YOZORA AGEHA:
Yeah! Akhirnya aku bisa menge-post chaptaa 4! Semestinya aku bisa melakukannya tanggal 21 Juni kemarin, tapi gara-gara ada masalah dengan modem Speedy-nya, aku jadi harus menunggu hingga sekarang… D:
And now, on with the chaptaa. Selamat membaca! :3
PS: Ingin menemukan banyak doujin Naruto yang keren? Lihat pojok advertisement di profilku. ;3 Dan add aku di FS, ya! :D
A STORY BEFORE BEDTIME
"Ceritakanlah padaku kesedihanmu"
A Naruto fanfiction
--
A Story Before Bedtime © Yozora Ageha
Naruto © Kishimoto Masashi
--
Chaptaa 4: Sandiwara
"I know we said goodbye
Anything else would've been confused
But I wanna see you again"
Sand In My Shoes, Dido
Sasuke merasa lebih baik begitu bangun tidur keesokan paginya. Tidurnya nyenyak, sekali lagi dia tidak bangun pagi-pagi benar—sudah pukul 8. Denging sakit kepala tidak menyambutnya. Hawa dingin menggidikkan hilang disapu hangatnya sinar matahari di luar. Dia menaruh telapak tangannya di muka: panasnya juga hilang. Kemudian dia menuruni kasur dan membuka lemari baju. Dia melihat cermin di balik pintu lemari. Wajahnya tidak lagi merah padam.
Mungkin terlalu cepat untuk terjadi, tapi… keajaiban—dia sembuh hanya dalam sehari. Tidak sembuh total, sebenarnya, karena kelihatannya tenaganya hanya cukup untuk digunakan jalan-jalan dan melempar benda seperti kunai.
Yang pasti, terima kasih kepada Sachirio Karen, dia tak perlu berbaring seharian penuh. Dia penasaran kalau makan malamnyalah penyebabnya. Apa sebenarnya yang dimasukkan anak itu ke dalam buburnya? Sasuke bertanya-tanya.
Sasuke mencium bau sengit datang dari pakaiannya. Wajar saja, cucuran keringat membasahi pakaiannya kemarin dan dia tidak menggantinya. Dia mengambil sepasang pakaian baru dan ikat kepalanya, membawanya ke kamar mandi. Sambil berlama-lama berendam dalam sebak air hangat, dia memutuskan akan menghabiskan pagi dengan berkeliling desa, sekalian ke kedai yang buka untuk sarapan, dan pulangnya mampir ke supermarket, membeli stok bahan makanan. Tidak akan buruk kalau makan siang dan makan malamnya dibuat sendiri.
Seusai mandi dan berpakaian, dia mengambil dompetnya dari laci, lalu menengoki dapur ketika berjalan ke pintu depan. Karen benar-benar telah membersihkan peralatan dapurnya—semuanya berjejer mengilap di sepanjang konter.
Burung-burung kecil di halaman rumah terbang pergi begitu Sasuke membuka pintu. Dia mengunci pintu sebelum keluar dari kediaman klan Uchiha.
Cuaca hari ini berkebalikan dari cuaca kemarin lusa. Langit biru cerah, nyaris tak berawan. Sasuke berharap siang nanti matahari tidak berpendar terik bagaikan di tengah dataran kering. Penduduk desa sibuk berkeliaran kesana-kemari, tergopoh-gopoh memanggul satu rak botol sake, bersahut-sahut mempromosikan daging sapi dagangan, berpapasan dengan kenalan, dan sebagainya. Sasuke masuk ke restoran mie, duduk di meja dekat pojokan, memesan mie goreng dan teh hangat.
"Hoh? Ternyata memang Sasuke, ya."
Sasuke mendelik cuek dua orang Kiba yang berjalan ke mejanya ketika dia menunggu pesanan. "Mau apa kamu?"
Tanpa bertanya, Kiba duduk di bangku seberang Sasuke. Akamaru dalam wujud Kiba duduk di sebelahnya, ekor putihnya yang pendek terkibas-kibas di belakang, membuat pelanggan lain memandangnya curiga. Sasuke tidak peduli keduanya duduk semeja dengannya selama Kiba tidak semenyebalkan Naruto, dan selama Akamaru menjaga tingkah lakunya sebagai anjing ninja.
