Sekarang, apa harus aku berenang dan membiarkan diriku ternggelam dengan konyol? Apa aku harus lari menjauh dan membiarkanku mati karena tidak memiliki perlengkapan? Sekarang bahkan orang-orang pasti tidak ingin menjadi sponsor orang linglung sepertiku. Awal yang sangat sempurna! Teriakku salam hati dengan kesal. Aku terkejut saat kudapati seseorang yang menggendong ransel dan membawa pedang menghampiri perlengkapanku lalu menurunkannya dari akar gantung di depan sana. Ternyata itu adalah Lary. "Angel, aku segera kesana!" teriaknya sembari panik. Seseorang mencoba memanahnya dari kejauhan, tapi beruntugnya Lary segera menceburkan diri ke dalam sungai. Aku berlindung ke belakang pohon dan hanya bisa menyaksikan beberapa orang yang saling baku hantam di seberang sana. Banyak yang langsung pergi dan mencari perlindungan.
"Cepat kita pergi dari sini!" Lary memasangkan ransel ke punggungku dan menarik tanganku. Entah sudah berapa lama dan berapa jauh kami berlari hingga akhirnya kehabisan nafas. "Sepertinya kita sudah aman. Istirahatlah dulu." ujar Lary. Aku mengeluarkan isi kantong lalu mengambil botol air minum yang ternyata kosong. "Kita harus mencari air dulu Lary. Bisakah kamu membantuku memanjat pohon?"
Pohon-pohon yang ada sangat tinggi dan berlumut, membuat kami kesulitan untuk memanjat. Tapi Lary yang cerdik menggunakan pedangnya untuk membuat lubang sebagai pijakan pada batangnya, itu yang sangat membantuku. Perlahan tapi pasti. Kami kini telah berada di atas pohon dan sedikitnya bisa memandangi arena ini secara keseluruhan. Arena yang luasnya tak terkira, dengan pepohonan rindang menutupi tubuhnya. Hanya ada sungai panjang yang berkelok-kelok seperti badan ular yang memisahkan arena pada bagian tengahnya. Sesaat aku berpikir karena tempat yang kulihat tampak familiar. "Amazon!" ucapku dengan sedikit berteriak.
"Amazon?"
"Ya, aku pernah mendengar tentang hutan amazon saat pelajaran pengetahuan alam."
"Bagus, lalu di mana sekiranya kita bisa mendapatkan air selain dari sungai itu."
"Aku tidak yakin ada danau atau mata air di sekitar sini. Apa mungkin itu karena terhalangi pepohonan?"
"Jadi satu-satunya yang bisa kita minum adalah air sungai itu. Sepertinya airnya terlihat keruh karena lumut dan kedalaman sungai itu. Saat aku berenang di sana, airnya tampak tidak tercemar."
"Tunggu. Yang kudengar seharusnya ada ikan pemakan daging yang sangat ganas di dalam sungai amazon."
"Jika memang ada harusnya aku dan peserta lain sudah terbunuh sejak tadi?"
"itu masalahnya, jika ikan tidak ada maka kita bisa menyimpulkan kenapa tidak ada kehidupan di dalam sungai itu."
"Karena airnya beracun?"
"Ya, itu yang kupikirkan. Saat berenang kau baik-baik saja karena tidak meminum airnya kan."
"Jadi bagaimana sekarang. Apa kita bisa menemukan pohon kelapa disekitar sini?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku punya cara untuk setidaknya menghilangkan rasa haus kita."
Kuajak Lary turun dari atas pohon dan berjalan menyusuri hutan. Kini aku mencari-cari lumut yang sekiranya mengandung banyak air lalu memeras untuk mengeluarkan airnya. Walau rasanya memang tidak seenak air jernih, tapi itu cukup untuk memberi kita persediaan air. Sekarang kami berdua memikirkan cara bagaimana untuk bertahan hidup dan melewati semua ini. Di tengah diskusi, suara meriam yang merupakan pertanda bahwa ada peserta yang gugur mengagetkan kami. Kuhitung jumlah meriam yang berbunyi ada sebanyak sepuluh buah. Pasti Jeffrey yang malang dengan senyum manisnya itu sudah tidak ada, pikirku dalam hati.
