[Minggu, 12 Agustus 2018, 7.35 PM]
Setelah update LEMBAR KEEMPAT pagi tadi, saya ngerasa gak nyaman karena bab ini saya enggak edit dulu. Awalnya saya mau edit besok setelah balik dari kampus, taunya saya baca sekilas, langsung mendadak mual karena begitu banyak bagian yang cacat XD.
Saya orangnya perfeksionis, apalagi masalah diksi/gaya bahasa. Jadinya kalau gak edit betul-betul, saya gak tenang.
Maka saya edit lagi bab ini untuk diksi dan kerapian penulisan. Isi cerita gak ada yang berubah, tapi ada banyak kalimat dan paragraf yang saya edit/ubah penulisannya. Tapi isi tetep sama, gak ada yang berubah.
Saya minta maaf, ini kesalahan saya. Lain kali saya bakal edit sebelum update.
Silakan bagi teman-teman yang mau baca ulang. Saya jamin bab ini sekarang lebih enak dibaca 3
Enjoy!
LEMBAR KEEMPAT
Jika ada yang bisa mendefinisikan suasana malam ini, maka tanyakanlah pada jangkrik dalam semak dan tupai di atas pohon. Mereka meringkuk bersembunyi, menghindari dari pohon yang menghembuskan udara dingin lewat pori-pori. Membekukan apapun, bahkan cahaya kuning Sang Dewi.
Namun, lain halnya dengan manusia ini. Ia melawan sunyi, memantik api. Bertengkar hebat dengan belukar lebat sejauh mata memandang. Bukan hanya itu, hewan-hewan hutan ikut lari ketakutan ketika mata parang saling tebas membabi buta. Seolah-olah satu hutan akan runtuh akibat kekuatannya.
Kageyama tidak peduli. Hidungnya perih sebab menahan dingin, kabut malam hampir membekukan sekujur badan. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah bagaimana memasmi belukar lebat dengan cepat. Mereka tumbuh subur membanjiri sebagian hutan, menutup satu-satunya jalan setapak menuju sungai.
Genap dua jam sudah lelaki itu menebas belukar dan masih tidak muncul tanda-tanda akan berakhir. Kageyama nyaris menjerit frustasi. Ia harus segera menemukan sungai sebelum bulan tenggelam.
Tidak hanya para hewan yang ketakutan. Di belakang sana, Hinata ikut bergidik ngeri menyaksikan Kageyama membasmi belukar bagai menebas perut pendekar. Bunyinya dapat mengundang mimpi buruk
Hinata jalan perlahan sebab kakinya masih sedikit sakit. Lelaki itu tidak pernah meminta bantuan apapun. Bahkan, ia disuruh untuk menjaga jarak sejauh mungkin.
Dikiranya ia bodoh apa. Hinata tahu betul Kageyama tidak ingin diganggu. Padahal, lelaki itu telah membersihkan belukar tanpa henti.
Kageyama kelelahan, ia tahu itu.
Demi itu Hinata berjalan cepat menyusul Kageyama di depan. Rambut lelaki itu basah, peluh membanjiri seluruh tubuhnya.
"Kageyama, kau tampak lelah. Mau kugantikan?"
Kageyama tetap pada fokusnya. Sama sekali tidak terganggu akan kehadiran Hinata. Intensitas tebasan parangnya mulai berkurang, dirasai tubuh ini telah menunjukkan batas. Namun tetap harus cepat, sebab langit sudah menggelap.
Sedangkan Hinata, bersikeras membantu sambil terus menghindar dari belukar yang telah tertebas.
"Aku bisa menggunakan parang. Kau tidak perlu khawatir."
Kageyama melanjutkan pekerjaannya, tidak melirik barang sedikitpun.
"Tidak usah."
"Atau ingin kubawakan ransel itu?"
Buru-buru Hinata merampas ransel punggung lelaki itu tanpa menunggu persetujuan miliknya.
