KimTammy17 (Elysian Noceur)

.

.

.

.

Cinta Sang Pembunuh

.

.

.

.

Cast:

Oh Sehun

Luhan

Kim Jongin

Other

.

.

.

.

Genre:

Hurt/Angst

Tragedy

Romance

.

.

.

.

Luhan merasa ia adalah wanita paling bodoh sedunia.

Pagi tadi ia mendapatkan sebuah ucapan selamat atas pernikahannya dengan Sehun yang sama sekali Luhan tak masuk ke akal sehatnya. Otaknya mengira dokter di sana gila, bukannya memberikan ucapan atas kesembuhan, yang ada malah ucapan atas hal yang tidak-tidak. Luhan sempat bergidik apakah ia sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Merasa sangat bodoh karena harus menerima selamat bertubi dari beberapa dokter dan perawat. Kesalnya, si Dokter Oh yang terus berada di sampingnya tak memberikan ekspresi atau sepatah katapun atas hal yang membuanya Luhan kelewat dongkol.

Belum lagi sekarang kakinya melangkah begitu saja saat mobil yang tengah Sehun kendarai terhenti di basement apartemen mewah; meninggalkan Sehun di belakangnya menuju lift dan menekan angka atas kemauan jemarinya. Hingga kotak besi itu membawanya kelantai lima saat mata rusanya menangkap angka yang tertera di atas pintu lift. Melangkah asal sesuai nalurinya hingga berdiri tepat di depan pintu yang sama sekali tak ia ketahui. Hanya naluri. Sungguhan!

"Wow.." ucap Sehun saat langkah Luhan yang sedari tadi ia ekori berhenti tepat di depan pintu yang ia tuju. Ucapan Sehun barusan menarik perhatian Luahn yang tengah khidmat memandang pintu di depannya.

Kakinya mendekat ke arah Luhan, hampir menghimpit tubuh kecil Luhan ke arah pintu, "Kau pernah kesini sebelumnya?" suara husky menelisik indera pendengar Luhan hingga wanita itu bergidik dengan gejolak panas memuai dari perutnya hingga menjalar ke daerah kewanitannya. Shit, ia basah.

"T-tidak.." sahut Luhan cepat, berusaha mengendalikan dirinya di depan dokter yang tengah menghimpitnya dari arah belakang. Ia bisa merasakan tubuh lelaki itu terus menghimpitnya hingga tubuh Luhan bersentuhan mutlak dengan pintu di depannya.

Hembusan nafas panjang membelai pundak Luhan yang terbuka karena baju musim panasnya. Double shit, ia hampir orgasme hanya karena hembusan nafas Dokter Oh yang berdiri di belakangnya.

"Kakimu.." lanjut Sehun, ada tawa yang menjeda dalam kalimatnya. "Kakimu melangkah kemari. Kau pernah kesini?" pertanyaan Sehun sebenarnya biasa aja untuk orang normal, tetapi dengan cara ia bertanya dengan tindak tanduk seperti itu, Luhan sudah terbang ke awang-awang. Tangan Sehun beranjak mengarah ke pinggang Luhan; melaluinya. Namun sempat menyentuh pinggang Luhan yang tengah terpejam merasakan kewaitaanya berkedut keras. Hanya melewatinya tanpa mengindahkan tubuh Luhan yang diam-diam menjerit meminta lebih.

Sehun membuka mulutnya kembali, membisikkan rentetan angka yang sama sekali tak Luhan pahami karena otaknya buta akan kabut nafsu dan tubuh Sehun masih terus menghimpitnya lembut dengan getaran yang membuat Luhan pusing.

Wanita di depannya melenguh agak keras dengan tubuh yang bergetar pelan saat suara kunci otomatis yang terdengar nyaring. Luhan membuka matanya lebar saat menyadari sesuatu. Triple shit! Ia orgasme hanya dengan Sehun yang sengaja mencumbunya saat masukkan password pintu di depannya.

Luhan mengumpat dalam batinnya.

Tangan Sehun yang seakan merengkuhnya dari belakang, membuka knop pintu di depannya. Luhan yang masih menyender apik di pintu harus menanggung malu karena ia hampir tersungkur jatuh jika lengan Sehun tidak menahan telak di pingganya. Pipinya memanas. Ia malu sungguhan. Orgasme dengan mudah di depan Sehun dan kini hampir tersungkur jatuh. Luhan berharap tangannya bisa merobek wajah cantiknya dan membuangnya jauh-jauh.

