Chapter 4

My Camera - Part 2


Dua hari telah berlalu semenjak Shiro meninggalkan Yokosuka menuju ke Kure. Semua kegiatan yang terhenti untuk merayakan kepergian Shiro dan menyambut kedatangan ayah Shiro, Laksamana Yanagi Tadahisa, mulai berjalan kembali.

Dokumen yang menumpuk karena ditinggal dua hari mulai terasa. Dan di ruang kerjanya, Kimura mulai mengerjakan semua dokumen yang ditinggalkan tersebut.

"Laksamana, kapan kau akan meminjamkan kameramu lagi ?" ujar Aoba.

Kimura terkejut mendengar pertanyaan tersebut dan melihat Aoba di sana. Kimura berdiri dan memukul dengan pelan kepala Aoba dengan salah satu dokumennya sembari berkata,

"Aoba, ketuk pintu lebih dahulu sebelum kau masuk ke dalam ruang kerjaku mengerti."

Aoba menjulurkan lidahnya dan berkata, "Maafkan Aoba, karena sudah terbiasa seperti itu hehehehe."

Kimura hanya menghela nafas saja. Aoba melihat ke arah Kimura lagi dan bertanya, "Kapan kau akan meminjamkan kameramu lagi, Kimura ?"

Kimura tersenyum dan berkata, "Saat ini masih kubutuhkan... jadi bukan sekarang."

Aoba melihat ke arah Kimura dengan wajah kesal dan berkata, "Lalu... bagaimana cara Aoba berlatih fotografi ?"

Kimura hanya memberi tanda 'cari tahu sendiri'. Aoba yang melihat itu langsung menjulurkan lidahnya, dan kemudian berkata,

"Jangan-jangan... Kimura merasa Aoba dapat mengalahkan Kimura dalam hal fotografi dan akhirnya menghentikan latihannya. Dasar."

Kimura melihat ke arah Aoba dengan sedikit menggodanya dan berkata, "Mungkin...".

Aoba berjalan ke arah Kimura dan berusaha mengambil kamera milik Kimura. Kimura langsung mengambil kameranya dan mengangkatnya ke udara. Aoba berusaha untuk mengambilnya sembari berkata,

"Kimura-san..."

Kimura langsung tertawa melihat reaksi dari Aoba. Dan pada saat mereka melakukan hal tersebut, dikarenakan pijakan yang tidak rata, mendadak Aoba kehilangan keseimbangannya. Melihat Aoba yang akan terjatuh, Kimura langsung dengan sigap menangkap Aoba. Aoba menutup mata, dan pada saat merasakan seseorang menangkapnya, Aoba membuka mata dan menemukan wajah Kimura yang sangat dekat dengan wajahnya.

"Kimura..." ujar Aoba

Jantung Aoba berdegup dengan kencang dan wajahnya menjadi merah. Kimura, yang pada awalnya tidak mengetahui situasinya, mulai sadar, dan wajahnya juga merah. Kimura berkata,

"Aoba..."

Mereka berdua terdiam. Dan mereka disadarkan oleh suara seseorang.

"Hmmm..."

Mereka berdua melihat ke arah pintu dan menemukan Viltus, yang tangannya menutup matanya, Haruto, yang tertawa kecil, dan seorang pria sedikit gemuk dan tua sekaligus memiliki tatapan yang sama dengan Shiro, yang berdiri di sana. Pria tersebut adalah ayah dari Shiro dan Viltus, Yanagi Tadahisa.

Kimura melepaskan tangannya dari Aoba, dan Aoba dengan sigap berdiri, dan keduanya memberi hormat,

"Selamat siang, Laksamana Tinggi Yanagi."

Tadahisa memfokuskan tatapannya kepada Kimura dan Aoba. Kemudian, Tadahisa berkata,

"Apakah kalian mengetahui peraturan di sini ?"

Kimura dan Aoba mengangguk. Sementara itu, Viltus ingin bernegosiasi dengan ayahnya mengenai masalah yang dilihatnya baru saja, namun Haruto menahannya. Haruto berkata,

"Sepertinya ini akan menarik... sangat menarik."

Haruto tersenyum melihat ke arah Kimura dan Aoba. Ia berharap Kimura akan melakukan sesuatu untuk masalah ini.