Merasa dirinya tertarik dari bawah, Kageyama sontak menepis. Memasang wajah kesal.
"Oi, apa yang kau lakukan!"
"Biar aku yang membawa ransel itu."
"Kubilang tidak perlu, ya tidak. Lepaskan, bodoh!"
"Aku ingin membantu. Sudah, berikan ransel itu!"
Untuk beberapa saat terjadi tarik menarik antara mereka berdua. Tubuh pendek Hinata terseret ke depan ketika Kageyama menarik lepas ranselnya.
Kageyama memakai kembali ransel itu.
"Dengar." Kali ini, ia sungguhan kesal. "Ransel ini besar dan berat. Dengan kaki seperti itu, apa kau bisa membawanya? Bukan hanya tidak bisa, tapi kau juga akan menambah beban jika luka di kakimu semakin parah. Jika ingin membantu, maka jalanlah yang benar dan jangan mengangguku."
Hinata terdiam, menatap wajah Kageyama yang dipenuhi oleh peluh. Lelaki itu tampak kesal, walau sesungguhnya menaruh sedikit perhatian pada kakinya.
Hinata tidak dapat menahan senyum. Demi melihat lelaki itu yang kembali menebas semak dengan cepat, ia berjalan tertatih-tatih. Tentunya tanpa menganggu Kageyama.
Lagi-lagi lelaki itu menghentikan tebasannya. Hinata tidak dapat melihat jalan sebab keadaan hutan mendadak gelap. Sinar bulan terusir oleh dominasi awan, langit seketika kelam.
Ketika akhirnya Hinata dapat menyamai langkah Kageyama, lelaki itu langsung menyuruhnya diam.
Telunjuk Kageyama berdiri tepat di depan mulut Hinata. "Sstt. Jangan berisik. Dengarkan."
Hinata mengangguk-angguk cepat. Ia pasang telinga untuk menangkap sesuatu, sama seperti yang Kageyama lakukan. Namun tidak terdengar apapun kecuali suara kepak sayap nyamuk dan ribuan derit jangkrik
Akan tetapi setelah beberapa saat, Hinata terkejut ketika akhirnya ia menangkap sebuah bunyi. Mereka terdengar lembut dan menenangkan, berkumpul menjadi kesatuan yang harmoni. Riak air sang melodi hutan.
"Itu suara air."
Kageyama mengangguk. "Benar. Tidak jauh dari sini."
Kageyama mengambil langkah cepat menuju sumber suara. Rupanya, di hadapan telah jalan terbuka tanpa dirambati semak. Lantas mereka segera berlari menyusul suara sungai.
Gugus awan tidak mengusir Dewi Bulan, mereka hanya sekadar lewat untuk menyapa, kemudian berlabuh jauh di sana. Sebab kini, hutan kembali dibanjiri cahayanya. Dan Hinata, menyaksikan sebuah pemadangan yang luar biasa.
Betapa panjang sungai itu. Lika-likunya meliuk liar tak tembus di mata, anggun memunggungi muka hutan timur. Batang-batang pohon tua berbaris rapi, memberikan kesan kagum yang gamang. Sungguh, betapa sang Mahakuasa begitu luas mengukir alam semesta. Yang ada di hadapannya kini hanyalah sebagian kecil saja.
Ini bukan kali pertama bagi Kageyama, sebab ia kerap memancing ikan di sana. Namun di matanya, sungai ini tetap menjadi primadona. Sang Penggoda yang ahli. Kini terhampar luas dalam pemandangan paling menakjubkan.
Hinata sulit bernapas. Merasa nyawanya ikut terbawa arus sungai.
Di tepi itu, mereka akan mendirikan tenda. Menemani Sang Sungai yang melegenda.
"Kita telah sampai, Hinata."
...