Pikirannya pecah saat menatap isi apartemen yang tentu saja mewah, nyaman, dan terlebih ada wewangian alam yang menenangkan. Pandangannya menelusuri hingga tidak sadar membuat Sehun tersenyum di belakang sana di tengah kegiatannya menutup pintu. Suara pintu yang terkunci otomatis menyadarkan Luhan.

"Tak kusangka, baru keluar dari rumah sakit kini aku harus melayani salah tamu si berengsek itu."

Kalimat dangkal Luhan barusan secara tak sadar memercik api dalam diri Sehun. Lelaki itu berusaha kuat agar tidak emosi pada 'si berengsek' yang Luhan maksud. Kim Jongin, sahabatnya yang kelewat kurang ajar.

"Kau akan tinggal di sini." Desis Sehun masih mematung di belakangnya. Tangannya mengepal hingga memutih untuk meredam amarah.

Tubuh wanita di depannya kini berputar. Menimbulkan suara desiran dress musim panas yang tingah ia kenakan. Manik rusanya memandang dalam ke arah mata elang Sehun. Pandangan penuh tanya terlontar dari Luhan. "Ini apartemenku." Lanjut Sehun. Datar, sumbang, tak ada kehiduapan dalam suaranya. Seperti itulah Sehun di mata Luhan.

Luhan berdecih keras, otaknya tak habis pikir akan hidupnya yang terlalu terbelit, tertindas, hingga membuatnya muak. "Ah..." ucap Luhan dengan anggukan seolah ia paham dengan apa yang ada di dalam otak cantiknya. "Ia menyuruku untuk melayanimu saat ini, benar Dokter Oh?"

Lagi-lagi kalimat dangkal Luhan menimbulkan api dalam diri Oh Sehun. Ada urat terlihat jelas di leher Sehun yang berusaha sekuatnya memendam amarah. Emosnya labil, ia bahkan bingung dengan dirinya sendiri. Kewalahan melawan sosok amarah dari sisi Oh Sehun yang selalu tertidur di dalam dirinya.

Bibirnya hendak berucap, menyangkal kalimat dangkal Luhan yang terlampau nonsense. Namun suara wanita di belakang Luhan mengintrupsinya. Ekor mata elang Sehun menangkap wanita dengan perut membuncit. Langkahnya sontak berpindah begitu saja mendekat ke arah wanita yang tiba-tiba muncul di apartemennya. Sehun sudah tahu akan hal ini, tetapi ia tak menyangka wanita itu datang cepat ini.

Luhan sempat menatap raut wajah emosi Sehun namun detik berikutnya hilang saat arah pandang mata teduhnya menatap sesuatu di balik diri Luhan. Awalnya ia bergidik akan sesuatu di belakangnya. Namun, langkah yang bisa dibilang cukup tergesa dari Oh Sehun membuatnya urung.

Arah pandangannya menemukan Sehun yang mendekat ke arah wanita lebih pendek darinya dengan dress cantik ala ibu hamil. Mata bulannya lebar, berpipi dan bibir penuh menggoda dan mengundang lelaki untuk menciumnya, tengah terdiam memandang Luhan dan Sehun bergantian.

Ada rasa nyeri di salah satu tubuh Luhan saat Sehun menyentuh perut wanita yang tengah mengandung di hadapannya. Cemburu? Tak terima dengan perlakuan Sehun dengan wanita itu mungkin? Otak Luhan jungkir balik hanya untuk mencari sebuah titik terang disini. Apa wanita itu adalah istri dari Oh Sehun? Hampir saja ia tertawa akan dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia hampir menaruh hati kepada lelaki yang sudah memiliki istri. Bahkan istrinya tengah hamil tua. Sudah cukup ia menjadi boneka yang digilir tiap harinya di antara pria bejat di luar sana, tetapi mengganggu suami orang, Luhan sungguhan merasa jijik pada dirinya sendiri.

Tapi tunggu, jelas-jelas ia sadar tadi pagi beberapa dokter dan perawat mengucapkan selamat atas pernikahan yang mereka kira ia adalah istri dari Oh Sehun. Kepalanya hampir saja meledak saat lagi-lagi wanita itu mengintrupsi.

"Hai, Luhan." sapa wanita itu yang tentu saja mengundang friksi terkejut dalam diri Luhan.

Wanita itu mengenalnya?

.

.

.

.

Sehun mengernyikan kening. Ada rasa yang aneh dalam dirinya setelah lama tidak berkunjung ke klinknya. Ia sudah menghubungi Jongdae dan Chanyeol untuk kembali ke klinik. Hampir sebulan mungkin Sehun tak bertemu dengan kedua bocah tengik itu.