"Hari cerah begini malah ketus begitu. Kamu itu memang benar-benar, deh," kata Kiba, kedua tangan di belakang kepala. "Hari ini Kurenai-sensei dikirim ke luar desa bareng Asuma-sensei, jadi kelompokku tidak ada misi. Karena janjiku latihan sama Shino dan Hinata baru jam 10 nanti, aku mampir makan dulu di sini habis ngitarin seisi desa sama Akamaru. Tak disangka kamu juga makan makan di sini. Waktu jam segini, lagi. Tidak biasanya…"
Sasuke tak menanggapinya. Sikunya di atas meja, jari-jari bertaut di depan hidungnya. Lama-kelamaan matanya terpejam, tenggelam dalam dunia heningnya.
Dia mendengar Kiba menggumamkan sesuatu tentang dirinya yang membosankan, kemudian berseru memanggil pelayan dan memesan dua mie udon untuknya dan Akamaru. Sasuke membayangkan Akamaru dalam wujud Kiba makan menggunakan sumpit (dia tidak heran Akamaru bisa makan sesuatu selain daging. Dia pernah melihatnya menyerbu keripik kentang Chouji), tetapi tidak kelihatan luar biasa karena Akamaru sedang dalam wujud manusia. Mungkin Akamaru sudah terlatih menggunakannya, atau Kiba akan menyuapinya…
Nanti juga tahu bagaimana, batin Sasuke.
Sasuke mempertahankan matanya tertutup ketika Kiba memanggilnya.
"Kudengar dari Naruto kemarin, katanya kamu kena demam. Memangnya kamu sudah sembuh sekarang?" kata Kiba.
"Ya. Lalu kenapa?"
"Katanya ada anak cewek dari akademi tahun keenam menawarkan diri buat merawatmu. Aku tidak tahu kalau kamu kenal dekat cewek selain Sakura. Memangnya dia siapanya kamu, nih?" Suara Kiba kedengaran tertarik.
"… Bukan siapa-siapa," Sasuke meyakin-yakinkan ucapannya. Dia jadi tahu Karen itu murid tahun keenam di akademi berkat perkataan Kiba barusan. Tapi, tidak penting.
Tapi memang benar kan Karen itu hanya orang lain, bukan siapa-siapa yang bergerumul dalam setiap lembar kehidupannya? Sasuke baru sehari mengenalnya. Dan alasan kenapa anak itu merawatnya karena dia terlalu peduli—bukankan itu yang dikatakannya sendiri? Sasuke tidak meminta apa-apa darinya, meskipun terima kasih sekali untuk bubur semalam dan telah membersihkan semua peralatan dapur.
"Ketahuan banget bohongnya, tahu. Kalau orang numpang lewat yang merawatmu, paling-paling kamu masih tengkurap di rumah. Apalagi kalau itu penggemarmu, kondisimu bisa lebih parah lagi. Pasti tuh cewek siapa-siapanya kamu," Kiba mendesaknya. Dia kelihatan serius sejenak sebelum raut mukanya berubah seperti menemukan nyamuk melintas di depannya. "Atau jangan-jangan…"
Membuka mata, Sasuke menatap tajam kelingking Kiba yang tahu-tahu melambai di dekat hidungnya, pemiliknya menyengir jail. "Apa?"
"Jangan-jangan cewek itu pacarmu, lagi; merawatmu sepenuh hati dengan kekuatan cinta." Cengiran Kiba makin lebar.
Kening Sasuke mengerut, kemudian berkata dengan nada geli, "Kaupikir aku punya waktu ikut-ikutan melakukan hal bodoh seperti itu? Yang benar saja."
"Mau bagaimana lagi. Kan ajaib banget, sakit baru sehari dan langsung sembuh besoknya. Pasti ada yang mempengaruhi." Kiba mundur dan duduk bersilang kaki, lengan bersedekap.
Dan Sasuke sendiri menduga buburnyalah yang mempengaruhinya.