Lary dan aku mulai merasa lapar, tapi kami tidak kunjung menemukan makanan. Sungai yang ada tidak bisa memberi kami ikan, kalaupun ada kami tidak akan bisa menyalakan api di tengah hutan yang lembab seperti ini. Tiba-tiba kudengar suara benda yang jatuh di belakangku. Kami berdua langsung bersiaga kalau-kalau ada sesuatu atau mungkin seseorang yang akan menyerang. Tapi yang kudapati ternyata sebuah makanan! Buah berwarna oranye terjatuh dari atas pohon. Sepertinya bisa untuk dimakan. Aku berkata pada Lary, pasti di atas pohon asal buah itu terjatuh masih banyak lagi yang lainnya. Lary memanjat pohon yang tinggi itu untuk mengambil lebih banyak buah. "Beruntung sekali buah yang sudah matang itu jatuh di saat yang tepat." ujarnya sambil melahap buah yang dagingnya sangat manis ini. Beruntungkah? Aku sempat memperhatikan keadaan buah yang jatuh itu tampak tidak alami. Ada seperti bekas irisan benda tajam yang membuatnya jatuh. Mungkin monyet, pikirku karena tidak ingin mempermasalahkannya, karena sekarang kami sudah tidak kelaparan lagi. Kami mengantongi beberapa buah untuk dibawa.
Saat malam tiba, kami berlindung di antara tumpukan bebatuan yang dikelilingi rumput tinggi. Aku duduk berdekatan dengan Lary, saling menjaga satu sama lain, atau lebih tepatnya berlindung kepada Lary. Kupandangi langit malam tanpa bulan itu saat lagu kebangsaan Capitol terdengar mengiringi sebuah tayangan yang muncul di langit. Wajah-wajah peserta yang gugur terpampang di sana. Mulai dari wajah anak perempuan distrik satu bernama Alma, lalu Edd distrik tiga, Lysee distrik empat, Emma distrik lima, Bold distrik enam, Annee distrik delapan, Roger distrik sembilan, Rose distrik sepuluh, Elena distrik sebelas, dan Gilde distrik tiga belas? Bukannya bersyukur, aku malah dibuat bingung karena tidak mendapati nama Jeffrey di sana. "Apa yang besok akan kita lakukan?" Suara Lary memecah keheningan malam itu.
"Aku tidak tahu, menunggu hingga semuanya mati?"
"Lalu kitapun harus saling bunuh?"
Aku terdeiam sesaat sebelum kemudian menjawab pertanyaan Lary, "Kamu pasti keberatan. Tapi aku ingin kamulah satu-satunya yang boleh membunuhku nanti. Dengar Lary, jika aku menang dan kembali ke distrik dua itu sama saja dengan kau membunuhku perlahan karena mereka pasti tidak mengharapkan bisa melihat wajahku lagi." ucapanku yang agak keras membuat Lary seakan menahan kata-kata yang ingin dia lontarkan. Dia pasti ingin menolak usulanku.
"Jika itu mau mu, tapi aku akan melakukannya jika memang benar hanya kita yang tersisa. Sedangkan aku berharap tidak perlu satupun dari kita yang nanti kembali ke distrik dua. Aku selamat setelah membunuhmupun tidak akan berakibat baik bagiku kedepannya. Sebaiknya kamu tidur sekarang."
"Aku tidak bisa tidur di saat seperti ini. Bagaimana jika peserta lain.."
"Bukan kah kamu lihat sendiri, kebanyak dari mereka pergi ke sisi yang berlawanan dengan kita. Kita aman sekarang." Akhirnya aku bisa memejamkan mata karena Lary ada di sampingku. Memang tidak berperasaan karena kelihatannya Lary tidak beristirahat dengan cukup untuk menjagaku yang dengan enaknya tertidur pulas.
