranya dapat membuat Sehun melihat itu.

Setelah itu, Luhan melakukan observasi pada benteng pertahanan nya, ditemani Jake beserta komplotan panglima nya berjumlah empat orang.

"Lusa kemarin ada yang mencoba melakukan perlawanan, namun kami mampu memukul mundur mereka." Ucap Jake saat sampai di benteng pintu selatan, salah satu pintu belakang.

Luhan mengangguk, "bagus, Jake. Aku turut senang mendengarnya."

"Anda tidak ingin memberi saya hadiah?"

"Untuk apa aku memberimu hadiah padahal anak buahmu yang memukul mundur?"

"Tetapi saya lah orang yang di balik kemenangan tersebut." Ucap Jake sombong.

Luhan tersenyum miring, "baik, kau mau hadiah apa?"

"Butler yang dibelakangmu."

Sehun memelototkan matanya, kedua kakinya bergetar. Ia takut Luhan akan memberikannya secara cuma-cuma demi kemenangan itu, tangan nya di kepal penuh ketakutan. Ia tidak ingin berakhir menjadi budak sex, dia mohon dengan sangat.

Sehun tahu bahwasannya menjadi budak sudah beresiko akan dilempar kesana kemari. Mau tidak mau harus di pekerjaan dalam konteks apapun, termasuk menjadi alat sex. Ia pun bahkan sudah dibuat gemetaran dengan sosok Jake yang seperti itu. Berbadan kekar, berotot besar, serta wajahnya yang terdapat bekas luka di mata kanan nya.

"Tidak." Luhan tersenyum manis. "Atas dasar apa aku harus memberikan butler kesayanganku untukmu?" Menaikan senyuman nya hingga membentuk eye smile.

Jake menghela napasnya. Ia kembali tersenyum palsu, "saya tertarik dengan butler anda."

Sehun mengigit bibir bawahnya.

"Oh begitu."

"Bisakah anda memberikan budak itu untuk saya?"

"Tidak."

"Kenapa?" Jake mengernyitkan dahinya. "Bukankah dia budak? Seharusnya anda tak perlu memiliki hati, 'kan?"

"Untuk Sehun saja, aku ada."

Deg!

Pacu jantung pria pucat itu langsung berdetak cepat, Sehun meneguk ludahnya sendiri kasar. Ia tak tahu harus mengekspresikan nya bagaimana. Antara senang, atau Luhan hanya berbohong demi seorang budak seperti dia.

"T-tuan.." Tanpa sadar Sehun berkata demikian.

Jake memincingkan matanya tidak suka, ia mengomandokan anak buahnya untuk menghajar Luhan. Sehun memejamkan matanya, suara tembakan terdengar sangat jelas, menusuk indra pendengaran. Satu persatu suara tumbangan beriringan. Sehun membuka kelopak matanya perlahan-lahan, mayat segar tersebut membuatnya mual setengah mati. Aliran darah bersimpuh hingga mengalir hampir mengenai sepatunya.

"Aku akan menaikan pangkat George setelah ini. Ayo, Sehun. Kita pulang."

Luhan memutar badan nya, berjalan dengan wajah datar hendak pulang ke manor dengan perasaan tak bersalah.

.

Even SKY Perforce To Bow Down

.

Dan disinilah Sehun sekarang. Ia di perintahkan untuk masuk kedalam kamar Luhan yang amat luas. Dinding nya di cat oranye, ranjang king size elegan, dan beberapa furnitur berornamen gaya barat turut menyertai betapa mewah nya kamar sesosok anak sulung Romanov.

Luhan meminta Sehun untuk masuk ke kamarnya dan menemaninya sesaat.

Selepas perjalanan melelahkan itu, Luhan melepas jas serta dasi yang melekat pada dirinya. Ia pun juga mengganti bawahannya dengan celana bangsawan santai sepanjang lutut. Kemeja putihnya pun tak ia lepaskan. Aksi pergantian pakaian itu Sehun hanya bisa menutup matanya, ia tak ingin melihat majikannya berganti pakaian.

Luhan menidurkan dirinya diatas ranjang.

"Sini, Sehun." Luhan menutur seraya menepuk ranjang yang kosong, menyuruh Sehun untuk tidur di sebelahnya.

Pria pucat itu meneguk ludahnya kasar, ketakutan. "Anu, saya masih ada pekerjaan lain, Tuan. T-terima kasih untuk ajakannya."

Sehun membungkukkan badan nya sopan. "Sehun, aku tak memintamu untuk menolak perintahku. Aku menyuruh semua pelayan untuk melakukan tugasmu. Jadi, kau temani aku disini."

Sehun menundukan kepalanya, ia meremat bawah jas sebagai pelampiasan rasa ketakutan yang sudah membakar dirinya. "B-baik."

Ibarat anak patuh, Sehun langsung mengarahkan kedua kaki jenjang nya untuk duduk di ranjang. Dengan hati-hati, ia memastikan bahwa tidak menganggu majikannya. Ingin bertanya ada apa gerangan tiba-tiba Sehun disekap di kamar iblis, namun pertanyaan tersebut tertinggal di tenggorokannya.

Peraturan utama: Jangan pernah bertanya apapun dan memulai percakapan duluan

"Sini tidur di sebelahku."

