Mau bales review dulu ah :

KyouyaxCloud : yang jadi OOC gara2 Naru, bukan cuma Sasu aja lho, Shika juga, Cuma ngga terlalu sih, ngga kayak Sasuke yang OOC parah, hahahaha(Plak), maaf ya Cloud, ku baru cantumin nama kamu di fic ini, maklum aku ini rabun ayam(ih ngaku)…. Makasih udah review di chap 2, dan sekarang chap baru dah aku apdet, dibaca ya…RnR….

Akai no Tsubasa : Narto sasongko, dua nama yang tiba2 aja muncul di otak aku(kirain author ngga punya Otak). Padahal aku ngga kenal mereka( siapa yang nanya? Duash) makasih ya udah review, chap baru dah aku apdet, so baca lagi ya….. chap yang ngawur ini…..

NHL-chan : Makasih banyak NHL-chan udah mau mampir dan mereview fic abal ini. Aku emang ragu mau make Name–sama apa Name-san, maklum, orang awam. Makasih udah di kasih tau, kalo masalah typo aku juga heran, kenapa masih ada ya, mungkin aku ngantuk, karena nulisnya subuh-subuh, kayak chapter ini, bikinnya jam dua pagi. Chap baru udah aku update, di baca ya….. N Review lagi….

kanon1010 : Maaf ya kanon, nama kamu aku comot ngga bilang-bilang. Fic kanon yang judulnya my music in your mind itu fic pertama yang aku baca di FFN. Makanya aku langsung suka sama char fem naru. Aku tau char fem naru dari fic'nya kanon itu.

Superol : kamu ngga OD kan, hihihi, aku sih tadinya ngga niat bikin fic ancur ini, Cuma iseng2 aja, ada ide buat nulis, ya aku nulis. Di chapter ini shika muncul lho, sebagai pahlawan bertopeng(digampar-plak-plak-plak) Makasih ya udah review lagi, chap yang ini di baca juga ya, meskipun makin gaje dan ngga seru….

Sabaku Ryutaro : Salam kenal juga ya Ryutaro-San, jangan panggil aku senpai dong, aku mah masih baru disini, panggilnya Lista aja, Shika mulai pedekate sama naru di chap ini, dan akan menggila di chap berikutnya(kyahahaha, Shika bakal membuat Sasu patah hati-dibakar sama Sasu pake tabung LPG 3 kilo), maaf ya, kayaknya gaara di fic ini kurang aku tonjolin, habis aku bingung mau bikin konflik yang bagaimana lagi, otak aku kan lemot(ngaku kalo o'on, hehehe). di baca lagi ya fic yang ini...

Kyosuke ShinoZuki DaRkKniGhT47 : Maaf deh klo Shino yang kalem itu jadi lebay, kan jarang2 liat Shino jaipongan, malah dia sering nyawer kalo ada hajatan, (kok badan aku gatel2 ya, jangan2 serangganya shino masuk di baju aku, KYaaaaaa), udah dilanjut nih, baca ya...

Uchiha Uzumaki Hatake Hotaru : Sasuke kayaknya udah ngga sabar ngenalin Naru ke calon mertuanya, Fugaku, hehehe, biar cepet2 ke pelaminan, hahahaha(langsung disumpel pake gayung) makasih ya udah review, chap baru yang ini dibaca juga ya...

Miyako Shirayuki Phantomhive : Thanks ya Miyako-san atas masukannya, maklum aku kan author abal, mudah2an di chap ini, ngga mengecewakan. So, review ya chapter yang ini...

Ranaru Meluna : kyaaaaa, jangan main lempar-lemparan di sini, (BLETUK, kena lemparan panci nyasar...) makasih ya udah review lagi, chapter 4 dah aku update nih, di baca lagi ya, terus, review lagi, BTW, kalo fic Buku Harian Naru udah di update, kabarin ya... Arigatou...

DISCLAIMER : Naruto Punya Masashi Kishimoto

OOC, GAJE, GABUK, NGGA BAIK UNTUK KESEHATAN, TYPO BERKELIARAN DIMANA-MANA

PAIRING : SASU x FEMNARU, SHIKA x FEMNARU

AT THE HOSPITAL

-BLUGH!-

"ADDDUUUUHHH, SAKKIIIITTTTT!" jerit Naruto lalu meringis sekencang-kencangnya. Ia memejamkan matanya, karena badannya terasa seperti dibanting.

Saat ia membuka matanya, kini ia tidak lagi berada di dalam pesta. Ia menajamkan penglihatannya. 'Inikan kamarku?' batin Naruto.