"Pokoknya bocah itu cuma memastikan aku tetap di kasur seharian, titik," katanya, setengah berbohong.
"Oke, oke kalau itu katamu. Tapi, yah, kalau boleh tahu, siapa namanya?" tanya Kiba.
"Sachirio Karen."
"Namanya manis. Apa orangnya manis juga? Cantik? Imut?" tanyanya lagi, kentara semakin tertarik.
"Standar," kata Sasuke, namun tidak menjelaskan lebih jauh.
Kiba terkekeh. "Buat orang yang tak niat cari cewek kayak kamu, sih, cewek mana pun dianggap standar semua."
"Sudah tahu itu, kenapa masih tanya pendapatku?"
"Mungkin saja lidahmu bakal kepeleset bilang 'cantik' waktu membayangkan si Karen itu," kata Kiba jail, memamerkan sederetan giginya. Badannya bergetar hebat menahan tawa ketika alis Sasuke bercedut tiga kali. Dikiranya tampang Sasuke masam karena jengkel, padahal sebenarnya tidak.
Kecantikan Karen benar-benar standar; sama standar dengan Sakura, sama standar dengan Ino, sama standar dengan perempuan mana saja yang pernah dilihat Sasuke. Kemolekan tubuhnya juga tidak bernilai lebih dari angka 5, mengingat dia masih anak-anak serta, saat bertemu Sasuke, dia mengenakan celana pendek hitam dan baju merah krim kebesaran berlengan kepanjangan yang menyembunyikan bentuk tubuhnya. Lagi pula, Karen bukanlah bubur buatannya, yang mampu menembus nafsu makan rendah orang sakit, dan yang pertama kali berhasil mempelesetkan lidah seorang Uchiha Sasuke.
Sasuke benci teringat fakta itu.
"Memangnya kamu berniat menjadikannya pacarmu?" Dia mengalihkan topik, berharap Kiba segera berhenti memukul-mukuli meja, menarik perhatian orang-orang di restoran. Kiba menyisakan tawanya dalam kekehan pelan, mengelap setitik air di ujung matanya.
"Kalau ceweknya memang cakep, sih, boleh-boleh saja dia jadi kandidat cewek incaranku. Tak ada salahnya, kan?" katanya, tersenyum meyakinkan. Bahunya berkedik.
"Menyedihkan sekali kedengarannya, mengincar bocah yang setahun di bawah…"
"Itu sih biasa, kali. Lihat saja nanti beberapa tahun kemudian, bisa saja tuh cewek jadi cihuy banget buat dijadiin gebetan. Nggak bakal nyesal, dah! Ah, makanannya datang tuh…"
Seorang pelayan menaruh sepiring mie goreng dan segelas teh di depan Sasuke, dua mangkuk mie udon di depan Kiba dan Akamaru, lalu pergi setelah bertanya jika ada pesanan tambahan. Misteri cara makan Akamaru-dalam-wujud-Kiba terpecahkan saat Akamaru mengambil mie dengan sumpitnya.
Setelah selesai makan dan membayar sesuai tagihan masing-masing pesanan, Sasuke berpisah jalan dengan Kiba. Dia tidak menemukan sesuatu yang menarik selama jalan-jalan. Aktivitas penduduk desa berjalan damai seperti biasa, kecuali di sebuah toko baju yang mengadakan obral besar-besaran—para ibu rumah tangga sekitar ribut berebutan berpotong-potong pakaian murah—sampai akhirnya dia berhenti di jalan dekat Gedung Hokage begitu hari menjelang tengah siang.
Akademi Ninja bisa dilihat dari tempatnya sekarang, berhalaman sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Kebanyakan muridnya pasti melirik gelisah ke arah jam dinding yang terdapat di masing-masing kelas, berhalusinasi jarum detiknya berjalan terlalu lambat sampai tiba di pukul 12, waktunya bel jam istirahat berdering.
Sasuke masih sulit percaya Karen juga sedang belajar di sana, di lantai paling atas, tempat kelas tahun keenam terletak. Pola pikirnya yang tak biasa, caranya berbicara… Sasuke jadi penasaran seperti apa Karen saat belajar bersama bocah-bocah berpikiran dangkal di sekelilingnya.