Sepertinya ketenangan yang kita dapatkan justru tidak menjadi hiburan yang menarik bagi Capitol. Hari mulai pagi, tapi mataku masih berat utuk kupaksa terbuka. Kurasakan tangan kiriku terasa agak berat, mungkin tertindih oleh badan Lary. Namun saat perlahan ku buka mata, yang kulihat bukan lah Lary, melainkan seekor ular piton besar yang menggeliat dan siap untuk meremukkan tulangku. Suara tertahan di tenggorokkan saat Lary memegangi tanganku satu lagi dan menyuruhku tenang. Aku mengangguk kecil dan mengikuti instruksinya untuk bergerak perlahan sebelum ular itu lebih erat menggulung tanganku. Saat tengah bisa berdiri dan lolos dari lilitan ular piton, aku baru menyadari bahwa di sekeliling kamipun banyak ular-ular lain yang melihat kami sebagai santapan pagi yang empuk. Sialnya lagi kami harus tergelincir disaat mengendap-endap menjauhi makhluk besar bermata kuning itu. Ular-ular itu berusaha menyerang dan mengejar kami yang berlari dengan sekuat tenaga. Kami kembali menyusuri jalur yang sebelumnya kami lalui. Dengan keberadaan sungai yang tak lama lagi akan kami temui, aku menghentikan langkahku. Sambil melihat ke arah ular-ular yang masih berusaha menangkap kami, Lary berteriak untuk menyuruhku kembali berlari. Tanpa memikirkan apapun akupun berlari dan kemudian ikut melompat ke dalam air untuk pergi ke belahan hutan yang satunya. Aku berusaha untuk tidak menelan air sungai itu tapi lama-lama aku mulai kehabisan nafas. Untunglah dengan cekatan Lary membantuku keluar dari air dan mengangkatku kembali ke daratan.
Ular-ular itu berhenti di depan air seakan tidak ingin masuk ke dalamnya, membuatku yakin bahwa kami tidak bisa minum dari air sungai. "Setidaknya kita aman dari ular-ular itu sekarang. Tapi musuh-musuh yang lebih seram dari mereka justru akan menanti kita di sini." Lary merebahkan badannya di sebelahku yang masih berusaha mengatur nafas. "Jangan biarkan aku berenang lagi." ucapku. Lary tertawa.
Suara gemersik rerumputan memberi tahu kami bahwa ada orang yang mendekat. Aku juga Lary bersembunyi sebisa kami di balik pohon besar. Tampak seorang gadis distrik dua belas bernama May tampak kelelahan dan berhenti di depan sungai untuk minum. Baru saja aku akan berteriak melarangnya untuk minum, Lary membungkam mulutku dan menarikku kebelakang. Seorang laki-laki berbadan kekar melilit leher perempuan itu dengan akar gantung. May berusaha melawan namun kekuatannya tidak cukup untuk melepaskan cengkraman Bright yang sangat kuat. Seketika kulihat May tergelepar kehabisan nafas, sementara Bright tertawa dan berbicara kepada entah siapa. "Dia sudah mati!" teriaknya. Dua orang yang sepertinya menjadi sekutunya menghampiri Bright. Kelly dari distrik tiga dan Nick dari distrik tujuh. "Ayo kita cari malaikat kematian yang mengantarkan kita pada permainan ini."
"Kulihat dia dan teman laki-lakinya pergi ke sebrang sana saat hari pertama. Kelihatannya tidak bisa berenang."
"Kalau begitu kita temukan dan ajari dia berenang di sini." mereka tertawa sambil pergi menyebrangi sungai itu, sementara kelly masih sempat-sempatnya menendang mayat May masuk ke dalam air sebelum kemudian mengikuti yang lain. Suara meriam menggelegar di udara. Aku dan Lary masih terdiam saat sebuah pesawat mengangkat mayat May keluar dari air. Ternyata semua mayat dari peserta yang gugur langsung mereka bawa entah kemana. Aku baru mengetahuinya. "Ayo kita pergi sebelum mereka sadar kita tidak ada di sana." ajak Lary.
Aku melangkah dengan hati-hati sambil memperhatikan pijakan di tanah. Ada tetesan darah yang kulihat entah milik siapa. Kuberitahu Lary dan kami mengikuti jejaknya hingga menghilang di hadapan pohon yang sangat besar yang tertutup tanaman jalar. Saat ku sibakkan tanaman itu, kulihat sesosok wajah yang kukenal. Donna bersembunyi di dalam batang pohon yang berlubang besar, cukup untuk mewadahi tubuhnya yang kecil. Pipinya cekung, kuyakin dia belum makan apapun sejak kemarin. Kukeluarkan buah dan memberi air untuknya. "Aku mengikuti jejak darah hingga disini. Kamu terluka?" tanyaku.