"Mau sampai kapan kamu tiduran di situ, Naru?"

"K-Kaa-san, kok?" Naruto melihat wanita berambut merah panjang sedang melotot kepadanya. Wanita itu adalah Namikaze Kushina

"Kenapa?" tanya Kushina dengan sengitnya. "Kamu tau ini sudah jam berapa, Putri Pemalas?"

NARUTO POV

Dasar Kaa-san, padahal aku lagi mimpi indah, mimpi menikah dengan Sasuke. Eh, aku dibangunin dengan caranya yang Barbar. Aku kira acara pernikahan tadi itu beneran, ternyata cuma mimpi. Setelah mandi, memakai seragam, dan berdandan, aku lalu turun ke bawah, bergabung dengan Kyuu-nii, Kaa-san, dan Tou-san yang sudah mendahuluiku untuk sarapan pagi. "Ohayou, minna…"

"Ohayou, Naru-chan, " sambut Tou-san dengan senyum simpatiknya. Ia sedang menikmati kopi paginya sambil membaca koran. "Kenapa kamu terlihat lesu begitu, Naru-chan?"

Aku hanya menggelengkan kepala lalu duduk di samping Kyuubi-nii yang sedang menyantap sarapannya. Ia agak cuek dengan kehadiranku. Ah, biarin aja. Paling juga di dalam otaknya itu yang dipikirkan cuma untuk menjahiliku. Aku melirik sedikit ke arahnya. Ia tampak begitu serius dengan serealnya. Mungkin itu hanya kepura-puraannya saja.

Ku lihat kaa-san sedang asyik mengolesi rotinya dengan selai stroberi. Matanya tadi sempat melirikku sedikit. Mukanya datar banget, sejak tadi ia membangunkanku.

"Sasuke itu siapa, Naru?" tanya Kaa-san dengan suaranya yang datar. "Pacar?"

Aku spontan melihat Kaa-san. "Sa-Sasuke?"

Sambil terus mengolesi rotinya, Kaa-san mulai bertanya lagi. Suaranya yang terdengar tak bernada itu membuatku bergidik. "Jawab, Naru. Sasuke itu, siapa?"

Aku langsung menunduk saat aku merasa semua mata yang ada di meja makan menatapku. Yang membuatku seolah-olah seperti seorang terpidana di sebuah pengadilan. Aku tak berani untuk bersuara.

"Sasuke? Sasuke siapa?" Kali ini terdengar suara Tou-san bertanya-tanya. Meski ia tak menyebut namaku. Tapi aku merasakan pertanyaan itu ditujukan padaku. Oh, Jashin-sama, aku benci dengan keadaan ini.

"Oh, adik kecilku ternyata sudah mulai genit, rupanya. Hm, kira-kira seperti apa wajah laki-laki yang sedang mengincar adikku ini ya?" Kyuu-nii mulai memperkeruh suasana sarapan pagiku yang udah bikin bad-mood sejak bangun tidur tadi. Aku yakin saat ini abangku yang paling rese sedunia itu sedang menyeringai. Meskipun aku tidak melihat wajahnya.

"Cuma teman biasa kok, Kaa-san."

"Teman biasa apa pacar, Naru? Kamu menyebutnya terus dalam igauanmu," ujar Kaa-san.

"Hei, imouto, memangnya kau memimpikan apa bersama cowok itu?" tanya Kyuu-nii menekan di setiap intonasinya. Dari suaranya aku tau, ia ingin memojokkanku. Ia selalu ingin tau segala urusan pribadiku. Dasar pengidap sister-complex akut. "Mulai berani main rahasia-rahasiaan denganku ya?" bisiknya di telingaku.

"Cuma teman kok, Nii-san," jawabku agak gemetar.

"Siapa nama pemuda tadi? Sasuke?" tanya , suara Tou-san sedikit meredam rasa gugup ini. Aku bersyukur memiliki seorang ayah seperti beliau. Ia sangat bijak. Mengatasi masalah selalu menggunakan cara yang persuasif. Tidak seperti Kaa-san, selalu menggunakan emosinya. Dan sifatnya itu terkopi dengan sempurna pada kakakku, Kyuu-nii. Yang membuat cowok tegap itu selalu merasa bahwa aku harus selalu ia lindungi. Makanya Sampai sekarang aku belum pernah pacaran. Jangankan untuk berpacaran, setiap ada cowok yang mendekatiku langsung berhadapan kakakku yang over-protective itu.

"U-Uchiha Sasuke, namanya," jawabku.

