A Late Story
LOVE IN THE PALACE
.
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
Genderswitch
Joseon Era
.
.
.
"Yang Mulia Raja sudah tiba!"
Wonwoo berdiri membungkuk untuk menyambut suami sekaligus Rajanya masuk keruang ritual.
Sebuah meja besar berisikan makanan ritual sudah ada disudut ruangan. Dengan penerangan lentera yang membuat suasana menjadi hangat.
"Selamat datang Yang Mulia Raja." Wonwoo masih belum berani menatap Raja didepannya. Sehingga terus membungkuk memberi hormat.
"Tatap aku." Wonwoo tersentak. Mengapa disaat seperti ini halusinasinya kembali lagi? Suara berat Rajanya benar-benar terdengar seperti suara Mingyu.
"Jeon Wonwoo, tatap aku."
"Yang Mulia Ra- Mingyu?" Wonwoo gontai dan hampir terjatuh ketika matanya dan mata sang Raja beradu.
"Ya. Ini aku. Kim Mingyu. Rajamu. Dan kau. Jeon Wonwoo. Ratuku."
"…."
"Jangan menatapku seperti itu, Ratu Won." Mingyu mencoba mendekat pada Wonwoo yang berdiam mematung menatap lurus wajah Mingyu.
"Kau? Mingyu? Yang Mulia Raja? Kim Mingyu? Ya tuhan aku sudah gila." Wonwoo menggeleng berkali-kali, memukul kepalanya sembarangan. Masih tidak percaya apa yang ada dihadapannya.
"Sungguh, ini aku sayang. Kim Mingyu. Aku minta maaf sudah berbohong padamu." Mingyu mencoba mendekat lagi ketika Wonwoo malah mundur menjauhi.
"Hwaaa… Aku sudah hampir mati gila, Kim Mingyu! Aku pikir aku sudah gila melihat wajahmu dimana-mana.. Hiks!" Wonwoo berteriak, menangis sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Mingyu panik mendengar tangisan Wonwoo.
"Sayang, hey, Ratu Won. Berhenti menangis. Kita sedang menjalankan ritual." Mingyu jera. Akhirnya mendekap istrinya dengan erat. Menghentikan tangisan kekanakan dari wanita yang sangat ia cintai.
"Kenapa kau tidak bilang kau seorang Raja? Kau benar-benar membuatku gila, Kim Mingyu! Ya tuhan, Yang Mulia maafkan aku." Mingyu terkekeh menatap Wonwoo yang berhenti menangis ketika sadar ia telah menyebut nama Raja negeri ini dan meneriakinya.
"Tidak apa, sayang. Marahlah. Kau pantas memarahiku. Tapi sungguh aku tidak bermaksud membohongimu. Hanya saja aku bersyukur bisa melihat ketulusanmu tanpa harus mengatakan identitasku." Mingyu menggenggam tangan Wonwoo untuk menenangkan wanita yang kini jadi istrinya itu.
.
"Ritual apa?" Wonwoo menuangkan secangkir arak beras ke gelas yang di genggam Mingyu.
"Ritual malam pertama." Wonwoo melotot dan semburat merah muncul di pipinya.
"Kita sudah melakukannya, Yang Mulia." Wonwoo meneguk arak berasnya dengan menolehkan kepalanya ke samping, melakukan sikap hormat seorang istri pada suaminya.
"Won, bersikaplah seperti biasa. Panggil aku dengan Mingyu jika kita sedang berdua. Aku menyukai itu." Wonwoo menunduk. Bagaimanapun sikap hormat kepada sang Raja haruslah diutamakan.
"Baiklah kalau begitu sebagai Raja aku memerintahkanmu untuk bersikap sebagai Jeon Wonwoo si wanita pemburu bukan sebagai Ratu Won ketika hanya berdua dengan Kim Mingyu. Apa lagi jika sedang bercinta." Mingyu tersenyum jahil pada sang istri.
"Mingyu!" Ya. Bagaimanapun keduanya bertemu sebagai Wonwoo dan Mingyu yang berteman dan berbagi kebaikan. Bukan sebagi Raja dan Ratu yang memimpin negeri dan harus turut dalam kakunya peraturan.
"Ayo, lakukan ritual malam pertama sebagai suami istri."
.
"Yang Mulia Raja Min.. Akhh! Baik. Baik. Kim Mingyu. Jangan mendorong tiba-tiba… eungh.." Di bawah remang lentera api di sudut ruang ritual itu mereka memadu kasih. Bercinta sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai. Bercinta sebagai Raja dan Ratu yang akan memimpin negeri.
