ADDICTED

By : Han Kang Woo

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Exo Member, etc

Main Cast : ChanBaek

Genre : Romance, Family

Warning : BL (Boys Love), Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja

Rated : M

The Original Story from me, not plagiat

DLDR

= Happy Reading =

O…O…O…O…O…O…O…O…O

o

o

o

o

Menit menit berlalu dalam kesunyian, akhirnya Chanyeol berdiri dari duduknya dan menarik pelan pergelangan tangan Baekhyun.

"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." kata Chanyeol, dengan nada suara cukup pelan.

"Tapi... Kau belum memberikan jawaban, ya atau tidak." Baekhyun membalas dengan desahan panjang. Si telinga lebar dihadapannya tidak memberikan jawaban.

Hening.

Yang terdengar hanya helaan nafas Chanyeol yang sedikit berat. Matanya memandangi Baekhyun dengan sorot mata sayu dan sulit ditebak.

Masih hening.

"Chanyeol ah, jawab aku. Tolong jawab. Kau juga mencintaiku atau tidak." Baekhyun mengulangi ucapannya. Ada sedikit paksaan dalam suaranya.

Hening lagi.

Chanyeol menghela nafas agak panjang kali ini, setelah itu dia menarik penuh tenaga lengan Baekhyun.

"Ayo pulang. Ini sudah malam." Chanyeol berujar.

"Tapi..."

"Tolonglah. Setelah ini aku akan menjemput ommaku." Chanyeol memotong kalimat Baekhyun. Dia terkesan menghindari dan mengganti topik dengan cepat.

"Baiklah." Baekhyun akhirnya mengangguk, dia ikut dan tidak memaksa Chanyeol lagi.

Kedua namja berbeda tinggi itu masuk kedalam mobil. Ada beberapa yeoja centik nan seksi yg hendak menghampiri mereka, namun gagal, karena Chanyeol dengan cepat menjalankan mobil.

Bruummm.

o

o

o

o

Dalam perjalanan, Chanyeol lebih banyak diam. Hanya matanya yg sesekali melirik singkat kearah Baekhyun. Sedangkan Baekhyun tentu saja juga hanya diam, Namun perasaannya berkecamuk. Ada sedikit penyesalan ketika mengungkapkan perasaannya. Dia tahu itu sangat cepat. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga cinta.

'Semoga Chanyeol tidak membenciku.' Baekhyun membatin, mulutnya sedikit bergerak.

Kembali hening. Hanya deru mesin dan hembusan sangat pelan AC mobil milik Chanyeol yang terdengar.

Baekhyun galau bukan main. Dia sangat takut jika Chanyeol membencinya. Lebih lebih jika nanti malah namja yg sudah berhubungan badan dengannya itu memusuhinya. Oh my god.

Dengan cepat Chanyeol menghentikan mobilnya ditempat yang sama beberapa hari yang lalu saat mengantar Baekhyun. Suasana disekitar mereka sangat gelap dan sangat jarang yang melintas.

Chanyeol membuka pintu dengan hanya memencet tombol dekat kemudi mobilnya. Pintu mobil yang ada disamping Baekhyun perlahan terbuka.

"Terima kasih karena sudah mengantarku." cicit Baekhyun, nyaris tak terdengar.

"Sama sama." Chanyeol menimpali, dengan senyuman yang agak dipaksakan.

Baekhyun memandangi Chanyeol sepersekian menit, lalu kemudian namja itu turun dengan gerakan sangat pelan, mirip gerakan pengantin baru yang ada di sinetron.

"Ah, tunggu." Chanyeol tiba tiba berucap. Dan hal itu membuat Baekhyun kaget.

"Ada apa?" Baekhyun menoleh, posisinya sekarang sudah dipinggiran jalan.

"Ini ada sedikit uang. Ambillah." Chanyeol menyodorkan beberapa lembar uang won baru kearah Baekhyun. Uang itu diambilnya dari dompet dengan gerakan secepat kilat.

"Maaf, terima kasih. Tapi aku tidak bisa menerimanya." Baekhyun lekas menolak tanpa pikir panjang.

"Tolong ambil." paksa Chanyeol.

"Aku tidak bisa."

"Ambillah..."

"Jika kau anggap aku namja bayaran, maka kau salah. Aku melakukan semua tadi atas keinginanku dan bukan karena uang dan aku..."