Lagi-lagi, ia hanya bisa pasrah duduk diam tanpa melakukan apapun. Sementara di depan, Kageyama tengah sibuk mendirikan tenda. Lelaki itu melarangnya untuk ikut membantu.
Namun, bukan Hinata namanya jika tidak memaksa—dan bawel. Ia bangkit menghampiri Kageyama, membawa sebuah palu dan batang kayu kecil.
Lelaki itu tampak tidak terusik akan kedatangannya. Namun Hinata tetap berusaha menawarkan bantuan.
"Perlu palu dan kayu, Kageyama?"
Dan lagi-lagi, Kageyama tetap tidak menoleh.
"Tidak."
Hinata tidak menyerah.
"Apa ada yang kau butuhkan? Misal, kau butuh parang? Aku bisa mengambil—"
Sontak Hinata terkejut sebab lelaki itu mendadak berdiri, membersihkan kotoran di telapak tangannya.
"Selesai."
Hinata terlonjak kaget. "Hah?"
Kageyama hanya meliriknya sekilas sebelum berlalu. Meninggalkan Hinata yang tengah tercengang menyaksikan tenda besar itu telah berdiri kokoh.
Padahal belum ada sepuluh menit sejak Kageyma mengambil peralatan untuk mendirikan tenda.
"Astaga. Berapa banyak tangan yang dimiliki orang itu," gumam Hinata sendirian. Kepalanya menggeleng-geleng
Ia kagum sampai rasanya lupa berpijak.
"Oi."
Suara berat memanggil namanya dengan tiba-tiba. Hinata tersentak.
"Bisa membuat api unggun?"
Sekonyong-konyong, Kageyama telah berdiri di hadapannya. Berada di jarak sedekat ini sungguh membuat tidak nyaman, Hinata tidak sanggup berlama-lama berada dalam jangkauan mata itu. Sorotnnya selalu tajam menembus pertahanan, ia dibuat tidak berdaya.
"Bisa tidak?" tanya Kageyama lagi.
Terlihat Hinata mengangguk. Kageyama kesal sebab iris cokelat itu dibuang ke samping, menghindari pandangannya.
Kageyama mendengus. Berlalu dari hadapan Hinata.
"Cepat siapkan api. Aku akan menangkap ikan di sungai."
Setelah memastikan Kageyama meninggalkannya, barulah Hinata bisa bernapas lega.
Tadi ia merasa, seolah-olah seluruh tenaga telah terisap oleh kelamnya sorot pemuda itu. Sungguh melelahkan berada dalam jangkauan matanya.
"Mungkin nanti aku akan mulai menjaga jarak dengannya," gumam Hinata.
Untuk membuat api unggun dibutuhkan banyak ranting dan dedaunan kering, serta batu guna memantik api. Setelah terkumpul, Hinata beringsut duduk dan menyusun batang kayu kering, siap menyulut api.
Hinata melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang primitif demi menyulut api: menggosok-gosokkan kedua batu, terus-menerus hingga kedua tangannya terasa pegal. Dan tidak ada yang terjadi kecuali sepasang telapak yang mulai memanas.
Namun api sudah harus muncul sebelum lelaki itu kembali. Atau Hinata akan kembali dimarahi.
"Lebih baik tanganku sakit ketimbang diomeli orang itu."
Maka Hinata menggesek-gesekkan batu lebih cepat. Begitu lama dengan desir membahana sampai rasanya bisa menyaingi orkes nyamuk hutan. Akan tetapi tetap tidak ada sepercik pun api. Bahkan tupai-tupai ikut menatap kasihan padanya.
Saat telah selesai dan kembali ke tenda, Kageyama hanya mendapati bau gosong tanpa sedikitpun api yang melalap tumpukan ranting. Demi itu ia menjatuhkan ikan-ikan hasil tangkapan langsung menghampiri Hinata.
Kageyama melihat bocah kuning itu tengah berkutat serius dengan batu di tangan, sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
"Apa yang bocah itu lakukan."