"Untung saja, saya yang menemukan kalian berdua... Hahahahahaha"

Kimura dan Aoba, yang bersiap untuk mendapat hukuman, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tadahisa. Tadahisa tertawa dan berkata,

"Aku mengijinkan Laksamana dan Gadis Kapal untuk berinteraksi satu sama lain. Ini dikarenakan, Gadis Kapal juga manusia dan masih memiliki perasaan. Walaupun mereka hanya mengambil wujud manusia. Namun, sangat disayangkan atasan yang lain tidak berpikir demikian...Mereka masih berpikir gadis kapal adalah mesin perang yang tidak memiliki perasaan... Dan karena pikiran saya tersebut, saya ditugaskan di Kure."

Viltus dan Haruto juga terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Tadahisa. Kemudian, Tadahisa berkata,

"Tapi, kalian harus mengerti waktunya. Jangan sampai menganggu pekerjaan kalian."

Tadahisa kemudian memberi hormat dan berjalan keluar. Tepat di sebelah Viltus dan Haruto, Tadahisa berkata,

"Dua benih cinta yang tumbuh... Rasanya akan sangat menyenangkan melihat mereka mekar... Saya penasaran apakah ada yang akan seperti ini lagi atau tidak."

Viltus hanya menghela nafas saja, dan Haruto tertawa kecil. Setelah kemudian Tadahisa mulai berjalan menjauh.

Setelah sosok Tadahisa tidak terlihat lagi, Viltus dan Haruto masuk ke dalam, dan melihat Aoba yang tertunduk dengan wajah merah. Kimura berkata,

"Untung saja... Laksamana Yanagi memiliki sifat pengertian seperti Shiro-san... Jika tidak..."

Ia tidak menyelesaikan ucapannya karena Aoba kemudian berlari keluar.

"A... Aoba !" ujar Kimura.

Viltus berkata, "Hah... Sepertinya dia membencimu sekarang."

Haruto juga berkata, "Dasar... tidak sensitif..."

Kimura hanya membalas, "Heeeiii..."

Viltus dan Haruto hanya tertawa saja mendengar jawaban dari Kimura yang mulai panik.


Sementara itu, Aoba terus berlari hingga akhirnya ia melihat Kinugasa. Ia berjalan ke dekat Kinugasa dan menariknya. Melihat Aoba yang menariknya, Kinugasa berkata,

"Aoba... Tunggu sebentar... aku..."

Namun, melihat wajah Aoba yang merah. Kinugasa tersenyum dan berkata,

"Tunggu aku sebentar saja. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu setelah ini."

Aoba mengangguk. Ia menunggu Kinugasa selama lima belas menit di bawah pohon yang ditunjuk oleh Kinugasa hingga akhirnya Kinugasa muncul. Setelah Kinugasa muncul, Aoba mengajak Kinugasa untuk kembali ke kamar mereka.

Kinugasa semakin penasaran melihat tingkah laku dari Aoba. Setelah sampai di kamar, Aoba langsung memeluk Kinugasa. Kinugasa terkejut dan langsung berkata,

"Aoba ada apa ?".

Aoba hanya diam saja.

"Apakah ini karena pekerjaan membuat artikelmu ?" tanya Kinugasa.

Aoba menggelengkan kepalanya.

"Apakah ini masalah dengan Kimura-san ?"

Aoba semakin memperkuat pelukannya. Kinugasa hanya tersenyum saja dan mengelus kepala Aoba.

"Apa yang dilakukan oleh dia hingga kakakku yang imut ini menjadi seperti ini ?".

Aoba melepas pelukannya, dan melihat ke arah Kinugasa. Aoba menceritakan semuanya, dari insiden berebut kamera hingga diketahui oleh Tadahisa. Kinugasa hanya tertawa saja mendengar kejadian pagi itu, dan Aoba menjadi kesal dengan tingkah laku dari Kinugasa.

"Maafkan aku, Aoba... Aku hanya dapat tertawa saja mendengarnya..."

Kinugasa kemudian berdiri dan mengelus kepala Aoba, kemudian bertanya,

"Aoba... aku akan bertanya sekali lagi... apakah kau mencintai dirinya ? Apakah kau mencintai Kimura-san ?"

Aoba masih diam saja. Kinugasa kemudian berkata,

"Jika kau tidak mencintai dirinya, kau harusnya tidak bersikap demikian..."