Kemudian sebuah ide menarik muncul. Dia berjalan ke halaman akademi dan memasuki bangunannya. Tak ada salahnya sebentar mengunjungi almamater sendiri, bukan?
Isi bangunan akademi sama sekali tak ada yang berubah. Dindingnya putih bersih dan lantai hijaunya banyak retak di sana-sini. Mading dihiasi gambar coret-coretan hasil karya anak ingusan, membingkai secarik kertas pengumuman di tengahnya.
Sasuke sampai di lantai dua ketika murid-murid dari kelas tahun keempat berlarian ke arahnya, dengan semangat tinggi menuruni tangga menuju halaman, tidak terpikir akibat seandainya jatuh tersandung. Iruka menangkapnya dalam pandangan dan segera saja datang menghampiri.
"Yo, Sasuke!" sapanya, mengangkat buku absen bersampul hijau dalam pegangan. "Sudah lama tidak bertemu, ya. Kudengar dari Kakashi kemarin, katanya kau sakit. Sudah sembuh rupanya?"
"Ya, semacamnya," kata Sasuke. Dalam hati dia bertanya jengkel, siapa saja yang tahu kabar dia sakit. Tak ada perlu teman sekelompoknya menyebarkan berita yang sama ke setiap orang yang berpapasan dengan mereka.
Iruka tertawa bersyukur. "Berita bagus, kalau begitu."
"Trims." Sasuke menggaruki belakang lehernya, lalu menyadari kelas lain belum mengakhiri pelajaran mereka. "Bukannya sekarang masih jam pelajaran?"
"Oh, itu," kata Iruka. "Kelasku sudah selesai diajarkan teori bab empat. Mau meneruskan ke bab selanjutnya, tapi tanggung sebentar lagi jam istirahat. Kamu sendiri ada apa datang kemari? Tumben."
Sasuke berpaling ke anak tangga yang berderet-deret makin naik, memperhatikan tidak ada bayangan orang turun tangga terpeta di dinding di atas, sebelum menjawab, "Tidak, tak ada apa-apa."
"Hah? Tak ada ap—" Iruka tidak menyelesaikan kalimatnya begitu Sasuke menaiki tangga, meninggalkannya seucap, "Dah," dan menghilang di tikungan, menaiki tangga berikutnya. Dia tersenyum maklum, mengenal sikap Sasuke, dan menggelengkan kepala. "Lain kali, kalau datang kemari, ajak Naruto dan Sakura juga! Jangan lupa jaga kesehatanmu, ya? Jangan sampai sakit lagi!"
Meskipun dengan keras suara yang biasa, Sasuke bisa mendengar suara Iruka dari lantai tiga. Dia menghela napas pelan, kemudian naik satu lantai lagi dan memasang arah tatapannya ke depan, menelusuri lorong sampai ke depan pintu berjendela dengan papan berukir tulisan '405' menggantung di sebelahnya. Anak kelas tahun keenam belajar di ruang 405, kalau dia tidak salah ingat.
Derit kapur dan ocehan teori sang guru terdengar sampai ke luar kelas. Sasuke merapat ke dinding di seberang pintu, bergeser ke titik di mana dia bisa melihat meja murid-meja murid yang berjajar semakin-ke-belakang-semakin-naik seperti anak tangga melewati jendela pintu tanpa dipergoki guru yang sedang mengajar. Menyilangkan lengan di depan dada, bola matanya bergerak mencari anak perempuan dengan rambut hitam dikepang longgar, memakai baju merah krim. Dia menemukannya.