"Ini bukan uang bayaran untuk itu Baekhyun. Ini murni dariku. Aku ikhlas memberikannya sebagai seorang sahabat." Chanyeol cepat cepat memotong ucapan Baekhyun yang dirasanya salah paham.

Hening.

Baekhyun bagai tertusuk bilah pisau saat mendengar kata sahabat, dia tentu saja ingin lebih dari sahabat. Hatinya perih dan pedih.

"Tolong ambil."

"Tapi aku bukan pengemis." Baekhyun masih kekeuh menolak.

"Akhh, ok. Baiklah. Begini saja aku akan membeli semua minuman bachusmu. Bagaimana?" kata Chanyeol, dia tidak kehabisan akal.

Baekhyun diam kali ini. Didalam ranselnya masih ada beberapa botol minuman beralkohol khas korea selatan yang belum terjual. Dan memang itulah sumber penghidupannya sekarang. Dirumahnya juga masih ada beberapa botol lagi.

"Sini minumannya. Aku akan menaruhnya di jok belakang." Chanyeol mengulurkan tangannya sambil berucap.

Transaksi deal. Baekhyun memberikan botol minuman jualannya dan otomatis menerima uang dari Chanyeol. Jumlah yang diberikan oleh si namja jangkung itu tentunya melebihi harga semua minumannya.

"Terima kasih." Baekhyun membungkuk pelan. Dia memasukkan uang kedalam sakunya.

"Sama sama." Chanyeol membalas, kali ini dengan senyuman lima jarinya yg khas.

"Hati hati dijalan."

"Baiklah, aku pulang."

Baekhyun maju sedikit dan seperti mengharapkan sesuatu, mungkin sedikit kecupan di kening atau apalah. Tapi semua hal itu tidak dilakukan Chanyeol. Ah, Baekhyun terlalu banyak menonton drama korea sepertinya. Bukan bukan, itu salah, karena Baekhyun tidak punya tv di rumahnya yang sempit. Itu hanya angannya saja. Kasihan.

"Jaga diri dan jangan lupa cuci bagian itumu." Chanyeol berkata, matanya tertuju pada bagian bawah Baekhyun. Lalu setelah itu namja tersebut menutup pintu mobil dan kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang.

"Iy.. Iya. Terima kasih." Baekhyun bergeming. Kini dia sendiri. Matanya memandang mobil Chanyeol yang perlahan hilang.

Air matanya seperti ingin jatuh, namun ditahan. Dia tidak punya alasan kuat untuk menangis. Chanyeol bukanlah kekasihnya, namun hanya teman. Chanyeol juga sudah menuruti permintaannya untuk menjamahnya. Apa lagi? Chanyeol juga sudah membeli minumannya dan itu sangat membantunya. Jadi tidak ada yang perlu ditangisi.

Chanyeol tidak menjawab pernyataan cintanya? Ah, itu urusan belakangan.

'Aku mencintaimu Chanyeol ah, sangat mencintaimu' Baekhyun berbisik pada dirinya sendiri. Dan akhirnya cairan bening itu tumpah juga membasahi pipinya.

Hiks hiks.

Galau bukan main. Cinta menggantung tanpa kejelasan.

o

o

o

o

Pagi pagi yang tidak buta, Chanyeol sudah berangkat ke kampusnya. Namja yang tingginya menjulang itu baru saja memarkirkan mobilnya yang mahal. Ditangan kanannya terlihat ponsel merk Samsung yang didekatkan ditelinganya yang lebar.

"Iya omma." kata Chanyeol, via ponsel.

"Chanyeol, setelah urusan kuliah selesai cepat pulang ke rumah. Jangan pergi kemana mana." suara ibu Chanyeol yang masih seksi bergaung lantang diseberang telefon.

"Tentu saja aku akan pulang omma." Chanyeol menaikkan bola matanya.

"Akhir akhir ini omma perhatikan kau sering pulang larut malam."

"Itu karena aku ada tugas omma."

"Alasanmu selalu tugas."

"Omma ingatkan, jangan pacaran dulu. Jauhi gadis gadis. Karena omma sudah punya calon untukmu."

"Ok ok omma. Itu soal gampang."

Percakapan via ponsel ibu dan anak itu terhenti setelah Chanyeol melihat dua kawan baiknya. Kawannya itu bernama Luhan dan Sehun.

