Sakura tidak tahu kemana perginya kewarasan dan akal sehat yang di junjungnya selama ini. Ia bahkan lupa bagaimana ia keluar dari apartemennya pagi tadi dan terdampar di tempat yang seharusnya tak boleh terlintas menjadi tujuannya. Tapi di sinilah ia berada. Berdiri bimbang di depan pintu besar yang nampak angkuh bahkan meski tak bernyawa.

"Aku pasti sudah gila," gumamnya sambil memukul kepalanya pelan. Menyadari betapa konyolnya apa yang ia lakukan. Dihembuskannya nafas pelan selagi tangannya terangkat ke depan, bersiap mengetuk pintu.

"Kalau aku mati karena memilih jalan ini, setidaknya aku akan menertawakan diriku di neraka."

atau aku kabur saja? Setidaknya masih ada kesempatan itu.

Imajinasi aneh berkeliaran di kepalanya, tumpang tindih dengan anggapan betapa kerennya jika ia bisa masuk dalam lingkaran Uchiha Sasuke. Meski Sakura benar-benar yakin, setelah ia masuk, hidupnya sudah berakhir. Sasuke tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Mungkin karena itulah ia jarang berbicara. Lagipula, wajah es laki-laki itu memang sebengis pimpinan Yakuza seperti yang sering ia lihat di film-film.

"Oh? Sakura Chan?" Naruto yang tiba-tiba muncul mengugurkan niat mulianya melarikan diri. "Kau benar-benar datang ttebayo," ucap kepala pirang itu ceria. Seperti biasa senyum tiga jari menghiasi wajah polosnya.

Sakura tersenyum kikkuk mendapat sambutan itu. "H-hai Naruto."

"Ayo masuk Sakura-chan," ucap Naruto sambil mengapitnya dengan sedikit paksa, "Kami sudah menunggumu lho."

"Kami?"

Belum hilang kebingungannya, seorang pemuda dengan wajah malas tiba-tiba muncul di depannya. Sebelah alisnya terangkat sembari kepalanya bergoyang lambat. Seolah meneliti keanehan terlangka sepanjang masa. Membuat Sakura sedikit gugup, mungkinkah jerawat mesntruasinya tempo hari masih duduk manis di pipi kirinya? Itu akan membuatnya terlihat buruk.

Laki-laki itu kembali berdiri tegak setelah menyadari Sakura menahan nafas selama ia menginspeksi wajahnya.

"Jadi kau Sakura ya?"

Laki-laki berambut aneh itu menghela nafas panjang, "Benar-benar di luar harapan."

"A-apa?"

"Shikamaru," suara berat Sasuke mengalihkan atensi keduanya. Untuk pertamakalinya Sakura sangat bersyukur ada Sasuke di muka bumi ini. Ia benar-benar merasa tidak sanggup mendapatkan pandangan meremehkan Shikamaru atau siapapun itu. "Dia bagian dari kita, kau harus mulai menghormatinya."

"Ya baiklah," Shikamaru berlalu dari hadapan Sakura sambil mengangkat sebelah tangannya santai, seolah tak ambil pusing dengan apa yang di dengarnya. "Hei, Sakura. Kalau bisa, tidak usah repot-repot mengganti password apartemenmu. Itu percuma, kau tahu."

"Shikamaru,"

Suara berat Sasuke kembali menginterupsi ketegangan keduanya. Membuat Sakura refleks menoleh pada Sasuke yang tengah duduk di belakang meja kebesarannya.

"Jangan membuat keributan."

"Ya, ya, ya," gumam Shikamaru sambil duduk di kursi dekat jendela. Di depannya sebuah tablet keluaran terbaru tampak berkedip-kedip. "Merepotkan."

"Kau benar-benar bernyali ya, Sakura."

selenting suara -yang sangat Sakura kenali- menjadi serangan berikutnya. Terdengar sama meski memiliki aura yang berbeda. Sakura menoleh begitu saja sebagai reaksi atas kalimat itu. Ino, dengan postur supermodel dan wajah dingin nyaris membuatnya menangis.

Perempuan itu, teman yang selalu membelanya saat gerombolan Kiba mengusili, kini tampak seperti mahadewi tak tersentuh. Bahkan dari jarak lima kaki mereka, dinding pembatas yang Ino buat sangatlah terasa.