Kageyama sudah hendak menyerukan keluhannya ketika tanpa sengaja ia melihat jejari bocah itu tampak robek dan berdarah.
Kageyama terkejut. Sebab Hinata tetap berusaha menggosok batu-batu walau tangannya terluka.
"Oi. Jangan bilang kau tidak bisa menyalakan api."
Seketika Hinata tersentak mendengar suara seseorang tiba-tiba menyala di belakangnya.
Kageyama telah berdiri di hadapannya. Hinata mendongak, merasai tatapan dingin yang mampu menembus ulu hatinya.
Udara malam memang begitu dingin. Namun bagi Hinata, tidak ada yang lebih dingin dari sorot mata kelam itu. Sungguhan membuat tubuh menggigil.
"Kau bilang bisa membuat api unggun."
Ucapan Kageyama tidak dijawabnya. Hinata meringkuk dalam diam.
"Aku menyuruhmu menyalakan api agar kita bisa segera makan. Ikan-ikan ini sudah siap bakar."
Mendengar itu, Hinata semakin dibuat menunduk.
"Berapa lama kau menggosok batu itu?"
Dengan sejumput keberanian, Hinata tarik suara walau belum sanggup membalas kembali tatapannya. "Sejak kau pergi ke sungai."
Kageyama membulatkan mata.
Selama itu?
"Bodoh."
Tanpa aba-aba Kageyama merampas batu dari tangan Hinata, lalu duduk di sampingnya. Dalam satu tarikan, lelaki itu menggesek batu dan seketika api muncul, jatuh membakar reranting kering.
Hinata melongo. Hanya sedetik—tidak, setengah detik dan kini di hadapannya telah tersaji kobaran api yang besar. Dilihatnya Kageyama meletakkan beberapa ikan di atas sana, menunggu hingga masak.
Lelaki ini memang sungguh penuh dengan kejutan, pikir Hinata takjub.
...
Hinata diperintahkan oleh Kageyama untuk membereskan sisa-sisa pembakaran. Setelah selesai, ia tidak membuang tulang-tulang ikan sebab di sekelilingnya telah berjejer anak-anak kucing yang begitu lucu.
Dengan telaten, Hinata memberi makan mereka.
"Hanya ada tulang, tidak apa-apa kah?"
Pertanyaannya dijawab oleh suara-suara mungil yang keluar dari mulut mungil makhluk manis itu. Hinata kegirangan sendiri mendengarnya.
"Kalian manis sekali. Sini peluk."
Tidak jauh dari sini Kageyama tengah duduk bersantai. Melihat dari kejauhan, ia mendengus melihat betapa kucing-kucing itu mirip sekali dengan Hinata. Mereka kecil, bulat, cerewet.
Bahkan salah satu diantara mereka berbulu oranye.
Mendadak, muncul niat untuk menggoda bocah oranye itu.
"Jangan hanya beri mereka tulang. Tangkap ikan-ikan di sungai jika kau memang ibu yang baik."
Hinata menoleh ke arah Kageyama.
"Aku tidak pandai mengangkap ikan. Dan—hei, siapa yang kau maksud ibu?"
Kageyama berdengus meremehkan. "Bodoh. Mengangkap ikan saja tidak bisa. Berani-beraninya mengelilingi dunia demi mencari legenda."
Hinata tidak tahan. Dilepaskannya kucing-kucing itu, lalu bersungut-sungut ia menghampiri Kageyama.
Melihat itu, Kageyama hanya tersenyum mengejek.
"Apa? Tidak terima?"
Hinata berdiri di hadapan Kageyama.
"Dipikir hanya kau saja yang bisa menangkap ikan? Aku juga bisa."
"Barusan kau bilang tidak pandai menangkap ikan," jawab Kageyama sambil mendengus.
"Menangkap ikan hanya perihal keberuntungan. Jangan besar kepala dulu, Bakageyama."