Luhan adalah warga Tiongkok yang menimba ilmu di Korea Selatan sedangkan Sehun adalah warga lokal yang terlihat seperti blasteran.

"Hei kalian berdua. Aku punya beberapa botol bachus di dalam mobilku. Kalian bisa mengambilnya." ucap Chanyeol dengan suara bass.

Luhan dan Sehun yang sepertinya baru saja tiba di kampus saling pandang. Seakan Chanyeol baru saja mengucapkan menderita penyakit panu dan kurap dibagian punggung.

"Kau membeli minuman beralkohol?" Sehun nyelutuk dengan suara cadelnya yang tidak seksi.

"Dalam dunia medis, alkohol sangat tidak baik buat kesehatan." Luhan juga menimpali.

"Jangan cerewet. Ambil saja kalau kalian mau." kata Chanyeol dengan pandangan tidak ingin diceramahi.

"Semalam kau pergi mabuk mabukan ya?"

"Dengan gadis yang mana?"

"Masih perawan apa janda?"

"Dia kurus atau gembrot?"

"Pakai pengaman tidak?"

"Diam kalian berdua. Hentikan ocehan kalian yang tidak penting itu." Chanyeol berteriak nyaris histeris. Dia jengah dengan ocehan kedua temannya yang seperti gerombolan ibu ibu.

"Ha ha ha. Kami hanya becanda." Sehun dan Luhan berujar bersamaaan yang diiringi oleh gelak tawa yang sangat aneh.

Beberapa menit kemudian ketiga namja itu memasuki ruang kuliah dengan dosen botak sebagai pengajarnya. Chanyeol duduk dengan manis, raganya ada diruangan berAC itu namun pikirannya melayang jauh.

'Apa Baekhyun baik baik saja?' Chanyeol membatin, matanya menatap kosong.

Ada rasa bersalah yang teramat sangat dalam hatinya. Seharusnya dia menolak dengan cepat pernyataan cinta Baekhyun semalam. Dan bukannya menggantungkan dan memberikan harapan seperti ini.

Tapi setelah kejadian semalam, yaitu adegan seks yang sudah terjadi, Chanyeol seakan tidak bisa melupakannya. Itu adalah first timenya dan malah dilakukan dengan seorang namja yang belum cukup seminggu dikenalnya.

"Chanyeol, jelaskan kapan waktu ideal transplantasi hati dilakukan?" tiba tiba dosen botak yang sudah berumur mengagetkan Chanyeol. Dia memberikan pertanyaan tiba tiba kepada anak didiknya itu.

"Saat hati sudah move on." Chanyeol secara otomatis memberikan jawaban.

Hahaha. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi didalam ruangan itu ngakak bukan main, terutama Luhan dan Sehun yang adu tonjok sambil memukul meja. Tawa mereka yang paling keras. Kwkwkwkw.

"Chanyeol, lekas keluar dan cuci mukamu." sang dosen memberikan titah dengan kepala menggeleng.

"Ba..baik, saem." Chanyeol berdiri pelan, dengan wajah agak memerah. Tentu saja karena malu. Namun untung saja dia tampan, jadi rasa malunya sedikit tertutupi. Orang tampan mah bebas.

Chanyeol keluar ruangan.

o

o

o

o

Malam kembali tiba.

Remang remang dan suara berisik musik DJ saling berpadu dan membentuk harmoni yang memanjakan. Bar bar yang berderet deret seakan menjadi saksi wara wiri muda mudi yang mencari kepuasan dan kenikmatan sesaat. Dan ditempat itulah Baekhyun kembali berada. Dan masih dengan gaya yang sama.

"Anda mau beli bachus?" Baekhyun menawarkan minuman beralkohol jualannya kepada seorang pria paruh baya yang melintas.

"Tidak." pria itu menjawab dengan nada teler.

"Oh iya. Terima kasih." Baekhyun membungkuk.

Baekhyun ingin fokus berjualan, namun seperti yang sudah sudah sosok tampan Chanyeol pasti muncul dibenaknya. Dan dia berharap kembali mendapati Chanyeol ditempat itu. Tapi setelah sejam, sosok Chanyeol tak kunjung ada.

'Sebaiknya aku melupakannya. Aku tidak pantas untuknya.' Baekhyun membatin. Si namja mengepalkan tangannya dan berharap bisa melanjutkan hidup tanpa dibayangi oleh Chanyeol.

Dan tiba tiba dua orang pria kekar mendatangi Baekhyun, bukan untuk membeli namun untuk mengusirnya.

