TITLE: Please Dance for Me

Cast: TWINS!EunHae, Shindong

Rating: K+

Genre: Family/Angst *maybe*

Author: SJnMe

Summary: Aku benci menari, sampai ia mengalami kejadian itu….

Warning: Twins!EunHae, Character Death, Cerita Jelek, Typo, etc

ENDING ANCUR

A/N: FF ini juga udah lama mendekam di laptop, jadi maafkan kalo jelek.

RnR please ^^

Written in Eunhyuk's POV

Hope You Like It! :D


Chapter 4


Kubuka pintu tempat ruangan Donghae berada. Di sana terlihatlah Donghae sedang makan bubur pemberian suster, dan dari raut wajahnya yang pucat itu menunjukkan jika dia tidak menyukai rasanya.

Dan tiba-tiba saja, aku teringat kembali perkataan Dokter tadi. Tanpa sadar aku menggertakkan gigiku.

Kututup lagi pintu itu perlahan, tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipiku. Entah apa yang ada di pikiranku, sampai aku berlari begitu saja menjauhi kamar donghae dan keluar dari rumah sakit itu.

Kakiku terus berlari menuju suatu tempat, melewati beberapa belokan yang amat kukenal. Perkataan Dokter tadi terus saja menghantui pikiranku.

"Seluruh organ vitalnya seperti paru-paru dan jantung telah terserang bakteri tersebut, dan sebagian paru-parunya sudah rusak dan tidak dapat berfungsi secara normal, itulah kenapa kadang-kadang saudara Donghae kesulitan untuk bernapas….."

Air mata itu semakin deras mengucur di wajahku.

"Dan….. sepertinya…. waktu yang tersisa baginya sudah tinggal sebentar, sebaiknya kau mempersiapkan segalanya… maaf kami tim dokter tidak bisa berbuat apa-apa…."

Kakiku pun berhenti. Berhenti di tempat yang sangat kukenal, tempat yang selalu kudatangi jika aku ada masalah. Tempat yang belakangan ini jarang aku datangi.

Kupandangi kedua nisan dihadapanku. Nisan kedua orangtuaku.

Kugigit bibir bawahku, menahan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Bahkan akhirnya aku pun terduduk di tanah pemakaman itu, rupanya kaki ku pun tak mampu menahan berat tubuhku lagi.

"Kenapa….." suaraku parau dan lirih, "kenapa Umma, kenapa Appa?"

Aku memandang kedua nisan itu bergantian.

"Kenapa kalian juga….. ingin mengambil Donghae dariku….?"

Tak sadar, aku menggenggam tanah pemakaman itu, menyampaikan rasa emosiku saat ini.

"Apa….. kalian mau aku sendirian di dunia ini?"

Dan akhirnya aku hanya dapat menangis sambil meracau tidak jelas.

.

Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Di sana kulihat SHindong hyung mondar-mandir di depan pintu kamar Donghae. Aku pun menghampirinya,

"Kau kenapa, hyung?"

"Kau kemana saja, Hyuk? Aku dari tadi menghubungimu… kau tahu Donghae muntah darah lagi, dan sekarang ia harus memakai alat bantu untuk bernapas…."

Mataku membulat, segera saja aku membuka pintu kamar Donghae. Benar saja, di sana Donghae berbaring di tempat tidur, berbagai selang dan alat bantu terpasang di tubuhnya.

"Ini salahku….."

Kurasakan sebuah cengkeraman di pundakku. Kulihat Shindong hyung, sedang tersenyum simpati ke arahku.

"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Donghae tidak akan menyukainya…."

Aku menunduk.

"Kalau saja aku membawanya ke dokter lebih cepat, hyung. mungkin ia masih bisa sembuh…."

"Bukankah Donghae sendiri yang tidak mau? Jangan menyalahkan dirimu sendiri…."

"Tapi…. Andai saja aku lebih memaksanya…."

"Sudahlah….. mungkin saja keajaiban itu ada…."

Ya, semoga saja. Semoga saja keajaiban itu benar-benar ada.

.

Hari-hari pun semakin berganti, sampai tibalah hari ini. Hari dimana kompetisi itu diadakan, dan sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Tentu saja aku harus menemani saudara kembarku tercinta itu sebelum aku berangkat ke kompetisi itu. Dan keadaan Dokter memang semakin memburuk.