"Oh, dari keluarga Uchiha, rupanya." Tou-san terdengar lega. Apa tou-san kenal dengan keluarga Uchiha?

"Apa anaknya Fugaku dan Mikoto, ya?" ujar Kaa-san menimpali ucapan Tou-san. Nada suaranya mulai mereda. Aku merasa ia tidak gugup lagi. Kini aku berani menatap mereka.

"Tou-san dan Kaa-san kenal dengan keluarga Uchiha?" tanyaku sambil menatap mereka. Saat aku melirik kakakku. Ternyata ia sudah tidak ada dari tempat duduknya. Mungkin ia sudah berangkat ke kampusnya. Tak pernah pamit, itu kebiasaan buruk Kyuu-nii.

Tou-san menganggukan kepala pirangnya, dia tersenyum kepadaku. " Fugaku itu sahabat Tou-san waktu SMA. Dan Mikoto, adalah sahabat Kaa-sanmu. Tou-san dan Kaa-san bertemu itu berkat mereka. Fugaku dan Mikoto menjadi comblang dan mempertemukan tou-san dan Kaa-san." Tou-san mulai hanyut dalam kenangannya. Aku bisa melihat dari mata biru langitnya yang menerawang sambil tersenyum. Mungkin ia sekarang sedang mengingat-ingat saat masih pacaran dengan Kaa-san. Aku senyum-senyum sendiri saat melihat muka Tou-san mulai bersemu merah. Sedangkan Kaa-san, Wanita berambut merah panjang itu hanya memperhatikan Tou-san sambil senyum-senyum seperti diriku.

Saatnya aku berangkat. Jam tangan digitalku sudah menunjukan pukul 06.55. Untungnya, aku masuk jam 07.30. Ini adalah hari pertamaku tidak datang terlambat. Biasanya aku itu sering bangun kesiangan. Aku menunggu Taksi yang akan membawaku ke sekolah. Tak di sangka-sangka, sebuah mobil Hummer, berhenti tepat di depanku.

"Butuh tumpangan, Nona Namikaze?" tanya seseorang dari dalam mobil sambil menurunkan kaca jendela mobilnya. Kemudian orang tersebut turun dari mobilnya. Aku kaget melihat siapa yang datang saat ini.

END NARUTO POV

Naruto surprise banget. Ternyata yang keluar dari dalam mobil berbodi besar itu adalah sahabat Sasuke yang berkepala nanas. Shikamaru. Sambil tersenyum simpatik, Shikamaru menawarkan tumpangan pada Naruto. "Baru mau berangkat, Naru?"

"Iya, Shika. Kamu sendiri?" Naruto bertanya balik. "Kok kamu ngga sama Sasuke?"

Sambil membukakan pintu mobilnya untuk Naruto, Shika menjawab pertanyaan dari gadis berambut pirang yang ada di hadapannya. "Sasuke, itu sebenarnya mengambil cuti kuliah selama seminggu. Kalau pun ia datang ke kampus, paling hanya untuk mengetahui tugas yang diberikan dari dosen kami. Ayo, masuk. Ngga enak ngobrol di pinggir jalan. Mendingan kita ngobrol di dalam," tawar Shikamaru. Naruto mengangguk lalu mencolot masuk ke dalam mobil. Ia duduk di bangku depan di samping supir.

Setelah Shikamaru menjalankan mobilnya. Mereka melanjutkan obrolan mereka yang tadi sempat terputus. "Kok, Sasuke mengambil cuti, memangnya ada apa?"

"Ayahnya sedang sakit dan dirawat di RS Konoha Medika. Karena dari keluarganya ngga ada yang sempat untuk menjaga Fugaku-sama, terpaksa Sasuke mnegambil cuti kuliah untuk merawat ayahnya itu," ujar Shikamaru menjelaskan. Matanya melirik sedikit ke arah Naruto lalu kembali fokus pada laju mobilnya.

'Ah, ternyata benar, Ayah Sasuke adalah sahabat Tou-san dan Kaa-san,' batin Naruto. "Apakah nama ibunya Sasuke adalah Uchiha Mikoto?"

Shikamaru mengangguk. "Darimana kamu tahu?"

"Ayah dan ibu Sasuke adalah teman lama Ayah dan ibuku," jawab Naruto sambil menatap Shikamaru. Shikamaru tercekat. Ia kaget banget atas fakta yang baru saja ia dengar.

'Damned, Ayah dan ibu mereka teman lama,' umpat Shika dalam hati. Wajah Shikamaru mendadak tegang.