"Tidak, aku baik-baik saja. Lantas itu darah siapa?"
"Mungkin laki-laki yang menolongku dan menyuruhku berlindung di pohon ini."
"Siapa?"
"Aku tidak ingat, karena kemarin aku kehilangan kesadaran karena dehidrasi, aku hanya ingat kawanan Bright akan membunuhku sesaat sebelum laki-laki itu menerima serangan dari Bright untuk melindungiku. Kemudian dia membawaku kesini dan menghilang setelah memberiku air."
Rasa penasaran kembali menghiasi pikiranku. Donna kembali memberiku infornasi tentang rawa yang harus aku hindari dekat sini. Lalu dia berkata dengan seram "Hati-hati terhadap hutan mati ini. Tidak ada suara yang seharusnya bisa aku dengar." perlahan keadaannya mulai membaik.
Lary mulai mencairkan suasana dengan lawakan-lawakan lucu dan membuat Donna tertawa. Kupikir dia manis jika tertawa seperti itu. Kesenangan kami terhenti disaat sebuah panah menembus kepala Donna yang berada tepat di depan mukaku yang kini terkena cipratan darahnya. "Hei mereka di sini!" seseorang bereteriak. Dengan cepat Lary berlari dan menebas leher laki-laki itu yang tidak lain adalah Nick. Naas, membunuh teman dari distrik yang sama tanpa ragu. Meriam berbunyi dua kali, Lary kembali menarik tanganku dan lari secepat-cepatnya sebelum Bright dan Kelly datang. Kudengar langkah kaki mereka berdua semakin mendekat di belakang. Karena sibuk melihat kebelakang, aku hampir menabrak pohon dan akhirnya harus terpisah dengan Lary karena terjatuh saat mencoba menghindari tabrakan. Kudengan Lary menyuruhku lari. Akupun segera bangun dan menghindari kawanan yang sedang memburu kami. Sepertinya kini hanya Kelly yang mengejarku sementara Bright mengejar Lary. Kuharap Lary baik-baik saja, tapi yang sebenarnya harus kukhawatirkan adalah diriku sendiri. Aku berhenti sesaat sebelum menginjak tanah yang kupikir terlalu berair, dan teringat soal rawa yang diceritakan Donna. Kelly menghentikan langkahnya beberapa meter di depanku. "Sudah menyerah?" ujarnya.
Kulihat dia hanya membawa pisau, untungnya bukan senjata yang bisa digunakan jarak jauh. Aku menyisir keadaan sekitarku, hanya mendapati akar pohon bergelantungan di atas kepala. Kelly sangat senang karena melihatku kebingungan, tanpa bisa kuhindari dia menerjang berlari ke arahku. Dengan spontan aku memegangi akar gantung yang ada di atas kepalaku untuk menghindari serangan kelly yang kini jatuh terjerembab ke dalam rawa itu. Sementara aku masih tergantung di atas kepalanya sambil berdoa agar akar gantung ini kuat menopang berat tubuhku. Dia mengangkat pisaunya, bersusah payah untuk bisa melukai kakiku, tapi perlahan badannya mulai tersedot ke dalam rawa. Aku baru sadar bahwa ternyata itu adalah lumpur hidup yang akan siap melahapku saat aku sudah tidak kuat bergelantung di atas sini. Langusng saja ku ayunkan tubuhku perlahan agar akar itu bisa mengantarkan ku ke seberang rawa. Entah sengaja atau tidak, aku menendang kepala Kelly yang berada di bawahku untuk memberikan tambahan dorongan dan membanting badanku ke tanah. Berkatnya aku bisa selamat, tapi kulihat kini Kelly berteriak meminta tolong karena sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku hanya bisa berdiam diri menyaksikan kepalanya yang perlahan menghilang, hanya menyisakan tangan kanannya yang masih memegang pisau. Suara tembakan meriam menyadarkan lamunanku, seakan berkata 'Pergi! Cari Lary!'. Kini aku kehilangan arah, berlari entah kemana. Ingin ku berteriak memanggil nama Lary, tapi itu malah akan mengundang bahaya ke arahku.