Kinugasa memeluk Aoba dan berkata, "Aoba... sebaiknya kau jujur dengan perasaanmu sendiri."

Aoba membenamkan dirinya di dada Kinugasa.

"Aku akan menunggunya..." ujar Kinugasa.

Jam di dinding berdetak dengan pelan, mengikuti semua suasana di ruangan tersebut. Hingga akhirnya, Aoba melihat ke arah Kinugasa dan berkata,

"Aoba... mencintainya... Aoba berusaha untuk tidak jatuh kepada dirinya... Namun... Aoba... jatuh juga... Aoba mencintai... Kimura-san..."

Kinugasa memeluk kepala Aoba, tersenyum dan berkata, "Sekarang jadi semuanya menjadi lebih jelas..."

Aoba melihat ke arah Kinugasa dengan wajah yang masih memerah.

"Aoba... sekarang ceritakan... bagaimana kau dapat jatuh kepada dirinya ?" tanya Kinugasa sedikit menggoda Aoba.

Wajah Aoba semakin memerah dan menceritakannya dengan pelan. Kinugasa mendengarkan semuanya dari awal, kisah kakaknya. Aoba bercerita hingga malam tiba, dan Kinugasa berkata,

"Hahahahaha... Kisahmu sangat menarik, Aoba. Tapi sepertinya aku harus tidur sekarang. Aku harus bangun pagi besok."

Aoba mengangguk. Setelah Kinugasa tidur, Aoba duduk sebentar dan melihat ke arah langit. Dan pada saat itulah, ia merasakan suatu firasat. Mengenai Kinugasa. Namun, karena kantuk menghinggapi dirinya, ia memilih untuk tidur saja dan tidak memikirkan firasat tersebut.


Pada akhir musim semi dua tahun setelah angkatan Kimura masuk, keadaan di markas angkatan laut Yokosuka menjadi sangat sibuk. Gadis Kapal berlalu lalang, dan semua Laksamana juga berlari ke sana kemari. Termasuk salah satunya Viltus, Haruto dan Kimura.

Hari itu, akan diadakan ofensif pertama yang dilakukan oleh manusia kepada Abyssal. Sebuah operasi besar untuk menaikkan moral dan membuka jalan bagi Jepang dengan unit Amerika. Haruto bertemu dengan Kimura di depan dok.

"Kimura, aku dengar kau dimasukkan ke unit ofensif. Apakah itu benar ?" tanya Haruto.

Kimura mengangguk, dan Haruto langsung memberi selamat kepada Kimura.

"Hahahahaha, dari kita bertiga kau yang paling banyak membuat hasil positif... Kau memang pantas masuk divisi utama... Hahahahahaha"

Kimura tersenyum dan hanya berkata, "Sudahlah, Haruto. Kau dan Viltus pasti suatu saat akan bersama diriku di divisi ofensif. Daripada itu... kau ada di divisi mana ?"

Haruto berkata, "Aku berada di sisi kiri dari divisi pertahanan, sementara Viltus ada di sisi kanan sebagai divisi pengintai, jika aku tidak salah ingat."

Kimura berkata, "Viltus di divisi pengintai ?! Wow..."

Haruto menjawab, "Dia sudah sangat sering melakukan pengintaian. Maka dari itu, dia diminta untuk menjadi pengintai di sisi kanan formasi."

Kimura mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Haruto. Mendadak sebuah pengumuman terdengar.

"Semua Laksamana diharapkan berkumpul di lapangan utama. Diulangi. Semua Laksamana diharapkan berkumpul di lapangan utama"

"Kita suda dipanggil untuk pembukaan operasi ini." ujar Haruto.

Kimura melihat ke kiri dan ke kanan dan berkata, "Viltus di mana ?"

Haruto menggelengkan kepalanya. Kimura hanya menghela nafas dan berjalan mengikuti Haruto ke lapangan utama. Di lapangan utama, mereka menemukan Viltus di sana. Dan di sana mereka melihat Viltus yang terlihat sedikit khawatir.

"Hei, Viltus !"

Mendengar namanya dipanggil, Viltus melihat ke arah sumber suara tersebut dan menemukan Kimura dan Haruto di sana.

"Ah... Haruto, Kimura." Viltus kemudian berjalan ke arah mereka berdua.