"Aku bahkan bisa lebih hebat dari dirimu," sambung Hinata.
"Benarkah?" Kageyama melirik perban yang meliliti kaki Hinata. "Dengan kaki seperti itu?"
Hinata membusungkan dadanya. "Benar. Dengan kaki seperti ini."
"Sepuluh kali lipat."
Hinata tersentak. "Apa?"
Kageyama mendongakkan kepalanya, balas menatap Hinata.
"Tangkap sepuluh kali lipat dari jumlah ikanku tadi. Maka aku akan mengakuimu."
Hinata menelan ludah.
"S-sepuluh kali lipat?"
"Benar, sepuluh kali lipat," jawab Kageyama.
Hinata hampir tersedak ludahnya sendiri. Sepuluh kali lipat, berarti lima puluh ikan harus ia dapatkan. Jangankan lima puluh, seumur hidup Hinata bahkan belum pernah memancing!
Demi itu ia merasa keringat dingin telah membanjiri tengkuknya.
"Kenapa? Tidak sanggup?"
Ia menangkap semburat wajah mengejek dari lelaki itu. Namun alih-alih takut, Hinata semakin bersemangat melihatnya. Tidak akan ia biarkan Kageyama semakin menganggap lemah dirinya.
Maka dari itu Hinata membusungkan dada. Menunjukkan sisi keberanian yang dimilikinya.
"Sanggup. Akan kutangkap ikan sepuluh kali lebih banyak dari dirimu. Atau kalau perlu, dua kali lipat!"
Kageyama menyeringai senang.
"Setuju."
"Persiapkan dirimu, Tuan menyebalkan. Sebab besok kau akan melihat tepian sungai dibanjiri oleh ikan-ikan tangkapanku!"
"Anak manis. Kutunggu tangkapanmu."
Tanpa aling-aling Hinata berlalu dari hadapan lelaki. Ia torehkan wajah menuh persaingan agar Kageyama menganggap serius dirinya.
Setelah jauh, baru ia lepas napas yang tadi sempat tertahan.
"Mengerikan. Hidoi no yatsu."
Setidaknya, ia telah berhasil menantang Kageyama, walau sesungguhnya dalam hati komat kamit merapal doa. Yang harus segera dipikirkan saat ini adalah bagaimana caranya mendapatkan ikan dalam jumlah banyak.
Sungai itu walau tidak begitu luas, namun sangat panjang. Walau berarus tenang, airnya sungguh dingin. Diam-diam Hinata merutuki dalam hati. Mengapa ia begitu mudah tersulut emosi.
...
Tidur selama beberapa jam sudah cukup untuknya menuntaskan kebutuhan istirahat dalam sehari. Tidak lama setelah suara kawanan ayam jantan membahana, Kageyama bangun guna mencuci muka.
Kageyama sedikit tertegun melihat itu. Tidak seperti biasanya arus sungai pagi ini lumayan deras, bahkan dari kejauhan nampak bergelombang-gelombang. Demi itu ia berjalan menuju ke sana, untuk melihat lebih dekat dan sedikit membasuh badan.
Namun matanya menyaksikan kejadian pelik. Pasalnya arus sungai itu semakin dekat tampak semakin besar.
Dan betapa terkejutnya ia ketika sadar bahwa gelombang besar itu bukan sebab aliran sungai, melainkan seseorang tengah tenggelam di dalam sana!
"Bodoh! Bagaimana bisa ada orang tenggelam sepagi ini."
Tanpa aba-aba Kageyama menghambur lari secepat mungkin. Hutan masih dini hari dan air sungai pastilah begitu dingin. Siapapun orang itu, jika tidak mati kehabisan napas maka ia akan tewas dengann sekujur tubuh membeku.
Baru saja Kageyama hendak menceburkan diri ke sungai, matanya kembali dihujam oleh pemandangan yang menusuk dada. Ia membeku di tempat, tidak dapat mempercayai matanya sendiri.
