BAB IV

.

.

.

Kaki-kaki kecilnya digerakkan seiring langkah riangnya yang berjalan disepanjang kompleks perumahan elit itu. Jonghun, nama bocah tampan itu dengan riang ia bersiul-siul senang sambil membawa peralatan pancingnya. Ya dia sekarang da janji dengan sobat kentalnya untuk memancing siang ini seusai pulang sekolah. Ia sengaja datang ke rumah temannya karena memang sungai yang akan mereka tuju dekat dengan rumah temannya. Yahh sekitar 50 meter.

Jonghun menghentikan langkahnya. Ia mendongak menatap bangunan tinggi yang sudah sangat ia kenali sejak ia masih menjadi siswa taman kanak-kanak. Sepi, seperti biasa. Namun Jonghun tau, temannya ada di dalam, tepatnya di suatu tempat di sekitar rumahnya.
Bocah yang sudah terlihat akan memiliki wajah lebih tampan ketika dewasa nanti, berlari menuju halaman belakang bangunan itu.

Namun ketika Jonghun sudah berada di sana, sosok yang ia cari tak ada. Hanya ada 5 ekor ayam jantan dan betina yang mematuk matuk makanan yang tersebar di tanah.

"Hongki! Hongki!"

Tak ada jawaban dari suara sang pemilik nama.
Jonghun menghela napas "Kenapa si bodoh itu tak ada? Biasanya ia sedang bermain dengan ayamnya."

Tiba-tiba Jonghun terjingkat kaget saat ada suara bergedebukan dari dalam kandang ayam yang terbuat dari tripleks itu. Dan betapa terkejutnya dari dalam kandang ayam itu keluar makhluk mungil dengan polosnya tersenyum sambil membawa piring di tangan kirinya "Oh...annyoeng Jonghun-ah."
Ia meringis, menampakkan gigi susunya yg kurang merata dan ompong ditengah.

Ada empat sudut siku-siku dipelipis Jonghun melihat keadaan temannya. Menjijikan. Banyak kotoran ayam dan bulu yang menempel dipakaiannya.

"Hongki-ah! Kamu bau! Aku tidak mau dekat-dekat denganmu." Jonghun menutup hidung mancungnya seraya melempar pandangan jijik pada Hongki.

"Mwo? Enak saja! Ayamku itu steril. Setiap minggu dikasih vitamin. Kalau tidak percaya, nih aku baru memberi mereka vitamin." Hongki tidak terima, ia menunjuk piring plastik bekas makanan-yang-katanya-vitamin untuk ayam.

"Jadi mancing tidak?! Aku sudah siap nih!"

Hongki melihat Jonghun dari atas sampai bawah. Hm...benar juga, dia sudah siap. Bocah delapan tahun berpipi gembil itu meringis sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Oke! Tunggu aku ya. Aku mau ganti baju dulu."

Hongki mencopot sabuk celana yang ada di celananya membuat Jonghun bingung. Dan Jonghun kembali terkejut, Hongki melepaskan celananya tepat dihadapannya. Menampakkan celana dalam yang bergambar kamen rider -tokoh fiksi kesukaan anak-anak.

"HONGKI! Kamu tidak malu?"
Jonghun menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya sehingga alat pancingnya terjatuh.

Hongki mengerjap-ngerjapkan mata bintangnya polos, sehingga terkesan imut untuk bocah umur delapan tahun itu. "Aku laki-laki, kau pun juga, kenapa harus malu?" dan detik kemudian kedua mata Hongki menyipit "Apa jangan-jangan kamu perempuan? Hahaha sudah kuduga!"

"Apanya yang perempuan?! Aishhh..."

Hongki semakin tertawa keras, tak peduli dengan kondisinya yang hanya memakai celana dalam bergambar untuk anggota bawah badannya.

"Ya ampun, aku hanya bercanda."

Ternyata Hongki tak menyerah, ia berlari kearah Jonghun, dan dengan gerakan cepat, celana Jonghun dengan mudahnya melorot karena ulah Hongki.

"Hahaha celana dalammu imut. Masa gambar tom and jerry."

Jonghun masih terkejut, beberapa detik kemudian, sebuah suara keras yang melengking membuat Hongki kebingungan.

"HUWAAA~ hiks... Eomma! Eomma! Hiks... Hongki nakal. Huweeee~~"

Yah... Jonghun kecil kini menangis keras-keras, membuat Hongki bingung.

"Jonghun! Jangan menangis! Aku kan jadi bingung! Huweee... Eomma~ eomma... Aku bingung..hiks~"
Menyerah pada kebingungannya, Hongki ikut menangis, malah ia menjatuhkan diri di rumput halaman sambil menendang-nendang jengkel.

Suara tangisan kedua bocah berumur delapan tahun itu membuat seorang wanita berpakaian suster mendekat dan terkejut melihat anak majikannya dan temannya menangis dengan celana yang melorot.

.

.

.

"Nah, Hongki sudah bersih dan sudah pakai celana. Jonghun juga. Jangan nangis lagi, ne?" suster pengasuh Hongki itu tersenyum manis pada dua laki-laki mungil di depannya setelah ia menenangkan Hongki dan Jonghun yang menangis hebat.

"Hongki nakal!" tunjuk Jonghun pada Hongki yang sekarang sedang manyun-manyun tak jelas.

"Aku hanya bercanda, dasar cengeng!"

"Kau juga cengeng!"

"Aku bingung! Jadi aku nangis."

"ssttt... Sudah...sudah. Hongki, jangan nakal, ne? Anak nakal tidak dapat hadiah saat natal nanti."

"Tuh! Dengar Lee Hongki." tukas Jonghun kasar

Suster itu tersenyum melihat mereka berdua. Sungguh menggemaskan. "Ngomong-ngmong, kenapa Hongki selalu menangis kalau bingung?"

Hongki menghela napas, tampak berpikir serius. Namun itu terkesan imut untuk dilihat. "Tidak juga. Aku tidak menangis saat bingung karena ada suara aneh di kamar appa dan eomma pada malam hari."

Suster itu kaget "Eh? Kenapa?"

"Karena kata Jonghun, mereka sedang senam aerobik. Iya 'kan Jonghun?"

Jonghun mengangguk mantap "Begitulah yang aku dengar dari ahjumma genit di sebelah rumahku."

Dan suster itu semakin bingung saja mengurusi polah absurd mereka selanjutnya -_-

END OF THIS CHAPTHER!

A/N : fict republish. aku lagi hiatus jadi aku cuma update fict2 lamaku. Doakan aku agar aku gak lama hiatusnya.

mind to review?