Kimura melihat ke arah Viltus dan berkata, "Viltus ada apa ? Kau terlihat sangat khawatir..."

Viltus melihat ke Haruto dan Kimura dan berkata, "Sepertinya wajahku benar-benar menunjukkan hal tersebut ya..."

Pada saat Viltus akan bercerita, pemimpin markas angkatan laut Yokosuka, Ichijo Mo sudah berdiri di depan podium di lapangan utama. Di sebelah Mo, Yanagi Tadahisa berdiri di sana.

"Semua Laksamana, Siap Gerak !" teriak Tadahisa. Semua Laksamana berbaris dan berdiri dengan tegak. Kemudian, Mo mulai berbicara.

"Selama bertahun-tahun, kita mendominasi laut yang luas di hadapan kita. Namun, semenjak beberapa tahun terakhir ini, kita diusir dari tempat kekuasaan kita oleh Abyssal. Mereka muncul secara mendadak, dan persenjataan kita saat itu tidak mampu mengalahkan mereka. Kemudian, kita mengumpulkan semua kekuatan laut dunia untuk menghadapi mereka. Namun, sayangnya kita gagal. Dan banyak korban yang berjatuhan !"

Mo mengatakan semua hal tersebut dengan sedikit emosi dan semua Laksamana terdiam mendengarnya. Kemudian, Mo melanjutkan,

"Tapi, kita berhasil menciptakan senjata baru di dunia ini. Mereka adalah Gadis Kapal. Dan mereka terbukti cukup ampuh menghadapi Abyssal. Kita sudah menjalankan berbagai misi dengan gadis kapal dan menghasilkan suatu hasil yang positif. Dan sekarang... kita akan melancarkan ofensif besar pertama kita !"

Semua Laksamana langsung fokus mendengarkan perintah dari Mo.

"Semua kapal komando akan bergerak menuju pulau Miyake. Untuk kapal komando di divisi ofensif, kalian akan bergerak ke koordinat (34,140) sementara divisi pertahanan hanya berjarak 100 KM dari sisi luar formasi divisi penyerangan. Sementara untuk divisi pengintai kalian akan bergerak lebih dahulu ke dekat pulau Hachijo. Apakah kalian mengerti ?"

Semua Laksamana berkata, "Mengerti."

Kemudian Mo turun digantikan oleh Tadahisa. Ia langsung memberi perintah

"Kalian semua akan berangkat pada jam 1500. Saya sudah memerintahkan mekanik untuk menyiapkan peralatan tempur di malam hari. Selain itu, dari prakiraan cuaca, akan ada badai di daerah yang akan kita ambil alih. Jadi kalian bersiap saja dahulu. Mengerti ?"

Semua Laksamana mengangguk. Mereka semua kemudian berpencar untuk bersiap-siap. Dan Kimura langsung mencari Viltus. Ia menemukan Viltus dan Haruto yang sedang berbincang-bincang. Kimura kemudian menepuk pundak Viltus dan bertanya,

"Viltus, apa yang ingin kau katakan tadi ?"

Viltus melihat ke arah Kimura dan berkata, "Aku merasakan suatu firasat buruk mengenai operasi ini. Aku merasakannya dari mimpiku akhir-akhir ini."

Kimura dan Haruto melihat satu sama lain, kemudian menepuk kepala Viltus. Kimura kemudian berkata,

"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Kita pasti akan baik-baik saja."

Viltus melihat ke arah Kimura, dan kemudian berkata, "Sepertinya aku terlalu khawatir dengan hal ini..."

Kimura tersenyum dan berkata, "Makanya... jangan terlalu berpikir macam-macam..."

Viltus hanya tersenyum kecil saja.

"Kita lebih baik bertemu dengan unit kita. Nanti kita bertemu kembali di dok... Oh, sebelum itu, Kimura... kapan kau akan menyatakan perasaanmu ?" ujar Haruto.

Kimura hanya memberi tanda 'rahasia', dan berjalan pergi lebih dahulu.


Kimura masuk ke ruangannya dan menemukan Aoba, Yayoi dan Uzuki sudah di sana. Aoba langsung menyambut Kimura,

"Selamat datang kembali, Kimura"

Kimura tersenyum dan duduk di kursinya. Kimura kemudian memberitahu mereka semua rencana untuk ofensif mereka. Aoba, Uzuki dan Yayoi mengangguk mendengar itu.