Namun tiba-tiba Dokter menghampiriku….

"Hei, saudara Eunhyuk…. Ada yang perlu kubicarakan? Ada waktu sebentar?"

Aku mengangguk. "Tentu saja, Dok."

Lalu Dokter itu pun mengajakku menuju ke ruangannya.

"Jadi apa yang anda ingin bicarakan, Dok?"

Dokter itu menghela napas, lalu menatapku penuh arti. Entah apa arti tatapannya tersebut.

"Jadi….. kondisi saudara anda benar-benar sudah sangat kritis dan saya rasa anda harus menjaganya setiap saat…."

Aku terdiam, berusaha mencerna perkataan dokter itu…

"Tapi Dok, saya ada kompetisi yang harus saya ikuti…."

"Bukankah saudara anda lebih penting, anda batalkan saja kompetisi itu…."

.

Aku memutuskan untuk kembali ke ruangan Donghae. Kata-kata Dokter tadi masih saja kupikirkan. Mungkin tidak ada salahnya kalau aku mengikuti perkataannya.

Aku melirik jam dinding yang ada di ruangan itu.

30 menit lagi sebelum kompetisi itu dimulai.

"Yah, Lee Donghae…apa yang harus kulakukan?"

Kupandang wajah pucat pasi itu. Entah kenapa aku pun merasa kalau perkataan dokter itu benar juga. Bukankah memang Donghae lebih penting dari apapun?

Aku menggigit bibir bawahku. Kuulurkan tanganku untuk menggapai tangan Donghae yang ternyata cukup dingin itu. Mungkin aku memang harus menuruti apa kata dokter itu. Kalaupun ini saat-saat terakhir Donghae di dunia, aku ingin mendampinginya.

"Yah! Eunhyuk! Kenapa kau masih di sini?"kudengar sebuah suara.

Lalu kulihat Shindong masuk lalu berdiri di dekatku. Aku menatapnya sebentar.

"Sepertinya….. aku batal ikut kompetisi itu, hyung….."

"Kau ini bicara apa, hyuk?"

"Dokter bilang, keadaan Donghae bisa kritis kapan saja. Mana bisa aku meninggalkannya hyung…."

"Tapi hyuk, kau tahu kan arti kompetisi ini bagi donghae…"

"Aku tahu, tapi bagaimana pun kompetisi itu tidak ada artinya dibandingkan dengan Donghae, hyung…."

Kudengar Shindong hyung menghela napas. "Baiklah aku tidak memaksamu… tapi… kau lebih mengenal Donghae dari siapapun Hyuk, aku yakin kau pasti tahu apa yang Donghae inginkan darimu….."

Lalu aku mendengar Shindong hyung melangkah menuju pintu lalu keluar dari ruangan ini. Meninggalkan aku sendiri.

Kuremas kepalaku. Kupandangi wajah pucat Donghae lagi. Tiba-tiba saja aku teringat semua perkataannya sewaktu dulu….

"Aku pasti akan menang dalam kompetisi dance itu. Dan aku pasti akan dikontrak oleh SM Entertainment, hehe….."

"Maukan kau menggantikanku di kompetisi dance tiga bulan lagi? Kumohon…"

Benar juga. Donghae si keras kepala itu tidak akan membiarkan aku diam di sini. Kalau ia dalam keadaan sadar sekarang, pasti dia sudah menceramahiku dengan tidak jelas.

Aku menggenggam tangannya lagi, "Tunggu aku, Hae! Aku pasti kembali secepatnya…."

Sesaat sebelum pergi, tiba-tiba aku melihat sesuatu di meja dekat tempat tidur Donghae. kudekati benda itu.

Bukankah itu kotak sepatu milik Donghae?

Mungkin Shindong hyung yang membawanya kemari. Kubuka kotak sepatu itu, di dalamnya masih ada sepasang sepatu berwarna biru dan putih. Kuambil kedua sepatu itu dan melirik Donghae lagi.

"Hae-yah….. aku pinjam sepatumu dulu yah… aku pasti mengembalikannya…."dan entah ini hanya halusinasiku atau bukan, tapi sepertinya aku melihat Donghae tersenyum…

.

