REACTION
"What the hell Chanyeol!"
Kim Jongin adalah satu dari sejuta manusia tak tau diri yang mengumpati bosnya sendiri. Hari masih pagi. Beberapa meja karyawan bahkan masih kosong dan Jongin dengan seenak hatinya berteriak seperti itu.
Chanyeol menatap laki-laki itu tak acuh. Merupakan hal yang biasa terjadi dan Park Chanyeol tak lagi merasa terkejut walau sebesar apa gelegar teriakannya.
"Ini adalah umpatan ke 17 kalimu dalam sebulan ini, Kim." Chanyeol menyahut tenang. Matanya masih menatap fokus pada layar tablet di tangannya tanpa peduli akan langkah-langkah besar Jongin menuju mejanya kini.
"Mengapa kau tiba-tiba merubah jumlah anggota? Apa yang kau katakan mengenai balancing? Kita sudah punya 2 main vocal, 2 main dancer, 2 main rapper dan bahkan telah memiliki 2 visual." Jongin merasakan dadanya bergedup naik turun setelah melepaskan retetan ucapan tanpa koma miliknya.
Jongin masih ingat tahun lalu dimana Chanyeol selalu mengatakan rencananya akan grub dengan konsep seperti itu. Grub dengan jumlah 2 untuk masing-masing posisi. Tapi lihat ketika proyeknya telah berjalan dan hanya menunggu beberapa bulan untuk penetapan jadwal debut itu, Chanyeol tanpa pertimbangan dari petinggi lain malah seenak perutnya mengubah semua perencanaan itu. Apa-apaan!
"Tapi jumlahnya ada 5. Aku menginginkan 6." Lagi, Chanyeol menyahut tenang.
"What?" Jongin mendelik.
Chanyeol menarik tatapannya dari layar dengan suka kemudian. Matanya menilik Jongin, biasanya itu berhasil membuat bawahannya berkeringat dingin bahkan nyaris pipis di celana... tapi lihat bagaimana Jongin malah balas menatap dirinya seperti itu. Menuntut jawaban tanpa merasa sungkan sama sekali.
"Ini proyek grubku. Aku yang mengatur dan aku yang memutuskan." Chanyeol memberikan setiap penekanan final pada perkata miliknya. "Dan kau—" Ia menunjuk Jongin dengan telunjuknya, "hanya karena kau temanku bukan berarti aku akan mengistimewakanmu disini. Disini kau adalah sekretarisku dan aku adalah bosmu. Aku bisa memecatmu jika kau berteriak di depan pintuku lagi. Kau paham itu?"
Jongin menahan nafas berserta dengan tersumbatnya seluruh kata yang telah mengantri pada tenggorokannya.
"Apa lagi yang kau lakukan disini?" Chanyeol mengalihkan pandangan kembali pada layar. "Kerjakan apa yang kuperintahkan padamu dan kumpulkan semua anggota. Aku akan kesana 1 jam lagi."
"Fuck you, Park." Jongin meninggalkan sebuah makian terakhir dengan debuman pintu yang ia tutup.
"Umpatan ke 18, Kim."
...
Byun Baekhyun, main vocal.
Baekhyun tidak ingat sudah berapa kali dia mengucek matanya pagi ini. Mungkin sudah tidak terhitung berapa jumlahnya. Baekhyun tak bergeming dari posisinya sejak 19 menit 32 detik yang lalu. Menatap takjub pada lembaran kertas di tangannya, ditemani dengan derai air mata dengan selingan tawa tak percaya.
"Selamat Byun Baek!"
Jongdae adalah orang pertama yang mengucapkan selamat untuknya. Jongdae berada di kelas sama dengan Baekhyun di kelas vokal dan terpilih menjadi salah satu anggota pula. Baekhyun takkan heran karena Jongdae si-setia-peringkat-satu terpilih. Tapi dirinya—si Byun Merah Baekhyun.
"Te-terima kasih Jongdae." Baekhyun menatapnya dengan sinar di mata.