Karen duduk di meja ketiga dari depan, sedang menulis cepat sesuatu, lalu mengangkat kepalanya, memandang ke podium dan papan tulis di depan kelas, lalu kembali menulis dan berulang-ulang bolak-balik melakukan hal yang sama. Anak itu kelihatannya giat belajar bila dibandingkan dengan anak-anak lain yang bisa Sasuke lihat dari luar kelas—berpangku tangan dan memandang ke depan dengan tatapan bosan, menguap, tertidur, menyembunyikan kepala di balik buku sejarah, dan diam-diam saling mengobrol menggunakan perantara kertas yang dilipat (diperas) sedemikian rupa. Guru yang sedang mengajar tidak kalah payahnya, batin Sasuke, melihat kondisi memprihatinkan murid-murid yang jelas-jelas bisa dilihat mata telanjang tak diacuhkan sama sekali—berbeda dengan Iruka, yang mungkin sudah lebih dulu menjerit-jerit sampai seisi akademi mendengarnya.
Sasuke agak kecewa mengetahui Karen belajar seperti sosok murid ideal; dikiranya anak itu akan melakukan hal menarik—mempermalukan muka sang guru dengan jawaban sempurna ketika dipinta maju ke depn kelas untuk menjawab pertanyaan, atau bermalas-malasan secara terang-terangan di depan hidung sang guru, sebagaimana jenius yang tak perlu lagi diajari karena sudah hapal semua omong kosong dalam buku di luar otak, seperti halnya Nara Shikamaru si tukang nguap.
Sasuke memejamkan mata sambil menunggu bel istirahat yang berdering tiga menit kemudian. Chuunin-chuunin pengajar ke luar ruangan, mengeluh capek dan bergumam ingin ini-itu sambil mengisi waktu rehat mereka, tidak menyadari keberadaan Sasuke, sementara setiap kelas di akademi langsung bising diisi kebebasan suara para murid, yang beberapanya yang berlari ke luar sama-sama tidak menyadari kehadiran Sasuke saking senangnya bisa bebas.
Karen sedang mengumpulkan buku-buku dan perlengkapan alat tulisnya dan menjejalkannya hati-hati ke dalam tas ketika dua anak perempuan menghampirinya dengan gerakan angkuh ala wannabe-model, salah satunya berkacak pinggang dan yang satunya lagi menggebrak meja di depan Karen, membuat seisi kelas diam tak mengenakkan dalam sekejap, mengarahkan kepala ke sumber suara gebrakan itu. Lonceng berdentang dekat telinga Sasuke—dua anak itu mau melabrak Karen.
Sasuke tersenyum menyeringai, merasakan sesuatu yang menarik muncul di depan matanya. Dia penasaran bagaimana Karen akan melakukan perlawanan. Bersikap tenang dan mengintimidasi kedua pelabraknya dengan kata-kata memojokkan?
"Jangan senang dulu mentang-mentang kamu dapat nilai tertinggi di ujian Teori Taktik, dasar cewek jelek!" Sasuke mendengar suara lantang melengking datang dari anak perempuan berambut cokelat digerai, yang sebelumnya menggebrak meja.
Karen hanya mengerjap santai kepada anak itu.
"Ini—" kata anak berambut cokelat itu geram, menekan selembar kertas lecek ke wajah Karen. "Kamu pikir apa itu!!"
Karen memandangi lama kertas dalam genggamannya dan menjawab dengan wajah serta nada polos, yang Sasuke tahu sebagai topeng untuk mempermainkan orang lain, "Ini hasil ujianmu yang satu-satunya dapat nilai nol di kelas ini."
Sasuke mendenguskan tawa terhadap jawaban berdasarkan skenario sandiwara milik Karen. Anak-anak lain yang menonton pelabrakan akan tertawa hebat seandainya si anak perempuan berambut cokelat tidak memandang sengit ke sepenjuru kelas, sehingga mereka mendekap mulut dan bersuara seperti orang kehabisan napas.
Si anak perempuan berambut cokelat menaruh kedua tangan di pinggul, mencondongkan badan ke Karen.
"Dan apa kamu tahu kenapa nilaiku bisa jelek begitu, Ka-ren-chan?" katanya manis-sinis.
Karen menggeleng perlahan. "Karena kamu mencontekku?"
"TIDAK!" Karen buru-buru mengangkat kertas ujian ke depan muka begitu si anak perempuan berambut cokelat meneriakinya. "Karena semua jawaban yang kamu berikan itu salah! Kau pasti sengaja!"