"Arggghhhh! Sial!" aku mengumpat untuk kesekian kalinya di dalam taksi. Berkali-kali pula aku melirik jam tanganku. Sial… kompetisinya pasti sudah dimulai dari tadi.

"Apa tidak ada jalan lain, Pak?"tanyaku pada supir taksi.

"Tidak ada, Tuan."

Ah, benar-benar sial. Kenapa ketika aku harus terburu-buru malah terjebak macet di tempat seperti ini?

"Apa tempatnya masih jauh?"

"Tidak juga koq, kalau berjalan hanya butuh 10 menit…."

"Kalau begitu, aku turun di sini saja, Pak…" aku pun merogoh saku jaket baseball yang kukenakan. Mengeluarkan uang sesuai argo dan memberikannya pada supir taksi itu.

Setelah keluar dari taksi, segera saja aku berlari menuju gedung tempat kompetisi itu diadakan. Benar-benar sial.

Aku terus berlari, tidak memperdulikan betapa teriknya sinar matahari yang menerpaku. Bahkan saat melewati sebuah belokan, aku hampir menabrak orang. Untung saja masih dapat menghindar,

Setelah beberapa menit berlari, yang ternyata cukup menguras tenagaku, akhirnya aku sampai juga di gedung itu. Kutarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, sambil mengumpulkan kembali tenagaku yang terbuang karena berlari dari tadi.

Aku pun memutuskan untuk masuk.

"Donghae-yah…. Doakan aku…."kataku sebelum akhirnya membuka pintu dan memasuki gedung yang bercat putih itu.

.

Kutelan ludahku dengan susah payah. Sekarang tiba giliranku untuk tampil.

Aku melihat sekeliling dari atas panggung, ternyata banyak juga yang hadir. Jujur saja, ini pertama kalinya aku tampil di depan orang sebanyak ini.

"Siapa namamu?"tanya salah seorang juri yang kukenali sebagai Jung Yunho, seorang penari yang cukup terkenal di Korea.

"Bukankah dulu kau pernah bilang, aku adalah kau dan kau adalah aku."

Aku teringat kata-kata Donghae lagi.

"Namaku Lee Donghae….."kataku lirih. Entah kenapa aku jadi menyebutkan namanya…

.

Aku menggigit bibir bawahku, masih tidak percaya mereka menyebut namaku—lebih tepatnya nama Donghae—sebagai pemenang pertama.

Suara tepuk tangan dan teriakan pun terdengar saat aku menuju atas panggung. Benarkah aku yang menjadi juara pertama?

Aku? Seseorang yang sangat membenci menari ini menjadi juara pertama dalam sebuah kompetisi dance?

Susah dipercaya kan?

Ketiga juri itu menyalamiku, lalu mengalungkan sebuah medali di leherku dan menyerahkan sebuah piala.

Kedua alisku bertaut saat aku memandangi medali dan piala itu.

"Seharusnya ini menjadi milik Donghae…"

.

Aku berlari sekuat tenaga untuk kesekian kalinya hari ini. Tanganku menggenggam sebuah piala dengan erat. Kumasuki lorong demi lorong rumah sakit itu, menuju sebuah ruangan yang terletak agak jauh dari pintu rumah sakit.

Itulah ruangan Donghae.

Dari jauh aku melihat, beberapa orang suster dan dokter bergantian keluar masuk ruangan itu. Sepertinya, firasat ku benar. Pasti keadaan Donghae semakin memburuk.

Aku pun memutuskan untuk mempercepat langkahku. Seorang dokter tampak mendatangiku dengan tergopoh-gopoh.

"Bagaimana keadaan Donghae, Dok?"

Sebenarnya dokter itu tidak perlu mengatakan apa-apa. Firasatku dari tadi sudah tidak enak.

"Keadaannya sudah sangat kritis. Kami menyerah, semua alat bantu sudah kami lepaskan. Maafkan kami…."

Dan saat itulah aku tahu, ini saat-saat terakhirku bersama Donghae…

.

Dia tersenyum padaku. Wajahnya sangat pucat, dan matanya pun sayu. Namun tentu saja, ia masih terlihat seperti Lee Donghae yang tampan seperti biasanya.