Di tengah perjalanan, langkahku terhenti saat sebuah panah menancap tepat pada pohon yang berada di depanku. Dengan refleks aku berlindung di balik pohon dan mendengar sesorang datang mendekat. Terdengar langkah panik seseorang yang kemudian disusul dengan suara tabrakan. Pria yang panik itu adalah Jeffrey, dia terjatuh dan memohon-mohon kepada Rommy agar tidak dibunuh. Jeffrey dengan tangan kosongnya mengeluarkan isi ransel berupa buah-buahan dan memberikannya kepada Rommy agar diperbolehkan bebas. Rommy dengan wajah garangnya mengambil buah itu dan pergi ke arah berlawanan sehingga tidak bertemu denganku. Beruntungnya aku. Keberadaan Jeffrey kini sudah tidak aku sadari lagi, dia menghilang seperti angin yang saat ini mengelus wajahku perlahan. Menyadarkanku bahwa darah Donna masih menyisakan bau amis di muka membuatku pusing. Aku membawa lumut yang basah dan mengelapkannya pada wajah untuk menghilangkan bekas darah.
Sebelum kulanjutkan perjalanan, kuambil panah yang tertancap pada pohon, karena teringat bahwa aku tidak punya senjata satupun. Sekarang aku baru tersadar bahwa selama ini selalu tergantung kepada Lary. Dia yang melindungiku hingga masih bisa bertahan. Kini aku kehilangan Lary dan harus berjuang seorang diri hingga nanti ku bertemu lagi dengannya.
Malam ini kulalui sendirian, bertahan dari serangan angin malam yang dingin karena bajuku masih basah akibat air sungai. Aku bersembunyi di antara batu yang menghimpit pohon besar. Berusaha menenangkan diri sembari memeluk ransel. Kembali kusaksikan wajah orang-orang yang sudah gugur. Ada lima orang dan salah satunya adalah Bruno. Orang yang menemuiku di atap gedung pada malam sebelum game dimulai.
Aku terkejut saat menyadari matahari sudah berada tinggi di atas kepalaku. Berapa lama aku tertidur? Sekarang aku harus kembali mencari Lary yang sepertinya sedang sangat mengkhawatirkanku saat ini. Kususuri jalanan menurun yang sepertinya baru kulalui. Akhirnya jalan itu mengantarkanku pada sebuah tempat yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah. Kupetik salah satunya dan menghirup baunya. Harum bunga itu memberikan ketenangan di tiap kali wanginya terhirup. Lagi-lagi sesuatu mengagetkanku, kudengan suara wanita menangis dari balik semak-semak. Sambil melawan rasa takut, aku menghampiri dan menepuk pundak wanita berambut pirang itu yang tampak mirip sekali dengan kakak. Saat wanita itu menoleh dan berdiri, aku yakin itu adalah kakak, tapi dia tampak sangat menyeramkan. Berjalan mendekatiku yang melangkah mundur dengan sempoyongan. Rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajah yang sangat kusut. Darah mulai menetes dari mulutnya yang mulai menyebut namaku berkali-kali. Entah kenapa aku langsung berlari menjauihnya, aku yakin itu bukan kakak. Namun sosok yang sama mencegatku di arah yang berlawanan. Kepanikanku lagi-lagi mendorong kakiku untuk terus berlari menjauhi suara kakak yang memanggilku tanpa henti. Ku tutupi telingaku dan memfokuskan pandangan ke tanah. Suara itu seakan berasal dari dalam kepalaku yang makin bertambah seram saat sosok kakakku mulai muncul sambil memotong-motong tangannya sendiri dan melemparkannya ke arahku. Ku tahan rasa ingin berteriak hingga akhirnya aku benar-benar berteriak saat seseorang menangkap dan memegangi tanganku. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkramannya. "Tenanglah Angel, ini aku!" aku masih berteriak sambil menutup telinga sampai Lary mengangkat wajahku agar aku sadar bahwa dialah yang ada di sana. Kupeluk Lary sambil menenggelamkan kepalaku di dadanya. Dia menenangkanku dengan suaranya yang lembut.