Melihat perubahan muka Shikamaru yang kentara banget, Naruto mengangkat kedua alis tipisnya. Tanda kalo ia bingung dengan ekspresi yang diperlihatkan cowok ganteng yang sedang memegang stir mobil itu. "Kamu kenapa, Shika?" tanya Naruto.

"Ngga ada apa-apa kok," jawabnya datar. 'Kayaknya udah waktunya buat gue untuk pedekate. Meskipun aku sudah keduluan sama Muka Datar,' pikir cowok rambut nanas ini. 'Jashin-sama, beri aku kekuatan.'

"Eng, Naru, kamu berangkat ke sekolah sendiri? Emangnya, cowok kamu ngga jemput?"

Naru tersenyum manis pada Shikamaru. Membuat cowok rambut nanas tak mampu melihatnya berlama-lama. Takut hidungnya mimisan. 'Ya Jashin, cewek ini emang manis banget.'

"Aku belum punya cowok kok, emangnya kenapa?" tanya Naruto tanpa melepas senyum manis di bibir mungilnya itu. Tangan Shikamaru jadi gemeteran. Kayaknya Shika butuh kapas untuk menyumbat lubang hidungnya biar tidak mimisan.

"O-ooh, kok bisa, cewek semanis kamu belum punya cowok?" Hidung Shikamaru mulai berkedut-kedut. Saat menatap rona berwarna pink di pipi tembem Naruto. 'Jangan mimisan, plis, jangan mimisan.'

"Kata Kaa-san, aku belum cukup umur untuk pacaran. Nah, itu sekolahku. Makasih ya Shikamaru, udah mau anterin aku."

Naruto lalu turun dari mobil Shika. "Pulangnya mau aku jemput, ngga?"

Naruto memutar tubuh mungilnya lalu menatap Shikamaru dengan mata Safirnya. "Ngga usah, Nanti pacar kamu marah, lagi?"

"Aku masih jomblo, tau. Mau ngga?" tanya Shikamaru lagi.

Naruto mengangguk dengan imutnya (OMJ, bukannya Shikamaru, malah Author yang mimisan melihat muka imut si Blondie ini). "Jam satu, ya," ujar Naruto lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke barat mengambil kitab suci, eh, ngaco, ke kelasnya.

Setelah Naruto hilang dari pandangannya, Shikamaru langsung meng-yes sambil jejingkrakan persis kuda lumping sehabis makan beling.. 'I love you, Jashin-sama. Ternyata kau mengabulkan doaku.'

Di tempat lain, Sasuke terlihat sedang mengambil obat di apotek RS Konoha Medika . Setelah mendapatkan apa yang sedang dicarinya. Ia kembali ke kamar ayahnya. Terlihat Fugaku sedang terlelap. Sudah hampir Seminggu, Sasuke menginap di rumah sakit. Mau bagaimana lagi, anggota keluarga yang bisa diandalkan Fugaku hanya tinggal Sasuke saja. Yang lainnya masih belum memberi kabar. Sasuke udah males mengabari kedua anggota keluarganya yang lain. Sasuke duduk di Sofa. Ingin mengistirahatkan seluruh persendiannya yang terasa pegal. Ruangan VIP yang sejuk itu membuat Sasuke mengantuk. Sedikit demi sedikit, mata onyxnya mulai terpejam. Kemudian ia hanyut terbawa ke dunia mimpi. Readers pasti udah tau dong, kalo Sasuke bakal memimpikan siapa. Jadi Author ngga perlu repot-repot bercerita.

Terdengar derit pintu kamar terbuka. Sasuke yang sudah lelap, tak menyadari kalau ada yang datang. Seseorang yang berwajah mirip Sasuke kini sedang memperhatikan sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit. Mata onyx pria itu kemudian menatap Sasuke. Pria itu mendekati Sasuke. Terdengar helaan nafas, tanda kalau pria itu agak gusar entah kepada siapa. 'Ternyata kamu yang mengurus semuanya sendirian, Sasuke?'

Pria itu lalu duduk di samping Sasuke yang tidur dalam posisi duduk. Terdengar dengkuran halus dari mulut Sasuke. 'Maafkan Aniki yang tidak bertanggung-jawab ini. Harusnya kau bisa tenang kuliah.' Pria itu lalu menatap Fugaku. Dari mata hitamnya, mulai sedikit berair. Namun mimik wajahnya tetap datar. 'Cepat sembuh, Tou-san. Maaf kalau aku, tidak perhatian padamu akhir-akhir ini.'