Ban berdecit di belakang bangunan kotor yang sudah menjadi rumah keduanya setelah apartemen mewahnya. Puluhan lalat langsung mengerubunginya seakan mengucapkan selamat datang kepada tuannya yang sudah lama tak kemari.

Sepatu hitamnya yang sudah disemir menginjak tanah lembek dengan beberapa tulang yang yang terlihat membusuk. Itu bukan tulang ayam kesukaan rekannya, sudah bisa dipastikan oleh Sehun sendiri itu adalah tulang yang belum terlalu terbentuk dari jabang bayi yang sempat ia aborsi beberapa bulan yang lalu.

Lelaki itu berdecak kesal saat tangan putih mulus dari mayat wanita yang terpendam lumpur menghalangi jalannya. Dengan ujung sepatunya ia memindahkan tangan yang menjulur tepat di depan pintu masuknya. Memberikan sebuah injakan kecil agar tangan yang sempat ia pindahkan barusan ikut terkubur di lumpur lembek tempat tubuh wanita itu terkubur.

Wangi busuk sudah menguar, ia tak mempermasalahkan hal itu. Hidungnya sangat menyenangi wewangian seperti ini. Ada rasa semangat yang menguar begitu saja dalam diri Sehun akan pemandangan busuk dengan lalat beterbangan. Ia menyukai ah mungkin lebih dari suka, Sehun sudah terlampau cinta dengan pekerjaan ini.

Tangannya memasukkan anak kunci dan memutarnya semangat. Ia telat beberapa menit untuk bertemu dengan salah satu pasien yang sudah menghubunginya melewati kotak e-mail. Pandangannya bertemu dengan Chanyeol dan Jongdae secara bersama. Kegiatan yang selalu terkuak jika mereka bersama. Jongdae yang menggangu Chanyeol habis-habisan saat lelaki itu dengan bercumbu dengan gadgetnya.

Sehun berdeham, memberikan sinyal bahwa ia sudah di sana.

"Dia sudah kubius." Sahut Jongdae dengan jemari yang berusaha menyentuh layar gadget Chanyeol yang menampilkan permainan balap mobil. Ia berharap makhluk bertelinga lebar ini kalah dan reaksi Chanyeol sungguhan lucu jika ia sedang marah.

Sehun berdeham kecil memberitahu bahwa ia mendengar kalimat Jongdae barusan. Langkahnya beralih ke salah satu bilik di ruang kerjanya. Menatap beberapa kertas yang bertumpuk; surat-surat perjanjian pasien-pasiennya. Begitu banyak kertas itu bertumpukan tentu saja bisa Sehun bayangkan berapa banyak pasien yang akan menuntaskan rasa senang Oh Sehun dalam melakukan proses aborsi.

Ia sangat bersemangat hari ini.

Tangannya dengan cepat megambil lalu memakai jubah operasi berwarna biru dengan penutup kepada dan masker senada. Tarikan nafas dalam berpartikel menyejukkan menembus masker Sehun hingga ke rongga dadanya. Menimbulkan senyum kecil di balik masker biru di wajah rupawannya. Ia akan kenyang setelah ini dengan 'ayam'nya.

.

.

.

.

Luhan memiliki hobi baru sekarang, bernyanyi. Bukan bernyanyi secara harfiah melainkan bernyanyi melantunkan lirik yang berisi umpatan sumpah serapah dalam batinnya. Wanita itu akan rela melantunkan lagu dengan bait kasar dan kotor terutama untuk lelaki bernama Oh Sehun.

Setelah adegan keterjutannya berjumpa dengan 'istri Oh Sehun' yang selama ini ia tak ketahui tiba-tiba saja lelaki itu tanpa berbicara lagi pada Luhan langsung beranjak kaki dari apartemen. Meninggalkan Luhan dengan wanita yang tengah mengandung dengan atmosfir canggung yang kuat. Atau hanya perasaan Luhan saja melihat wanita yang tadi sudah mempersilahkan Luhan duduk di hadapannya dengan senyum mengembang.

Otaknya berasa mati hanya mencari topik yang pantas untuk membuka percakapan. Matanya berkali-kali mencuri pandang kepada sang ibu hamil yang masih memberikan senyum walau tak menatapnya lagi dengan tangan yang kini tengah mengelus pelan kandungannya yang Luhan bisa prediksi sekitar 1-2 bulan wanita itu akan melahirkan.

Sekarang otaknya hanya bisa berfikir bahwa ia adalah makhluk terjijik dan terhina di dunia. Luhan tak pernah mempermasalahkan berapa banyak penis yang memasukinya dalam sehari ketika di kamar merah bobroknya tetapi melihat fakta bahwa hampir, sekali lagi otak Luhan menekankan kata hampir saja ia menyukai lelaki yang sudah beristri. Luhan baru menyadari betapa menjijikkan dan kotornya karena sudah menaruh harapan untuk suami orang.