"Aku tidak pernah berniat begitu," kata Karen, mengintip dari balik kertas. "Bukannya aku sudah bilang kalau aku ragu dengan jawaban yang kuberikan padamu?"
"Ya. Kau. Melakukannya. TAPI!" Si anak perempuan berambut cokelat menekan suaranya. "Semestinya nilaimu sama dengan nilaiku, tahu! Jawabanmu kan sama dengan jawabanku, tapi kenapa aku disalahkan semua sementara punyamu cuma salah dua?!"
"Tidak sama," kata Karen, "jawabanmu tidak sama dengan punyaku… setelah aku mengganti semua jawaban salahku dengan jawaban yang kuyakin benar—"
"Kalau begitu kenapa kamu tidak segera memberitahuku jawaban yang benar?!" teriak si anak perempuan berambut cokelat, menggebrak meja lagi.
"Karena kamu tidak memintanya—"
"Aku sudah beritahu kamu buat memberitahuku kalau sudah menemukan jawaban yang benar! Dasar tolol!"
"Kau tidak pernah bi—"
Si anak perempuan berambut cokelat mencengkeram pundak kanan Karen, memutuskan kalimat anak berkepang korban labrakannya itu. "Berani membantahku dan kau dapat ganjarannya segera!" desisnya.
Sesaat Karen bergeming, namun bukan mematung karena cemas atau takut seperti anak-anak lain di kelas. Kemudian pundaknya turun rileks dan dia menaruh kertas ujian si anak perempuan berambut cokelat di meja. Dia tersenyum.
"Baiklah, aku mengalah. Aku minta maaf sebesar-besarnya," katanya seraya menepuk main-main lengan pelabrak yang mencengkeram pundaknya. Si anak perempuan berambut cokelat makin mengeratkan cengkeramannya, melecekkan lengan baju Karen.
"Kau pikir maaf saja cukup, hah?!" hardiknya.
"Yup." Karen mengangguk. "Karena aku sudah menyiapkan hadiah besar untukmu yang pasti tak akan mau kausia-siakan."
"Tunjukkan kalau kamu tidak banyak omong doang." Si anak perempuan berambut cokelat mendorong pundak Karen kasar-kasar, menjauh, dan melipat lengannya.
Tersenyum makin lebar, tanpa ragu Karen berkata, "Uchiha Sasuke sedang mengawasi kita dari koridor."
Seolah setiap suara di Desa Konoha dimatikan. Tak ada desau angin lewat atau embusan napas kehidupan terdengar ketika itu. Bibir anak-anak di kelas tahun keenam—selain Karen—tertutup rapat seperti dua potong besi yang dilas. Mata melongo mereka praktis tertuju ke sang jenius dari klan Uchiha, Sasuke, yang bisa merasakan serabut ototnya sendiri mengeras. Matanya yang membelalak tak percaya terpatri hanya pada senyum Karen yang penuh makna tak menyenangkan. Pita suaranya serasa ditarik lepas oleh kail pancingan.
Kemudian semuanya terjadi secepat kilat dalam dunia Sasuke. Sinar lampu sinyal bahaya menari-nari dalam kepalanya ketika pekikan senang seluruh anak perempuan di kelas selain Karen menabrak gendang telinganya, dan dia cepat-cepat melarikan diri sebelum terlambat ditangkap kejaran gila-gilaan para penggemarnya. Kepanikannya melindas niatnya bertemu Karen dan, yang menakjubkan, meningkatkan tenaganya sampai ke tingkat mampu menyemburkan bola api raksasa lima kali berturut-turut (semoga tidak hanya selama keadaan darurat datang mengancam keselamatannya, dia berharap).
Sasuke tidak bisa kabur melewati tangga, ada tujuh anak laki-laki sedang duduk-duduk di anak tangganya. Menoleh panik mencari alternatif lain, dia membuka jendela terdekat tanpa banyak perhitungan dan melompat ke hutan kecil akademi yang terhubung langsung dengan hutan lebat yang sering digunakan banyak shinobi sebagai tempat ber-sparring.