Suara dering telepon memecah keheningan di dalam kamar itu. Ada yang menghubungi pria tampan itu. "Ya, ada apa, Dei?" ucap Pria itu pelan saat menempelkan hape berwarna hitam di telinganya. Kemudian ia berjalan ke luar kamar, agar suaranya tidak mengganggu orang-orang yang sedang tertidur di kamar.

Dari ujung telepon, terdengar suara perempuan yang sedang di ajak bicara pria itu. Ia adalah sekretarisnya. "Begini, tuan Itachi, PT Rashengan Jaya Abadi ingin membeli beberapa saham perusahaan. Saat ini Wakil dari perusahaan itu sudah ada di Paris. Ia ingin bertemu dengan anda besok."

"Ya sudah, aku akan kembali ke Paris nanti malam. Kau yang atur jadwal pertemuan dengan orang dari perusahaan itu besok. Kau mengerti, Dei?"

"Baik, tuan Itachi. Akan saya kerjakan."

Itachi memutus sambungan telepon. "Hn," desisnya pelan. Ia masuk kembali ke dalam kamar. "Maafkan aku, Sasuke, Tou-san, aku harus segera kembali." Itachi mendekati ayahnya. "Aku akan berusaha keras agar Uchiha Company tidak bangkrut, Tou-san. Doakan aku agar pertemuan besok menjadi awal kebangkitan perusahaan keluarga kita."

Sebelum pergi, Itachi mencium kedua kening orang yang sangat ia sayangi itu. "Aku percaya kalau kau akan menjaga Tou-san dengan baik, Otouto." Itachi lalu ke luar dari kamar. Sasuke mulai terbangun. Samar-samar ia melihat seseorang sedang keluar melalui pintu. 'Itachi-nii?' batin Sasuke tak yakin. 'Oh, mungkin ini hanya mimpi.'Ia melanjutkan tidurnya lagi.

(Skip Time)

Siang itu, Shikamaru sedang menunggu seseorang, yang tak lain tak bukan adalah si pirang imut berkulit tan yang eksotis, Namikaze Naruto. Sesekali Shikamaru menguap karena bosan. Wajah ngantuknya mulai tampak. 'Ini cewek lama amat ya,' rutuk Shika dalam hati. Iris matanya yang hita melihat-lihat beberapa anak berseragam putih abu-abu berseliweran di depan matanya. Mencari sosok Naruto. Beberapa siswi centil menggoda si rambut nanas berwajah ganteng ini (ini bukan majas ironi ya, readers). Meskipun mukanya agak lecek mirip uang kertas seribuan kena hujan, tetap tidak mengurangi ketampanan anak tunggal dari Nara Shikaku, pemilik PT Shadow Group, perusahaan yang memproduksi berbagai macam sandal jepit.

"Lagi nungguin aku ya, kak?"

"Mukanya kok pucat sih kak, belum makan ya? Makan sama aku, yuk, kak? Entar aku suapin, deh!"

'Cih, bener-bener ngerepotin banget nih cewek-cewek gaje,' batin Shika memaki. Akhirnya dari arah kejauhan seorang cewek berambut pirang panjang yang dikuncir tinggi melambaikan tangan pada Shikamaru. Dengan berlari kecil, cewek pirang itu menghampiri Shikamaru. 'Akhirnya princess gue yang kawai muncul juga.'

"Maaf ya, Shika. Aku tadi piket dulu. Kamu udah nunggu lama ya?"

Shikamaru menggelengkan kepalanya. "Aku juga baru dateng kok," sahut Shikamaru berbohong. Naruto tahu kalo cowok yang sedang berdiri di depannya itu berbohong. Terlihat dari hidung mancungnya yang makin panjang kalau sedang berbohong. "Kamu udah makan siang?" tanya Shikamaru.

"Belum, kalau Shika?"

"Sama. Makan bareng yuk? Kamu suka makan di mana?" tanya Shikamaru lagi sambil membukakan pintu mobilnya.

"Ichiraku Ramen," seru Naruto tanpa berpikir lagi dengan penuh semangat lalu dengan penuh semangat juga cewek periang itu duduk di kursi depan. "Let's go!" pekiknya.

Senyum Shikamaru terkembang. Ia senang melihat cewek yang ia suka itu tersenyum manis. Mobil berpelat nomor 'B 3 JAT' itu mulai menjauhi gerbang SMA 1 Konoha.

(Ganti Tempat Cerita)

Seperti biasa, saat jam-jam makan siang seperti ini, Ichiraku Ramen padat pengunjung yang bermuka kelaparan. Seperti wajah Naruto saat ini. Saat turun dari mobil, begitu mencium aroma sedap dari Ichiraku, cacing di dalam perut Naruto langsung melakukan demonstrasi massal. Bunyi suara keroncong terdengar merdu dari perut Naruto. Shikamaru mendengarkan suara-suara itu dan menghayatinya. Cinta memang bisa membutakan mata, menulikan telinga. Masa suara perut keroncongan dihayatin?