"I-ino." gumamnya getir. Ia bukannya tak memprediksi ini akan menimpanya. Ia hanya sedikit tak siap, melihat dan menjadi saksi bagaimana orang yang kau kenali bisa berubah dengan sangat drastis bukanlah hal yang mudah.

"Selamat datang, Sakura," suara Sasuke lagi-lagi menyelamatkan ketegangan yang dialaminya. Membuatnya tak perlu lagi terpaku menatap Ino yang tampak sangat mengerikan hari ini. "Selamat bergabung dalam tim."

"Yosshh! Sakura chan mohon kerjasamanya yaa..."

Naruto dan semua kehebohan tak pentingnya menjadi penengah ketegangan mereka. Sakura melihat dua orang lain yang berposisi saling menyeberangi. Shikamaru dengan wajah malas menopang dagu dan Ino bersama pandangan tak terimanya.

"T-tunggu, Sasuke," ucap Sakura gugup, kedua tangannya terasa dingin meski tubuhnya memanas. "A-apa sebenarnya yang akan kita lakukan?"

"Hn. Gambling."

"Hah?!"


"Bagaimana mungkin?" Sakura kembali berjalan mondar mandir setelah sebelumnya berhenti sejenak di samping mesin pendingin. "Bagaimana mungkin kalian melibatkanku dalam dunia..., apa tadi? Perjudian?" Sakura mengehentakkan sebelah kakinya kesal. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya? Sial."

"Berhenti mondar-mandir Sakura, kau membuatku pusing,"

Ino yang tengah menikmati segelas cola memandangnya sinis, suasana diantara mereka sudah kembali normal seperti biasa. Meski tentu saja, tetap ada keangkuhan di wajah Ino. "Saat aku menyuruhmu pergi tempo hari, harusnya kau berhenti menerima Sasuke. dasar bodoh."

"Memangnya aku tahu apa? Ucapan Sasuke terdengar sangat keren di telingaku. Mana mungkin aku tidak tertarik." Bela Sakura kesal. Setelah drama rahang jatuhnya tadi, kini mereka -Ino dan Sakura- berdiskusi di dapur ruangan Sasuke. Dan yah, laki-laki itu memang sungguh sialan amat kaya raya. Bagaimana mungkin dia memiliki dapur sekelas hotel bintang lima di kampusnya? tidak bisa dipercaya.

"Kau terlalu banyak menonton film," Balas Ino asal. Kedua kakinya disilangkan sedang tangannya sibuk mengetuk meja. "Kau tidak bisa lari sekarang, sayang sekali."

"Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Itu menyalahi kode etik, aku tidak bisa melakukannya."

"Setidaknya beri aku kisi-kisi," ucapnya kesal, Ia mengacak rambut pelan sebelum akhirnya mengambil duduk tepat di depan Ino, dibatasi meja makan. "Apa ini benar-benar perjudian? atau hanya kiasan. Kau harus jujur Ino."

"Perjudian dalam arti sebenarnya."

Mata Sakura membulat sempurna, "T-tapi bagaimana mungkin? Kalian seperti mahasiswa biasa. Yah, kecuali dalam hal harta sih."

Ino memutar matanya mendengar kekagetan Sakura. "Banyak hal di dunia ini, di luar rumus dan teori yang kau puja itu, yang tidak kau tahu Forehead," ucapnya sedikit kesal. Bagaimana mungkin mahasiswa tercerdas sepanjang masa seperti Sakura bisa begitu naif? "Kau bahkan mungkin tidak pernah tahu kalau aku adalah seorang sniper."

"A-apa? Sniper?" Sakura mencondongkan tubuhnya ke arah Ino, "Maksudmu penembak jitu."

"Kenapa? Kau tidak percaya?"

"Ah?" Sakura tersentak kecil menengar penekanan dalam kalimat Ino, "K-kurasa aku percaya setelah melihatmu tempo hari," gumamnya, "Dan hari ini."

"Aku sangat berharap kau tidak terlibat, Sakura."

"Jadi karena itu kau marah?"

Ino memandangnya sejurus, mengambil nafas sedalam mungkin lalu menghembuskannya perlahan. "Daripada marah padamu, aku lebih merasa kesal pada Sasuke." Ino memalingkan wajahnya ke arah jendela, "Tapi dia merasa yakin kau mampu," gadis pirang itu menyesap colanya yang berembun, "Maaf tidak bisa menghalanginya, Sakura."