Baekhyun tak percaya jika menjadi bagian dalam proyek grub tahun ini. Baekhyun tak percaya jika akhirnya dia... debut.
...
Chanyeol menatap selektif satu per satu trainee yang berdiri di depannya. Menatap bagaimana fisik si trainee dan memberikan anggukan pelan ambigu sebagai penilaiannya. Matanya bergulir jatuh pada Baekhyun yang berdiri pada urutan akhir dan Chanyeol menatap laki-laki mungil itu dengan tatapan yang sama.
Baekhyun menunduk tak berani menyambung kontak dengan laki-laki tinggi itu. Ia berdiri gugup sedang pikirannya terbang akan hal yang mereka lakukan malam lalu.
Baekhyun takut. Sebenarnya dia malu.
Namun di sela itu... Baekhyun telah memiliki niatan untuk mengucapkan terima kasihnya nanti.
Berterima kasih untuk Chanyeol yang telah menepati janjinya.
...
Chanyeol merupakan seorang yang professional sebenarnya. Dia menjunjung tinggi mengenai hal itu. Chanyeol tak menyukai hal dimana 2 peraduan hidup yang berbeda kemudian dicampur baurkan menjadi satu. Kehidupan pribadi dan pekerjaan, Chanyeol tak suka menempatkan kedua hal itu dalam situasi yang sama.
Namun tak tau mengapa, hari ini Chanyeol seolah lupa apa itu profesional dan motto hidupnya selama ini.
Dia berada di belakang mejanya. Duduk di apit oleh bawahannya, sedang pandangan lurus pada trainee yang tengah meliukkan badan mereka untuk sebuah tarian.
Tidak untuk keseluruhan. Namun untuk Baekhyun yang menyita seluruh perhatiannya. Tatapannya terpaku pada si trainee yang berada pada posisi paling belakang itu. Bergerak paling aneh dan Chanyeol malah membiarkannya.
Pikirannya mungkin tak berada pada tubuhnya. Membumbung jauh akan malam yang mereka lewatkan bersama. Itu seharusnya tak boleh ia lakukan. Chanyeol tak seharusnya mencapur adukkan 2 hal itu pada tempatan waktu yang bersamaan.
Baekhyun dengan gerakan badannya dalam tarian... sedang Chanyeol seolah melihat anak itu berada di atas tempat tidur. Bergerak abstrak dengan desahan sensual di bawah tubuhnya.
Chanyeol menelan liur kelu, sedang selatan tubuhnya bereksi banyak untuk imajinasinya.
Sial! Apa yang terjadi?
Itu bahkan bukanlah kali pertama ia bersetubuh. Chanyeol melewatkan malam panasnya dan kemudian ia lupa di keesokan harinya. Apa yang ia umpatkan, apa yang di desahkan, Chanyeol melupakan semua itu.
Namun Baekhyun seperti roll film—mengulang semuanya. Terlalu detail dan Chanyeol sampai berdegup kencang dalam dada. Bahkan sensasi ketika menyatuan itu terjadi, pun dapat ia rasakan senyata ini.
Chanyeol mengeram dalam hati tanpa sadar ia lakukan. Sial. Dia ereksi sekarang.
...
"Oh, aku tau sekarang." Jongin sedikit memberikan bantingan pada berkas di tangannya di atas meja Chanyeol. Matanya menilik Chanyeol dengan menyipit sedang yang di tatapi malah tak acuh mengenai hal itu.
"Licik sekali." Dengus Jongin kemudian.
"Kau masih memiliki banyak pekerjaan untuk sekedar berbicara bodoh disini, Kim."
"Aku sedang tidak berbicara bodoh." Jongin menyangkal. "Aku berbicara mengenai dirimu." Langkahnya mendekati Chanyeol dan menuding laki-laki itu dengan satu telunjuk di udara. "Dia menjual tubuhnya untukmu."
Chanyeol tidak terkejut. Sebenarnya dia tidak peduli mengenai apapun sebutannya.