Setelah mereka dapat tempat duduk, sambil menunggu pesanan datang, Shika dan Naru kembali ngobrol ngalor-ngidul. Keduanya terlihat nyambung, meskipun, baru deket pada hari itu. Anehnya, saat itu kedua mata Shikamaru tampak segar bugar, padahalkan Shikamaru itu punya penyakit bawaan dari kecil. Penyakit pelor, nempel molor. Tidak perduli itu di kelas, di dalam bis, di emperan toko, di lapak pedagang pasar impres, di mana saja, asal ia sudah merasa p-we (posisi wenak), dalam hitungan persekian detik pemuda malas tapi jenius itu pasti sudah tertidur pulas dengan dengkuran disertai balon yang keluar dari hidungnya. Tapi saat ini sikonnya beda. Saat ini ia sedang bersama Naruto. Masa iya, lagi seru-serunya cuap-cuap, cewek manis dan imut-imut itu di tinggal tidur. Apa kata dunia? Dan apa pula kata Akhirat? Bisa-bisa Namikaze Naruto itu ilfil terhadap Nara Shikamaru, yang bakal membuat pemuda rambut nanas itu makin jauh tertinggal dari Uchiha Sasuke. Mana ada cewek yang senengnya diperhatiin malah ditinggal tidur sama teman kencannya. Dongkol campur jengkol, eh, jengkel dong? Shikamaru ingin menciptakan suasana romantis bersama Naruto meskipun cuma makan Ramen di warung tenda Ichiraku.

Pesanan sudah datang. Tak mau menunggu air liurnya berjatuhan. Naruto menyambar sumpit di depannya, lalu tangan mungilnya yang lentik itu dengan lincah mencapit setiap lembar Ramen yang masih mengepulkan uap itu kemudian disuapkan kemulut mungilnya. Sedangkan Shikamaru cuma menjadi penonton. Memperhatikan cewek pirang itu makan, seperti menonton acara wisata makan yang sering ditayangkan di Konoha Channel. Kalau tidak salah, pembawa acaranya itu seorang chef wanita terkenal, Kurenai Queen. Sesekali Shikamaru menelan ludah. Memperhatikan bibir Naruto yang sibuk mengunyah makanannya. Naruto merasa risih, saat menyadari Shikamaru dari tadi cuma memperhatikan ia yang sedang makan.

SHIKAMARU POV

"Kok, Shikamaru ngga makan?" suara dari Naruto membuyarkan semua lamunanku yang sedang mengagumi kecantikannya. Apalagi sekarang cuma berdua tanpa gangguan dari si Muka Datar. Ia tetap menikmati makanannya. Tapi mata safirnya masih menatapku. Seakan-akan mata itu berkata, 'Ada yang salah, dengan cara aku makan?'

"Laparku hilang saat melihat kamu makan dengan lahap, Naru-chan," kataku sambil tersenyum. Aku menopang wajahku dengan tangan kananku. Masih ingin menikmati kecantikannya. Ku lihat ia menghentikan makannya. "Kenapa kamu berhenti, Naru?"

"Aku jadi ngga enak sama kamu, Shika."

Aku agak kaget mendengar ia berkata seperti itu. Apa jangan-jangan ia tersinggung dengan perkataanku yang tadi? "Memangnya ngga enak kenapa?"

"Gara-gara aku, nafsu makan kamu jadi hilang."

Aku langsung tertawa. Melihat tingkah polos gadis ini. Oh, iya, umurnya kan belum 17 tahun. Ia keheranan melihat aku tertawa secara tiba-tiba. Mukanya memerah.

"Cara makan aku bikin kamu malu, ya?" tanya Naru dengan nada seperti orang yang memiliki kesalahan.

"Maksud aku itu, melihat kamu makan, rasanya aku seperti ikut makan juga. Ngga ada yang salah dengan cara makan kamu. Aku malah senang melihat kamu makan dengan lahapnya. Kamu tetap terlihat manis."

Wajahnya makin merona saat mendengar penjelasanku. Oh, Jashin, ia terlihat makin manis. Damn, kayaknya hidungku mau mimisan melihat wajahnya yang seperti itu. Dasar hidung yang merepotkan.