Tanpa sadar Luhan tersenyum kecut, matanya masih terkunci tepat di kandungan wanita di hadapannya. Tangan berisi wanita itu masih terus memberikan usapan sayang pada perutnya. Ego Luhan menginterpresentasikan dengan hal yang salah. Gerakan halus selembut sutra wanita di depannya itu seolah sedang mengejeknya secara tak kasat mata.

Lihatlah hasil buah cinta kami. Kau jangan pernah bermain dengan suamiku.

Kalimat yang dibisikkan oleh ego Luhan berputar terus-menerus seolah kaset rusak yang memekakkan telinga.

"Maafkan suamiku."

Suara lembut itu menghancurkan suara kaset rusak di otak Luhan. Pandangan Luhan kosong sesaat otaknya kehilangan orientasi akan keadaan sekitar. Hingga tanpa sadar Luhan hanya melenguh kecil seakan mendengarkan apa yang wanita itu utarakan

"Maafkan suamiku hingga membuatmu seperti ini."

Luhan tersedak ludahnya sendiri. Pandangan tak percaya terpasang dalam raut wajahnya. Tidak bisakah otaknya ini berhenti berfikir sesuatu yang rumit? Ia terlalu lelah hanya dengan kenyataan yang barusan sang istri Oh Sehun katakan.

Ia meminta maaf akan suaminya? Raut wajah yang sedari tersenyum dengan terus mengelus perutnya kini menjadi sendu dan muram. Luhan salah tingkah. Ia bingung dengan keadaan sekarang. Suaminya yang terlampau dungu itu kini entah kemana meninggalkan istrinya dan sekarang meminta maaf atas nama sang suami. Rasa canggung makin menguat tatkala permintaan maaf terlontar. Wanita rusa itu menjadi tak enak hati.

"T-tidak masalah Nyonya Oh. Suamimu bukan orang yang ja–"

"Nyonya Oh?"

Sepertinya keahlian dari wanita mengandumg ini adalah memotong pembicaraan. Luhan langsung terdiam hanya kalimat tanya dengan nada pelan terlontar dari bibir wanita di depannya. Bibir kecilnya terkatup rapat. Otaknya merutuki dirinya sneidir, apa ia barusan mengucapkan sesuatu yang salah?

"Kau kira aku istri Oh Sehun?" dalam tanyanya. Ada nada lelucon yang sedang wanita itu tahan. "Aku Kyungsoo, istri dari Kim Jongin. Astaga! Aku kira dua orang lelaki bodoh itu sudah memberitahumu akan kedatanganku hari ini."

Luhan tersedak ludahnya dua kali dalam kurun waktu dekat. Jadi sedaritadi ia berhadapan langsung dengan istri dari orang yang ia benci. Dirinya kembali menjadi bingung. Ia merasa canggung sekaligus kikuk, ia tak paham harus melakukan apa. Jika marah, ia tak akan memarahi istrinya. Luhan akan lebih bijaksana untuk mencaci Jongin langsung daripada istri yang terlampau baik seperti Kyungsoo. Di sisi lain, ada rasa bahagia yang tiba-tiba memeluknya. Jadi Oh Sehun belum menikah? Oh Sehun si dokter tanpa ekspresi yang tampan itu masih lajang? Pipi Luhan sedikit bersemu merah.

Pikirannya terputus seketika ketika sebuah gunting yang bernama fakta mengoyaknya kasar. Baru saja tersadar bahwa barusan Kyungsoo meminta maaf akan nama suaminya. Pandangannya kembali bertemu sapa dengan mata bulan Kyungsoo.

Luhan terasa dihunus berbagai pisau dengan kelancipan yang mematikan. Istri Jongin itu membeberkan semuanya. Bisa-bisanya makhluk hina seperti Jongin kini berpijak di negara tirai bambu sedangkan sang istri meminta maaf atas namanya. Bahkan terlihat jelas sekali dari raut wajah Kyungsoo ia sangat menyesal atas apa yang terjadi dengan Luhan. Bagimana Jongin yang memperkosanya dan membuang Luhan ke semua anjing kelaparan Jongin, bodyguardnya. Belum lagi Luhan yang dihidangkan ke semua kolega Jongin.

Bahkan dalam beberapa kalimat yang Kyungsoo paparkan sesekali terhenti karena tangisnya. Tubuh Luhan terlalu kaku untuk sekedar memberikan tissue kepada Kyungsoo. Ia masih merasa nyeri untuk bergerak karena fakta yang menusuknya tajam. Bukan karena perbuatan Jongin yang seenak sampah ia membuang Luhan. Ini tertuju bagaimana Kyungsoo yang terus menerus meminta maaf padanya.