"Byun Baekhyun." Jongin menyebut nama itu dengan cibiran. "Investor yang mana sekarang?"
"Untuk yang pertama, itu adalah urusanku." Chanyeol memulai. "Kedua, kau adalah bawahanku. Jadi kau tak berkepentingan mengetahui segala hal di luar tanggunganmu."
Jongin mendengus lagi mendengar ketus ucapan itu. Jongin tidak tersinggung, dia hanya kesal tiap kali Chanyeol membawa status jabatan mereka di setiap pembicaraan.
"Ayo berbicara sebagai 2 orang teman, Park."
"Kau sedang berada di kantor, Kim. Bicara sekali lagi, maka aku akan memecatmu."
Jongin memutar bola mata. Itu hanya ancaman payah yang kerap kali Chanyeol suarakan untuknya. Jongin sudah kebal sebenarnya.
"Aku tau dia menjual tubuhnya padamu." Jongin berujar tanpa segan. "Kau seperti serigala kelaparan menatapnya seperti itu. Dan aku tidak cukup polos mengetahui penismu yang tegang karena melihat dia melakukan gerakan mengangkang seperti tadi."
Chanyeol menatap Jongin takjub. Hanya sesaat dan memutuskan untuk tak terpengaruh akan ucapan itu. Chanyeol mencoba tak acuh dengan menyibukkan diri dengan tablet miliknya lagi, sedang mata malah tak sengaja menatap selatan tubuhnya. Benar, Chanyeol tegang karena liukan badan mengangkang Baekhyun di dalam kepalanya.
"Demi Tuhan! Dia masih 19!" Jongin memekik. Sifat buruk miliknya selain berteriak adalah bertingkah dramatis.
"19 hanyalah angka, Jongin." Chanyeol merespon akhirnya. Ia balas menatap Jongin kini dan masih menemukan raut wajah tak percaya milik laki-laki itu. "Aku tidak lupa kau sempat mengencani anak SMP saat kuliah dulu."
"Apa—setidaknya jarak umur kami hanya 6 tahun."
"Kenyataannya kau mengencani anak 15 tahun dengan kau yang bahkan tegang hanya untuk sebuah ciuman." Chanyeol berdecih sedang Jongin menahan pekikan.
"Damn it!"
"Umpatan ke 19. Katakan sekali lagi dan kau mendapatkan surat pemecatanmu hari ini."
"Lakukan itu dan aku akan mengatakan pada ibumu apa yang kau lakukan selama ini. Oh, kepada Narae juga, bagaimana menurutmu?"
"Menurutku itu bagus untuk membuatmu menjadi gelandangan."
"Fuck you ashole!
"Umpatan ke 20."
…
"Kyungsoo!" Itu terdengar seperti sebuah teriakan dibandingkan sapaan sebenarnya. Baekhyun hanya terlalu senang dan ia tak sadar memegang ponselnya terlalu erat sembari berteriak ketika sambungannya terhubung.
"Ada apa? Ada apa?" Kyungsoo di ujung sambungan menyahut terkejut. Baekhyun tak segera menjawab dan memberikan cengiran.
"Apa kau sibuk? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Baekhyun menahan senyum seolah Kyungsoo tengah berada di depannya kini.
"Kau terdengar senang sekali, apa itu hal hang bagus?"
Baekhyun mengangguk seperti anak kecil. "Ya." Ia menyengir lagi.
"Aku masih memiliki kelas jam 8 nanti. Kau sedang dimana?"
"Kantor agensi. Pelatihanku selesai lebih cepat—KYAAA~"
Baekhyun ingat seperti apa eratnya ia mencengkram ponsel miliknya dan lihat seperti apa mudahnya ia melempar benda itu. Matanya melotot besar akan keterkejutan sedang Chanyeol yang muncul dari arah entah dimana tiba-tiba saja dan menghadang dirinya.