Sakura mengedipkan matanya dua kali, "Kenapa harus minta maaf." Ya, Sakura merasa perlu tahu kenapa Ino harus minta maaf sedangkan gadis itu sama sekali tak berkontribusi atas keputusannya mengikuti 'rayuan' Sasuke.

Sesaat Ino kembali menatap Sakura, melihat betapa kebingungan masih menguasai sahabatnya, "Aku yang membuat Sasuke mengenali potensimu. Kalau saja aku tidak membahasmu."

Sakura menggenggam jemari Ino, sebisa mungkin membuatnya tidak merasa terbebani.

"Itu sama sekali bukan masalah pig, lagipula tidak ada salahnya kan, aku mencoba sesuatu yang baru."

Ino tersenyum pedih mendengar ucapan Sakura.

Itu karena kau belum tahu apa yang akan kau hadapi Sakura - Ino


"Fold, Fold, Raise, check, tunggu, kenapa Ino melakukan check saat kartunya bagus?" tanya Sakura tak mengerti. Saat ini, ia sedang bersama Sasuke di ruangan penuh monitor. Keduanya tengah mengawasi Ino, Naruto, dan Shikamaru yang terlihat serius memainkan poker di ruang utama. Tiga kamera pengintai sengaja di pasang di belakang mereka duduk agar Sakura bisa belajar menganalisa penggunaan kartu. Ini adalah hari ketiga sejak Sasuke memerintahnya untuk mempelajari dasar-dasar permainan kartu. Ia merasa benar-benar sudah gila karena begitu menikmatinya.

"Perhatikan lagi," gumam Sasuke pelan, "Posisi Ino selama ini hanyalah pemancing, ia tidak pernah benar-benar bermain dalam arena karena kami membutuhkannya untuk memecah perhatian, tapi dia juga seorang kuda hitam."

Sakura menganggukkan kepalanya pelan. Wajar jika Ino berada dalam posisi itu. ia punya wajah cantik dan tubuh bak gadis victoria. Ino juga sangat tenang dan mampu memanipulasi ekspresinya dengan baik, sesuatu yang baru diketahuinya setelah ia memutuskan bergabung dalam tim. Dulu Ino hanyalah gadis periang yang doyan fashion.

"All in?"

Sasuke diam, tak menanggapi komentar Sakura atas keputusan Shikamaru.

Sakura tampak mengerutkan alisnya selagi mereka menunggu keputusan Naruto. Waktu berjalan lambat dalam hitungan detik. Sakura melirik jam di pergelangan tangannya, belum genap semenit.

Naruto tampak mendorong seluruh chipnya ke tengah meja.

"All in," ucapnya sayup-sayup terdengar dari ruang monitor. Sakura mencondongkan tubuhnya saat Naruto tersenyum lebar sambil membanting kartunya.

"Stright!"

Ino menarik sudut bibirnya santai, "Full House."

"A-apa? bagaimana mungkin?"

Naruto menyambar kartu Ino cepat, tak terima kekalahannya.

Shikamaru membanting kartunya, two pair.

"Merepotkan," gumamnya sambil bangkit dari kursi. "Ah, aku lapar."

"A-apa? hanya two pair?" Naruto berteriak frustasi. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Shikamaru akan melempar semua chipnya hanya dengan kartu remeh begitu.

"Oh, aku menang Naruto. Kau harus membelikanku tas baru. Aku akan mengirimkan fotonya."

Ino menepuk pundak Naruto yang masih belum percaya apa yang menimpanya. Bersiap meninggalkan sahabat pirangnya.

"B-bagaimana? bagaimana kau...,? Tunggu, jangan-jangan..."

"Daah Naruto."

Ino melambaikan tangannya sambil tertawa santai. Puas dengan apa yang ia rencanakan.

"Kerja bagus Shikamaru," ucapnya saat melewati Shikamaru yang tengah berdiri di samping mesin pendingin, "Lain kali kita pasti bisa jadi tim yang hebat."

Shikamaru melirik Ino sekilas, perlahan mengembalikan botol yang tadi ia gunakan ke dalam kulkas. "Aku tidak tertarik,"

Ino menoleh mendengar gumaman Shikamaru. Laki-laki itu kini memunggunginya, bersiap meninggalkan area dapur.

"Berhati-hatilah, bahkan dengan semua keahlianmu, kau bisa terjatuh kapan saja."