Aku mulai tenang dan sadar bahwa itu semua mungkin ilusi yang ditimbulkan oleh serbuk bunga yang aku temukan di hutan. Keindahan bunga itu tidak bisa dipungkiri lagi, siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda untuk mendekati tanpa curiga bahwa serbuknya bisa menimbulkan ilusi. Sepertinya ada orang lain yang yang terpengaruh oleh serbuk bunga itu selain aku. Kudengar suara gadis menjerit sambil berlari dan menangis yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan pisau yang ia miliki. Gadis berambut hitam bernama Mitchelle dari distrik sembilan. Pesawat Capitol datang beberapa saat setelah bunyi meriam terdengar, lalu mengangkat tubuh gadis itu ke udara. Saat itu aku masih berada dalam pelukan Lary tanpa berkata sedikitpun. Saat hari mulai larut barulah aku kembali normal dan mulai bicara. "Hanya tersisa sembilan orang termasuk kita."
Baru saja aku mulai bicara saat suara teriakan terdengar dari kejauhan. Teriakan laki-laki dan perempuan. Apa mereka saling membunuh? Tapi yang kudengar seperti orang yang sedang mengalami siksaan bersamaan. Dua suara meriam terdengar, disusul dengan tayangan di atas langit. Tiga orang terbunuh hari ini. "Tinggal tujuh orang sekarang." ujar Lary.
Aku mengambil beberapa buah berry yang dikumpulkan Lary tadi siang. Rasa asam yang menyegarkan. Tapi membuat lambungku sedikit perih karena sudah tidak ingat kapan terakhir kalinya aku menelan makanan. Tidurku sedikit terganggu oleh suara teriakan dua orang tadi. Sepertinya akan ada sesuatu yang menunggu kita besok.
Pagi-pagi sekali aku dibangunkan Lary untuk meneruskan perjalanan menyusuri hutan. Sembari jalan, Lary menceritakan tentang kejadian kejar-kejaran antarnya Bright dan dirinya. Bright memang mempunyai badan yang penuh dengan otot. Tapi itu membuat larinya tidak lebih cepat dari Lary. "Dan sepertinya dia menyerah saat sadar sudah tidak bisa mngejarku lagi. Padahal aku ada di dekatnya, bersembunyi."
"Tentu saja hanya badannya yang besar, tapi tidak dengan otaknya." ujarku. Lary mulai tertawa kecil membalas perkataanku. Aku sangat senang dan lega bisa kembali bersama dengan Lary yang kupikir ini akan berlangsung lama. Tapi kenyataan berkata lain. Mungkin karena kecerobohanku yang terlena karena lega akan keberadaan Lary. Tapi itu justru membuatnya makin kesulitan. Tak sengaja aku menginjak jebakan yang menjerat dan membuatku tergantung di atas pohon dengan posisi terbalik. Bright keluar dari persembunyiannya dan memulai baku hantam dengan Lary. Ku pikir Lary pasti bisa mengatasi bright seorang diri kalau tidak karena ada orang lain yang menjadi sekutu barunya. Flicker melempar sebuah pisau besar yang langsung menancap di dada Lary, membuat tubuhnya jatuh terperosok ke dataran yang jauh lebih rendah. Aku sempat memandangi Lary yang terkapar kesakitan sampai akhirnya merasakan sakit karena tubuhku terbanting ke atas tanah. Flicker memotong tali yang mengikat kakiku barusan, sementara Bright sudah bersiap untuk menusukkan pisaunya kepadaku. Dia tertawa, menakut-nakutiku sebelum siap mengakhiri hidupku. Sepertinya dia menjadikanku sebagai sebuah hiburan yang menyenangkan untuk disaksikan. "Bunuh saja aku sekarang." pintaku dengan tegas.