"Desahkan namaku, Won." Mingyu bergerak lembut dan tepat sasaran. Memberikan kenikmatan hingga Wonwoo terpejam gemetar merasakan setiap dorongan yang Mingyu lakukan.
Penyatuan mereka begitu sempurna dan sakral. Di persatukan oleh takdir yang membelit mereka tak tentu arah.
"Min-gyu.. Uhhh.." Mingyu bergerak cepat. Tak hanya kejantanannya yang memberi kenikmatan kepada sang pujaan hati. Tangannya juga bergerak berantakan merasakan indahnya payudara Wonwoo yang terpampang sempurna dihadapannya. Mingyu menggeram tepat di telinga Wonwoo ketika kewanitaan Wonwoo berkedut cepat.
"Kau harus dalam masa subur sekarang. Karena kau harus melahirkan Putera Mahkota setampan aku." Mingyu bergerak lagi dan lagi.
"Aku siap.. Melahirkan pangeran dan puteri yang sehebat dirimu, Yang Mulia. Aakhhh.. Disanahh.." Wonwoo memejamkan mata merasakan puncaknya semakin dekat setiap Mingyu menumbuk titik manisnya.
"Aku mencintaimu, Ratuku. Akkkhh!" Mingyu menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Wonwoo ketika puncaknya datang. Keringat mengucur diseluruh tubuh keduanya. Percintaan yang begitu hebat dan penuh hasrat.
"Aku juga mencintaimu, Rajaku."
.
.
"Apa kami akan segera mendapatkan Putera Mahkota, Yang Mulia?" Seungkwan sedang menyisir rambut Ratu Won setelah selesai mandi.
"Apa maksudmu, Seungkwan?" Wajah Wonwoo terlihat berseri setelah malam ritual yang berjalan tadi malam.
"Biasanya, dimalam ritual pertama, tidak akan langsung terjadi adegan percintaan karena Raja dan Ratu biasanya kan pasangan yang dijodohkan dan tidak saling mencintai." Seungkwan menjelaskan apa yang ia dengar dari dayang ritual.
"Memangnya ada berapa ritual? Kata Yang Mulia itu ritual malam pertama, ya memang harus dilakukan tepat dimalam pertama pernikahan kan?" Wonwoo menunduk. Ia malu sendiri mengingat bagaimana nafsu dan hasrat menggebu tadi malam hingga percintaan Raja dan Ratu itu berlangsung terus semalaman.
"Ritual malam pertama? Tadi malam itu masih ritual perjodohan. Istilahnya masih perkenalan dua orang asing setelah pernikahan. Makanya jarang sekali ada yang langsung bercinta." Wonwoo melotot mendengar perkataan Seungkwan.
"Cepat selesaikan rambutku. Aku harus bertemu Yang Mulia Raja." Wonwoo menggeram kesal. Bisa-bisanya Mingyu membohonginya lagi.
"Bukankah Raja menyuruhmu beristirahat. Kalian bercinta sampai kau kelelahan, Yang Mulia Ratu. Tengah hari juga kalian harus bertemu dengan Ibu Suri dan Ratu Dowager."
"Diamlah, Seungkwan. Atau aku akan menghukummu."
"Ampun, Yang Mulia."
.
.
Syyuuut!
"Nilai lima untuk anak panah ke enam!" Wonwoo berdiri dipinggir arena memanah itu. Memperhatikan suaminya yang sedang fokus pada target untuk memanahkan anak panah ketujuh.
"Sampai aku melahirkan delapan bayi pun Yang Mulia tidak akan mendapat nilai sempurna." Wonwoo mendekat dengan angkuh menghampiri sang suami.
"Ratu Won, kau sedang meremehkanku?" Mingyu menurunkan busurnya kemudian menatap istrinya kesal. Ia ketahuan payah dalam memanah.
"Lebarkan kakimu, Yang Mulia. Tidak. Itu terlalu lebar." Wonwoo tidak bermaksud meremehkan Raja hanya saja urusan memanah seluruh penghuni istana pasti tahu kalau Rajanya itu sangat payah.
"Seperti ini?" Mingyu menurut. Masa bodoh dengan perlakuan Wonwoo yang sedikit kasar sebagai seorang guru.