Rengekan kecewa para anak perempuan lama-lama tergantikan gemericik aliran air. Sasuke tak sadar sudah berlari cukup jauh dari akademi sampai dia menyadarinya ketika terengah-engah kehabisan tenaga, lalu melempar punggung ke sebatang pohon terdekat dan duduk tersungkur di antara dua akar tebal yang menyembul dari tanah.
Mata terpejam Sasuke membuka, disilaukan garis-garis sinar yang menyelinap melewati celah-celah rimbun dedaunan. Dia mengolengkan kepalanya ke samping dan menemukan seleret permukaan sungai berkilau jernih di kejauhan.
Sekeras apa pun dia berupaya, Sasuke tak bisa menahan darahnya tidak berkumpul di pipi ketika lambung dan ususnya bergerumul, menyanyikan lagu kelaparan yang memalukan. Dia menyalahkan Karen atas kelaparannya. Lebih buruk lagi, dia tak kuasa bergerak dari tempat saking terkuras semua tenaganya, yang berarti dia harus menunggu tenaganya kembali kalau mau bisa pergi membeli pasokan perut.
Kaki kiri Sasuke melipat ke samping dan kaki kanannya menekuk berdiri melewati kaki kirinya. Keningnya bertumpu ke lutut kanan, kelopak matanya turun lemas, menyapu warna lain kecuali kegelapan dari retina.
Ada dua hal mengiming-imingi pikirannya sebelum tenggorokannya lengah mencegah dengkur pelan lepas. Pertama, dia masih benci bubur Karen karena berhasil mempelesetkan lidahnya; kedua, ketidaktahuannya bahwa dirinya terlibat pertunjukan sandiwara Karen dan mendapatkan peran sebagai korban utama. Dia pasti kelihatan menyedihkan sekarang, terjebak di akhir pertunjukan sandiwara secara mengenaskan.
Satu hal lagi bertambah dalam daftar fakta-fakta yang dibencinya.
X x . TO BE CONTINUED…
Kolom curhat: Aku bersenang-senang saat menulis sandiwara Karen sampai-sampai aku nekat menerobos jam 2 dini hari! X3 Hanya membayangkan Karen yang ternyata mengerjai Sasuke dengan sandiwaranya membuat tanganku gatal ingin segera mengetiknya. Soal Akamaru yang berwujud Kiba, aku terinspirasi dari Naruto Shippuuden episode 62. Episodenya seru banget sampai-sampai aku menontonnya berkali-kali! X3
Untuk yang membaca Last Sand in the Hourglass, kalian boleh menghajarku setelah membaca apa yang akan kutulis ini—sepertinya cerita itu akan mengalami hiatus! OH, NO!! DX Aku mau mengedit atau menyuntingnya karena menemukan banyak lubang kesalahan di dalamnya, yang membuat ceritanya takkan berjalan mulus seperti dalam imajinasiku. Auh… TTOTT Saat aku menemukan lubang kesalahan itu, kesenanganku seperti dihisap dengan cara menyakitkan oleh Dementor. -.-; Aku sudah cukup merana mengetahuinya…
Karenanya aku mohon maaf sebesar-besarnya sudah (mau) dua kali mengulang-ulang pembuatan cerita. Beribu maaf dan tolong doakan agar cerita ini tidak bernasib sama. (Karena Last Sand in the Hourglass merupakan salah satu dari lima proyek cerita ber-OC besar yang pernah kupikirkan, mungkin karena itu membuatnya runyam sekali dibuat, terutama karena kesulitanku dalam membuat dialog percakapan dan keparnoanku membuat karakter canon menjadi OOC). Tinju aku… hiks. TT.TT Mohon bersabar, ya? Ya?