Dalam kasus ini Kyungsoo sama sekali tak ada campur tangannya. Ia adalah sosok istri yang luar biasa kalem, baik, dan terlalu polos. Pikir Luhan. Tangan rantingnya menggepal erat, mata rusanya terlihat kilat benci kepada Jongin.

Lelaki semua sama. Pengecut. Bajingan. Lebih dari kotor dan hina. Luhan normal, ia masih kasmaran kepada lelaki, tetapi mengingat bagaimana semua lelaki yang pernah ia temui dalam hidupnya, Luhan bersumpah lebih baik mati tanpa suami daripada menekuk lutut pada makhluk hidup yang sangat ia benci.

"Luhan, kau baik?" pertanyaan Kyungsoo mengalihkan pemikiran Luhan dan kini terpusat pada Kyungsoo. Mata penuhnya memerah karena menangis dan syukurnya kini wanita hamil ini sudah memegang tissue untuk mengusap air mata. Luhan mengangguk dan sedikit tersenyum. Ia boleh membenci Jongin seperti membenci ayahnya, tetapi ia tak akan menbenci sosok di depannya ini yang sebelumnya tidak tahu menahu dan lebih parahnya lagi harus meminta maaf.

Mata bulan Kyungsoo menyusuri ruanganan hingga jatuh pada pantry dapur dengan mesin pembuat kopi otomatis. "Maafkan kelancanganku, seharusnya aku membuatkan kopi untukmu." Kyungsoo mencoba berdiri dari duduknya namun detik berikutnya ia harus terduduk kembali dengan menahan rasa nyeri di kandungannya. Luhan sontak saja kaget dan menggeser duduknya hingga kini tangannya tanpa sadar memegang kandungan Kyungsoo.

Perutnya sungguhan keras. Apa perut Luhan akan terasa keras seperti ini jika sedang mengandung anaknya? Ya, mungkin jika saja Oh Sehun tidak mengabor– Kepala Luhan menggelang cepat, "Kau baikkan?" mata rusanya menangkap raut wajah Kyungsoo yang kesakitan. Apa wanita ini akan melahirkan?

Kyungsoo terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memasang senyumnya dan kembali terduduk. Ia urung membuatkan sesuatu untuk Luhan.

Luhan tersenyum dan kembali duduk di tempatnya semula. Pandangannya mengelilingi ruangan ini, terasa sangat nyaman dan tenang. Luhan suka ini. Hingga matanya terjatuh pada jejeran paper bag dengan brand baju ternama di ujung ruangan.

"Apa Sehun seorang desainer?" tanya Luhan pelan, seolah pertanyaannya barusan akan membuat kesalahan seperti sebelumnya saat ia masih mengira bahwa Kyungsoo adalah isri dari Oh Sehun.

Mata Kyungsoo mengikuti arah pandang Luhan, menatap jejeran paper bag yang sempat dibawakan oleh anak buah Jongin. Bibirnya tersenyum dan menyadarkan Luhan bahwa wanita ini memiliki senyum berbentuk hati.

"Kau akan tinggal di sini bersama Sehun itu semua pakaianmu." Lagi dan lagi. Seharusnya Luhan bisa mengontrol liurnya agar tidak membuatnya tersedak. "Aku akan tinggal dengan si dokter itu?" ulang Luhan. Ia merasa makin kesini hidupnya semakin berantakan.

"Kau kan istrinya. Apa kau mau kembali ke tempat di mana Jongin menyekapmu?" kalimat terakhir Kyungsoo membuatnya bungkam sesaat sebelumnya ia hendak melemparkan protes.

Istri apanya? kenal saja baru sebulan lalu dan,

Sepertinya Luhan sedikit paham dengan keadaan ini. Luhan pintar tentu saja, ia paham akan semua ini. Luhan sedang dalam drama Jongin dan Sehun. Tangannya mengepal kembali, sudah cukup dua lelaki itu menghancurkannya tetapi jangan untuk membodohi Kyungsoo yang bernotabene tidak tahu-menahu.

Pekikkan tertahan Kyungsoo lagi-lagi menyadarkan Luhan. Bukan raut kesakitan sekarang, di wajahnya kini terlihat senang dan penuh haru.

"Bayinya menendang." Ucap Kyungsoo dengan nada bergetar menahan tangis.

Kyungsoo perempuan, Luhan juga. Perempuan memiliki perasaan yang rapuh seperti embun pagi. Luhan bisa merasakan bagaimana perasaan senang sebagai ibu saat merasakan kehamilan.