"Sekarang tarik busurnya dengan lengan yang lurus. Jangan terlalu kaku, Yang Mulia. Seperti ini." Tanpa peduli tatapan dari seluruh pengawal dan pelayan yang ada disekitar, Wonwoo menjadi pengajar yang keras untuk seorang Raja. Menarik lengan tangan Mingyu kemudian sedikit mendorong kaki Mingyu dengan lututnya.
"Aku bisa menembak sekarang?" Mingyu sudah melakukan kuda-kuda siap untuk melesatkan anak panahnya.
"Tatap targetmu. Jangan menatap ujung anak panah. Kemudian lepaskan tanpa mendorong tanganmu."
Dan…
Syuuuttt
"Nilai sembilan untuk anak panah ketujuh."
"Kau lihat, Won. Aku mendapatkan nilai sembilan." Mingyu berseru senang.
"Aku yakin, Yang Mulia belum pernah mendapatkan itu selama ini. Perhatikan ini." Wonwoo meraih satu busur yang terletak di sudut arena bertudung kain khusus untuk sang Raja. Menarik sebuah anak panah kemudian secara alami melakukan kuda-kuda untuk memanah.
Syyuuutt
"Tepat mengenai target!"
"Ratu Won, kau sedang ingin pamer atau apa?" Mingyu menarik tubuh Wonwoo lembut namun tegas untuk menatapnya.
"Aku sedang kesal padamu, Yang Mulia. Bisa-bisanya berbohong lagi padaku soal ritual." Wonwoo merengut kesal. Menyampaikan maksud hatinya mendatangi sang suami ketika berlatih.
"Dengar aku. Aku tidak sepenuhnya berbohong. Aku hanya menghapus ritual perjodohan dan memajukan ritual malam pertama. Tentu saja karena kita bukan pasangan yang dijodohkan. Kita saling mencintai. Benar kan?" Mingyu menggenggam kedua tangan Wonwoo sembari menjelaskan. Mingyu tersenyum.
Seluruh pelayan dan pengawal yang mencuri pandang dan mencuri dengar adegan Raja dan Ratu itu tersenyum menyaksikan kedua orang yang begitu serasi dan mesra itu.
"Tetap saja aku kesal. Tapi sudahlah. Aku harus kembali ke paviliun untuk persiapan bertemu ayah dan ibumu. Selamat berlatih, Yang Mulia Raja Min." Sebagaimana kesalnya Wonwoo tetap saja tidak bisa menyulut emosinya untuk sang suami. Ia terlalu mencintai dan menghormatinya.
.
.
.
"Yang Mulia, Yang Mulia Ratu datang berkunjung." Mingyu menoleh kepada Kasim Jang ketika tiba-tiba masuk keruang bacanya pada larut malam.
"Selamat malam, Yang Mulia." Wonwoo masuk dengan senyum hangat dan setumpuk buku di lengannya.
"Untuk apa datang larut malam begini, sayang?" Mingyu kemudian berdiri untuk menyambut istrinya yang beberapa hari belakangan tidak ia temui karena kesibukan pemerintahan. Kemudian membawa Wonwoo kedalam pelukannya.
"Aku merindukanmu, gyu. Jadi aku ingin menemanimu bekerja sambil membaca disini." Wonwoo kembali memanggil nama Mingyu ketika sudah memastikan seluruh pengawal keluar ruangan.
"Aku berniat menemuimu esok pagi setelah pekerjaanku selesai. Duduklah." Mingyu mempersilahkan Wonwoo duduk disampingnya kemudian menatapnya dengan tatapan memuja.
"Aku tidak bisa tidur beberapa malam belakangan. Jadi daripada aku tidak bisa tidur juga malam ini lebih baik aku menemanimu. Kau meminum vitamin yang aku kirimkan setiap malam kan?" Mereka saling menatap. Hanya saling menatap tanpa melakukan apapun.
"Tentu. Aku meminumnya sambil memikirkanmu. Aku ingin segera menyelesaikan semua strategi pertahanan ini untuk bisa cepat bertemu denganmu. Tapi ini sangat sulit. Aku tidak paham tentang taktik pertahanan dan penyerangan." Mingyu beralih pada kertas dan buku yang berserakan diatas meja kerjanya.
"Biar aku lihat… sepertinya aku bisa memberi ide. Kau bisa mengajukan ini pada rapat menteri dan kasim." Wonwoo membaca satu persatu kertas berisi taktik perang dan pertahanan kerajaan. Kemudian tersenyum paham pada semua permasalahan yang ada.
"Terima kasih, sayang. Aku bisa mengandalkanmu. Dan kau selalu melengkapiku."
.