"Kita tidak boleh gagal... karena ini akan menjadi batu pijakan untuk menghadapi Abyssal." ujar Kimura menekankan betapa pentingnya operasi kali ini.

Suasana di dalam ruangan Kimura menjadi cukup berat dari biasanya. Kimura kemudian melihat ke arah Yayoi dan Uzuki yang terlihat gelisah. Kemudian, dia melihat ke arah Aoba yang terlihat cukup khawatir dengan Uzuki dan Yayoi. Kimura menutup mata sebentar dan kemudian berkata,

"Yayoi. Uzuki. Apakah kalian khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi dari operasi ini ? Apakah kalian khawatir akan membuat operasi ini gagal ?"

Yayoi dan Uzuki menundukkan kepalanya tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Kimura memang benar. Aoba berjalan ke dekat Uzuki dan Yayoi, dan menepuk pundak mereka. Kemudian, Aoba melihat ke arah Kimura. Kimura berdiri, dan kemudian berkata

"Tidak hanya kalian saja yang khawatir. Aku juga. Tapi, aku yakin... jika kita bersama kita akan mampu menghadapi segala masalah di depan kita !"

Mereka bertiga yang mendengar apa yang dikatakan oleh Kimura langsung terkejut. Kimura maju ke depan mereka bertiga dan memajukan tangannya.

"Siapa yang setuju dengan diriku ?"

Aoba melihat ke tangan tersebut, dan kemudian menaruh tangannya di atas tangan Kimura, dan berkata

"Aku setuju denganmu. Unit kita sudah melewati berbagai operasi. Mau operasi besar atau operasi kecil, kita akan mampu menghadapi mereka."

Uzuki dan Yayoi yang masih khawatir kemudian melihat ke wajah Aoba dan Kimura yang tersenyum. Sedikit demi sedikit mereka berdua menjadi lebih tenang. Mereka berdua menaruh tangan mereka di atas tangan Aoba,

"Iya... kita semua pasti dapat melakukannya, Pyon~"

"Dapat melakukannya..."

Kimura kemudian tersenyum dan memeluk mereka bertiga sembari berkata,

"Aku senang mendengar itu dari kalian bertiga."

Uzuki, Yayoi dan Aoba terkejut dengan pelukan tersebut, kemudian mereka bertiga hanya tertawa saja.

Terdengar ketukan dari pintu dan suara,

"Laksamana Okazaki. Diharapkan unit anda bersiap-siap di dok sekarang juga. Kita akan berangkat sebentar lagi."

Setelah itu suara langkah kaki yang semakin jauh.

"Kalian dengar itu... ayo kita bergerak sekarang." ujar Kimura.

Aoba kemudian berkata, "Selama misi ini... Aoba akan melindungi kalian hehehehe..."

Uzuki melihat ke arah Yayoi, dan langsung mendapat anggukan dari Yayoi. Uzuki kemudian berkata,

"Ayo kita pergi ke sana, Ayah... dan terima kasih kami berdua merasa aman di bawah lindungan Ibu..."

Kimura dan Aoba langsung terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Uzuki.

"Uzuki... kau..." ujar Kimura dengan wajah merah. Aoba terdiam saja dengan wajah yang tidak kalah merah dari Kimura.

Uzuki hanya menjulurkan lidahnya saja. Kimura melihat ke arah Aoba dan kemudian berkata,

"Sudahlah... lebih baik... kita secepatnya ke dok sekarang." Aoba mengangguk mendengar ajakan dari Kimura.


Di depan kapal komandonya, Kimura berbincang-bincang dengan Laksamana lain di unit ofensif. Unit ofensif tersebut akan dipimpin langsung oleh Laksamana Ichijo Mo, dengan kapal utama Mutsu. Sementara unit pertahanan akan dipimpin langsung oleh Laksamana Yanagi Tadahisa, dengan kapal utama Ise. Dan unit pengintaian secara mengejutkan akan dipimpin langsung oleh Kapten Viltus Amarov dengan kapal utama Harusame.

"Viltus yang memimpin unit Pengintai ?! Apakah itu benar ? Kukira dia hanya salah satu bagian dari unit Pengintai." ujar Kimura setengah terkejut.