"Ini anak pertamaku setelah bernikahan tujuh tahunku dengan Jongin." lanjut Kyungsoo yang kembali mengusap di mana bayinya menendang. "Aku sempat keguguran." Matanya beralih ke arah Luhan yang masih terdiam. "Sehun yang menolong dan menjagaku hingga ia sebesar ini. Aku sangat berterima kasih untuk Sehun maupun suamiku."

Sejak menikah dengan Jongin sekiatar tujuh tahun lalu, Kyungsoo langsung senang atas kabar kehamilannya pada bulan ketiga setelah pernikahan mereka. Namun saat menginjak bulan kelima kehamilannya. Ia harus kehilangan janin sucinya karena rahimnya yang sungguh lemah untuk menerima bayi. Kyungsoo terpuruk, begitu pula Jongin. Tetapi suaminya sepertinya lebih mengerti. Istrinya lah yang sangat kehilangan karena statusnya adalah ibu dari bayi itu. Jongin yang sudah berjanji di pernikahan mereka atas sakit, sehat, maupun terpuruk, ia akan menjaga Kyungsoo.

Waktu adalah obat penyembuh yang paling baik. Sudah bertahun-tahun lamanya Jongin selalu menjaga Kyungsoo agar tidak hamil. Sudah cukup ia harus kehilangan anaknya, Jongin tidak ingin kehilangan istri yang ia cintai. Namun suatu malam, Kyungsoo dengan aura cerianya mendatangi Jongin. Ia ingin melepas alat kontrasepsinya dan menginginkan seorang anak. Bos besar Korea itu bungkam. Ia mungkin bisa memberikan Kyungsoo istana hari itu juga dengan uangnya, namun jika ia mengabulkan permintaan Kyungsoo, sama saja jika hal beberapa tahun silam akan terulang kembali. Mungkin tidak hanya anaknya, Kyungsoo pun akan meninggalkannya detik itu juga.

Tidak semudah apa yang diharapkan Kyungsoo, Jongin menolaknya untuk melakukan hal itu. Hampir beberapa minggu istrinya merajuk hingga seluruh isi rumah megah mereka gempar karena Kyungsoo yang hampir membunuh dirinya sendiri. Akhirnya detik itu juga Jongin mengabulkan permintaan Kyungsoo dengan sebuah syarat; Sehun yang memegang Kyungsoo selama kehamilannya.

Tentu saja Kyungsoo teramat sangat senang. Tanpa sadar ada senyum malu-malu di wajah Kyungsoo. Pikirannya melayang pada saat Jongin yang membentaknya karena khawatir akan kandungannya. Kyungsoo sadar ia yang salah, ia tidak memikirkan bayinya saat berlari menuruni tangga. Wanita permata bulan itu sudah berjanji tidak akan melakukan hal teledor kembali untuk selanjutnya.

Serigala berbulu domba. Itulah kalimat yang tertulis dalam benak Luhan. Kalimat itu tertancap permanen untuk kedua orang yang bernama Oh Sehun dan Kim Jongin. Untung saja Jongin memiliki uang untuk menyewa Sehun. Dan untungnya juga dokter sinting itu tidak menggugurkan istri Jongin.

"Ah ya ngomong-ngomong tentang Jongin. Lusa besok ia akan pulang dan meminta maaf langsung padamu. Aku mohon maafkan kesalahannya." Ucap Kyungsoo kembali dengan nada menyesal. Dari suduh matanya, Kyungsoo pasti sudah menahan tangisnya kembali.

"Kyungsoo.." panggil Luhan. wanita rusa itu masih kalut dalam pemikirannya. "Kau tidak marah pada Jongin?" tanyanya pelan. Hati wanita itu rapuh, lebih dari dirinya.

Wanita berbadan dua itu terdiam. Matanya sendu bergerak tak fokus hingga tanpa sadar air mata yang sedaritadi ia tahan terjatuh menciptakan garis mengkilat di pipinya. Ada senyum getir tersampir di bibir hatinya.

"Aku marah, sangat marah." Kalimat yang ia ucapkan memang tak bohong. Namun dalam nadanya tak ada sama sekali emosi yang tersirat. Seperti bisikan kasih sayang di pagi hari untuk membangunkan seseorang yang tercinta.

"Sangking marahnya aku sampai tak bisa mengungkapnya karena aku sangat mencintai suamiku." Lanjutnya dengan kepala yang tertunjuk. Menyembunyikan wajah merah akan tangisnya. Nafasnya terdengar putus-putus.