Ack!! Hentikan suasana muram—sudah waktunya aku membalas review para pereview tercinta sekalian. :3
Responses:
eye-of-blue: Weh… Karen menakutkan? Semenakutkan apa, tuh? XD
Vic70rZ: Seneng deh dipuji sama kamu. :3 Soal ajarin kamu cara menulis yang bagus, aku tidak bisa—karena tidak tahu cara mengajar, maksudku. Daripada itu, kalau mau belajar cara menulis yang hebat, coba banyak baca berkali-kali novel karya J. K. Rowling, Stephenie Meyer, Neil Gaiman, dan Melissa Bank. Aku bisa begini karena aku sangat sering membaca (dan memelototi) gaya tulisan pada karya mereka berulang kali sampai sobat-sobatku yang melihatku membaca pada teler. ;3 Soal pairing SasuKaren, awalnya aku memperhitungkannya karena aku juga menyukainya, tapi nanti akhirnya jalan ceritanya malah kacau-balau. Jadi aku tidak bisa. Lagi pula, kayaknya ada protes tuh kalau aku pasangin Sasuke sama orang selain Sakura atau Naruto. ;3
raichan as Rhodes: Eh… kayaknya tidak senang ya kalau tak ada romansanya? Sebenarnya aku juga mau sedikit menambahkan bumbu cinta itu di chaptaa mendatang, tapi agak sedikit, dan kebanyakan karena prasangka Sasuke saja yang lebay. :3
Azumi Uchiha: Begitukah, kau tidak menyangka kalau Karen itu murid akademi? Aku sendiri menyangka begitu, karena saat aku menggambar sketsa tokoh Karen, saat aku menggambarnya… Karen seperti anak umur 15. Seandainya aku bisa mengirimnya ke deviantART dan kamu melihatnya, kau pasti akan mengerti maksudku. :3
Panik-kok-di-disko: Karen memang baik, tapi selain itu dia juga sadis. Tahu kan kenapa? ;3
Sora Aburame: Link-nya tidak bekerja, mungkin karena aku mindahin site-nya yang berbahasa Prancis (atau Spanyol?) ke site asli yang berbahasa Jepang. Kau sudah menerima PM dariku, tidak? Eh? 6 Juli itu ultahmu dan Itachi, ya? Lupa aku kalau soal kapan ultah Itachi. Ultah adik pertamaku itu 10 Oktober, lho, sama kayak Naruto. :3 Lidah Sasuke itu kepeleset… bilang saja bubur buatan Karen itu sebagai karma untuknya karena selalu jaim. XD
Zerou: Kalau tindikan di telinga Gaara, kau bisa melihatnya saat kemunculan pertamanya di komik vol. 4. Kalau mau lebih cepat, lihat blog-ku—ada gambar dan keterangannya. Soal bikin novel original, kerangkanya sedang kususun. Dan kalau mengrimnya sih jangan ke situs Blogger, tapi di FictionPress, saudara FanFiction untuk menampung fic original karya sendiri. :3
.hoshi.na-chan.: Aku tidak menyangka ceritaku dibilang keren… (Osh, dalah hati aku menari-nari :3). Tentang candaannya juga, aku tidak tahu ternyata aku bisa bikin… Terharu, deh… TTuTT Untunglah Karen itu tidak kelihatan Mary-sue—aku sendiri sudah muak menemukan banyak fic Inggris yang kebanyakan OC atau karakter canon-nya supersempurna sampai-sampai aku pernah benci Sakura dan Hinata selama tiga bulan. Aku beneran tidak akan membuat SasuOC; perlu berpikir 100 kali kalau mau membuatnya sebelum sempat digebuk penggemar SasuSaku atau SasuNaru. ;3 Untunglah Nachan-san senang sama gambar Gaara karya Fade to Black. Waktu aku yang melihat setiap gambarnya, tenggorokanku sampai sakit gara-gara nahan diri biar tidak jejeritan. :3 Soal Gaara bertindik itu, lihat saja barisan gambar di blog-ku. Dan selain gambar Gaara bertindik, kau akan menemukan satu kejutan lain. ;3
biaaulia: Aku tidak bisa membuka rahasia. Maaf, ya? :3 Soalnya keegoisan privasiku lumayan sebesar andromeda. ;3
Pengumuman! 'Yozora' itu nama marga pen-name-ku, bukan nama depannya! Seperti halnya penulisan nama-nama di Jepang! Ex: Uzumaki Naruto—nama depan di belakang. Begitu. :3 Kan aku sudah memberitahukannya di profilku. Gaddit? ;3
--—So, meet ya at the next chaptaa. See ya!