"Kau berhasil, Hyuk…" suaranya terdengar sangat lemah. Ia mulai terbatuk lagi.

Aku menaruh piala dan medali itu di genggamannya. Kemudian duduk di kursi dekat tempat tidurnya lalu memegang tangan yang menggenggam piala itu dengan lembut.

Aku tersenyum padanya. Ia pun membalas senyumanku sebelum ia batuk dan mengeluarkan darah lagi.

Tanpa sadar air mata telah menetes lagi di pipiku.

"Sudah kuduga, kau pasti bisa melakukannya Hyuk…."kulihat ia dengan bersusah payah mengatakan kalimat itu.

"Tentu saja, siapa dulu…?"kataku sambil terus menangis.

Ia hanya tersenyum. Tersenyum sangat lemah. Entah kenapa aku juga melihat rasa kesakitan di matanya.

"Hyuk-ah… kalau aku pergi, kau tidak boleh menangis ya?"

Aku hanya terdiam, sementara air mata itu meluncur dengan derasnya dari kedua mataku,

Aku merasakan tangannya bergerak lemah menyentuh pipiku. Menghapus air mataku yang telah membasahi kedua pipiku itu.

"Sudah ku bi-" ia berhenti sebentar, napasnya tersengal-sengal. Kelihatan sekali jika ia kesulitan untuk mengambil oksigen, "sudah kubilang kan, aku tidak ingin melihatmu menangis, hyuk…."

Bagaimana mungkin aku tidak menangis di saat seperti ini? Dasar Donghae, bodoh!

"Maaf, hyuk….."

Aku mengeratkan genggamanku pada tangannya.

"Maaf aku tidak bisa menjagamu lebih lama…"

"Lee Donghae baboya…."

"Mianhae, hyuk…..mi-"aku merasa denyut nadinya semakin melemah, "mianhae…."

Sedetik kemudian, aku merasa sebagian jiwaku telah pergi.

.

Pagi itu langit tampak mendung. Hujan turun rintik-rintik, seakan menggantikanku menitikkan air mata, menangisi kepergiannya. Bukankah aku sudah berjanji untuk tidak menangis?

Tidak banyak yang datang saat pemakamannya. Hanya Shindong hyung dan beberapa teman kerjaku di café dan juga sahabat Donghae.

Kulihat peti jenazah itu mulai terkubur perlahan, sedikit-demi sedikit mengubur peti itu bersama sesorang yang sangat berharga bagiku.

Aku pun mengambil sebuah kotak yang kubawa dari tadi.

"Donghae-yah….aku berjanji padamu akan mengembalikannya bukan?"

Aku menatap kotak itu, kotak sepatu miliknya yang bahkan belum sempat dipakainya.

"Sekarang aku akan mengembalikannya, Hae… dan aku tahu kau akan menari di atas sana kan?"

Aku menatap ke atas langit. Kulihat langit mendung itu mulai terbuka. Matahari pun mulai menampakkan wujudnya lagi.

Kutatap kotak sepatu itu sekali lagi, sebelum benar-benar melemparkannya ke liang kubur yang semakin tertutup tanah itu.

"Pakailah sepatu itu nanti, Hae… aku yakin kau akan mendapatkan kakimu lagi di surge, Hae…"

Seulas senyum tergambar di bibirku dan saat itulah angin menerpa tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara, suara yang amat kukenal, suara yang pasti akan kurindukan mulai sekarang.

"Gomawo Hyuk….."


~F.I.N~


A/N:

Jelek kan? Ancur kan? Gak jelas kan?

hahahaha

*author gila habis bunuh bias sendiri* =="

mianhae, udah updatenya lama

tidak memuaskan begini lagi hasilnya

T_T

*author gila karena CSJH bru comebac #gaknyambung*

makanya

R

E

V

I

E

W

ya...

hinaan dan cemoohan jg boleh

Gomawo buat yang mau baca nih FF ancur

Gomawo juga buat yang udah reviews

satu reviews kalian itu berarti banget buat author ancur kayak saya

gomawo sekali lagi, mian gak pernah dibales reviews-nya

tapi saya selalu baca koq

pokoknya thanks sekali lagi

doakan biar bisa cepet update FF saya yang lain

fighting!

Saranghaeyooo~~~ :)