Laksamana lain mengangguk, dan berkata, "Baru saja diumumkan. Dan dia satu-satunya Laksamana baru yang memimpin di salah satu unit untuk operasi ini. Pasti sangat berat untuk semuda itu memimpin divisinya..."

Namun, Laksamana lain kemudian berkata, "Aku yakin dia diangkat ke posisi itu karena keluarganya... Lagipula, Laksamana Yanagi Tadahisa ayah dia. Aku yakin dia meminta kepadanya, 'Ayah... ijinkan aku memimpin divisi pengintai...' dan semacamnya"

Ia pun membuat gerak gerik tubuh yang menjengkelkan. Laksamana lain tertawa, sementara Kimura hanya diam saja. Kemudian Laksamana lain mengatakan,

"Aku dengar... dia juga mendekati gadis kapal... Sepertinya karena dia tidak dapat mendapat cinta dari wanita normal, ia memilih mesin perang saja..."

Semua Laksamana tertawa keras mendengarnya. Sedangkan, Kimura sedikit kesal dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Tepat sebelum ia membela Viltus, pundaknya ditepuk oleh Haruto.

"Kimura, bisa ikut diriku sebentar ?" ujar Haruto.

Kimura memberi tanda kepada Haruto karena dia kesal kepada mereka, namun Haruto melihat ke arah Kimura dengan tatapan tajam. Mengetahui Haruto sudah tidak dapat diubah lagi pendiriannya, Kimura menyerah. Setelah Kimura berjalan ke belakang Haruto, Haruto kemudian berkata kepada Laksamana lain,

"Jika boleh saya tahu, apa yang telah kalian hasilkan selama operasi-operasi sebelum ini ?"

Semua Laksamana lain kemudian menyebutkan hasil mereka, kemudian Haruto bertanya,

"Sudah berapa gadis kapal yang kalian tenggelamkan ?"

Semua Laksamana tersebut terdiam mendengarnya. Haruto melihat ke arah mereka semua dan berkata,

"Viltus mampu membawa semua gadis kapal di unitnya untuk kembali sekaligus memberikan hasil positif untuk semua operasi yang telah ia jalankan. Aku mengenal dirinya lebih baik dari kalian. Kalian hanya senang mendengar dan menyebarkan rumor saja tanpa mengetahui apakah rumor itu benar atau tidak."

Haruto diam sejenak. Semua Laksamana di situ sedikit terdiam. Haruto kemudian melanjutkan,

"Lagipula, dia itu lebih senang dipuji karena hasil yang dia raih, bukan karena nama keluarganya. Selain itu, dia akan menolak kenaikan pangkat bila hanya karena keluarganya saja."

Semua terdiam, sementara Kimura juga terkejut dengan yang dikatakan oleh Haruto.

"Saya ada sedikit urusan. Selamat tinggal. Kimura, ikuti saya sekarang." ujar Haruto.

Kimura yang terkejut langsung mengikuti Haruto.

"Haruto... tidak kusangka kau..." ujar Kimura.

Haruto hanya menjawab singkat, "Di divisiku, dia juga dikatai demikian. Sahabat macam apa yang tidak ingin membela dirinya ?"

Kimura mengangguk. "Kita akan kemana ?" tanya Kimura.

"Tempat Viltus. Aku penasaran dengan firasat dia." ujar Haruto.

Kimura melihat ke arah Haruto dengan sedikit wajah heran. Namun, pada saat mereka tiba di tempat berkumpul divisi pengintai, mereka tidak ada di tempat.

"Di mana divisi pengintai ?" tanya Haruto.

Salah satu pengawas berkata, "Mereka semua sudah berangkat semenjak lima belas menit yang lalu.".

Haruto hanya menghela nafas saja, dan berkata, "Sepertinya kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di pikiran Viltus."

Kimura kemudian berkata, "Mungkin kita dapat menanyakan dirinya setelah operasi ini berakhir."

Haruto mengangguk. "Kimura, lebih baik kau ke kapal komandomu sekarang. Sebentar lagi waktu untuk operasi dimulai."

Kimura mengangguk dan berlari ke arah kapal komandonya.

Kimura duduk di dalam ruang komandonya, dan diam saja. Aoba, Uzuki dan Yayoi juga diam menunggu perintah untuk berangkat. Tidak seperti biasanya. Bahkan Kimura pun tidak membawa kameranya. Ini menunjukkan betapa seriusnya operasi ini. Hingga akhirnya terdengar laporan,

"Semua divisi ofensif. Diijinkan untuk berangkat."