"Hei kau. Jangan berjualan disekitar sini." salah satu pria kekar menghardik Baekhyun. Dan Baekhyun mengenali pria itu sebagai salah satu yang pernah menonjok bibir Chanyeol beberapa saat lalu.

"Pergi sana. Area ini terlarang. Kau bisa mengurangi jumlah penjualan bir bar tuan kami." pria yang satunya juga tak mau kalah menghardik.

"Tap.. Tapi aku hanya menjual ini saja. Merknya beda. Punyaku lebih murah." Baekhyun cepat cepat memberikan pembelaan. Tubuhnya agak bergetar.

"Mau murah mau mahal, mau beda merk. Persetan. Enyah kau dari sini. Jangan menjual disini."

"Pergi pergi. Hush hush..."

"Tolonglah." Baekhyun mengiba.

"Per..."

"Cukup. Kalian berdua jangan galak galak pada anak gadis." sebuah suara tiba tiba menyela diantara mereka. Sesosok pria kurus muncul dengan tak diundang.

Anak gadis? Sangat melecehkan.

"Ah tuan. Kami sudah berusaha mengusir anak ini." salah satu pria kekar berucap.

"Sudah. Kalian berdua masuk dan jaga pintu tengah." si pria yang nampaknya seorang bos bos itu memberikan perintah kepada dua anak buahnya dengan gerakan lentik dan melambai.

Sedangkan Baekhyun sedari tadi hanya diam.

"Perkenalkan, namaku JoKwon. Aku adalah salah satu dari tiga pemilik bar disini." si pria memperkenalkan diri pada Baekhyun. Dia memperhatikan sosok Baekhyun dari atas hingga bawah.

"Aku Baekhyun. Byun Baekhyun." Baekhyun balas memperkenalkan diri.

"Aku adalah tipe yang malas basa basi. Langsung saja, apa kau mau bekerja di barku?" Jokwon menawarkan.

"Bekerja disini?" Baekhyun antusias, matanya berbinar.

"Yap. Dan jika kau menolak, aku bisa pastikan bahwa kau tidak akan berjualan disekitar barku dan juga disekitar bar saudaraku." si Jokwon yang menor menodong dengan kalimat ancaman.

"Ak..aku kerja sebagai apa?" Baekhyun bertanya takut takut.

"Sebagai pelayan. Bartender dan sejenisnya." jawab Jokwon sambil mengibaskan rambutnya yang pendek. Norak.

"Baiklah. Aku menerima." tanpa pikir panjang Baekhyun menerima tawaran yang tidak pernah diduganya itu.

"Ok. Malam ini kau langsung kerja. Ikut denganku. Bajumu harus diganti." Jokwon mendelik dan memandangi pakaian Baekhyun dengan pandangan seakan akan Baekhyun memakai rumput jerami dari khayangan.

"Terima kasih."

Baekhyun membungkuk senang. Dan kemudian namja belia itu mengikuti langkah si Jokwon masuk kedalam bar. Mereka melalui pintu belakang yang hanya bisa diakses oleh petinggi dan karyawan bar.

Hari dan pengamalan baru dimulai.

o

o

o

o

O...O...O...O

"Ak...aku memakai pakaian seperti ini?"

Baekhyun bertanya seraya memandangi penampakannnya sendiri di depan cermin besar disalah satu ruangan bar milik Jokwon.

"Kenapa? Kau tidak suka?" Jokwon membalas pertanyaan Baekhyun dengan balik bertanya. Dia mengeluarkan kipasnya. Padahal udara tidak panas.

"Tidak. Hanya saja ini... Hhh." Baekhyun menghentikan ucapannya, karena dia tahu bahwa percuma saja berdebat.

Miris dan menyedihkan. Penampakan Baekhyun sangat jauh dari harapan si empunya. Bayangkan saja, dia disuruh memakai baju warna pink dengan aksen menjuntai mirip rok dibagian pinggang. Ditambah lagi dengan belahan kerah baju yang terlalu rendah. Lehernya dihiasi dengan dasi yang lebih mirip pita anak TK. Dan jangan lupakan bando dengan telinga kelinci yang warnanya senada dengan baju. Astaga.