Awalnya, Kageyama sempat berpikir itu semacam anak harimau. Namun, gelap langit memberi jelas pada wujud di dalam sungai berair jernih.
Kageyama familier dengan kilauan itu. Bagaimana mereka menari-nari dalam tubuh pemiliknya, bagai sebuah lajur cahaya hidup. Ia tidak akan lupa ketika seolah-olah seluruh alam semesta meredupkan sinarnya, dan hanya binar oranye itu yang bercahaya.
Seketika lajur cahaya itu berubah, serupa bara api merah dalam kelamnya lautan. Hinata tampak damai di dasar sungai, pergerakan tubuhnya indah dan teratur. Ia terpejam, seperti tengah menari-nari dengan wajah tersenyum damai.
Dan Kageyama bersumpah menyaksikan air di sekeliling Hinata berubah mendidih bagai telah tersentuh lidah api. Benar. Cahaya pada tubuh bocah itulah yang telah memanaskannya.
Untuk kesekian kalinya, Kageyama lupa cara bernapas.
Dini hari ini, seluruh hutan seakan-akan kompak senyap. Menghormati bocah oranye yang menenggelamkan diri di sungai, riang mengikuti arusnya.
Hinata berbalik, Kageyama tercekat di tempat.
Iris itu menyala bagai kobaran api, perlahan melepas kelopaknya, membulat ketika mendapati Kageyama. Hinata terkejut. Lalu seketika, cahaya-cahaya itu redup. Satu persatu padam, menyisakan perut sungai yang kelam.
Tidak ada lagi bocah ajaib dengan nyala cahaya hidup bagai mengisi seluruh urat nadinya. Kini, yang ada hanyalah Hinata. Pemilik surai jingga, pencari Sang Legenda.
Bocah oranye itu berenang ke tepian. Beringsut menghampiri Kageyama
"Apa yang kau lakukan? Sudah berapa lama di sini?"
Kageyama masih membeku. Iris kelam bergerak perlahan membalas wajah itu. Ia belum sanggup mengucap kata apapun.
Melihat lelaki itu bungkam, tidak urung membuat Hinata heran.
"Kau kenapa? Masih ngantuk?"
Butuh beberapa saat bagi Kageyama untuk mengumpulkan nyawa. Seakan-akan, rohnya telah ikut meredup bersamaan cahaya-cahaya tadi.
"Apa itu?"
Hinata memiringkan kepala mendengarnya. "Hah?"
"Tadi. Di dalam sungai. Dirimu. Apa yang terjadi?"
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya. "Um, aku menangkap ikan."
Kageyama menggelengkan kepala. "Bukan. Cahaya itu."
Hinata mengerutkan alisnya.
"Cahaya apa?"
"Kau tidak tahu?"
"Tahu apa?" tanya Hinata balik.
Ini terjadi lagi, pikir Kageyama.
Lajur-lajur cahaya itu kembali hadir dan Hinata sama sekali tidak menyadarinya. Padahal, ia melihat begitu jelas. Air sungai mendidih beserta gelembung yang amat banyak, dan bocah itu dengan wujud ajaibnya tenggelam di dasar sungai.
Apa Hinata tidak merasa kepanasan?
Lelaki itu masih berkutat dengan pikirannya ketika Hinata berlari ke sebuah pohon dekat sungai. Benda beralaskan sesuatu yang besar ia tarik dengan susah payah, lalu berhenti untuk memperlihatkan pada Kageyama.
"Jumlahnya tiga ratus delapan. Aku yakin seluruh ikan yang ada di bagian sungai ini telah kutangkap."
Mendengarnya, Kageyama sampai hampir tersedak.
"Hah?"
Hinata menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Aku menang darimu, Kageyama."
...