Kimura berdiri dan berkata,

"Laksamana Okazaki kepada sistem. Mulai bergerak ke koordinat (34,140) dengan kecepatan 35 knot."

Setelah itu kapal mulai bergerak. Kimura menarik nafas panjang dan melihat ke arah luar kapal komandonya. 'Rasanya... langit ini sangat gelap...' pikir Kimura.


Kondisi di dalam ruang komando sangat sepi. Tidak ada satupun yang berbicara. Kimura pun hanya diam saja, tidak memotret gadis kapalnya seperti yang biasa ia lakukan. Keheningan itu akhirnya berakhir dengan laporan dari kapal komando sekaligus perintah dari Mo.

"Semua gadis kapal diharapkan meluncur ke koordinat pertemuan dengan divisi pengintai. Di sana kalian akan mendapat informasi dari mereka perihal lawan yang akan kita hadapi. "

Setelah mendengar itu, Kimura melihat ke arah Uzuki, Yayoi dan Aoba dan berkata,

"Aku akan menghubungi Viltus. Aku yakin dia akan memberitahu hasil pengintaiannya."

Mereka bertiga mengangguk.

"Sistem... hubungi kapal komando Viltus."

Pada awalnya hanya terdengar suara statis saja, dan kemudian terdengar suara Viltus.

"Viltus, dapatkah kau memberitahu diriku lawan di posisi 100 - 500 km dari posisi divisi ofensif. " tanya Kimura.

Viltus langsung menjawab, "Setidaknya ada dua divisi kapal perusak tipe I dan Ha, tiga divisi kapal penjelajah ringan tipe To, dan satu divisi kapal penjelajah berat tipe Ri. Setiap divisi berisi 12 kapal. Jadi berhati-hatilah dengan hal itu. Lokasi mereka sekitar 250 KM dari divisi ofensif. Namun, unit kami masih mencari di jarak 500 - 700 KM dari titik tersebut."

"Terima kasih, Viltus. Lanjutkan pengintainmu. Aku harap unitmu akan memberi informasi lebih lanjut lagi nanti." ujar Kimura.

"Tentu saja, Kimura." balas Viltus, sebelum komunikasi terputus.

Kimura melihat ke arah ketiga gadis kapalnya dan berkata, "Kalian sudah mendapat informasi tersebut... aku harap kalian dapat menghadapi mereka. Dan kembali lagi dalam keadaan utuh."

Mereka bertiga mengangguk dan berjalan keluar. Sebelum Aoba keluar, Kimura memanggil namanya. Aoba langsung berhenti dan melihat ke arah Kimura, "Ada apa, Kimura-san ?"

Kimura menelan ludahnya, tapi tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Aoba masih menunggu dirinya. Kimura akhirnya menarik nafas panjang dan berkata, "Aoba..."

Tapi belum sempat ia mengucapkannya, ada laporan dari sistem,

"Laksamana Okazaki, diharapkan mengirimkan unit anda secepatnya."

Kimura mengehela nafas mendengarnya. Aoba kemudian berkata, "Kimura... aku akan ke tempat peluncuran di dek bawah. Daripada kita dimarahi lagi. Hehehehehe"

Kimura membalasnya, "Hati-hati Aoba, nanti malam kita akan mengadakan acara tersebut. Untuk perayaan kemenangan kita."

Aoba mengangguk.

"Oh... satu lagi... nanti aku akan berikan kameraku untukmu." ujar Kimura.

Aoba yang mendengarnya langsung melihat ke arah Kimura dan berkata, "Apakah itu benar ?!"

Kimura mengangguk. Aoba melompat kegirangan dan berkata, "Terima kasih, Kimura"

Setelah itu Aoba berlari keluar, dan Kimura menghela nafasnya.

'Tadi... aku berkata akan memberikan kameraku... berarti setelah pertempuran hari ini... aku akan menyatakannya juga... tapi... tadi aku saja tidak dapat mengatakannya... hahahaha... Bagaimana caranya nanti kau berikan dia cincin nanti... Apa aku minta masukan dari Viltus dan Haruto saja ya... untuk masalah ini' pikir Kimura sedikit tertawa.