"Tunggu apa lagi. Lekas ke depan. Bawa dan antar pesanan pelanggan. Jangan lupa berikan senyum terbaikmu. Jika ada yang memegang dan menyentuhmu, biarkan saja. Itu adalah salah satu service bar ini. Sana cepat." Jokwon menghalau Baekhyun seperti menghalau nyamuk.

"Tapi..."

"Sana cepat. Lekas bekerja."

"Baiklah."

o

o

o

o

o

o

Baekhyun berjalan canggung menuju salah satu pelanggan bar. Dia terlihat kikuk dan tidak nyaman. Dia berjalan sembari menundukkan wajah imutnya. Dan oh ya, jalannya sedikit aneh, maklum saja, bagian itunya masih sakit bekas terbobol kemarin malam.

"Kau ini lelaki atau wanita?" si pelanggan bar bertanya dengan mata jelalatan melihat lekuk tubuh Baekhyun.

"Aku lelaki." jawab Baekhyun, kalem.

"Tapi kau terlihat seperti seorang perempuan binal penggoda." si pelanggan mengejek Baekhyun secara sadis. Dia tertawa setelah itu.

Baekhyun diam, dia meletakkan pesanan si pria, senyuman yang dipaksakan tidak pernah hilang dari wajahnya. Saat namja miskin itu hendak pergi, tangannya mendadak dipegang oleh si pria.

"Tunggu manis. Aku mendengar bar ini mempunyai beberapa layanan service yang memuaskan." kata si pria.

"Tentang itu aku tidak tau." Baekhyun berujar cepat cepat.

"Jangan pura pura."

"Kalau begitu, aku ingin kau menari sambil melucuti pakaianmu satu persatu, dihadapanku." ucap pria itu dengan nada memaksa yang kejam.

"Menari? Telanjang? Disini?" Baekhyun membeliakkan mata sipitnya. Dia menoleh kiri dan kanan, jika dia melakukannya tentu saja semua pelanggan bar akan menjadikannya tontonan.

"Ya, disini. Cepat lakukan!" hardik si pria, dengan suara meninggi.

"Maaf, aku tidak bisa." tolak Baekhyun.

"Lakukan. Aku membayar disini. Lakukan sekarang."

"Ti..."

Baekhyun hendak pergi, namun tangannya ditarik dengan sangat kasar oleh sang pria. Rumbai menjuntai disekitar pinggangnya tak luput dari tarikan si pria. Krek. Kain dibagian pinggang Baekhyun robek dengan sangat kentara.

"Tolong jangan lakukan ini. Aku hanya pelayan biasa." Baekhyun terisak sambil memohon. Dia berusaha melepaskan diri.

"Karena itulah. Kau adalah pelayan. Tugasmu adalah melayani... Layani aku."

Rusuh dan riuh. Baekhyun terus mencoba melepaskan dirinya. Beberapa pelanggan yang ada disana, hanya melihat saja. Tidak ada yang menolong Baekhyun.

"Hiks... Lepaskan."

"Namja binal, menarilah sekarang..."

Detik hingga menit berlalu. Baekhyun nyaris telanjang sekarang, bajunya robek sana sini, seperti korban pemerkosaan. Dan tepat pada saat itu, seorang namja tiba tiba datang dan menarik Baekhyun. Namja itu seperti seorang ninja yang muncul dengan kekuatan halimunan. Tidak lupa namja itu menendang si pria yang hampir menelanjangi Baekhyun.

Bughht.

"Jangan ganggu dia, sialan." si namja berteriak pada si pria. Baekhyun kini dalam dekapannya.

"Chan... Chanyeol..." cicit Baekhyun, nyaris tidak percaya dengan penglihatannya. Orang yang sangat dicintainya datang dan menyelamatkannya.

Yap, si namja itu memang Chanyeol. Dia datang karena khawatir dengan kondisi Baekhyun yang terlihat depresi kemarin malam. Dan kedatangannya tepat pada waktunya.

"Tenanglah Baekhyun. Aku ada sekarang. Tidak akan ada yang mengganggumu." Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun, dia tersenyum.

"Tapi.. Sekarang aku bekerja disini." timpal Baekhyun.

"Jangan becanda. Kau tidak pantas bekerja ditempat seperti ini."

"Aku terpaksa..."

"Ayo pulang."

Chanyeol mengajak Baekhyun untuk pulang. Si pria yang kena tendang memaki maki dibawah kolong meja. Dia tidak bisa berdiri, karena Chanyeol menendang pusakanya yang sudah kadaluarsa. Sakit pastinya.