Luhan hampir saja menangis sesaat namun kandas setelah Kyungsoo membuka kembali bibirnya. "Kandunganku lemah. Jangankan bersetubuh, berjalan saja ia sudah menahan marah padaku. Ia mengkhawatirkanku, Luhan." tangannya mengusap air matanya. Menaikkan pandangannya perlahan hingga menatap Luhan kembali. "Maka, maafkan suamiku jika melakukan kehendaknya padamu. Aku terlalu mencintainya untuk memarahi Jongin. Tolong maafkan Jongin. Aku mohon atas nama suamiku."

Kurang ajar kau Kim Jongin.

.

.

.

.

"Bangsat."

Kalimat Luhan menyambut langkah Sehun yang baru saja berpijak di apartemennya. Wanita itu bersedekap memandang murka ke arah Sehun yang masih memakai jas dokternya. Sehun bahkan belum membuka sepatunya.

Alis tebalnya terakat naik memandang Luhan seakan menantang. Bukannya disambut hangat kini wanita itu memakinya. Ayolah, Luhan bukan istrinya dan jangan berharap ia akan menyambutnya dengan penuh cinta, wewangian, dan berlanjut dengan pergolakan cinta yang memabukkan di atas ranjang bersama Luhan. Itu . . . sepertinya hanya hayalan belaka.

"Aku tahu dengan skenariomu dan Jongin yang sudah kalian rencakan. Aku rela jika kalian memasukkan diriku ke drama kalian yang sama sekali aku tak tahu tujuan dan keuntungannya" tangan rantingnya ikut andil dalam memaki Sehun. Telunjukan tepat di depan wajah mungilnya, memberikan gesture jangan pernah bermai-main dengan Luhan. "Bisa-bisanya lelaki bajingan seperti kalian menyeret Kyungsoo untuk meminta maaf atas perbuatan kalian!" wanita itu berteriak frustasi di setiap kata dalam kalimatnya.

Luhan menghentikan kalimatnya saat air mata yang tiba-tiba memupuk di matanya hampir menetes. Nafasnya tersenggal. Ia marah, ia terbakar. Mengapa tuhan harus membuat skenario rumit dalam kehidupannya? Mengapa juga ia harus berhadapan dengan dua lelaki berengsek seperti Jongin dan Sehun?

Tak ada sahutan dari Sehun. Bertindak masa bodoh pada kalimat frustasi Luhan seolah itu adalah kalimat hangat selamat datang untuknya. Kakinya terus melangkah menuju pintu kamar yang ada di balik tubuh Luhan. Tanpa ada persiapapn apapun dari Sehun, sebuah hantaman bertubi tertuju pada tubuh jangkungnya. Lelaki itu tidak siap dengan apa yang Luhan lakukan padanya hingga tubuhnya hampir saja limbung.

Bisa dibilang pukulan Luhan pada dadanya cukup kuat terlihat bagaimana rasa nyeri di dadanya. Pukulan Luhan tidak berhenti begitu saja, kegiatan brutal itu masih saja Luhan layangkan pada dada bidang Sehun. Memberitahukan ia marah. Jangan bermain-main dengan dirinya. Jangan bermain dengan orang yang tidak bersalah.

Sudah cukup! Tangan kekarnya menahan tangan ringkih Luhan yang hampir mendaratkan kembali pukulannya. Luhan terdiam, air matanya sudah menetes deras sedaritadi. Tubuhnya terdorong secara tiba-tiba hingga menabrak pintu kamar Sehun. Mengapit tubuh kecil Luhan yang bergetar menahan emosi dan saling bertatapan. Mereka sama-sama terbakar oleh api emosi. Sehun yang mencoba menahan emosinya kini ia sudah di luar kendali. Tangannya beralih mencengkram dagu lancip Luhan. Memberikan peringatan bahwa ia juga emosi, tak kalah jauh dengan wanita di depannya

"Dengar ini baik-baik." Desis Sehun tepat di depan bibir Luhan. Nafas mereka saling bertabrakan, sarat akan partikel emosi. "Jika kau tidak ikut andil dalam skenario ini, sudah kupastikan kau sedang mengangkang di hadapan laki-laki di luar sana."

Cengkraman di dagu Luhan terasa makin mengencang. Sehun bingung dengan dirinya sendiri. Ia meras seolah bukan dirinya kali ini di depan Luhan. Tangannya mencengkram erat dagu Luhan dan melontarkan kalimat yang ia tak mengerti. Sehun marah, Sehun tidak terima dengan pernyataannya sendiri bahwa Luhan akan menganggkang di luar sana setiap malam.