"Aku dengar dari Dayang Boo, kau mengalami pusing beberapa hari terakhir. Aku bisa meminta Ibu Suri untuk menggantikanmu." Mingyu berdiri tepat di depan paviliun Ratu berhadapan dengan sang Ratu yang sudah mengenakan pakaian ritual Dewi Kesehatan.
Sebuah ritual yang dilakukan oleh seorang Ratu untuk memberi penghormatan dan sesaji pada roh Dewi Kesehatan yang telah memberikan kesehatan pada seluruh negeri. Ini ritual pertama yang akan Wonwoo pimpin sebagai Ratu, sehingga ia bersikeras melakukannya sendiri. Mengabaikan tubuhnya yang kurang baik beberapa hari belakangan.
Ritual akan di lakukan di istana Geumwool di luar istana utama. Akan ada pengobatan untuk rakyat miskin dan pembagian bubur gandum gratis di depan istana. Wonwoo ingin turun sendiri memimpin rakyatnya dan bertemu rakyatnya untuk pertama kali.
"Aku akan baik-baik saja, Yang Mulia." Wonwoo tidak bisa dicegah jika sudah bertekad. Sehingga Mingyu dengan berat hati mengijinkan Ratunya keluar istana dan memimpin ritual Dewi Kesehatan tersebut.
.
Ritual berjalan lancar dan sakral dibawah langit yang teduh di depan istana Geumwool.
"Yang Mulia, ada seorang wanita yang menitipkan sebuah hadiah untuk anda." Seungkwan masuk ke istana Geumwool ketika Wonwoo sedang duduk untuk beristirahat sebentar. Pelayanan pengobatan dan pembagian bubur gandum masih ramai dikunjungi rakyat miskin. Wonwoo sempat membantu tadi tapi kemudian ia merasakan kepalanya pusing lagi.
Wonwoo menerima sebuah kantung usang kemudian mengeluarkan isi didalamnya. Wonwoo terkejut menatapnya.
"Dayang Boo, tolong bawa kemari wanita yang memberikan benda ini padaku. Cepat." Wonwoo bergemuruh. Jika ia tidak salah ini adalah benda miliknya saat remaja dulu. Sebuah pita rambut bersulam benang emas. Meskipun ia tidak pernah mengenakannya, ia yakin ini benda miliknya.
"Tidak. Tidak. Jangan periksa dia. Biarkan saja dia masuk." Wonwoo berseru ketika menangkap bayangan seorang wanita sedang di periksa tubuhnya dibalik pintu ruangannya. Sebenarnya itu adalah peraturan sebelum masuk dan bertemu anggota kerajaan. Namun Wonwoo tidak sabar dan menyuruhnya masuk begitu saja.
Wonwoo memperhatikan kaki dibalik kain hanbok katun itu jalan dengan terseok. Wonwoo menatap perih. Wanita muda itu berjalan pincang.
"Dirimu yang memberikan pita ini padaku?" Wonwoo mengulurkan kantung kain itu pada sang wanita.
"Benar, Yang Mulia Ratu."
"Dari mana kau mendapatkannya? Mendekat dan duduklah." Wonwoo menatap lekat wanita yang menunduk itu. Memperhatikan mata tajam dan hidung mancungnya. Serta gigi kelinci yang tampak saat ia bicara.
"Itu milik kakakku. Seseorang yang mungkin saja menjadi Ratu negeri ini sekarang. Pita itu milik Putera Mahkota yang diberikan untuk calon istrinya kala itu. Kakakku. Tapi kemudian pernikahannya dibatalkan karena kakakku menghilang." Gadis itu menunduk disetiap ucapannya. Tak berani menatap Ratu yang mungkin saja akan dinilai tidak sopan.
"Choi Jungkook.. Kau kah itu, Kookie?" Setetes air mata jatuh membasai pipi mulus Wonwoo ketika matanya kemudian bertatapan dengan sang wanita muda.
"B-bagaimana Yang Mulia tau namaku?"
"Aku… kakakmu, Kookie.. Choi Wonwoo." Wonwoo mendekat meraih jemari adiknya kemudian menggenggamnya erat. Kedua wanita cantik itu menangis tidak percaya.
Mereka saling berpelukan erat ketika telah selesai memastikan mereka tidak salah orang. Choi Wonwoo dan Choi Jungkook bertemu lagi karena takdir.
Wonwoo menceritakan perjalanan dirinya sejak diculik hingga bisa menikah dengan Raja dan kemudian menjadi Ratu.