"Hei... Ada apa ini?" Jokwon muncul tergesa gesa, kipas masih tersemat indah ditangan lentiknya yang kurus.

Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak menjawab pertanyaan si pemilik bar itu. Chanyeol membawa Baekhyun keluar dari ruangan yang penuh dengan lampu kelap kelip.

"Oeee. Mau dibawa kemana pekerjaku?" teriak Jokwon, cetar membahana.

Chanyeol menoleh, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Dilemparkannya uang itu tepat dihadapan si Jokwon.

"Ambil uang itu, sebagai ganti rugi. Mulai saat ini Baekhyun tidak lagi menjadi pekerja disini." ujar Chanyeol, suaranya bergaung kencang.

"Apa apaan ini." kata Jokwon. Melongo.

"Ayo Baekhyun. Kita pulang." Chanyeol tidak mempedulikan ekspresi tolol Jokwon. Dengan cepat dia menuntun Baekhyun untuk keluar dari bar itu.

Lagu Korea terbaru berjudul koko bop mengiringi langkah kedua namja itu. Yeaah.

o

o

o

o

O...O...O...O

Tak butuh lama, Chanyeol dan Baekhyun tiba diparkiran mobil. Chanyeol mendesah beberapa kali, dia mengamati penampilan Baekhyun yg bisa dibilang hancur lebur. Sobek sana sini.

"Ayo kita ke mall. Kau membutuhkan beberapa pakaian." kata Chanyeol, nyaris seperti bisikan.

"Terima kasih karena sudah menolongku." ucap Baekhyun, kedua matanya berkaca kaca.

"Lupakanlah. Ayo kita pergi dari sini." Chanyeol membuka pintu mobilnya. Dia memberikan aba aba agar Baekhyun segera masuk.

Hening.

Baekhyun tidak beranjak.

Kedua namja itu saling tatap, agak lama. Tatapan yang sama saat mereka baru berjumpa dulu. Baekhyun ingin mengucapkan sesuatu, namun gagal. Suaranya tercekat.

"Baekhyun, ayo masuk mobil." Chanyeol menghentikan keheningan yang mencekam sukma.

"Chan... Chanyeol. Kita tidak usah ke mall. Aku sebaiknya pulang saja ke rumah." timpal Baekhyun.

"Tapi kau harus ganti baju Baekhyun."

"Ini tidak apa apa..."

"Katakan padaku. Aku tahu kau sebatang kara. Katakan bahwa kau sudah tidak punya orangtua kan? Katakan. Jujur padaku." Chanyeol tiba tiba membombardir Baekhyun dengan pertanyaan yang bernada sama.

Baekhyun diam.

"Katakan. Kau sendirian kan? Katakan jika itu benar?" ulang Chanyeol, dengan tidak sabar.

Tes tes. Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Baekhyun akhirnya tumpah juga. Cairan bening itu lolos dengan mulus.

Chanyeol mendesah kasar, kedua tangannya mencengkram erat kedua bahu Baekhyun yang seksi.

"Aku tidak mau tahu... Mulai malam ini kau akan tinggal bersamaku. Di rumahku. Dan aku tidak mau mendengar penolakan." ucap Chanyeol dengan pengucapan yang sangat cepat.

Dan otomatis mata Baekhyun membeliak hebat, tentu saja kaget bukan main. Chanyeol ingin tinggal bersamanya. Atau tepatnya, Chanyeol menyuruhnya tinggal di rumah keluarga Park bersama sama.

Apa Baekhyun menerima tawaran Chanyeol itu?

o

o

o

o

o

o

o

o

TBC

O...O...O...O...O...O...O

Sy kembali chingu, setelah lebih setahun menghilang. Maafkan ya. Sy lupa password ffnku. Laptop jg rusak dan berbagai masalah lain. Sedih juga rasanya, tapi alhamdulillah sekarang bisa nulis lagi. Sy nggak akan bisa tenang kalo tdk menyelesaikan ffku yg tertunda.

Terima kasih reviewannya selama ini. Banyak yang masih menunggu dan itu membuatku berterima kasih dengan sangat. Kalianlah penyemangat.

Chap lalu itu kepotong, entah apa sebabnya. Chap ini selesai dan pastinya tetap akan dilanjut jika masih ada yang suka dan baca. Sekali lagi terima kasih.

Review yaa.

Salam

Han Kang Woo