Ia mencoba menarik nafas, "Sejauh ini kau berperan sangat baik dalam drama ini hingga aku tidak memutuskan untuk membuangmu kembali ke sana. Berperanlah kau menjadi istriku hingga episode ini berakhir. Dan kita akan selesai!"

Selesai?

.

.

.

.

Selesai?

Kata itu berputar terus-menerus dalam benak Sehun. Ia terduduk di kamarnya yang hening. Meninggalkan Luhan di dalam kamarnya sendiri. Sehun tidak akan memaksa Luhan untuk tidur dengannya walau mereka harus berakting bahwa ada pernikahan di antaranya.

Kepala Sehun tertunduk, meratapi sikapnya barusan kepada Luhan. Dia merasa tadi bukan dirinya sendiri, seperti ada sosok lain dalam dirinya yang mengambil alih saat Sehun emosi. Sepertinya dokter ini menyembunyikan sesuatu pada dirinya sendiri. Menyembunyikan sosok Oh Sehun yang penuh emosi jauh di dalam dirinya.

Tangannya bergetar, merasakan bagaimana kuatnya ia mencengram wanita itu tanpa mempedulikan rasa sakit yang ditimbulkannya. Sehun tidak peduli dengan kalimat kasar yang Luhan lemaparkan padanya. Hampit bertahun-tahun ia menginginkan sosok perempuan yang kuat seperti sosok Luhan. Tidak seperti semua wantia dalam kehidupannya yang datang denagn merengek dan bersikap sok lemah. Atau memang perempuan adalah makhluk yang lemah?

Sudah dikatakan kalau Luhan itu berbeda! Itu yang membuat Sehun mati-matian menahan dan mencoba mengontrol dirinya sendiri.

Ia kembali menghembuskan nafasnya kasar. Tangannya mengepal. Sehun menyesal mengapa menggunakan tangan ini untuk melakukan sesuatu yang kasar kepada Luhan. Dadanya merasakan nyeri, rasa asing itu kembali lagi. Bukan karena efek pukulan Luhan barusan, ini adalah rasa yang sama seperti saat melihat Luhan terbaring tepat sebelum Luhan dinaikkan ke ambulance setalah proses aborsi dadakannya.

Sehun tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa nyerinya yang setiap waktu semakin menjalar hampir di setiap tubuhnya. Ia tidak sakit, hanya nyeri yang tidak ada alasan rasional untuk menjelaskannya.

Apa ini namanya sakit hati? Lalu apa obatnya?

Tangan yang sedaritadi mengepal kini beralih mengusap wajahnya kasar. Bergerak seolah dengan seperti ini ia dapat merontokkan semua dosanya terhadap Luhan. Matanya memanas. Satu hal yang membuatnya selalu seperti ini. Luhan.

"Maafkan aku." Bisiknya.

.

.

.

.

TBC?

Note: Hei! Sorry for late update. Saya sudah mulai masuk kuliah huhuhuhu, ini aku publish sisa yang sempat aku tulis biar reader gak perlu nunggu-nunggu lagi. *grins* Oke, aku mau ngasih tau, jika aku sudah kuliah lagi. Ini otak jadi hancur parah, gak bisa fokus ke cerita, maaf juga kalau part yang ini rada amburadul. No edit and so many typo. I'm sorry. Terima kasih yang sudah support, follow, favorite, review juga, aku baca semua kok tapi bingung mau bales apa -_-)/ pokonya terima kasih sudah selalu ada di cerita ini. Kemarin yang sudah jawab pertanyaanku, akhirnya aku paham juga wkwkwkw, terima kasih lagi, lagi, dan lagi. Welcome for new reader! Oh ya, ada yang main Roleplayer on twitter? Oh oh oh! Follow me! Follow me on bbh192 for Roleplayer account.

xseluna : Sorry for my mistakes on words and other. I'm not in mood yesterday. *pout* But thank you!

Banana Sehun : So glad that one of my author likes and respect for my story.

Oke, big respect for my dear deerhanhuniie | Okta HunHan | xseluna | ElisYe Het | Lisasa Luhan | Arifahohse | BlinkHunHan | Seravin509 | rly | mr albino | Lovesehunluhanforever | DinoChickiHH | Selenia Oh | whitechrysan | Banana Sehun | vietrona chan | khalidasalsa | Juna Oh | hyejinpark | HunHanCherry1220 | DBSJYJ | BubbleKa | sehuncadel | Guest | overdokai | Nurul999 | deva94bubletea | Luniaakimwu | parkizlin69 | sehunnie0412 | rose34929 | R | OhXiSeLu and other for leaving a review

Review, please?

A Good Reader Will Be Leave Their Sign.