"Aku mengikutimu malam itu, eonni. Tapi aku terperosok di sebuah lubang perangkap rusa dan tidak sadarkan diri. Aku ditemukan oleh seorang pria pencari tanaman obat dan kemudian dirawat sampai kakiku sembuh. Aku cacat karena kakiku mengalami patah tulang. Setelah aku bisa kembali kerumah aku malah mendapati berita ibu yang bunuh diri dan ayah yang di asingkan karena gila. Aku takut sekali, eonni. Aku pikir kau sudah meninggal saat itu." Jungkook mengusap airmatanya dengan kasar setiap mengingat nasib keluarganya.
"Aku sedang berusaha mencari tahu keberadaan ayah dan berusaha mengembalikannya. Meskipun aku harus menyembunyikan identitasku. Aku berjanji akan membawa ayah kembali padamu, kookie. Bersabarlah." Wonwoo mengusap sayang rambut adiknya yang tertata rapih.
"Aku akan selalu mendukung dan berdoa untukmu, eonni. Atau perlukah aku memanggilmu Yang Mulia?" Jungkook tersenyum. Ia tidak menyangka perjalanan jauhnya untuk menemui Ratu negeri ini membawanya bertemu dengan kakak yang ia kira sudah mati.
Ia juga tak menyangka bahwa tahta Ratu itu memang sesungguhnya sudah ditakdirkan untuk kakaknya, Wonwoo.
"Aku sudah menikah dengan putra dari pencari tanaman obat yang merawatku, eonni. Dan aku sekarang menjadi seorang tabib. Aku juga memiliki seorang putri berumur delapan bulan." Jungkook tersenyum malu mengakui ia yang sudah mendahului kakaknya mendapat keturunan.
"Aku ingin segera mengandung dan melahirkan Putera Mahkota untuk Raja. Tapi akhir-akhir ini Raja sangat sibuk dan jarang menghabiskan malam denganku. Kami baru melakukannya sekali saat ritual." Wonwoo cemberut. Baru kali ini dia bisa menumpahkan keluh kesahnya secara terang-terangan. Sejak kecil ia memang selalu terbuka dengan sang adik dan berbagi cerita bersama.
"Kau sedang mengandung, eonni. Bayi kembar." Tanpa sepengetahuan Wonwoo, Jungkook meraba pergelangan tangan Wonwoo dan merasakan denyut nadi dari sang Ratu. Ia tidak salah. Ratunya…
"Yang Mulia, diluar ada yang membuat keributan. Seorang pria tua menyakiti rakyat yang mengantri bubur dan ia juga menghancurkan sesaji." Seungkwan menerobos masuk. Berteriak panik diiringi suara gaduh dari luar istana Geumwool.
Wonwoo berdiri.
"Yang Mulia, jangan kesana. Berbahaya." Seungkwan dengan takut menahan lengan sang Ratu agar tidak keluar.
"Aku tidak bisa membiarkan rakyatku tersakiti. Ayo, Kookie." Wonwoo bergegas diikuti Jungkook dan Seungkwan dibelakangnya.
Seorang lelaki tua berbaju hitam lusuh mengamuk. Beberapa pengawal mencoba menenangkannya tapi gagal dan malah terluka. Beberapa rakyat yang sedang mengantri juga menjadi korban amukan pria tersebut.
Wonwoo berang. Kemudian merampas sebuah busur yang dipegang salah satu pengawal disampingnya. Seluruh dayangnya berteriak ketika suara nyaring dari tarikan senar busur terdengar.
Syyuuut
Pria yang mengamuk itu menjerit ketika betisnya robek oleh ujung anak panah yang menggores lukanya. Wonwoo melumpuhkannya dengan cepat.
"Cepat obati lukanya. Juga luka warga yang terluka. Bereskan semua kekacaua-"
"Yang Mulia!" Seungkwan berteriak lebih nyaring ketika mendapati Wonwoo ambruk dan jatuh menabrak tubuh Jungkook.
Wonwoo pingsan tepat sebelum ia akan berbalik masuk ke istana Geumwool.
.
.
.
A Late Story
.
.
.
Wonwoo kenapa? Wanita tangguh kita kenapa? Raja Min tolongin dong… /kemudian baper
Ga usah baper..
Noona ga bakal lama update dan fiksi ini konfliknya ga rumit. Asal tahan baper sama mesra2an raja ratu ini ajah.
Meanie emang selalu bikin baper kan?
Kim Noona
Sun, 20th Nov 2016