"Jika itu maumu." Bright mengayunkan pisaunya sementara aku mencoba menutup mata, seakan siap menerima kesakitan yang akan ditimbulkan oleh sebilah pisau. Beruntungnya, kini perkataan Khristine sebelum game dimulai terjadi, tanah yang menopang tubuhku longsor akibat tekanan berat di atasnya. Tubuhku terhempas, jatuh ke tempat di mana Lary terbaring. Tampaknya nasib baik sedang berpihak kepada orang terlemah disini, yaitu aku. Cukup jauh jarak antaraku dan Bright. Kulihat wajah Bright muncul sesekali dari balik dataran di atas sana sebelum akhirnya menghilang. 'Semoga keberuntungan akan selalu berada dipihak ku' bisikku pelan. Kenyataannya, keberuntungan tidak selamanya memberikan nasib baik. Sembari berbaring, ku rasakan semua bagian dari tubuhku yang sekiranya mendapatkan cidera. Hampir seluruh badan terasa sakit dan perih akibat luka yang dihasilkan oleh goresan ranting-ranting pohon saat terjatuh. Dapat kurasakan pula memar yang sepertinya menghiasi bagian punggungku, tapi itu semua bukanlah hal besar. Baru kurasakan ada hal aneh saat hendak mencoba untuk berdiri. Keberadaan tangan kiriku tak bisa ku rasakan, padahal aku masih melihatnya menempel pada tubuhku. Tampaknya hanya sekedar mati rasa. Syukurlah tidak ada luka yang menyebabkan pendarahan. Berbicara tentang pendarahan, keberadaan Lary yang sedang kritis hampir saja terlupakan. Ku bangunkan dengan paksa tubuhku, berbalik dan langsung berlari ke arah Lary. Tampaknya Lary telah mencabut pisau yang mencap pada tubuhnya seorang diri, tapi itu membuat lukanya terus-menerus mengeluarkan darah.
Ini pertama kalinya aku menyaksikan darah sebanyak itu secara langsung, dan membuatku sangat pusing. Badanku yang sempoyongan kusandarkan pada pohon yang terdekat, supaya tidak ambruk ke tanah. Aku benci harus memandangi Lary yang tampak tenang seakan tidak berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia hanya tersenyum saat melihatku. Tanpa membalas senyumannya, dan tanpa berkata apapun, badanku mulai bergerak spontan, mencari cara untuk menghentikan pendarahan, sedangkan pikiraku terus-menerus berkata bahwa Lary tidak akan bisa diselamatkan lagi. Kubuang jauh-jauh pikiran yang semakin membuat air mata ini tak berhenti mengalir. Dengan tangan kiri yang terluntang-lantung, ku ambil banyak sekali lumut untuk dijadikan penyumbat bagi luka Lary yang masih belum berhenti memuntahkan darah. Suara Lary yang bercampur dengan rintihan kesakitan memanggil-manggil namaku, namun semua kuabaikan.
Beberapa menit telah berlalu, saat ku mulai putus asa karena pancuran darah pada tubuh Lary masih mengalir deras, sama derasnya dengan air mataku. 'Ayo berhenti!' gumamanku bergantian dengan Lary yang masih terus berusaha menarik perhatianku. Hingga sepertinya dia tak sabar dan menarik paksa tanganku dengan sisa tenaga miliknya. "Hentikan! Perbuatanmu membuatku semakin merasa tidak tenang!" bentaknya. Lary melepaskan genggamannya pada tanganku dan menarik nafas panjang. Wajahnya yang pucat, dahinya yang mengerut, nafasnya yang tersengal serta butiran keringat yang berjatuhan semakin menggambarkan betapa tersiksanya dia saat ini. Sesaat ku tundukan wajahku sebelum akhirnya kuangkat dengan membubuhi sedikit senyuman di sana. "Maafkan aku Lary. Sejak awal aku hanya bisa membuatmu cemas. Bahkan saat aku ingin membantumu malah menambah kecemasanmu." aku tertawa garing. "Kamu tidak perlu khawatir, aku lebih tanggung dari yang kamu kira, hanya saja debu-debu di hutan ini selalu membuat mataku perih hingga mengeluarkan air mata." tambahku sembari menghapus air mata di pipiku. "Kamu percaya kan?" seakan ku memaksa agar dia menjawab ya.
Lary tertawa lalu menjawab, "Iya aku percaya." tangan kanannya membelai rambutku yang berada di sisi kanannya. Mendorong kepalaku perlahan hingga keningku berada dekat dengan bibirnya yang sedikit gemetar. Kurasakan kelembutan bibir Lary yang kini meninggalkan kehangatan di keningku. Maaf Lary, aku tidak memiliki kata-kata indah yang bisa menggambarkan apa yang kurasa. Kecupannya terasa bagaikan morfin yang langsung memberikan ketenangan. Kurebahkan tubuhku di sebelah Lary dan menyandarkan kepalaku di dadanya, sementara tangan kanan Lary merangkulku. Suara degupan jantung Lary saat ini berubah menjadi alunan musik indah dalam telinga, yang perlahan makin mengecil, melemah, hingga akhirnya hilang.