Ino terpaku sejenak, itu adalah nasehat pertama yang didapatnya setelah hampir tujuh tahun kebersamaan mereka. Ia bahkan tidak pernah menyangka seorang Shikamaru yang anti dengan hal-hal merepotkan bisa mengucapkan kalimat seperti itu.

"Aneh sekali." gerutunya lalu mengambil botol yang tadi digunakan Shikamaru dan menghabiskan sisanya.


"Jadi seperti itu? Shikamaru sengaja memancing Naruto all in agar Ino bisa segera menghabisinya."

"Itu salah satu taktik, Sakura," ucap Sasuke tenang. Kopi hitam yang dipesannya sejam lalu masih belum tersentuh sama sekali, "Saat berada di arena, biasanya kami melakukannya dua orang, bahkan meski itu bukan Blackjack. Aku dan Naruto. Ino adalah mata-mata untuk kartu lawan, dan Shikamaru bertugas menganalisis kemungkinan-kemungkinan terburuk. termasuk jika kami harus kabur karena konspirasi."

"Apa yang seperti itu benar-benar terjadi?" Ucap Sakura sedikit antusias. Imaajinasi sialannya terus berkeliaran mengalahkan peringatan oleh akal sehatnya.

"Kekacauan sering terjadi, karena itulah kami membutuhkanmu."

Sakura merengut mendengar itu. "Aku terlihat tidak cocok untuk profesi itu."

"Justru karena itu."

"Ya?"

Sasuke menegakkan tubuhnya yang semula bersandar di kursi, "Aku memilihmu karena kau punya kharisma itu,"

Sasuke menghentikan kalimatnya, menatap Sakura dengan mata hitamnya yang indah. Membuat gadis musim semi itu harus terus memperingatkan diri sendiri, dengan siapa ia kini berhadapan.

"Gadis polos sebelah rumah,"

Sasuke menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum misterius yang memabukkan.

"Gadis yang siapa saja takkan tega membiarkannya meneteskan airmata karena kekalahan,"

Sakura menyelipkan helaian merah mudanya pelan. Berharap kegugupan yang dirasakannya tidak begitu kentara.

"Gadis yang akan membuat mereka siap memberikan apa saja secara sukarela."

"I-itu terdengar sedikit berlebihan," Sakura menelan ludahnya yang entah kenapa terasa menguap dari tenggorokan, "Ssasuke."

Sasuke menyeruput kopinya pelan. "Aku tahu kau bisa," gumamnya dengan pandangan fokus pada permukaan kopi yang bergoyang, "Kau punya semua yang dibutuhkan. Kemampuan menganalisis, Hypnotis, hingga pesona polosmu. Itu sudah lebih dari cukup."

"Dari mana kau tahu aku bisa Hipnotis?"

"Aku tahu semua tentang dirimu, Sakura."

Sakura mengangguk mendengar ucapan Sasuke. Ia tidak perlu mempertanyakan atau mengkonfirmasi itu. Apapun yang Sasuke katakan, pastilah bukan sebuah basa-basi. Ia bisa melihatnya.

"Kalau begitu, mohon bantuannya ya, Sasuke."

"Hn. Tentu saja."


TBC

akhirnya chapt. 4 up

maaf sangat lambat. Saya sedang sangat sibuk di dunia nyata.

ngomong-ngomong, kenapa saya merasa tema Lotto begitu berat ya? Awalnya sy ingin membuat Lotto lebih ringan daripada Breakthrough, tp saat membaca ulang chapter lalu, saya baru menyadari akan banyak energi yg terkuras untuk meneruskan Lotto.

Sebenarnya, bagaimana pendapat kalian? tolong beritahu saya, agar chapter depan sy bisa kembali menimbang akan saya apakan Lotto ini.

Ah iya, untuk istilah dalam permainan kartu, apa saya harus mencantumkan artinya di A.n? saya sedikit ragu tentang itu. lagipula part perjudian akan sebisa mungkin saya kurangi.

Dan yg masih penasaran apa itu Lotto, Lotto adalah Lotre. dan kalau kalian jadi mengingat EXO saat membacanya, saya tidak akan menyalahkan kalian, karena ide fict ini muncul setelah saya melihat MV mereka. :)

terakhir terimakasih krn sudah membaca, jgn lupa tinggalkan pesan.

salam sayang - Beb