Selesai makan-makan di Ichiraku, aku mengajak Naruto ke Konoha Park. Mumpung belum terlalu sore. Suasana di taman cukup romantis. Di sana banyak muda-mudi tengah memadu kasih. Memang dari dulu, taman ini menjadi tujuan utama buat pasangan kekasih yang ingin menikmati suasananya yang romantis banget. Aku dan Naruto memilih tempat duduk tepat di depan air mancur. Aku dan menikmati suasana sore hari itu.

"Gimana menurut kamu, suasana taman ini kalau sore hari, Naru?"

Mata biru langitnya menatap ke depan. Sama seperti aku, ia juga senang dengan suasana taman yang asri itu. Senyuman manis mulai merekah dari bibir pinknya. "Senang. Aku ngga pernah ke taman sore-sore."

"Oh, ya? Masa kamu belum pernah ke taman ini sih?"

"Kata Kyuu-nii, tempat ini kalo malam sering dijadikan tempat mesum sama anak muda yang berpacaran di sini."

"Kamu ngga takut aku bakalan berbuat macam-macam ke kamu, kan?" tanyaku masih menatap lekat wajahnya.

"Aku ngga ada perasaan takut saat ini. Justru, aku merasa nyaman bersamamu."

Damn, kini giliran wajahku yang memanas mendengar ucapan polosnya. Jantungku berdebar-debar, dengan ketukan 2/4. Tapi aku terkejut mendengar kelanjutan perkataannya.

"Aku juga merasa nyaman dengan Sasuke." Naruto menoleh ke wajahku. Memperlihatkan mata biru langitnya yang indah. Aku agak kecewa, ternyata perasaan nyamannya juga ia rasakan saat ada Sasuke. Tanpa sadar aku lengsung menggenggam tangan mungilnya yang lentik berkulit tan itu. Ia kaget dengan perbuatanku. Tapi ia tidak memprotesnya.

"Aku senang kamu merasa nyaman denganku, Naru-chan. Aku bahkan rela melakukan apa saja yang mungkin merepotkan asal kamu merasa nyaman di sisiku. Apa aku salah jika aku ingin memilikimu, Naru-chan?" Mulutku tanpa terkontrol dengan nalar, mengeluarkan kata-kata yang mungkin terdengar gombal di telinga gadis pirang ini. Mataku terus menatap permata safirnya. Aku tak perduli ia akan menolak diriku. Atau mungkin ia akan menamparku karena sudah lancang mengutarakan perasaanku yang baru ia kenal.

Pelan-pelan ia menarik tangannya. Melepaskan diri dari genggamanku. "Maaf, Shika, apa tidak terlalu cepat kamu mengatakan perasaanmu?"

"Seharusnya aku yang minta maaf, Naru. Kamu tidak salah apa-apa. Aku hanya ingin berkata jujur dengan apa yang aku rasakan. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku langsung jatuh cinta kepadamu."

Ia terdiam. Mengapa aku jadi begini? Bisa-bisanya aku menyatakan cinta pada orang yang baru aku kenal. Tapi aku juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Dengan gadis yang telah membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

END SHIKAMARU POV

Naruto bingung harus berkata apa. Jujur saja, baru Shikamaru yang berani menyatakan cinta secara terang-terangan di depan matanya langsung. Ada sedikit perasaan bahagia saat ia mengetahui bahwa cowok tampan berambut nanas di depan matanya itu memiliki rasa terhadapnya. Namun Naru sendiri juga tidak mengerti, apakah ia juga cinta pada cowok yang ada di hadapannya ini. Naru menundukan kepalanya. 'Apa secepat itu, Shika," batin Naru bertanya-tanya. 'Kita kan baru saling kenal?'

Suara Shikamaru memecah keheningan di antara mereka berdua. "Udah sore, Naru. Sebaiknya aku antar kamu pulang. Aku takut keluargamu mengkhawatirkan dirimu."

Naru mengangguk. Dan mereka berdua akhirnya meninggalakan tempat itu. Setelah sampai di rumahnya. Naru bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian. Selesai bertukar baju, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang bersprei warna orange bermotif rubah. Tangan mungilnya meraih boneka rubah kesayangannya yang ia beri nama seperti nama kakaknya, Kyuubi. Sambil memeluk boneka rubahnya. Ia memulai percakapan dengan boneka itu seolah-olah bonekanya itu memiliki nyawa.

"Aku lagi bingung nih, Kyuu. Ada cowok yang nembak aku. Emang sih, cowok itu keren, ganteng. Tapi kok aku ngga ngerasain apa-apa terhadapnya. Aku hanya merasa nyaman di dekatnya. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan, Kyuu?" tanya Naru lalu menatap bonekanya. "Kan aku sukanya sama Sasuke, sahabatnya?"