Kageyama hanya dapat memandangi ikan-ikan yang menumpuk bagaikan gunung. Sebagian besar telah mati tertindih dan sisanya menggelepar-gelepar di tanah. Di sekelilingnya telah berubah menjadi lautan ikan.
"Bagaimana bocah itu bisa menangkap ikan sebanyak ini?"
Bagaimanapun, Kageyama sampai lemas dibuatnya.
Selepas berganti pakaian, Hinata menyusul Kageyama yang tengah duduk di dekat sungai.
Baru saja Hinata ingin duduk di samping Kageyama, lelaki itu telah lebih dulu menghujamnya dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Kau berhutang satu penjelasan padaku. Bagaimana kau bisa mendapatkan semua ikan ini?"
Seperti biasanya, Hinata tidak mampu berlama-lama beradu pandangan dengan iris Kageyama.
Hinata berdeham, mengalihkan pandangannya ke samping. "Itu mudah. Aku hanya perlu menyelam, dan ikan-ikan itu dengan sendirinya menghampiriku."
Itu adalah penjelasan yang logis jika tahu penyebabnya. Sebab ikan-ikan tertarik pada cahaya di malam hari.
Masalahnya, bocah ini sama sekali tidak mengetahui tentang cahaya gaib yang bersemayam di dalam tubuhnya. Bodoh tidak tanggung-tanggung.
Entah apa yang ada di dalam kepala oranye itu.
"Kau bodoh sampai ke sumsum tulang belakang."
Hinata menoleh. "Apa?"
"Lupakan."
Hinata duduk di samping Kageyama, terdiam memikirkan sesuatu. Sejak bertemu di tepi sungai tadi, lelaki sama sekali belum mengatakan apapun untuk ikan-ikan tangkapannya. Kageyama lebih banyak diam, termenung, dan sesekali mengumpat.
Padahal Hinata telah berkerja keras demi mengangkap ikan-ikan itu.
Hinata menunduk sambil memanyunkan bibir.
"Tidakkah ada yang mau kau katakan padaku?"
Kageyama melirik ke samping. "Katakan apa?"
"Kau sejak tadi tidak berbicara apapun."
Kageyama mendengus. "Itu sebab kau bodoh."
Hinata bersungut mendengarnya. "Apa katamu?"
Ia baru hendak protes ketika Kageyama mendadak bangkit berdiri. Melangkah pelan lalu berjongkok tepat di didepannya.
Lelaki itu memajukan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka. Dengan kedekatan seperti ini, Hinata dapat merasakan hembusan napas hangat Kageyama.
Hinata mendadak senewen. Tangannya seketika terjangkit tremor.
"Aku akui. Kau menang dariku, Hinata."
Kageyama menatap Hinata dengan intens, menyaksikan berbagai perubahan ekspresi pada wajah kekanakan itu.
Jika diperhatikan, bocah itu memiliki rona wajah yang cantik. Garis muka halus, seperti gadis manis pada umumnya.
Satu yang baru Kageyama sadari: Hinata memiliki bulu mata yang lentik.
Sadar dirinya tengah diamati begitu dekat, Hinata hanya mampu mengangguk dengan kepala sepenuhnya tertunduk. Disaat-saat seperti inilah ia merasa seperti telah ditelanjangi bulat-bulat.
"Lain waktu, ajari aku menangkap ikan sepertimu."
Hinata mendongak, menyaksikan lelaki itu bangkit meninggalkan dirinya.
Sekilas, Hinata sempat menangkap Kageyama mengulas senyum. Tipis, sangat tipis. Namun begitu jelas. Sebab senyum itu ditujukan kepadanya.
Perasaan hangat membumbung tinggi memenuhi rongga hatinya. Untuk kali pertama sejak bertemu di hutan waktu lalu, Hinata mendapati wajah Kageyama begitu tenang. Tersenyum untuknya.
Jika keinginan dapat terwujud, ia ingin menggapai hati lelaki itu. Walau hanya sekali saja.
TBC