"BAEK? BAEKHYUN KAU BAIK-BAIK SAJA!? YAKK APA YANG TERJADI, MENGAPA KAU BERTERIAK!? BAEKHYUN~"
Suara teriakan Kyungsoo samar-samar terdengar. Baekhyun membungkuk dan memunguti ponselnya dengan cepat. Ia memutus panggilan itu dan takut-takut menatap Chanyeol di depannya.
"Di-direktur."
"Apa yang kukatakan pada peraturan pertama?" Chanyeol mengangkat satu alis pada keningnya.
Baekhyun gelagapan dan melarat cepat, "Chanyeol..." cicitnya.
Mendengarnya, senyum terganti cepat pada Chanyeol.
"Kau akan pulang?" Chanyeol melempar tanya sembari menatap Baekhyun dengan sejuta artian tak terbaca disana. Baekhyun memberikan gelengan dengan kepala tertunduk seperti itu.
"Sa-saya akan bekerja dan pulang setelah itu."
"Peraturan keempat, lihat aku ketika kita sedang berbicara." Itu seperti tombol otomatis dan Baekhyun menegakkan kepalanya segera. Melihat seperti apa patuhnya Baekhyun, membuat Chanyeol tersenyum kembali.
"Kau bekerja?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya lagi, "Hanya sebuah kerja part time."
Chanyeol membolakan matanya mendengar hal itu. "Tidak, kau tidak seharusnya bekerja. Kau akan debut 6 bulan lagi, bagaimana mungkin seorang calon idol bekerja seperti itu?" Suara Chanyeol meninggi dan Baekhyun tersentak kaget karenanya.
"Kau harus berhenti bekerja mulai hari ini, kau dengar?"
Baekhyun menganggukkan kepalanya cepat, tak ingin—atau tak bisa memberikan bantahan.
"Apa kau tinggal bersama orangtuamu?"
Baekhyun menggeleng lagi, "Ti-tidak. Sa-saya tinggal bersama dengan Bibi."
"Dimana orangtuamu?"
"Mereka sudah meninggal."
Jawaban itu membuat Chanyeol terdiam. Ia berubah tak enak hati dan berakhir dengan dehemen pelan.
"Kau tinggal dimana?"
"Di kawasan Guryong."
Chanyeol lagi terdiam. Ia tau kawasan itu, kawasan kumuh yang kerap kali ia lewati ketika keluar masuk kawasan tempat tinggalnya—Gangnam.
Chanyeol tanpa sadar memberikan tatapan lain dari matanya. Kasihan dan iba sebenarnya kentara disana. Dengan segala hal yang menakjubkan dari diri Baekhyun... bagaimana mungkin ia berasal dari tempat seperti itu.
"Kalau begitu kau tinggal bersama denganku mulai hari ini."
Spontan ucapan itu membuat Baekhyun terkejut. Pun sama akan halnya dengan Chanyeol sendiri, seolah baru menyadari dirinya sendiri atas apa yang baru saja ia katakan. Namun konyolnya, Chanyeol tak merasa menyesal dan malah mengharapkan sebuah persetujuan disana.
Baekhyun menatapnya tak percaya dengan rahang jatuh konyol.
Tinggal bersama? Bersama Chanyeol?
Baekhyun pikir ia sedikit lelah setelah latihan menari seharian ini hingga ia jadi salah dengar atau sesuatu. "A-apa—" Baekhyun malah berguman tergagap dengan suara nyaris tak terdengar.
"Peraturan kelima, tidak ada bantahan."
Maka... itu benar-benar takkan ada bantahan untuknya.
...
"Aku sudah menebak inilah alasan dibaliknya."
"Byun Baekhyun? Si trainee merah itu?"
"Ya, dia pasti menjual tubuhnya kepada direktur agar dapat debut. Jalang yang lainnya."
...
Cocot: Narae nuguseyo? Kkk~
Aku ga janji bakal apdet cepat terus, tapi aku usahain untuk apdet 3 hari sekali. Well, thankseu for reviewers di chap sebelumnya, singgah lagi dear~