"Kalo kamu suka pada cowok yang menembak kamu, ya, terima saja. Kalo kamu ngga memiliki perasaan apa-apa, ya, jadikan sahabat aja. Tapi aku ingin tahu, apa cowok yang nembak kamu Sasuke?"

Naruto kaget, kok bonekanya bisa bicara. "Eh, kamu bisa bicara, Kyuu?"

"Ya iyalah, aku kan hebat. Kamu belum jawab pertanyaan aku, apa cowok yang nembak kamu itu Sasuke?"

"Bukan, Kyuu. Nama cowok itu, Nara Shikamaru. Orangnya baik dan perhatian juga seperti Sasuke. Bahkan tadi pagi aku diantar sekolah sama dia," sahut Naru.

"Oh, jadi cowok itu berani mengantarmu berangkat ke sekolah? Rupanya cowok itu mau merasakan tinjuku?"

"Hei, Kyuu. Kamu kan ngga punya tangan. Lagi pula badan kamu kan kecil. Yang ada juga, kamu yang dibikin keok duluan," ejek Naru lalu terkekeh.

"Apa cowok itu bakal mengantarmu ke sekolah besok, Baka Imouto?"

Naru kesel sama bonekanya karena menyebutnya baka. Dengan gemas ia meninju-ninju boneka rubah itu. "Dasar Kyuubi jelek, memangnya siapa yang baka, hah?"

"Kamu, baka Imouto, dari tadi ngga nyadar kalo aku berdiri di belakangmu."

Naru baru nyadar, ternyata yang menjadi dubber buat bonekanya yang bernama Kyuubi itu adalah Kyuubi yang asli, Anikinya. Naruto langsung memekik saking malunya. "Kyyaaaa, sejak kapan Nii-san ada di kamarku?"

"Sejak kamu curhat dengan boneka bodohmu itu, Baka. Ternyata kamu lebih memilih curhat dengan boneka daripada kakakmu sendiri, ya?" ujar Kyuubi menggoda adik pirangnya lalu duduk di sampingnya. Sambil mengacak-acak rambut Naruto, Kyuubi terus menggodai adiknya yang ngegemesin itu. " Ternyata daya hayal kamu tinggi ya, sampai-sampai mengira kalau boneka rubahmu bisa bicara."

"Dasar Kyuu-nii rese," gerutu Naruto sambil menggembungkan pipinya.

"Jadi benar, kamu itu lagi dekat dengan Sasuke?" tanya kyuubi, tangannya gemes nyubit-nyubit pipi si Pirang. Yang punya pipi jelas langsung mengelus-elus pipinya yang makin merah sehabis di cubit Kyuubi.

"Kalo iya, memangnya kenapa? Kyuu-nii mau protes, apa mau menghajarnya seperti cowok-cowok yang dulu ngedeketin aku?" cerocos Naru. "Over protektif banget sih?"

Kyuu-nii menatap adik satu-satunya itu sambil senyum-senyum. "Kamu itu belum pantes pacaran, baka. Curhat-curhatan aja sama boneka. Kayak anak balita."

"Bodo..." Naru langsung menyembunyikan diri di balik selimut tebalnya. Kyuubi makin gemas meledek adik pirangnya itu.

'Aku cuma takut kamu nantinya cuma jadi mainan cowok-cowok aja. Kamu itu masih terlalu polos, lugu, dan manja,' batin Kyuubi dengan nada nelangsa.

Tu Bi Kontinyut Alias Bersambung

Gomen ya Minna, udah lama ngapdetnya, ceritanya makin ancur-lebur kena lumpur. Minta maaf lagi, kalo ada banyak kesalahan. Ya Fic must go on aja deh, semangat…. Ekstra Ngos….

Terima : Review, Flame, kritik pedas full cabe rawit, pokoknya dalam bentuk apapun. Segala yang readers mau kasih, aku dengan ikhlas menerima. Karena aku hanya seekor Author abak yang tersesat di suatu jalan yang bernama kehidupan.

Makasih ya…

Untuk Chapter selanjutnya : Naru bingung karena ada dua cowok yang nembak dia, Shikamaru dan Sasuke. Naru bingung mau pilih yang mana, Shika apa Sasu, dua-duanya sama-sama ganteng sih. Shika nekat menemui orang tua Naru minta restu, dan Sasuke ngga mau kalah, mengenalkan Naru ke Fugaku, ayahnya. Persaingan kedua sahabat ini makin memanas.