Perintah mutlak itu lagi-lagi di lontarakan. Sehun melepas sepatu nya, kemudian menidurkan diri di atas ranjang. Luhan langsung memeluk dan membenamkan wajah cantiknya itu pada dada bidang butler nya. Sesekali ia mendusel yang pada akhirnya membuat Sehun geli setengah mati.

"A-anu, Tuan Lu.."

"Jangan panggil aku 'Tuan', panggil aku Luhan." Pria cantik itu masih keenakan mendusel, berujar demikian tanpa mengalihkan kepalanya.

Sehun menggigit bibir bawahnya, "b-bagaimana bisa? Anda... Tuan saya."

Luhan melepas rekatan pada dada bidang itu, netra bak rusa tersebut menatapnya dalam seakan-akan Sehun sendiri pun sudah dibuat jatuh karena nya. Tanpa banyak bicara, Luhan langsung menyambar bibir tipis Sehun tanpa izin.

Tak ada yang bersuara. Luhan nampak begitu menikmati ciuman lembut itu, menyesapi pelan-pelan sampai dirinya memejamkan kedua manik nya. Sehun lagi-lagi hanya bisa membelalakkan matanya, ciuman pertamanya di sambar begitu saja tanpa sepatah katapun.

Bibirnya mulai di lumat pelan, Sehun masih mengolah otaknya untuk berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Ciuman lembut tersebut menjadi sedikit panas, alangkah Luhan menekankan kepala si pembantu supaya ciuman mereka lebih dalam.

Sehun refleks melepas tautan tersebut, mendoron dada Luhan agar menjauh. Sang bangsawan pun mulai menatapnya tidak suka.

"M-maafkan saya.. Saya.. saya tidak bisa..." Sehun langsung hendak beranjak dari ranjang besar itu.

Namun Luhan dengan cekatan menarik kasar lengan kekar pemuda Rosewell, "siapa yang menyuruhmu pergi?"

Pada dasarnya Luhan memanglah kuat, tetapi tidak sekuat Baekhyun yang mampu menumbangkan ratusan orang hanya dengan tangan kosong. Luhan langsung menarik Sehun lebih keras, menyebabkan pria itu terjatuh di atas ranjang.

Lagi, pria cantik itu menindih lalu menyambar bibir tipisnya. Melumatnya kasar seakan tak bisa menahan lagi betapa besarnya gejolak nafsu yang membara.

Sehun mulai ketakutan, apakah dia dipaksa untuk memuaskan hasrat nafsu majikan nya sendiri? Sehun berusaha mendorong kuat-kuat si bangsawan itu.

"Tuan..! Saya mohon.."

Plak!

Luhan begitu ringan tangan nya menampar pipi pucat Sehun. Yang ditampar lagi-lagi ketakutan, merasakan sakit secara fisik dan mental hingga ke seluruh tubuhnya. Badannya mulai merinding, dia bisa-bisa mati depresi bila berlama-lama disini.

"Satu, jangan panggi aku 'Tuan'. Dua, kau tidak boleh melawan perintah. Tiga, kau harus menuruti segala permintaanku." Ucap Luhan arogan, memandang manik elang yang ketakutan itu begitu tajam.

Bibir Sehun bergetar, pelupuk matanya mulai berair. "K-kenapa harus.. saya?"

Luhan bergeming.

"Saya.. s-saya tidak menarik, saya tidak cocok menjadi alat nafsu anda, Tu– Lu." Sehun mulai menitikkan air matanya. "Saya jelek, saya bodoh. Saya tidak–"

"Ya karena kau jelek dan bodoh, aku suka." Luhan mengukir senyuman manis. "Aku sebetulnya bukan penggila sex seperti Baekhyun. Tetapi, aku ingin melakukan itu denganmu."

Oke, Sehun tidak sebodoh itu untuk mengerti apa yang dia katakan. "Tidak, L-Luhan. Saya tidak bisa–"

Luhan mengambil borgol di bawah salah satu bantal tidur. Ia selalu menyimpan alat-alat aneh di sekitar kasurnya, mengantisipasi terjadi pembunuhan terhadap dirinya. Luhan kerap kali menjadi sasaran bunuh, sebab itu ia meninggalkan beberapa alat pertahanan diri tak terlihat di sekitar kamarnya.

Luhan menyematkan borgol itu di pergelangan tangan Sehun. Memaksanya untuk mengangkat kedua tangannya keatas. Sehun tak melihat dengan jelas, yang pastinya kedua tangannya di keataskan tanpa bisa bebas sedikitpun. Sebuah kaitan lain mengikat borgol tersebut pada belakang ranjang.

Kedua tangannya terkungkung, lantas Luhan membuka celana Sehun tanpa izin. Mengeluarkan penis butler nya yang berukuran cukup besar, Luhan pun terkagum-kagum akan hal itu.

"Punyamu besar, tapi kau orangnya terlalu sopan dan penakut." Ia terkekeh kecil. "Aku suka kau yang polos dan bodoh, Sehun."

Luhan meraba dengan telunjuknya dari pangkal hingga ujung milik Sehun penuh sensual. Sehun menahan mati-matian supaya tidak mendesah, Luhan tertawa kecil kembali dengan rasa kemenangan.

"Let's sex, Sehun."

.

.

To be continued

.

A/N: hiyaaaa, maaf lama updatenya *sungkem reader satu satu*. Kepo ga? Gak ya? Yaudah chapter selanjutnya langsung srosot KaiSoo. Ngihaaa. Oya, maap kalo banyak typo, saya males baca ulang #plak